June 8, 2016

Jackpot ( Daebak ) Episode 19 - 2


Man Geum mengabulkan keinginan Dae Gil untuk bertemu dengan Jeong. Mereka pun kemudian bertemu di sebuah tempat makan. “Selamat datang. Aku dengar kau mencariku. Aku tak yakin harus mencarimu atau menunggumu,” sambut Jeong. Pada Dae Gil, Jeong memberitahu kalau yang membunuh Yeonryung adalah In Jwa. 

“Apa kau tahu? Yeoning mencoba menutupi penyebab kematian Yeonryung,” ucap Jeong.

“Buat apa dia lakukan itu? Kau pikir aku akan percaya?” jawab Dae Gil.

“Sejo menjadi raja setelah kudeta. Taejong manjadi raja setelah dua kali pemberontakan dan membunuh saudaranya. Seperti itulah istana. Saat terjadi pertumpahan darah di istana...rakyat akan menangis darah,” ucap Jeong dan Dae Gil teringat ketika prajurit mengambil paksa barang-barang yang sudah Yeonryung berikan. “Jika kau mengangkat pedang, kau disebut pemberontak. Kalau diam saja, kau hanyalah hewan. Kau mengerti sekarang? Alasan kenapa selalu ada pemberontakan,” tambah Jeong.

“Memberontak demi rakyat?” tanya Dae Gil.


“Kau pasti sudah melihatnya, tangisan para rakyat. Kau akan mengisi air di wadah kosong? Atau mengabdikan hidup pada pemerintah busuk?” tanya Jeong dan Dae Gil balik bertanya apa yang akan berubah jika dia ikut bergabung. 

“Hanya kau satu-satunya,” Jeong melihat kesekeliling dan sedikit mendekatkan diri pada Dae Gil. “Hanya kau yang bisa melengkapi rencana besar ini dan menjadi raja.”

“Katakan padaku. Berapa banyak orang yang harus mati demi menjadi raja?” tanya Dae Gil dan Jeong menjawab kalau Dae Gil punya darah Raja jadi dia tidak akan bisa disebut sebagai pemberontak. Dae Gil hanya akan dianggap untuk mengambil hak-nya saja. 

“Aku ataupun Lee In Jwa takkan bisa. Tapi kau, bisa melakukannya tanpa perlu pertumpahan darah. Kau sanggup diam saja melihat pemerintahan busuk ini? Kalau kau bergabung...Akan kuserahkan nyawa Lee In Jwa padamu. Aku tunggu jawabanmu,” ucap Jeong dan pergi.



Dalam perjalanan, Dae Gil terus terngiang pada kata-kata Jeong yang berkata kalau Dae Gil bisa mendapatkan semua itu tanpa harus melakukan pertumpahan darah. Kita kemudian diperlihatkan pada Yeoning yang terus terngiang kata-kata In Jwa. Dimana In Jwa berkata kalau sekarang ada 3 penerus tahta dan pernyataan In Jwa tertuju pada Dae Gil. 


Dae Gil dan Yeoning terus berjalan sampai mereka berdua bertemu di sebuah jembatan kecil. Mereka berdua kemudian pergi ke kedai arak dan minum disana. Dae Gil langsung bertanya kenapa Yeoning menutupi penyebab kematian Yeonryung. 

“Lee In Jwa pelakunya, Lee in wa. Kau tidak tahu?” tanya Dae Gil karena melihat ekspresi Yeoning yang tak terkejut sama sekali. 

“Itu cuma teori. Kau ada bukti?” tanya Yeoning dan Dae Gil tak percaya mendengarnya. “Ayah sedang sekarat.Saat ini, kami harus membuat istana stabil.Meskipun aku berduka.”

“Cukup!” teriak Dae Gil dan langsung membalikkan meja yang ada di depannya. “Seperti itukah keluarga istana?Adikmu mati, kenapa kau masih tenang?Apa? Kestabilan istana?Bukannya rakyat yang utama?


“Politik...memang seperti itu.Kau tahu beratnya menjadi keluarga istana dan pemerintah?Sedikit saja...aku tak punya waktu untuk bersedih.”

“Jujurlah padaku.Kau anggap dia penghalang dan kau lega dia mati.Iya, kan?” tanya Dae Gil.

“Kau sendiri bagaimana?Kau tak pernah bohong padaku?Kau selalu jujur padaku?” tanya Yeoning balik. 

“Aku tak pernah bohong padamu. Tak sekalipun,” jawab Dae Gil yakin.

“Siapa ayah kandungmu? Kenapa diam?Kau bilang tak pernah bohong.Katakan padaku.”

“Ayahku...hanya Baek Man Geum.

“Ayah kandungmu.Aku tanya siapa dia.Selain itu... apa benar kau bertemu Jeong?” tanya Yeoning yang ternyata sudah diberitahu In Jwa kalau Dae Gil sedang bertemu dengan si pemberontak Jeong. 

