June 28, 2016

Jackpot ( Daebak ) Episode 23 - 1


Dae Gil akhirnya menemui In Jwa dan meminta dia untuk menyerah. Disisi lain, Tuan Nam bersama Seol Rim mengarahkan beberapa orang yang membawa perbekalan milik In Jwa ke tempat lain. In Jwa sudah kehilangan semua kuda dan perbekalannya, selain itu setengah pasukannya mundur karena sakit perut. 

“Kalau terus memaksakan diri untuk bergerak maju itu tidak mungkin, Lee In Jwa,” ucap Dae Gil dan In Jwa menjawab kalau sekarang belum waktunya menyerah. Tepat disaat itu, Mil Poong Goon bersama beberapa rakyat yang memberontak keluar dan mereka berdiri di belakang In Jwa. Dae Gil lalu berkata kalau pemerintah akan menggerakkan seluruh kekuatan yang dimiliki untuk menghentikan pemberontakan. Namun In Jwa tak sedikitpun gentar oleh informasi itu, karena dia memiliki banyak pasukan. Dengan berani In Jwa menantang Dae Gil untuk menghentikan rencana pemberontakan mereka. 

“Menyerahkah sekarang. Apa kau ingin membunuh semua orang disini?” tanya Dae Gil. 


“Mereka datang untuk berjuang bersamaku. Emangnya kau ini siapa?”

“Mereka akan segera tahu, siapa kau ini sebenarnya. Mereka akan tahu Lee in Jwa itu seperti apa. Kau akan melakukan segala cara demi mendapatkan tahta kerajaan. Kau akan mengorbankan nyawa orang tidak berdosa demi ambisimu. Aku akan menghentikan kalian... Aku ingin kalian semua kembali ke keluarga kalian,” ucap Dae Gil dan pergi. 

“Kita akan maju tanpa adanya yang menjadi korban. Daripada menggunakan kuda. Kita akan menggunakan pembatas dan gerobak. Kirimkan pesannya. Cari tahu pergerakkan yang ada di Gyeongsang-do dan Jeolla-do,” ucap In Jwa dan semua anteknya mulai bergerak. 


Dae Gil pergi ke tempat penampungan warga yang sakit perut, dimana disana sudah ada Seol Rim dan Tuan Nam.  Pada Dae Gil, Tuan Nam mengaku kalau dia mulai sependapat dengan pemberontak. Tentu saja Dae Gil langsung menyuruhnya berhenti untuk berpikiran seperti itu. 

Tuan Nam kemudian mengumumkan pada semua warga yang sakit, kalau mereka sudah menyiapkan makanan untuk mereka semua, jadi mereka bisa mengambilnya dan kemudian pulang ke rumah masing-masing. Selain makanan, mereka juga sudah menyiapkan obat untuk mengobati sakit perut para warga. Ketika Seol Rim sibuk membagikan obat, Dae Gil melihatnya dan dia tersenyum. 


Walaupun mereka yang membuat warga sakit, tapi mereka juga lah yang berusaha mengobati mereka semua. Karena memang tujuan mereka membuat warga sakit agar para warga itu tidak ikut dalam rombongan pemberontak yang di pimpin oleh In Jwa. 


Dae Gil mengirim pesan untuk Yeon Hwa dengan menggunakan jasa merpati. Setelah membaca pesan itu, Yeon Hwa langsung memberikannya pada Sang Gil. 


Semua warga yang tadinya sakit sekarang sudah sembuh, karena sudah di rawat dan di beri makan oleh Dae Gil. Mereka kemudian berkumpul untuk menemui Dae Gil. 

“Apa yang akan terjadi dengan kita? Kita sudah ikut memberontak. Mereka bilang siapapun yang memberontak akan dihukum mati,” tanya salah satu warga. 

“Letakkan saja senjata kalian,” jawab Dae Gil. “Raja sudah berjanji. Siapapun yang meletakkan senjatanya akan diampuni. Perintahnya sudah sangat jelas. Kalian semua bisa kembali ke rumah sekarang,” ucap Dae Gil dan semua warga merasa senang mendengarnya. 

