June 15, 2016

Dear My Friends Episode 7 - 1

Episode 8: Angin bertiup dan Ombak menghantam.


Ibunya Jung A meninggal dunia setelah melihat burung-burung terbang bebas di angkasa. Jung A memeluknya dan menangis. Nan Hee dan Wan masih asyik bermain sendiri. Tapi saat tak sengaja melihat ke arah Hee Ja yang tampak sedang menangis, Nan Hee langsung berhenti bermain.  Sementara Wan masih asyik bermain tanpa menyadari apa yang terjadi.


Nan Hee cepat menghentikannya dan mengalihkan perhatian Wan. Saat itulah akhirnya mereka melihat Jung A memeluk ibunya. Cemas, Nan Hee langsung menanyai Hee Ja dan Hee Ja memberitahunya bahwa Ibunya Hee Ja telah meninggal dunia.

"Ibunya Bibi Jung A meninggal dunia. Dia menjadi janda 50 tahun yang lalu dan dia mengabdikan dirinya untuk membesarkan ketiga anaknya. Dia menghabiskan 7 tahun hidup di panti jompo dengan berbagai penyakit termasuk asma. Dan dalam perjalanan pertamanya ke pantai bersama putrinya yang paling dia sayangi, dia meninggal dunia"



Nan Hee tetap bersikap tenang dengan menghubungi Choong Nam yang sudah sangat ahli dalam mengurusi pemakaman. Sementara Wan hanya bisa terdiam di tempat, tak tahu harus berbuat apa. Di saat seperti ini, dia yang masih kurang pengalaman dalam hidup, benar-benar merasa sangat tidak berguna bagai cangkang kosong di pantai dibandingkan para orang tua yang lebih berpengalaman dan lebih kuat darinya.


Wan lalu menghubungi Young Won, memberitahunya apa yang terjadi dan bertanya-tanya dia harus bagaimana. Young Won pun kaget mendengar berita ini.

Tapi saat ini, dia sedang sibuk syuting dan menyuruh Wan untuk menghubunginya lagi kalau mereka sudah menentukan tempat upacara pemakamannya. Lagi-lagi, Young Won harus berperan jadi ibu-ibu jahat yang wajahnya harus disiram lalu ngamuk lalu menjambaki orang yang menyiraminya air.

 

Sementara itu, Choong Nam sedang sibuk menelepon sana-sini, memberitahu berbagai orang tentang kematian Ibunya Jung A. Tapi kebanyakan dari orang-orang itu beralasan macam-macam untuk tidak menghadiri pemakaman. Choong Nam kesal.

Dalam narasinya, Wan kagum bagaimana orang tua bisa menarik batas antara apa yang bisa dan tidak bisa mereka lakukan. Saat mereka berkata bahwa mereka yang meninggal biarkanlah pergi dan yang masih hidup harus terus melanjutkan hidup. Saat orang tua berkata bahwa semua ini adalah bagian dari hidup, saat itulah Wan benar-benar merasa orang tua itu hebat, mengagumkan dan tak terkalahkan.


Nan Hee sekeluarga belanja bahan-bahan makanan untuk pemakaman. Wan menggerutu heran, kenapa harus mereka yang mengurusi makanan, bukankah seharusnya itu tugas pihak rumah duka. Tapi Nan Hee tidak peduli. In Bong minta pendapat Nan Hee karena dia ingin menikahi gadis Filipina tapi ibu menentangnya.

Sama seperti ibu mereka, Nan Hee juga tak setuju dengan alasan gadis itu usianya terlalu muda untuk In Bong (22 tahun). Tapi In Bong tahu betul kalau Nan Hee berbohong. Nan Hee tidak setuju bukan karena masalah usia gadis itu, tapi karena dia cacat. Wan hanya diam mendengarkan mereka.


Cemas karena ibunya tiba-tiba menghilang, Nan Hee akhirnya mendapati ibunya sedang melihat-lihat sebuah baju cantik yang menarik perhatiannya. Nan Hee bertanya heran, untuk apa ibunya memerlukan baju itu. Nyonya Oh langsung menggerutu kecewa, dia memang sudah tua dan mungkin saja dia akan mati besok jadi dia tidak butuh baju baru.

Dia berjalan pergi tapi kemudian kembali lagi sambil protes "Memangnya kenapa kalau aku mati besok? Aku boleh membeli apapun yang kumau. Belikan aku baju itu!"


Hee Ja membantu Min Ho memakai dasi sebelum mereka pergi ke pemakaman. Tapi karena perbedaan tinggi mereka yang sangat jauh, Min Ho sampai harus berlutut agar Hee Ja bisa memakaikan dasinya.


