June 1, 2016

Jackpot Episode Episode 18 - 1


Dae Gil keluar rumah saat tiba-tiba dia melihat seseorang misterius tengah mengintip dari pojokan. Perlahan dia berjalan mendekati itu orang itu. Dia adalah Baek Man Geum dan begitu dia melihat Dae Gil mendekatinya, dia langsung bersembunyi.


Sementara itu di istana, Raja tiba-tiba pingsan menimpa Putra mahkota Yoon. Begitu Pangeran Yeoning mendapat kabar itu, dia langsung berlari menuju kamar Raja. Di sana, dia melihat Raja tak sadarkan diri dengan ditemani tabib, Putra Mahkota Yoon dan Pangeran Yeonryung yang menangis.



Dae Gil akhirnya menemukan Man Geum yang membelakanginya. Dia memanggilnya tapi Man Geum menyuruhnya untuk tidak mendekat. Dae Gil terus mendekat dan dengan berlinang air mata, bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana bisa dia masih hidup? Dengan gemetaran, Man Geum akhirnya mengakui identitasnya dan meminta maaf pada Dae Gil lalu menoleh ke Dae Gil.

Dae Gil langsung mencengkeram baju Man Geum "Apa maaf saja cukup? Bagaimana bisa kau baru muncul sekarang kalau kau masih hidup selama ini. Aku mengira kau mati dan mencarimu kemana-mana. Katakan, kenapa kau pura-pura mati?" tuntut Dae Gil tapi Man Geum hanya menjawabnya dengan gelengan kepala.


Pangeran Yeoning menanyai tabib istana tentang alasan kenapa Raja tiba-tiba pingsan padahal semalam dia sangat sehat. Dengan tergagap, tabib berkata bahwa mungkin alasannya adalah karena raja sering menghirup dupa yang terbuat dari opium untuk meringankan sakitnya Raja.

Tabib berkata bahwa dia sudah pernah memperingatkan Raja untuk tidak menggunakan opium itu terlalu sering karena opium itu sangat kuat. Pangeran Yeoning shock dan marah mendengar itu, Putra Mahkota Yoon pun sama kagetnya dan heran kenapa tidak ada seorangpun yang tahu. Tabib berkata karena Raja memerintahkannya untuk merahasiakan masalah ini.


Para menteri sudah menunggu di luar. Saat Pangeran Yeoning keluar, dia memberitahu para menteri bahwa sekarang Raja sudah melewati masa kritis.


Pangeran Yeoning lalu pergi ke biro obat untuk menyelidiki opium yang digunakan Raja. Di diberitahu bahwa opium yang digunakan Raja terbuat dari bunga poppy yang memiliki efek kuat dan jika salah digunakan, bisa mengakibatkan kematian.

"Kalau begitu kenapa kau memberikan opium pada Raja?!"

"Paduka Raja menderita batu empedu selama 2 tahun terakhir ini. Terkadang beliau muntah darah"

Tercengang, Pangeran Yeoning mulai teringat saat-saat dia melihat Raja terbatuk-batuk tapi beliau berhasil menyembunyikan penyakitnya itu dari siapapun. Pangeran Yeoning lalu bertanya dari mana opium itu berasal. Tabib berkata bahwa opium itu berasal dari luar istana tapi dia tidak tahu dari mana barang-barang itu berasal sebelum sampai istana.


Putra Mahkota Yoon tiba-tiba datang dan menuntut tabib, apakah dia sudah menyelidiki dari mana opium itu berasal. Tapi walaupun dia menujukan pertanyaan itu pada tabib, tapi yang ditatapnya dengan tajam adalah Pangeran Yeoning.


Tampaknya Man Geum telah menceritakan alasannya meninggalkan Dae Gil karena Dae Gil tiba-tiba bertanya apakah karena itu Man Geum membuat kesepakatan dengan In Jwa "Ayah, kapan aku pernah bilang kalau aku ingin menjadi raja? Aku tidak pernah berpikir seperti itu dan aku tidak menginginkan hal itu"

Yang Dae Gil butuhkan hanya ayahnya. Karena itulah dia memohon agar Man Geum menghentikan apapun yang dia inginkan sekarang dan hidup bersama seperti dulu lagi. Tapi Man Geum menolaknya karena sekarang hidup Dae Gil sudah bukan lagi miliknya sendiri.

