June 20, 2016

Jackpot Episode 22 - 1


Orang yang terkena panahnya Dae Gil ternyata Moo Myung dan bukannya In Jwa. Yakin kalau In Jwa masih bersembunyi di sekitar hutan ini, Dae Gil dan para prajurit mulai menyisir hutan mencari keberadaan In Jwa.

Che Gun menduga mungkin In Jwa sudah melarikan diri, tapi Dae Gil sangat yakin kalau In Jwa masih bersembunyi di sekitar hutan ini. Memang benar, In Jwa sedang menyembunyikan dirinya di dalam sebuah lubang.


Sementara itu, istana sedang gempar. Para prajurit dan dayang menangisi kematian Raja. Sementara Putra Mahkota hanya diam. Hmm... entah apakah dia memang menaruh racun dalam makanan raja atau tidak. Tapi reaksinya yang cuma diam, memang agak aneh.


Ratu Seonui tiba tak lama kemudian dan menangis saat melihat mayat suaminya.



Dae Gil terus berjalan menyusuri hutan hingga akhirnya dia mendapati sebuah gundukan tanah tertutup dedaunan yang agak menonjol. Curiga, dia langsung menancapkan pedangnya ke lubang itu. Lubang itu memang lubang persembunyian In Jwa tapi pedang Dae Gil tak mengenai In Jwa.

Dae Gil hendak menancapkan pedangnya sekali lagi, tapi lagi-lagi keberuntungan masih memihak In Jwa karena tepat saat itu juga seorang prajurit dari istana datang dan mengabarkan tentang kematian Raja. Pencarian pun akhirnya terpaksa harus dihentikan karena mereka semua harus segera kembali ke istana.


Tapi sebelum pergi, Dae Gil berteriak pada In Jwa "Yi In Jwa! Bersembunyilah seperti seekor tikus dan hiduplah seperti ini selama-lamanya. Jangan pernah lagi menunjukkan mukamu"

Setelah semua orang pergi, In Jwa langsung terkikik senang dari lubang persembunyiannya.


Che Gun dan Dae Gil baru sampai di istana keesokan paginya dan mendapati semua penghuni istana tengah meneriakkan duka mereka. Teringat akan kemarahan dan dendam Yeoning atas kematian para menteri noron, Dae Gil mulai mencurigai Yeoning.

Dia langsung pergi mencari Yeoning. Tapi tepat saat dia baru tiba di sana, para menteri soron tiba lebih dulu dan mengkonfrontasi Yeoning.


Sama seperti Dae Gil, mereka juga curiga kalau Yeoning telah meracuni Raja. Mereka sudah bicara dengan tabib istana dan tabib berkata bahwa Raja wafat setelah memakan kepiting mentah yang Yeoning sajikan. Makanan mentah jelas bisa memperburuk kesehatan Raja yang selama ini menderita penyakit akut.

Yeoning langsung menyangkal semua tuduhan mereka. Dia mengklaim kalau dia juga sangat berduka atas kematian Raja "Aku tidak mendengar Raja meninggal karena makan makanan itu, iya bukan? Jadi berani sekali kalian menghina pewaris tahta yang cuma sekedar menyajikan makanan untuk raja?! Apa di mata kalian, aku bukan putra mahkota?"


Para menteri soron akhirnya pergi dengan kesal. Dae Gil lalu mendekati Yeoning untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Yeoning dengan entengnya menjawab kalau dia hanya menyajikan makanan pada Raja berupa kepiting mentah dengan kecap dan buah kesemek.

"Katakan padaku, apa kau benar-benar..."

"Apa kau pikir aku meracuni Raja?"

"Bisakah kau bilang padaku kalau kau tidak melakukan itu?"

Dae Gil meminta Yeoning untuk memberitahunya jika dia memang tidak melakukannya dan tidak menyembunyikan apapun. Dia adalah temannya Yeoning yang mempertaruhkan nyawanya untuk Yeoning. Karena itulah, dia memohon agar Yeoning memberitahu kebenarannya.


"Jika aku memberitahumu bahwa aku tidak melakukannya, apa kau akan percaya padaku?"

