July 16, 2016

38 Task Force Episode 4 - 2


Keyboard membuat remote control sementara Burner menyamar jadi tukang service di tempat golf untuk diam-diam menyerahkan remote control itu pada Mi Joo yang bekerja jadi caddie dan juga untuk meng-hack komputer tempat itu.




Hmm... ternyata arena golf itu adalah golf virtual dan remote control itu berfungsi untuk mengendalikan permainan di layar. Setelah Burner meng-hack komputernya, Mi Joo diam-diam mengetes remote controlnya pada salah seorang pengunjung dan sukses membuat pengunjung itu percaya kalau dia baru saja mendapat hole-in-one.



Sekarang setelah punya caddie dan remote control, maka pastinya mereka membutuhkan seorang pemain. Setelah sejenak memikirkan siapa kira-kira yang akan jadi golfer, Jung Do langsung menatap Sung Il yang saat itu masih sibuk menulis catatan. Dan semua orang juga langsung menatap Sung Il.


Pada hari yang sudah ditentukan, Sung Il mencoba memukul bola golf-nya tapi gagal terus. Saat Mi Joo berbisik mengomelinya, Sung Il beralasan itu karena bolanya terlalu kecil. Tak lama kemudian, Jin Seok akhirnya datang. Dia cukup sering datang hingga langsung tahu kalau Mi Joo adalah anak baru.


Sung Il melihatnya tapi langsung berpaling menyembunyikan wajahnya dari Jin Seok karena Jung Do sudah memerintahkannya untuk menunggu sampai Jin Seok sendiri yang bicara duluan padanya. Jung Do menasehatinya bahwa penipu bukanlah macan yang menyerang duluan, tapi buaya yang menunggu mangsa mendekat.


Setelah saling bertukar pandang dengan Mi Joo, Sung Il mulai mengayunkan tongkat golfnya lagi dan Mi Joo menekan remote controlnya untuk membuat bolanya Sung Il mendapatkan skor albatros. Sung Il langsung heboh memamerkan keberhasilannya itu pada para pengunjung lain yang tentu saja langsung menarik perhatian Jin Seok.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Jin Seok

Sung Il langsung menyipitkan mata, pura-pura terkejut dan berkata "Aku tak menyangka akan bertemu denganmu di sini. Aneh sekali. Pandangan mataku buruk sekali"


Saat Jin Seok bertanya apakah dia main golf, Sung Il berkata bahwa main golf adalah hobi para pria setengah baya. Jin Seok langsung mendengus sinis mendengarnya. Sung Il teringat perintah Jung Do untuk bermain dengan kemampuannya sendiri dengan tujuan untuk membuat Jin Seok berpikir kalau Sung Il adalah orang bodoh.

Sung Il melakukan perintah Jung Do dan gagal terus memukul bolanya. Melihat itu, Jin Seok dengan sinis menyinggung putrinya Sung Il yang miskin satu kelas dengan putrinya yang kaya raya. Dan dia benci dengan aturan semacam itu, tidak seharusnya putrinya disederajatkan dengan putrinya Sung Il, tidak seharusnya pengemis pura-pura menjadi orang kaya.

Sung Il tentu saja emosi mendengarnya. Dia teringat ucapan Jung Do yang mengingatkannya bahwa uang yang Sung Il nikmati adalah uang pajak. Dia sudah tidak bayar pajak tapi dia malah pamer uang, Sung Il pastinya merasa sangat marah. Karena itulah Jung Do menasehatinya untuk melakukan apa yang hatinya katakan.


Teringat bagaimana Jin Seok menghina mereka dengan menyodorkan uang pada putrinya, Sung Il langsung meletakkan tongkat golfnya dan menantang Jin Seok bertanding dengannya. Jin Seok langsung tertawa sinis mendengarnya, kenapa juga dia harus bertanding dengan Sung Il, memangnya Sung Il punya uang untuk dijadikan taruhan.

"Aku tidak punya banyak uang, tapi aku butuh mobil. Karena aku bekerja untuk pemerintah jadi aku tidak bisa terima suap. Aku mau membeli mobil dengan uangmu. Kau mau main atau tidak?"

"Lalu apa taruhanmu?"

"Aku? Baiklah, jika aku kalah maka aku akan menyerah. Aku akan melepaskanmu. Bagaimana?"

Tentu saja itu tawaran yang menarik bagi Jin Seok. Tapi Mi Joo tampak stres mendengar tawaran Sung Il itu. Jin Seok setuju dan langsung menyatakan taruhannya adalah 1 juta won per hole.


Permainan pun dimulai. Jin Seok memukul duluan dan Mi Joo bersiap dengan remote controlnya. Awalnya Jin Seok bisa memukul dengan baik. Tapi berkat remote controlnya Mi Joo, dia jadi sering gagal sementara Sung Il terus menerus sukses mencetak skor dan Jin Seok terpaksa harus mengeluarkan ceknya satu per satu.

Jin Seok terus gagal sementara Sung Il terus mencetak skor... sampai pada suatu ronde, Jin Seok memperhatikan pose bermain Sung Il yang sebenarnya buruk tapi anehnya bolanya tetap masuk.