Seol Rim yang tak yakin dengan hal itu langsung bertanya, “Benarkah? Apakah Raja berjanji seperti itu?” dan Dae Gil tak langsung menjawab, dia sepertinya ragu Raja akan setuju dengan keputusannya. Sebenarnya apa yang Dae Gil katakan tadi, hanyalah pendapat pribadinya saja.

Raja di beritahu kalau 50 ribu orang yang ada di bawah kendali Raja, baru saja melewati Gwacheon. Namun untuk menghentikan 100 ribu anak buah Jeong Hee Ryang dan Park Pil Hyun, 50 ribu orang itu tidaklah cukup. Jadi kalau mereka tidak bisa menghentikan para pemberontak di Anseong, maka mereka hanya bisa menunggu untuk kehilangan ibukota. 

Tepat disaat itu, Sang Gil masuk dan memberikan pesan dari Mokcheon. Isi pesan itu adalah Dae Gil berhasil mengurangi setengah pasukan yang mendukung In Jwa. Namun Raja tak terlalu senang, karena In Jwa tetap menuju Anseong walau dia sudah kehilangan setengah pasukannya. Raja beranggapan kalau mereka akan kehilangan Anseong jika mereka terlambat bergerak. Membutuhkan waktu 2 hari untuk sampai ke Anseong, jadi Raja meminta agar mereka semua untuk tidak membuang-buang waktu. Ingin menghentikan In Jwa sendiri, Raja pun pergi ke Anseong. 


Ketika Raja pergi ke Anseong, para pengawalnya menyebar selebaran untuk di baca para warga. Hong Mae mendapat satu selebaran dan berniat memberitahu Dae Gil, namun di cegah oleh Yeon Hwa. 

“Apapun yang terjadi di ibukota, Dae Gil akan melaksanakan rencananya sendiri,” ucap Yeon Hwa yakin. 

“Rencana?” tanya Hong Mae tak mengerti.


Di tempatnya Dae Gil sedang berdiksusi dengan Seol Rim dan yang lain. Dae Gil memperkirakan desa yang akan menjadi tempat singgah para pemberontak, karena mereka pasti merasa kelelahan sebab tidak punya cukup banyak persediaan makanan. Apa yang Dae Gil perkirakan memang benar terjadi. Para pemberontak itu merasa kelelahan dan Jin Ki menyarankan agar mereka istirahat. 

“Mungkin mereka akan menjarah desa ini. Sebaiknya kalian bawa sisa makannya dan pergi ke desa itu,” ucap Dae Gil pada rekannya. Tepat disaat itu Tuan Nam masuk dan memberikan pesan dari Che Gun. 

“Aku berhasil melacak Jeong Hee Ryang.  Aku akan menepati janjiku padamu. Aku pastikan, mereka yang tidak bersalah tidak akan terluka,” isi pesan Che Gun dan itu membuat Dae Gil lega. Diapun menyerahkan wilayah selatan pada Che Gun, karena merasa Che Gun bisa dipercaya untuk bertindak sesuai keinginannya. 


Yeon Hwa memberitahu 3 rencana Dae Gil pada Hong Mae. Pertama, mengambil kuda dan makanan untuk memperlambat pergerakkan para pemberontakan dan rencana pertama ini sudah berhasil. Rencana kedua adalah mengarahkan para pemberontak untuk menuju ke benteng Cheongju dengan menyebar rumor,  "Pemberontakan Lee In Jwa sudah gagal."


Orang yang diberitugas untuk menyebar rumor itu adalah Man Geum dan teman-temannya. Setelah rumor menyebar, para pemberontak dan pihak pemerintah yang bekerja sama jadi berselisih paham. 


Tanpa mereka sadari, Man Geum dan kawan-kawan mengawasi apa yang sedang mereka lakukan. 