"Kita pernah menjadi teman dan dulu kita juga bersaudara. Aku mempercayaimu, putra mahkota"

Tapi Yeoning mengklaim bahwa saat Dae Gil meragukannya, saat itu pula Dae Gil telah mencampakkannya. Dia lalu mengingatkan Dae Gil bahwa sekarang dia bukan lagi putra mahkota. Sekarang, dia adalah raja.

Yeoning bersumpah bahwa mulai sekarang, dia tidak akan pernah membiarkan dirinya dihina sebagai anak pelayan rendahan lagi. Dia tidak akan memaafkan siapapun yang berani membangkang, mencelanya dan menghinanya. Bahkan sekalipun orang itu adalah hyung-nya sendiri.


Setelah Yeoning masuk kembali ke kamarnya, Che Gun mengingatkan Dae Gil bahwa putra mahkota tidak salah. Dae Gil tidak boleh melibatkan dirinya dalam masalah ini "Dia bukan lagi temanmu"


Di rumah, Dae Gil mengepak barang-barangnya, dia ingin keluar dari rumah. Tepat saat itu juga, Man Geum datang. Tuan Nam sangat senang bertemu kembali dengannya. Man Geum pun langsung mendekat, mungkin dia kira Tuan Nam hendak memeluknya, tapi Tuan Nam malah menjitak kepalanya dan melabraknya dengan kesal.

Kesal karena Man Geum pergi meninggalkannya dan Dae Gil dan membuat mereka jadi sangat menderita. Man Geum justru merasa sangat berterima kasih pada Tuan Nam, karena Tuan Nam telah melindungi Dae Gil selama dia tak ada. Mereka pun saling berpelukan dengan penuh haru.

Malam harinya, Dae Gil memberitahu Tuan Nam dan Seol Im bahwa dia ingin mereka berdua ikut pergi bersamanya. Pergi ke suatu tempat dimana mereka bisa membantu orang-orang dan hidup damai bersama. Tempat yang dimaksudnya adalah desa tempat Man Geum tinggal, Dae Gil dan Man Geum meyakinkan mereka bahwa tempat itu adalah tempat yang bagus.


Che Gun datang dan tak sengaja mendengar Dae Gil membicarakan tempat bagus itu. Setelah mendapatkan penjelasan dari Dae Gil, Che Gun menyetujui keputusan Dae Gil untuk pergi. Tapi Dae Gil masih cemas dengan In Jwa, apalagi dia masih belum ditemukan sampai sekarang. Che Gun yakin kalau In Jwa sudah pergi jauh sekarang. Dan bahkan sekalipun In Jwa masih hidup, Che Gun yakin kalau In Jwa tidak akan bisa bangkit lagi.


Beberapa pengemis sedang berkumpul di depan gibang-nya Hwang Gu. Saat salah seorang gisaeng keluar untuk mengusir mereka, salah satu pengemis itu tiba-tiba menyerahkan sebuah surat pada si gisaeng dan memintanya untuk mengantarkan surat itu pada Hwang Gu.

Sebelum surat itu disampaikan padanya, Hwang Gu sudah tahu duluan kalau In Jwa masih hidup melalui ilmu ramalnya. Si gisaeng datang tak lama kemudian dan menyerahkan surat itu pada Hwang Gu. Surat itu dari In Jwa.


"Jangan mencariku. Tunggu saja. Suatu hari nanti, aku akan mencarimu lagi" ujar In Jwa dalam pesannya. In Jwa ternyata hidup bersama para gelandangan.


Akhirnya tibalah hari dimana Putra Mahkota dinobatkan sebagai Raja Yeongjo, Raja Joseon ke-21. Setelah Il Kyung mengumumkan penobatan Putra Mahkota menjadi Raja, para menteri menyambutkan dengan elu-eluhan "Hidup Raja! Hidup Raja!"

Dae Gil melihatnya dari luar gerbang. Raja Yeongjo berpaling menatapnya dan mereka saling berkomunikasi melalui telepati. Raja bertanya-tanya apakah Dae Gil dendam padanya. Dae Gil menyangkalnya "Kita punya takdir kita masing-masing. Kita hanya berjalan ke arah yang berbeda"


Dengan menyamar jadi gelandangan, In Jwa mendekat ke gerbang istana dan mendengar elu-eluhan para menteri pada raja baru. Dalam hatinya In Jwa bersumpah "Tunggu saja. Aku pasti akan bangkit kembali. Akan kuhancurkan pemerintahan yang korup ini. Akan kuporak porandakan pemerintahan ini"

Dia melihat Che Gun dan Dae Gil keluar bersama, In Jwa langsung cepat-cepat menundukkan kepalanya dan berjalan pergi. Dia berjalan melewati Man Geum. Man Geum langsung menoleh curiga, tapi In Jwa sudah lewat tepat saat Man Geum baru menoleh.

