July 18, 2016

Dear My Friends Episode 12 - 2


Semuanya sudah tertidur lelap. Seperti biasa, Hee Ja terbangun di tengah malam dan langsung menyalakan TV. Tapi karena Choong Nam menyuruh Hee Ja untuk mematikan TV, Hee Ja pun langsug mematikan-nya lagi. Hee Ja mencoba tidur, namun tak bisa.

Diapun bangun lagi dan membuka semua pintu, mendengar Hee Ja terus membuka pintu di setiap ruangan, Choong Nam pun ikut bangun dan menyuruh Hee Ja kembali ke tempat tidurnya. Tapi karena Hee Ja tetap tak mendekat, Choong Nam pun bertanya apa Hee Ja ingin mencari udara segar. Tak ada jawaban dari Hee Ja, Choong Nam pun menyuruh Hee Ja kembali tidur. 



Hee Ja kembali ke tempat tidurnya dan bertanya kenapa mereka semua tidur di rumah Hee Ja. Choong Nam tak mengerti dengan pertanyaan Hee Ja, jadi dia menyuruh Hee Ja tidur saja. Wan ikut terbangun dan dia juga menyuruh Hee Ja tidur. 

Hee Ja berbaring dan Choong Nam menepuk-nepuk pundaknya, agar Hee Ja cepat tidur. Tapi bukannya tidur, Hee Ja malah mengeluh lapar. Choong Nam pun menjawab kalau Hee Ja tidak boleh makan di tengah malam. 


Hee Ja benar-benar tak bisa tidur, dia kembali berdiri dan ingin kekamar mandi. Karena Hee Ja salah arah, jadi Choong Nam pun mengantarkannya ke kamar mandi. Seperti orang tuanya saja, Choong Nam dengan pengertiannya menunggui Hee Ja di depan kamar mandi. 


Masih dengan mata tertutup, Wan memberitahu Choong Nam untuk tidak usah tinggal bersama. Tak sependapat dengan Wan, Choong Nam pun menyuruh Wan tutup mulut. 

“Aku bisa tahu hari ini...kau seperti Bunda Teresa,” ucap Wan.

“Apa itu?” tanya Choong Nam tak tahu.

“Orang yang hidup dengan baik  kemuadian mati.”

“Apa dia pergi ke tempat yang baik pula?”

“Sepertinya.”

“Terima kasih,” jawab Choong Nam dengan mata tertutup. Hee Ja selesai dan Choong Nam menuntunya ke tempat tidur lagi. Young Won ternyata juga bangun dan dia bertanya apa Choong Nam menyesal mereka tinggal bersama, tak menjawab Choong Nam hanya menjatuhkan tangannya pada Young Won. Nan Hee juga ikut terbangun karena mendengar dengkuran Jung A. Ya... dari semuanya hanya Jung A saja yang bisa tidur.


Pagi tiba dan mereka olahraga dipandu oleh Wan. Hanya Jung A dan Young Won yang tidak ikut olahraga. Jung A hendak memasak, namun di larang oleh Young Won. Young Won ingin Jung A bersantai, karena selama ini dia selalu memasakkan untuk Suk Kyun. Disuruh istirahat, tentu saja Jung A tida menolak, selain itu dia ingin mencoba masakan teman artisnya. 


Selesai sarapan dan mandi, mereka semua pun pergi. Sebelum mereka semua pergi, Choong Nam keluar dan membawakan popok milik Hee Ja yang tertinggal. Tak lama kemudian kedua ponakan Choong Nam ikut keluar dan memberikan barang-barang milik teman-teman Choong Nam yang ketinggalan.


Setelah semuanya pergi, sekarang tinggal Choong Nam sen dirian yang memberesi rumahnya. 

Wan bernarasi, “Aku menanyakan Bibi Choong Nam...kenapa dia ingin hidup bersama mereka. Katanya dia menyesal dalam hidupnya...dia tak pernah bisa bergaul bersama temannya. Jadi sebelum Bibi meninggal,...dan meskipun membutuhkan kerja ekstra dan usaha...dia ingin berusaha akur dengan teman-temannya. Begitulah alasannya.”


Selesai beres-beres Choong Nam menelpon seseorang dan berjanji akan menjenguknya dua hari lagi, karena orang yang di telponannya itu sedang sakit. Ketika telpon di tutup, Choong Nam mendapat telepon dari Hee Ja yang minta maaf karena semalam dia sangat merepotkan Choong Nam. Tentu saja Choong Nam berkata kalau semua itu tidak masalah untuknya, dia merasa senang melakukan semua itu. Choong Nam bahkan mengajak Hee Ja untuk tinggal bersama lagi sebelum musim dingin datang. 

