June 14, 2016

Jackpot ( Daebak ) Episode 21 - 1


Raja Gyungjong dengan marah bertanya apa tujuan Dae Gil sebenarnya. Dia sudah menghukum In Jwa dan menjauhkannya dari Gyungjong. “Apa kau berencana membuat dia sebagai Raja” tanya Raja dan Dae Gil menjawab kalau semua itu tidak benar.



“Ataukah Kau berpikir karena Kita ini..dari garis keturunan yang sama sehingga aku membiarkan kalian hidup? Apa Kalian pikir Aku tidak tahu? Hari ini... Aku akan mengakhiri hubungan yang melelahkan ini. Minggirlah!” ucap Raja dan menyingkirkan Dae Gil. Dengan penuh emosi, Raja hendak menebas Putra Mahkota, namun hal itu langsung berhenti ketika Dae Gil berkata kalau Mendiang Raja Sukjong memberinya wasiat. 

“Wasiatnya  mengatakan, Kubu Noron tidak bisa menerima dirimu sebagai Raja, beliau mengatakan kubu Soron pasti akan memanfaatkan situasi ini. Aku diminta untuk melindungi nyawa Yeoning. Aku diminta untuk melindungi nyawa saudaraku Lalu aku menjawabya: ‘Baik, Yang Mulia, Aku berjanji akan melindungi nyawa pangeran Yeoning. Sebagai hyung-nya aku pertaruhkan nyawaku untuk itu.’  Itulah janjiku padanya,” jelas Dae Gil.

“Keinginannya sebelum wafat..agar si pengkhianat ini tetap hidup?” ucap Raja dan kemudian memanggil Sa Woon dan Sa Mo untuk bertanya apa yang dikatakan Dae Gil semua benar atau tidak. Secara kompak mereka berdua menjawab iya. 


“Ayahanda sudah menyelamatkanmu. Namun, ini menjadi terakhir kalinya aku memaafkanmu. Selain itu, Karena kubu Noron  menolak aku menjadi Raja, Aku tidak bisa memaafkan mereka. Mereka semua akan dihukum mati,” ucap Raja emosi dan kemudian mengingatkan Putra Mahkota agar tidak ikut campur dalam urusan pemerintahan. Tepat disaat itu, Raja mutah darah namun tak mau di bantu. Raja melihat Dae Gil yang terkejut mengetahui kalau dia sakit. Tanpa berkata-kata lagi, Raja langsung keluar dari kamar Putra Mahkota.


Putra Mahkota shock dan lemas, dia tak tahu apa yang harus dia lakukan untuk menyelamatkan nyawa menteri dari kubu Noron. Dae Gil pun berjanji akan mencari caranya dan dia meminta Putra Mahkota untuk diam saja di tempat, jangan bertindak gegabah. 


Malam harinya, semua menteri kubu Noron di hukum termasuk Chang Jib. Disisi lain, In Jwa dan para menteri dari kubu Soron merayakan keberhasilan rencana mereka. 


Dae Gil menunjukkan surat perjanjian berdarah kepada Raja. Dia menjelaskan kalau In Jwa dan Jeong sudah bersekongkol untuk memberontak dan menempatkan pewaris dari kubu Noron. 

“Pembunuh yang datang di malam hari, racun dalam makanan anda dan desas desus. Mereka yang sudah mengabaikanmu dan membuat masalah dalam pemerintahan. Itu semua ulah Lee In Jwa.  Aku mohon, maafkan kubu Noron. Mohon, hukum mati Lee In Jwa,” pinta Dae Gil.

“Jika Lee In Jwa juga seorang pemberontak, Aku juga akan menghukum mati dia. Bukan jadi alasan untuk memaafkan Kubu Noron atas kejahatan mereka,” jawab Raja.


“Yang Mulia. Menempatkan Pangeran Yeoning sebagai pewaris Tahta dan...