Man Geum heran, tapi tidak yakin. Dan akhirnya memutuskan bahwa gelandangan itu tidak mungkin In Jwa. Setelah berpamitan pada Che Gun, Dae Gil pun pergi bersama Man Geum, Tuan Nam dan Seol Im.


Dalam rapat pertamanya setelah menduduki tahta, Raja Yeongjo langsung to the point menyatakan kalau dia tidak mau lagi melihat muka Il Kyung. Lalu apakah dia harus keluar dari istana? tanya Il Kyung.

"Tidak. Aku memerintahkan agar kau dieksekusi"

Sontak, semua menteri langsung shock. Eksekusi ini adalah hukuman bagi Il Kyung karena dialah orang yang mendalangi eksekusi para menteri noron. Selain Il Kyung, Raja juga menghukum mati pengkhianat faksi noron, Mok Ho Ryong, atas tuduhan berbohong dan memberikan pernyataan palsu. Il Kyung dan Ho Ryong pun langsung diseret keluar.

"Kalau ada yang ingin kalian katakan, katakan sekarang. Tapi kalian harus mempertaruhkan nyawa kalian terlebih dulu" ancam Raja. Ancamannya terasa begitu menakutkan hingga membuat para menteri terdiam, tak ada yang berani mengucap sepatah kata.


Setelah itu, Raja memanggil Che Gun untuk menanyakan kemana perginya Dae Gil. Tapi Che Gun mengaku tak tahu. Dan saat Raja bertanya apakah Dae Gil mengatakan sesuatu, Che Gun tak menjawab. Setelah Che Gun pergi, Raja termenung sedih "Aku bisa menanggung beban tahta ini. Akan tetapi, seorang diri di dunia ini tidak mudah ditanggung"


Setibanya di desa, Dae Gil dan yang lainnya, disambut hangat oleh warga desa. Tuan Nam dan Seol Im pun senang dan tak menyangka akan mendapat sambutan semeriah ini.


Sementara itu di kota, beberapa warga tampak heboh melihat poster In Jwa dan Jin Ki terpampang sebagai buron.


Dae Gil hidup damai di desa barunya. Hari itu, setelah Dae Gil membantu Seol Im menjemur pakaian, mereka menikmati semangka bersama. Tak lama kemudian, Yeon Hwa datang. Seol Im langsung memeluknya, senang bisa bertemu kembali dengan Yeon Hwa. Tuan Nam dan Man Geum pun menyambutnya dengan hangat.


Sepertinya beberapa tahun telah berlalu, sekarang Raja memiliki seorang putra mahkota yang masih kecil, Putra Mahkota Hyojang.


Sementara itu di kota, poster buron In Jwa dicopot oleh Hwang Gu dan dia ganti dengan pengumuman yang sontak membuat rakyat heboh. Pengumuman itu menyatakan bahwa Raja Yeongjo meracuni mendiang Raja Gyungjong. Pengumuman itu dengan cepat sampai pada Raja.


Marah, Raja langsung menyobek-nyobek pengumuman itu lalu memerintahkan pengawalnya untuk mencari tahu siapa yang sudah menyebarkan kebohongan itu dan menghukum mati orang itu begitu dia ditemukan.


In Jwa telah bangkit kembali. Dia sudah tidak lagi menyamar menjadi gelandangan. Hari itu, dia masuk hutan untuk mencari Jin Ki dan akhirnya menemukannya di pinggir sungai. Mereka kemudian minum-minum bersama sambil membicarakan betapa sibuknya In Jwa selama ini. Jin Ki bertanya-tanya apakah Moo Myung sudah meninggal dunia. Tapi In Jwa memberitahunya bahwa Moo Myung masih hidup. 


Ternyata Moo Myung mendekam di penjara dan hari ini dia mendapat sepucuk surat yang berbunyi 'turunkan raja palsu dan tempatkan raja yang asli'.


