June 30, 2016

Dear My Friends Episode 9 - 2


Wan terus berteriak menuntut kenapa dia milik Nan Hee sambil menghantamkan kepalan tangannya ke pecahan kaca sampai tangannya berdarah. Nan Hee memeluknya dan berusaha menghentikannya tapi Wan terus berusaha meronta dan berteriak-teriak bahwa dia sangat membenci Nan Hee.

"Aku ingin mati tapi aku tidak tega meninggalkanmu seorang diri" tangis Nan Hee


Flashback,


Setelah memergoki suaminya berselingkuh, Nan Hee membawa Wan kecil ke rumah orang tuanya. Tapi di sana dia malah mendapati ayahnya sedang menghajar ibunya. Nan Hee akhirnya membawa Wan kecil ke sawah dan menyuruhnya minum yogurt yang sudah dia campur racun.

Tapi saat Wan mulai meminumnya, Nan Hee cepat-cepat menampik botol yogurt beracun itu. Ayah Wan tiba tepat saat itu juga dan Wan kecil langsung berlari ke ayahnya.

Kembali ke masa kini,


Nan Hee terus berusaha menghentikan Wan dan memberitahu Wan bahwa Wan boleh membencinya. Tapi Wan terus meronta dan menjerit. Tapi dalam batinnya, Wan mengatai dirinya sendiri bodoh karena dia mengungkit-ungkit kejadian 30 tahun yang lalu dan membicarakannya seperti orang gila. Dia bertanya-tanya kenapa dia menyalahkan ibunya sekarang padahal selama ini dia selalu memahami ibunya.

Tapi saat dia mulai menyalahkan Nan Hee sebagai penyebab perpisahannya dengan Yeon Ha, Wan mulai menyadari bahwa sebenarnya dia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri karena telah meninggalkan Yeon Ha.

Dia hanya mencari-cari alasan atas keegoisannya sendiri. Kesalahannya pada Yeon Ha terlalu berat untuk dia tanggung seorang diri, hingga akhirnya dia ingin menyalahkan orang lain. Dan Nan Hee adalah target paling dekat dan paling mudah.

"Aku sangat merindukan Yeon Ha" batin Wan


Hee Ja dengan senang hati memberi Choong Nam makan malam yang sangat banyak sampai Choong Nam kekenyangan. Choong Nam menyuruh Hee Ja untuk memberikan sisanya untuk anak-anaknya saja. Tapi Hee Ja merasa tidak perlu melakukan itu. Baginya, jauh lebih baik jika dia jarang bertemu dengan anak-anaknya. Dia mengerti, anak-anak muda biasanya tidak suka berurusan dengan orang tua.

"Mereka baru akan menyesalinya setelah orang tua mereka meninggal dunia" kata Choong Nam


Choong Nam lalu menelepon Sung Jae dan menyuruh Sung Jae untuk bawa mobil menjemput Hee Ja dan membawa Hee Ja ke suatu tempat. Sung Jae yang saat itu sedang tidur, langsung terbangun kaget mendengar ucapan Choong Nam. Tapi Choong Nam langsung menutup teleponnya dan memberitahu Hee Ja bahwa dia sudah memutuskan untuk membiarkan Hee Ja memiliki Sung Jae.


Terlepas dari kekagetannya, Sung Jae mengirim pesan ucapan terima kasih pada Choong Nam. Tapi Hee Ja bersikeras tidak mau pergi bersama Sung Jae karena dia sudah terlalu tua untuk berkencan. Rasanya aneh bagi orang-orang seumuran mereka untuk pergi kencan.

"Orang seumuran kita bisa mati setiap saat jadi apa anehnya berkencan? Apa salahnya dengan bepergian? Bakarlah bara api terakhirmu sebelum kau memudar"

"Begitukah? Tapi kau bilang kalau kau menyukainya"

"Tidak lagi. Dia bilang dia menyukaimu. Saat itulah aku langsung jatuh cinta padanya. Sungguh"


Setelah selesai makan, Choong Nam melihat barang-barang apa saja yang Hee Ja siapkan untuk acara bepergiannya. Tapi yang tidak disangkanya, Hee Ja menyiapkan satu koper penuh obat-obatan, diaper dewasa, dll.

