June 23, 2016

Dear My Friends Episode 8 - 2


Nan Hee pergi ke rumah Wan dan lagi-lagi dia tak bisa langsung masuk rumah karena Wan mengganti password rumahnya. Wan kemudian membukakan pintu untuk Nan Hee dan setelah itu dian langsung masuk ke kamar mandi, untuk membasahi rambutnya. Melihat apa yang Wan lakukan, Nan Hee pun bisa menebak kalau Wan habis minum-minum. Dia lalu menyuruh Wan mandi agar kepalanya kembali fresh. Namun Wan tak mau, karena dia sudah melakukan hal tersebut tapi tubuhnya masih lemas dan pikirannya kacau. 


Wan terus teringang pada ucapan Nan Hee yang melarangnya menikah dengan dua jenis pria, yang pertama pria beristri dan yang kedua pria cacat. Dia juga teringat kembali pada saat Yeon Ha kecelakaan dan ucapannya yang berkata,” Wan, aku mencintaimu selamanya. Tak perlu kesepian, ada aku.”

Ternyata yang membuat Wan frustasi seperti itu adalah harus memilih antara Ibu atau Yeon Ha dan Wan tidak bisa memilih salah satunya.  


“Kau butuh apa supaya bangun?” tanya Nan Hee.

“Rokok. Aku kehabisan, ibu mau belikan?” jawab Wan dan Nan Hee shock mengetahui kalau selama ini Wan sering merokok. Namun, walaupun tak setuju dan tak suka Wan merokok, Nan Hee tetap pergi ke supermarket dan membelikan rokok untuk Wan.


Setelah mendapat rokok dari Nan Hee, Wan pun langsung menyalakannya dan merokok. Selesai merokok, Wan mengambil air putih tapi ketika dia sedang minum air putih, Nan Hee tiba-tiba mengambil gelas yang Wan pakai dan melemparnya ke lantai. Dengan penuh emosi, Nan Hee juga memukuli Wan dan memakinya. Nan Hee emosi karena Wan merokok dan berselingkuh dengan suami orang. 


Tepat disaat itu ponsel Wan berdering dan terjatuh sehingga tanpa sengaja menerima panggilan tersebut. Orang yang ada di seberang sana pun mendengar Wan sedang diamuk ibunya. Puas mengamuk, Nan Hee pun langsung pergi.


Ternyata yang menelpon Wan adalah Yeon Ha. Dia terlihat sedih mendengar apa yang terjadi pada Wan. Tak lama kemudian teman baru Yeon Ha keluar dan membawakan minum untuknya. Dia bertanya kenapa Yeon Ha tak jadi menelpon Wan, padahal sebelumnya Yeon Ha berkata ingin membuat Wan cemburu. 

“Dia sedang ada masalah,” jawab Yeon Ha.

“Kalau begitu hibur dia,” sarannya dan Yeon Ha menjawab tak bisa karena jarak mereka yang jauh. Yeon Ha kemudian meneruskan olahraga, tapi baru beberapa kali angkat barbel, Yeon Ha menyudahinya.

Kita kembali pada Wan yang langsung berdiri dan minum air putih. 

Young Won sedang dalam perjalanan menuju suatu tempat, dia mengendarai mobilnya sendiri. 


Nan Hee pergi ke supermarket dan membeli beberapa soju. Si penjaga supermarket adalah pria yang sebelumnya pernah Nan Hee sapa, tapi karena malam itu, Nan Hee sedang tidak mood, jadi dia tak melihat ke arah si pria penjaga supermarket. Tapi ketika si penjaga memberikan tambahan obat pereda mabuk secara gratis, Nan Hee langsung menoleh ke arahnya. 

“Minum ini dulu,” pesan si penjaga, namun Nan Hee tak menjawab, dia langsung pergi.


Young Won pergi ke rumah Nan Hee dan dia menemukan Nan Hee sedang minum soju di kamarnya. “Kau, mengerti bahwa bagiku wanita yang, menggoda suami orang adalah rubah betina, kan? Aku, Bahkan menyumpahimu gara-gara, Wanita yang selingkuh dengan suamiku... Juga karena kau memacari suami orang. Semua selingkuhan suami orang adalah rubah betina. Semuanya! Tapi aku tidak bisa menyebut anakku sendiri begitu. Karena itu aku memanggilmu. Aku, harus bagaimana dengan Wan? Apa yang harus kulakukan padanya? Harus bagaimana?” ucap Nan Hee frustasi dan menangis. 


Hee Jaa menelpon Jung A dan protes karena Jung A tak mau hidup bersama dengannya. Jung A tetap pada pendiriannya untuk tidak tinggal bersama Hee Ja, karena menurutnya mereka berdua tidak akan pernah bisa akur jika tinggal bersama. 


Setelah menutup telepon dari Jung A yang membuatnya kecewa, Hee Ja kemudian menelpon Sung Jae dan mengajak Sung Jae jalan-jalan. Tentu saja hal itu membuat Sung Jae senang sampai-sampai dia langsung menari kegirangan setelah menutup telepon dari Hee Ja. 