“Bibi Choong Nam bilang selama dia menjaga keluarga besarnya....ini adalah hal terbaik yang pernah Bibi lakukan. Aku juga bilang aku setuju dengan Bibi. Dan untuk pertama kalinya...aku memeluk Bibi Choong Nam,” ucap Wan kembali bernarasi. 



Pastur muda menghampiri Sung Jae dan memperlihatkan rekaman video dimana Hee Ja sedang berdoa di tengah malam. Sung Jae kemudian minta rekaman lain dan pada rekaman lain, Hee Ja berdoa pada patung bunda maria yang berada di luar gereja. Tepat disaat itu Sun Kyun menelpon dan langsung direject oleh Sung Jae. 


Sun Kyun membuka kontak telpon Jung A dan hendak menelponnya, namun harga dirinya yang tinggi mengurungkan niat tersebut. Tepat disaat itu muncul penghuni gedung yang meminta bantuan Sun Kyun untuk membawakan kursi. Karena keberatan, Sun Kyun menjatuhkan dengan kasar kursi dari mobil dan si pemilik langsung mengomelinya. Sun Kyun hendak mendorong saja kursinya, karena kursi itu punya roda, namun si pemilik memilik minta agar Sun Kyun mengangkatnya. Sun Kyun berkata kalau kursi itu berat, tapi si pemilik tetap ingin Sun Kyun mengangkatnya, bahkan si pemilik berkata kalau Sun Kyun tak perlu kerja kalau dia tak sanggup mengangkatnya. 

Sun Kyun mencoba mengangkat kursi tersebut, namun baru beberapa langkah, dia meletakkan kembali kursi tersebut dan hendak mengambil anjing yang sedang di gendong si pemilik kursi. Dia ingin wanita itu yang mengangkat kursi dan dia yang menggendong anjing itu. Ketika Sun Kyun menyentuh si anjing, wanita itu langsung menjauhkannya sambil berkata kalau Sun Kyun berani menyentuh “bayinya” dengan tangan kotor Sun Kyun. 


“Itu anjing, bukan bayi!” teriak Sun Kyun habis kesabaran dan si pemilik kursi kaget di bentak oleh Sun Kyun yang hanya seorang satpam. Dia pun mengancam akan memecat Sun Kyun karena sudah berani padanya. Dengan berani Sun Kyun menjawab kalau dia akan berhenti sebelum wanita itu memecatnya. Sun Kyun membuang topinya dan berkata kalau dia bekerja di tempat itu sebagai penjaga keamanan bukan pesuruh. 

“Suamimu bekerja untuk orang lain juga, 'kan? Aku cukup tua untuk menjadi ayahmu.  Kau itu harus tahu sopan santun,” teriak Sun Kyun dan semua orang berkumpul untuk melihat pertengkaran itu. Rekan Sun Kyun sesama satpam pun mencoba menenangkan Sun Kyun, namun kesabaran Sun Kyun sudah habis. 

“Kau anggap aku ini bodoh ya? Aku bekerja ini untuk mencari nafkah. Aku bekerja biar dapat gaji! Beraninya kau memperlakukanku seolah kau yang mengupahku? Kau suka jika suamimu diperlakukan seperti itu?” teriak Sun Kyun lagi dan wanita itu memilih pergi sambil menggeret kursinya dengan perasaan malu karena sudah di marahi di depan umum. 

“Semoga kau ketularan kutu anjingmu itu!” teriak Sun Kyun menyumpahi, “Kenapa sih dengan para wanita, termasuk istriku juga?”

Sun Kyun naik bis dan dia lumayan lama berdiri di tempat pembayaran sehingga membuat si supir cepat menyuruhnya duduk agar tidak jatuh. Di beritahu seperti itu, Sun Kyun malah emosi dan dengan nada lebih tinggi berkata kalau dia juga mau duduk. 


Karena kursi dalam bis semua terisi, Sun Kyun dengan seenaknya menyuruh orang yang ada di dekatnya untuk berdiri karena dia yang mau duduk di tempat itu. Kebetulan orang yang ada di depannya adalah seorang siswi SMA yang saat itu tengah bermain ponsel. Tanpa berkata sepatah katapun, siswi itupun langsung berdiri dan semua orang menatap ke arah Sun Kyun dengan tatapan tak senang. 



Siswi itu pun turun di pemberhentian berikutnya. Sun Kyun pun sadar kalau semua orang menatap ke arahnya dengan tatapan sinis dan Sun Kyun pun akhirnya tahu apa penyebabnya. Ternyata siswi SMA yang dia suruh berdiri tadi hanya punya satu tangan. Dari luar bis, siswi itu menatap sedih ke arah Sun Kyun. Sun Kyun pun jadi teringat pada masa kecilnya.


