July 8, 2016

Dear My Friends Episode 10 - 1


Nan Hee mendengar pria yang dia sukai menyanyi dan memberikan tepung tangan kagum ketika si pria selesai bernyanyi. Berbeda dari pertemuan mereka sebelumnya, kali ini Nan Hee bersikap lembut pada pria itu. Nan Hee duduk di sampingnya dan bertanya apa si pria sudah menikah. Si Pria menjawab kalau dia sudah menduda selama 5 tahun dan punya anak yang masih kuliah. 

Nan Hee juga mengaku kalau dia sendirian, tapi kemudian dia mengaku kalau dia tidak sendirian karena dia punya anak, orang tua dan adik. Mendengar itu, pria itupun kembali bernyanyi dan Nan Hee begitu menikmatinya.




Wan buru-buru keluar dari taksi dan langsung masuk bandara. Karena tiket kelas ekonomi habis, Wan pun terpaksa membeli tiket bisnis untuk bertemu dengan Yeon Ha. Ketika Wan akan check in, Nan Hee menelpon untuk meminta bantuannya membersihkan rumah baru Jung A. Tentu saja Wan menolak, dia tak ingin menuruti kemauan Nan Hee. Namun Wan tidak memberitahu Nan Hee kalau dia akan pergi menemui Yeon Ha. 


“Ibu, pacaranlah. Jangan terlalu terobsesi denganku,” ucap Wan dan melakukan check in.


Choong Nam bertanya tentang masalah Wan dan Nan Hee dengan santai menjawab kalau masalah Dong Jin hanya salah paham. Nan Hee juga mengaku kalau dia merasa lega setelah menjambak rambut Wan, karena saat itu Wan menjerit dan mengatakan kalau dia sangat membenci Nan Hee. Choong Nam pun berkata kalau anak-anak memang sudah biasa selalu membenci ibu mereka. 

“Tidak ada gencatan senjata antara ibu dan anak...sampai kau berada di peti mati. Ketika kau mati, Wan pasti lebih menyukaimu. Dia bahkan mungkin menangis sejadi-jadinya. Tunggu saja hari itu,” ucap Choong Nam. 

“Jika seseorang ingin dicintai oleh anak-anak mereka, mereka harus mati,” jawab Nan Hee menyimpulkan dan kemudian bertanya pada Choong Nam apa dia harus mulai pacaran. 

“Itulah yang ingin kutanyakan,” jawab Choong Nam. 

“Ada seorang pria ini. Dia 10 tahun lebih muda. Aku sudah mengawasinya. Sepertinya dia lumayan,” ucap Nan Hee dan Choong Nam berucap Daebak. 


Kita beralih pada Sung Jae dan Hee Ja yang masih bersama di rumah kosong yang mereka sewa. Mereka berdua makan ubi bakar untuk makan malam mereka. Sambil makan, Sung Jae berharap hujan turun lagi, sehingga membuat mereka terjebak di tempat itu. Bahkan Sung Jae rela jika harus terjebak selama 3 bulan bersama Hee Ja. Ketika Sung Jae ingin mengingat kembali masa lalu mereka, tiba-tiba Hee Ja membahas tentang suaminya, sehingga membuat mood Sung Jae jadi rusak. 


Waktunya tidur dan mereka tidur di ruang yang sama, hanya tempat tidurnya saja yang di pisah. Agar Hee Ja merasa aman, Sung Jae pun membuat pembatas dengan menggunakan tas. Sung Jae kemudian bertanya apa arti Jung Cheol bagi Hee Ja? Hee Ja menghela nafas dan menjawab kalau suaminya itu adalah pria yang baik terlepas dari dia adalah pria yang suka selingkuh. Hee Ja kemudian balik tanya dengan bertanya mengenai istri Sung Jae dan Sung Jae menjawab kalau istrinya cantik dan sedikit sensitif. 