“Apa kau katakan kalau semua itu adalah ulah Lee In Jwa? Anggota kubu noron bukan boneka Lee In Jwa. Selain itu, tidak penting apakah ada  pemberontakan atau tidak. Yang penting adalah kalau mereka  memiiki niat dalam hati mereka untuk itu. Tidak sekalipun mereka itu menganggap  aku sebagai Raja, itu alasannya..Itu alasannya mengapa mereka harus mati.”

“Tapi, Yang Mulia...”

“Aku tidak akan mengatakannya dua kali. Para menteri kubu Noron dan Lee In Jwa... Aku akan menghukum mereka dengan hukuman yang pantas mereka terima,” putus Raja.

Dae Gil kembali menemui Putra Mahkota dan berkata kalau dia tak bisa menghentikan hukuman mati bagi para menteri kubu Noron. Putra Mahkota shock mendengarnya dan dengan kesal dia membalik meja. 


Keesokanharinya, hukuman mati bagi menteri kubu Noron di gelar. Dae Gil dan Che Gun ada di sana untuk menyaksikannya. Di istana, Putra Mahkota terus bersujud dan memohon agar Raja menarik keputusannya. Dia bahkan rela memberikan nyawanya untuk menyelamatkan para menteri itu. 


“Apakah semua itu tindakanmu? Apa kau minta mereka untuk menggulingkan aku dari tahta kerajaan? Apakah kau yang membuat mereka meremehkan aku sebagai Raja...dan menghinaku? Apakah semua itu tindakanmu?” tanya Raja.

“Yang Mulia...Mereka sudah salah menilai kesetiaan mereka padaku,” jawab Putra Mahkota dan menangis. Raja pun beranggapan kalau kubu Noron memang pantas mati, jadi tak perlu dibela. 

“Aku tidak punya niat untuk memaafkan mereka yang berpikir untuk memberontak. Bahkan jika...orang itu adalah saudaraku,” ucap Raja dan Putra Mahkota sudah tak bisa berkata-kata lagi. 


Putra Mahkota mendatangi tempat pemenggalan, namun dia tak diperbolehkan mendekati para terpidana. 

“Kami sudah melakukan yang terbaik untuk negeri ini dan rakyatnya. Bagaimana itu disebut sebagai pengkhianatan?” tanya Chang Jib. Putra Mahkota pun teringat kembali ketika Chang Jib berjanji akan terus melindungi dan menepati janji yang sudah dia buat pada Yeoning. 


“Putra Mahkota! Kau harus bertahan sampai akhir! Kau harus bertahan hidup dan me-reformasi pemerintahan negeri ini!” pesan Chang Jib dan tepat disaat itu para algojo mulai menebas para menteri dari kubu Noron satu persatu. Mereka tak perduli pada teriakan Putra Mahkota yang meminta dia berhenti. 

Dae Gil mendekap Putra Mahkota dan memintanya untuk menahan. Dia tak boleh terlibat dan terluka. 


“Mereka tidak boleh mati. Kesalahan apa yang sudah mereka lakukan? Apa salah mereka?” teriak Putra Mahkota dan meminta maaf pada semua menteri kubu Noron yang saat ini sudah menjadi mayat. “ Maafkan aku.... Aku berjanji pada kalian..,” ucap Putra Mahkota dan meneruskan kata-katanya dalam hati. “Aku akan membalasnya atas nama kalian.

“Percayalah padaku dan tunggu saja,” lanjut Putra Mahkota dan terus minta maaf.

Putra Mahkota kembali ke istana dengan perasaan hancur dan dia meminta Sang Gil pergi, karena dia ingin sendirian. Di kamarnya, Putra Mahkota terduduk lemas.

“Ibunda...Sekarang...Apa yang harus aku lakukan?” ucap Putra Mahkota.

Ayahanda...Aku tidak ingin kehilangan mereka lagi.  Aku tidak ingin kehilangan para  pengikutku lagi,” batin Putra Mahkota. 


Dae Gil pulang dan Seol Rim bertanya keadaan Putra Mahkota. Tuan Nam pun berkata kalau seharusnya, Dae Gil tidak meninggalkan Putra Mahkota sendirian karena sekarang dia pasti sangat terluka. Dae Gil pun menjawab kalau tak ada yang bisa dia lakukan untuk Putra Mahkota sekarang ini. Putra Mahkota hanya duduk terdiam di kamarnya. 