Flashback!
Sun Kyun kecil memaksa temannya untuk masuk air, padahal temannya tak mau. Tujuan dia adalah agar si teman berani berenang dan dia pun mendorong temannya itu ke dalam air. Namun apa yang terjadi, kepala temannya membentur dan berdarah. 

Di rumah, Sun Kyun menemukan kimci buatan Jung A yang diatasnya diberi catatan kecil dari putrinya. 

“Ayah, Ibu membuat ini dan menyuruhku  kasih ini padamu. Aku sudah bersih-bersih rumahnya. Ayah, aku memang tidak baik  padamu, tapi bukan begitu perasaanku. Aku menghormatimu. Jaga dirimu.”


Sun Kyun mengambil album foto lamanya dan melihat kembali masa lalunya. Saat itu dia dan Jung A terlihat sangat bahagia. Sun Kyun kemudian menelpon Jung A dan mengajaknya bepergian, namun Jung A menolak. Saking tak mau bicara lagi dengan Sun Kyun, Jung A sampai mematikan ponselnya. 


Sun Kyun sudah mengendarai mobilnya, dia mengemudi sambil terus memaki Jung A dan berkata kalau dia sudah tak membutuhkan Jung A lagi. Tepat di tikungan, tiba-tiba dari arah berlawanan muncul mobil yang di kendarai dengan sangat cepat ikut berbelok. Tentu saja Sun Kyun langsung mengerem dan keluar mobil. Dia memaki si pemilik mobil, tapi sebenarnya tak ada guna dia marah-marah, karena mobil yang ngebut tadi sudah pergi dan tak tak terlihat. Tepat disaat itu muncul mobil lain dan mengklaksoni Sun Kyun karena Sun Kyun berhenti di jalan. Memang lagi snewen, Sun Kyun pun memarahi pengemudi mobil itu. Tak mau cari masalah, mobil itu pun juga langsung pergi.


Sun Kyun pergi ke rumah lamanya. Melihat rumah itu, dia teringat kembali ketika dia dan Jung A sedang asik membersihkan lantainya bersama. Saat itu Sun Kyun berjanji pada Jung A kalau dia akan mengajak Jung A keliling dunia setelah semua sodara Sun Kyun menikah dan orang tua mereka sudah tak perlu di rawat lagi, jadi mereka akan keliling dunia sekitar 20 tahun lagi. 


Sun Kyun kemudian duduk di teras rumah dan tertidur sampai malam. 

Sung Jae sudah berada di rumah Hee Ja dan dia teringat kembali pada apa yang di katakan pastur muda kalau Hee Ja berdoa 2 jam pagi dengan menggunakan piyama, syal dan kardigan. Pastur muda mengatakan semua itu pada Sung Jae agar Sung Jae bisa menjaganya dan memberitahu anak-anak Hee Ja. 


Sung Jae kemudian membaca catatan yang dibuat Hee Ja dimana Hee Ja menulis kalau “Pusat perawatan adalah rumah kedua bagimu. Jika kau terpaksa harus kesana tersenyumlah saat kesana. Jika kau kena pikun...,” belum selesai Sung Jae membaca, Hee Ja datang dan minta Sung Jae mencoba makanan yang sudah dia buat. Hee Ja senang ketika Sung Jae mengatakan kalau masakan Hee Ja enak.

“Haruskah kita hidup bersama saja?” tanya Sung Jae dan Hee Ja menyebutnya gila. Hee Ja beralasan kalau dia tak bisa melakukan hal yang dibenci anak-anaknya. “Apanya yang harus dibenci? Mereka pasti senang kau tidak merepotkan mereka. Setidaknya anak-anakku akan berpikir begitu,” ucap Sung Jae. 

“Jika aku sakit, mungkin tak apa. Tapi untuk saat ini, spertinya mereka lebih suka aku menyendiri. Jika aku membayangkan  ibuku dengan pria lain...aku pikir itu bisa canggung juga,” jawab Hee Ja dan Sung Jae bertanya apa kalau bukan karena anak-anak, Hee Ja mau hidup bersama dengan dirinya. Hee Ja menjawab kalau dia senang jika bisa mengajak seseorang bicara dan Hee Ja lebih senang lagi ketika Sung Jae tak menggodanya. 

“Menggodamu? Maksudmu aku tak boleh menyentuhmu?” tanya Sung Jae. 