“Kenapa kau sembunyikan dariku? Kenapa kau sembunyikan fakta bahwa kau anaknya ayah? Apa tujuanmu mendekatiku? Jawab aku!” tanya Yeoning emosi.

“Apa itu penting? Siapa yang peduli ayahku? Baek Man Geum atau raja?”

“Kalau aku tahu kau anaknya ayah...Aku takkan pernah menerimamu. Aku...takkan pernah berteman denganmu!” ucap Yeoning. 

“Aku mengerti sekarang. Jadi ini alasan Lee In Jwa selalu mengatakan moral keluarga istana busuk. Negeri ini sudah busuk dari akarnya. Kau juga tak ada bedanya,” ucap Dae Gil dan pergi.


Di rumah Dae Gil sedang beruding dengan Tuan Nam, Seol Rim dan Yeon Hwa. Seol Rim berkata kalau dia tak tahu siapa orang itu, tapi menurutnya orang itu pasti berasal dari orang kalangan atas. Namun Dae Gil meralat kalau orang itu hanya seorang perampok. 

“Sudah pasti ada seseorang yang menguasai semua harta benda milik Yeonryung,” ucap Yeon Hwa karena kalau biasanya butuh waktu beberapa saat untuk memulai penyelidikan setelah upacara pemakaman. Tapi untuk kematian Yeonryung tidak ada penyelidikan sama sekali. 

“Ada orang yang mengincarnya,” tebak Dae Gil dan dia mengingat kembali pada percakapannya dengan Yeoning, dimana Yeoning berkata kalau beban yang dipikul sebagai anggota keluarga kerajaan sangat berat. Bahkan untuk sedetikpun, mereka tidak diperbolehkan untuk berduka atau bersedih. 


Dae Gil juga teringat pada ucapan Jeong yang bertanya apa Dae Gil menuangkan air ke dalam kendi yang kosong? Atau dia ingin menyia-nyiakan hidupnya pada pemerintahan yang kuni seperti sekarang ini?

Setelah mengingat dua percakapan itu, Dae Gil langsung berkata kalau dia harus pergi ke suatu tempat. 


Flashback!
Seol Rim melihat sekelompok warga yang berbondong-bondong mengungsi  ke pegunungan karena mereka sudah kehilangan lahan dan rumah mereka. Di tempat lain, Tuan Nam melihat beberapa prajurit membawa barang jarahan mereka ke rumah pejabat. Yeon Jwa mendengar dari salah satu prajurit kalau harta milik pangeran adalah milik pemerintah, jadi alasan mereka mengambil semua harta yang Yeonryung berikan adalah untuk mematuhi undang-undang yang berlaku.
Flashback End!

“Undang-undang macam apa ini? Undang-undang  macam apa yang membiarkan orang dipukuli?” tanya Tuan Nam geram.


“Aku akan bergabung dengan Jeong,” ucap Dae Gil dan membuat yang lain kaget. “Kalian lihat sendiri, negeri ini sudah busuk.”

“Orang busuk akan selalu ada. Buat apa kau gegabah?” tanya Tuan Nam tak setuju dengan ide Dae Gil. 

“Kenapa selalu rakyat yang menderita? Orang busuk itu hidup dengan nyaman. Kenapa rakyat yang selalu diinjak?” tanya Dae Gil tak terima dan Yeon Hwa menjawab kalau semua itu karena rakyat tidak punya kekuatan. 

“Jadi, aku harus pura-pura  tidak tahu? Aku tidak bisa,” ucap Dae Gil dan dalam waktu singkat kita sudah melihat Dae Gil menemui Jeong dengan menggunakan seragam prajuritnya.


Dae Gil mengatakan pada Jeong kalau dia memutuskan untuk bergabung, namun dia punya persyaratan. Syarat yang pertama adalah Jeong harus menjauhi Lee In Jwa dan jika Jeong melakukan hal itu, Dae Gil berjanji akan menjadi Raja yang Jeong impikan. 


Jeong percaya pada janji Dae Gil dan diapun kemudian mengajak Dae Gil ke tempat persembunyian mereka. Agar Dae Gil tidak mengetahui rute perjalannya, Jeong pun membawa Dae Gil ke sana dengan mata di tutup. 


Penutup mata Dae Gil langsung di lepas ketika dia sudah sampai di tempat. Jeong langsung mengajak Dae Gil ke ruangannya dan menunjukkan semua informasi yang mereka dapat dari istana. 

“Hanya ini yang ingin kau tunjukkan padaku?” tanya Dae Gil.

“Malam ini, kami ada transaksi penting,” jawab Jeong. 


