July 9, 2016

Dear My Friends Episode 10 - 2


Keluar dari rumah Hee Ja, Sung Jae menelpon Choong Nam dan Choong Nam bertanya seberapa senang Sung Jae setelah liburan bersama Hee Ja. Sung Jae pun menjawab kalau dia sangat senang. Tujuan Sung Jae menelpon sebenarnya bukan membahas hubungan dia dan Hee Ja, tapi untuk menanyakan rencana Jung A yang ingin meninggalkan Sun Kyung, bukan hanya meninggalkan Sun Kyung, Jung A bahkan sudah menjual rumah yang di tulis atas namanya sendiri. Choong Nam pun bertanya apa yang Jung A lakukan sudah melanggar hukum dan Sung Jae menjawab tidak. 

“Jika Suk Kyun Oppa dan Jung A Unni masuk sengketa hukum..., Aku akan memintamu jadi pengacara Jung A Unni. Berapa biayanya?” tanya Choong Nam blak-blakan.




“Kau bercanda? Jika ada masalah antara  pasangan yang sudah menikah...,mereka harus mengatasinya dengan  mendiskusikannya. Melakukan itu takkan memecahkan masalah.  Cuma bikin kekacauan saja,” jawab Sung Jae dan berkata lagi kalau Sun Kyung pasti akan menangis. 


“Kalau begitu Oppa saja yang hapus air matanya.”

“Kita semua akan mati. Pikirkanlah Seok Gyun Hyung.  Dia sudah tua.”

“Kau sangat peduli padanya, 'kan? Kalau begitu, kau saja  hidup bersamanya. Pasti akan terlihat menjijikkan,” ucap Choong Nam dan menutup teleponnya.


Tepat disaat itu, ponakannya mengampiri dan memberitahu kalau rombongan Prod. Park sudah minum minuman seharga 300 dolar, ponakannya itu sangat yakin kalau mereka pasti tidak akan bisa  membayarnya. Sepertinya Choong Nam sudah memaafkan Prof. Park, terlihat dari Choong Nam yang mengerti kalau seniman seperti Prof. Park tidak punya uang dan dia pun langsung merobek  kertas tagihan milik rombongan Prof. Park. Tentu saja si ponakan merasa tak senang, apalagi Choong Nam menyuruhnya untuk memberikan apapun yang rombongan Prof. Park minta. Choong Nam menyebut rombongan Prof. Park adalah teman-temannya, tapi si ponakan malah berkata kalau mereka semua bukan teman-teman Choong Nam, mereka hanya memanfaatkan Choong Nam. 

Setelah si ponakan pergi, Choong Nam merasa perutnya sakit dan dia bergumam kalau dia sedang terkena diare.  Ketika merasa perutnya sudah tak terlalu sakit lagi, Choong Nam langsung menghampiri rombongan Prof. Park dan ikut bergabung dengan mereka. 


Min Ho mengantar ibunya untuk membeli peralatan tidur. Hee Ja kemudian bertanya kenapa Min Ho bersikap dingin seperti itu pada Sung Jae, dia berusaha meyakinkan Min Ho kalau Sung Jae hanya sebatas teman untuk dirinya, tidak lebih. Namun Min Ho tak langsung menjawab, dia malah meminta si pelayan toko untuk membungkus bantal dan selimut yang sudah di pilih Hee Ja. 

“Tetap sebagai teman, oke? Jangan terlalu sering menemuinya,” pesan Min Ho dan Hee Ja mengiyakan.


Dengan bantuan Min Ho, Hee Ja membawa selimut dan bantal yang dia beli ke rumah baru Jung A, namun dia tak membawanya ke rumah yang sebelumnya Nan Hee dan kawan-kawan bersihkan. Hee Ja malah membawanya ke rumah yang ada pria galaknya. Tak mendapati Jung A di tempat itu dan merasa kalau dia sudah salah rumah, Hee Ja pun langsung berusaha mengingat-ingat dimana Jung A menyewa rumah. Namun dia jadi bingung, karena tak yakin dengan ingatannya sendiri. 


Tak ingin ibunya pusing, Min Ho pun menyuruhnya tenang dan dia akan menelpon Jung A langsung untuk menanyakan alamat rumahnya. 



