June 9, 2016

Jackpot Episode 20 - 1


Putra Mahkota Yoon bersama permaisurinya berjalan menuju tahta dalam acara penobatannya sebagai Raja Gyungjong, Raja Joseon yang ke-20. Dae Gil dan Che Gun melihat acara penobatan ini dari luar gerbang istana.

Kim Chang Jib membacakan pengumuman penobatan Putra Mahkota Yoon sebagai raja baru yang kemudian disambut oleh elu-eluan para menteri "Hidup Raja! Hidup Raja! Hidup Raja!"



Setelah itu, Dae Gil menemui Jeong di penjara. Jeong bisa menduga kalau kedatangan Dae Gil pasti untuk mencari bukti yang bisa dia gunakan untuk menjerat In Jwa. Dae Gil membenarkannya, Jeong sudah pasti tidak akan bekerja sama dengan In Jwa tanpa rencana cadangan. Jadi dimana bukti itu? tuntut Dae Gil.

"Kenapa aku harus menyerahkan takdirku padamu?!" seru Jeong penuh amarah.

Tentu saja reaksi Jeong itu membuat Dae Gil semakin yakin kalau bukti perjanjian darah itu memang ada. Dia langsung menantang Jeong "Apa mau bertaruh? Apakah aku akan menemukannya atau tidak?"


Setelah acara penobatan usai, Raja Gyungjong duduk di singgasana raja. In Jwa berlutut di hadapannya dan menyatakan betapa terharunya dia melihat Raja akhirnya duduk di atas singgasana. Raja berkomentar kalau In Jwa benar-benar telah menepati janjinya untuk membantunya naik tahta. Tapi Raja mulai cemas saat teringat akan janjinya sendiri bahwa dia akan memberikan tahta pada In Jwa jika In Jwa membantunya naik tahta.

"Dulu kau bilang kalau kau hanya akan menerima ketulusan hatiku. Apa kau masih merasa seperti itu?" tanya Raja

"Yang mulia, janji yang kubuat untuk mengikutimu masih belum berubah sedikitpun. Aku berjanji padamu dengan nyawaku sebagai taruhannya"


Tepat saat Dae Gil hendak keluar dari penjara, Pangeran Yeoning datang. Mereka berdua saling menatap sebelum akhirnya mereka beralih ke arena latihan panah. Karena tadi Dae Gil membuat taruhan dengan Jeong, Pangeran Yeoning bertanya apakah Dae Gil juga mau bertaruh dengannya juga.


Aturannya mereka harus bertanding panahan. Jika Dae Gil menang maka Pangeran Yeoning berjanji akan membelikannya arak dan mengabulkan keinginan Dae Gil juga. Tapi jika Dae Gil kalah maka Dae Gil harus memberitahunya tentang segalanya.

Dae Gil harus memberitahunya tentang perasaan Dae Gil yang sebenarnya (sehubungan dengan tahta). Tanpa mengatakan apapun, Dae Gil mengambil busur dan anak panahnya lalu menembak tepat sasaran.



Setelah itu, mereka berdua duduk bersama di meja makan. Dae Gil bertanya-tanya "Sejak kapan segalanya jadi kacau seperti ini. Apa kau sungguh-sungguh percaya kalau aku tertarik pada tahta?"

"Jadi kau tidak tertarik?" tanya Pangeran Yeoning.

Dia bertanya-tanya apakah Dae Gil akan menolak jika rakyat negeri ini mengharapkan Dae Gil menjadi raja. Pangeran Yeoning menggambarkan raja sebagai bapak negeri, pondasi negara, pohon dengan akar yang kuat dan orang yang hidup demi rakyat.

Tapi Dae Gil tidak setuju. Baginya, pondasi sebuah negara adalah rakyat. Karena itulah rakyat harus hidup dan makan dengan baik agar mereka menjadi kuat. Sekarang ini mereka duduk di meja makan dengan dikelilingi banyak makanan enak sementara di luar sana masih banyak rakyat yang kelaparan.


"Memikirkan orang-orang itu, aku tidak bisa makan semua ini" ujar Dae Gil.

Pangeran Yeoning makin lama makin kesal mendengarnya "Bukankah sudah kubilang, bekerja untuk rakyat adalah pekerjaan raja"

Jadi apa karena alasan itu, Pangeran Yeoning menutup-nutupi kematian Pangeran Yeonryung? Demi rakyat? Demi kedamaian negeri ini? tuntut Dae Gil. Dia mengaku bahwa tadi saat mereka bertanding, dia sebenarnya ingin mengalah.