Ternyata istri Sung Jae meninggal karena sakit dan selama 3 tahun Sung Jae selalu merawatnya, bahkan Sung Jae sampai berhenti dari pekerjaannya. Sung Jae juga mengaku kalau dulu dia sering menggoda istrinya dengan siulan seperti yang dia selalu lakukan pada Hee Ja. 

“Jika kau merayuku dengan siulanmu...dia bisa mendengarmu dari atas sana,” komentar Hee Ja dan Sung Jae malah berkata kalau almarhum istrinya pasti merasa senang dan mendukung dirinya karena punya teman baik seperti Hee Ja. Sung Jae kemudian bertanya apa Hee Ja pikir suaminya tak suka dengan kedekatan mereka berdua. Namun Hee Ja tak mau menjawab, dia malah balik bertanya lagi pada Sung Jae, apa Sung Jae baik pada istrinya hanya setelah istrinya sakit? 

“Aku tidak peduli dengan dia sebelum dia sakit. Suami...dewasa ketika istri mereka sakit,” jawab Sung Jae. 

“Dasar bodoh,” komentar Hee Ja dan Sung Jae bertanya kapan hari yang paling bahagia dalam hidup Hee Ja. Hee Ja menjawab ketika anak sulungnya lahir dan ketika di tanya kapan hari yang paling menyedihkan adalah hari ketika anak sulung Hee Ja meninggal. 

“Min Ho anak keduaku. Padahal cuma karena demam. Kami tinggal di dekat kampung halaman suamiku. Dia sedang dalam perjalanan bisnis...jadi aku bawa anak kami ke rumah sakit. Tapi mereka berkata...dia sudah mati. Aku tidak percaya itu. Aku membawa anakku yang sudah tak bernyawa....dan berjalan terus...di sepanjang pepohonan. Aku terus berjalan,” cerita Hee Ja dan kita diperlihatkan pada Hee Ja muda yang menggendong anaknya sambil terus berjalan. “Dia manis. Dia punya kelopak mata yang bagus, sepertiku,” tambah Hee Ja dengan mata berkaca-kaca dan kemudian menyudahi ucapannya karena dia mulai merindukan anak-nya itu. 



Hee Ja mulai membaringkan tubuhnya sambil berkata kalau dia tidak pernah takut sedikitpun, karena setelah mati dia akan berkumpul dengan anak dan suaminya yang sangat dia rindukan. 

“Kau menua dan masih cantik..., makanya kukira hidupmu lancar-lancar saja. Tapi, tidak ada kehidupan...yang benar-benar sepenuhnya lancar,” ucap Sung Jae dan mulai membaringkan tubuhnya. Hee Ja kemudian bertanya apa Sung Jae begitu ingin menemui dirinya dan Sung Jae menjawab iya, sesekali dia merasa penasaran, Hee Ja sedang apa

“Kau jujur sekali. Aku tidak akan percaya jika kau berkata, "sepanjang waktu",” ucap Hee Ja dan Sung Jae berkata kalau semakin tua orang, maka akan mengubah mereka jadi sesuatu yang bukan diri mereka. 

“Jika aku masih muda..., meski kau menampar...atau menyerangku dengan kapak..., Aku akan tetap berusaha memelukmu sampai tulang rusuk kita berdua patah. Tapi sekarang tidak bisa. Aku terlalu ngantuk,” ucap Sung Jae dan menutup pintu. Sebelum tidur dia mengajak Hee Ja melihat matahari terbit besok pagi.


Di rumah, Jung A diam-diam mengemasi barang-barangnya, dia berusaha tak membuat suara karena Sun Kyung sedang tidur di sampingnya.