Wan masih berada di rumah  Yeon Ha dan Yeon Ha mengajak Wan jalan-jalan tapi Wan tak mau, karena dia lebih nyaman berada di rumah Yeon Ha dan tidur di tempat tidur Yeon Ha. Saat di tanya apa Wan akan kembali ke Seoul, Wan pun mengiyakan. Mendengar itu, terlihat raut wajah tak senang di wajah Yeon Ha, namun Yeon Ha menutupinya. Dia menyuruh Wan mandi, tapi Wan tak mau, dia ingin melihat pemandangan di luar bersama Yeon Ha. 


Sambil menatap pemandangan kota yang indah, Wan berkata, “Jangan memikirkan hal lain. Aku disini.”

“Iya. Kau disini. Jam berapa penerbanganmu?” tanya Yeon Ha dan Wan menjawab kalau dia lupa karena dia berada di tempat itu sekarang dengan Yeon Ha. Tepat di saat itu ponsel Yeon Ha berbunyi dan Wan pun mengambilkannya. Setelah memberikan ponsel Yeon Ha, Wan masuk kembali ke dalam rumah untuk mengambil teh lagi. 



Yang menelpon Yeon Ha adalah kakaknya yang mengingatkan Yeon Ha untuk tidak terlalu terlena dengan kedatangan Wan dan jangan mengarapkan sesuatu, karena Wan akan kembali lagi ke Seoul. Yeon Ha mengerti, dia tahu kalau Wan akan pergi lagi seperti sebelumnya. 

Wan keluar dan Yeon Ha langsung bertanya kapan Wan pergi. Wan menjawab malam ini, sekitar 7 jam lagi dari sekarang. Karena Wan akan segera pergi lagi, Yeon Ha pun mengajaknya jalan-jalan. 


Di rumah, Sun Kyung mengadakan upacara peringatan kematian untuk kedua orang tuanya bersama semua saudara-saudaranya. Mereka semua menikmati semua makanan yang disediakan, sedangkan Jung A dan kedua putrinya hanya di tugaskan untuk melayani mereka semua. Tapi karena sudah lelah, Jung A pun bersembunyi di kamar mandi. Kedua putrinya mengerti kalau Jung A butuh istirahat, tapi Sun Kyung terus memanggilnya untuk keluar. 


Di kamar mandi, Jung A terus menatap foto sang ibu yang ada di ponselnya. Tepat disaat itu, Sun Kyung masuk dan marah-marah. Dia ingin Jung A mengambilkan kartu hwatu untuknya. Hmmm... ne orang memang minta di layani terus, padahal dia bisa mengambil kartu itu sendiri. Di samping Jung A, Sun Kyung melihat tas yang berisi baju-baju Jung A, tapi dia tak curiga sedikitpun dengan tas itu, Sun Kyung mengira kalau Jung A hendak membuang baju-baju itu. 


Sambil mendorong kursi roda Yeon Ha, Wan mengaku kalau dia sudah memutuskan hubungannya dengan Dong Jin. Tapi sebelum dia pergi menemui Yeon Ha, Wan sempat mengirim sms pada Dong Jin yang ternyata sekarang sudah berada di Amerika Serikat karena istrinya merasa kesepian. Wan merasa senang, karena Dong Jin akhirnya baikan dengan istrinya. 

Wan kemudian bertanya tentang pendapat Yeon Ha mengenai buku yang akan Wan tulis tentang keledai tua. Apa akan menarik? Apa akan terlalu suram?

“Orang tua bisa lucu,” jawab Yeon Ha.

“Awalnya, aku tidak ingin  menulis tentang mereka...tapi kupikir bukan ide yang buruk menulis tentang Ibu. Itulah yang diharapkan semua penulis. Bibi-bibi juga banyak cerita mereka sendiri. Aku selesai membuat draftnya. Aku harus banyak mewawancarai mereka. Aku sedang berpikir untuk  menerbitkannya sebagai buku,” cerita Wan dan Yeon Ha mengajaknya minum teh. 


Yeon Ha membawa dua cangkir teh untuk dirinya sendiri dan satu untuk Wan. Melihat itu Wan mengaku kagum melihat Yeon Ha, dia kagum Yeon Ha bisa membawakan teh untuknya dan juga kagum pada keterampilan Yeon Ha mendorong kursi roda. Sambil minum teh, Wan kembali bercerita tentang buku yang akan dia tulis. 

“Aku menerjemahkan buku...dan menulis novel...tentang ibuku dan teman-temannya. Jika aku bekerja 10 jam sehari...bisa selesai 3 sampai 4 bulan. Paling lama 5 sampai 6 bulan. Setelah itu, aku bisa berkemas...”