"Kalau hidupku bukan milikku sendiri lalu milik siapa?"

"Milik rakyat. Dan hidup ayahmu ini juga bukan miliknya lagi"

Dae Gil tidak mengerti apa maksudnya. Man Geum hanya menjawab bahwa sekarang belum saatnya tapi Dae Gil pasti akan mengetahuinya nanti. Dia lalu membisikkan sesuatu yang sepertinya penting pada Dae Gil. Tepat saat itu juga, Seol Im dan Yeon Hwa lewat dan melihat Dae Gil sedang bicara dengan seseorang. Man Geum cepat-cepat menutupi wajahnya, berpesan pada Dae Gil untuk mengingat apa yang barusan dikatakannya, berjanji bahwa dia pasti akan kembali, lalu pergi.


Malam harinya, Dae Gil memberitahu Tuan Nam bahwa ayahnya masih hidup. Kaget, Tuan Nam ingin keluar untuk mencari Man Geum. Tapi Dae Gil memberitahunya bahwa ayahnya tidak mau mereka mencarinya. Tuan Nam tidak mengerti apa maksudnya. Dae Gil tidak menjawabnya karena teringat dengan kata-kata Man Geum bahwa saat ini belum saatnya karena dia harus melakukan suatu tugas.


Che Gun datang tak lama kemudian untuk mengabarkan bahwa Raja pingsan. Dae Gil yakin bahwa itu pasti perbuatannya In Jwa. Che Gun tak yakin karena saat ini In Jwa sedang dipenjara.

Dae Gil menduga jika bukan In Jwa maka mungkin pelakunya adalah Pemberontak Jeong. Tapi yang pasti Dae Gil tetap yakin bahwa In Jwa lah yang bersalah, In Jwa membuat Raja pingsan dan In Jwa pula yang memisahkannya dengan ayahnya.


Di penjara, Hwang Gu tiba-tiba gemetaran hebat karena mendapat penglihatan. Setelah sadar, dia memberitahu In Jwa bahwa Raja masih kuat dan belum mati. Menteri Kim Il Kyung datang tak lama kemudian. Dia mengaku kalau dia sebenarnya tidak menyukai In Jwa "Tapi kau telah berhasil menghindari sambaran petir dan berjalan melewati samudera ganas, aku mengakui keberuntunganmu"


Il Kyung lalu menyatakan persetujuannya untuk menyelamatkan In Jwa dari penjara ini "Aku akan membujuk Putra Mahkota untuk membebaskanmu dan menyatakan bahwa kau tidak bersalah"

Senang, In Jwa berjanji akan memberikan jabatan penting di istana. Il Kyung tak percaya. Tapi In Jwa meyakinkannya bahwa sebagai orang yang telah berhasil mengarungi samudera ganas dan menghindari sambaran petir, dia juga pasti akan bisa memberikan jabatan penting di istana untuk Il Kyung. Atau jika Il Kyung tak puas dengan itu, dia bisa memberikan sebuah pedang pada Il Kyung, sebuah pedang yang bisa Il Kyung gunakan untuk menyingkirkan para menteri faksi noron.


Dalam tidurnya, Raja memimpikan saat-saat dirinya bertarung melawan para pemberontak. Sementara Che Gun tetap setia menjaga di sisinya.


Keesokan paginya dalam rapat, Il Kyung mengusulkan pada Putra Mahkota Yoon untuk memaafkan In Jwa. Tentu saja ide itu langsung ditentang oleh para menteri faksi soron, terutama Chang Jib yang paling vocal menyuarakan ketidaksetujuannya.

Putra Mahkota Yoon langsung menggebrak meja untuk menghentikan perdebatan para menteri itu, mengingatkan mereka bahwa saat ini Raja masih tak sadarkan diri jadi eksekusinya In Jwa harus ditunda. Pangeran Yeoning langsung protes "Lalu bagaimana dengan pengkhianat Yi In Jwa? Apa anda akan membebaskannya?"