“Kau mau menyentuhku?” tanya Hee Ja dan Sung Jae tertawa. Sung Jae kemudian meminta buku manual dari kamera CCTV-nya. Ternyata Sung Jae juga ingin melihat apa yang Hee Ja lakukan di rumah. Dia ingin memasang di ponselnya. 


Tepat disaat itu, Min Ho menelpon dan menyanyikan lagu permen kapas. Min Ho menelpon sambil bekerja memperbaiki mobil. Istri Min Ho muncul dan memperlihatkan foto hasil USG anak mereka. Min Ho bernyanyi sambil tertawa senang melihat gambar anaknya. Sedangkan Sung Jae sudah berhasil mendapatkan video dari hasil kamera CCTV. 


Sun Kyun masih tertidur di teras rumahnya. Dia bermimpi tentang masa lalunya, dimana Soon Young mengadu kalau bos Sun Kyun sudah menggerayanginya. Karena tak ditanggapi oleh Sun Kyun, Soon Young pun pergi. Setelah Soon Young pergi, Jung A muncul dan meminta Sun Kyun membawa pulang barang-barang jualannya, karena dia mau pergi ke rumah sakit. Karena masih kesal pada Soon Young dan tak percaya pada apa yang Jung A katakan, Sun Kyun pun tak mau melakukannya, dia menyuruhh Jung A pulang.  Baru saja Jung A berbalik akan pergi, dia jatuh dan mengalami pendarahan. 

Sun Kyun bangun dan terlihat menyesal pada apa yang sudah dia lakukan pada Jung A dan Soon Young. 


Flashback!
Setelah Jung A keguguran, dia terus di siksa oleh ibu mertuanya dan Sun Kyun hanya diam melihat Jung A di siksa. 
Flashback End!

Sun Kyun kembali kemobilnya dan pergi. Dalam perjalanan, dia teringat kembali ketika dia berpisah dengan Soon Young. Dia juga ingat dengan apa yang sudah dia katakan pada Jung A kalau Soon Young begitu manja, hanya demam saja dia sampai menelpon Jung A, padahal pada saat itu, Soon Young bukannya sedang demam, melainkan dipukuli oleh suaminya.  Sun Kyun juga berkata pada Jung A kalau ketiga anak mereka itu tukang rengek seperti Jung A. 

Sun Kyun kembali teringat ketika dia memarahi Jung A, mengomeli Jung A bahkan menghukum Jung A. Dia terus melakukan semua itu, padahal Jung A dengan begitu baiknya mengurus semua keperluan Sun Kyun. Keinginan terbesar Jung A adalah tidak mati di panti jompo seperti ibunya, dia ingin terbang seperti burung dan mati di jalanan. 


Sun Kyun menghentikan mobilnya di rel kereta api. Disana, dia teringat kembali ketika dia dan Jung A jalan bersama menyusuri rel kereta api sambil bergandengan tangan. Saat itu mereka berdua terlihat sangat bahagia.


Disisi lain, Sun Kyun melihat dirinya sedang sendirian dengan wajah sedih dan kesepian. Sun Kyun menoleh lagi dan melihat Jung A muda berjalan menuju mobilnya. Jung A menghentikan langkahnya kemudian menangis melihat  Sun Kyun.  Setelah itu Jung A berbalik dan pergi. 


Paginya, Sun Kyun menelpon Wan dan meminta datang ke rumah, kalau Wan tak mau, maka Sun Kyun sendiri yang akan menemuinya. Saat itu Wan sedang bersama Nan Hee dan Nan Hee menyuruh Wan pergi menemui Sun Kyun, lagi pula itu untuk novel yang sedang Wan tulis. Nan Hee juga menyuruh Wan menyingkirkan foto-foto Yeon Ha, karena mereka sudah putus. Tak punya pilihan lain, Wan pun pergi menemui Sun Kyun di rumahnya.

Setelah menutup telepon, Wan mendumel kalau Sun Kyun begitu menjengkelkan. Sebagai ibu Nan Hee pun mengingatkan kalau Wan tak boleh bersikap seperti itu pada orang tua. Wan mengaku kalau dia benci pada Sun Kyun karena Sun Kyun bertingkah seolah umur tua membuatnya istimewa. 

“Kalau aku sudah selesai mengerjakan bukuku, sepertinya aku bakal benci bicara dengan orang tua. Mereka bertingkah semaunya karena mereka pikir mereka akan segera mati. Sudah jelas apa yang akan paman ceritakan. Dia membual atau mengeluh tentang hidupnya. Atau dia akan memaki orang lain,” ucap Wan kesal dan Nan Hee bergumam kalau Wan pasti sedang mengatakan tentang ibunya sendiri. 


