July 23, 2016

Dear My Friends Episode 13 - 2


Hari ini Choong Nam akan mengikuti ujian masuk universitas, tapi di tengah jalan dia melihat Sung Jae. Choong Nam langsung senang mengira Sung Jae datang untuknya. Sung Jae mengajaknya minum teh tapi Choong Nam menolak karena harus ujian sekarang.

Tapi dia penasaran, kenapa Sung Jae mencarinya sampai kemari. Apa dia bertengkar dengan Hee Ja. Sung Jae tak menjawab dan hanya berkata kalau dia akan menunggu Choong Nam selesai di cafe terdekat. Dia lalu berjalan pergi. Choong Nam jadi semakin penasaran, ada apa dengannya. Apa dia putus dengan Hee Ja. Kenapa dia tampak sedih.


"Ada masalah apa? Kau pacaran denganku saja. Anggap saja kau beruntung dan cari saja wanita lain" seru Choong Nam. Tapi Sung Jae tak menjawab dan terus berlalu pergi.


Ujian hampir dimulai, Choong Nam pun langsung menggumam doa "Aku berdoa pada semua yang ada di sana untuk membantuku lulus ujian"



Jung A membaca poster lowongan kerja yang bayarannya lumayan, Jung A tertarik. Suk Kyun melihatnya dan langsung mengolok Jung A yang matanya sudah terlalu rabun untuk mengerjakan pekerjaan seperti memasang mata boneka. Jung A jadi kesal dan langsung membentak "Apa kau tidak kerja?!"

"Aku dipecat"

"Baguslah. Bagus untukmu"

"Aku akan mengumpulkan sampah di jalan"

"Jangan mencuri pekerjaan orang miskin. Jual saja rumahmu. Kalau kau bosan maka kau sapu jalan saja. Yang kau pedulikan cuma dirimu sendiri"


Suk Kyun terus mengajaknya bicara saat Jung A mencuci beras dan Jung A menjawabnya dengan ketus. Tapi Suk Kyun memperhatikan Jung A mencuri beras cukup banyak, apa Jung A mau memasak untuknya juga.

Jung A dengan canggung mengiyakannya, tidak mungkin dia memasak untuk dirinya sendiri saat Suk Kyun ada di sini. Tapi Suk Kyun malah menyuruhnya untuk tidak usah repot-repot memasak. Dengan malu-malu dia mengeluarkan deonjang jjigae buatannya sendiri.

 

Suk Kyun mengaku bahwa awalnya rasanya masakannya memang aneh. Tapi setelah beberapa kali mencoba, rasanya lumayan. Jung A mencobanya dan berkomentar bahwa rasanya memang lumayan.


Suk Kyun lalu meletakkan sumpitnya saat dia mulai mengaku bahwa dia pergi ke rumah lama yang mereka gunakan saat mereka masih pengantin baru dulu. Di sana dia teringat saat Jung A keguguran putra mereka dan saat Jung A menyusulnya ke pabrik dan berkata kalau dia sakit. Dia menyesal karena waktu itu tidak membawa Jung A ke rumah sakit.


Jung A marah sampai menjungkirbalikkan meja mendengar semua itu. Kenapa sebenarnya Suk Kyun mengatakan ini sekarang, apa pentingnya, apa dia hanya ingin membuatnya kesal.

"Aku sudah bilang padamu kalau aku sakit. Aku bukan tipe orang yang suka mengeluh. Kenapa kau tidak membawaku ke rumah sakit? Kenapa? Kenapa? Kembalikan putraku! Kembalikan putraku!" isak Jung A


Nan Hee pergi ke warnet untuk mencari informasi kanker liver di internet. Tapi tepat saat itu juga, si pria gitaris datang menyapanya. Dia kaget bertemu dengannya sampai berseru heboh dan membuat pengunjung yang lain berpaling menatapnya.

Si gitaris memberitahu Nan Hee bahwa dia biasa kemari saat dia sedang tidak kerja. Dia penasaran apa yang Nan Hee lakukan di sini. Nan Hee cepat-cepat menutup browsernya dan memberitahu si gitaris bahwa dia perlu mencari informasi tapi dia tidak punya komputer di rumah sementara layar hapenya terlalu kecil.