Kesal, Putra Mahkota Yoon langsung mengajak Pangeran Yeoning bicara berdua dan bertanya kenapa Yeoning tidak menurut padanya. Pangeran Yeoning langsung bertanya balik, apa yang akan Putra Mahkota lakukan untuk menghadapi murka Raja saat Raja terbangun nanti.

Putra Mahkota Yoon langsung marah mendengarnya. Dia mengingatkan Dae Gil bahwa dia adalah Putra Mahkota negeri ini dan dia punya hak untuk bertindak atas nama Raja.

"Jadi, apakah anda akan membela pemberontak Yi In Jwa?"


Putra Mahkota bersikeras menyangkal tuduhan terhadap In Jwa dan menyatakan bahwa In Jwa bukan pemberontak. Pangeran Yeoning menekankan bahwa In Jwa adalah pemberontak karena dia menginginkan tahta. Mendengar itu, Putra Mahkota langsung mendekat "Lalu, bisakah kau katakan padaku bahwa kau tidak menginginkan tahta?"

Pangeran Yeoning langsung terdiam. Diamnya Yeoning cukup bagi Putra Mahkota Yoon untuk menyadari bahwa dugaannya benar. Putra Mahkota Yoon teringat kembali pesan terakhir ibunya untuk menghancurkan musuhnya tanpa ampun.


Dae Gil mengunjungi In Jwa di penjara untuk bertanya perjanjian apa yang In Jwa buat dengan ayahnya. Tapi tentu saja In Jwa tidak menjawabnya malah bertanya balik tentang bagaimana perasaan Dae Gil bertemu kembali dengan ayah yang selama ini dia kira sudah meninggal dunia.

"Seandainya bisa, aku ingin mengakhiri segalanya saat ini juga. Aku ingin pergi sejauh mungkin dengan ayahku. Tapi melihat wajahmu yang memuakkan, aku tidak bisa melakukan itu. Aku tidak bisa memaafkanmu dan melupakan segalanya"

Sambil terkikik geli, In Jwa berkata "Itulah alasannya kenapa aku tidak bisa melepaskanmu. Kau punya kemauan keras"

"Apa kau pikir kau bisa menghindari eksekusi?"

"Kau pasti sudah mendengar kalau Raja sakit"

Saat Dae Gil menuduhnya sebagai pelaku yang membuat Raja sakit, In Jwa langsung menantang Dae Gil untuk memberinya bukti atas tuduhannya itu. Saat Dae Gil keluar penjara, dia teringat akan pesan In Jwa yang menyuruh Dae Gil untuk datang padanya begitu dia keluar dari penjara nanti.


Pangeran Yeoning tiba-tiba datang saat itu lalu memperlihatkan abu sisa opium yang dihirup Raja. Hanya sisa abu itu saja yang tersisa jadi mereka tidak punya bukti. Tapi saat ini ada masalah lain yang jauh lebih besar. Para menteri faksi memohon-mohon pada Putra Mahkota Yoon untuk membebaskan In Jwa. Dan para sarjana Sungkyunkwan pun mendukung pembebasan In Jwa.


Dalam rapat bersama menteri, Putra Mahkota Yoon pun mendeklarasikan pembebasan dan pengampunan In Jwa. Para menteri faksi noron langsung bereaksi keras menentang keputusan itu sementara para menteri faksi soron tersenyum puas.


Setelah rapat usai, Pangeran Yeoning keluar menemui Dae Gil dan mengabarkan pembebasan In Jwa.


Saat itu juga, In Jwa dan ketiga anak buahnya keluar dari penjara. Putra Mahkota Yoon menyambutnya di luar dan In Jwa langsung bersikap sok terharu saat dia menyapa dan berterima kasih pada Putra Mahkota Yoon.