Wan pergi dan tepat disaat itu, Yeon Ha melakukan video call. Yeon Ha terlihat kaget setelah melihat Nan Hee yang muncul. Nan Hee memberitahu kalau Wan tidak ada, dia baru saja pergi. Yeon Ha tak mempermasalahkannya, karena dia bisa ngobrol dengan Nan Hee saja. Yeon Ha kembali bertanya kabar Nan Hee, namun Nan Hee tak menjawab, dia malah bercerita kalau In Bong sudah bisa berjalan sekarang dan Yeon Ha belum bisa melakukannya. Yeon Ha pun memberitahu Nan Hee kalau dia mengalami kecelakaan yang serius. 

“Kau masih harus melatih kekuatan kakimu. Aku yakin pasti kakimu sakit di malam hari. Jaga dirimu ya. Dan pacaranlah denga wanita disana,” ucap Nan Hee dan Yeon Ha terlihat tak nyaman dengan saran itu, sehingga Yeon Ha mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan tentang Nyonya Oh yang dia dengar sedang sakit. Nan Hee pun menjawab kalau dia baru akan membawa Nyonya Oh ke rumah sakit, jadi mereka harus mengakhiri pembicaraan mereka sekarang karena Nan Hee harus pergi. Setelah Nan Hee pergi, Yeon Ha terlihat sedih dan memikirkan sesuatu. Dia berpikir sambil memegang cincin pasangannya bersama Wan.


Wan sendiri sudah berada di rumah Sun Kyun dan mendengarkan cerita Sun Kyun. “Dia bilang, "Perutku terasa aneh." Dia membawa belanjaan di kepalanya. Tapi aku marah padanya. Darah menetes di bawah kakinya. Jadi...dia dirawat di rumah sakit  selama dua hari. Aku merasa tak enak padanya. Setelah itu...aku harusnya baik-baik padanya. Tapi aku menyuruhnya,  "Bangunlah, masak untukku." Itulah yang kubilang. Setelah itu...kami berdua pura-pura biasa saja seolah tidak ada yang terjadi. Kami dulu bersama. Tapi sekarang, aku sendirian. Yang lain, dan bahkan Soon Young...mengira aku ini kejam dan  tak peduli...meskipun aku tahu aku salah. Tapi aku tidak tahu. Itu sudah lama sekali...dan aku hanya fokus mencari nafkah. Yang kulakukan sangat parah, bukan? Dosa terbesarku...adalah tidak mengetahui apa  kesalahanku. Sikapku yang tak peduli. Kau tidak bisa menghitung kesalahan yang tak kausadari. Itu sebabnya ... Aku akan membiarkan istriku pergi. Kau boleh menulis segala  sesuatu yang kukatakan...jika kau ingin orang lain tahu bahwa ada orang-orang seperti aku,” cerita Sun Kyun sambil minum soju. Wan kemudian mematikan perekamnya. 

“Paman. Sama seperti santainya kau bicara barusan...katakanlah pada Bibi Jeong A...”


“Aku tidak bisa masak atau cuci piring,” potong Sun Kyun dan berjanji tak mau menyuruh-nyuruh Jung A lagi. Sun Kyun pun membolehkan Wan pergi dan dia juga berpesan agar Wan berhenti merokok. Wan menyuruh Sun Kyun makan siang dan menawari apa Sun Kyun mau di masakan. Tapi Sun Kyun tak menjawab, dia hanya masuk kamar dan duduk di depan kemari. Karena Sun Kyun tak mau di ganggu, Wan pun pulang.

Wan bernarasi, “Ada yang bilang...kita banyak berbuat buruk  daripada berbuat baik..selama kita hidup. Karenanya....kita lebih banyak dapat sesuatu daripada kehilangan....dan kita diberkati. Jadi, daripada menyesal...kita harus bersyukur kita masih hidup.”

Nan Hee dan Nyonya Oh melakukan pemeriksaan, “Apakah hidup itu memang berkat yang harus kita....syukuri? Bahkan bagi ibu dan nenekku? Aku sangat berharap  ini akan menjadi....akhir cerita bukuku yang kuserahkan pada ibuku saat aku pergi...hidup bersama dengan Yeon Ha,” sambung Wan bernarasi. 


Dokter yang melakukan pemeriksaan menyebut nama Nan Hee dan kemudian merasa kaget. Dia kemudian memeriksa kembali hasil tes, apakah dia salah nama atau tidak. Melihat ekspresi dokter, Nan Hee pun terlihat cemas. 

Bersambung ke sinopsis Dear My Friends Episode 13

No comments :

Post a Comment