June 22, 2016

Jackpot Episode 22 - 2


Para pemberontak anak buahnya In Jwa bersorak gembira atas kemenangan mereka menguasai benteng yang lain. Sekarang tekad dan semangat juang In Jwa semakin kuat "Raja, tunggu saja. Aku akan segera menjejakkan kaki ke tanah Hanyang"



Che Gun memberitahu Dae Gil bahwa sekarang In Jwa adalah musuh yang sangat kuat dan tak bisa dielakkan, setiap waktu sangat genting. Sekarang adalah saatnya bagi Dae Gil untuk bertemu dengan Raja kembali. Tak lama kemudian, Dae Gil dengan memakai seragam militer lamanya, datang menghadap Raja.

Putra Mahkota Hyojang bertanya siapa orang itu. Raja tak menjawab, malah menyuruh Putra Mahkota pergi. Dae Gil berkomentar bahwa Raja Yeongjo sangat mirip dengan Sukjong sebelum dia membahas pembunuhan massal pada rakyat jelata pendukung In Jwa yang Dae Gil duga didalangi oleh Raja.

"Beberapa orang menjadi pemberontak. Beberapa lainnya bekerja sama dengan pemberontak itu dan beberapa orang membantu mereka dari belakang. Mereka semua adalah pemberontak, sama saja, dan mereka telah membayar kejahatan mereka"

Dae Gil memberitahu Raja bahwa alasan kenapa orang-orang itu bergabung menjadi pemberontak hanya karena menginginkan sedikit tanah untuk mereka tanami dan sedikit makanan untuk mereka makan. Tapi Raja tetap tak mau terima alasan itu, pemberontak merajalela jadi tidak mungkin dia diam saja.


"Yang Mulia, jika begitu apa bedanya anda dengan pemberontak Yi In Jwa?"

Raja makin kesal mendengar kritikan Dae Gil tentangnya. Dae Gil berkata kalau dia hanya ingin Raja mengutamakan rakyat. Tapi Raja beralasan bahwa ini hanya sebuah pengorbanan kecil demi kebaikan negara, dia akan menanggung dan membayar sendiri atas perbuatannya membunuh rakyatnya sendiri.

Raja akan memberikan jabatan pemerintah dan prajurit militer pada Dae Gil karena hanya Dae Gil yang paling tahu tentang In Jwa, hanya Dae Gil yang bisa membaca pikiran In Jwa. Raja tak peduli akan apa yang harus dikorbankan, yang pasti Dae Gil menghentikan In Jwa.

"Jika anda menggunakan tentara maka akan ada lebih orang yang akan terluka. Tolong pertimbangkan kembali, Yang Mulia"

Tapi Raja tetap bersikukuh dengan pendiriannya. Dia hanya akan memberi Dae Gil waktu 5 hari, jika dalam waktu 5 hari dia tidak mendengar kabar dari Dae Gil maka dia akan menggunakan tentara "Coba saja. Jika kau benar-benar peduli pada Rakyat maka tak ada yang tak bisa kau lakukan"


Begitu Dae Gil keluar, Che Gun bertanya apa keputusan Dae Gil. Tapi Dae Gil tak menjawab. Tak jauh dari sana, mereka melihat beberapa pejabat tampak berlarian heboh. Che Gun memberitahu Dae Gil bahwa para pejabat itu juga gelisah, tentara pemberontak akan tiba di Hanyang dalam waktu 10 hari lagi. Saat itu terjadi, keadaan di pemerintahan pasti akan sangat kacau.


Para menteri soron berkumpul di gibang, mendiskusikan pergerakan para pemberontak. Mereka berpikir bahwa sebaiknya mereka melakukan sesuatu, tapi Il Soo merasa sebaiknya mereka tak bertindak gegabah karena tak ada jaminan kalau In Jwa akan berhasil dan mereka bisa saja dipenggal setiap saat. Il Soo yakin kalau Raja memanggil Dae Gil kembali ke istana agar Dae Gil bisa menangkap In Jwa lagi.

"Itu tidak akan terjadi" ujar Hwang Gu


Dia lalu masuk dan menyerahkan secarik kertas, itu adalah pesan dari In Jwa. Setelah membacanya, Il Soo bertanya apakah isi surat itu benar adanya. Begitu Hwang Gu mengiyakannya, Il Soo langsung menyobek-nyobeknya dan menyuruh Hwang Gu untuk menyampaikan pesan pada In Jwa. Il Soo memutuskan bahwa para menteri soron akan memihak In Jwa. Akan tetapi, jika surat itu tidak benar maka mereka akan melawan In Jwa.

