July 17, 2016

Dear My Friends Episode 12 - 1


Dalam gelap, Suk Kyun berjalan di rel kereta dan tiba-tiba terdengar suara kereta api datang. Suk Kyun terbangun dalam tidurnya dan berteriak memanggil nama Jung A. Mengira dia sedang tidur dengan Jung A, Suk Kyung pun meminta Jung A menggaruk punggungnya, padahal malam itu Suk Kyun sedang tidur bersama Sung Jae. Jadi, dengan terpaksa Sung Jae pun menggarukkan punggung Suk Kyun.



Pagi tiba dan Jung A sudah berada di rumah putrinya. Seperti biasa dia mengerjakan pekerjaan rumah disana untuk mendapatkan uang. Kedua putrinya hanya bisa menandanginya ketika Jung A membersihkan kaca tanpa membahas apapun. Seperti tak ada hal yang terjadi.


Suk Kyun pergi ke kamar mandi dan hendak pipis, namun sebelum Suk Kyun melakukannya, Sung Jae memberitahunya untuk pipis sambil duduk agar air seni-nya tak kemana-mana. Suk Kyun menolak, karena menurutnya bagaimana bisa seorang pria pipis sambil duduk.

“Aku pipis sambil duduk setelah usiaku 40 tahun. Usiamu sudah 70an. Siapa yang peduli  tentang harga diri? Yang benar saja. Duduk saja,” ucap Sung Jae kesal, sehingga Suk Kyun pun tak punya pilihan lain, dia pipis dengan duduk. 


Jung A sekarang sedang membuat kimchi dan putri ketiganya meminta dia untuk berbaikan dengan sang ayah. Namun Jung A tak menanggapinya. Putri kedua ikut bicara, namun berbeda dari pendapat sang adik, dia mendukung Jung A untuk berpisah dari ayah mereka. Tak di dukung sang adik pun kesal dan berkata kalau sang kakak jarang datang ke rumah Suk Kyun untuk mengurusnya. 

“Ibu. Hentikan pelarianmu ini  dalam satu bulan. Jika itu belum cukup, tiga bulan saja sebelum Ibu kembali. Aku akan meminta Ayah untuk  jemput dan minta maaf pada Ibu,” ucap putri ke tiga dan sang kakak ragu kalau ayah mereka akan memohon sambil minta maaf pada sang ibu. “Lalu apa saranmu?” tanya sang adik kesal.

“Apa lagi? Ibu harus bercerai.  Ibu juga seorang wanita. Ya 'kan, Bu? Ibu juga wanita. Ibu ingin menjalani sisa hidupmu  sebagai seorang wanita, 'kan?” tanya putri kedua.

“Aiyoo. Wanita darimananya? Rahimku diangkat karena aku terkena kista. Juga, siapa yang peduli kalau aku ini pria atau wanita di umur setua ini? Kalian berdua membuang-buang waktumu,” jawab Jung A pada akhirnya setelah diam mendengar perdebatan kedua putrinya. Putri ketiga pun berkata kalau hidup Jung A akan gagal jika terus bersikap seperti itu. Putri kedua membela dengan berkata kalau hidup Suk Kyun lah yang gagal, karena dia tak bisa hidup tanpa Jung A. 

Jung A memberitahu kedua kalau mereka tidak berhal membicarakan ayah mereka seperti itu. Waktu Suk Kyun muda, dia bekerja keras untuk membesarkan mereka berdua. Dia bekerja di pabrik helm dan menghasilkan uang. Suk Kyun juga sampai lembur hingga tengah malam dan membuat hidung juga telinganya membeku di musim dingin. 

“Ayahmu berusia 70an dan masih bekerja. Kalian tidak berhak membicarakannya  seperti itu. Kau tidak mau masak untuknya?  Ya sudah, jangan masak buat dia. Belikan saja makanan untuknya.  Kalian ini tak tahu terima kasih,” ucap Jung A emosi dan kedua putrinya secara kompak berkata kalau bukan seperti itu maksud mereka berdua. Namun Jung A tak mau mendengar penjelasan mereka, dia meminta upahnya hari ini. Putri ketiga memberikan uang lebih, dia bahkan berjanji akan terus memberikan 100 dolar tiap hari, jika Jung A kembali pada Suk Kyun. Tentu saja Jung A tak mau, dia memberi kembalian pada putrinya. 

