June 22, 2016

Dear My Friends Episode 8 - 1


Nan Hee shock melihat Dong Jin mencium kening Wan dan kemudian memeluknya. Setelah membuktikan sendiri kalau Wan berselingkuh dengan pria beristri, Nan Hee pun berjalan pergi dengan lemas. Dia tidak tahu kalau malam ini Wan dan Dong Jin sudah memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka. Beralih pada Dong Jin yang bertanya mereka harus bagaimana lagi? Karena diantara mereka sekarang sudah terlihat canggung, Wan pun menjawab kalau mereka harus pulang dan Dong Jin setuju. 


Wan memutuskan pulang duluan dan sebelum keluar dari ruangan, Wan kembali berbalik dan berkata, “Selamat tinggal, cinta pertama.”

“Pergilah ke Yeon Ha, jangan berkeliaran,” pesan Dong Jin dan Wan menjawab kalau Yeon Ha sudah punya cinta baru. Setelah Wan pergi, Dong Jin menelpon seseorang dan mengajaknya minum bersama.



Dalam perjalanan pulang, Wan melewati jalan yang terdapat banyak pohon sakura dan tepat disaat itu bunga sakuranya mulai berguguran. Bunga-bunga sakura yang berguguran merupakan pemandangan yang indah dan Wan membagi pemandangan itu dengan Yeon Ha melalui video call. Tentu saja Yeon Ha senang melihatnya. Wan dan Yeon Ha masih saling mencintai satu sama lain.


Paginya, Nan Hee tak nafsu makan karena kepikiran dengan apa yang sudah Wan lakukan. Nan Hee kemudian pergi ke kantor Dong Jin, dimana saat itu kantor Dong Jin sedang sangat sibuk karena mereka sedang mengejar deadline. Tapi karena yang datang adalah Nan Hee, Dong Jin pun meluangkan waktunya untuk berbicara dengan Nan Hee. Sebelum bicara, Nan Hee minta dibuatkan kopi. 


Dong Jin membawa Nan Hee keruangannya dan disana, Nan Hee melihat foto Dong Jin bersama keluarganya. Karena ruangan Dong Jin sedang sangat berantakan, Dong Jin pun mengajak Nan Hee pindah ke ruang rapat saja. 


Baru keluar ruangan Dong Jin, Nan Hee di beri kopi oleh pegawai Dong Jin dan ketika Dong Jin berbalik ke arah Nan Hee, dia langsung disiram dengan kopi panas oleh Nan Hee.  Bukan hanya menyiram Dong Jin dengan kopi panas, Nan Hee juga memaki dan memukuli Dong Jin karena sudah menggoda Wan. Melihat itu, tentu saja semua pegawai Dong Jin langsung berusaha menyelamatkan bos mereka dari amukan Nan Hee.


Wan sendiri, sekarang sedang berada di toko buku, dia membeli banyak buku dan ketika dia membawa buku-buku tersebut ke kasir, ponselnya berdering. Wan pun kesulitan mengambil ponsel. Ketika dia bisa menjawab teleponnya, orang yang menelpon sudah mengakhiri panggilannya. Orang yang menelpon Wan adalah Hye Min. Namun Wan tak menelpon balik karena dia memang sedang sibuk, dia harus membayar buku-buku yang dia beli. Ketika Wan sudah berada di depan kasir, ponsel kembali berdering dan Wan membiarkannya karena dia tak bisa mengambil ponselnya.


Hye Min adalah salah satu pegawai Dong Jin, karena Wan tak mengangkat telpon, Hye Min pun memutuskan kembali masuk kantor. Di tangga Hye Min berpapasan dengan rekan kerjanya yang bertanya tentang keberadaan Dong Jin. Hye Min pun menjawab kalau Dong Jin sekarang berada di rumah sakit dan ingin sendiri. 


Dalam perjalanan pulang, Nan Hee menelpon Choong Nam dan memberitahunya kalau dia sudah memberi pelajaran pada Dong Jin. Tepat disaat itu, Choong Nam melihat Sung Jae yang mengacungkan bunga padanya. Sung Jae sudah menunggu Choong Nam di sebuah cafe dengan membawa bunga untuk Choong Nam. 


Namun Choong Nam harus merasa kecewa di saat dia mendengar Sung Jae berencana liburan dengan Hee Jaa dan yang lebih parahnya lagi, Sung Jae meminta bantuan Choong Nam.