~Mengasuh Pisau Balas Dendam, Bagian 1 ~


Pagi tiba, Sung Jae dan Hee Ja pun berjalan ke puncak untuk melihat matahari terbit. Dalam perjalanan Sung Jae menceritakan apa yang sudah mereka lakukan di masa lalu di tempat itu, saat itu Hee Ja mencium dirinya. Namun Hee Ja membantah, dia berkata kalau kejadian itu pasti Sung Jae lakukan bersama istrinya, karena yang Hee Ja ingat saat itu mereka bertengkar, mereka naik bus berbeda dan pulang. 


Mereka berdua akhirnya sampai puncak dan melihat matahari terbit. Pemandangan matahari terbit memang sangat indah dan Hee Ja berterima kasih pada Sung Jae karena sudah membawanya ke tempat itu. Sung Jae juga bersyukur karena Hee Ja masih hidup sampai sekarang. 

Sung Jae melihat tangan Hee Ja yang mengarah padanya. Ternyata Hee Ja ingin Sung Jae menggenggam tangannya. Tentu saja Sung Jae dengan senang hati menggenggam tangan Hee Ja. 

“Kemarin...Tidak. Kita mungkin tidak perlu datang kembali. Begini saja...sudah cukup indah,” ucap Hee Ja dan Sung Jae mengiyakan. 



Choong Nam dan Nan Hee masih tidur. Choong Nam kemudian terbangun karena ponselnya berbunyi. Ternyata itu adalah pesan video dari Sung Jae dan ucapan terima kasih Sung Jae pada Choong Nam, karena sudah membuat acara jalan-jalan mereka terlaksana. Tentu saja Choong Nam tak terlalu senang melihat video full Sung Jae, dia memberikannya pada Nan Hee karena Nan Hee penasaran dengan videonya. 

“Kau cemburu?” tanya Nan Hee dan Choong Nam tak menjawab. Dia langsung pergi ke dapur untuk mengambil minum. “Kau cemburu?”tanya Nan Hee lagi dan mengambil minuman yang akan Choong Nam minum. 

“Aku harusnya yang ada disana,” ucap Choong Nam dan Nan Hee mengerti. 


Wan sudah berada di dalam pesawat, dia terlihat cemas bercampur senang karena sebentar lagi akan bertemu dengan Yeon Ha. Sesampainya di bandara, Wan langsung menelpon Yeon Ha dan bertanya dia sedang dimana. Dengan kondisi setengah mengantuk, Yeon Ha menjawab kalau dia ada di rumah.

“Bagaimana jika dia pingsan saat dia melihatku?” gumam Wan penasaran karena masih 3 jam lagi baru sampai ke rumah Yeon Ha. 


Kita beralih pada pasangan tua kita, dimana mereka sedang dalam perjalanan pulang. Sung Jae terus menuntut agar Hee Ja memberitahu tentang kebenaran Jung A yang ingin bercerai dari Sun Kyung. Namun Hee Ja tak langsung menjawab, karena dia sibuk menelpon anak-anaknya. Setelah Hee Ja menutup teleponnya, dia bertanya Sung Jae memihak pada siapa? Jung A atau Sun Kyung? Sung Jae tak menjawab dan Hee Ja pun berkata kalau dia akan selalu memihak pada Jung A. 


Sun Kyung sedang berbelanja bersama Jung A dan kedua anaknya. Dia dengan seenaknya memilih barang dan ketiga wanita yang ikut bersamanya, di tugaskan untuk mengangkut barang-barangnya. Kedua anaknya terus mengeluh, apalagi sang ayah terus mencari bahan makanan yang banyak dan kualitas terbagus, padahal selama ini sang ayah bergitu begitu perhitungan dan pelit pada Jung A. Jung A sendiri hanya diam dan membiarkan Sun Kyung melakukan apapun sesuka hatinya, karena baginya itu adalah hari terakhirnya dia melayani Sun Kyung


Tepat disaat itu, Jung A mendapat telepon dari Nan Hee yang memberi saran agar Jung A mencari tempat lain, karena rumah itu sudah tak bisa di bersihkan. Sebelum Nan Hee mangatakan hal-hal lain yang bisa menghentikan balas dendam Jung A, Choong Nam langsung merebut ponselnya. 


