June 17, 2016

Jackpot ( Daebak ) Episode 21 - 2



Park Pil Hyun berkata pada Jeong kalau mereka akan membunuh Raja dan memulai dunia baru. Jeong pun mengangguk setuju. Keesokanharinya, In Jwa sudah berada di depan istana dan dalam hati berkata, “Raja, semua hal yang sudah kulakukan untukmu selama ini....akan kuambil kembali.”

In Jwa kemudian pergi ke tempat pembunyian lonceng. Salah satu prajurit bertanya siapa In Jwa dan mau apa datang ke tempat lonceng. In Jwa tak menjawab, dia hanya memberi kode pada prajurit satunya untuk membunuh prajurit yang bertanya. 



“Sudah lama saya menunggu,” ucap prajurit yang ternyata adalah antek In Jwa. Dia kemudian mempersilahkan In Jwa untuk membunyikan lonceng. Ketika lonceng dinyalakan, kita melihat seorang dayang yang seperti mendapat kode dari bunyi lonceng tersebut. Ternyata bukan hanya dayang itu saja yang seolah-olah mendapat kode dari bunyi lonceng itu, ada prajurit, kasim dan salah satu bawahan Il Joo. 


Di ruangannya, Raja juga mendengar bunyi lonceng itu dan bertanya-tanya kenapa loncengnya di bunyikan? Sa Woon dan Sa Mo juga tak tahu jawabannya. Bukan hanya Raja yang bertanya-tanya maksud dari bunyi lonceng, para dayang dan pejabat istana juga bertanya-tanya.


Kita beralih pada Dae Gil yang menelaah maksud bunyi lonceng tersebut, “Pertama, berdentang lima kali. Kedua, berdentang sembilan kali. Kata kelima dalam diagram langit adalah "Mu". Kata kesembilan dalam diagram bumi adalah "Shin".  Mu Shin,” batin Dae Gil.

Raja terus memperhatikan lukisan yang dibuat In Jwa dimana dalam lukisan tersebut ada gambar dua ikan dan di bawahnya terdapat stempel. Melihat lukisan itu, Raja pun bisa menebak kalau maksud bunyi lonceng itu adalah “Mu Shin.”

Putra Mahkota tidak terlalu mendengar berapa lonceng di bunyikan, tapi dia sepertinya menyadari kalau itu adalah kode sesuatu, sehingga diapun bertanya pada Sang Gil  berapa kali loncengnya berbunyi. 


Selesai membunyikan lonceng, In Jwa pun berteriak, “Semuanya, bangkitlah! Ini negara kalian, negara rakyat! Sudah ada di depan kalian!” 

Mereka yang telah hancur...Mereka yang keluarganya dibunuh dan hidup dalam ketakutan...” Kasim yang tadi seolah-olah mendapat kode langsung menemui dayang, di posisi prajurit ternyata ada 3 orang pemberontak dan anak buah Il Joo berjalan sendiri menuju suatu tempat. 

Mereka yang menderita karena pemerintahan yang korup.. Semuanya, bangkitlah! Kita mulai dunia baru bersama.” Tiga prajurit dengan cepat memasuki kamar Putra Mahkota, namun ternyata rencana mereka sudah bisa diprediksi, Putra Mahkota sudah tak ada lagi di tempat. 

Anak buah Il Joo, pejabat dari kubu Soron mendatangi Kepala Tentara Hansung dan mengatasnamakan titah Raja, menyuruh Kepala tentara untuk menangkap semua pejabat eksekutif dan administrasi. 


Kasim dan dayang tadi memasuki kamar Raja dan membawa pakaian Raja. Melihat itu, Sa Mo dan Sa Woon langsung pergi.


Dae Gil kemudian menemui In Jwa dan bertanya apa In Jwa sedang menggerakan pemberontakan dalam istana? Tentu saja In Jwa terkejut dan bertanya bagaimana Dae Gil tahu. 

“Sudah kuduga ada pemberontak dalam istana. Tapi aku tidak yakin. Aku tak tahu bagaimana caramu menggerakkan mereka sekaligus. Tapi...setelah kau bunyikan lonceng, aku jadi yakin,” jawab Dae Gil.

“Jadi mereka semua...”



Kita beralih lagi ke istana dimana tiga prajurit dikepung, pejabat dari kubu Soron tadi di tangkap, begitu juga dengan kasim dan dayang yang hendak membunuh Raja dengan pisau mereka. 

“Sudah berakhir. Lee In Jwa,” sambung Dae Gil dan In Jwa pun berkata kalau dia sangat ingin Dae Gil menjadi Raja.  “Aku dengar kau jenius dan bisa melihat masa depan. Tapi kau tidak melihat wajahku dengan baik. Bisa-bisanya kau melihatku sebagai seorang raja?”


