June 11, 2016

Jackpot Episode 20 - 2


Dae Gil pergi ke alamat yang diberikan anak buah Man Geum. Begitu Dae Gil tiba di sana, dia langsung disambut hangat oleh warga yang menghuni daerah itu dan dielu-elukan bagai seorang raja, terutama karena orang-orang itu adalah orang-orang yang selama ini pernah ditolong Dae Gil.


Dae Gil akhirnya bertemu Man Geum yang menyambutnya dengan senyum. Lalu bersama-sama, mereka melihat kehidupan warga desa yang rukun dan damai.

"Mereka semua adalah rakyatmu," ujar Man Geum

"Apa ayah mengumpulkan orang-orang ini untuk membantu mereka hidup?"

"Kenapa aku harus melakkan hal sesusah itu? Mereka bukan orang-orang yang akan datang hanya karena aku memanggil mereka. Bagi mereka, kau adalah orang-orang yang telah menyelamatkan hidup mereka. Karena kaulah yang menyelamatkan mereka saat negeri ini berpaling mengabaikan mereka. Sekarang kau mengerti, bukan? Inilah kenapa hidupmu bukan lagi milikmu sendiri"



Tapi saat mereka duduk bersama kemudian, Dae Gil memberitahu ayahnya kalau dia tidak ada rencana untuk menjadi raja jadi dia meminta Man Geum untuk menyuruh semua orang itu kembali. Tapi Man Geum tidak bisa melakukan itu, orang-orang itu tak punya tempat untuk dituju dan mereka tidak akan pergi hanya karena dia menyuruh mereka pergi.

"Jadi ayah menyuruhku untuk melakukan pemberontakan?"

Man Geum membenarkannya dan mengklaim itu adalah takdirnya Dae Gil sebagai keturunan kerajaan. Dae Gil bertanya-tanya apa yang sebenarnya Man Geum lakukan di tempat ini. Man Geum memberitahu Dae Gil bahwa dia adalah ketua semua pedagang dari delapan kota.

Dia lalu memberitahu Dae Gil bahwa saat ini dia tengah mengincar seorang pria bermarga park yang tinggal di Honam, pria itu adalah partnernya In Jwa. Tapi dia memperingatkan Dae Gil untuk merahasiakan hal ini sampai orang itu muncul.


Chang Jib merasa tak tenang karena anehnya segalanya berjalan terlalu mulus bagi mereka. Tapi sepertinya hanya Chang Jib saja yang merasa seperti itu, para menteri noron lainnya malah senang. Dugaan In Jwa ternyata benar, para menteri noron sekarang mulai tamak, bahkan sampai mengusulkan agar mereka menjadikan Pangeran Yeoning sebagai Putra Mahkota Regen. Tapi Chang Jib tak setuju.


Chang Jib lalu pergi menemui Pangeran Yeoning untuk menyampaikan kabar ini. Tentu saja Pangeran Yeoning tak setuju dengan usul para menteri noron itu, memaksa Raja untuk menjadikannya sebagai putra mahkota saja menurutnya terlalu dini dan sekarang mereka malah ingin menuntut Raja untuk menjadikannya sebagai regen.

Chang Jib meyakinkan Pangeran Yeoning untuk tidak cemas karena dia telah menolak usul itu. Tapi dia tak setuju dengan pendapat Pangeran Yeoning tentang penobatan dirinya yang terlalu dini. Menurutnya menjadikan Pangeran Yeoning sebagai putra mahkota sekarang sudah tepat karena raja tak punya keturunan dan sakit-sakitan.

"Suatu hari, anda akan menjadi raja yang kuat. Anda harus menduduki tahta itu"

Chang Jib mengaku bahwa dia telah berjanji pada mendiang Choi Sukbin bahwa dia akan selalu melindungi Pangeran Yeoning. Dan sekarang, Chang Jib berjanji pada Pangeran Yeoning bahwa dia akan berusaha dengan segala cara untuk memenuhi janjinya itu.