“Jangan buat janji,” potong Yeon Ha. “Pergi saja. Aku hanya menganggap...kau kemari karena kau rindu Slovenia.”


“Aku datang kembali bukan untuk kau tapi Slovenia?” tanya Wan tak percaya Yeon Ha menganggap kedatangannya seperti itu. 

“Kau impulsif. Dan kau menyukaiku. Makanya kau kemari. Tapi pastikan ini terakhir kalinya,”  jawab Yeon Ha dan membuat Wan sedih. 

“Kalau begitu...kau mau tinggal di sini menungguku?” tanya Wan.

“Aku akan berada di sini. Tapi tidak menunggu. Aku bekerja disini...dan pemandangannya bagus. Jika aku bertemu seseorang,  aku bisa mengencaninya. Kencanku kacau dengan Nikita.”

“Aku harus kembali,” potong Wan dan hendak meminum tehnya. 


“Sekarang ini...aku melihat kakiku...dan aku pikir itu suatu ketidaknyamanan. Tapi jika kau mengatakan kau akan kembali tapi ternyata tidak. Aku bisa jadi akan sangat membenci kakiku. Aku akan menyalahkan mereka...karena membuatmu menjauhiku. Aku terjebak dengan kaki ini selamanya. Makanya kau, pertimbangkanlah,” ungkap Yeon Ha dan Wan menyuruhnya diam. 

“Hei. Aku di sini karena aku impulsif? Setelah tiga tahun yang panjang,  aku naik pesawat, taksi dan bus. Butuh waktu 18 jam.”

“Wan.”

“Kita mungkin putus atas sesuatu yang lain....tapi tidak mungkin karena kakimu. Kau bekerja dan kau bisa bergerak. Aku kuat dan tidak memiliki masalah merawatmu. Aku cukup tinggi untuk  mencapai barang di rak atas. Kau pikir kau punya kekuasaan karena aku mencintaimu? Aku bilang aku akan kembali. Kau hanya...”

“Kau masih mencintaiku...meskipun aku ini cacat,” potong Yeon Ha. “Jadi haruskah aku berkata...."terima kasih"? Kau pergi dan kembali sesukamu. Makanya sekarang kau harus kembali,” tambah Yeon Ha dan Wan menjawab kalau Yeon Ha memang harus berterima kasih padanya. Yeon Ha lalu bertanya bagaimana kalau dia tidak bisa dan Wan terdiam. Dengan kesal Wan beranjak dari duduknya. Tapi setelah berdiri beberapa saat, Wan kembali duduk. 


“Dengar baik-baik. Apa pun yang ibuku katakan,  aku akan kembali. Aku memutuskan untuk melakukannya ketika aku datang ke sini. Dan aku...aku tidak ingin melihatmu  melalui layar laptop atau telepon. Ketika aku kembali...hidupmu harus lebih baik dari yang sekarang. Kau perlu meningkatkan kekuatan tubuh bagian atasmu...dan banyak olahraga...”

“Aku sudah melakukannya!” teriak  Yeon Ha. 

“Harus lebih sering jika kau mau hidup bersamaku. Pamanku berjalan lagi setelah terbaring  di tempat tidur selama tujuh tahun. Dia menyeret satu kakinya tapi dia bisa berjalan. Kau juga harus begitu jika  mau hidup bersamaku,” ucap Wan dan Yeon Ha menjawab kalau dia tak akan pernah bisa berjalan lagi. 

“Aku takkan....pernah bisa berjalan lagi.”



“Jangan begitu. Kau tidak boleh melakukan hanya yang yang kau bisa saja. Lakukan juga apa yang kau tidak bisa. Ibuku bersikeras melarangku menikah dengan pria cacat. Dia bilang cuma aku yang dia punya. Berikan aku alasan yang  cukup untuk memilihmu dibanding dirinya. Bantu aku mengatakan bahwa...kau lebih kuat dari siapapun dan  kau tidak pernah menyerah. Bantu aku,” mohon Wan dan menangis. Dia kemudian mengambil tisu untuk mengusap air matanya dan ketika Wan membersihkan bagian hidung, ada bekas tisu menempel disana. Melihat hal itu, membuat Yeon Ha tersenyum. 

“Aku akan kembali kalau pekerjaanku sudah selesai. Setelah aku memberikan novelnya pada Ibuku. Itulah keinginan ibuku,” tambah Wan.