“Liburan? Pergi dengan Hee Ja unni bukan aku?” tanya Choong Nam kecewa.

“Kenapa juga aku liburan denganmu?” tanya Sung Jae tak mengerti dan Choong Nam pun langsung menolak permintaan Sung Jae. Dia tak mau membantu Sung Jae dengan alasan kalau dia sebentar lagi akan menghadapi ujian. 

“Kenapa jadi marah? Apa hubungannya ujianmu dengan liburanku?” tanya Sung Jae tak mengerti.

“Tentu saja ada, soalnya aku suka oppa,” aku Choong Nam dan Sung Jae menanggapinya dengan tertawa lucu. 

“Aigoo, aku sudah mengenalmu... sejak kau masih suka lari-lari sambil telanjang,” ucap Sung Jae dan Choong Nam tak ingin membahas hal itu. Dia meyakinkan Sung Jae kalau dia serius dengan apa yang dia katakan tadi. Choong Nam kemudian secara blak-blakan bertanya apa Sung Jae tak suka dengan dirinya karena  dia bodoh, seperti dua pria yang datang menghampiri mereka. Salah satu pria yang datang adalah Prof. Park. Dia datang membawa guci untuk di jual pada Choong Nam.


Prof. Park minta maaf pada Choong Nam tentang apa yang mereka lakukan sebelumnya. Namun mereka minta maaf di situasi yang salah, bukannya memaafkan Choong Nam malah marah-marah pada mereka berdua. 

“Kalian tahu sebodoh apa aku, kan? Kalau begitu beritahu yang jelas. Harusnya kalian bilang rumah putih, jangan Casa Blanca, aku jadi bingung. Kalian berlagak dan merendahkanku...menganggapku bodoh? Dimana kalian belajar itu?” ucap Choong Nam kesal.

“Tidak perlu marah,” pinta Prof. Park.

“Di depan muridmu sok jadi profesor, tapi di depanku tidak,” jawab Choong Nam dan prof. Park jadi kesal. 

“Kau sendiri bagaimana? Perlakuanmu buruk karena umur kami dibawahmu. Selalu menyuruh ini itu. Itu tidak keterlaluan namanya?” ungkap prof. Park kesal.

“Iya, aku memang kasar. Tapi kalian beda denganku, kalian ini profesor,” balas Choong Nam dan prof. Park langsung pergi dengan membawa guci-nya. Si murid pun ikut pergi bersamanya. 


Choong Nam langsung minum untuk meredakan emosinya, Sung Jae juga berusaha menenangkan Choong Nam dengan berkata kalau mereka bukan anak-anak, mereka itu profesor. Dia juga menasehati Choong Nam untuk tidak menyuruh-nyuruh profesor itu, karena itu kasar. 

“Aku tahu kau bodoh, kau juga kekanak-kanakan?” tambah Sung Jae.

“Kenapa tak suka padaku?” tanya Choong Nam dan masih berdiri. Sung Jae menyuruhnya duduk, tapi Choong Nam tak mau, dia malah balik menyuruh agar Sung Jae yang berdiri. Sung Jae pun berdiri dan berkata kalau dia menyukai Hee Ja, sedangkan Choong Nam sudah dianggapnya sebagai adik. Sung Jae sepertinya masih tidak percaya kalau Choong Nam benar-benar menyukai dirinya, jadi dia tetap meminta bantuan Choong Nam untuk mendekatkan dirinya dengan Hee Ja. 


“Oppa protagonis dan aku pemeran sampingan? Dulu aku sering mengantar suratmu pada Hee Ja unni. Sekarang juga begitu... Apa aku pesuruh? Jangan meremehkanku. Aku protagonis dalam hidupku. Beraninya minta bantuanku?” ucap Choong Nam dan pergi, tapi sebelum pergi dia mengambil bunga yang Sung Jae bawa. LOL

“Dasar kepala batu. Awalnya tidak apa-apa. Kerasukan apa dia?Dia sudah gila?” keluh Sung Jae melihat tingkah Choong Nam. Sung Jae kemudian menelpon Young Won dan menceritakan apa yang terjadi. Young Won pun menanggapinya dengan tertawa dan berkomentar kalau Sung Jae adalah pria yang beruntung karena punya dua pacar. Sung Jae lalu bertanya kenapa Choong Nam bersikap seperti itu padanya dan Young Won mengaku tidak tahu kenapa. 