Pangeran Yeoning sedang merenungkan kata-kata Chang Jib saat Dae Gil datang dan mengucap selamat atas penobatannya. Dae Gil datang untuk menjawab pertanyaan Pangeran Yeoning yang waktu itu, tentang apakah dia akan menolak jika rakyat mengulurkan tangan padanya.

"Saya tidak akan bisa menolak mereka. Rakyat yang membutuhkan bantuan, saya tidak punya keberanian untuk menolaknya. Tapi saya menyadari sesuatu, untuk melindungi rakyat negeri ini, saya tidak membutuhkan tahta. Saya akan berusaha melakukan yang terbaik untuk menjaga rakyat dengan jabatan saya"

"Apa hanya itu yang kau inginkan?" tanya Pangeran Yeoning tak percaya

"Itu adalah harapan terbesar saya" jawab Dae Gil

Dalam hatinya, Dae Gil meminta Pangeran Yeoning untuk mempercayainya, bukan demi kepentingannya sendiri tapi demi kepentingan Yeoning. Pangeran Yeoning akhirnya menyatakan kalau dia akan mengabulkan keinginan Dae Gil itu dan mempercayai Dae Gil.

Tapi setelah Dae Gil pergi, Pangeran Yeoning tetap merasa sedih. Karena Dae Gil telah menemukan jalan untuk menolong rakyat sementara dia sendiri belum tahu jalan mana yang harus diambilnya. Di luar, Dae Gil berjanji pada mendiang ibunya bahwa dia akan melindungi adiknya.


Terlepas dari ketidaksetujuan Chang Jib, para menteri noron tetap nekat melakukan aksi diam-diam membuat petisi untuk menjadikan Pangeran Yeoning sebagai regen. Tentu saja saat Raja membaca petisi itu, dia langsung marah besar.

"Apa kalian tidak menganggapku sebagai raja? Seberapa banyak lagi aku harus mengalah?!"

Para menteri menyangkalnya dan mengklaim kalau tujuan mereka hanya supaya tidak terjadi perselisihan di istana seperti yang dulu pernah terjadi saat Raja Myeongjong wafat tanpa menunjuk penerus tahta. Marah, Raja langsung memerintahkan mereka keluar.


Di luar, mereka dihadang oleh Chang Jib yang langsung bertanya apa yang telah mereka lakukan. Apa mereka tidak tahu siapa orang yang berada di belakang Raja. Apa yang telah mereka lakukan ini, bisa saja membuat Pangeran Yeoning terluka di tangan In Jwa nantinya. Saat para menteri noron itu meremehkan peran In Jwa di istana, Chang Jib langsung mengatai mereka semua bodoh.


Saat Pangeran Yeoning menghadap Raja, Raja langsung marah besar padanya. Pangeran Yeoning membela diri karena dia benar-benar tak tahu menahu tentang ulah para menteri itu. Tapi bagaimanapun, dia merasa para menteri itu tidak salah. Karena kenyataannya, Raja memang tak punya ahli waris.

"Apa perasaanmu yang sebenarnya? Apa kau benar-benar menginginkan tahta?" tanya Raja "Aku tanya apa kau menginginkan singgasana ini?"


Entah apa jawaban Yeoning karena kita langsung dialihkan pada In Jwa yang sedang berbincang dengan Moo Myung, membicarakan Yeoning dan Dae Gil. Saat Moo Myung bertanya apa yang akan In Jwa lakukan pada Dae Gil, In Jwa tidak ingin buru-buru. Menurutnya, lebih baik fokus menghadapi musuh satu per satu.


Hong Mae tiba-tiba datang ke rumahnya Dae Gil. Dia datang untuk menyerahkan sumpah darah yang asli.


