June 6, 2016

Jackpot ( Daebak ) Episode 19 - 1


Che Gun menghadap Raja dan mengatakan kalau dia tak bisa membunuh In Jwa. Semua itu karena Dam Seo yang sudah mengorbankan dirinya. Atas kegagalannya membunuh In  Jwa, Che Gun siap dihukum mati. Rajapun  berkomentar kalau pemusuhan dia dan In Jwa sangat panjang.


Di tempat lain, In Jwa langsung menancapkan pedangnya ke tubuh Pangeran Yeonryung. Dia juga berkata kalau Yeonryung harus menyalahkan ayahnya sendiri, atas kematiannya ini. 


“Saat ini...aku yang mati atau raja yang mati. Semua ini akan berhenti ketika salah satu mati,” ucap In Jwa marah. In Jwa  pun menarik kembali pedangnya dan kemudian menebaskannya pada Yeonryung. “Aku janji, raja akan kubunuh. Pergilah ke akhirat dan tunggu ayahmu,” janji In Jwa pada Yeonryung yang sudah tak bernyawa lagi.


Tepat disaat itu para pelayang pangeran Yeonryung berdatangan dan mereka shock melihat pangeran bersimbah darah. Namun mereka tak bisa berbuat apa-apa karena In Jwa langsung menghadang mereka dengan pedangnya. 

In Jwa pun menyuruh mereka untuk mengurus mayat Yeonryung, jika mereka tak mau mati juga. Tentu saja mereka tak bisa menolak. In Jwa kemudian menyuruh Moo Myung untuk mencari peti mati dan memanggil Hwang Gu. 

Hwang Gu menemui para menteri dari fraksi Soron dan menyuruh mereka datang ke kediaman Pangeran Yeonryung. Setibanya di rumah Yeonryung, Ik Kyung langsung memanggilnya dan mengatakan kalau mereka sudah datang. Namun bukan Yeonryung yang keluar dari dalam rumah, melainkan In Jwa. Tentu saja melihat In Jwa ada di rumah Yeonryung, membuat mereka semua terkejut. 


Keterkejutan mereka semakin bertambah ketika mereka melihat Pangeran Yeonryung sudah berada di peti mati. Dengan cepat mereka bisa menebak kalau In Jwa lah yang sudah membunuh Yeonryung. Il Kyung terlihat sangat marah pada In Jwa, namun In Jwa hanya menyikapinya dengan santai.

“Raja sudah sekarat. Putra mahkota luka parah. Mungkin hidupnya tak sampai setahun.  Fraksi Soron dan Noron mengincar  pangeran Yeongryung, kan?” tanya In Jwa.

“Kau membunuh keluarga kerajaan?” ucap Il Kyung dan In Jwa bertanya apa Il Kyung punya bukti atas tuduhan tersebut. Tentu saja Il Kyung tidak punya.


“Sebentar lagi fraksi Noron akan datang. Fraksi Soron takkan rugi apa-apa. Kau bisa menyingkirkan Yeoning. Ini adalah kesempatan emas untuk mencari kelemahan fraksi Noron,” ucap In Jwa, namun Il Kyung tidak mau mendengarnya dan memilih pergi.  Kau tahu kenapa... aku memilih  bicara denganmu duluan?” teriak In Jwa pada Il Kyung sehingga Il Kyung menghentikan langkahnya. “Sebuah pedang tajam...”

Flashback!
Ketika Il Kyung mengunjungi In Jwa ke penjara, saat itu In Jwa menjanjikan padanya sebuah pedang yang bisa digunakan untuk menyingkirkan orang Noron. 
Flashback End!

“Semakin tajam pedangmu,  semakin kuat dirimu. Siapa tahu... bisa saja kau mengabisi orang Noron dengan sekali tebas,” ucap In Jwa dan itu membuat Il Joo emosi, sampai-sampai dia berteriak agar In Jwa di tangkap. “Demi putra mahkota, kalian harus melindungi Joseon! Tidak ada waktu lagi,” ucap In Jwa dan disisi lain, kita melihat menteri dari Fraksi Noron sedang berjalan menuju kediaman pangeran Yeonryung. 