Raja sendiri sedang melihat surat perjanjian berdarah yang diberikan Dae Gil. Tepat disaat itu, Raja lagi-lagi batuk darah.


Paginya, Raja meminta In Jwa menghadap dan Raja bertanya apa yang harus dia lakukan pada Putra Mahkota. 

“Jika kau tidak mencabut akar dari pemberontakan, maka itu akan terjadi lagi. Kau harus mengambil nyawanya,” jawab In Jwa enteng.

“Sekitar ratusan anggota kubu noron sudah dibunuh. Kaulah orang yang membujuk para menteri dari kubu noron. Kau yang membuat insiden ini dan membuat mereka mati.”

“Itu tidak benar, Yang Mulia. Apa kekuatanku sehingga aku bisa mengambil tindakan pada kubu noron?” tanya In Jwa pura-pura tak tahu. 


“Lalu apa kekuatanmu sehingga kau minta aku melakukan tindakan itu? Apakah aku orang yang lebih mudah  dibujuk daripada menteri itu dimatamu?” tanya Raja dan In Jwa mulai terlihat bingung. Raja kemudian meminta Sa Woon untuk memberikan surat perjanjian berdarah itu. Melihat itu, In Jwa shock dan bertanya-tanya apa ajalnya sudah dekat. 

“Apa kau juga ingin menyangkal dokumen sumpah darah ini?” tanya Raja dan In Jwa langsung berlutut ketakutan. 

Dae Gil menghadap Putra Mahkota, tapi Putra Mahkota sedang tak ingin bertemu siapa-siapa, jadi dia menyuruh Dae Gil pergi. 

“Raja sudah membuat keputusan. Raja sedang mengusir Lee In Jwa, keluar dari Istana,” ucap Dae Gil.


Kita beralih pada In Jwa yang mengaku kalau dia tak pernah melakukan pengkhianatan. Tentu saja Raja tidak percaya karena dia punya bukti kejahatan In Jwa. Tak bisa membantah lagi, In Jwa pun mengaku kalau memang dia yang menulis sumpah itu, tapi dia melakukan semua itu demi Raja Gyungjong. 

“Aku melakukannya demi dirimu..agar kau duduk di tahta kerajaan. Apa kau sudah lupa, Yang Mulia? Apa kau tidak ingat mendiang Raja dan para menteri kubu noron memperlakukanmu? Apa kau tidak ingat sikap Pangeran Yeoning?” ucap In Jwa. 

(Sikap mereka dingin dan mengabaikanmu.....Mereka mengancammu.)

“Janji yang sudah aku buat untukmu, Aku menyimpannya dalam hatiku,” tambah In Jwa dan Raja teringat pada janji In Jwa yang ingin Putra Mahkota Yoon kecil bisa duduk di tahta kerajaan. 

“Semua ini demi dirimu, Yang Mulia. Aku melakukannya karena kesetiaanku padamu dan membuat kau duduk di tahta kerajaan. Apa kau benar-benar tidak tahu?” tanya In Jwa dan Raja terlihat mulai luluh.

“Kesetiaanmu...Aku mengakuinya. Aku tidak bisa melupakannya,” ucap Raja dan merobek surat perjanjian itu. “Namun, seperti yang kau katakan, pemberontakan bisa terjadi lagi. Sebagai ganti aku menyelamatkanmu.. Selamanya, Kau tidak bisa menginjakkan kakimu lagi di istana. Kau akan kehilangan semua milikmu.”

“Yang Mulia, mengapa kau tidak membunuhku saja?” ucap In Jwa. 

“Aku minta padamu. Jangan melibatkan dirimu dalam urusan pemerintahan,” jawab Raja dan tepat disaat itu, Raja lagi-lagi batu darah. Sa Mo pun langsung memberikan sapu tangan pada Raja. “Si pemberontak Jeong akan dihukum mati besok,” tambah Raja dan kemudian berjalan pergi.