Tapi dia bimbang apakah dia harus mengalah karena dia bawahan Yeoning ataukah karena dia hyung-nya Yeoning. Tapi pada akhirnya dia memutuskan untuk menang dengan cara menembakkan semua anak panahnya tepat sasaran. Dia memutuskan untuk menang karena dia memiliki sebuah keinginan yang harus Yeoning kabulkan.

"Percayalah padaku. Bukan demi kebaikanku, tapi demi kebaikanmu. Itulah keinginanku"

Dae Gil menyatakan bahwa mulai sekarang dia akan menggunakan tata krama yang benar pada Pangeran Yeoning lalu pamit pergi. Tapi setelah Dae Gil pergi, Pangeran Yeoning berpikir kalau dia tidak bisa mengabulkan keinginan itu karena dia tidak bisa mempercayai Dae Gil.


Dae Gil sedang merenung menatap langit saat Che Gun datang dan bertanya apakah Dae Gil merasa frustasi. Mengetahui ketidakpercayaan yang mulai tumbuh dalam diri Dae Gil dan Pangeran Yeoning terhadap satu sama lain, Che Gun memberi peringatan pada Dae Gil "Percikan kecil dalam hatimu, bisa menjadi api yang besar. Kalian bisa saling menyerang dalam sebuah perkelahian, tapi jangan berjauhan dengan saling curiga"

Dae Gil tahu itu, tapi baginya tidak masalah karena dia takkan rugi apapun. Tapi perasaan Yeoning pasti tak sama karena dia bisa kehilangan banyak hal. Lalu apa rencana Dae Gil sekarang? tanya Che Gun.

"Apa lagi? Aku harus menangkapnya (In Jwa)" jawab Dae Gil.


Sementara itu In Jwa sedang dibantu Hwang Gu memakai pakaian barunya. Moo Myung dan Jin Ki kembali tak lama kemudian dan melapor bahwa mereka tidak berhasil menemukan keberadaan perjanjian darah itu di tempat persembunyian Jeong.


In Jwa pun akhirnya pergi menemui Jeong di penjara. Saat In Jwa menyindirnya karena terlalu mempercayai Dae Gil hingga dia mendapat masalah sendiri, Jeong berkata kalau In Jwa sendiri bukan orang yang bisa dipercaya. In Jwa berkata bahwa dia sebenarnya ingin mengeluarkan Jeong tapi dia tidak bisa melakukan itu.

Sambil menunjukkan bekas luka sayatan yang dia gunakan saat melakukan sumpah darah, Jeong bertanya apakah In Jwa berencana untuk mengkhianatinya. In Jwa menyangkalnya dengan meyakinkan Jeong bahwa dia akan berusaha melakukan apapun untuk mengeluarkan Jeong dari penjara.

Tapi tetap saja Jeong tidak mempercayainya begitu saja dan tidak mau menyerahkan surat perjanjian darah itu. Karena surat perjanjian darah itu adalah satu-satunya jalan baginya untuk bertahan hidup jika sewaktu-waktu In Jwa berbalik mengkhianatinya.


Di tengah jalan, Dae Gil melihat seorang pengemis yang tengah berusaha keras meminta-minta pada para pejalan kaki. Melihat itu, Dae Gil teringat pesan Man Geum. Waktu itu Man Geum memberinya koin nyang pecah dan memberitahu Dae Gil bahwa jika Dae Gil ingin bertemu dengannya maka Dae Gil hanya perlu memberikan koin nyang pecah itu pada seorang pengemis di jalanannya.

Dae Gil melempar koin nyang pecah itu ke mangkok si pengemis. Si pengemis langsung mencocokkannya dengan pecahan koin nyang miliknya sendiri. Dae Gil lalu melemparkan sebuah kertas kedalam mangkoknya.


Secara diam-diam surat itu kemudian berpindah tangan pada seseorang yang kemudian diserahkan pada Man Geum. Setelah membacanya, Man Geum langsung membakar surat itu.


Beberapa anak buah Man Geum berpencar membuntuti Hong Mae dan mengintai gibang-nya Hwang Gu. Sementara kita mendengar Man Geum menasehati Dae Gil bahwa Hong Mae itu tidak begitu pintar dan orang yang harus Dae Gil waspadai adalah Hwang Gu karena Hwang Gu lah yang benar-benar memiliki kekuatan.

In Jwa sedang berjalan bersama Moo Myung dan Jin Ki saat tiba-tiba saja dia berhenti karena mencurigai seorang pejalan kaki. Tapi pejalan kaki itu tetap santai berjalan melewatinya begitu saja. Tentu saja si pejalan kaki itu adalah anak buahnya Man Geum yang bertugas mengawasi In Jwa.