“Kalau oppa menggangguku terus, nanti aku ikutan suka padamu,” ucap Young Won dan menutup teleponnya.

“Aku sudah terlalu tua untuk menerima perhatian sebanyak ini,” gumam Sung Jae karena merasa banyak wanita yang menyukai dirinya.

Young Won kemudian berbicara dengan Choong Nam di telpon. Choong Nam mengaku kalau dia tak menginginkan Sung Jae lagi, namun dia tak akan mau melepaskannya. “Akan kupastikan bukan Cuma aku yang kena. Jeong A unni, Hee Ja unni, Nan Hee dan kau. Kalian akan kubawa,” janji Choong Nam karena seumur hidupnya, baru kali ini dia mendapatkan kesempatan. 

“Kejam sekali. Bagaimana kalau Hee Ja unni pingsan? Bagaimana?” tanya Young Won. 

“Pasti lucu, panggil ambulan saja,” jawab Choong Nam dan tepat di saat itu dia melihat anak yang ikut les bersama dengannya, jadi Choong Nam langsung menutup telepon dan membujuk anak itu agar memperlihatkan PR mereka. Awalnya anak-anak itu tak mau memberikan PR mereka, tapi karena Choong Nam janji akan membelikan 2 hamburger, mereka pun bersedia memberikan PR mereka. 

Young Won menelpon lagi, tapi tak diangkat oleh Choong Nam. “Boleh saja tak suka padaku. Tapi kenapa harus Hee Ja unni? Menyebalkan,” keluh Choong Nam dan melanjutkan jalannya. 


Karena sudah tak bisa diberitahu lagi, Young Won pun tak mau ambil pusing, dia membiarkan Choong Nam melakukan apapun yang dia suka, toh hidup mereka sudah tidak akan lama lagi. Tepat disaat itu, Young Won mendapat kiriman bunga. Melihat nama si pengirim, Young Won menghela nafas dan bergumam, “Aku lebih senang melihat wajahmu...bukan bunga darimu.”

Awalnya Young Won tak mau peduli dengan bunga itu, tapi akhirnya dia ambil lagi dan minta vas bunga pada pegawainya. 


Wan sudah berada di rumah ketika dia mengangkat telepon dari Hye Min. Dia langsung shock ketika mendengar cerita dari Hye Min tentang apa yang sudah Nan Hee lakukan pada Dong Jin. Setelah menutup telepon dari Hye Min, Wan teringat kembali saat Nan Hee datang ke rumahnya dan berkata kalau semua yang Nan Hee lakukan, semua itu demi Wan. 


“Sampai kapan aku harus hidup seperti kemauan ibu?” tanya Wan dalam hati. Wan teringat kejadian ketika dia masih kecil, saat itu Wan kecil dibawa Nan Hee ke tempat yang sepi dan di sana Nan Hee memberikan susu pada Wan. Mengingat kejadian itu membuat Wan tak kuat menahannya, dia berusaha melupakan dengan melanjutkan pekerjaan. Tepat disaat itu, Nan Hee menelpon dan Wan menjawabnya dengan setengah hati. Terlihat rasa benci di wajahnya ketika berbicara dengan Nan Hee di telpon. 


Apa sebenarnya yang terjadi pada malam itu? Ternyata malam itu, Nan Hee sengaja memberikan susu basi pada Wan dan membuat Wan keracunan. Untungnya saja ayah Wan datang dan langsung membawa Wan ke rumah sakit. 

Malam itu sangat jelas di ingatanku, ..tapi aku tak pernah bertanya...kenapa ibu lakukan itu padaku. Haruskan kulakukan hal yang sama malam ini? Lalu pura-pura tak pernah terjadi apa-apa?” ucap Wan dalam hati.


Nan Hee sedang mencuci piring di kedainya, sambil mencuci dia terus mencaci Wan karena berani pacaran dengan pria beristri. Saking emosinya, Nan Hee sampai tak mendengar pegawainya sedang berbicara padanya.

“Tidak, aku tak bisa melakukannya.  Saatnya membuat segalanya jelas. Aku harus bilang pada ibu untuk tidak mencampuri hidupku.  Sekaranglah saatnya... untuk mengambil alih hidupku. Aku tidak akan lari. Aku harus berhenti pura-pura...seolah tak terjadi apa-apa,” ucap Wan dalam hati.