Setelah Raja pergi, In Jwa berdiri dan menatap ke arah Raja dengan tatapan benci, dalam hati dia berkata, “Selama ini aku sudah menahannya. Aku sudah berusaka keras untuk mendapatkan "kartu" ini. Haruskah aku membuangnya sekarang?dengan cara yang sia-sia...



Para menteri dari kubu Soron mengadakan rapat dan mereka berpendapat kalau mereka harus membuang pedang yang sudah tumpul. Para Menteri di Kubu Noron sudah musnah semua dan sikap Raja juga sudah mulai berubah, jadi mereka tidak perlu membawa pedang yang tidak ada gunanya lagi. 

“Apa tuan berencana untuk melaporkanku juga?” tanya In Jwa yang tiba-tiba masuk. 

“Kau sudah bekerjasama dengan si pemberontak Jeong. Kami sudah mendengar soal sumpah darah itu!” jawab Il Joo.

“Pergilah!  Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan,” tambah Yi Kyung.


“Kalian akan mengkhianatiku? Apa kalian yakin kalian tidak akan menyesal soal itu?” tanya In Jwa dan Yi Kyung langsung emosi karena In Jwa mengancam mereka semua. 

“Raja membantumu karena kau dulu gurunya tapi bagaimana bisa kami melanjutkan hubungan dengan seseorang yang bekerjasama dengan pemberontak? Keluar dari sini!” teriak Yi Kyung dan In Jwa pun langsung pergi. 

Kita beralih pada Dae Gil yang memberitahu Putra Mahkota kalau In Jwa sudah kehilangan semuanya. “Lalu kenapa? Apakah itu bisa mengubah sesuatu? Lee In Jwa...Aku akan menyingkirkan dia. Mereka semua yang mati karena rencana busuk itu, tidak akan pernah kembali,” ucap Putra Mahkota penuh kebencian.


In Jwa menemui Jeong dan menaruh racun di makanan Jeong. “Mereka bilang kau akan dihukum mati besok. Aku rasa kau harus mati agar aku bisa hidup. Tubuhnya mungkin akan membusuk sebentar,  tapi jiwanya tidak akan meninggalkan raganya,” ucap In Jwa dan pergi. 

Setelah In Jwa pergi, anak buah Jeong semuanya muntah darah, mereka baru saja makan makanan yang diberikan pada mereka.  Ternyata In Jwa juga sudah memberikan racun di semua makanan mereka. Melihat itu, Jeong bingung, antara makan makanan itu juga atau tidak.


Dae Gil meyakinkan Putra Mahkota untuk bangkit lagi. Semua itu demi menteri dari kubu Noron yang sudah mati untuk Putra Mahkota. Mendengar itu, Putra Mahkota kembali meneteskan air matanya. Tepat disaat itu Sang Gil masuk dan mengabarkan kalau Jeong bersama pengikutnya, mati bunuh diri dengan memakan racun. 

Dae Gil shock dan langsung pergi ke penjara untuk memeriksanya sendiri. Ternyata memang benar, semua pemberontak itu sudah tak bernyawa lagi. Dae Gil kemudian menghadap Raja. 

“Aku dengar kalau para penjahat itu semuanya mati. Kau ingin si pemberontak Jeong hidup dan mencari tahu lebih dalam latar belakangnya. Bukankah artinya rencanamu gagal lagi?” tanya Raja.

“Masih belum gagal. Sekarang ini tidak ada ruginya.. Aku ingin anda mengerahkan Euigeumbu, pejabat dari inspektorat jenderal biro keamanan, dan Hansung wilayah setempat. Kita harus segera menjerat Lee In Jwa,” ucap Dae Gil dan Raja kemudian menyuruh Sa Woon dan Sa Mo untuk melakukan apa yang Dae Gil inginkan. 


Moo Myung dan Jin Ki terkejut mengetahui kalau Raja sudah mengkhianati In Jwa dan In Jwa menjawab kalau semua itu gara-gara perjanjian berdarah itu. Mendengar itu, Moo Myung tambah kaget karena setau dia, surat perjanjian itu sudah dibakar oleh Hong Mae. 