Seol Rim memberi pesan yang mengatakan kalau pasukan sudah meninggalkan istana. Dae Gil kemudian teringat pada pesan Raja yang menginginkan Dae Gil menangani masalah In Jwa dalam waktu 5 hari. Jika dalam waktu 5 hari, Raja tak mendengar kabar dari Dae Gil, maka dia akan mengerahkan pasukannya. 

Tak ingin terjadi sesuatu yang tak diinginkan Dae Gil pun memutuskan pergi ke Anseong untuk menemui Raja dan untuk urusan yang sedang dia lakukan sekarang, dia serahkan pada Tuan Nam dan Seol Rim. 


Pasukan In Jwa sudah benar-benar kelelahan, mereka haus dan lapar. Saking laparnya, mereka sampai berebut makan ular ketika salah satu dari mereka menemukan ular. Melihat kondisi pasukannya yang begitu memprihatinkan, In Jwa pun menyuruh Jin Ki mencari 20 orang yang terbaik.


In Jwa bersama Jin Ki membawa 20 pria terbaik itu ke desa terdekat dan mengambil persediaan makanan desa tersebut. Melihat apa yang In Jwa lakukan, tentu saja para warga setempat hendak melakukan perlawanan, namun mereka kalah oleh In Jwa. Dia mengurung para warga itu di gudang penyimpanan makanan dan membakarnya.  In Jwa akan melakukan apapun untuk bisa sampai ke Anseong. Walaupun tak suka denga apa yang In Jwa lakukan, Jin Ki tetap tak bisa menghentikan apa yang In Jwa lakukan. Sebenarnya Jin Ki tak ingin menyakiti orang-orang yang tak bersalah tapi dia tak bisa membantah semua perintah In Jwa. 


Dae Gil pergi menuju Anseong dengan kudanya, sedangkan rombongan Raja sudah sampai di Benteng Pegunungan Jukju. Raja langsung mengadakan rapat dan bertanya berapa orang yang sudah berkumpul di benteng. Salah satu dari mereka menjawab kalau sudah ada sekitar 35 ribu orang yang datang dan 20 ribu lagi akan datang dari Suwon dan Yongin. Untuk pasukan pemberontak, mereka belum sampai di Anseong, menurut mata-mata Bae Dae Gil sudah merampas kuda Lee In Jwa dan perbekalan mereka dan tersebar rumor di Jeolla-do kalau Lee In Jwa sudah di kalahkan. Mendengar tentang rumor itu, Raja pun teringat kembali pada janji Dae Gil yang berjanji akan mengalahkan In Jwa.

Flashback!
“Pertama, aku akan memanfaatkan kelemahan mereka dan memperlambat pergerakan pasukan. Aku akan mengurangi setengah dari pasukannya. Ke-2... Apa yang lebih menakutkan dari sebuah pedang? Yaitu suatu rumor..,” ucap Dae Gil.

“Rumor?” tanya Raja tak mengerti.

“Ya, Yang Mulia. Aku akan menggunakan rumor untuk memotong tangan dan kaki Lee In Jwa.”

“Apa rencanamu selanjutnya?”

“Rencana ke-3... Sekitar 100 ribu orang akan datang ke Jeolla-do dan Gyeongsang-do. Semuanya akan selesai jika kita gagal,” Jawab Dae Gil. 
Flashback End!


Jin Ki membagikan makanan untuk pasukannya dan meminta mereka semua bertahan. Tepat disaat itu Mil Poong Goon berkomentar kalau In Jwa sudah sangat kejam dan meminta mereka menyerah karena bukan negera seperti itu yang dia inginkan. Ternyata Poong Goon tidak suka In Jwa menjarah desa untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. In Jwa pun memberi alasan kalau dia melakukan semua itu karena terpaksa. 