Malam pun tiba dan Jeong mengajak Dae Gil untuk ikut bergabung untuk menunjukkan kesungguhannya dalam kelompok pemberontak. Dae Gil terlihat kaget ketika mendengar permintaan dari Jeong. 

“Kau takut tanganmu kotor? Memang nyawamu tidak aman. Sekarang kita ada dipihak yang sama,” ucap Jeong dan Dae Gil tak punya pilihan lain. 


Dae Gil memberikan uang 100 nyang pada prajurit untuk membayar transaksi yang mereka lakukan. Si prajurit pun menyuruh mereka untuk mengambilnya dan pergi. Ketika si prajurit hendak pergi, Dae Gil memanggilnya lagi. Dia ingin si prajurit yang menunjukkan barang-barangnya. 

“Puas?” tanya si prajurit ketika melihatkan barang yang dia jual.

“Tidak. Aku belum puas. Kembalikan ini pada pemiliknya,” jawab Dae Gil dan tepat disaat pintu hendak di dobrak. Mendengar itu, Jeong langsung terlihat bingung.


“Barang-barang ini bukan milikmu. Ini milik rakyat,” ucap Dae Gil dan rakyat yang Dae Gil maksud muncul. Mereka semua langsung menyerbu Jeong dan kawan-kawan. Jeong pun langsung menyuruh anak buahnya untuk menghabisi orang-orang itu, namun sebelum hal itu terjadi Che Gun bersama prajurit datang dan ikut mengepung Jeong. 

“Kim Che Gun,” ucap Jeong.


“Pemberotakan tahun 1697. Dulu aku tak berhasil membunuhmu, sekarang aku melakukannya,” janji Che Gun dan tepat disaat itu rakyat terus berdatangan untuk mengepung Jeong. Dijebak seperti itu, membuat Jeong menatap benci pada Dae Gil. 



Flashback!
Ternyata...   ketika Dae Gil dibawa Jeong dengan mata ditutup, diam-diam Dae Gil meninggalkan jejak untuk Che Gun. 



Sebelumnya juga, ternyata Hong Mae menemui Dae Gil dan memberitahunya kalau Jeong dan In Jwa sudah membuat sumpah dengan darah. Hong Mae membocorkan informasi itu untuk bertahan hidup, dia tak mau terseret masalah gara-gara In Jwa. 


Dan ketika Dae Gil berunding dengan Tuan Nam, Seol Rim dan Yeon Hwa, ternyata mereka sedang membahas tentang Jeong. Seol Rim berkata kalau Jeong adalah orang yang menguasai harta benda milik Yeonryung. Yeon Hwa menambahkan kalau Jeong sudah mengambil gandum yang disimpan untuk dibagikan pada rakyat selama musim kemarau dan juga semua uang yang sudah dikumpulkan rakyat dengan kerja keras padanya diambil.

Flashback End!


Dae Gil menghampiri Jeong dan saat Jeong bertanya kenapa, Dae Gil menjawab kalau dia tidak pernah tertarik untuk menjadi Raja apalagi memberontak. 

“Ini semua salahku. Dari awal kau memang tidak berguna,” ucap Jeong geram.

“Dengar baik-baik. Aku, baek de gil, hanya punya satu tujuan. Kau lihat orang-orang ini? Aku ingin mengambil sabit dan cangkul dari tangan mereka. Negara harus seperti negara, dan rakyat harus hidup seperti rakyat,” ucap Dae Gil

“Tutup mulutmu!” teriak Jeong dan mengambil pedang, namun Dae Gil dengan cepat menebas pedang Jeong. Ketika Dae Gil ingin membunuh Jeong, seorang pria mencegahnya.


“Aku melihat penderitaan di matamu. Aku tak ingin tanganmu kotor oleh darah,” ucap pria itu dan kesempatan itu digunakan Jeong untuk melarikan diri.



Jeong berlari dengan cepat dan saat dia berbelok ternyata sudah ada Sang Gil bersama prajurit menunggu disana. Ketika Jeong akan mengambil rute sebaliknya, Pangeran Yeoning dan prajurit menghadangnya. 

“Kau pasti bersusah payah datang kemari,” ucap Yeoning dan Jeong benar-benar sudah tak bisa lari lagi.


Dae Gil dan Cha Gun dielu-elukan oleh rakyat, di belakang kumpulan rakyat muncul Yeoning yang melihat ke arah Dae Gil. Ternyata yang memberitahu Yeoning bukan Dae Gil, tapi Che Gun.


Dae Gil kemudian pergi ke rumah Jeong dan disana dia menemukan tanaman opium yang digunakan untuk meracuni Raja. Yeoning muncul dan melihat opium yang Dae Gil temukan. 

“Kau menangkap Jeong di tempat kejadian. Sekarang kita punya bukti. Ayah pasti akan senang,” ucap Yeoning dan Dae Gil menjawab kalau dia melakukan semua itu, bukan untuk Raja tapi untuk rakyat.  Yeoning pun berkata kalau bekerja demi rakyat sama saja bekerja demi raja. 