Setelah Hwang Gu pergi, Il Soo menjelaskan isi suratnya In Jwa yang berisi rencana menjatuhkan raja yaitu dengan cara menempatkan Mil Poong Goon sebagai raja. Mil Poong Goon adalah cucu Putra Mahkota Sohyeon.


Di tempat lain, kita melihat In Jwa sedang menemui Poong Goon dan menjelaskan rencananya untuk menjatuhkan Raja Yeongjo dan menempatkan Poong Goon sebagai raja. In Jwa mengklaim kalau Raja Yeongjo adalah raja palsu karena dia menjadi raja setelah meracuni mendiang Raja Gyungjong, selain itu garis keturunannya sangat meragukan karena dia terlahir dari seorang pelayan.


"Andalah yang harus menyingkirkannya dari tahta, Yang Mulia. Anda harus duduk di atas singgasana, membangun pemerintahan yang baru dan membalas rasa syukur kembali kepada rakyat" ujar In Jwa

Mulai tertarik dengan rencana In Jwang, Poong Goon menanyakan kekuatan yang In Jwa miliki. In Jwa lalu membawa Poong Goon keluar untuk menunjukkan beberapa orang pendukung mereka yang sedang berkumpul di luar, orang-orang itu berasal dari berbagai daerah.


In Jwa berkata bahwa sekutu mereka bukan cuma orang-orang ini saja, total ada lebih dari 200 ribu orang tentara yang berasal dari 8 kota. Di kota Yeongnam ada Jeong yang merekrut orang-orang untuk menjadi tentara. Dan di kota Honam, mereka memiliki Park Pil Hyun yang melatih para prajurit. Para punya banyak sekutu baik pria maupun wanita yang akan membantu mereka dalam segala pergerakan mereka.

Tapi tetap Poong Goon masih ragu. Karena menurutnya seberapa banyak pun sekutu yang mereka miliki, mereka tidak mungkin sanggup melawan para tentara kerajaan yang lebih terlatih. Selain itu, mereka juga tidak punya sekutu dari dalam istana.


Tapi In Jwa mengklaim bahwa mereka punya sekutu di dalam istana. Seseorang yang posisinya jauh lebih tinggi daripada para menteri soron yaitu Ibu Suri Seonui. Bahkan untuk membuktikan pernyataannya, In Jwa menunjukkan sebuah surat yang berasal dari Ibu Suri. Dalam suratnya, Ibu Suri berkata bahwa garis keturunan kerajaan telah menyimpang dan harus diperbaiki.


Dalam flashback, Ibu Suri sendiri yang menitipkan surat itu pada In Jwa. Ibu Suri sangat dendam pada Raja karena dia sangat yakin mendiang Raja Gyungjong meninggal karena diracuni Raja Yeongjo.

Ibu Suri bertekad untuk menggerakkan hati para menteri istana dan mempengaruhi pendapat mereka, sementara In Jwa menggerakkan hati orang-orang di luar istana. Ibu Suri bersumpah akan mengakhiri hidup Raja jika In Jwa berhasil menghancurkan negara yang korup ini.


In Jwa meyakinkan Poong Goon bahwa jika Poong Goon setuju untuk bergabung dengannya maka Ibu Suri pun akan mulai bergerak. Dengan kekuatan yang mereka miliki sekarang, mereka hanya perlu waktu 10 hari untuk mencapai ibu kota. Karena itulah, In Jwa meminta Poong Goon untuk segera memberi keputusan.

"Baiklah, aku akan bergabung dalam misimu" jawab Poong Goon.


Dae Gil dan In Jwa melihat orang-orang mengungsi ke utara. Dae Gil berkata kalau dia akan pergi menemui Hong Mae lalu memerintahkan Che Gun untuk kembali ke gunung dan bersiap-siap.

"Baiklah. Tapi... sebentar! Kau pikir siapa kau berani memberi perintah pada gurumu?" protes Che Gun

Dae Gil bingung sendiri kenapa Che Gun musti komplain, kan pada akhirnya dia tetap harus pergi juga. Dae Gil pun langsung pergi meninggalkan Che Gun yang pura-pura menggerutu kesal.


Dae Gil mendatangi Hong Mae untuk meminta Hong Mae mencarikan beberapa obat-obatan untuknya sekarang juga. Saat Hong Mae protes, Dae Gil mengingatkan Hong Mae bagaimana selama ini dia hidup dengan cara memeras darah dan keringat orang-orang. Jadi seharusnya Hong Mae membalas mereka dengan cara melakukan sesuatu demi kebaikan mereka. Hong Mae akhirnya luluh dan bertanya berapa banyak obat yang Dae Gil perlukan.