 [Seolah tak terjadi apa-apa]


Suk Kyun begitu senang ketika mendapat SMS dari Sun Young yang mengucapkan rasa terima kasih atas bantuan Suk Kyun yang memberi pelajaran pada Se Ho. Dia begitu bangga karena sudah melakukan tugasnya sebagai ayah dengan baik. Namun apa yang Suk Kyun lakukan, tak terlalu membuat Jung A senang,  karena dia pusing mendengar Suk Kyun yang terus-terusan membanggakan diri dan minta di bacakan terus isi SMS dari Sun Young. 


Tepat disaat itu, Choong Nam datang untuk bertemu dengan Jung A. Lagi-lagi Suk Kyun mengeluarkan ponselnya dan menyuruh Choong Nam membaca SMS dari Sun Young, tapi karena Choong Nam tak membawa kacamata, Suk Kyun pun tak jadi menunjukkan sms dari Sun Young. Sebelum berangkat kerja, Suk Kyun berpesan pada Jung A untuk memberitahu pada Choong Nam tentang sms Sun Young. 

Setelah Suk Kyun pergi, Choong Nam memberikan sertifikat yang sebelumnya Jung A berikan, dia memberitahu Jung A kalau bangunan itu ada penghuninya dan kalau mau di jual hanya 50 juta won. Jung A pun berkata kalau dia masih ada lagi yang bisa dijual dan langsung ke kamar untuk mencari sertifikatnya, namun tak ketemu.


Choong Nam masuk dan memberikan sertifikat yang Jung A cari. “Kemarin aku ke kantor pajak. Oppa punya 4 rumah. Semua atas nama adik-adiknya. Yang tersisa cuma bangunan atas nama unni itu... dan rumah atas nama oppa ini. Memangnya dia menikahi adik-adiknya? Dia tidak bilang pada unni, kan? Kalau unni mengizinkan, akan kusumpahi dia. Dia itu perampok,” ungkap Choong Nam dan Jung A pun meminta bantuan Choong Nam untuk mendapatkan 50 juta itu. 

“Soon Young sudah dapat uangnya, kan? Untuk apa uang itu?” tanya Choong Nam.

“Aku mau cari rumah,” jawab Jung A yakin dan kemudian mengajak Choong Nam ke rumah Hee Ja untuk membicarakan maslaah itu lebih lanjut, selain itu di rumah Hee Ja banyak makanan yang bisa mereka makan. 


Nan Hee kembali menelpon Wan dan bertanya apa dia sudah selesai bekerja? Namun Wan tak menjawab, dia meletakkan ponselnya di meja dan membiarkan Nan Hee berteriak memanggil. Sampai akhirnya Wan mau bicara juga.

“Sudah bicara dengan Dong Jin?” tanya Nan Hee dan Wan menjawab sudah. “Kalau begitu kita harus bicara.”

“Tentu saja,” jawab Wan datar.

“Kapan? Dimana?”

“Kapanpun, dimanapun.”

“Aku akan kesitu, tetap dirumah,” perintah Nan Hee dan menutup teleponnya. Di rumah, Wan terus minum sendiri walau hari masih pagi.


Nan Hee rupanya sedang berada di rumah orang tuanya, dia mencucikan baju ayah, ibu serta adiknya. Ketika Nan Hee tengah sibuk menjemur pakaian, Nyonya Oh mengomeli In Bong karena menyukai wanita yang tak cocok untuk dirinya. Dia tak setuju dengan pacar In Bong yang bernama Jacques itu, karena wanita itu adalah seorang janda.  Selain itu, yang membuat Nyonya Oh marah adalah karena tak ada yang mengurus ladang, sebab In Bong sibuk bermain dengan pacarnya. 


Kesal, karena terus-terusan dimarah, In Bong pun memilih pergi. Nan Hee kemudian memberitahu sang ibu untuk tak mempermasalahkan hubungan asmara In Bong, karena In Bong memang menyukai wanita itu, lagi pula wanita itu hanya menikah sebentar dan kabur karena suaminya melakukan kekerasan. 