In Jwa pergi ke kasinonya Hong Mae yang sekarang sepi pengunjung dan melabrak Hong Mae atas pengkhianatannya. In Jwa mengingatkan Hong Mae bahwa Hong Mae pernah berjanji akan melakukan 3 hal untuknya dengan syarat In Jwa mengembalikan kasinonya.

"Dimana kontrak perjanjian yang Jeong tinggalkan padamu?" tanya In Jwa


Dalam flashback, Jeong ternyata memang menyerahkan surat perjanjian darah itu pada Hong Mae. Jeong memberitahu Hong Mae bahwa surat perjanjian itu bisa menjadi sebuah tali yang bisa dia gunakan untuk menjerat In Jwa karena hidup In Jwa sekarang bergantung pada surat perjanjian darah itu.


In Jwa berjanji akan memberikan uang yang sangat banyak jika Hong Mae menyerahkan surat perjanjian darah itu padanya. Hong Mae menolak, uang tidak berguna lagi sekarang setelah dia tahu kalau hidup In Jwa bergantung pada perjanjian darah itu.

In Jwa langsung menghunus pedang ke leher Hong Mae dan memperingatkan Hong Mae bahwa dia akan membiarkan Hong Mae hidup hanya jika dia menyerahkan surat itu. In Jwa memutuskan bahwa dia akan memberi Hong Mae waktu sampai besok.


Anak buah Man Geum melapor bahwa In Jwa pergi menemui Hong Mae. Dae Gil berterima kasih atas informasinya dan bertanya apakah ayahnya baik-baik saja. Sebagai jawabannya, orang itu menyerahkan sebuah kertas berisi informasi tempat.

"Setelah kau selesai, pergilah ke tempat yang tertera di kertas itu. Kau akan bisa bertemu Man Geum" kata anak buahnya Man Geum.


In Jwa sekarang menjadi pejabat di istana. Saat tengah berjalan di istana, In Jwa bertemu dengan Dae Gil. In Jwa menyapa Dae Gil dengan senang. Tapi Dae Gil hanya menjawabnya dengan memperingatkan In Jwa untuk menikmati jabatannya selama dia masih bisa "Sayapmu akan segera terpotong"

In Jwa hanya menanggapinya dengan senyum. In Jwa memberitahu Dae Gil bahwa dia memiliki rencana yang sudah dipersiapkannya cukup lama lalu menasehati Dae Gil untuk mempersiapkan diri "Bersiap-siap menjadi raja"


In Jwa lalu berjalan pergi sambil memberi tepukan di bahu Dae Gil. Dan belum seberapa jauh dia berjalan, dia berpapasan dengan Pangeran Yeoning. Sepertinya Pangeran Yeoning jadi semakin mencurigai Dae Gil setelah menyadari kalau Dae Gil baru saja bicara dengan In Jwa. Setelah melihat kedua saudara itu pergi ke arah berlawanan, In Jwa memerintahkan Moo Myung untuk melaksanakan rencana mereka.


Dae Gil dipanggil menghadap Raja yang ingin memberikan penghargaan atas jasa Dae Gil (menangkap Jeong). Tapi Dae Gil merasa tak pantas mendapatkan jabatan pemerintahan karena dia masih belum bisa menangkap orang yang bekerja sama dengan Jeong. Dae Gil secara terang-terangan mengklaim bahwa orang yang dimaksudnya adalah In Jwa.

"Apa kau yakin?" tanya Raja "Aku tanya apa kau bisa mempertanggung jawabkan ucapanmu itu?"

"Bagaimana mungkin hamba berani berbohong di hadapan anda? Saya akan mencari bukti akan fakta ini"

"Yi In Jwa adalah guruku. Jika Yi In Jwa terbukti bukan pemberontak maka kau harus membayarnya dengan nyawamu karena telah mempermalukan raja"

Dae Gil mengerti tapi dia juga memiliki sebuah permintaan "Yang Mulia, tolong tunda hukuman Pemberontak Jeong sementara waktu. Pada akhirnya Yi In Jwa pasti akan menampakkan jati dirinya yang sebenarnya"


Tak lama setelah Dae Gil, In Jwa datang menemui Raja. Tujuan kedatangannya kali ini adalah untuk membahas Pangeran Yeoning. In Jwa menyarankan agar Raja menunjuk Pangeran Yeoning sebagai putra mahkota.