Saat tak sengaja menoleh ke meja resepsionis, dia melihat Mi Joo tampak memegang sesuatu yang kemudian cepat-cepat dia sembunyikan dan dia makin curiga saat mendapati Mi Joo cepat-cepat mengalihkan tatapannya.

Dia langsung menghampiri Mi Joo. Mi Joo cepat-cepat memasukkan remote itu kedalam gelas es kopinya lalu meminumnya dan berpura-pura bersikap sok polos pada Jin Seok yang menggeledeh mejanya tapi tak menemukan apapun. Kesal, Jin Seok langsung pergi dan menyudahi permainan mereka.


Sung Il menyusul Jin Seok ke toilet dan bertanya apakah Jin Seok kesal karena kalah darinya. Jin Seok berkata kalau dia akan menganggap uang itu sebagai sumbangan, lagipula jumlahnya juga tidak terlalu banyak. Sung Il mengiyakannya saja lalu mengajak Jin Seok makan, dia yang akan mentraktir dengan menggunakan uang yang dia dapatkan dari Jin Seok.

Sung Il berkata bahwa mengembalikan uangnya Jin Seok dengan alasan karena dia pejabat publik jadi rasanya tak enak mengambil uang dari Jin Seok. Karena itulah dia ingin mentraktir Jin Seok dan mengembalikan uangnya.


Nyonya Noh menonton berita tentang kenaikan tarif pajak. Sekretarisnya datang untuk menyerahkan laporan proyek dan menyarankannya untuk melapor langsung pada Ketua Wang. Melihat berita di TV, Nyonya Noh bertanya pada sekretarisnya yang dia panggil 'putri' itu.

"Menurutmu kenapa pajak selalu naik setiap tahun? Apa karena pemerintah kekurangan uang? Kalau begitu kenapa pajak perusahaan dan pajak real estate malah turun? Itu karena pajak dibuat oleh orang kaya. Walaupun aku kaya, tapi ini tidak benar, tidak adil"


Sung Il makan dengan lahap tapi Jin Seok tidak nafsu makan. Tiba-tiba Sung Il ditelepon seseorang bernama Kim Sang Pil. Dia keluar untuk mengangkat telepon itu tapi dia bicara dengan cukup lantang hingga bisa didengar oleh Jin Seok.

Dia berkata pada si Kim Sang Pil bahwa dia gagal mendapatkan uangnya, dia tidak punya uang jadi tidak bisa berinvestasi dalam 'Hwaseong New Town'. Dengan lantang dengan menyayangkan kegagalannya sendiri padahal investasi itu pasti akan sangat menguntungkan, bahkan untungnya setara dengan lusinan mobil.


Padahal si Kim Sang Pil itu sebenarnya Jung Do dan dia langsung menggerutu kesal karena Sung Il malah mengungkit-ungkit masalah mobil. Dia menyuruh Jin Seok untuk mengucapkan seperlunya saja dan jangan mengoceh tidak jelas. Sung Il pun langsung cepat-cepat menyudahi teleponnya lalu masuk kembali.


Begitu Sung Il kembali, Jin Seok yang sedari tadi tertarik mendengarkan ucapan Sung Il tentang investasi, langsung bertanya antusias tentang investasi yang Sung Il bicarakan tadi. Sung Il pura-pura ragu dengan alasan takut temannya bermasalah nanti jika informasi ini bocor.

Tapi setelah didesak Jin Seok, akhirnya dia berkata bahwa dia punya teman di Kota Hwaseong yang sekarang bekerja di badan pengembangan perkotaan. Sekarang ini mereka sedang merencanakan pembangunan besar dan temannya itu membujuknya untuk membeli tanah di sana. Temannya itu bilang bahwa harga tanahnya akan naik setelah rencana ini diresmikan.

Jin Seok bertanya berapa perkiraan tingkatan laba. Sung Il berkata 5 kali. Jin Seok langsung tertawa tak percaya mendengarnya, mana mungkin ada investasi yang akan memberikan laba sampai 5 kali seperti itu.

"Terserah kalau kau tak percaya. Karena inilah aku tidak mau memberitahumu. Dia itu teman baikku. Dia bekerja untuk kota jadi dia tahu hal-hal seperti ini" gerutu Sung Il


Mendengar itu, Jin Seok langsung ke toilet untuk menelepon Deok Gi dan menanyainya tentang proyek Hwaseong New Town. Yang tak diketahuinya, Deok Gi saat itu sedang diawasi oleh Jung Do. Deok Gi langsung membenarkan adanya proyek besar itu dan keuntungan yang bisa didapatkannya bisa sangat amat besar dan menasehati Jin Seok untuk menginvestasikan semua yang dimilikinya dan beli tanah di sana.


Begitu Jin Seok kembali, dia memberitahu Sung Il bahwa dia akan memberi Sung Il uang untuk berinvestasi dalam proyek besar itu. Dia bahkan menawarkan 5% keuntungan untuk Sung Il dan meminta Sung Il untuk mempertemukannya dengan temannya itu.