Setelah itu Putra Mahkota Yoon bertemu dengan Dae Gil. Putra Mahkota Yoon heran kenapa nama Dae Gil selalu diperbincangkan banyak orang. Dae Gil pun bertanya apakah Putra Mahkota yang telah membebaskan In Jwa. Tapi Putra Mahkota Yoon tidak menjawab lalu mengalihkan topik.


Dia melihat pedang pemberian Raja yang Dae Gil pegang. Dia berpikir bahwa pedang itu adalah benda berharga Raja, bahkan dia sendiripun tidak pernah diberikan hadiah berharga seperti itu oleh Raja. Putra Mahkota Yoon tiba-tiba berkata kalau Dae Gil mirip dengan Yeoning dan Sukbin. Dan Dae Gil juga mirip dengan Raja.


Tapi kemudian dia berkata bahwa dia tahu kalau ayahnya Dae Gil adalah si penjudi Baek Man Geum. Dia tahu Man Geum karena dulu Man Geum pernah ditangkap dan dibawa ke istana, saat dia disiksa oleh Jang Hee Bin dulu.

Teringat hal itu, Putra Mahkota langsung mencurigai jati diri Dae Gil dan langsung bertanya tahun kelahiran Dae Gil. Tapi Dae Gil berbohong dan mengklaim kalau dia tidak tahu.

Putra Mahkota Yoon memberitahu Dae Gil bahwa In Jwa merekomendasikan Dae Gil dan menyarankannya untuk memberi Dae Gil posisi dalam pemerintahan. Tapi karena dia tidak tahu kualifikasi Dae Gil jadi dia tidak bisa memberikan sembarang posisi untuknya.

Selain itu dia juga tidak percaya sepenuhnya pada In Jwa yang dicap sebagai pemberontak. Karena itulah, dia meminta Dae Gil untuk mengawasi In Jwa untuknya. Dan karena Dae Gil adalah muridnya Che Gun, Putra Mahkota pun menyatakan bahwa Dae Gil akan bekerja sebagai prajurit militer di divisi prajurit terlarang.


Setelah mendapat perintah itu, Che Gun lalu memberikan seragam untuk Dae Gil. Lalu setelah Dae Gil berganti baju, Che Gun memberinya sebuah lencana prajurit. Dia memperingatkan Dae Gil bahwa dia masih belum mendapat pangkat jadi dia tidak bisa datang dan pergi semaunya.


Setelah mendapat perawatan akupuntur, Raja akhirnya siuman. Berita itu langsung menyebar luas. Che Gun pun mendapat kabar itu dari salah satu bawahannya yang memberitahunya bahwa Raja minta bertemu dengan Che Gun. Tapi saat Pangeran Yeoning hendak masuk, dia dihentikan karena saat ini Raja sedang bicara dengan Putra Mahkota.


Setelah diberitahu tentang titah Putra Mahkota untuk membebaskan In Jwa, Raja yang masih lemah langsung memerintahkan Pangeran Yeonryung keluar. Marah, Raja langsung membalik meja makannya di hadapan Putra Mahkota. Raja kecewa pada Putra Mahkota Yoon lalu memerintahkannya keluar.

Reaksi Raja itu membuat Putra Mahkota Yoon jadi semakin benci pada Raja. Dia seorang putra mahkota dan sudah menjalankan tugasnya sebagai putra mahkota, tapi tetap saja dia selalu kalah dari Yeoning dan Yeonryung. Jadi kenapa Raja menunjuknya sebagai pewaris tahta.


Setelah Putra Mahkota Yoon keluar, Raja memerintahkan Che Gun masuk. Che Gun datang bersama Dae Gil. Setelah Che Gun masuk, Pangeran Yeoning berkata pada Dae Gil bahwa dia sudah mendengar kalau In Jwa lah yang merekomendasikan Dae Gil.

Dalam hatinya Pangeran Yeoning berpikir, jangan-jangan In Jwa tengah berusaha untuk memisahkannya dengan Dae Gil. Sambil menatap Dae Gil dengan curiga, Pangeran Yeoning bertanya "Kau seorang musuh atau sekutu?"

Bersambung ke episode 18 - 2

1 comment :