“Jika kau tidak kembali.... Aku akan membunuhmu,” ucap Yeon Ha dan tepat disaat itu mobil yang akan mengantarkan Wan ke bandara datang. Yeon Ha memegang tangan Wan dan mengusap cincin yang Wan pakai. Kemudian Yeon Ha juga membuang sisa tisu yang menempel di hidung Wan. 


“Pergilah,” ucap Yeon Ha dan Wan pun langsung melangkah pergi. Namun baru beberapa langkah meninggalkan Yeon Ha, Wan balik lagi dan mengecup pipi Yeon Ha lalu berkata “Sampai jumpa lagi.”



Ternyata yang mengantarkan Wan ke bandara adalah Yeon Hee. Melihat ekspresi sedih Wan, Yeon Hee pun hanya bisa menghela nafas. Wan kemudian berpesan agar Yeon Hee melatih kekuatan kaki Yeon Ha karena Wan yakin ada banyak klinik rehabilitasi di Slovenia. Yeon Hee lalu bertanya tentang ibu Wan, jika Wan memilih Yeon Ha.

“Maaf sudah menggunakan ibuku sebagai alasan. Aku akan datang kembali,” janji Wan dan Yeon Hee akan menunggu saat itu. “Pada saat aku kembali, kau harus sudah menikah,” pesan Wan dan Yeon Hee hanya tersenyum.


Choong Nam merasa perutnya benar-benar sakit dan kepalanya pusing. Namun dia terus menguatkan dirinya dengan mensugesti kalau dirinya masih muda, jadi pasti kuat. Merasa tak kuat lagi, Choong Nam pun menelpon ponakannya, namun saat itu ponakannya sedang berkaroke ria bersama teman-temannya, jadi dia tak mendengar telepon dari Choong Nam. 

Yeong Won juga di telephon tapi dia sedang melakukan pemotretan. Nan Hee sibuk di restoran karena memang sedang banyak pengunjung, jadi dia tak mendengar ponselnya berbunyi. Choong Nam jadi bingung, dia bingung siapa lagi yang harus dia telpon, dia beranggapan kalau Hee Ja terlalu tua untuk membantunya, sedangkan Jung A sedang sibuk dengan upacara peringatan kematian. Dalam prinsip Choong Nam, walaupun dalam keadaan genting, dia tak boleh menghubungi orang yang lebih tua darinya. 



Choong Nam kemudian menelpon Prof. Park, tapi Prof. Park malah menyuruhnya untuk menelpon 911. Dia beralasan tak bisa membantu karena harus menjemput anak-anaknya di bandara. Prof. Park berbohong, dia hanya tak ingin membantu Choong Nam. Ketika Choong Nam menelpon temannya, Prof. Park langsung melarang temannya menjawab, karena Choong Nam sedang sakit. Si teman beda pendapat, kalau Choong Nam sedang sakit, mereka harus membantunya. Tapi Prof. Park berkata kalau dia tak percaya Choong Nam sakit, dia yakin Chooong Nam baik-baik saja, lagi pula Choong Nam punya keponakan yang bisa mengurusnya kalau dia benar-benar sakit. 


Karena tak ada yang bisa membantunya lagi, Choong Nam pun hendak menelpon 911, tapi sebelum dia menelpon 911, dia ingin berpakaian rapi terlebih  dahulu. Choong Nam menguatkan dirinya untuk tidak pingsan. Namun sebelum dia berhasil berganti pakaian, Choong Nam sudah keburu pingsan di depan lemari. Ponsel yang dia pegang tanpa sengaja terpencet dan menelpon kontak yang bertuliskan nama Ssang Boon. Dia adalah ibu Nan Hee. 


Selesai pemotretan, Young Won mengangkat telepon dari Nan Hee dan berkata kalau Choong Nam juga menelpon dirinya. Namun saat Young Won telepon balik, Choong Nam tak mengangkatnya. Menyadari kalau Choong Nam menelpon mereka berdua, merekapun merasa sudah terjadi sesuatu pada Choong Nam. Tepat disaat itu, Nan Hee mendapat telepon dari ibunya dan diapun langsung memutus telepon dari Young Won. Ternyata yang menelpon Nan Hee bukan Nyonya Oh, melainkan In Boong yang memberitahu Nan Hee kalau ibu mereka pergi dengan membawa  traktornya.  