Di kantor keesokan harinya, Sung Il bertemu dengan Komisaris Ahn yang menyarankan Sung Il untuk mengambil cuti saja karena kasus penyuapan Sung Il akan diserahkan ke komitee disipliner bulan depan. Begitu informan kasus ini bersaksi, dia yakin kalau Sung Il pasti akan diberhentikan dari pekerjaan ini.

Sung Il yakin kalau informan yang dimaksudnya itu adalah Ma Jin Seok. Saat Komisaris Ahn menyangkalnya, Sung Il bertanya apakah saat mereka pergi ke Jin Seok, Komisaris Ahn yang membocorkan informasi itu pada Jin Seok. Dalam flashback, memang dia yang menelepon Jin Seok.

Sung Il yakin pasti dia mengingat kedekatan Jin Seok dan Komisaris Ahn di lapangan golf waktu itu. Apa Komisaris Ahn tidak malu pada anak-anaknya karena hidup dengan cara seperti ini. Komisaris Ahn dengan entengnya berkata tidak, dia sangat memanjakan anaknya dan karena itulah anaknya sangat mencintainya. Komisaris Ahn bersumpah akan menggali kasus penyuapan Sung Il hingga Sung Il tidak akan pernah bisa lagi menginjakkan kaki di balai kota ini lagi.


Setelah Komisaris Ahn pergi, Sung Il melihat Jin Seok di lantai bawah. Dia datang mencari Sung Il dan berkata kalau dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan temannya Sung Il yang di Hwaseong itu sekarang juga. Kaget, Sung Il berusaha menolaknya dengan alasan kalau dia sedang kerja sekarang.

Tapi Jin Seok berkata bahwa setelah dia memikirkannya semalam, dia merasa aneh karena segalanya berjalan dengan terlalu mulus. Tapi dia menyangkal saat Sung Il bertanya apakah dia mencurigai Sung Il. Banyak orang yang mendekatinya karena uang, beberapa orang ada yang ingin menipunya dan ada pula ingin mengambil hartanya.


"Kau tahu bagaimana aku menyaring orang-orang semacam itu?" tanya Jin Seok yang kemudian dia jawab sendiri "Dengan mengubah janji pertemuan mendadak. Kenapa? Karena jika ini bisnis nyata maka tidak akan ada masalah. Tapi jika palsu maka akan gagal. Selain itu, para penipu biasanya sudah menyiapkan segalanya pada hari yang sudah mereka tentukan. Mereka menyiapkan jebakan dan menungguku lalu auuuuummm.... memakanku hidup-hidup" ujar Jin Seok

Sung Il berusaha meyakinkan Jin Seok bahwa dia sama sekali tidak seperti para penipu itu. Tapi Jin Seok tidak mau tahu dan terus memaksa bertemu temannya Sung Il itu sekarang juga, hanya dengan begitu dia baru akan mempercayai Sung Il.

Sung Il terus berusaha mencari alasan bahwa dia masih kerja jadi dia tidak bisa meninggalkan kantor. Tapi Jin Seok terus memaksa lagipula dia tahu kalau Sung Il dia bisa keluar karena Sung Il kan sering tugas di luar. Saat Sung Il terus ragu, Jin Seok lama-lama mulai curiga. Terpaksalah akhirnya Sung Il menurutinya. (aduh ini orang pinter banget sih?! susah menghadapi musuh sepintar ini)


Jung Do masih tidur saat Sung Il meneleponnya, memanggilnya 'Tuan Kim' dan memberitahunya kalau dia sedang dalam perjalanan ke Balai Kota Hwaseong. Dalam keadaan setengah mengantuk, Jung Do menggerutu mengingatkan Sung Il bahwa pertemuannya lusa.

Sung Il terus berakting di depan Jin Seok memberitahu si Kim Sang Pil berulang kali bahwa dia akan kesana sekarang bersama Jin Seok. Saat itulah, Jung Do langsung bangkit dan sadar kalau Jin Seok mengubah jadwalnya dadakan. Sung Il membenarkannya dan memberitahu Jung Do kalau mereka akan tiba dalam waktu satu setengah jam lagi.


Pada saat yang bersamaan di kantor polisi, Jae Sung ditelepon Deok Gi untuk melaporkan penipuan yang dilakukan oleh seseorang bernama Yang Jung Do.


Jung Do langsung buru-buru ganti baju dan ngebut ke Hwaseong sambil menyumpah-nyumpah sepanjang perjalanan. Dia lalu menelepon Keyboard untuk memberitahukan perubahan rencana dadakan ini dan menyuruh Keyboard untuk menghack website-nya dalam waktu satu jam.


Saat Keyboard protes, Jung Do mengingatkannya bahwa mereka bisa mati kalau mereka sampai gagal... tapi tepat saat itu juga sebuah mobil pickup tiba-tiba melaju kencang ke arahnya dan langsung menabraknya sampai mobilnya berputar-putar dan kepalanya berdarah.

Bersambung ke episode 5

No comments :

Post a Comment