In Jwa yakin kalau Moo Myung mungkin akan dimanfaatkan untuk memancingnya. Dan alasan In Jwa mencari Jin Ki adalah untuk memberitahunya bahwa rencana besar mereka sudah dimulai sekarang. In Jwa lalu memerintakan Jin Ki untuk pergi mencari Park Pil Hyun dan memberitahunya tentang masalah ini.


In Jwa sendiri kemudian pergi ke sebuah ladang tempat Jeong sedang bertani. Begitu melihat In Jwa, para petani yang lain langsung berkumpul. In Jwa lalu bertanya apakah Jeong sudah siap. Jeong mengaku bahwa selama ini dia bukan cuma bertani tapi juga melatih ratusan orang untuk jadi prajurit.

"Kapan pemberontakannya akan dimulai?"

"Sudah dimulai. Pertama, kita akan memulainya dari kampung halamanku di Cheongju"


Para prajurit pemberontak, masing-masing mengambil sebuah pedang. Dengan dipimpin oleh In Jwa dan Jin Ki, mereka menyerang dan membunuh semua prajurit di benteng Cheongju. Ini adalah adegan pemberontakan yang kita lihat di bagian opening episode 1. Benteng Cheongju akhirnya berhasil diambil alih oleh In Jwa pada tanggal 15 Maret 1728.


Setelah In Jwa berhasil mengambil alih benteng Cheongju, dia menyuruh Jeong untuk mengambil alih Yeongnam. Sama seperti In Jwa, Jeong juga sukses mengambil alih Yeongnam dengan mudah. In Jwa juga memerintahkan Park Pil Hyun untuk mengambil alih daerah Honam.


Di istana, Raja sedang jalan-jalan bersama putra kecilnya. Di tengah jalan, mereka berpapasan dengan Ibu Suri Seonui. Walaupun Ibu Suri tersenyum manis dan ramah pada Putra Mahkota, tapi hubungannya dengan Raja Yeongjo tampak jelas tidak baik. Ibu Suri tampak sangat dendam pada Raja Yeongjo saat dia teringat kembali kematian Raja Gyungjong.


Berita tentang benteng Cheongju yang telah jatuh ke tangan In Jwa, akhirnya sampai pada Raja. Raja lalu memerintahkan pengawalnya untuk memanggil Che Gun.


Pada saat yang bersamaan, Yeon Hwa juga mendengar beberapa pria di jalan sedang menggosipkan benteng Cheongju yang diambil alih oleh para pemberontak.


Dia lalu pergi menemui Dae Gil yang juga sudah mendapat kabar benteng lain yang jatuh ke tangan pemberontak. Yeon Hwa bertanya-tanya apa yang akan Dae Gil lakukan. Walaupun tahu semua ini adalah ulahnya In Jwa, tapi Man Geum memperingatkan Dae Gil untuk tidak melakukan apapun, In Jwa sudah tidak ada hubungan apapun lagi dengan mereka, lagipula mereka sudah pernah berjanji untuk melupakan segalanya.

Seol Im tak sependapat dengan Man Geum. Kalau para pemberontak itu menang maka rakyat juga yang akan menderita. Tapi Dae Gil lebih setuju dengan ayahnya. Dia sudah bukan prajurit lagi jadi lebih baik dia tidak terlibat. Tapi bagaimanapun, dia akan tetap bersiaga.


Che Gun datang tak lama kemudian. Semua orang senang bertemu kembali dengannya. Tapi Dae Gil tahu bahwa kedatangan Che Gun pasti karena In Jwa. Che Gun memberitahu Dae Gil bahwa setelah benteng Cheongju jatuh ke tangan musuh, beberapa rakyat jelata yang mendukung In Jwa dibunuh secara massal oleh beberapa prajurit istana.

"Apa itu perintah Raja?"

"Ini bukan kehendak raja. Tapi apa kau tak ingin mengakhiri takdir pahit dengan In Jwa ini?"

Bersambung ke episode 22 - 2

2 comments :

  1. Ditunggu kelanjutannya segera.. semangaaaatttt...

    ReplyDelete
  2. Ditunggu kelanjutannya segera.. semangaaaatttt...

    ReplyDelete