Choong Nam tidak setuju jika Hee Ja membawa diaper. Hee Ja cukup bilang saja ke Sung Jae bahwa dia harus buang air setiap waktu. Kalau Sung Jae menolak berhenti setiap saat maka Hee Ja langsung pulang saja.

Lagipula kalau Sung Jae sampai melihatnya maka dia pasti akan menertawai Hee Ja. Hee Ja langsung menggerutu, karena inilah dia tidak suka bepergian. Hanya untuk bepergian sebentar saja dia harus mengepak banyak hal.


Saat mereka mulai berbaring, Choong Nam bertanya-tanya apakah Hee Ja selalu tidur di ruang tamu. Hee Ja mengiyakannya karena dia takut tidur di kamar. Hee Ja bertanya-tanya apakah Choong Nam tidak takut tidur sendirian.

Choong Nam berkata tidak, dia hanya takut mati dalam tidurnya. Hee Ja tertawa mendengarnya lalu memuji betapa cantik dan pintarnya Choong Nam dulu. Choong Nam meyakinkan Hee Ja bahwa Hee Ja juga masih sangat cantik walaupun usianya sudah 70 tahun.


Keesokan paginya, Sung Jae bangun dengan mood yang ceria bahkan berjoget dan berdendang riang selama dia mandi lalu berpakaian, pakai parfum dan memakai semir bubuk. Sementara itu, Choong Nam membantu Hee Ja berdandan dan bersiap-siap.


Sung Jae terus berdendang riang sepanjang perjalanan. Tapi Hee Ja lama-lama protes dan meminta Sung Jae untuk menutup bagian atap mobilnya. Sung Jae menolak dengan alasan agar mereka bisa menikmati sejuknya angin.

"Tutup saja! Semir bubukmu terbang ke wajahku!" teriak Hee Ja kesal

Sung Jae akhirnya menutup atap mobilnya. Tapi kemudian nona GPS bicara, mengarahkan jalan yang harus mereka tempuh. Sung Jae melucu dan bicara pada si nona GPS yang dia namai Nona Park hingga akhirnya Hee Ja mulai tersenyum. Dan senyumnya makin lebar saat Sung Jae merayunya dengan menyanyikan lagu-lagu romantis.


Nan Hee sedang memasak sarapan. Tapi saat sudah hampir matang, Wan langsung pergi dengan alasan ada pekerjaan penting yang harus dia selesaikan. Dia bahkan kembali sebentar hanya untuk mengambil laptopnya yang hampir ketinggalan.


Suk Kyun sedang menelepon saudara-saudaranya dan mengabarkan pada mereka bahwa dia akan mengadakan upacara peringatan kematian ibunya. Dia mengklaim bahwa tahun ini, dia akan membuat upacara peringatan yang besar dan mengundang semua saudaranya untuk datang.

Sementara dia sibuk menelepon sana-sini, Jung A melakukan berbagai aktivitas rumah tangga sambil cemberut mendengarkan ocehan Suk Kyun di telepon dengan saudara-saudaranya. Diam-diam dia menggerutui Suk Kyun yang begitu baik pada saudara-saudaranya sendiri tapi tidak pada istrinya sendiri. Dia membuat upacara peringatan kematian besar demi mendiang ibunya tapi tidak pernah membiarkan istrinya sendiri menikmati jajanan ringan.


Choong Nam meneleponnya saat itu untuk mengabarkan tentang apa yang dilakukannya demi Hee Ja dan Sung Jae. Senang, Jung A berjanji bahwa dia akan melakukan apapun yang Choong Nam minta. Jadi apa yang bisa dia lakukan untuk Choong Nam.