Si gitaris tiba-tiba mengajaknya jalan-jalan. Dia mengajak Nan Hee ke sebuah taman dan membelikannya snack. Dia akhirnya memperkenalkan namanya adalah Lee Il Woo. Nan Hee pun memberitahukan namanya padanya dan dia baru sadar kalau mereka bahkan sama-sama tidak tahu nama satu sama lain selama ini.

Memikirkan nama mereka berdua, Il Woo tiba-tiba punya ide untuk meramalkan mereka berdua ke seorang peramal. Il Woo menjelaskan bahwa ada seorang peramal yang meramal gratis di cafe. Nan Hee belum menjawab tapi Il Woo langsung menyeretnya pergi.


Saat pelayan cafe menyajikan bir untuk mereka, dia membisiki sesuatu pada Il Woo. Entah apa yang dikatakannya tapi Il Woo berkata padanya bahwa dia dan Nan Hee adalah teman.

"Dia bilang apa? Apa dia bilang kalau aku terlalu tua untuk menjadi temanmu?" tanya Nan Hee

"Tidak. Dia bilang kau cantik"

"Apa kau playboy?"

"Tidak"

"Aku yakin kau playboy. Kau mengatakan candaan aneh. Kau terlihat lugu dan aku mempercayainya"


Il Woo tertawa mendengarnya. Si peramal tiba saat itu dan bertanya apa yang ingin mereka ketahui. Nan Hee berkata bahwa dia ingin tahu berapa lama dia hidup. Sementara Il Woo ingin tahu apakah dia dan Nan Hee akan punya kesempatan untuk bersama. Nan Hee tertawa tak percaya. Tapi Il Woo mengklaim kalau dia serius.

"Kau aneh sekali. Jangan bercanda. Aku tidak suka candaan semacam itu. Mendiang suamiku orang yang jenaka dan dia berselingkuh"


Il Woo cepat-cepat mengalihkan perhatian kembali pada si peramal. Beberapa saat kemudian mereka berjalan pulang bersama. Ternyata si peramal, meramalkan kalau Il Woo dan Nan Hee tidak jodoh. Il Woo menolak mempercayainya dan menyebut si peramal itu adalah peramal yang buruk. Nan Hee tak setuju karena si peramal bilang kalau dia akan panjang umur.

Saat Il Woo terus menerus bicara dengan bahasa tidak formal padanya, Nan Hee langsung protes dan mengingatkan Il Woo bahwa dia lebih tua dari Il Woo. Jadi dia tidak mau Il Woo memanggilnya dengan panggilan yang aneh-aneh, setidaknya Il Woo harus sopan padanya. Il Woo tertawa dan meminta maaf.


Sepasang kekasih lewat di samping mereka dan Nan Hee menatap mereka dengan penasaran. Il Woo heran kenapa Nan Hee menatap mereka seperti itu.

"Menurutmu apa mereka pasutri?" tanya Nan Hee

"Mungkin mereka teman, seperti kita. Atau mungkin pasutri"

"Aku berani bertaruh kalau mereka itu selingkuh"


Wan menelepon saat itu untuk memperingatkan Nan Hee agar Nan Hee tidak datang mengirim makanan ke rumahnya. Wan beralasan kalau dia sibuk kerja malam ini, jadi dia tidak mau diganggu. Il Woo memberi Nan Hee privasi dengan masuk ke sebuah toko. N

an Hee memberitahu Wan bahwa malam ini dia memang tidak bisa datang karena dia sedang kencan. Wan penasaran dengan siapa. Nan Hee berkata dengan salah satu pelanggan restorannya.

Wan tak percaya mendengarnya "Ibu tidak tahu dia seperti apa. Apa ibu serius?"

"Aku akan bersenang-senang mulai sekarang"

"Ibu serius. Apa pekerjaannya?"

"Dia punya toko kelontong. Punya seorang putra yang masih kuliah. Dia duda yang bermain gitar dan dia tampan. Dan dia juga jauh lebih muda dariku"

Wan langsung tertawa mendengarnya, dia tak percaya ada pria seperti itu yang naksir Nan Hee dan menuduh Nan Hee bohong. Tapi Nan Hee menyangkalnya, dia tidak bohong. Tapi pembicaraan mereka harus terpotong dengan cepat karena Young Won menelepon Nan Hee saat itu.


Young Won menelepon untuk mengabarkan bahwa dia sudah membuatkan janji dengan dokter di sebuah rumah sakit terbaik untuk Nan Hee besok. Il Woo kembali dengan membawa sebuah hadiah gantungan kunci teddy bear untuk Nan Hee.