In Jwa sudah pergi dan hanya 3 menteri dari fraksi Soron disana. Mereka sedang berunding tentang apa yang harus mereka lakukan. Il Joo dan temannya beranggapan kalau mereka harus menangkap In Jwa atas tuduhan membunuh Yeonryung, namun Il Kyung berpikiran lain. Dia sudah berubah pikiran gara-gara ucapan In Jwa, dia memutuskan untuk mengikuti rencana In Jwa.


Rombongan menteri dari Fraksi Noron datang dan mereka semua berkumpul di depan peti jenazah Yeonryung. Tentu saja Fraksi Noron langsung menatap curiga ke arah fraksi Soron. Il Kyung kemudian bertanya pada pelayan Yeonryung tentang apa yang sebenarnya terjadi. Sebelum menjawab si pelayan teringat pada pesan Moo Myung yang menyuruh dia untuk memberitahu para menteri kalau dia melihat pria muda.


Dengan terbata-bata, si pelayan pun menjawab kalau dia melihat pria muda. Setelah mendengar itu, Il Kyung langsung melihat ke arah Chang Jib dan mereka kemudian bicara 4 mata. Il Kyung mengungkapkan kecurigaannya, kalau yang membunuh Yeonryung adalah Yeoning. Dia bisa mengatakan tuduhan itu karena hanya Yeoning yang paling diuntungkan atas kematian Yeonryung. Namun Chang Jib tetap tidak percaya pada tuduhan itu dan dia pun berkata kalau dia tidak akan tinggal diam. 

“Aku tahu. Kalau kau bisa bicara dengan Yeoning. Aku akan bicara dengan putra mahkota,” ucap Il Kyung dan Chang Jib sedikit merasa curiga karena Il Kyung tiba-tiba mengajaknya kerja sama. 


Chang Jib menuju kamar Raja dan teringat ucapan Il Kyung yang berata, “Kalau ini sampai bocor, Yeoning akan jadi sasaran.”

Sampai di depan kamar Raja, Sa Woon memberitahunya kalau Raja sedang tak bisa dikunjungi, jadi Chang Jib harus menemuinya lain waktu. Saat berbalik, Chang Jib bertanya pada rekannya. Dia bertanya keberadaan Yeoning, tapi rekannya tidak tahu karena kediaman Yeoning kosong. Mendengar itu Chang Jib hanya bisa menghela nafas.


Kemana Yeoning? Ternyata dia sedang minum arak sendirian di sebuah rumah. Tak lama kemudian Dae Gil datang

“Kau sudah mabuk,” ucap Dae Gil.

“Aku tidak mabuk. Pada akhirnya... aku sendirian,” aku Yeoning dan Dae Gil menawarkan diri untuk mengantarkannya pulang. “Kau juga akan meninggalkanku, kan? Semuanya meninggalkanku. Orang yang kusayang... semuanya meninggalkanku. Ibu... Dam Seo,” ucap Yeoning dan kemudian kita melihat Dae Gil memapah Yeoning pulang. Tak lama kemudian Sang Gil muncul dan langsung menggendong Yeoning. Dae Gil menatap sedih ke arah Yeoning yang pergi bersama Sang Gil.


Memikirkan Yeoning dan perasaan kehilangan ibu juga Dam Seo, membuat Dae Gil seperti orang frustasi, sampai-sampai Tuan Nam, Seol Rim dan Yeon Hwa bingung harus berbuat apa. Tepat disaat itu, Che Gun datang dan bertanya “Kau mencintainya?” namun Dae Gil hanya diam.

Dae Gil dan Che Gun kemudian bicara berdua, jadi Tuan Nam bersama kedua gadis itu disuruh menunggu di luar. “Kenapa suasananya seperti sedang berkabung?” tanya Seol Rim penasaran dengan apa  yang terjadi. 