“Apa kau pikir itu tindakan yang dibenarkan?” tanya Poong Goon dan kemudian menyuruh In Jwa ikut bersamanya. Poong Goon pergi ke gerobak yang berisi bahan makanan hasil jarahan dan dia melarang siapapun untuk menyentuh makanan itu

“Sebelum mereka menjadi pasukanmu. Mereka adalah rakyat negeri ini. Mereka menginginkan bangsa yang lebih baik. Bangsa yang menjadi milik rakyat. Itu sebabnya mereka ingin berjuang. Bagaimana bisa mereka makan makanan hasil jarahan di desa?” ucap Poong Goon. 

“Ini bukan jarahan. Ini suatu pengorbanan,” jawab In Jwa beralasan. 

“Apa artinya jika kau duduk di tahta setelah mengorbankan rakyat?”

“Anseong diluar jangkauan kita, Yang Mulia. Dalam waktu setengah hari. Tahta kerajaan akan kau miliki,” janji In Jwa. 

“Kau sudah memperlakukan mereka seperti ini? Kau sudah menjarah sebuah desa dan membunuh penduduknya,” ucap Poong Goon dan In Jwa kemudia menghampiri salah satu pasukannya, dia bertanya alasan pria itu ikut memberontak. 


“Aku mungkin kelaparan... Tapi aku tidak mencuri dari orang yang tidak bersalah,” jawab pria itu yang kemudian mengaku kalau dia ikut bergabung karena Mil Poong Goon bukan karena In Jwa. Mendengar itu In Jwa kesal dan langsung menebas pria itu sampai mati. 

“Jika kalian menghargai nyawa kalian. Jaga mulut kalian!” ucap In Jwa. 


“Kau... Berani sekali kau membunuh seseorang dihadapanku tanpa berpikir 2x!” teriak Poong Goon murka dengan apa yang In Jwa lakukan dan In Jwa masih tetap meminta agar Poong Goon percaya padanya. In Jwa berjanji akan menempatkan Poong Goon di singgasana. 


“Kau tidak perlu membunuhnya!” teriak Jin Ki yang mulai kesal dengan sikap In Jwa. Namun tanpa rasa bersalah sedikitpun, In Jwa menyuruh Jin Ki memakamkan orang itu di tempat yang terbaik.

Jin Ki memakamkan orang itu, Poong Goon muncul dan meminta Jin Ki pergi karena dia ingin sendirian. Ketika hanya sendirian, Poong Goon meminta maaf pada orang yang di bunuh In Jwa. Dari ekspresinya, Poong Goon terlihat tak senang dengan semua sikap In Jwa. 

Di tempat lain, Raja sedang membahas strategi mereka untuk menghadpi para pemberontak. Dengan kekuatan penuh, Dae Gil menuju Anseong dan ketika dia sampai di depan benteng, dia malah di hunuskan anak panah oleh para penjaga. Tapi hal tersebut tak menjadi masalah, karena sekarang Dae Gil sudah bersama Raja dengan kondisi tubuh baik-baik saja. 


Dae Gil bertanya kenapa Raja tak menepati janjinya. Kenapa Raja sudah di Anseong bersama pasukan, padahal Raja memberikan waktu 5 hari pada Dae Gil untuk mengatasi semuanya. 

“Hari ini menjadi 5 hari. Jadi, apa kau sudah menangkap Lee in Jwa? Aku tahu, banyak hal yang sudah kau capai Kau sudah mengurangi pasukannya menjadi setengah. Kau sudah memperlambat pergerakkan mereka dengan mengambil kuda dan perbekalan mereka. Namun...hanya itu yang bisa kau lakukan. Sekarang, aku yang akan mengakhiri pemberontakan ini,” ucap Raja. 

“Apa kau ingin berperang melawan rakyatmu sendiri? Mereka adalah rakyatmu.”

“Mereka sudah mengabaikanku. Jadi, mereka akan mendapatkan hukumannya.”

“Yang Mulia, sekalipun aku tidak pernah menggunakan pedangku. Apa kau tahu bagaimana caraku mengurangi setengah dari pasukan Lee In Jwa ? Itu karena kepercayaan,” ucap Dae Gil dan kita kemudian diperlihatkan pada Tuan Nam yang sedang membagikan makanan pada warga.