In Jwa emosi dan langsung menghunuskan pedang pada Dae Gil. Tepat ketika In Jwa hendak menebas Dae Gil dengan pedang, Raja dan rombongan datang dan mengepung In Jwa.


“Aku bisa melihatnya, pemberontakan di hatimu,” ucap Raja dan In Jwa menjawab kalau Raja sudah salah paham. Tak ingin In Jwa terus mengelak, Raja pun membawa semua pemberontak yang ada di istana sebagai bukti. 

In Jwa terlihat kesal pada Dae Gil, namun dalam hati dia masih berkata, “Raja, ini belum berakhir, lihat saja.”


Kita kemudian melihat In Jwa sudah di ikat di lapangan dan dipertontonkan pada warga. “Tidak perlu diadili. Wajahmu akan dipertontonkan. Begitu matahari terbenam, kau akan digantung di depan umum...supaya tak ada yang meniru perbuatanmu,” putus Raja. 

Tepat sekali, semua warga mencaci In Jwa karena dia ingin memberontak. Bahkan Hong Mae ada di antara warga dan menjadi kompor untuk terus memaki In Jwa. Bukan hanya di maki, In Jwa juga di lempari telur. 


Dae Gil menghampiri In Jwa dan In Jwa pun dengan kesal menyuruh Dae Gil untuk membunuhnya saja daripada di permalukan seperti itu. 

“Kau pasti menderita. Kau pikir kenapa raja menghukummu seperti ini? Supaya pengikutmu melihat akhir  hidupmu yang menyedihkan. Dengan begitu mereka takkan memberontak,” ucap Dae Gil dan kemudian mengatakan kalau dia tahu tentang Park Pil Hyun. 

“Bagaimana kau tahu dia?” tanya In Jwa terkejut.

“Kau pikir apa yang dilakukan ayahku selama ini?”

“Apa yang dilakukan Man Geum?”

“Sejak awal, aku tahu kalau Jeong tidak mati.Kau menggunakan obat untuk memperlambat detak jantung. Aku sengaja melepaskannya. Tikus di istana mulai mencari jalan untuk keluar. Tapi dia takkan bisa  memasuki kota,” ucap Dae Gil dan ternyata gelandangan yang hendak menggeledah Jeong saat itu adalah teman Man Geum dan mereka mengikuti Jeong sampai ke tempat Park Pil Hyun. 

“Aku akan datang lagi saat matahari terbenam,” ucap Dae Gil dan pergi. 


Pil Hyun mendapar surat dari anak buahnya dan sepertinya itu pemberitahuan tentang apa yang terjadi pada In Jwa, karena orang yang mengirim surat itu adalah Moo Myung. Jeong hendak keluar dari kota, namun dia tak bisa melewati pemeriksaan, karena Che Gun langsung yang memeriksa semua orang yang hendak keluar, jadi Jeong pun memutuskan pergi. 

Dae Gil menghadap Raja dan Raja berkata kalau Dae Gil sudah bekerja dengan sangat keras. “Petumpahan darah di istana takkan berhenti,” ucap Raja dan batuk, namun dia tak mau ditolong. “Waktuku tidak banyak,” aku Raja.


Tabib yang memeriksa Raja mengatakan kalau kondisi Raja tidak ada perkembangan. Jadi, si tabib pun berinisiatif dengan menambah beberapa  tanaman herbal untuk obat sang Raja. 

“Berapa banyak sisa waktuku?” tanya Raja to the point.

“Paduka, kenapa bicara seperti itu?” jawab Tabib.

“Sudah lama aku sakit. Aku sadar betul keadaanku. Katakan padaku. Berapa sisa waktuku?” tanya Raja lagi.


Para menteri dari Kubu Soron melakukan rapat dan mereka tau tentang kondisi Raja, di saat seperti itu Raja pasti akan merangkul Yeoning kembali. Kembali pada Raja, yang tiba-tiba batuk darah lagi. Mungkin dia merasa lagi di omongin kali yah, jadi langsung batuk.

Salah satu menteri merasa cemas, mereka akan di hukum mati juga kalau Yeoning naik tahta. Sebelum itu terjadi, Il Joo berkata kalau mereka harus mencegahnya. Il Kyung juga berangapan yang sama, dia tak mau Yeoning naik takhta, dia tak mau punya Raja keturunan pelayan. 