Dalam flashback, ternyata sebelum Moo Myung datang, Dae Gil mendatangi Hong Mae duluan dan memperingatkannya kalau In Jwa akan membunuhnya. Dia terus terang mengaku bahwa tujuannya mendatangi Hong Mae karena dia menginginkan sumpah darah itu. Tapi dia mengklaim kalau dia berbeda dari In Jwa, dia tidak akan pernah membunuh anak buahnya sendiri.


Setelah itu, Dae Gil membawa sumpah darah itu ke Che Gun yang menyarankannya untuk bergegas jika Dae Gil berniat menangkap In Jwa dengan bukti sumpah darah itu. Karena saat ini, situasi di istana sedang sangat tegang setelah ulah para menteri noron yang menginginkan Yeoning sebagai regen dan membuat Raja marah besar.

Dae Gil menduga kalau semua ini pasti ulahnya In Jwa. Che Gun tak tahu, tapi jika situasi ini memburuk maka Yeoning lah yang akan bermasalah. Karena itulah, Dae Gil harus menemui Raja besok dan memberitahu kebenarannya secepat mungkin.


In Jwa mengumpulkan para menteri soron dan memberitahu mereka bahwa dia mulai besok dia berencana menyingkirkan semua menteri noron sekaligus. Dia lalu menyuruh masuk seorang pria bernama Mok Ho Ryong yang berasal dari faksi noron.


Orang inilah yang akan In Jwa jadikan senjata untuk menyingkirkan noron, dia akan menyerang mereka dengan menggunakan orang dalam noron sendiri yang akan mengkhianati mereka.

"Besok saya akan melaporkan pada Raja bahwa faksi noron berencana melakukan pemberontakan melawan Raja" ujar Ho Ryong

"Apa yang kuinginkan dari kalian adalah aku ingin kalian mendukung Mok Ho Ryong"


Tengah malam, Raja tersentak bangun dengan keringat dingin dan gemetaran hebat. Tiba-tiba dia melihat sosok pembunuh tengah menghunus pedang di luar jendelanya. Dia langsung berteriak memanggil penjaga yang langsung masuk begitu mereka dipanggil, tapi tepat saat itu juga sosok itu menghilang begitu saja seolah tak pernah ada.


Keesokan paginya, para dayang menyajikan sarapan untuk Raja. Tapi pencicip makanan raja tiba-tiba muntah-muntah setelah mencicipi makanan itu. Raja jadi semakin ketakutan karenanya. Dan gara-gara hal itu pula, rapat pagi dibatalkan.


Para menteri langsung geger dan Pangeran Yeoning jadi cemas. Sementara itu di luar istana, Dae Gil tiba-tiba berhenti berjalan lalu memegangi dadanya. Sepertinya dia merasakan ikatan batin dengan Pangeran Yeoning dan merasakan kecemasan Yeoning.


Sesampainya di istana, Dae Gil diberitahu Che Gun bahwa makanan raja diracuni. Dae Gil yakin kalau ini pasti ulahnya In Jwa lalu pergi untuk menemui Raja. Tapi kedua kasim raja menghadangnya dan melarangnya masuk.


Sama seperti Dae Gil, Pangeran Yeoning pun dilarang mengunjungi raja oleh para menteri noron. Mereka takut kalau Pangeran Yeoning akan disangkut pautkan dengan insiden peracunan makanan raja, jadi lebih baik Pangeran Yeoning menjauh dan berdiam diri saja di kediamannya.


Dae Gil menemui Chang Jib karena dia ingin bertemu Pangeran Yeoning tapi Chang Jib melarangnya. Saat Dae Gil berkata kalau In Jwa lah orang dibalik kasus makanan beracun raja, Chang Jib mempercayainya.

Tapi Chang Jib tetap bersikeras melarang Dae Gil menemui Yeoning. Chang Jib menyatakan bahwa dia dan para menteri faksi noron lah yang akan melindungi Pangeran Yeoning.


Pembunuh semalam dan juga kasus makanan beracun adalah idenya In Jwa. Sekarang karena langkah satu dan dua sudah sukses dijalankan, lalu apa langkah terakhir In Jwa? tanya Il Kyung.