Sung Jae kemudian mengirim sms pada Choong Nam, dia mengucapkan terima kasih karena Choong Nam sudah membujuk Hee Ja untuk mau jalan-jalan dengannya. Sung Jae tidak tahu kalau Hee Ja menerima ajakannya bukan karena bujukan dari Choong Nam, melainkan karena Hee Ja sedang merasa stres gara-gara di tolak Jung A. 


Menerima sms seperti itu, Choong Nam pun langsung menelpon Hee Ja dan bertanya Hee Ja lebih memilih Sung Jae atau Choong Nam. Tentu saja Hee Ja memilih Choong Nam. 

“Kalau begitu jangan pergi. Kita bisa terlibat cinta segitiga. Karena aku menyukai Seong Jae Oppa,” ucap Choong Nam dan Hee Ja pun mengerti. Hee Ja kemudian hendak curhat tentang Jung A, tapi Choong Nam sedang sibuk belajar, jadi dia pun langsung menutup teleponnya. 


Tepat disaat itu, Choong Nam mendapat kiriman guci dari Prof. Park. Melihat itu kedua ponakannya langsung meminta Choong Nam untuk tidak menerimanya, tapi Choong Nam tetap ingin menerimanya, karena dia sangat menyukai guci itu lebih dari dia menyukai teman-temannya. 


Karena Choong Nam tak mau mendengarkan curhatannya, Hee Ja pun menelpon Gi Ja dan menceritakan tentang penolakan Jung A. Tapi bukannya memberi saran atas curhatan Hee Ja, Gi Ja malah lebih penasaran dengan berapa uang yang sudah Hee Ja berikan pada Jung A, karena kemarin Hee Ja sudah memberikan uang pada dirinya sebesar 1 juta. 


Hee Ja kemudian menelpon Min Ho dan yang mengangkat istrinya. Istri Min Ho membohonginya dengan mengatakan kalau Min Ho sudah tidur, padahal Min Ho sedang makan di sampingnya. Tak bisa berbicara dengan Min Ho, Hee Ja pun mencoba berbicara dengan teman yang lain, tapi tak ada yang bisa mendengarkan curhatannya. Hanya nama Jung A yang muncul ketika dia sedang merasa seperti itu, tapi dia tak mau menghubungi Jung A.

Hee Ja lalu mengirim sms pada Sung Jae yang berisi, “Aku tidak jadi jalan-jalan. Choong Nam lebih berharga dari pada dirimu.”

Membaca sms Hee Ja tentu saja membuat Sung Jae bingung, dia bingung kenapa Hee Ja bisa dengan cepat berubah pikiran seperti itu. Sung Jae berusaha menghubungi Hee Ja untuk bertanya tapi tak diangkat, dia juga mencoba menghubungi Choong Nam dan tak diangkat juga.


Kita beralih lagi pada Young Won dan Nan Hee yang sekarang sudah bersiap tidur. Nan Hee kembali mengeluh kalau hidupnya sangat menyedihkan, mendengar itu, Young Won berkata kalau Nan Hee tak pantas mengatakan hal tersebut di depan orang yang menderita kanker. 

“Kapanku kau berpikir hidupmu menyedihkan. Pikirkan saja aku. Aku punya kanker. Betapapun beratnya hidupmu, masih lebih baik daripada penderita kanker sepertiku. Aku punya kanker. Ada hikmahnya, aku sakit kanker. Semua orang di dunia ini, memiliki keberanian setelah melihatku. Aigoo, setidaknya aku lebih baik daripada artis itu. Dia bercerai, nikah lagi, dan cerai lagi. Lalu sekarang dia kena kanker. Lihatlah di internet, katanya aku beruntung. Saat aku berjuang melawan kanker, orang-orang menulis postingan. Dan mereka menge-like dan postingan itu,” aku Young Won. 

“Aigoo. Kau senang dikatakan beruntung? Menurutku kau tidak beruntung sama sekali,” jawab Nan Hee dan Young Won tertawa senang. Dia pun menyuruh Nan Hee ikut tersenyum karena Nan Hee tak punya kanker. Nan Hee pun mulai menyunggingkan senyumannya. 


“Kau minum hari ini?” tanya Nan Hee. 

“Sedikit.”

“Aku memberi alkohol pada penderita kanker.”

“Dasar jahat.”

Kupikir, Wan tidak akan melakukan hal seperti itu. Kupikir aku sudah mendidiknya dengan benar,” ucap Nan Hee kemudian. 

“Itu bukan hal yang bisa diajari. Kau pikir ibuku menyuruhku, menggoda suami orang karena aku melakukannya? Tak henti-hentinya dia bilang, untuk menikahi pria single. Kau jadi janda seperti ini... karena diajari oleh ibumu? Seperti apapun kau mendidik anakmu, hidup ini tidak akan bis kita kendalikan. Wan hanya harus, berhenti merokok dan berhenti menemuinya.”

“Operasi kanker itu, membuatmu jadi fisolofis,” koment Nan Hee dan Young Won pun mengajaknya tidur. Mereka tidur sambil menyanyikan lagu pengantar tidur. 


