July 13, 2016

Dear My Friends Episode 11 - 2


Suk Kyun heran apa sebenarnya kesalahannya. Dia hanya berusaha menjadi anak yang berbakti dan menjalankan pesan terakhir kedua orang tuanya untuk menjaga saudara-saudaranya. Lagipula, bukankah dulu dia pernah meninggalkan orang tuanya demi Jung A karena waktu itu ibunya menghina Jung A karena Jung A tidak bisa melahirkan anak lelaki.

Jung A mengoreksi, Suk Kyun tidak pernah meninggalkan keluarganya. Mereka cuma pindah ke rumah sebelah dan dia masih harus selalu memasak dan bersih-bersih untuk keluarganya Suk Kyun setiap subuh. Tak tahan lagi, Suk Kyun memutuskan untuk pergi dengan membawa formulir cerainya.


Tapi baru beberapa langkah, dia kembali lagi dan bertanya sekali lagi, apa sebenarnya kesalahannya. Apa hanya karena dia membawa Jung A keliling dunia. Memangnya apa salahnya kalau dia menabung semua uangnya. Memangnya salah kalau dia lebih memprioritaskan kedua orang tuanya dan saudara-saudaranya.

"Kalau begitu kau hidup saja bersama mereka. Sebelum ibuku meninggal dunia, dia menyuruhku untuk hidup nyaman. Karena itulah aku keluar dari rumah. Aku bahkan hampir tidak bisa menangani hidupku sendiri jadi aku mengirimnya ke panti jompo dan aku harus membawanya ke pantai dimana dia meninggal dunia. Tapi aku akan menuruti harapan terakhir ibuku. Aku juga bisa jadi anak yang berbakti!"


Sung Jae sedang membantu Hee Ja mencuci buah-buahan. Dia melakukannya dengan sangat baik sampai membuat Hee Ja kagum. Sung Jae mengaku kalau istrinya yang mengajarinya. Dalam waktu 3 tahun terakhir hidupnya, mendiang istrinya Sung Jae banyak mengajarinya dengan cukup keras.

Hee Ja mengerti, mendiang istrinya Sung Jae melakukan itu agar Sung Jae bisa hidup mandiri setelah dia tiada. Saat hendak mencari cuka, Hee Ja mendapati lemarinya berantakan dan bingung sendiri siapa yang sudah membuat lemarinya ini berantakan.


Setelah selesai, Hee Ja dengan bangga menunjukkan buku gambarnya yang sekarang sudah dia warnai. Sung Jae kagum melihat ketrampilan Hee Ja dalam mewarnai. Tepat saat itu juga, Choong Nam datang.


Sung Jae meminta maaf karena tidak bisa menjenguk Choong Nam gara-gara dia tabrakan mobil. Choong Nam tak mempermasalahkannya dan meminta Sung Jae untuk menjaga Hee Ja dengan baik saja. Sung Jae lalu memijit bahu Choong Nam yang pegal.


Tak lama kemudian, semua bibi, Nyonya Oh dan Wan akhirnya berkumpul untuk interview. Tapi baru mulai, para bibi malah membuat Wan stres karena mereka ribut berdebat sendiri sementara Nyonya Oh nyantai di pojokan sambil main game.


Wan menjelaskan pada mereka bahwa dia mewawancarai mereka adalah untuk dijadikan novel. Dia tidak akan menulis tentang kesedihan hidup mereka karena target novelnya nanti adalah untuk anak muda. Biasanya, anak muda tidak suka mendengar keluhan orang tua tentang betapa beratnya hidup mereka atau betapa sedihnya perasaan mereka.

Nan Hee mengerti, Wan hanya ingin mereka menjawab pertanyaannya tambah menambahkan apapun lalu dengan antusias menyuruh Wan untuk menulis tentang pertengkarannya dengan Young Won dan meminta Wan untuk menambahkan sedikit bumbu percintaan dalam kisahnya nanti.


Tapi setelah itu, bibi-bibi yang lain malah ikut-ikutan request meminta Wan untuk menambahkan atau mengurangi cerita tertentu dalam kisah mereka masing-masing. Gi Ja bahkan memerintahkan Wan untuk menulis kisahnya sesuai apa yang dia diktekan. Ujung-ujungnya mereka malah jadi berdebat sengit lagi.


Frustasi, Wan langsung bangkit untuk menenangkan diri di kamarnya Hee Ja. Setelah dia kembali, dia malah memasukkan kembali barang-barangnya kedalam tas dan menyatakan tidak mau menulis lagi. Para bibi kaget dan langsung menggerutui sikap Wan yang tidak masuk akal.