Mendengar pernyataan itu Dae Gil tak mau membahas lebih jauh lagi, dia lebih memilih mencari surat perjanjian darah yang Jeong dan In Jwa buat. Dae Gil kemudian memberitahu Yeoning kalau tujuannya dari awal adalah Lee In Jwa.


Jeong di masukkan ke dalam penjara dan kabarnya sudah sampai ke In Jwa. Di rumah In Jwa penasaran dengan surat perjanjian itu dan Moo Myung berkata kalau dia belum bisa menemukannya. 

“Cepat cari... sekarang juga! Cari perjanjian darah itu,” ucap In Jwa geram.

Yeoning memberitahu Raja tentang Dae Gil yang berhasil menangkap Jeong, tentu Raja senang menendengarnya karena Dae Gil sudah mengabulkan keinginannya. Raja kemudian meminta Yeoning untuk membawa Dae Gil kehadapannya. 



Raja bertanya apa rencana Dae Gil kedepannya. Apa Dae Gil mau hidup sebagai penjudi terus? Dae Gil pun menjawab kalau dia sudah melalui kesulitan dan kekejaman dalam hidupnya, jadi dia ingin diberi pengganti atas semua kesengsaraan yang sudah dia lalui. Namun Dae Gil sangat berharap bisa hidup tanpa memiliki hubungan dengan Raja dan Selir Sukbin. Jadi Dae Gil akan akan memilih hidup sendiri dan mengganti kehidupannya dengan caranya sendiri. 


“Sebagai warga di negari ini... sebagai Baek Dae Gil,” aku Dae Gil dan Raja memanggilnya untuk mendekat. Dae Gil pun mendekati raja. 

“Youngsoo,” panggil Raja.

“Iya, paduka,” jawab Dae Gil ragu. 

“Seorang kakak harus bersikap seperti kakak. Seorang adik harus bersikap  seperti adik. Itu adalah moral dasar di dunia. Ingat baik-baik,” pesan Raja dan Dae Gil pun mengiyakan.


Keluar dari ruangan Raja, Dae Gil melihat Yeoning yang menunggunya. “Aku harus menjadi rakyat atau seorang kakak?” ucap Dae Gil dalam hati. Dae Gil menghampiri Yeoning dan mereka hanya saling tatap tanpa berkata sepatah katapun. Tepat disaat itu Putra Mahkota datang dan menghampiri mereka berdua.


“Aku dengar kau menangkap Jeong?” tanya Putra Mahkota dan Dae Gil pun mengiyakan. Putra Mahkota kemudian masuk ke kamar Raja tanpa mengatakan sepatah katapun. Setelah Putra Mahkota masuk, Dae Gil pun pamit pergi pada Yeoning. 

“Saat kau menjadi raja....”

“Ayah, kenapa bicara begitu?” potong Putra Mahkota.


“Dengarkan aku sampai selesai. Saat kau menjadi raja... Karena kau tak punya penerus. Fraksi Noron pasti akan mendorong Yeoning naik takhta. Apa yang akan kau lakukan pada Yeoning? Kau akan membunuhnya atau membiarkannya hidup? Itulah yang aku tanyakan. Pangeran ditakdirkan untuk menang melawan saudaranya. Takdir raja dimulai setelah ayahnya mati. Jawab aku,” tanya Raja namun sebelum kita mendengar jawaban dari Putra Mahkota, kita sudah beralih scene dimana Raja keluar kamar dan duduk di gazebo. Yeoning sendiri hanya berdiri di belakangnya. 


“Baek Dae Gil. Siapapun dia, jangan memusuhi atau berteman dengannya. Atap yang rusak tak bisa menahan air hujan. Takdir kalian berbeda. Terimalah takdir masing-masing,” pesan Raja pada Yeoning.


“Aku akan mengingatnya,” jawab Yeoning. 

“Sebelum aku pergi... Aku akan memberikan jalan supaya kau tetap hidup. Karena itu, jaga kesehatanmu baik-baik. Suatu hari, kau akan naik takhta. Yang akan memimpin negeri ini di masa depan....adalah dirimu,” ucap Raja dan kemudian menatap ke arah langit, “Waktu... cepat sekali berlalu.”


Tak lama kemudian seorang kasim mengumumkan kalau Raja sudah mangkat. Di luar istana Dae Gil mendengar pengumuman tersebut.

Bersambung ke Jackpot episode 20

3 comments :

  1. Kejutan2 kaya gni yg aku sukai dari drama kerajaan.

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. sedih kali pangeran yeoning di episode yang lalu ibu suri meninggl sekarang raja mangkat.
    ditunggu lanjutannya ya.
    semangat.........

    ReplyDelete