Di rumah, Wan mulai merapikan rumahnya dan setelah rumahnya rapi, dia mulai bersiap menulis novel tentang cerita ibu dan teman-temannya. Kisah pertama yang akan Wan tulis adalah tentang Nan Hee. 


Jam menunjukkan pukul 2 pagi, tapi Hee Ja belum bisa tidur. Dia kemudian menelpon anak sulungnya, namun nomornya sudah tak aktif. Hee Ja lalu menelpon Jung A dan bertanya Jung A sedang apa, tentu saja Jung A menjawab kalau dia sedang tidur. 

“Mau kututup?” ucap Hee Ja dan Jung A menyuruhnya bicara. “Kenapa tidak mematikan telpon? Takut kalau Soon Young menelpon?” tanya Hee Ja lagi. 

“Mereka hanya menelpon saat butuh sesuatu. Siang saja tidak menelpon, apalagi malam?” jawab Jung A. 

“Matikan telponmu. Aku mengganggumu, kan?”

“Kubiarkan hidup supaya bisa menjawab telponmu.”

“Telponku?” tanya Hee Ja tak mengerti. 

“Kau sendirian. Bagaimana kalau terjadi sesuatu? Kau marah karena aku tidak mau tinggal bersamamu? Hee Ja. Aku hanya ingin sendirian, sepi dan tenang. Kita masih bisa bertemu meski tidak bersama. Dan masih bisa membantu saat ada masalah. Kita tidak perlu tinggal bersama.”

“Iya. Meski tidak bersama, kau selalu bersamaku. Iya, kan? Seperti sekarang,” ucap Hee Ja dan Jung A membenarkan. Hee Ja merasa lega dan senang, dia bahkan mendukung keputusan Jung A untuk pergi dari Suk Kyun. Jung A pun menyuruh Hee Ja cepat tidur agar terhindar dari dimensia. 


Telepon di matikan dan tak ada hitungan menit, Hee Ja kembali menelpon Jung A dan menceritakan tentang Choong Nam yang mengaku suka pada Sung Jae. Sebagai teman yang baik, Hee Ja pun lebih memilih Choong Nam dan membatalkan janji jalan-jalan dengan Sung Jae. 

Wan sudah berada di mobilnya dan perjalanan menuju suatu tempat. Nan Hee membaca catatan kecil dari Young Won yang pamit pergi syuting, Young Won juga mengungkapkan rasa senangnya bisa tidur bersama Nan Hee seperti dulu. Ternyata Wan pergi ke rumah Nan Hee dan saat melihat Wan, Nan Hee langsung masuk ke kamar tanpa berkata sepatah katapun. 


Wan membuka laptopnya dan beberapa bukunya di meja. Tak lama kemudian Nan Hee keluar kamar dengan mengenakan jaket dan bersiap pergi keluar.

“Kau sudah putus dengan Dong Jin?” tanya Nan Hee.

“Tidak perlu melakukan itu.”

“Bukannya memilih Yeon Ha, Kenapa memilih Dong Jin?” tanya Nan Hee lagi, tapi Wan enggan menjawabnya, dia memberitahu sang ibu kalau tujuan dia datang adalah untuk mewawancarai ibunya. 


“Keinginan ibu, kan? Menulis buku. Tentang ibu dan teman-teman ibu. jadi aku mau wawancara,” ucap Wan dan Nan Hee masih penasaran kenapa Wan putus dengan Yeon Ha, padahal sejauh yang Nan Hee tahu, Wan sangat menyukai Yeon Ha. 

Lagi-lagi Wan enggan membahas hal tersebut, dia ingin memulai wawancaranya jadi dia bertanya darimana cerita tentang Nan Hee dimulai. “Mulai ibu lahir atau aku lahir? Tidak... mungkin dari yang ibu ingat? Bagaimana?”

“Kalian pacaran, kan? Dari yang kulihat, kalian seperti kekasih. Kenapa kau putus dengannya? Dia tidak selingkuh, kan? Apa dia selingkuh seperti Dong Jin?” tanya Nan Hee yang masih penasaran dengan Yeon Ha. 


“Dia lumpuh,” jawab Wan akhirnya dan membuat Nan Hee kaget. “Ibu melarangku menikahi orang cacat. Karena itulah kami putus. Tidak, aku membuangnya. Karena aku mendengarkan ibu,” aku Wan dan ingin memulai wawancaranya. 


“Lalu bagaimana? Mulai dari ibu... kerumah nenek saat aku umur 6 tahun. Ingat, kan? Aku ingat dengan jelas. Ibu, kenapa ibu ingin membunuhku? Di sawah,” tanya Wan dan Nan Hee terdiam mendengar pertanyaan itu.

Apa yang akan Nan Hee jawab? Apa yang sebenarnya membuat Nan Hee melakukan semua itu? Tunggu jawabannya di episode 9 ya...

Bersambung ke sinopsis Dear My Friends Episode 9


No comments :

Post a Comment