"Jangan mati mendahuluiku" hanya itu yang Choong Nam minta darinya.


Nona Park mengumumkan bahwa mereka sudah sampai di tempat tujuan mereka. Tapi anehnya, tempat itu adalah sungai di antah berantah. Sung Jae langsung menggerutui Nona Park yang menyesatkan mereka dan memutuskan bahwa seharusnya dia tidak terlalu mempercayai si Nona Park.


Yang jadi masalah besar saat ini adalah Hee Ja harus buang air dan dia tidak tahan lagi. Sung Jae akhirnya menyuruh Hee Ja untuk mencari tempat di sekitar sini untuk melakukan urusan pribadinya. Selama melakukan urusan pribadinya, Hee Ja menggerutu sendiri "Seharusnya aku tidak meninggalkan rumah. Aku hanya bisa menyalahkan diriku sendiri"


Sementara itu, Sung Jae sibuk sendiri meneliti tempat itu sebelum akhirnya dia berteriak senang dan mengumumkan pada Hee Ja bahwa mereka tidak tersesat. Mereka lalu berjalan menulusuri tempat itu hingga mereka sampai pada jalan bebatuan yang membentang sepanjang sungai. Sung Jae sempat pangling dengan tempat ini karena sekarang tempat ini lebih banyak tanamannya daripada dulu tapi jalan bebatuannya tetap tidak berubah.

Sung Jae mengingatkan Hee Ja bahwa dulu mereka pernah mendatangi tempat ini dan di sinilah dulu mereka pertama kali berciuman. Sung Jae ingin menyeberang sungai untuk mengenang masa lalu mereka tapi Hee Ja tidak tertarik sama sekali karena dia hanya ingin pulang.


Sung Jae mengacuhkannya dan menyuruh Hee Ja untuk melepas sepatunya agar dia tidak terpeleset. Dia berusaha menawarkan diri untuk menggendong Hee Ja seperti dulu, tapi Hee Ja menolak. Hee Ja mulai berjalan melewati jalan berbatuan itu sementara Seung Jae terus nyerocos memperingatkan Hee Ja untuk berhati-hati.

Kesal, Hee Ja menyuruh Sung Jae untuk diam saja dan lebih baik Sung Jae mencemaskan dirinya sendiri saja. Sung Jae dengan sangat pedenya menyatakan kalau dia tidak akan kenapa-kenapa karena dia masih kuat dan bahkan bisa menyeberangi sungai ini dengan mata tertutup.


Bahkan dengan pedenya dia berjoget... dan ujung-ujung dia malah kehilangan keseimbangan tubuh sampai kakinya tercebur ke sungai. Malu, Sung Jae berusaha menutupinya dengan berpura-pura seolah dia sengaja menceburkan kakinya ke sungai. Hee Ja hanya menanggapinya dengan memberitahu Sung Jae bahwa dia tidak bisa membantu dan menyuruh Sung Jae berdiri sendiri.


Selesai mereka sukses sampai seberang, Sung Jae mengajak Hee Ja selfie. Hee Ja tidak mau tapi Sung Jae terus maksa dan mengajak Hee Ja berputar-putar untuk selfie dari berbagai angle hingga lama kelamaan Hee Ja mulai merasa nyaman dan bisa tersenyum.


Sung Jae lalu membawa Hee Ja ke sebuah penginapan yang dulu pernah mereka datangi. Sekarang pemiliknya sudah ganti karena pemilik lama sudah meninggal dunia, tapi Hee Ja masih ingat rumah itu masih sama seperti dulu. Saat Hee Ja sedang melihat-lihat pemandangan, pemilik penginapan bicara dengan Sung Jae. Dia mengira kalau Hee Ja adalah istri Sung Jae dan Sung Jae sengaja tidak menyangkalnya.