Yeoning sedang berdiam diri di kamar dan dia melihat bayangan seseorang melintas, orang tersebut kemudian masuk ke dalam kamar Yeoning dan Yeoning sudah tak ada lagi di sana. Orang itu pun kemudian keluar dan Yeoning keluar dari tempat persembunyiannya. Dia terlihat kaget saat mengetahui siapa yang berniat membunuhnya.

Warga yang melewati In Jwa, langsung meludahinya. In Jwa benar-benar di hina di tempat itu. Dia kemudian melihat Moo Myung dan Jin Ki datang. Mereka pun berbicara dengan tatapan mata. 

“Apa yang terjadi pada Jeong dan Park?” tanya In Jwa dalam hati dan Moo Myung menjawab dengan anggukan. “Syukurlah mereka berhasil kabur. Apa rencana besar kita akan gagal? Cari kuda,” ucap In Jwa dalam hati dan kemudian memberi kode anggukan. Moo Myung mengangguk mengerti lalu dia dan Jin Ki pun pergi.


Yeoning sekarang mulai mau makan dan tepat disaat itu Dae Gil datang. Putra Mahkota Yeoning berkata kalau dia makan dengan lahap karena dia tak mau terlihat lemah dan lunglai seperti yang para menteri Soron inginkan. Namun tiba-tiba Yeoning pingsan dan ketika di periksa oleh tabib, si tabib mengatakan kalau Yeoning bukan keracunan, tapi dia pingsan karena makan bagian tumbuhan yang salah. Untungnya Yeoning tidak apa-apa karena kesalahan tersebut bisa juga berdampak pada kematian. 


Yeoning bangun dan berkata kalau dia tak mau mati dengan cara seperti itu. Dae Gil pun menyuruh Yeoning untuk istirahat, tapi Yeoning tidak mau, dia ingin bertemu dengan Raja. Dae Gil keluar dan bertanya pada Che Gun tentang Pil Hyun dan Jeong. 

“Park Pil Hyun dan Jeong Hee Ryang sepertinya sudah tahu. Mereka menghilang,” jawab Che Gun.


Diam-diam Pil Hyun menemui Jeong dan berkata kalau para prajurit istana senang mengejar mereka berdua. Pil Hyun menjawab kalau 4 gerbang di jaga ketat, jadi dia akan keluar lewat Taksan. Jeong membenarkan karena tempat yang paling gelap ada di bawah obor, walaupun begitu Pil Hyun harus tetap berhati-hati. 

Dae Gil seperti memikirkan sesuatu, dalam hati dia berkata kalau eksekusi In Jwa sebentar lagi dilaksanakan, dia berharap agar semuanya berjalan dengan lancar, kali ini In Jwa harus benar-benar di hukum mati. 


Yeoning menemui Raja dan minta di selamatkan dari para menteri yang ingin membunuh dirinya. Di luar dugaan, Raja hanya berkata kalau semua itu sudah pasti terjadi. 

“Menteri Noron yang setia padaku saja mencoba membunuhku. Apalagi kau cuma putera mahkota. Mereka pasti akan membunuhmu,” ucap Raja dan Putra Mahkota minta agar Raja menghentikan para menteri itu, karena hanya Raja saja yang bisa menghentikan mereka. 

“Aku tak ada kewajiban menghentikan Soron. Tidak sama sekali,” jawab Raja. 

“Kalau begitu...paduka menyuruhku pasrah?” tanya Yeoning dan dia membatin kalau dia menolak untuk mati dengan cara seperti itu. 


Raja sedang memandang langit sore dan tak lama kemudian Ratu datang. Dia mengajak Raja masuk karena udara sore itu sangat dingin. Saat ditanya pendapatnya mengenai pemandangan sore itu. Si Ratu mejawab  sangat indah. 

“Begitukah? Bagiku, terlihat sedih. Begitu terbenam, matahari akan hilang tanpa jejak. Rasanya kosong dan hancur,” ucap Raja dan kemudian mengatakan rasa khawatirnya pada Ratu Seonui yang akan dia tinggalkan tanpa mempunyai penerus.  “Bagaimana kau akan melindungi dirimu?” tanya Raja dan Ratu meminta agar Raja harus kuat. 

“Selama masih duduk di singgasana, aku adalah milik rakyat. Tugasku adalah membuat keluarga kerajaan kuat dan melayani rakyat. Tapi...,” ucap Raja dan kemudian menggenggam tangan Ratu lalu meminta maaf. 