Setelah mendapatkan obatnya, Dae Gil pulang dan menanyakan persiapan semua orang. Yeon Hwa melapor bahwa dia sudah menyiapkan 30 kuda dan makanan. De Gil lalu menyerahkan obat itu ke Seol Im dan meminta Seol Im mengurusnya. Man Geum lalu mengeluarkan peta 8 kota.

Dia memerintahkan Dae Gil, Tuan Nam dan Seol Im untuk pergi ke Anseong dan menghalangi In Jwa. Sementara yang lain pergi ke Daejeon dan menghentikan anak-anak buahnya In Jwa. Lalu setelah itu mereka harus pergi ke daerah-daerah lain yang dikuasai In Jwa. Mereka harus mengambil hati rakyat dan menangkap Jeong dan Park Pil Hyun. Tapi Dae Gil menyatakan kalau dia ingin pergi ke Mokcheon. Man Geum heran untuk apa, kota itu kan tidak cukup penting.

"Karena itulah kota itu penting" ujar Dae Gil


Anak buahnya Man Geum datang mengabarkan sesuatu yang sangat penting: In Jwa berhasil mendapatkan Mil Poong Goon. Man Geum langsung menggerutu kesal, fakta itu jelas bisa membuat rencana mereka bisa jadi sulit. Tuan Nam pesimis dengan rencana mereka, bagaimana caranya mengalahkan 200 ribu orang. Menurutnya jauh lebih baik jika mereka menggunakan tentara saja.

"Tidak mungkin kecuali kau bisa mengalahkan mereka semua sekaligus"

"Mungkin. Jika kita bisa menangkap In Jwa" kata Dae Gil yakin.

Tapi masalahnya, mereka hanya punya waktu 5 hari. Raja hanya memberinya waktu 5 hari, jika tidak maka Raja akan mengerahkan tentara. Jika itu terjadi maka rakyat pasti akan menjadi korban. Che Gun merasa 5 hari itu terlalu lama. Walaupun Raja menjanjikan waktu 5 hari pada Dae Gil tapi dia yakin kalau Raja tidak akan tinggal diam saja. Dae Gil akhirnya memutuskan untuk memajukan batas waktu misi mereka jadi 3 hari.

"Misi kita adalah menangkap In Jwa dalam waktu 3 hari"


Sementara itu di istana, Raja pergi ke gudang persenjataan dan memerintahkan kepala tentara untuk mempersenjatai para tentaranya dengan senjata api dan mesiu. Dia lalu mengumpulan para pemimpin prajurit yang lain dan memerintahkan mereka untuk memilih seribu tentara terbaik untuk dijadikan pasukan elit dan menunggu perintahnya. Sementara para prajurit dari divisi lain harus bersiaga melawan pemberontak.


Che Gun menghadap Raja dan melapor bahwa Dae Gil pergi ke Mokcheon dan dia juga akan menyusul. Raja lalu menanyakan pendapat Che Gun, apakah mungkin mereka bisa menghentikan In Jwa tanpa tentara.

"Dia bergerak dengan semua tentara yang membantu rencananya dan dia memiliki 200 ribu tentara. Namun saya percaya pada Baek Dae Gil"

Teringat saat Dae Gil pernah memintanya untuk mempercayai Dae Gil, Raja berkata dalam batinnya "Baek Dae Gil, aku juga mempercayaimu. Akan tetapi sebagai seorang raja yang duduk di atas singgasana ini, aku tidak bisa mempercayaimu. Tidak boleh. Aku tidak boleh mempercayai siapapun"


Dugaan Dae Gil benar, In Jwa memang sedang berada di Mokcheon. Malam itu, dia tengah bergerak bersama tentaranya dan Poong Goon saat tiba-tiba seorang prajurit dan beberapa rakyat warga Mokcheon menghadangnya. Si prajurit bertanya-tanya apakah benar In Jwa berencana untuk mengembalikan tanah rakyat setelah berhasil mengambil alih pemerintahan.

In Jwa membenarkannya. Dan saat Poong Goon memperkenalkan dirinya, si prajurit dan para warga Mokcheon langsung berlutut padanya dan menyatakan janji untuk bergabung dengan In Jwa.


Dae Gil, Seol Im dan Tuan Nam melihat kejadian itu tak jauh dari sana. In Jwa senang lalu memerintahkan tentaranya untuk bermalam di sini karena besok mereka akan menyeberang ke Benteng Gunung Jukju.