“Ada sesuatu yang tak bisa dia ceritakan pada kita. Kelihatan dari wajahnya,” jawab Tuan Nam.


Kita beralih ke dalam, dimana Che Gun berkata kalau dia takkan minta maaf dan Dae Gil mengerti karena semua itu bukan kesalahan Che Gun, melainkan keputusan Dam Seo sendiri. Tapi yang masih Dae Gil pertanyaan di dalam hatinya adalah apa salah Dam Seo.

“Dam Seo tak salah apa-apa, tapi dia mati,” ucap Dae Gil dan menitikkan air mata.

“Menangislah. Dengan menangis... kau bisa melawati semua ini.”


“Bahkan ibu yang baru kutemukan... Kenapa selalu aku? Kenapa aku selalu kehilangan  orang yang kusayang? Aku tak bisa melindungi mereka. Mereka semua mati,” keluh Dae Gil dan menangis. Che Gun berdiri dan memegang pundak Dae Gil.

“Kau sudah berusaha keras,” hibur Che Gun dan pergi.


Il Kyung menemui Putra Mahkota dan memberitahu kalau Yeonryung mati karena masalah pencernaan. Putra Mahkota lalu bertanya apa Raja sudah tahu dan Chang Jib muncul menjawab kalau dia sudah menemui Raja, tapi karena kondisi Raja terlalu lemah, maka Chang Jib tidak memberitahukannya. 

“Saat matahari terbit besok,  aku akan memberitahunya. Aku ingin kalian fokus pada persiapan pemakaman,” ucap Putra Mahkota dan kedua menteri ini pun mengiyakan.

Chang Jib dan Il Kyung keluar dari kamar Putra Mahkota bersamaan. Il Joo berkomentar kalau dia tak menyangka mereka semua akan bekerja sama. Namun Chang Jib menjawab kalau fraksi Noron tidak akan pernah bekerja sama lagi dengan fraksi Soron.

“Apapun yang terjadi, besok kita akan satu suara. Raja pasti marah dan Yeoning pasti akan mencoba melakukan penyelidikan,” ucap Il Kyung dan mereka semua menggangguk mengerti. 


Paginya, Sang Gil membangunkan Yeoning dari tidurnya dan dengan ekspresi shock, Yeoning langsung pergi ke kediaman Yeonryung. Yeoning benar-benar tak percaya ketika melihat peti mati Yeonryung. 


Tuan Nam sedang berjalan di pasar dan melihat para prajurit berlarian. Diapun bertanya pada salah satu prajurit tentang apa yang sebenarnya terjadi dan prajurit itu pun menjawab kalau Pangeran Yeonryung wafat. Kabar tentang wafatnya Yeonryung juga sampai ke telinga Hoong Mae. Mendengar kabar itu, Hong Mae pun teringat ketika Jin Ki menemuinya dan meminta peti mati di tengah malam. 


“Segila apapun mereka, tak seharusnya mereka membunuh pangeran. Membuatku gila saja,” keluh Hong Mae yang bisa menebak kalau In Jwa lah yang membunuh Yeonryung. Hong Mae dan Gamulchi takut kalau mereka nanti disangkut pautkan pada kematian Yeonryung, karena yang dibunuh In Jwa bukanlah orang biasa, melainkan seorang pangeran. 

Tak ingin dapat masalah, Hong Mae pun mulai membuat ancang-ancang untuk mengatasi semua kemungkinan yang akan terjadi. Dia menyuruh Gamulchi untuk terus mengikuti In Jwa kemanapun dia pergi, namun Gamulchi tidak mau, karena In Jwa memang orang yang sangat berbahaya. 

“Aku harus bertahan hidup,” ucap Hong Mae.

Di pasar semua orang membicarakan kematian Pangeran Yeonryung dan Dae Gil mendengarnya. Tanpa Dae Gil sadari, dia terus diawasi oleh Jeong. 


Di rumah, In Jwa sedang mengelap pisau miliknya dan Moo Myung bertanya apa In Jwa yakin ingin membunuh Raja. 


