July 9, 2016

38 Task Force Episode 2 - 1


Jung Do sengaja menghampiri Sung Il dan pura-pura minta pemantik api untuk rokoknya dan Sung Il ternyata tidak mengenali suaranya. Sukses menipu semua korbannya, Jung Do pun menelepon untuk melaporkan kesuksesannya ini.


Malam harinya, Sung Il menceritakan masalah ini pada temannya, Detektif Park Deok Bae (Oh Man Seok). Bukannya bersimpati, Deok Bae malah ketawa dan terheran-heran kenapa Sung Il tidak mencari tahu lebih dalam sebelum memutuskan untuk mengirimkan uang sebanyak itu. Tapi dia berusaha menyemangati Sung Il untuk tidak patah semangat karena semua orang juga pasti pernah tertipu, siapapun bisa bersikap ceroboh.



Tapi mengingat adanya beberapa pegawai kantor pajak juga ikut jadi korban penipuan, Deok Bae curiga jangan-jangan pelakunya adalah orang yang sama, mungkin pelakunya adalah seorang berandalan yang ingin menipu pejabat publik. Mungkin seseorang yang mereka kenal.

"Hei, apa kau mau aku menangkapkannya untukmu?" tanya Deok Bae "Bukankah itu gunanya punya teman seorang detektif?"

Itu tawaran yang sangat menarik. Apa Deok Bae benar-benar akan bisa menangkap si penipu itu? tanya Sung Il. Deok Bae punya ide lalu meminta Sung Il untuk memberikan informasi nomor hape si penipu itu.


Sementara itu, Jung Do kembali ke penjara. Bukan karena ditangkap tapi untuk mengunjungi ayahnya yang ternyata juga menjadi narapidana di sana. Tapi sang ayah tampak linglung dan tidak bicara sedikitpun, tidak menjawab semua pertanyaan Jung Do, bahkan tidak mau menatap Jung Do.

"Ayah, ini aku Jung Do. Putra ayah ada di sini"


Saat itulah sang ayah akhirnya menatap Jung Do. Tapi sedetik kemudian, ia langsung beranjak pergi kembali ke selnya. Jung Do terus berusaha meminta sang ayah untuk mengucapkan sesuatu, sama sekali tidak mengerti kenapa ayah sama sekali tidak mau bicara. Tapi sang ayah terus membisu dan berjalan pergi meninggalkan Jung Do yang hanya bisa mendesah sedih dan frustasi.


Dalam perjalanan keluar, Jung Do ditelepon seorang ahjussi yang memintanya untuk bertemu. Ahjussi itu adalah seorang polisi bernama Sa Jae Sung. Saat mereka bertemu di sebuah taman Jung Do memperhatikan sekelilingnya dan mendapati ada beberapa polisi lain yang sedang menyamar. Sepertinya mereka hendak menangkap penjahat di sekitar area itu.

Jae Sung adalah teman ayahnya Jung Do. Tapi walaupun bersikap sopan pada Jae Sung, Jung Do tampaknya tidak terlalu menyukainya. Saat Jae Sung bertanya apa rencana Jung Do setelah keluar dari penjara, Jung Do mengklaim kalau dia akan berhenti melakukan penipuan.

"Apa kau sudah punya pekerjaan?" tanya Jae Sung

"Tidak. Ada kenalanku yang meminta bantuan"

Jae Sung cemas dengan 'teman' yang Jung Do maksud. Dia memperingatkan Jung Do untuk tidak berhubungan dengan teman penjaranya dan berteman saja dengan teman tentaranya. Tapi Jung Do mengingatkan Jae Sung bahwa dia adalah mantan narapidana jadi dia tidak bisa masuk militer. Karena itulah, teman-temannya adalah para narapidana.

"Lalu? Apa kau ingin kembali ke penjara lagi? Apa itu maksudmu?"


Tapi percakapan mereka terpotong saat itu juga karena anak-anak buah Jae Sung melapor bahwa incaran mereka mulai bergerak. Jae Sung memerintahkan mereka menangkapnya. Satu per satu, para polisi yang menyamar itu pun langsung bangkit dan menangkap si penjahat dengan mudah.