Che Gun dan Dae Gil dalam perjalanan menuju tempat eksekusi In Jwa. Che Gun pun bertanya apa yang akan Dae Gil lakukan setelah In Jwa mati. Dae Gil belum bisa menjawab, dia akan memutuskannya setelah In Jwa mati. Tepat disaat itu, mereka melihat seseorang berkuda dengan membawa dua ekor kuda. Di sisi lain, Jin Ki sudah bersiap-siap. Ketika dia mendengar suara langkah kuda, Jin Ki pun langsung membebaskan In Jwa dan ketika Moo Myung datang, In Jwa langsung naik ke kuda Moo Myung, sedangkan Jin Ki naik kuda yang satunya. Mereka bertiga kabur meninggalkan pasar.


Dae Gil dan Che Gun terlambat datang, ketika dia melihat In Jwa kabur, diapun langsung mengejarnya. Di hutan, Dae Gil kehilangan jejak, dengan menggunakan indera pendengarannya yang tajam, Dae Gil pun tahu arah mana In Jwa dan anak buahnya pergi. 

Tak ingin In Jwa tertangkap lagi, Jin Ki pun menyuruh Moo Myung dan In Jwa pergi duluan. Karena dia akan berusaha sekuat tenaga menghadapi Dae Gil, Che Gun dan para prajurit. 

“Kalian sudah datang?” sambut Jin Ki ketika melihat Dae Gil dan yang lain datang. 

“Pergilah tanpa aku,” ucap Che Gun dan kemudian melepas pedang dari sarungnya. Hmmm... Che Gun siap menghadapi Jin Ki sendiri dan menyuruh Dae Gil pergi bersama prajurit. 

Melihat para prajurit kembali mendekati mereka, Moo Myung pun memanggil In Jwa. 


Kembali lagi pada Jin Ki dan Che Gun, dimana Jin Ki berhasil di kalahkan dengan mudah oleh Che Gun. Dae Gil melihat pria berpakaian putih sedang berusaha mendayung perahu, mengira kalau pria itu adalah In Jwa, Dae Gil pun langsung meminjam panah dan bersiap memanah In Jwa. “Lee Un Jwa, aku tak bisa membiarkanmu hidup,” batin Dae Gil. 

Sebelum Dae Gil melepas anak panahnya, kita beralih sejenak pada Jin Ki yang sudah kalah dari Che Gun dan tersudut di tepi jurang. 

“Sekeras apapun kau melawan, kau tetap akan berakhir di neraka,” ucap Che Gun.

“Kalau begitu, sampai ketemu di neraka, Kim Chae Gun,” jawab Jin Ki dan terjun dari tebing. 

“Pergilah ke neraka, Lee in jwa,” batin Dae Gil dan kemudian menarik anak panahnya. Anak panah Dae Gil tepat mengenai pria berpakaian putih tersebut.

Hwang Gu kesurupan dan ekspresi sedih dia menyebut, “Tuan”. Sepertinya Hwang Gu mendapat wangsit kalau In Jwa meninggal dan memberitahu kalau Jin Ki bunuh diri dari tebing. 


Yeoning kembali menemui Raja dan berkata kalau Raja sudah dua hari tidak makan, jadi dia datang membawakan makanan untuk Raja. Ketika melihat makanan yang Yeoning siapkan, Raja pun membatin, “Kau sudah mengambil keputusan?”

“Akan kupanggil tukang cicip,” ucap Yeoning namun Raja mengatakan tidak perlu dan menyuruh Yeoning pergi. Ketika Yeoning berbalik akan pergi, Raja memanggilnya lagi dan meminta maaf. 

“Maaf darimu...Aku yang akan memohon maaf darimu...paduka,” jawab Yeoning dalam hati dan kemudian berjalan keluar. 


Kita beralih ke tempat Dae Gil dan para prajurit yang baru berhasil mengambil mayat pria yang hendak kabur dengan perahu. Saat dilihat wajahnya, ternyata pria itu bukan In Jwa, melainkan Moo Myung. Kemana In Jwa? Ternyata dia bersembunyi di sebuah lubang dan ditutupi dedaunan.


Yeoning keluar dari kediaman Raja dan tepat disaat itu, terdengar suara orang memanggil-manggil Raja. Mendengar itu, reflek para prajurit yang berjaga di depan kediaman Raja langsung berlari masuk semua. Berbeda dengan para prajurit, Yeoning masuh berdiri diam di tempatnyaa. Sepertinya dia sudah tahu dengan apa yang terjadi pada sang Raja. Hmmm... apakah Yeoning sudah meracuni Raja? Tunggu jawabannya di Jackpot episode 22.

Bersambung ke sinopsis Jackpot episode 22

3 comments :

  1. baru kali ini aku baca sinopsis yang ending nya gak bisa ditebak.
    ditunggu lanjutannya ya.
    fighting ☺

    ReplyDelete
  2. Masa Yeoning mau racuni Raja yg uda sekrat memang. Moga2 tdak benar

    ReplyDelete