“Dia bagai pohon lapuk. Buat apa mengasihani pohon lapuk? Untuk menyangga tembok saja tidak bisa. Aku akan menunggu sampai nafasnya berhenti. Dia boleh melakukan apapun. Biarkan dia bertahan dan menyebarkan bau busuk. Lalu akan kucabut akarnya,” jawab In Jwa.

Tepat disaat itu Jeong muncul dan menyuruh In Jwa untuk tidak melakukan semua itu. Karena sebentar lagi Raja akan mati, jadi In Jwa bisa menurunkan pisaunya. 


Putra Mahkota bersama Chang Jib dan Il Kyung memberitahu kabar kematian Yeonryung pada Raja. Mendengar penyebab Yeonryung mati karena masalah pencernaan, tentu saja Raja tak percaya dan ingin melihat langsung mayatnya, namun Il Kyung berkata tak bisa, karena mereka tak boleh membawa mayat ke istana. 


Kita kembali lagi pada In Jwa yang bertanya maksud ucapan Jeong yang mengatakan kalau Raja sebentar lagi akan mangkat ( mati ). 

“Aku, Jeong Hee Ryang,  akan bergabung denganmu. Mari kita berbagi darah,” ajak Jeong.

“Sudah kau singkirkan keinginanmu untuk menjadi raja?” tanya In Jwa dan kemudian dia melukai telapak tangannya. Dia menggunakan darahnya sebagai tinta untuk menulis surat perjanjian dengan Jeong dan di akhir In Jwa memberi cap telapak tangannya.


“Kalau memang begitu...Aku ingin kita membuat perjanjian darah,” ucap In Jwa dan Jeong pun langsung melukai telapak tangannya juga. Dia memberi cap telapak tangannya tepat diatas cap telapak tangan milik In Jwa. 


Setelah memperberban tangan mereka masing-masing, mereka pun minum bersama untuk merayakan keputusan kerja sama mereka. In Jwa kemudian memberikan surat perjanjian itu pada Jeong.

“Kita harus bertukar,” ucap Jeong.

“Kalau terjadi sesuatu padaku, bawa perjanjian milikku. Carilah sekutuku,” ucap In Jwa dan kemudian memberitahu Jeong kalau dia harus menemui Park Pil Hyun, karena dia akan membantu Jeong.

“Lalu apa yang harus kuberikan?” tanya Jeong.

“Tak usah memberiku apa-apa. Buang saja diriku,” jawab In Jwa.


Putra Mahkota dan para menteri baru saja keluar dari ruang Raja dan Yeoning pun langsung menemui mereka. Yeoning mengatakan pada Putra Mahkota kalau ada yang ingin dia bicarakan. Setelah mereka hanya berdua, Yeoning bertanya kenapa Putra Mahkota menutupi fakta kematian Yeonryung karena banyak yang tidak wajar pada kematian adik mereka itu. Yeoning meminta Putra Mahkota untuk memanggil polisi dan menyelidikinya.

“Apa kau belum dengar? Dia mati karena masalah pencernaan,  tak ada luka di tubuhnya,” jawab Putra Mahkota.

“Kenapa percaya pada ucapan mereka?” tanya Yeoning.


“Ucapanmu sungguh-sungguh? Noron dan Soron satu suara dalam masalah ini. Mereka bilang masalah  pencernaan. Demi dirimu,” jelas Putra Mahkota dan Yeoning terkejut mendengarnya.

Yeoning pun langsung menemui fraksi Noron dan bertanya apa yang terjadi. Chang Jib menjawab kalau tidak ada untungnya untuk menyelidiki kematian Yeonryung bagi Yeoning.

“Ini tentang kematian saudaraku, buat apa memperdulikan untung rugi?” tanya Yeoning kesal.


“Pangeran. Siapa yang paling diuntungkan atas kematian Yeonryung?” tanya salah satu menteri dan itu membuat Yeoning shock karena mereka semua mengira kalau dialah yang sudah membunuh Yeonryung. Yeoning teringat kembali kata-kata Putra Mahkota yang mengatakan kalau penutupan kasus kematian Yeonryung semua itu demi Yeoning. Akhirnya Yeoning mengerti maksud kalimat itu.