"Bibi, jika aku tidak jadi menulis itu tidak masuk akal, lalu apakah kalian berpikir bahwa apa yang kalian katakan itu masuk akal? Kalian ingin aku merekam kalian 24 jam? Buat apa? Apa kalian ingin anak-anak kalian tahu tentang betapa bosannya kalian?"

Wan menjelaskan bahwa dia hanya ingin menulis kisah hidup mereka yang indah yang pastinya akan disukai pembaca dan bagus juga untuk dibaca oleh anak-anak mereka sendiri. Misalnya, dia ingin menulis kisah yang menceritakan tentang seorang ibu yang selalu memikirkan anak-anak mereka setiap hari tapi ibu itu tidak menghubungi anak-anaknya agar tidak menganggu mereka tapi ibu itu tetap bahagia.

Hee Ja langsung emosi mendengar kisah yang hampir mirip kisah hidupnya itu dan menyatakan kalau itu bohong. Dia jijik pada anak-anaknya sendiri. Kalau Wan ingin menulis kisah tentang dirinya yang kesepian dan bosan selama 24 jam maka sebaiknya dia tidak ikutan.

Selama hidupnya, dia mengurus 4 pria (anak-anak dan suaminya) yang menguras seluruh tenaganya setiap kali mereka membutuhkannya. Sekarang saat dia tua, anak-anaknya malah megurungnya di sini seorang diri.


Young Won berusaha membela Wan. Tapi Gi Ja malah berteriak menyatakan bahwa hidup itu adalah perang antara orang tua dan anak-anak. Bibi-bibi yang lain setuju. Pembicaraan mereka malah menjurus ke masalah cinta dan perang dan Choong Nam malah mengusulkan agar mereka para orang tua hidup bersama saja.

Wan berusaha menyela dan meminta mereka untuk bicara satu per satu biar cepat selesai. Gi Ja yang sedari tadi tidak mengerti apa yang Wan inginkan, lagi-lagi menyuruh Wan untuk menceritakan tentang kisah hidupnya yang malang saat dia kehilangan ayahnya semasa perang, tentang ibu mertuanya yang jahat dan kesedihan hidupnya karena harus terus menerus disuruh mengurusi cucu-cucunya.

"Itu cerita makjang. Semua kisah kalian terlalu makjang" gerutu Wan

"Hidup itu memang makjang" ujar para bibi serempak

Wan benar-benar stres menghadapi mereka. Sekali lagi dia berusaha memberitahu mereka bahwa dia hanya ingin menulis kisah hidup yang indah yang bisa dibaca oleh anak muda dan membuat mereka bahagia.

Kenapa juga dia harus membicarakan kisah-kisah menyedihkan yang mereka utarakan barusan. Kisah ketidakberuntungan mereka itu sama seperti kisah dongeng yang kejam dan sama sekali tidak enak dibaca.



"Karena itulah kebenarannya" ujar Choong Nam "Itulah kenyataan hidup kami"

Hee Ja membenarkannya. Nan Hee pun memberitahu Wan bahwa Wan masih belum bisa menulis apapun karena dia menginginkan kisah yang terlalu bertentangan dari kenyataan hidup mereka yang memang makjang. Mendengar itu, Wan tiba-tiba punya ide lalu mengemasi barangnya dan pergi.


Wan pergi ke kantor penerbitan dan mengumpulkan para pekerja di ruang rapat dan memutar ulang rekaman para bibinya. Sekarang dia punya inspirasi baru. Daripada menulis kisah yang manis dan indah, sekarang Wan memutuskan untuk menulis kisah dongeng kejam dari generasi tua kepada generasi muda.

Dia akan menulis kisah hidup Gi Ja dan ibu mertuanya yang kejam, lalu kisah Jung A melarikan diri dari suaminya, lalu Choong Nam dan para profesor dan diikuti oleh kisah neneknya. Pastinya akan ada kisah romance dan Wan memutuskan untuk memasukkan kisah romansa Young Won.