“Kenapa Ibu harus menerima uang sebanyak itu? Kau pikir Ibu minggat dari  rumah untuk membuatmu tak nyaman? Biasanya, 60 dolar,  tapi hari ini, 80 dolar. Ibu tahu apa yang kalian rasakan...tapi kaliah tidak harus  membicarakan ayahmu seperti itu. Juga, janga coba-coba cerewet padaku lagi. Ibu muak mendengarnya,” ucap Jung A dan kedua putrinya tak bisa berkata-kata lagi.


Jung A pergi ke rumah Hee Ja dan ketika Hee Ja menawarinya menginap, tanpa ragu Jung A langsung mengiyakan. Agar malam mereka jadi seru, Jung A pun mengajak yang lainnya untuk menginap juga di rumah Hee Ja. Orang yang Jung A telpon pertama kali adalah Nan Hee dan bertanya apa yang sedang dia lakukan.


Ternyata Nan Hee bersama teman-temannya yang lain sedang menonton pria gebetan Nan Hee yang saat itu sedang bernyanyi di sebuah cafe. Nan Hee juga mengajak Jung A dan Hee Ja untuk menyaksikan penampilan teman dekatnya. Karena Nan Hee memang masih muda, Hee Ja-pun memberi saran pada Nan He untuk berpacaran dengan seorang pria. Mendengar saran Hee Ja, Young Won pun bertanya tentang hubungan Hee Ja dan Sung Jae. Hee Ja kemudian menjawab kalau dia dan Sung Jae tidak pacaran, mereka berdua hanya saling bertemu. 


Nan Hee kemudian mendapat telepon dari Choong Nam yang saat itu sedang sibuk menjahit di rumah sendirian. Karena mereka semua sedang bersenang-senang tanpa dirinya, Choong Nam pun menyuruh mereka cepat pulang. Choong Nam kemudian menelpon Jung A dan mengingatkannya kalau mereka harus hidup bersama beberapa hari ke depan. 

Jung A menjawab kalau dia tidak lupa dan Jung A kemudian memberitahu yang lain kalau Choong Nam sedang membahas tentang tinggal bersama. Young Won berkomentar kalau mereka tinggal bersama, mereka akan saling jambak rambut. Young Won pun mengambil alih ponsel Jung A dan menyuruh Choong Nam sadar, dia mengingatkan Choong Nam kalau mereka itu tidak akur. 

“Siapa yang tidak akur sama siapa?” tanya Choong Nam. 

“Kau pada kami. Kau harus hidup sendirian. Kau terlalu tua hidup  bersama dengan seseorang.”

“Tidak. Kali ini, aku akan baik-baik saja. Ini karya terakhirku melakukan pekerjaan rumahan. Kau tak pernah dengar istilah "bucket list"?”


“Kenapa? Keinginanmu mau mati?” tanya Young Won. “Aku ingin tinggal bersama Unni,” tambah Nan Hee. “Aku juga,” sambung Hee Ja yang kemudian memberitahu Choong Nam kalau pria yang Nan Hee suka masih sangat muda. Nan  Hee kemudian melihat ke arah si pria dan si pria juga terus menatapnya. Melihat Nan Hee dan pria itu saling lihat, Jung A dan Hee Ja pun berpendapat kalau mereka benar-benar saling menyukai.

Tepat disaat itu, Nan Hee mendapat telepon dari In Bong yang memberitahu kalau ibu mereka muntah. 


Di rumah Choong Nam bergumam kalau dia iri pada Nan Hee karena dia mendapatkan pria muda yang masih segar. Nan Hee juga menjalani hidup yang tak pernah dia alami. Choong Nam kemudian kepikiran dengan hidup bersama teman-temannya, jika benar hal tersebut akan terjadi, Choong Nam pun kepikiran untuk meminta biaya 300 dolar perbulan untuk biaya hidup mereka di rumah Choong Nam. Bukan hanya itu, Choong Nam bahkan membuat jadwal untuk teman-temannya melakukan pekerjaan rumah. 


Nan Hee pergi ke rumah orang tuanya bersama Wan. Melihat ibunya terlihat sangat cemas, Wan pun berkata kalau Nyonya Oh pasti baik-baik saja. “Memang ini pasti akan terjadi suatu hari. Memang betul. Umurnya 90 tahun. Kita harus mempersiapkan diri kita untuk hal yang terburuk,” ucap Wan.

Nan Hee bertanya bagaimana bisa seorang anak perempuan menyiapkan kematian ibunya. Haruskah dia memotong kayu dan membuat peti mati. Nan Hee pun meminta Wan untuk tidak mengatakan hal-hal seperti tadi, karena Nyonya Oh adalah ibu Nan Hee bukan ibu Wan. Nan Hee juga yakin kalau Wan tidak akan berkedip jika nanti Nan Hee mati. 

