June 5, 2016

Jackpot Episode 18 - 2


Dae Gil tak sempat menjawab karena saat itu juga Chang Jib datang dan minta bicara berdua dengan Pangeran Yeoning. Tapi pertanyaan Pangeran Yeoning terus tergiang dalam kepala Dae Gil sepanjang perjalanan pulang.




Sementara itu, In Jwa mengaku pada anak-anak buahnya bahwa dia memang sengaja menciptakan konflik diantara Pangeran Yeoning dan Dae Gil.


Chang Jib membawa Pangeran Yeoning menemui para menteri faksi noron. Mereka membawa tabib istana dan berkat dialah, mereka mengetahui tentang opium yang membuat raja pingsan. Chang Jib protes karena Pangeran Yeoning mengetahui masalah ini tapi malah merahasiakannya dari mereka dan berusaha menyelesaikannya seorang diri, apalagi In Jwa dan para anak buahnya tidak akan tertangkap dengan mudah jika Pangeran Yeoning sendirian.

Saat Pangeran Yeoning mengklaim bahwa sekarang tidak akan ada yang berubah karena tidak ada bukti, Chang Jib mengingatkan Pangeran Yeoning bahwa dia tidak sendirian di istana ini "Jangan melakukan segalanya seorang diri dan mintalah bantuan"



Sesampainya di rumah, Tuan Nam dan Seol Im menyambutnya dengan suka cita, mengucapkan selamat atas pekerjaan barunya dan memuji Dae Gil dalam seragam barunya. Tapi Dae Gil sedang tidak mood, In Jwa sudah dibebaskan jadi saat ini bukan waktunya senang. Seol Im mengaku bahwa mereka sudah tahu dan mereka hanya sedang berusaha menghibur Dae Gil saja.

"Kau bisa menangkap In Jwa kapan saja. Jangan mereka terlalu bersedih, mengerti?" ujar Tuan Nam menyemangati Dae Gil

Dalam hatinya Dae Gil berjanji "Aku tidak akan membiarkan seorang pun terluka lagi"


Raja memerintahkan Che Gun untuk membunuh In Jwa. Tapi dia tidak mau In Jwa mati dengan cara yang biadap seperti serangan diam-diam atau semacamnya, In Jwa harus dibunuh secara terang-terangan dan terbuka. Karena Che Gun akan bertindak mewakilinya.

"Karena kau adalah pedangku. Bawa kepala Yi In Jwa padaku"


Pemberontak Jeong pergi menemui In Jwa. Dari percakapan mereka terungkap bahwa Pemberontak Jeong lah pelaku dibalik opium yang membuat raja pingsan. Opium itu diharapnya bisa membunuh raja. Tapi sayangnya, dia tidak terlalu beruntung.

Pemberontak Jeong bertanya apakah In Jwa sungguh-sungguh akan menjadikan Dae Gil sebagai raja. Saat In Jwa membalikkan pertanyaan itu padanya, Pemberontak Jeong mengaku kalau dia tidak punya keinginan untuk jadi raja. Karena itulah tujuan utamanya dia kemari adalah untuk mengetes In Jwa.



In Jwa memang sangat beruntung bisa menghindari kematian dan eksekusinya. Tapi dia tidak mau bekerja sama dengan In Jwa jika yang In Jwa miliki hanya sekedar keberuntungan. Sekarang karena sudah sadar, dia ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk melihat kemampuan In Jwa yang sebenarnya. In Jwa kaget mendengar raja sudah sadar tapi dia tidak mengatakan apapun.

"Pertama, Baek Dae Gil, aku akan mengawasinya. Kedua, tidak mungkin raja akan membiarkanmu begitu saja, jadi aku akan memperhatikan reaksimu" ujar pemberontak Jeong.


Dam Seo mengunjungi makam ayahnya saat Pemberontak Jeong tiba-tiba muncul karena dia juga tahu kalau hari ini adalah hari peringatan kematian ayahnya Dam Seo. Dia mengklaim bahwa dia datang sebagai temannya Yi Soo yang punya banyak hutang budi. Dia menyalahkan dirinya sendiri atas kematian Yi Soo dan nyawa banyak orang yang jatuh dalam pemberontakan tahun 1697 yang gagal.

"Jangan menjustifikasi kematian ayahku"

"Aku tidak menjustifikasi. Seberapa banyak pun kata-kata manis yang kuucapkan, aku tidak bisa mengangkat kepalaku dihadapan mendiang ayahmu. Tapi ayahmu, Yi Soo, dan semua orang yang mati bersamanya. Aku selalu memikirkan impian mereka dan keringat dan darah yang mereka tumpahkan. Sekarang adalah saatnya menyelesaikan rencana besar, hanya itulah cara untuk menenangkan jiwa-jiwa mereka"

Dengan mata berkaca-kaca, Dam Seo berkata kalau In Jwa tidak pernah sekalipun datang kemari untuk meminta maaf. Tapi Pemberontak Jeong mengklaim kalau In Jwa hanya menunggu saat dimana dia berhasil mencapai rencananya, baru setelah itu dia akan memohon maaf pada ayahnya Dam Seo.