Dari percakapan mereka, ternyata Jae Sung lah orang yang telah memasukkan Jung Do kedalam penjara. Jae Sung mengaku bahwa dia berhasil mencapai posisinya yang sekarang karena dia berpikir bahwa penjahat harus ditangkap apapun yang terjadi dan dia benci mendengarkan alasan penjahat melakukan kejahatannya. Dan karena itulah dia bisa memasukkan Jung Do kedalam penjara.

Begitupun dengan penjahat yang sedang mereka tangkap sekarang, dia merampok seorang wanita kaya demi membiayai operasi istrinya. Jae Sung mengaku bahwa dia bersimpati dengan situasi si penjahat tapi jika dia mempermasalahkan hal itu maka dia tidak akan bisa menangkap si penjahat itu dan jika dia memandang semua penjahat dengan simpati maka itu artinya tidak akan ada orang yang benar-benar jahat.

Sebelum pergi, Jae Sung memperingatkan Jung Do untuk hidup dengan benar "Jika kau menipu lagi dan aku menangkapmu maka aku tidak akan membiarkannya begitu saja. Biarkan aku mengantarkanmu ke altar menggantikan ayahmu dan bukannya mengantarkanmu ke penjara"

Gara-gara ancaman Jae Sung itu, Jung Do langsung menelepon Mi Joo dan meminta Mi Joo untuk mencarikannya beberapa mobil bekas.


Sementara itu di kantor pajak, seorang penunggak pajak terus menerus merecoki Sung Il dan meminta Sung Il untuk memotong tunggakan pajaknya. Tak lama kemudian, mereka kedatangan tamu, Cho Sang Jin, yang merupakan mantan rekan kerja mereka tapi sekarang membuka bisnis kantor konsultan pajak sendiri dan jadi kaya karenanya.

Ketua Tim Kang tampak jelas tak begitu menyukainya terutama karena sikap Sang Jin yang terkesan meremehkan pekerjaan kantoran mereka. Tapi tujuan utama Sang Jin datang adalah untuk bertemu Sung Il. Dia sudah mengetahui perbuatan Sung Il yang menghajar Jin Seok dan mengklaim kalau dia punya cara untuk mengatasinya lalu menyeret Sung Il pergi.


Dari ucapannya dalam menggambarkan orang kaya, tampak jelas kalau Sang Jin adalah orang licik dan korup. Dia menggambarkan orang kaya bagai ratu semut, pejabat hukum adalah semut pejantan sementara pegawai pemerintah seperti Sung Il hanyalah semut tentara. Orang-orang seperti Sung Il bukan cuma melayani dan melindungi negara tapi juga melindungi ratu semut aka orang-orang berduit jadi tidak seharusnya Sung Il menyerang ratu semut.

Sang Jin bahkan menyarankan agar Sung Il mengambil pajak dari para semut pekerja saja (pegawai kantoran biasa) dan bukannya menarget ratu semut. Para semut pekerja itu adalah orang-orang tak berdaya yang harus rela menerima gaji setelah dikurangi pajak, asuransi, dll.

Menurut Sang Jin, pajak dari para semut pekerja itu saja sudah cukup untuk memenuhi kuota tunggakan pajak yang dibutuhkan pemerintah. Sung Il jelas tak setuju dengan pendapat Sang Jin itu, pajak seharusnya adil. Tidak benar jika para pekerja biasa yang harus menanggung segalanya.

Sang Jin berpendapat bahwa itu sudah jadi nasib para pekerja biasa, mereka harus bayar pajak yang hasilnya akan dinikmati oleh para politikus, para pejabat publik seperti Sung IL dan para orang kaya akan bisa meningkatkan perekonomian.


Sang Jin membawa Sung Il ke sebuah ruang private di sebuah restoran mewah dan ternyata di sana ada Jin Seok yang sudah menunggu mereka dan pura-pura tak menyangka kalau Sang Jin adalah sunbae-nya Sung Il. Sang Jin ternyata akuntan pajaknya Jin Seok.

Sung Il ingin pergi tapi Sang Jin mencegahnya dan menyeretnya masuk. Terpaksalah Sung Il akhirnya duduk di sana dengan setengah hati sementara Sang Jin terus nyerocos bahwa mereka harus melupakan semua masalah mereka di sini sekarang juga.