Nan Hee kemudian memberitahu Sung Jae tentang Choong Nam dan dengan terburu-buru Sung Jae mengendarai mobilnya, saking terburu-burunya dia sampai menabrak mobil yang ada di depannya. Nan Hee juga menelpon Wan yang baru saja sampai di bandara. Dia meminta Wan mengurus Choong Nam, karena dia sedang sibuk di restoran. 


Ternyata Nyonya Oh sudah terlebih dahulu menelpon 911, jadi sekarang Choong Nam sudah berada di UGD dan langsung mendapat perawatan dari tim medis. Nyonya Oh ikut ke rumah sakit untuk mengetahui kondisi Choong Nam. 


Sun Kyung dan semua saudara laki-lakinya sedang melakukan upacara kematian untuk kedua orang tua mereka. Ketika mereka melakukan semua itu, Jung A dan kedua putrinya di suruh menunggu di luar. Tanpa Sun Kyung sadari, Jung A keluar dengan membawa tas-nya. 


Saat di tanya kenapa Jung A membawa tas, Jung A pun menjawab jujur pada kedua putrinya kalau dia akan meninggalkan ayah mereka. Namun kedua putrinya tak percaya, mereka malah tertawa dan menganggap Jung A sedang bergurau. 



Setelah upacara kematian selesai, Jung A sudah siap untuk pergi. Saat itu Sun Kyung sedang mandi dan sebelum Sun Kyung berteriak untuk minta diambilkan celana dalam, Jung A pun sudah meninggalkan celana dalam di depan kamar mandi. Jadi sebelum Sun Kyung selesai mandi, Jung A sudah meninggalkan rumah itu. 


Pagi tiba dan Sun Kyung baru terbangun dari tidurnya. Belum menyadari kalau Jung A pergi, Sun Kyung terus berteriak memanggil namanya dan minta diambilkan minum 

Wan kemudian bernarasi, “Si lembut Bibi Jeong A akhirnya meninggalkan Paman Seok Gyun sendirian...setelah 50 tahun menikah. Dia serius meninggalkannya.”


Sun Kyung terus memanggil Jung A dan Jung A sendiri, sekarang sedang nyenyak tidur di rumah barunya. Saking nyenyaknya tidur, Jung A sampai ngorok.


Choong Nam membuka mata dan melihat Nyonya Oh, Nan Hee, Young Won dan Hee Ja berada di sampingnya. Sedangkan Wan sudah tertidur di kursi. Ternyata Choong Nam sakit karena usus buntu dan sekarang sudah di operasi.

“Kau harusnya meneleponku,” ucap Hee Ja.


“Aku senang dia tidak menelepon,” jawab Yeon Won karena semuanya akan ribet kalau Choong Nam menelpon Hee Ja. 

“Semua temanmu di sini karena usus buntumu. Kau sudah cemas sekali ya,” ucap Nan Hee dan Young Won kemudian memuji Nyonya Oh, karena berkat Nyonya Oh, Choong Nam dibawa ke rumah sakit. 

“Kau meneleponku tetapi tidak diangkat waktu kutelepon balik. Jadi aku telepon 911 dan datang langsung ke sini. Aku menyelamatkan hidupmu.  Berterimakasihlah kau,” ucap Nyonya Oh. 


Wan terbangun karena mendengar ponsel Choong Nam berdering. Ternyata itu adalah sms dari Prof. Park yang memberitahu kalau mereka semua bersenang-senang tanpa Prof. Lee.  Membaca sms itu tentu saja Choong Nam merasa kecewa. Kesalah kiriman sms Prof. Park, membuat Choong Nam sadar kalau Prof. Park bukan teman baik untuk dirinya. 


“Aku membawamu kesini supaya kau tidak kesepian. Kau tidak senang?” ucap Nyonya Oh yang ternyata membawa Choong Nam ke rumah sakit khusus orang tua. 

Wan kembali bernarasi, “Akhirnya...Bibi Choong Nam, yang menyukai orang yang lebih muda...dikelilingi oleh teman-teman tua dan kerabat yang lebih tua. Pagi yang tenang itu datanglah keinginannya untuk membalas dendam....perlahan semakin memuncak."


“Dasar penipu. Aku akan membunuh kalian semua,” ucap Choong Nam pelan setelah mengetahui kalau teman profesornya hanya ingin memanfaatkan dirinya saja. 

Bersambung ke sinopsis  Dear My Friends Episode 11



No comments :

Post a Comment