Sarannya ini didasarkan karena Raja tak punya ahli waris, lagipula faksi noron pasti akan mencoba memasukkan namanya sebagai penerus tahta. Jika Raja memberikan apa yang mereka inginkan maka Raja akan bisa menentukan dengan jelas siapa saja musuhnya.


Saat itu juga, para menteri faksi noron tengah mendiskusikan hal yang sama. Kesehatan Raja semakin menurun dan dia juga tak punya keturunan. Tepat saat salah satu menteri hendak mengusulkan pada Chang Jib agar Raja menjadikan Pangeran Yeoning sebagai penerusnya, In Jwa tiba-tiba datang dan mengusulkan hal yang sama.

"Kalian harus berusaha untuk menjadikan Yeoning sebagai penerus tahta. Aku akan membantu kalian sebisaku"

Tentu saja fakta bahwa In Jwa mendukung ide mereka itu, terasa sangat mencurigakan bagi Chang Jib. In Jwa dengan rendah hati berkata bahwa semua keputusan ada di tangan mereka lalu pamit pergi. Perasaan Chang Jib tak enak dengan dukungan In Jwa yang tiba-tiba itu, tapi para menteri noron merasa ini adalah kesempatan yang bagus.


Chang Jib akhirnya setuju. Saat rapat bersama Raja, Chang Jib hendak mengutarakan usul mereka. Tapi Raja sudah bisa menebak apa yang ingin mereka utarakan. Raja lalu berpaling pada Yeoning dan menanyakan pendapatnya untuk menjadi penerus.

Tapi belum sempat Pangeran Yeoning menjawab, Raja tiba-tiba batuk-batuk. Melihat itu, Chang Jib semakin mendesak Raja untuk menunjuk penerus tahta. Il Kyung tak setuju, menurutnya Raja masih muda dan masih belum perlu menunjuk penerus.


Kedua menteri itu langsung berseteru sengit tapi Raja langsung memotong mereka dengan cepat dan mengumumkan bahwa dia akan menunjuk penerus.

"Yeoning akan menjadi penerus tahtaku" titah Raja


Hong Mae akhirnya menyerahkan gulungan surat itu pada Moo Myung. Tapi dia memperingatkan Moo Myung untuk tidak melanggar janjinya. Tapi yang tidak Hong Mae ketahui, In Jwa sudah memberi perintah pada Moo Myung untuk membunuh Hong Mae karena Hong Mae sudah bukan lagi anak buahnya.

Moo Myung langsung menghunus pedangnya. Tapi saat dia hendak menusuk Hong Mae, anak buahnya Hong Mae maju untuk melindungi Hong Mae. Moo Myung menjatuhkan mereka dengan mudah, tapi Dae Gil tiba-tiba muncul menghalau pedang Moo Myung.


Marah, Hong Mae menyatakan kalau dia tidak membutuhkan kasino ini lalu membakar surat perjanjian darah itu. Dae Gil hanya bisa diam tercengang sementara Moo Myung langsung pergi untuk melapor pada In Jwa. Tentu saja In Jwa senang karena surat itu sudah terbakar sekarang.


Tiba-tiba dia kedatangan tamu, Menteri Kim Il Kyung yang bertanya apakah In Jwa yang membujuk Raja untuk menunjuk Yeoning sebagai penerus. Saat In Jwa membenarkannya, Il Kyung bertanya apa alasan In Jwa melakukan itu. Keuntungan apa yang akan In Jwa dapatkan dengan melakukan itu? tanya Il Kyung.

"Tuan, saat kawanan binatang berkumpul maka kau menjadi buas seperti binatang. Lalu kau tidak akan lagi senang hanya dengan satu hal yang kau terima. Instingmu akan mengambil alih"

"Maksudmu, faksi noron itu seperti binatang?"

"Tidak ada akhir bagi ketamakan. Sedikit demi sedikit, kau akan menginginkan lebih. Kau bahkan tidak akan menyadari bahwa kau pada akhirnya kau akan mati"


Pangeran Yeoning akhirnya resmi dinobatkan sebagai putra mahkota. pakaiannya pun sekarang berganti jubah merah khusus putra mahkota.


Para menteri faksi noron mengucap selamat untuknya. Yeoning mengaku bahwa sebenarnya hatinya merasa semua ini beban berat baginya. Chang Jib mengerti, tanggung jawab Yeoning sebagai putra mahkota sekarang semakin bertambah dan itu adalah beban yang harus Yeoning pikul mulai sekarang.

Bersambung ke episode 20 - 2

No comments :

Post a Comment