“Ibu bilang dia wanita baik... dan bekerja di restoran dengan rajin. Umur 22 tidak terlalu muda. Aku yakin In Bong ingin menikah. Dia itu pipisnya jauh loh. Kenapa tak ingin dia menikah? Hah? Hah? Kenapa? Ibu merasa anak ibu dicuri? Karena itu?” tanya Nan Hee dan Nyonya Oh tak bisa menjawabnya. 


Nyonya Oh kemudian melihat suaminya melepas selang oksigen dan itu membuat Nyonya Oh marah. “Kenapa kau lepas, lagi? Kau membuatku gila. Kau ingin masuk UGD lagi? Kau ingat waktu itu... kita sampai habis 480.000 won? Musim dingin dan musim panas lalu juga begitu. Tiap musim selalu naik ambulan. Kalau tak suka pakai ini, mati saja! Kau hidup saja sudah menyiksa,” teriak Nyonya Oh pada suaminya. 

Melihat sang ayah di marahi seperti itu, tapi tetap tersenyum, membuat Nan Hee berkomentar kalau ayahnya adalah pria yang penyabar. Tanpa berkata sepatah katapun, Nyonya Oh langsung pergi dengan menggunakan traktornya. 


Nan Hee pun menghampiri sang ayah dan memberinya buah. “Ayah. Semoga hidup panjang. Meski tak nyaman, jangan dilepas. Nanti bisa sakit. Kalau ayah tiada, semangat ibu bisa turun. Ayah paham?” pesan Nan Hee pada sang ayah, tapi ntah sang ayah mengerti atau tidak dengan apa yang dia katakan. 


Nyonya Oh menyusul In Bong dan langsung bertanya berapa hutang Jacques? Dan In Bong menjawab 20 juta won. Namun Nyonya Oh tak bisa mendengar dengan jelas, dia mengira kalau In Bong menyebut 10 juta won. 

“20 juta! 20 juta!” teriak In Bong.


“Tidak masuk akal. Meski kau kujual pun takkan dapat 20 juta won. Bagimu dia lebih penting dibandingkan sawah, kan? Kau ini enaknya kuapakan?” keluh Nyonya Oh dan pergi.

“Kita bisa jual sawah! Bisa minta noona!” teriak In Bong. Hadeeeuh... wajar saja Nyonya Oh tak setuju. Tepat disaat itu, wanita yang bernama Jacques lewat dengan sepeda motornya.


Kita beralih pada Jung A yang mengaku pada teman-temannya kalau dia ingin bercerai dengan Suk Kyun. Tentu saja Hee Ja shock mendengarnya. 

“Umur segini mau cerai? Jambak saja rambutnya atau gigit tangannya. Datangi adik-adiknya dan minta kembali bangunannya,” saran Young Won. 

“Dia sudah membantu Soon Young? Kenapa harus cerai?” tanya Hee Ja. 

“Itu sudah tugasnya sebagai ayah. Tak ada hubungannya denganku,” jawab Jung A. Berbeda dengan Young Won dan Hee Ja yang membujuk Jung A untuk mengurungkan niatnya, Choong Nam mendukung keputusan Jung A. 

“Kalau unni cerai, kita semua sama. Janda mati ( Hee Ja) , janda cerai (Young Won), tidak menikah (Choong Nam), janda cerai ( Jung A)... Nan Hee janda mati.Pas,” ucap Choong Nam dan Jung A tertawa membenarkan pendapat Choong Nam.


Tetap ingin Jung A mengurungkan niat cerainya, Young Won pun mengajak Jung A piknik, agar setelah itu pikiran Jung A menjadi lebih baik. Namun Jung A langsung menolak dengan berkata kalau dia tidak ingin hidup yang lebih baik, dia hanya ingin hidup yang berubah. 

“Aku tak ingin seperti ibuku mati dulu baru bebas. Aku ingin hidup bebas seperti burung. Aku memutuskannya saat ibuku mati. Ibu bukan masalah rumah,” aku Jung A dan kemudian mengajak mereka semua makan. 


Jung A kemudian pergi ke dapur dan memberesi dapur Hee Ja yang berantakan. Ketika Jung A sibuk di dapur, Hee Ja berpendapat kalau sepertinya Jung A serius dengan apa yang dia katakan. Young Won pun membenarkan, kalau tekad Jung A untuk bercerai sudah bulat. 