"Rumor" jawan In Jwa

Ada sebuah rumor yang sudah beredar luas di dalam istana, rumor tentang wasiat mendiang raja yang menunjuk Yeoning sebagai penerus tahta. Semua orang di istana sudah mendengarnya, termasuk raja sendiri. Jadi sekarang saatnya memulai rencana selanjutnya.


Il Kyung menawarkan diri untuk menemui raja bersama Mok Ho Ryong dan menyerahkan laporan yang menyatakan bahwa noron lah yang bertanggung jawab atas pembunuh, racun dan juga gosip untuk menjatuhkan Raja.

Ho Ryong juga mengklaim bahwa Yeoning juga terlibat dalam pemberontakan. Raja mempercayai mereka dan langsung memerintahkan agar semua menteri noron ditangkap sekarang.


Sementara untuk Yeoning, Raja langsung mengambil pedangnya lalu pergi ke kediaman Yeoning. Dae Gil kebetulan lewat dan melihat Raja masuk ke kediaman Pangeran Yeoning dengan membawa sebilah pedang. Cemas, Dae Gil ingin masuk tapi para prajurit raja dan In Jwa menghadangnya.

Sambil mengklaim kalau dia sedang melakukan perintah raja, In Jwa memerintahkan para prajurit untuk menangkap Dae Gil. Saat Dae Gil hendak menghunus pedang, In Jwa mengingatkannya untuk tidak menghunus pedang di istana dan membiarkan para prajurit menangkapnya. In Jwa meyakinkan Dae Gil bahwa tidak akan terjadi apapun padanya.


Che Gun datang tepat saat itu juga dan menyuruh Dae Gil untuk segera pergi menemui Raja sekarang. In Jwa langsung marah pada Che Gun tapi Che Gun tak gentar dengan gertakan In Jwa karena dia tak percaya dengan klaim In Jwa tentang perintah kerajaan. Kesal, In Jwa bersumpah kali ini segalanya tidak akan berakhir dengan mudah.


Pangeran Yeoning kaget saat tiba-tiba saja menerobos masuk sambil menghunus pedang padanya dan menuntut apakah benar Dae Gil melakukan pemberontakan. Raja menuntut Yeoning untuk mengaku saja kalau dia memang menginginkan tahtanya, dengan begitu dia akan merasa lebih tenang untuk membunuh Yeoning.

Dengan mata berkaca-kaca, Raja mengayunkan pedangnya untuk membunuh Yeoning. Teepat saat itu juga, Dae Gil datang dan langsung berlutut memohon pada Raja untuk mengampuni Yeoning. Tapi Raja tak peduli dan langsung mengayunkan pedangnya sekali lagi.


Tapi Dae Gil bergerak cepat menamengi Pangeran Yeoning. Raja menyuruhnya minggir tapi Dae Gil menyatakan kalau Raja harus membunuhnya terlebih dulu jika raja ingin membunuh Pangeran Yeoning.


"Kau akan mengorbankan hidupmu? Kenapa? Apa kau juga terlibat dalam aksi pemberontakan? Baek Dae Gil, apa sebenarnya tujuanmu yang sebenarnya? Kau mendorong Yi In Jwa menjauh dan mendorongku menjauh. Apa kau berencana menjadikannya (Yeoning) sebagai raja?"

Dae Gil menyangkal tapi sangkalannya malah membuat Raja semakin marah "Atau apa kau pikir karena kita semua berasal dari satu garis keturunan, aku akan membiarkan kalian dua bersaudara hidup?"

Dae Gil dan Pangeran Yeoning sama-sama tercengang menyadari Raja ternyata tahu hubungan darah antara mereka berdua.


Raja bersumpah akan mengakhiri hubungan mereka lalu mendorong Dae Gil sebelum dia meraung dan mengayunkan pedangnya untuk membunuh Pangeran Yeoning.

Bersambung ke episode 21

No comments :

Post a Comment