Setelah bicara dengan ibunya, Yeon Ha menghubunginya via video call. Wan protes karena dia harus kerja, dia menjelaskan kalau dia harus menyelesaikan novelnya pada bulan juli lalu setelah itu dia bisa kembali ke Yeon Ha dan mereka bisa jalan-jalan bersama.

"Aku akan pakai bikini loh"

"Apa kau benar-benar akan datang?"

"Aku akan datang" janji Wan

Yeon Ha senang "Aku akan menunggumu. Aku mencintaimu. Jangan jatuh cinta pada pria lain. Fighting"

Setelah Yeon Ha mematikan video call-nya, Wan menulis tanggal keberangkatannya ke Yeon Ha di kalender.


Jung A menyibukkan dirinya dengan mencuci peralatan makan. Suk Kyun hanya menatapnya sebelum akhirnya dia memutuskan untuk pergi tanpa pamit. Tapi Jung A tiba-tiba memanggilnya. Dia memberitahu Suk Kyun bahwa lain kali kalau dia membuat deonjang jjigae lagi, maka sebaiknya dia menambahkan ikan anchovie.

"Aku akan datang dengan membawa deonjang jjigae yang penuh dengan anchovie" janji Suk Kyun. Tapi Jung A tidak mendengarnya karena Hee Ja menelepon Jung A saat itu. Tepat setelah Suk Kyun pergi, Jung A dengan riang menggosipkan deonjang jjigae-nya Suk Kyun yang aneh.


Choong Nam sedang bersama Sung Jae yang mengantarkannya ke rumah Hee Ja. Tampaknya Sung Jae sudah memberitahunya tentang kondisi Hee Ja. Tapi Choong Nam menolak mempercayai diagnosis itu, menurutnya keluar malam dan makan tengah malam itu wajar selama dilakukan dalam keadaan sadar.

Dia memutuskan bahwa yang harus mereka lakukan pertama adalah mencari tahu apakah Hee Ja sadar dengan semua hal yang dilakukannya atau tidak. Melihat wajah sedih Sung Jae, Choong Nam meyemangatinya untuk tetap tabah. Dia lalu masuk menemui Hee Ja.


Choong Nam menginap di rumah Hee Ja. Mereka kemudian berbaring bersama sambil menonton TV bersama. Choong Nam jadi ingat saat mereka semua menginap di rumah Choong Nam tapi waktu itu Hee Ja malah bingung dan tidak ingat kenapa semua orang tidur di rumah Choong Nam. Hee Ja bertanya apa Choong Nam mau travelling seperti yang ada di TV, mereka bisa bepergian dengan mobil bersama semua teman-teman mereka.


Choong Nam lalu bertanya apakah Hee Ja keluar malam-malam, ke gereja atau tempat lain. Tapi Hee Ja menyangkalnya. Kenapa juga dia pergi malam-malam, kalau dia bisa melakukannya di siang hari. Choong Nam sekarang jadi mulai cemas, di lalu bertanya berapa lama Hee Ja makan dalam sehari. Hee Ja berkata dua atau tiga kali, tapi anehnya dia selalu buang air setiap saat. Bahkan saat itu juga, Hee Ja langsung lari ke kamar mandi. Sekarang Choong Nam benar-benar cemas.


Tengah malam, Hee Ja tidur tapi Choong Nam tetap terjaga dan mengawasi Hee Ja. Tak lama kemudian Hee Ja terbangun dan langsung memakai jaket lalu berjalan ke pintu. Choong Nam cepat-cepat menyusulnya dan meminta Hee Ja untuk tidak pergi. Tapi saat Hee Ja menoleh padanya, tampak jelas dia bingung dan tidak mengenalinya.

Dengan gugup Choong Nam mengingatkan Hee Ja bahwa dia adalah Choong Nam dan meminta Hee Ja untuk kembali tidur dan mengingatkan Hee Ja kalau dia tidak suka sendirian dan akan ketakutan jika Hee Ja keluar. Saat Hee Ja terus bimbang menatap pintu, Choong Nam cepat-cepat menuntunnya kembali ke tempat tidurnya.


"Unnie mau pergi kemana?" tanya Choong Nam

"Gereja" jawab Choong Nam sedih

"Untuk apa?"