Sung Jae lalu memotong kayu untuk dijadikan perapian karena berniat menginap di situ tapi Hee Ja masih terus bersikeras ingin pulang dan bertanya-tanya apakah mereka akan pergi setelah makan malam.

Sung Jae berkata tidak, demi mencapai tempat ini dia harus berkendara selama 5 jam. Dia sudah tua jadi dia tidak boleh menyetir terlalu lama, dia sudah kecapekan dan bisa saja membuat kecelakaan kalau dia terus menyetir.

Hee Ja tetap ngotot ingin pulang dan menyuruh Sung Jae untuk memanggil supir sewaan. Tapi Sung Jae berkata tidak bisa, siapa juga yang mau jauh-jauh datang kemari hanya untuk menjemput mereka. Tetap ngotot mau pulang, Hee Ja langsung menelepon Young Won dan meminta Young Won untuk menjemputnya. Tapi Young Won berpendapat sama seperti Sung Jae dan menyarankan agar Hee Ja menginap bersama Sung Jae saja.


Young Won berhenti di depan sebuah cafe. Di sana, dia melihat mantan suaminya duduk sendirian. Young Won tidak keluar menghampirinya dan hanya menatapnya dari dalam mobilnya dengan sedih. Dia masih mencintai mantan suaminya.


Beberapa saat kemudian, Sung Jae selesai membelah kayu-kayu bakarnya dan menjadikannya perapian, sementara Hee Ja menggerutui Sung Jae karena dia yakin kalau Sung Jae pasti sudah merencanakan segalanya. Dia menyuruh Sung Jae untuk menghangatkan kamar sebelah karena dia akan tidur di kamar itu.


Tapi Sung Jae dengan santainya berkata bahwa kayu bakarnya hanya cukup untuk menghangatkan satu kamar. Selain itu si pemilik penginapan mengira kalau mereka pasutri jadi dia hanya membawakan satu set perlengkapan tidur.

Hee Ja shock, kenapa Sung Jae tidak menyangkalnya. Sung Jae beralasan bahwa kalau dia menyangkalnya maka si pemilik pasti akan mengira yang tidak-tidak tentang mereka, dia pasti akan mengira mereka berselingkuh.

Hee Ja langsung menjauh dengan kesal dan bersikeras tidak mau tidur sekamar dengan Sung Jae, sementara Sung Jae asyik bernyanyi tentang hujan deras... eh tiba-tiba malah hujan beneran. Sung Jae senang dan terus berdendang riang sementara Hee Ja menatap kosong pada hujan.


Hee Ja terus bersikeras tidak mau sekamar dengan Sung Jae bahkan sekalipun kamarnya dingin. Sung Jae membuka pintu kamarnya tak lama kemudian dan memintanya untuk keluar untuk melihat hujan bersamanya.

Hee Ja akhirnya mau keluar dan duduk di sebelah Sung Jae. Mereka melihat hujan bersama sebelum akhirnya Sung Jae melepaskan jaketnya lalu memakaikannya pada Hee Ja. Saat itulah, Hee Ja akhirnya mulai bisa tersenyum kembali.


Wan sedang video call dengan Yeon Ha. Dia bertanya-tanya kenapa Yeon Ha tidak mengatakan apapun setelah dia pergi ke Seoul. Dulu, tepat setelah Yeon Ha keluar dari rumah sakit, Wan terbang kembali ke Seoul karena ibunya sakit.

Tapi setelah ibunya sembuh dan bahkan sampai 3 tahun kemudian, Wan tidak pernah kembali ke Yeon Ha karena dia memang sengaja memanfaatkan alasan itu untuk meninggalkan Yeon Ha.

"Tahu sudah tahu" jawab Yeon Ha dengan senyum tenang.

"Apa yang kau tahu?"

"Bahwa kau... meninggalkanku"

Wan mengakui bahwa dia sebenarnya mencampakkan Yeon Ha lalu cepat-cepat berbalik untuk menyembunyikan air matanya dari Yeon Ha. Setelah cukup tenang, Wan akhirnya meminta maaf dan mengakui bahwa hari ini akhirnya dia punya keberanian untuk meminta maaf pada Yeon Ha.