Jin Seok secara halus mengancam Sung Il bahwa apa yang Sung Il lakukan padanya bisa saja membuat Sung Il diskors dan mengingatkan Sung Il bahwa dia masih harus mengkuliahkan putrinya. Dan karenanya Jin Seok langsung berusaha menyuap Sung Il dengan menyodorkan sebuah amplop besar yang diatasnya ada sebuah kunci mobil.

Tapi menatap wajah Jin Seok membuat Sung Il teringat akan betapa brengs*knya Jin Seok saat dia tega memerintahkan bibi pembantu meminum air satu botol penuh dengan iming-iming uang dan saat Jin Seok sengaja menciprati putrinya sampai basah kuyup lalu dengan sombongnya menyodorkan uang biaya laundry pada Ji Eun.

Sang Jin berusaha membujuk Sung Il untuk menerima kebaikan Jin Seok itu dan memberitahu Sung Il bahwa Jin Seok adalah orang yang harus menjalankan perekonomian negara mereka jadi sebaiknya mereka tidak usah mengurusi pajaknya. Sung Il menatapnya dengan penuh kebencian tapi kemudian dia malah tertawa geli dan bertanya, apakah ratu semut yang Sang Jin maksud itu adalah Jin Seok.

"Tampaknya dia bisa bertelur sangat banyak. Kalau begitu bertelurlah yang banyak" sindir Sung Il lalu beranjak pergi.


Sang Jin cepat-cepat mengejarnya sambil marah-marah pada Sung Il. Tapi Sung Il bersikeras tidak mau makan dengan si brengs*k yang punya banyak kekayaan tapi tidak mau bayar pajak itu. Sang Jin tahu betul kalau Sung Il bersikap seperti ini hanya karena harga dirinya. Tapi berdasarkan pengalamannya sendiri, Sang Jin mengklaim kalau harga diri itu sama sekali tidak penting.

Sang Jin terus berusaha membujuk Sung Il untuk tinggal lebih lama, minimal 30 menit saja. Sang Jin bahkan mengingatkan Sung Il saat Sung Il dipermalukan di hadapan putrinya karena dia tidak punya mobil. Dan karenanya, Sang Jin menyarankan agar Sung Il terima saja mobil pemberian Jin Seok itu.

Sung Il berpikir sejenak sebelum akhirnya bertanya "Kalau begitu dari siapa aku harus mengambil pajak?"

"Orang miskin. Ambil saja dari mereka. Mereka akan menuruti kita dan mereka mudah diurus"

"Apakah tugas kita adalah menghancurkan rumah orang miskin dan menyitai peralatan makan mereka?"

"Tidak usah mempedulikan penderitaan mereka. Kan sudah kubilang, itu adalah takdir mereka. Takdir semut pekerja"

Tapi Sung Il tetap tak setuju dengannya "Baik itu takdir ataupun tidak, semua itu bukan kau yang menentukan"


Dalam perjalanan keluar, Sung Il ditelepon Deok Bae yang kemudian membawanya ke suatu tempat. Yang tak disangkanya, Deok Bae membawanya ke markas gangster. Para gangster itu langsung bangkit dengan posisi bersiaga untuk menantang Deok Bae dan suasana makin tegang saat bos gangster menampakkan diri.


Perkelahian pun dimulai. Tapi tak butuh waktu lama bagi Deok Bae untuk mengalahkan dan membanting semua gangster itu kesana-kemari. Dan beberapa saat kemudian, mereka semua duduk bersama sambil makan jajangmyeon. Bahkan semua gangster itu termasuk bos mereka bersikap sangat patuh dan hormat pada Deok Bae dan Sung Il.

Salah satu anak buah gangster dengan sopan melapor pada Deok Bae bahwa dia sudah melacak nomor hape orang yang menipu Sung Il dan mendapati nomor telepon itu terdaftar atas nama warga asing.

Dia memberitahu Deok Bae bahwa di area Majang-dong, ada beberapa orang yang menyediakan nomor sementara yang didaftarkan atas nama warga asing. Jika Sung Il mendatangi mereka maka Sung Il pasti akan bisa mengetahui pelaku yang telah menipunya.