“Dokumen yang sudah dibakar Hong Mae.....adalah palsu. Kemungkian dia memberikan salinan aslinya pada Baek Dae Gil. Namun, itu tidak masalah. Rencana kita harus tetap berjalan. Raja adalah "Kartu" yang harus kita miliki sebelum kita buang,” ucap In Jwa dan tepat disaat itu, Kepala biro keamanan muncul dan berkata akan menyita semua harta benda milik In Jwa dan semua itu adalah titah dari Raja.  Tak lama kemudian Pejabat dari biro Hansung setempat datang untuk melakukan penyelidikan. Pejabat  dari biro Inspektorat jenderaln juga datang untuk menyelidiki Lee In Jwa.

Melihat semua pejabat dari bidang keamanan datang ke rumahnya seperti itu membuat In Jwa mulai cemas. Ternyata bukan hanya barang-barang milik In Jwa yang di sita, barang-barang milik Hwang Gu juga ikut di sita. 

Setelah menyita semua barang milik In Jwa, Pejabat dari Biro Hansung menyarankan agar In Jwa besok menyerahkan dirinya pada Euigeumbu sebelum surat perintah dikeluarkan. 


Hwang Gu langsung menghadap In Jwa dan bertanya tentang apa yang akan In Jwa lakukan sekarang. In Jwa menebak kalau sepertinya Raja ingin membunuh dirinya. “Dia orang yang sedang menuju kematiannya. Aku sudah berencana untuk memanfaatkan dia. Jika dia bersikeras seperti ini, aku harus menyerang terlebih dahulu.”

“Apa yang kau rencanakan?” tanya Hwang Gu. 

“Untuk berjaga-jaga,  Aku sudah memiliki rencana,” ucap In Jwa dan tersenyum.


Para prajurit meninggalkan Jeong dan anteknya begitu saja. Setelah para prajurit pergi, muncul beberapa rombongan gelandangan yang ingin mencari harta benda yang ada di tubuh mayat. Ketika salah satu gelandangan ingin menggeledah Jeong, tiba-tiba tangannya di pegang oleh Jeong. Wow, ternyata Jeong belum mati, dia hanya pura-pura mati agar dikeluarkan dari penjara. 

Jeong kemudian menemui Park Pil Hyun dan bertanya apa orang yang ada di depannya itu benar-benar rekan In Jwa yang bernama Park Pil Hyun. “Aku adalah Jeong Hee Ryang dari Yongnam. Aku sudah bersumpah dengan darah bersama Lee In Jwa.”

Mereka berdua sekarang sudah duduk bersama dan Jeong berkata kalau mereka tak boleh kehingan kesempatan lagi, jadi Pil Hyun harus segera menentukan keputusannya. 

“Pada akhirnya dia menghunuskan pedangnya,” ucap Pil Hyun dan kemudian menyuruh anak buahnya untuk mengirim pesan pada rekan seperjuangan mereka, karena besok Pil Hyun berencana untuk menyerang ibu kota. 

“Sepertinya ibukota besok...akan menjadi kacau,” gumam Jeong.


Kita beralih pada Dae Gil yang memberitahu Che Gun kalau In Jwa akan mulai bergerak besok, karena kalau In Jwa tidak melakukan hal tersebut, maka dia akan mati. 


Putra Mahkota masih berdiam diri di kamarnya, dia bahkan tak mau makan. Sang Gil pun terus membujuknya untuk makan, tapi Putra Mahkota tetap tidak mau.

Bersambung ke sinopsis Jackpot Episode 21 - 2


2 comments :

  1. kapanlah in jwa mati soalnya udah geran kali lihatnya.
    ditunggu lanjutannya ya☺☺☺

    ReplyDelete
  2. pesona jang geun suk di drama ini emang keren ya ^^ si ahjussi Eric mun jg keren loh. Dia bikin gagal fokus banget di drama Another Oh Hae Young : http://www.dramehouse.com/2016/06/sinopsis-another-miss-oh-episode-10.html :))

    ReplyDelete