“Kepercayaan terhadap rakyat.  Jumlahnya sekitar 15 ribu orang. Mereka semua sudah meletakkan senjatanya. Menurutmu apa artinya itu? Kita bisa melakukannya... Tanpa mengangkat senjata dan tanpa menumpahkan darah... Kita bisa mengakhiri pemberontakan ini,” ucap Dae Gil.

“Dia akan segera tiba. Jika kita lenggah melindungi tempat ini, itu akan memudahkan bagi mereka menuju ke ibukota. Tidak peduli seberapa banyak prajurit yang ada di istana, akan sulit untuk menghentikan mereka. Jadi, aku mengevakuasinya sebelum itu terjadi. Itu harus dilakukan. Kita harus mengalahkan mereka di tempat ini,” ungkap Raja. 


Tepat disaat itu Sang Gil masuk dan memberitahu Raja kalau rombongan pemberontak sudah datang. 


Di depan benteng, In Jwa bertanya pada Jin Ki apakah sudah ada kabar dari Yeongnam dan Honam. Jin Ki menjawab kalau rekan mereka dari Yeongnam baru saja meninggalkan Jincheon, sedangkan yang dari Honam sudah melewati Pyeongtaek, butuh setengah hari untuk mereka sampai di Anseong. Jadi kalau para prajurit menyerang mereka sebelum rombongan mereka datang, mereka semua akan hancur. 

“Tenanglah. Aku memiliki kartu tersembunyi,” ucap In Jwa tenang.


Raja sudah berada di atas benteng dan bertanya pada Dae Gil, apakah pasukan yang datang bersama In Jwa itu terlihat seperti orang biasa. Mereka semua pemberontak, jadi harus dibunuh. Raja kemudian masuk ruang rapat dan berkata, “Lee In Jwa, Mil Poong Goon, dan semua pemberontak... Jangan sampai ada yang hidup.”


Dae Gil masuk dan berusaha menghentikan perintah Raja. Tentu saja Raja marah karena Dae Gil menentangnya. Dae Gil berusaha meyakinkan Raja kalau orang yang akan Raja bunuh itu adalah rakyatnya sendiri, namun Raja tak beranggapan seperti itu. Dia beranggapan kalau mereka itu adalah pengkhianat. 

“Tolong, ampuni mereka,” pinta Dae Gil.

“Mereka tidak tahu arti belas kasihan. Itu sebabnya aku berperang melawan mereka.”

“Bagaimana denganku? Apa kau juga akan menangkapku?”

“Jika kau memilih untuk bergabung dengan para pemberontak, aku akan memenggal kepalamu,” jawab Raja pasti. 


“Yang Mulia! Aku sudah berjanji dengan almarhum raja kalau aku akan selalu melindungimu. Tapi, mulai saat ini dan seterusnya. Aku tidak bisa menepati janjiku,” ucap Dae Gil kesal dan menacapkan pedangnya di meja. Tanpa ragu, Dae Gil langsung berlari ke arah Raja dan hendak membunuhnya. Untung saja ada Sang Gil di sana dan berhasil menghalau pedang Dae Gil. Namun dengan mudah Dae Gil bisa mengalahkan Sang Gil.


Tepat disaat itu, dua pimpinan militer yang ada di samping Raja langsung menghunuskan pedang mereka pada Raja. Wuah... ternyata mereka ada di pihak In Jwa dan ingin ikut memberontak. Apa yang akan terjadi pada Raja? Apa Dae Gil akan membiarkan Raja di bunuh oleh kedua pimpinan militer itu? Tunggu kisah selanjutnya di sinopsis part 2 ya...

Bersambung Jackpot ( Daebak ) Episode 23 - 2

2 comments :

  1. Aduh lambat amat nulisnya udah tak sabar menunggu

    ReplyDelete
  2. Aduh lambat amat nulisnya udah tak sabar menunggu

    ReplyDelete