“Tidak penting siapa yang  membunuhnya. Pangeran harus bijak dan  memanfaatkan kesempatan,” ucap si menteri.


“Kesempatan?” tanya Yeoning dengan ekspresi tak terima.

“Pangeran, ini situasi darurat. Jika istana kehujanan, rakyat juga akan kebanjiran. Pangeran mengerti? Pangeran harus memikirkan masa depan,” ucap Chang Jib dan Yeoning tidak bisa berkata apa-apa lagi.


Dae Gil dan Seol Rim melihat para prajurit melakukan kekerasan pada rakyat biasa dan mengambil semua harta mereka. Seorang pria yang menyaksikan itu berkata pada temannya kalau semua barang-barang yang pernah diberikan oleh Yeonryung di tarik kembali oleh kerajaan dengan alasan itu semua adalah harta kerajaan. 

Melihat para prajurit itu melakukan kekerasan, Dae Gil pun hendak menghentikannya, namun Seol Rim mencegah Dae Gil melakukan hal tersebut.


Semua orang berpakaian warna putih dan melakukan pemakaman di rumah Yeonryung. Dalam hati Yeoning meminta maaf pada Yeonryung karena tak ada yang bisa dia lakukan. Tepat disaat itu In Jwa muncul dan berkomentar kalau Yeonryung adalah orang yang baik dan merakyat. 

“Sedang apa disini?” tanya Yeoning.

“Dia pangeran, tapi Cuma punya 2-3 pelayan. Dia memberikan tanah dan  kekayaannya pada rakyat. Dan hidup dengan sederhana. Hatiku sangat sakit,” ucap In Jwa.

“Aku tak butuh hiburan darimu,” ucap Yeoning dan berjalan pergi. Namun langkahnya berhenti ketika In Jwa berkata kalau ada yang ingin dia katakan pada Yeoning. 


“Satu dari 3 darah penerus sudah mati. Sekarang, tinggal tiga.  Pangeran semakin dekat dengan tahkta,” ucap In Jwa.

“Bicara apa kau? Apa maksudmu tinggal tiga?” tanya Yeoning tak mengerti.

“Kau tidak tahu?”

“Putra mahkota, aku...Siapa lagi?”

“Masih ada satu,” jawab In Jwa santai.


“Kau pikir aku akan percaya? Kau akan menipuku,” ucap Yeoning mulai geram.

“Pangeran kenal baik dengannya.”

“Apa?”

“Dia sangat dekat. Dia mengawasi pangeran,” ucap In Jwa dan Yeoning mulai bergetar mendengarnya.

“Menjijikkan. Aku tak sudi mendengarnya lagi,” ucap Yeoning dan pergi. Baru beberapa langkah berjalan, Yeoning berhenti dan teringat pada saat Raja memberikan pedang pada Dae Gil. Dalam hati Yeoning pun terus berkata, “Tidak mungkin... Tidak mungkin itu tidak benar.”


Di pasar, Dae Gil melihat sosok seperti Man Geum dan diapun langsung mengejarnya. Tapi dia kehilangan jejak. Tiba-tiba dia ditarik seseorang ke tempat yang sepi dan ternyata yang menarik adalah Man Geum. Dae Gil langsung bertanya apa ayahnya baik-baik saja, namun Man Geum tak menjawab. Dia malah mengingatkan Dae Gil agar selalu ingat pada apa yang dia katakan waktu itu, kalau hidup Dae Gil adalah milik rakyat jadi Dae Gil tidak boleh bersikap aneh-aneh. 


“Aku butuh bantuan ayah. Aku ingin bertemu Jeong,” pinta Dae Gil dan Man Geum apakah Man Geum akan mengabulkan permintaannya? Tunggu di part selanjutnya.

Bersambung ke sinopsis Jackpot episode 19 - 2


1 comment :