Saat Dam Seo tak mempercayainya, Pemberontak Jeong menyuruh Dam Seo untuk mengingat In Jwa sebagai guru yang telah menjaganya. Bagi In Jwa, mungkin hanya Dam Seo satu-satunya yang dia miliki. Tapi saat ini Dam Seo harus berpikir cepat karena Che Gun akan membunuh In Jwa.


Sementara itu, In Jwa merenung memikirkan ucapan Pemberontak Jeong yang berkata kalau dia akan mengirimkan sebuah hadiah kecil untuk In Jwa. Moo Myung cemas mungkin raja akan bergerak sekarang. In Jwa pun merasa cemas lalu memerintahkan anak-anak buahnya untuk mengepak barang-barang mereka sekarang juga.


Tapi belum sempat bergerak, Che Gun menerobos masuk, membunuh penjaga rumah In Jwa dan menyatakan pada In Jwa bahwa dia datang membawa perintah kerajaan untuk memenggal kepala In Jwa.


Dae Gil sedang makan malam bersama Tuan Nam dan Seol Im. Tapi tiba-tiba dia merasakan kehadiran seseorang lalu menyuruh Tuan Nam dan Seol Im masuk rumah. Sementara itu di istana, Raja batuk-batuk dan mulai kesulitan bernapas.


Jin Ki langsung maju menghadapi Che Gun. Mereka saling menebas pedang pada satu sama lain. Saat Jin Ki hampir saja kalah, Moo Myung langsung maju. Mereka menyerang Che Gun bersama-sama, tapi Che Gun berhasil melukai perut Jin Ki. Tapi saat dia hendak membunuh Jin Ki, Moo Myung berhasil menghalaunya.


Che Gun dan Moo Myung bertarung tapi saat mereka saling menghunus pedang pada satu sama lain, hanya Che Gun yang berhasil melukai Moo Myung.

 

Jin Ki melompat maju menyerang Che Gun tapi Che Gun berhasil menghindari serangannya lalu menyerang balik hingga menyayat perut Jin Ki lagi. In Jwa bergerak cepat mengambil pedang tepat saat Che Gun melompat naik menyerangnya dan menusukkan pedang ke dadanya In Jwa.


Dae Gil merasakan kehadiran seseorang yang tiba-tiba saja muncul dan menyerang Dae Gil. Tapi Dae Gil berhasil menghindar dan menyerang balik hingga dia mengalahkan orang itu. Orang itu bernama Jang Gil San. Dae Gil lalu bertanya kemana Dam Seo pergi.


Che Gun hendak memeganggal kepala In Jwa tapi tepat saat itu juga, dia merasakan kehadiran seseorang yang menyerangnya dengan anak panah. Dia berhasil menghindar dan Dam Seo muncul untuk melindungi In Jwa.

Ternyata dia datang karena terpengaruh kata-kata Pemberontak Jeong. Dan saat dia teringat bagaimana dulu In Jwa pernah berkata bahwa Dam Seo adalah putrinya, hidupnya dan segalanya. Dam Seo memutuskan untuk melupakan segalanya.

"Jika kau ingin membunuh guru maka kau harus membunuhku terlebih dulu"

"Kalau kau tidak ingin kehilangan nyawamu sendiri, minggir sekarang juga"


Che Gun menampik busur panahnya Dam Seo tapi Dam Seo langsung menjadikan dirinya sendiri sebagai tamengnya In Jwa. Dae Gil tiba saat itu juga dan berusaha untuk menghentikan semua ini.


Che Gun terdiam ragu tapi tiba-tiba Dam Seo menarik pedangnya Che Gun lalu menancapkannya sendiri kedalam tubuhnya. Semua orang shock. Dengan mata berkaca-kaca, Dam Seo memohon pada Che Gun untuk menghentikan semua ini.


Dam Seo terjatuh. In Jwa tercengang, sama sekali tidak mengerti kenapa Dam Seo melakukan ini untuknya. Dam Seo mengaku kalau dia sangat dendam pada In Jwa. Dia sangat membenci orang yang membunuh ayahnya. Tapi sekarang, dia ingin berhenti. Berhenti membenci In Jwa dan berhenti meminta permohonan maaf In Jwa pada ayahnya. In Jwa dengan panik memohon agar Dam Seo tidak mati.