“Jahat. Kau hanya ikut mengantarku...karena untuk materi novelmu,” keluh Nan Hee. 

“Ibu sendiri yang menyuruhku menulis. Mau aku bilang apa pun...”

“Apa?”

“Kita tidak pernah akur. Takkan pernah bisa. Kita ini bagai kutub yang berlawanan,” keluh Wan dan Nan Hee tak bisa berkata-kata lagi. 


Suk Kyun masih berada di rumah Sung Jae dan mereka sedang makan bersama. Karena sesama pria, jadi mereka pun hanya makan ramyun. Sambil makan Sung Jae bercerita kalau dulu dia sangat akur dengan istrinya. Dia mencintai sang istri lebih dari apapun, dia juga selalu melapor ke sang istri setiap saat.

“Aku keluar rumah dan mau pulang ke rumah. Dan gajiku selalu kuberikan padanya setiap bulan. Jika aku pikir orang tuaku menyusahkannya, aku takkan berada di pihak orang tuaku dan fokuskan...energiku pada istriku. Aku seorang suami yang baik. Tak lama sebelum dia meninggal,  dia berkata..."Sayang, semoga kita bertemu lagi." Itulah yang dia pesankan padaku,” cerita Sung Jae dan Sun Kyung bertanya apa Jung A akan suka dengan hal yang seperti itu. Sung Jae menjawab kalau Jung A pasti menyukainya, karena semua wanita akan menyukai hal seperti itu. 


Hee Ja dan Jung A jalan pulang bersama sambil bergandengan tangan dan bernyanyi ria. Mereka tak perduli kalau semua mata menatap aneh pada mereka berdua. Tepat disaat itu, Jung A mendapat telepon dari Sun Kyun yang mengucapkan selamat malam padanya dan Jung A hanya menjawab iya lalu menutup teleponnya. Sun Kyun  menelpon lagi dan Jung A kembali mematikannya. Sun Kyun  pun kembali menelpon dan meminta Jung A untuk balik mengucapkan selamat malam untuknya, namun Jung A tak mau. Tak ingin diganggu oleh Sun Kyun untuk urusan yang tak penting, Jung A pun langsung me-non-aktifkan ponselnya. 

[ 100 Perbuatanku yang Kusadari itu Salah – 10.000 Perbuatanku yang Tidak Kusadari Kalau itu Salah]

Hee Ja bertanya apa sebenarnya yang Jung A inginkan dari Sun Kyun. Dia pun menjawab tidak tahu. Jung A mengaku kalau dia tidak merasa keberatan masak untuk Suk Kyun, dia juga tahu kalau Sun Kyun itu menjengkelkan dan Jung A merasa kasihan padanya. 


“Tapi sekarang..., Aku benci semuanya. Tapi aku tidak tahu kenapa aku merasa seperti ini. Anak-anakku jadi kesal sendiri...,”ungkap Jung A dan tiba-tiba kaki Jung A keseleo. Hee Ja pun menyuruh Jung A duduk dan Hee Ja langsung memeriksa kaki Jung A. Menunggu sampai kaki Jung A baikan, mereka berdua pun duduk bersama di pinggir jalan. Menyadari kalau orang-orang yang lewat menatap aneh pada mereka, Hee Ja pun berkata, “Menurutmu mereka akan mengira kita ini aneh? Dua wanita tua duduk di jalanan....larut malam bukannya tidur.”

“Aku tidak bisa begini dengan Seok Gyun. Jika kami sedang jalan berdua dan  aku kecapekan...dia bisa saja menyuruhku istirahat. Jika aku terluka...dia bisa saja menyuruhku hati-hati  seperti yang barusan kaulakukan. Tapi, dia malah mengeluh dan memarahiku sambil...berkata, "Jangan lemah. Kenapa kau ini?" Aku menghabiskan semua kehidupan  pernikahanku dengan dia....jadi apa gunanya memaki-maki dia,” ungkap Jung A.

“Lakukan saja,” pinta Hee Ja. 

“Brengsek. Bertahun-tahun hidup bersama...dan itulah yang terbaik  yang bisa kulakukan. Dia dan aku...akan mati lebih cepat. Jadi apa lagi yang akan kuinginkan darinya? Kau tidak perlu suami atau pria.”