Sun Kyung mengatakan kalau dia ingin membeli ayam dan anaknya protes, dia meminta Jung A membujuk sang ayah untuk tak membeli ayam karena mereka sudah membeli daging babi. Karena tak mau bertengkar dengan Sun Kyung, Jung A pun menyuruh anaknya untuk protes sendiri ke ayah mereka. 


Nan Hee berkata apa seharusnya Jung A menuntut Sun Kyung agar dia mendapat uang kompensasi dan Jung A bisa menyewa rumah yang lebih baik lagi. Young Won yang ikut bersih-bersih langsung berteriak kalau Jung A tidak bisa minta kompensasi, karena Jung A melakukan semua itu diam-diam. Dia beranggapan kalau korbannya dalam masalah itu adalah Sun Kyung karena Jung A sudah meninggalkannya. 

“Apa yang terjadi, terjadilah. Ini mungkin permulaan dari balas dendamnya,” ucap Choong Nam dan Nan Hee bertanya kenapa Choong Nam terus berkata kalau Jung A sedang melakukan balas dendam, 

“Tentu saja balas dendam. Dia sudah mengasah pisau dalam keheningan selama ini. Dia sedang menunggu saat yang tepat,” jawab Choong Nam.


“Yang benar saja. Mau aku berpikir bagaimana pun juga, ini masih terasa salah. Dia harus bercerai dulu baru  meninggalkan rumah. Dia menusuk suaminya di belakangnya,” ucap Nan Hee.

“Entah dia cerai sekarang atau nanti...sama saja,”jawab Choong Nam dan Young Won kemudian mengubah topik pembicaraan dengan mengaku kalau dia menemui Dae Cheol. 

“Dia cuma mengirimku bunga  selama dua bulan ini. Lalu dia akhirnya minta ketemuan,” tambah  Young Won dan Choong Nam bertanya apa yang Dae Cheol katakan.  “Aku hanya melihat dia dari luar jendela...selama sekitar 30 menit,” jawab Young Won. 

“Jika istrinya masih hidup, kau takkan menemui dia,” ucap Nan Hee dan Choong Nam berpendapat kalau Dae Cheol datang mungkin karena istrinya sudah meninggal. Young Wan berkata kalau Dae Cheol sudah terlihat tua. Nan Hee memberi saran agar Young Won tidak menemui pria itu lagi, tapi Choong Nam malah berkata mereka harus minum bersama jika mereka berkencan lagi. 

Young Won lalu bertanya kemana Wan, dia mengaku kalau dia sangat merindukan Wan. Nan Hee menjawab kalau dia sendiri tidak tahu, karena ponsel Wan mati. “Tapi, dia serius putus dengan Yeon Ha?” tanya Nan Hee pada Young Won dan Young Won hanya menjawab “sepertinya.”

Nan Hee menghela nafas dan berkata kalau Wan tidak boleh menikah dengan orang cacat, karena menurut Nan Hee, orang cacat sama saja dengan pria yang sudah menikah. 



Dalam perjalanan menuju rumah Yeon Ha, Wan terharu karena teringat kenangannya bersama Yeon Ha. Wan kemudian memakai cincin yang Yeon Ha berikan padanya. Sebelum masuk lorong rumah Yeon Ha, Wan membeli bunga untuk Yeon Ha. 


Wan memencet bel dan yang keluar adalah Yeon Hee, kakak Yeon Ha. Yeon Hee seperti tak percaya melihat Wan datang dan bertanya kenapa Wan datang. Dengan ekspresi sedikit bingung, Wan berkata kalau dia datang dengan naik pesawat dan Yeon Hee mengerti, diapun menyuruh Wan masuk. 