Dam Seo berpaling menatap Dae Gil. Dengan berlinang air mata, dia berpikir bagaimana bisa dia sejauh ini "Seharusnya sejak awal aku meminta maaf dengan nyawaku"


Dam Seo pun menutup mata selama-lamanya. In Jwa menangis sedih dan saat Che Gun mengarahkan pedang padanya, dia berteriak menyuruh Che Gun untuk membunuhnya saja sekarang. Tapi tepat saat Che Gun hendak membunuh In Jwa, dae Gil melempar lencana penyelamat nyawa sebagai permintaan untuk melepaskan In Jwa.


"Apa kau benar-benar akan menggunakannya untuk menyelamatkannya?"

"Kau pernah bilang kan guru? Ada pedang yang digunakan untuk membunuh orang dan ada pedang yang digunakan untuk menyelamatkan orang. Sekali ini saja, selamatkan dia sekali ini saja. Dam Seo mengorbankan nyawanya untuknya"

Che Gun akhirnya menuruti Dae Gil tapi dia memperingatkan Dae Gil bahwa Dae Gil pasti akan menyesal karena telah membiarkan In Jwa hidup. Che Gun mengambil lencana itu lalu pergi. Sementara In Jwa dan Dae Gil menangisi kematian Dam Seo.


Dae Gil lalu menggendong jasad Dam Seo keluar. Tepat saat itu juga, Pangeran Yeoning tiba bersama pengawalnya dan langsung membeku saat melihat Dam Seo sudah meninggal dunia. Air matanya berlinang saat dia membelai pipi Dam Seo. Sementara Che Gun menghadap Raja yang sedang tidur.


Keesokan harinya, hanya Dae Gil dan Pangeran Yeoning yang melihat prosesi kremasi Dam Seo dan keduanya sama-sama memalingkan tatapan mereka saat tubuh Dam Seo mulai terbakar api.


Dalam perjalanan pulang, Dae Gil mengenang saat-saat kebersamaannya dengan Dam Seo dan berpikir "Saat segalanya usai, aku ingin melihatmu tersenyum. Kukira aku akan bisa melihat itu. Dam Seo, aku ingin membangun dunia dimana kau bisa tersenyum. Saat itu tiba, kukira aku akan bisa bertemu denganmu lagi. Maaf, karena aku tidak bisa melindungimu, Dam Seo"


Pangeran Yeoning pun menangis teringat saat-saat kebersamaannya dengan Dam Seo.


Saat In Jwa menaburkan abu Dam Seo ke sungai, sorot matanya tampak dipenuhi dendam pada raja.


Setelah itu dia pergi menemui Pangeran Yeonryung. Sang pangeran mengenal In Jwa hanya sebagai guru baduk Putra Mahkota Yoon. In Jwa memberitahu Pangeran Yeonryung bahwa anak yang paling raja sayangi bukan Putra Mahkota dan bukan pula Pangeran Yeoning, melainkan Pangeran Yeonryung.

"Apa pangeran tertarik untuk duduk di singgasana? Atau mungkin pangeran ingin bergabung bersama saya untuk menjungkir balikkan negeri Joseon ini?"

Pangeran Yeonryung langsung tersinggung dan marah mendengarnya. Dia berusaha memanggil bantuan tapi tidak ada yang datang.



In Jwa semakin mendekati Pangeran Yeonryung, memberitahu Pangeran Yeonryung bahwa putrinya mati di tangan raja lalu dengan cepat mengeluarkan sebuah jarum panjang lalu menusukkannya di belakang leher Pangeran Yeonryung.

"Bagaimana? Apa kau merasakan sakit yang kurasakan sekarang? Keluargaku dibunuh, aku kehilangan teman-temanku, aku kehilangan seseorang yang sudah seperti putriku sendiri. Apa kau merasakan kesedihan dan sakitku?"

Tapi Pangeran Yeoning terlalu kesakitan hingga tak mampu menjawabnya. Moo Myung cepat-cepat mengingatkan In Jwa tentang akibat jika dia sampai membunuh Pangeran Yeonryung. In Jwa akhirnya melepaskan jarumnya.


Tapi semua ini tak cukup bagi In Jwa untuk menghilangkan semua luka yang dideritanya. Dia lalu mengambil pedangnya Moo Myung dan menusukkannya ke perut Pangeran Yeonryung.

"Kau harus menyalahkan ayahmu, sang raja. Sekarang, aku atau raja yang harus mati! Semua ini akan berakhir jika salah satu diantara kami mati" geram In Jwa.

Dia menarik kembali pedang itu lalu menebasnya sekali lagi hingga darah Pangeran Yeonryung terciprat ke wajahnya.


Pangeran Yeonryung mati dan In Jwa bersumpah "Aku berjanji, aku akan menggorok leher raja. Pergilah ke alam baka dan tunggulah ayahmu di sana"

Bersambung ke episode 19

1 comment :