"Untuk bertobat"

Choong Nam meyakinkan Hee Ja bahwa dia adalah orang yang baik jadi dia tidak perlu bertobat. Tapi Hee Ja tidak mau membicarakan ini lagi dan menangis. Choong Nam menghapus air mata Hee Ja dan menepuk-nepuknya sampai Hee Ja tertidur kembali.


Keesokan paginya, Choong Nam menelepon Sung Jae dan memberitahunya kalau hari ini Hee Ja sama sekali tidak ingat kejadian semalam. Sung Jae memutuskan kalau mereka harus memberitahu anak-anak Hee Ja tentang masalah ini, tapi Choong Nam merasa sebaiknya mereka memberitahu Jung A dulu, lebih baik jika Jung A saja yang memberitahu anaknya Hee Ja. Hee Ja tampak ceria saat dia mengajak Choong Nam sarapan. Choong Nam memberitahunya kalau dia harus menelepon dulu. Begitu Hee Ja pergi, Choong Nam langsung menelepon Jung A.


Choong Nam dan Sung Jae pergi ke rumah Jung A dan memberitahunya kondisi Hee Ja. Jung A menolak mempercayai keanehan Hee Ja, menurutnya Hee Ja memang orang yang aneh sejak dia kecil. Dia tidak percaya kalau Hee Ja dementia.


Dia makin emosi saat dia terus berusaha membela Hee Ja. Tapi dia juga mulai teringat berbagai keanehan Hee Ja yang sering tidak ingat akan semua hal yang dilakukannya sendiri. Jung A menangis sedih mengingat semua itu.


Saat akhirnya Jung A mulai tenang, dia mulai bersiap pergi. Dia mengambil jaket yang merupakan hadiah pemberian Hee Ja dan banyak menyimpan kenangan-kenangan indahnya bersama Hee Ja. Dia teringat saat dia bertanya kenapa Hee Ja ingin mati, saat itu Hee Ja menjawab karena dokter berkata dia menderita delusi dan dia tidak mau anaknya marah jika delusinya berubah menjadi dementia.

Jung A memakai jaket itu dengan sedih lalu menelepon Hee Ja dan memberitahu Hee Ja kalau dia mau bertemu. Hee Ja memberitahunya kalau dia sedang ke gereja sekarang. Jung A mewanti-wantinya untuk berhati-hati dan langsung pulang setelah itu, dia pura-pura ceria saat dia berjanji bahwa dia akan datang dengan ddeokbokki kesukaan Hee Ja.

Setelah Jung A mematikan teleponnya, Choong Nam mengajaknya untuk pergi menemui Min Ho sekarang. Tapi Jung A masih terlalu sedih dan minta waktu sebentar. Choong Nam dan Sung Jae menunggu di luar dan membiarkan Jung A menangis.


Nan Hee melakukan pemeriksaan MRI-nya dan hasilnya cukup mengejutkan karena dokter memberitahunya bahwa penyakitnya sudah cukup parah dan dia harus segera dioperasi. Tapi karena kesibukannya, dokter menjadwalkan operasinya Nan Hee tiga minggu lagi.


Nan Hee termenung sedih saat dia pulang naik bis, dia bahkan mengacuhkan teleponnya Young Won. Dia menggerutui dokter dengan kesal dan sedih karena menjadwalkan operasinya 3 minggu lagi padahal dia bilang kalau kondisinya darurat.


Saat Wan menelepon, Nan Hee akhirnya mau mengangkat teleponnya. Dia sedih tapi dia berusaha untuk menjaga nada suaranya tetap normal. Wan ternyata sedang sibuk membantu di restoran dan langsung menggerutu karena Nan Hee keluar saat restoran sedang sibuk-sibuknya. Nan Hee beralasan kalau dia sedang shopping. Wan tak percaya mendengarnya, dia jadi semakin kesal tapi Nan Hee cepat-cepat mematikan teleponnya.


Sementara Nan Hee terus termenung di bis, Jung A bersama Sung Jae dan Choong Nam pergi ke bengkelnya Min Ho yang heran melihat wajah sedih mereka bertiga.


Sementara itu, Hee Ja berjalan di jembatan sambil menyanyikan lagu anak-anak dan menggendong sebuah benda di punggungnya seolah benda itu adalah bayi.

Bersambung ke episode 14

No comments :

Post a Comment