“Itu sifat aslinya. Dia memang agak menjengkelkan,” ucap Choong Nam dan tepat disaat itu, telepon rumah Hee Ja berbunyi. Hee Ja pun langsung mengangkatnya dan ternyata itu telepon dari Sung Jae yang menelpon Hee Ja sambil masak. 

“Hee Ja. Makan buchimgae dan pikniklah denganku,” ajak Sung Jae dan Hee Ja langsung menutup telepon tanpa mengatakan sepatah katapun. 

Hee Ja kembali ke tempat duduknya dan berkata kalau dia sangat mengenal karakter Jung A yang kadang agak keras kepala. Namun Choong Nam langsung meralat kalau Jung A bukan agak keras kepala, tapi sangat keras kepala. 

“Iya, sangat keras kepala. Aku kenal dia, dia serius. Bagaimana kalau Suk Kyun tidak mau?” tanya Hee Ja.

“Tentu saja ke pengadilan, jadikan Sung Jae pengacaranya. Kau juga harus jadi saksi mata,” saran Choong Nam. Bingung, Hee Ja pun hendak menelpon Nan Hee, namun di cegah oleh Young Won dengan alasan kalau Nan Hee sekarang sedang susah juga. 

“Suaminya muncul di mimpinya lagi?” tanya Hee Ja yang tak tahu mengenai masalah Nan Hee. 

“Putrinya...,” ucap Choong Nam.

“Tutup mulutmu,” pinta Young Won. 

“Wan kenapa?” tanya Hee Ja penasaran dan Choong Nam menjawab kalau Wan berpacaran dengan pria yang tak seharusnya. 

“Nan He yang malang. Wan bagaimana? Jung A juga bagaimana?” tanya Hee Ja bingung.


“Dia tinggal cerai lalu tinggal dengan unni,” jawab Choong Nam. 

“Jung A tinggal denganku?”

“Belum pasti, cuma kemungkinan,” jawab Choong Nam dan Hee Ja merasa senang karena akan tinggal bersama Jung A. Mendengar itu, Choong Nam bergumam agar dia dan Hee Ja tidak bertemu lagi, karena dia merasa mereka berdua tidak nyambung saat berbicara. 

“Unni, sudah cukup. Suk Kyun oppa bagaimana?” tanya Young Won dan Jung A dengan senang menjawab kalau dia tetap pada keputusannya. Kalaupun Suk Kyun tak mau bercerai, dia akan tetap pisah rumah dan hidup seperti burung yang bebas. 


“Sepertinya Seok Gyun oppa yang akan merasa kehilangan,” gumam Young Won. “Unni, pokoknya aku sudah bilang...aku tidak setuju, mengerti?” ucap Young Won pada Jung A, tapi Jung A pura-pura tak dengar. 


Hee Ja menemui Jung A dan bertanya apa Jung A akan tinggal bersamanya setelah bercerai. Jung A pun menjawab tidak karena semuanya nanti akan jadi ribet. “Aku tak tahan hidup dengan suami yang kunikahi selama 50 tahun. Mana mungkin aku tinggal denganmu?” jawab Jung A dan menyuruh Hee Ja menyiapkan meja makannya. Namun Hee Ja enggan melakukannya, karena dia merasa kecewa Jung A tak mau tinggal bersamanya.


“Kalian semua pulang saja, aku tidak makan,” ucap Hee Ja dan membuat semua orang kaget. “Kau merasa hebat sebagai istri? Kau tersenyum dan pura-pura baik. Tapi semua orang kau tusuk dari belakang,” teriak Hee Ja pada Jung A. “Kau pura-pura patuh, tapi kau mengasah pisaumu. Semua saudara dan teman bilang kau baik, tapi aku tahu aslimu. Kau bukan wanita baik, kau seram, bermuka dua,” ungkap Hee Ja emosi dan masuk kamar. 


Mendengar pernyataan Hee Ja, Young Won dan Choong Nam jadi bertanya-tanya maksud perkataan Hee Ja yang mengatakan kalau Jung A bermuka dua. Jung A yang mendengar bisik-bisik mereka langsung menjawab kalau pernyataan Hee Ja benar. 

“Kita makan saja sendiri, makanannya enak,” ajak Jung A. Choong Nam dan Young Won pun langsung pergi ke dapur. 

Bersambung ke Dear My Friends episode 8 - 2


No comments :

Post a Comment