Sementara para bibi melakukan kegiatan mereka masing-masing, Wan bernarasi..."Aku memutuskan untuk menulis kisah orang tua apa adanya tanpa mempermanis apapun. Jika hidup memang melelahkan dan menyedihkan maka tak ada yang bisa kulakukan. Aku memutuskan untuk menulis kisah yang sejujurnya. Mereka ada tokoh protagonis dalam kehidupan mereka sendiri jadi mereka punya hak untuk memilih"


Saat Wan sedang mengerjakan ide barunya, Hee Ja tiba-tiba menelepon dan meminta Wan untuk mengubah alasannya membuat rosario setiap malam. Dia tidak ingin membuat anak-anaknya cemas jadi dia meminta Wan untuk menulis alasannya membuat rosario adalah demi gereja dan bukannya karena kesepian.

Tapi Wan tak sependapat, seumur hidupnya Hee Ja selalu mengurusi orang lain. Anak-anak Hee Ja wajib tahu tentang malam-malam yang Hee Ja habiskan seorang diri dalam kesepian.


Setelah Hee Ja, Jung A yang menelepon Wan dan meminta Wan untuk tidak menulis alasannya pergi dari rumah adalah untuk balas dendam. Jung A menjelaskan bahwa dia memutuskan untuk pergi dari rumah bukan demi balas dendam, tapi demi mencari kebebasannya sendiri setelah puluhan tahun diperbudak oleh suami, mertua dan saudara iparnya.

Wan mengaku salah tentang Jung A "Balas dendam bukan merupakan bagian dalam hidupnya. Seumur hidup, dia hidup demi mertuanya, suami dan anak-anaknya. Dan sekarang, akhirnya dia bisa menikmati bir"


Keesokan harinya, para profesor berkumpul di cafenya Choong Nam yang kemudian datang membawa seguci salad buah. Tapi yang membuat para profesor itu tercengang, Choong Nam menggunakan guci buatan Prof. Park sebagai wadahnya. Choong Nam dengan entengnya mengklaim kalau guci cocok dijadikan wadah salad buah. Lalu dengan santainya dia menyajikan salad itu untuk mereka dan mengacuhkan Prof. Park yang tersinggung.

Tepat saat itu juga, keponakannya Choong Nam (entah sengaja atau tidak) menjatuhkan sebuah guci lain yang juga merupakan guci hasil karya Prof. Park. Choong Nam dengan santainya menyuruh keponakannya untuk membuangnya saja dan memakai guci yang lain.


Keponakannya lalu membawakan beberapa lukisan karya Prof. Yang yang sudah dia kemas jadi satu lalu berkata pada mereka bahwa dia akan menjual semua lukisan itu setengah harga dari harga aslinya. Para profesor itu tersinggung dan langsung pergi.


Di tempat lain, Young Won sedang bersama beberapa ahli seni yang sedang mempelajari beberapa karya para profesor. Young Won lalu menelepon Choong Nam untuk memberitahunya kabar baik. Ternyata beberapa karya yang Choong Nam kirimkan padanya itu, memiliki nilai seni tinggi dan harga jualnya cukup mahal.


Choong Nam santai saja menanggapinya, lagipula dia hanya ingin tahu nilai karya-karya itu dan tidak berniat untuk menjualnya. Hmm... Choong Nam memang hebat. Dia tahu karya-karya mana yang benar-benar bagus dan dia sudah menduga harganya sebenarnya jauh lebih mahal daripada harga belinya.

Sayang sekali para profesor itu tidak menyadari kemampuan diri mereka sendiri. Mereka sama sekali tidak tahu kalau beberapa karya mereka benar-benar ada yang bagus, malah mereka jual padanya dengan harga murah.


"Memang kenapa dengan balas dendam?" lanjut Wan dalam narasinya "Jika hal itu bisa membuat hidup 60-70 tahun mereka yang menyedihkan, layak dijalani meski hanya sesaat. Dan jika itu bisa menebus semua kesulitan hidup mereka, jika itu menghibur mereka, maka bukankah itu membuat segalanya berharga? Mereka akan segera mati. Waktu mereka sudah semakin dekat. Jika kita memberitahu mereka untuk menjalani hidup mereka seperti biasanya, bukankah itu terlalu kejam?"


Nyonya Oh sedang memijat kaki In Bong sambil mengajari Kakek menulis. Tapi tiba-tiba dadanya sakit lalu muntah-muntah. OMO!


Wan bekerja saat Young Won datang berkunjung dengan membawa sebuah buket bunga dan senyum ceria. Tapi beberapa saat kemudian saat mereka duduk bersama sambil minum wine, suasana mulai berubah dan Young Won mengaku bahwa bunga itu adalah kiriman dari mantan suaminya. Wan menyemangatinya untuk menemui pria itu, lagipula Young Won kan memang merindukannya.