Di dalam rumah, Wan melihat foto-foto dirinya dan Yeon Ha. Yeon Hee pun memberitahunya kalau Yeon Ha masih berada di tempat tidurnya, karena semalam Yeon Ha bagadang. Orang yang Wan cari akhirnya muncul dengan menggunakan kursi roda. Dengan ekspresi serius, Yeon Ha meminta Yeon Hee meninggalkan mereka berdua. 


Setelah Yeon Hee pergi, Wan langsung duduk di depan Yeon Ha dengan senyum yang berbinar-binar. Namun Yeon Ha hanya melihat dengan ekspresi datar, tak ada ekspresi senang yang Yeon Ha berikan. 

“Kita bertemu lagi setelah tiga tahun. Apa begini aku disambut?” tanya Wan dan Yeon Ha masih diam saja. “Apa aku datang kesini sia-sia? Aku terbang selama 18 jam.”


“Kau sudah makan?” tanya Yeon Ha dan Wan terlihat sangat kecewa. Wan menjawab kalau dia belum makan dan Yeon Ha pun langsung pergi ke dapur untuk membuatkan Wan makan. 

“Aku pikir...kau akan sangat senang melihatku...sampai kau bakalan pingsan. Sepertinya aku salah,” ucap Wan kecewa. 

“Tidak, aku senang,” jawab Yeon Ha sibuk menyiapkan makanan untuk Wan. 


“Tapi agak aneh ekspresimu. Sepertinya kau memaksakan dirimu. Kau dingin dan tak seperti dirimu.”


“Tidak. Aku senang sekali sampai aku mau lompat. Serius,” jawab Yeon Ha dan diapun langsung terdiam ketika melihat hidung Wan mimisan. Yeon Ha tertawa dan memberitahu Wan kalau dia mimisan. 



“Lihat? Aku memang mimisan! Aku bertengkar dengan ibuku dan lembur kerja.... selama tiga hari hanya untuk datang ke sini. Aku ambil dua penerbangan, taksi dan bus. Tapi yang kudapatkan cuma segini darimu! Seolah kau.... membuatku merasakan balas dendammu karena aku mengganggumu!” teriak Wan dan langsung masuk kamar mandi. Di dalam kamar mandi, Wan terdiam karena melihat barang-barang miliknya masih berada di tempatnya. 



Wan keluar lagi dan bertanya kenapa Yeon Ha melakukan semua itu. “Semua barang-barangku masih disana. Foto-foto juga. Tapi kenapa sikapmu dingin sekali? Kau menakutiku! Aku hampir kena serangan jantung!” teriak Wan dan Yeon ha menangis lalu menyuruh Wan menghampirinya. Yeon Ha memeluk Wan, mengusap air matanya dan mengecup bibirnya. 

“Butuh 18 jam. Dulu begitu mudah,” ucap Wan lagi dan memeluk Yeon Ha kembali. 



Sung Jae mendatangi Hee Ja di rumahnya dan membawakan buku mewarnai untuk Hee Ja. Dia berkata kalau dengan mewarnai bisa mencegah pikun. Tepat disaat itu Min Ho muncul dan terlihat tak senang pada Sung Jae. Min Ho datang karena dia dan ibunya sudah janji akan jalan bersama. Nan Hee berusaha menjelaskan pada Min Ho kalau Sung Jae hanyalah teman lamanya, namun Min Ho masih terlihat dingin pada Sung Jae, sehingga Sung Jae memutuskan untuk pergi ke gereja. 


Sebelum pergi, Sung Jae hendak mengajak Min Ho salaman, tapi Min Ho tak mau, dia hanya menganggukkan kepalanya. 



Setelah Sung Jae pergi, Min Ho membuang kue pemberian Sung Jae ke tempat sampah. Hee Ja melihatnya dan dia ingin mengambilnya kembali, tapi Min Ho melarangnya. 

Bersambung ke sinopsis Dear My Friends Episode 10 - 2


No comments :

Post a Comment