“Alangkah baiknya hidup  seperti sahabat. Seperti kau dan aku. Sahabat. Benar 'kan?” tanya Hee Ja. Jung A berkata kalau kehidupan memang sangat sulit dan memiliki teman yang tidak membebanimu juga sangat sulit. Setelah merasa baikan, Jung A dan Hee Ja pun melanjutkan perjalanan pulang mereka. 


Young Won kembali mendapat kiriman bunga dan juga catatan kecil dari si pengirim. Isinya mengatakan kalau si pengirim bunga akan kembali ke Amerika Serikat pekan depan, jadi dia mengajak Yeon Won ketemuan hari Kamis. Akan bertemu dengan cintanya, Young Won pun melihat dirinya di cermin dan kemudian melepas wik-nya. 

Hee Ja berjalan sendiri dan kemudian masuk rumah. Merasa lapar, Hee Ja pun makan. Saat dia hendak makan, dia melihat Jung A tidur di rumahnya.


“Kenapa dia tidur disini?” tanya pada dirinya sendiri dan sepertinya Hee Ja lupa kalau malam itu Jung A tidur di rumahnya. Hee Ja kemudian membangunkan Jung A dan bertanya kenapa dia tidur di rumahnya bukan di rumah Jung A sendiri. Jung A yang tak mau di ganggu, langsung menyuruh Hee Ja tidur. 

Walau masih penasaran kenapa Jung A tidur di rumahnya, Hee Ja memilih tak membangunkan Jung A lagi. Dia melanjutkan makannya yang tertuda. Sambil makan, Hee Ja bertanya-tanya apa Hee Ja sedang bertengkar dengan Sun Kyun. Hmmm..... Hee Ja benar-benar sudah melupakan semuanya.


Nyonya Oh sudah berada di sawahnya. Nan Hee muncul dan langsung memarahinya, karena kondisi Nyonya Oh sedang tidak sehat, namun sudah waktunya makan siang, tapi Nyonya Oh masih sibuk bekerja. Nan Hee kemudian mengajak sang ibu untuk melakukan pemeriksaan di Seoul. Namun Nyonya Oh tak mau, karena dia sudah siap untuk mati. Wan membela sang nenek untuk tidak melakukan pemeriksaan dengan berkata kalau nenek tidak sakit. Dia hanya muntah karena terlalu banyak makan. 

“Dia muntah siang dan malam hari juga!” teriak Nan Hee kesal dan In Bong muncul sambil berkata kalau Nyonya Oh tidak akan mati. Pendapat In Bong di dukung oleh Wan. Walaupun begitu, Nan Hee tetap khawatir dan menyuruh ibunya ke rumah sakit. 

“Ibu tidak boleh mati. Apa yang akan terjadi nanti pada Ayah dan In Bong? Aku tidak melakukan ini untuk Ibu.  Ini untukku. Aku tidak bisa hidup dengan  Ayah dan In Bong,” teriak Nan Hee.


“Aku bisa hidup bahagia dengan  Jacqueline dan Ayah,” potong In Bong dan Nan Hee menyuruhnya tutup mulut. Nan Hee benar-benar emosi dan tak ada yang berani menjawabinya lagi. Semua itu Nan Hee lakukan karena dia sayang dan khawatir pada ibunya, walaupun cara yang dia lakukan terlihat sangat kasar karena dia mebentak-bentak ibunya. Nan Hee kemudian mengajak semuanya makan.

Setelah Nan Hee pergi, Wan menyarankan agar Nyonya Oh ikut saja ke Seoul untuk melakukan pemeriksaan. Ternyata alasan Nyonya Oh menolak diperiksa karena biaya pemeriksaan mahal dan In Bong sebentar lagi akan menikah. Setelah mengetahui alasannya, Wan pun memberitahu sang ibu kalau Nyonya Oh akan pergi ke rumah sakit setelah menyelesaikan pekerjaannya.


Nyonya Oh kemudian berpesan apda Wan agar berperilaku baik pada ibunya. Wan lalu beralih pada In Bong dan bertanya apa In Bong sudah mencium Jacqueline. Dengan malu-malu, In Bong mengaku kalau dia sudah melakukannya dua kali. Mendengar itu, Wan pun tertawa lebar. Semua itu Wan lakukan untuk membuat Nyonya Oh senang. 


Karena akan bertemu dengan pria yang dia cintai, Choong Nam pun membantu Young Won berdandan. Saat akan berangkat, Young Won terlihat nervous dan bertanya pada Choong Nam, bagaimana pria itu punya istri. Tegas Choong Nam menjawab kalau Young Won harus menyuruhnya bercerai. 