Tapi Young Won menolak karena dia takut kecewa. Dia mendesah, mengeluhkan hidupnya yang penuh dengan kekecewaan. Dia mengaku bahwa dia menikah dengan suami keduanya hanya supaya dia melupakan suami pertamanya, tapi sayangnya usahanya itu gagal.


"Jadi karena itu saat bibi meninggalkan ahjussi, bibi bilang itu bukan kesalahan ahjussi? Semua itu karena Young Won belum bisa melupakan Dae Cheol ahjussi?"

"Seandainya dia tidak kembali pada istrinya yang melukai dirinya sendiri karena dia menikahiku maka kami pasti akan masih bersama sekarang. Aku takut kecewa dengan perubahan dirinya. Tapi, aku juga sangat merindukannya. Aku sudah tua dan sudah tidak cantik lagi"

Tiba-tiba dia tertawa saat menyadari Wan sedang menatapnya lalu bertanya, Wan pasti bosan kan mendengar kisah cinta wanita tua sepertinya. Wan meyakinkan Young Won bahwa dia masih sangat cantik dan menyemangati Young Won untuk pergi menemui mantan suaminya.


Wan lalu mengaku bahwa dia balikan dengan Yeon Ha, dia bahkan pergi menemui Yeon Ha minggu kemarin. Setelah dia menyelesaikan bukunya nanti, dia akan pergi ke Slovenia dan dia tidak akan peduli walaupun ibunya tak menyetujuinya. Tak ingin ikut campur, Young Won tidak menanggapinya dan  memutuskan untuk pergi.


Setelah Young Won pergi, Wan video call dengan Yeon Ha dan minta dikecup. Tapi melihat Yeon Ha malah membuat Wan semakin merindukannya. Yeon Ha tertawa mendengarnya lalu menunjukkan foto gereja yang barusan diambilnya hari ini.

Wan tersenyum melihatnya "Pasti bagus sekali kalau menikah di sana"


Suk Kyun bermimpi buruk di rel kereta api lagi. Keesokan harinya, setelah memeriksa rekeningnya di ATM, Suk Kyun melihat poster promosi liburan musim panas yang membuat teringat harapan Jung A untuk keliling dunia.

Akhirnya dia mengumpulkan saudara-saudara yang pernah dia beri uang. Tapi mereka mengaku kalau mereka sudah menghabiskan sebagian besar uang yang Suk Kyun berikan pada mereka. Tapi mereka menyerahkan sebuah brosur liburan ke China dan Jepang dan sedikit sisa uang. Mereka memintanya untuk membawa semua itu pada Jung A. Mereka yakin kalau Jung A pasti akan kembali padanya. Mereka menyemangatinya untuk membawa Jung A kembali.


Setelah melihat-lihat brosur itu, Suk Kyun akhirnya memantapkan diri untuk pergi menemui Jung A untuk menunjukkan brosur itu dan tabungannya lalu bertanya "Apa kau senang sekarang? Kau menang dan aku kalah. Aku mengambil kembali semuanya dari saudara-saudaraku untukmu. Kita tidak bisa keliling dunia, tapi kita bisa pergi ke Cina dan Jepang. Apa kau bahagia?"

Tapi Jung A hanya menatapnya lalu mengembalikan semua itu pada Suk Kyun karena dia tidak membutuhkan semua itu. Saat Suk Kyun terus berusaha membujuknya, Jung A langsung mengusirnya lalu tidur. Tapi Suk Kyun masih belum mau menyerah dan terus saja merecokinya bahkan membuka paksa matanya sampai membuat Jung A kesal.


Akhirnya Suk Kyun berjalan pulang sendiri dan duduk termenung menatap keramaian malam seorang diri.


Akhirnya dia pergi untuk curhat pada Sung Jae. Sambil minum-minum, Suk Kyun menangis. Dia sudah tidak tahu harus memohon dengan cara bagaimana lagi. Selama ini Jung A telah melatihnya hingga dia jadi sangat bergantung pada Jung A dan tidak bisa melakukan apapun tanpanya.

"Dia bersikap seolah dia akan melakukan segalanya untukku seperti ibuku. Aku... aku hanya memintanya untuk kembali pulang. Aku memberikan semua ini padanya, tapi dia tidak menginginkannya. Dia bilang dia tidak membutuhkannya. Yang dia lakukan hanya tidur. Dia benar-benar meninggalkanku"

Bersambung ke episode 12

No comments :

Post a Comment