Deok Bae memerintahkan si gangster untuk memberikan alamat penyedia noor sementara itu pada Sung Il. Deok Bae menyuruh Sung Il untuk pergi sendiri dengan alasan kalau dia sedang sibuk mengejar penjahat lain.


Saat Sung Il cemas karena harus pergi sendiri, si bos gangster yang sedang mimisan berkata bahwa dia akan menelepon orang itu untuk mengabarkan kedatangan Sung Il dan menyuruh mereka untuk bekerja sama dengan baik, dia akan memberitahu mereka bahwa Sung Il adalah seorang detektif.

Deok Bae meyakinkan Sung Il untuk tidak gugup dan mengingatkan Sung Il akan masa lalunya yang dulu penuh dengan keberanian. Sung Il pun akhirnya pergi. Deok Bae menjelaskan pada para gangster itu bahwa dulu Sung Il adalah orang yang pemberani dan tak ada yang berani melawannya saat dia marah. Tapi sejak menjadi pejabat publik, Sung Il mulai banyak berubah dan tidak lagi gagah seperti dulu.


Jung Do menemui Mi Joo di parkiran dimana Mi Joo sudah menyediakan beberapa mobil bekas sesuai pesanan Jung Do. Mi Jo penasaran, untuk apa Jung Do membutuhkan mobil-mobil itu. Jung Do hanya berkata bahwa mobil-mobil itu adalah asuransi. Dia lalu mengajak Mi Joo berkeliling dan sengaja memarkir mobil-mobil itu di beberapa tempat terpisah.

Mi Joo jadi semakin penasaran, kenapa sebenarnya Jung Do melakukan semua persiapan ini. Jung Do sekali lagi menjawab bahwa dia melakukan semua ini demi asuransi, kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan nanti. Mendengar itu, Mi Joo berkomentar bahwa Jung Do sekarang berubah jadi pengecut sejak dia dipenjara.

"Mi Joo-yah, aku keluar dari penjara bukan tanpa alasan" ujar Jung Do. Mi Joo tidak mengerti apa maksudnya tapi Jung Do tidak mau menjawabnya dan pergi.


Sung Il akhirnya tiba di alamat penyedia nomor sementara itu dan mendapati tempat itu ternyata sebuah toko daging di pasar. Tapi saat dia memberitahu pegawai toko bahwa dia dikirim oleh Tuan Kim dari Gaebong-dong, salah satu pegawai langsung menuntunnya masuk ke gudang.

Sung Il sangat tegang selama berjalan masuk ke gudang itu terutama karena dia memperhatikan para pekerja di gudang itu adalah para pria bertampang menakutkan yang membawa pisau-pisau besar untuk memotong daging. Si pegawai membawa Sung Il sampai ke sebuah ruangan yang digunakan sebagai kantor.


Bos mereka muncul tak lama kemudian. Dia sudah dapat telepon yang mengabarkan kalau Sung Il adalah detektif. Si bos bertanya Sung Il berasal dari kepolisian mana. Sung Il menjawab jujur kalau dia berasal dari Balai Kota Seowon sebelum akhirnya ingat kalau dia harus berbohong dan cepat-cepat mengganti jawabannya jadi Kepolisian Seowon.

Si bos lalu bertanya kenapa Sung Il membutuhkan informasi pelanggan mereka. Sung Il dengan sopan menjawab bahwa dia membutuhkannya untuk investigasi kasus penipuan. Si bos bertanya berapa banyak kerugiannya dan Sung Il pun langsung menjawab jujur kalau dia kena tipu sebesar 5 juta won.

Semua itu sudah cukup sebagai bukti bagi si bos untuk menebak dengan benar bahwa Sung Il bukan seorang detektif, cara bicaranya terlalu sopan dan dia juga terlalu jujur dalam menjawab semua pertanyaan mereka.

Sung Il berusaha beralasan bahwa dia hanya ingin bersikap sopan. Tapi si bos meremehkannya, apa Sung Il pikir hanya karena dia menyamar jadi detektif, mereka akan ketakutan dan memberinya informasi?