“Katakan padanya tak bisa pria hidup dengan satu wanita terlalu lama,” tambah Choong Nam dan Young Won senang dengan saran Choong Nam. Young Nam juga penasaran, apa pria itu juga merasa senang seperti rasa senang yang sedang Young Wan rasakan sekarang. Choong Nam menjawab kalau pria itu tak merasakan hal yang sama, maka yang harus Young Won lakukan adalah melupakan pria itu dan jangan menahannya. 


“Kenapa dia meninggalkan gadis cantik seperti dia? Jahat,” ucap Choong Nam ketika Young Won sudah pergi dengan mobilnya. Ketika Choong Nam hendak masuk kembali ke dalam rumah. Rombongan Prof. Park muncul dan memanggil Choong Nam. Mereka datang karena Prof. Park mendapat telepon dari seseorang yang hendak membeli karyanya untuk pameran di Amerika. 

“Karyaku yang kau jual di galeri temanmu...”

“Sudah kujual. Ada masalah?” jawab Choong Nam ketus. Rekan Prof. Park kemudian berkata kalau mereka ingin membeli kembali karya – karya yang sudah Choong Nam beli, karena mereka tak mau kehilangan kesempatan emas seperti sekarang ini. Tentu saja Choong Nam menolak.

“Aku dulu menyukai kalian waktu kalian masih muda. Waktu kalian masih jadi dosen honorer. Kalian kemari setiap hari membahas soal seni...lalu kalian menangis karena kalian tak punya uang,” ungkit Choong Nam yang kemudian mengaku kalau dia lebih menyukai mereka yang dulu. “Aku tidak berpendidikan...dan tak tahu apa-apa tentang seni. Tapi melihat kalian mengagumi karyamu dan terus kemari...membuatku berpikir bahwa seni  itu sesuatu yang hebat.”

“Langsung saja intinya apa,” ucap Pof. Park sedikit tak senang.
“Semua yang kalian pedulikan sekarang adalah uang dan kesuksesan. Kalian itu penipu dan pecundang,” ucap Choong Nam jujur dan Prof. Park kesal. Rekan Prof. Park berkata pada Choong Nam kalau dia tak seharusnya berkata seperti itu. Lagipula Choong Nam membeli karya mereka dengan harga murah dan menjualnya dengan harga tinggi. Jadi, seharusnya Choong Nam yang berterima kasih pada mereka. 

“Kalian takkan berhenti mengganggu ya?” tanya Choong Nam. “Tak mempedulikanku...dan mengejekku mungkin bukan hal paling mengerikan yang kalian lakukan. Tapi yang parahnya adalah kalian...tidak menyadari nilai sebenarnya karya kalian. Jangan menjual karyamu tanpa pikir-pikir. Aku akan mengadakan pamerannya,” ucap Choong Nam dan kemudian berjalan masuk ke dalam rumah.


Mendengar perkataan Choong Nam, Prof. Park tak bisa menjawab lagi. Dia hanya tersenyum dan kemudian berkata kalau saja Choong Nam 10 tahun lebih muda, dia mau melamar Choong Nam. Prof. Park terharu pada apa yang Choong Nam lakukan untuknya dan kemudian berterima kasih. 


Pria yang Young Won sukai sudah terlebih dulu sampai di tempat janjian. Hmmm... si pria sudah terlihat tua dan lemah. Tak lama kemudian Young Won muncul daan merekapun saling tersenyum satu sama lain. Namun, senyum Young Won tiba-tiba dan menangis ketika melihat penampilan pria yang dia sukai sekarang. Young Won bertanya tentang istrinya, tapi si pria tak menjawab, dia malah balik bertanya tentang kesehatan Young Won. Mereka sudah tak bertemu selama 30 tahun dan melihat perubahan si pria yang begitu banyak, terus membuat Young Won menangis. Tak bisa menguasai diri, Young Won pun kemudian mengajak mereka mengakhiri pertemuan mereka, padahal si pria mengajaknya makan dulu. 


Young Won pergi terlebih dulu dan ketika sendirian, si pria menelpon sopirnya dan memintanya datang menjemput. Young Won ternyata pergi ke rumah Wan dan disana dia menangis sejadi-jadinya. 

Wan bernarasi, “Reunian Bibi Yeong Won dengan cinta pertamanya yang tak bisa dia lupakan....berakhir begitu saja. Ketika Bibi menemuinya lagi, dia tidak  merasa perlu bertanya....kenapa orang itu meninggalkan Bibi atau  berkata kalau Bibi merindukannya. Lalu, dia berkata begini...”