Hwang Gu juga datang ke Mokcheon untuk memberitahu In Jwa bahwa Raja memanggil Dae Gil kembali ke istana. Dia juga melapor bahwa dia sudah menyampaikan suratnya pada para menteri soron.



Tapi situasi di istana sangat intens, Hwang Gu yakin kalau Raja pasti akan mulai bergerak. In Jwa menduga kalau Raja pasti akan menggunakan pasukan elit untuk menghentikannya. Karena itulah, dia memerintahkan Hwang Gu untuk segera kembali ke Hanyang untuk mengawasi keadaan di istana.

Jin Ki cemas jika Dae Gil mulai bergerak. Tapi In Jwa santai-santai saja "Itu adalah takdir. Takdir yang tidak bisa dihindari bahkan sekalipun kau berusaha. Jika kami bertemu kembali, entah apakah aku yang akan mati atau Baek Dae Gil yang akan mati. Dimana kau, Baek Dae Gil?"


Tak sadari oleh In Jwa, Dae Gil sedang berada di dekatnya, sedang menatap kamp peristirahatan In Jwa dan para pasukannya. Dae Gil bertekad untuk menunjukkan orang macam apa In Jwa yang sebenarnya para rakyat yang telah ditipunya.


Man Geum bergerak ke benteng Jeonju dan Che Gun bergerak ke benteng Sangju. Sementara itu di ibu kota, Hong Mae bertugas menebar rumor buruk tentang In Jwa pada rakyat di sana. Dan Yeon Hwa mengirimkan burung merpati untuk membawa pesan pada Dae Gil, mengabarkan hal ini.


Dae Gil mengumumkan pada para bawahannya untuk bersiap, mereka harus sukses malam ini, jika tidak maka Raja akan mengerahkan tentara. Sementara itu di istana, Sang Gil mengumumkan titah raja, memerintahkan para prajurit untuk bersiaga di luar kota.

Dae Gil yakin bahwa para pemberontak itu tidak begitu saling mengenal dengan baik karena In Jwa mengumpulkan orang-orang itu dalam tempo yang terlalu cepat. Jadi hal itu bisa sangat menguntungkan bagi mereka, mereka harus memanfaatkan hal itu sebagai alat untuk melawan para pemberontak.


Tuan Nam dan beberapa anak buahnya, pura-pura jadi anggota pemberontak lalu menyuruh kedua penjaga gudang untuk istirahat saja. Dugaan Dae Gil benar, kedua penjaga itu tidak mencurigai apapun dan langsung pergi meninggalkan gudang di tangan Tuan Nam.


Seol Im juga menyusup jadi pelayan di bagian dapur. Saat tak ada yang melihat, Seol Im diam-diam memasukkan bubuk obat pemberian Hong Mae kedalam panci besar sup. Para pemberontak itu makan dengan sangat lahap tapi tak lama kemudian, banyak dari mereka yang terjatuh karena sakit perut. Sementara Tuan Nam mulai bergerak mengeluarkan perbekalan para pemberontak dari dalam gudang, Dae Gil bergerak ke kandang kuda.

In Jwa masih santai mengumumkan pada beberapa tentaranya tentang rencana mereka untuk menyeberang ke Anseong sebelum menduduki ibu kota. Jin Ki buru-buru datang untuk mengabarkan masalah besar, tentara mereka salah makan dan sekarang mereka semua diare.


Anak buahnya yang lain datang sesaat kemudian untuk mengabarkan masalah lainnya: gudang mereka kebakaran. Saat In Jwa tiba di sana, api sudah menjalar hebat. Anak buah ketiga datang dan dia juga mengabarkan masalah lain: kuda-kuda mereka menghilang. In Jwa langsung curiga, pasti ada mata-mata.


Sementara itu, Tuan Nam dan Seol Im pergi dengan membawa hasil rampasan perbekalan para pemberontak. Seol Im mencemaskan Dae Gil yang sendirian di sana, tapi Tuan Nam tidak cemas sama sekali. Dia yakin kalau Dae Gil akan baik-baik saja.


Di istana, Raja memerintahkan para prajurit untuk menghabisi In Jwa dan semua pengikutnya. Sementara itu, Dae Gil berkuda menghampiri In Jwa yang masih termenung menatap gudangnya yang kebakaran.



"Lama tak bertemu, Yi In Jwa" sapa Dae Gil dengan senyum licik

"Baek Dae Gil" geram In Jwa

Bersambung ke episode 23

2 comments :

  1. Seru bangat, andai bisa dinonton. Lanjut yg cepat ya.

    ReplyDelete
  2. Seru bangat, andai bisa dinonton. Lanjut yg cepat ya.

    ReplyDelete