Si bos lalu memerintahkan anak-anak buahnya untuk membawa Sung Il keluar dan menimbangnya. Sung Il dengan agak emosi melepaskan pegangan mereka darinya dan mengingatkan si bos untuk bicara dengan sopan padanya karena jelas si bos jauh lebih muda darinya. Si bos menurut lalu dengan penuh sopan santun memerintahkan anak buahnya untuk membawa Sung Il keluar dan menimbangnya.


Habis sudah kesabaran Sung Il. Dia langsung mencengkeram baju si bos lalu mengejar mereka keliling meja. Dan saat mereka berusaha menghindarinya, dia langsung angkat kursi dengan penuh amarah "Apa kalian mau melihat betapa menakutkannya aku? Mau lihat? Hah? Apa kau ketawa? Berani sekali kau! Jangan ketawa kau! Akan kukoyak mulutmu!"

Lucunya, para gangster bertampang seram itu benar-benar ketakutan dan langsung mundur serentak menghindari Sung Il. Sung Il makin marah dan mengancam mereka untuk memberikan informasi si pelaku.


Beberapa saat kemudian, Sung Il mendatangi Deok Bae di depan sebuah mini market dengan membawa 7 halaman daftar nomor sementara yang dimiliki si pelaku. Sung Il dengan bangga memberitahu Deok Bae tentang apa yang diperbuatnya untuk menakuti para gangster itu hingga dia sukses mendapatkan informasi itu.


Deok Bae memberitahu Sung Il bahwa ada seorang detektif bernama Park Doo Gil yang menyamar jadi mata-mata untuk menyelidiki para detektif swasta dan para penjual telepon yang memperjualbelikan informasi pribadi seharga 50 ribu won.

Saat dia tengah menggeledah salah satu kantor detektif swasta, dia menemukan sebuah file yang mencurigakan atas nama Noh Joong Sik. Si detektif swasta mengklaim kalau dia tidak tahu menahu dan satu-satunya yang dia ketahui adalah kliennya itu saat ini sedang dipenjara dan dia mencopy semua file itu dan mengumpulkannya jadi satu untuk dikirim pada kliennya itu.


Deok Bae lalu menyerahkan informasi itu pada Sung Il. File itu adalah kumpulan beberapa informasi pribadi dan yang tak disangkanya namanya juga ada dalam daftar itu. Yang lebih membingungkannya lagi, dia juga mendapati informasi pribadi Ma Jin Seok dalam daftar itu.


Sementara itu, Jung Do duduk di sebuah mini market sambil mempelajari nama korban selanjutnya yang tertera dalam daftar. Dan ternyata nama korban selanjutnya adalah Cho Sang Jin, si konsultan pajaknya Ma Jin Seok.


Dalam flashback, rekan narapidananya Jung Do memberitahunya untuk mengambil yang banyak dari Sang Jin. Karena dulu saat Sang Jin masih menjabat sebagai direktur finansial di balai kota, Sang Jin banyak menerima suap tapi dia sama sekali tak tahu balas budi.


Jung Do melihat di seberang jalan, Sang Jin baru turun dari mobilnya dan langsung memarahi satpam gedung hanya karena dia tidak dapat tempat parkir yang bagus.


Jung Do mengalihkan perhatiannya dan melihat kakak-adik kecil di depannya. Sang kakak membiarkan sang adik memakan ramennya sambil diam-diam menghitung uang receh yang dimilikinya. Jung Do tersenyum melihatnya dan beberapa saat kemudian, dia membelikan banyak sekali makanan untuk mereka dan semangkok ramen khusus untuk si kakak. (wah! manisnya Jung Do)


Jung Do mengusap kepala si kakak lalu pergi sambil menelepon seseorang dan meminta orang itu untuk memberinya daftar para pegawai kantor pajak. Dia lalu masuk ke sebuah butik untuk me-makeover penampilannya dengan memakai setelan jas, merapikan tatanan rambutnya plus kacamata dan jadilah Jung Do tampak seperti pekerja kantoran.

Saat dia keluar, seorang wanita tampaknya mengenalinya. Tapi karena dia tidak sempat melihat wajah Jung Do dengan baik, wanita itu jadi tak terlalu yakin.

Bersambung ke episode 2 - 2

No comments :

Post a Comment