‘Sampai sekarang,...kukira semua orang bakal menua...tapi ternyata semangat atau perasaanya tak pernah menua,” ucap Young Won ketika diantar Wan pulang. “Hari ini, aku menyadari...perasaan kami juga menua. Dia mengajakku makan malam. Tapi kupikir, "Apa gunanya?" Dia menyarankan minum. Tapi kupikir, "Apa bedanya? Tetap saja perasaanku menua,” aku Young Won dan terlihat sedih.

Wan kembali bernarasi, “Tapi apa yang Bibi Yeong Won katakan padaku sebelum berangkat ke Amerika....adalah sebaliknya. "Aku berharap aku  makan dengan dia." "Aku berharap kami minum itu."Bibi hanya menambahkan satu  penyesalan lagi...dalam cerita hidupnya yang tidak begitu penting.”


Di rumah Choong Nam terus menanyai Young Won perihal kencannya. Young Won pun berbohong dengan mengatakan kalau dia sangat senang bertemu dengan sang cinta pertama yang ternyata namanya adalah Dae Cheol. Walaupun tak percaya dengan yang Young Won katakan, Choong Nam pun mengakhiri interogasinya dan membiarkan Young Won sendiri. 


Ternyata mereka semua sudah berkumpul di rumah Choong Nam, Wan juga ikut disana. Hee Ja, Jung A dan Nan Hee sibuk menonton TV, sedangkan Wan sendirian berada di meja makan. Choong Nam menghampiri Wan dan berkata kalau Young Won tidak menyukai kencannya. 

“Bibi berkata begitu?” tanya Wan.


“Sebelum dia membasuh wajahnya, make-up nya berantakan sekali. Dia tidak bisa membodohiku. Katanya kencannya lancar-lancar saja dan aku pura-pura percaya padanya,” ucap Choong Nam dan Wan mengerti.

Choong Nam kemudian mematikan TV dan berkata kalau waktu menonton sudah selesai. Tentu saja Jung A dan Nan Hee protes, namun Choong Nam tetap mematikan TV-nya. Choong Nam kemudian menunjukkan tugas yang sudah dia buat untuk mereka semua ketika mereka tingggal bersama. Saat mereka semua mendiskusikan tugas dan biaya hidup, Wan diam-diam merekam pembicaraan mereka.


Nan Hee merebut kertas jadwal-nya dan berkata kalau mereka semua pasti tidak akan betah tinggal bersama. “Dan aku sudah bisa menduga setelah menghabiskan setengah hari bersama. Kita semua tidak tahan tinggal bersama. Contohnya saja, waktu nonton TV tadi. Kau bisa saja menunggu sampai  filmnya selesai...tapi kau mematikannya,” ucap Nan Hee dan Choong Nam tak perduli. Dia malah mengatakan kalau sekarang sudah waktunya tidur. Melihat sikap Choong Nam yang mengatur, Wan menyebutnya seperti instruktur militer.



Mereka kemudian berbagi tugas untuk mempersiapkan tempat tidur. Young Won bertugas mencuci piring, Chong Nam dan Nan Hee membersihkan lantai, sedangkan Jung A dan Hee Ja bertugas mengambil selimut. Ketika para orang tua melakukan tugasnya masing-masing, Wan sibuk merekam kegiatan mereka. 

Selesai melakukan tugas masing-masing, sekarang mereka harus membersihkan wajah dan sikat gigi dan lagi-lagi mereka melakukan hal-hal lucu.  Dimulai dari Hee Ja, yang kebingungan mencari pasta gigi, padahal pasta giginya sudah dia pegang. Kemudian Jung A yang bingung mencari handuk, padahal handuknya sudah ada di lehernya sendiri. Menyadari hal itu, Jung A pun berkomentar kalau itulah sebabnya orang tua harus mati lebih dahulu, karena orang tua sudah banyak lupanya. 


Sebelum tidur, Jung A, Hee Ja, Young Won dan Choong Nam minum obat. Melihat mereka minum obat, Hee Ja berkata pada Wan kalau mereka semua menegak pil supaya bisa hidup dan Wan menambahi kalau mereka semua bisa kenyang karena makan pil-pil itu, sebab pil yang mereka makan begitu banyak.

Bersambung ke sinopsis Dear My Friends Episode 12 - 2


No comments :

Post a Comment