"Maafkan aku"

"Tidak perlu" Yeon Ha pun mengakhiri percakapan mereka. Wan menangis dan mengakui betapa rindunya dia pada Yeon Ha.


Nan Hee pergi ke apartemennya Wan untuk mengembalikan hapenya Wan. Dia ragu untuk masuk dan akhirnya memutuskan untuk meletakkan hapenya Wan di kotak surat. Dia berniat langsung pergi setelah itu, tapi dia masih bimbang dan akhirnya mengambil kembali hapenya dan naik ke apartemennya Wan.


Wan membiarkan Nan Hee masuk dan mengambil hapenya tanpa mengucap sepatah kata. Saat mengeluarkan beberapa makanan untuk Wan, Nan Hee memperhatikan foto-foto mesra Wan bersama Yeon Ha yang terpajang di dapur.

Nan Hee juga memperhatikan rumah Wan kelihatan sangat bersih hari ini dan menyuruh Wan untuk terus menjaga rumahnya tetap bersih seperti ini. Dia berusaha menawari Wan teh tapi Wan terus diam.

Menyerah, Nan Hee akhirnya pamit pergi. Tapi saat itulah Wan akhirnya bicara "Teh kedengarannya enak"

Nan Hee langsung senang "Teh herbal?"


Wan menyetujuinya dan Nan Hee pun mulai membuatkan teh untuk mereka berdua. Nan Hee mulai mengungkit kelegaannya karena hubungan Wan dengan Dong Jin ternyata hanya kesalahpahaman. Tapi Wan cepat menyela dan menekankan bahwa Nan Hee cukup bilang maaf saja.

Dia hendak membicarakan masalah Yeon Ha. Tapi Wan menyela lagi dan berkata bahwa itu bukan kesalahan Nan Hee. Wan mengakui bahwa dia egois dan takut karena dia pernah melihat betapa menderitanya Nan Hee dan nenek akan apa yang terjadi pada In Bong.


Nan Hee memberitahu Wan bahwa In Bong ingin menikah. Saat itulah Wan akhirnya berpaling ke Nan Hee dan tersenyum padanya. Dia meyakinkan Nan Hee bahwa apa yang terjadi padanya dan Yeon Ha sama sekali bukan kesalahan Nan Hee, dia hanya membuat-buat alasan demi dirinya sendiri. 

Dia juga minta maaf karena tidak memberitahu Nan Hee bahwa dia pernah tinggal bersama Yeon Ha. Nan Hee mengaku bahwa ia justru lega karena Wan pernah tinggal bersama pria dan bukannya masih perawan di usianya yang sekarang.


Nan Hee hendak pergi tapi Wan langsung menangkap tangannya lalu menempelkan perban di bekas luka goresan pecahan kaca waktu itu. Setelah itu dia meminta Nan Hee pergi dan Nan Hee menurutinya. Sebelum benar-benar pergi, Nan Hee memberitahu Wan bahwa Jung A ingin bercerai. Wan tersenyum geli mendengarnya.


Setelah Nan Hee pergi, Wan melihat kembali foto pasangannya dengan Yeon Ha dan cincin pemberian Yeon Ha yang masih disimpannya sampai sekarang. Wan memakai kembali cincin itu di jarinya sambil berpikir "Jika aku merindukannya, maka aku harus pergi menemuinya, iya kan?"


Tiba-tiba dia langsung bersemangat mengecek kalender lalu menelepon untuk mengecek deadline dan meminta perpanjangan deadline. Begitu mendapat konfirmasi penundaan jadwal deadline, Wan langsung buru-buru keluar dan naik taksi menuju bandara. Wah! Dia mau pergi ke Yeon Ha ^^

Bersambung ke episode 10

No comments :

Post a Comment