Sung Jae meneleponnya, memanggilnya 'anak kecil' seperti biasanya dan bertanya kapan Hee Ja akan datang. Tapi Hee Ja tak menjawab dan langsung menutup telepon.


Min Ho bertanya siapa yang menelepon barusan tapi Hee Ja tak menjawab. Melihat ibunya, Min Ho bertanya-tanya apakah ibunya punya ibu juga. Tentu saja, jawab Hee Ja. Ibunya adalah neneknya Min Ho tapi Min Ho tak pernah bertemu dengannya karena neneknya meninggal di usia muda.

"Rasanya aneh. Ibuku punya seorang ibu"

"Iya. Aku juga pernah punya seorang ibu"


Choong Nam menanyai Suk Kyun dan Jung A tentang pemilihan peralatan pemakaman. Mereka berdua sepakat dalam beberapa pilihan kecuali saat mereka ditanyai tentang peti jenazah. Suk Kyun memilih peti jenazah yang paling mahal tapi Jung A lebih memilih yang murah saja lalu menyindir Suk Kyun karena sekarang Suk Kyun bersikap sok baik padahal selama ini Suk Kyun tak pernah peduli pada mertuanya.


Saudaranya Jung A tiba tak lama kemudian sambil menangis dan meratap sedih. Dia marah pada Jung A dan menuntut Jung A untuk mengembalikan ibu mereka. Sementara Jung A diam saja, dia berduka dalam diam. Jenazah Ibunya Jung A dikremasi. Wan bernarasi bahwa pemakaman Ibunya Jung A yang diwarnai keributan, selesai dalam kurun waktu 4 hari.


Jung A lalu membawa abu ibunya ke pantai. Dengan ditemani ke-4 temannya, mereka menabur abu mendiang ibu ke laut. Sementara Wan menatap mereka dari belakang.

"Ibunya Bibi Jung A yang hidupnya sangat sulit, abunya ditebar pada angin dan ombak. Suatu hari, mereka semua pasti akan pergi. Termasuk ibuku juga"

Dengan mata berkaca-kaca, Wan akhirnya memutuskan untuk memenuhi keinginan ibunya. Menulis kisah hidup ibunya dan semua bibinya.


Saat berjalan pulang bersama, Hee Ja memberitahu Choong Nam bahwa Sung Jae selalu memanggilnya 'anak kecil'. Choong Nam jadi kebingungan karena Sung Jae juga memanggilnya dengan sebutan 'anak kecil'. Choong Nam langsung menelepon Sung Jae.


Tapi Sung Jae mengacuhkan teleponnya karena saat itu dia sedang bersama Suk Kyun. Mereka sedang mendiskusikan rekaman audio yang mana Se Oh mengakui sendiri perbuatannya menyiksa Soon Young.

Sambil berjalan pulang bergandengan tangan dengan Jung A, Young Won memberitahu Jung A bahwa mantan suaminya mengiriminya bunga. Jung A kaget karena pria itu kan punya istri. Young Won membenarkannya tapi tetap saja itu membuatnya tersenyum bahagia.


Pesan Choong Nam tentang hubungan terlarang Wan dengan pria beristri, akhirnya terkirim pada Nan Hee. Tentu saja Nan Hee terkejut tapi dia diam saja. Wan memeluk ibunya dengan sayang tapi Nan Hee terus diam tak menanggapinya sedikitpun.

Mengira Nan Hee diam karena sedih atas kepergian Ibunya Jung A, Wan berusaha menghibur Nan Hee dengan memberitahunya bahwa dia sudah memutuskan untuk memenuhi keinginan Nan Hee untuk menulis kisah hidupnya dan semua bibinya.

Tapi Nan Hee hanya menatapnya dalam diam lalu beranjak pergi tanpa mengucap sepatah kata. Wan mengira kalau ibunya pasti sangat sedih sampai tidak menanggapinya sama sekali.


Tengah malam, Suk Kyun terbangun tapi tak melihat Jung A di sampingnya. Suk Kyun keluar kamar dan mendapati Jung A menangis di kamar mandi dan di sekitarnya, ada beberapa botol bir kosong. Dia hendak bertanya kenapa Jung A minum-minum. Tapi dia langsung terdiam dengan cepat.

Tanpa mengucap sepatah kata, dia memberikan selembar handuk untuk menghapus air mata Jung A lalu kembali lagi ke kamarnya dan membiarkan Jung A menangis, melampiaskan dukanya atas kematian ibunya.

"Walaupun kau tumbuh dewasa dengan banyak pengalaman. Tapi kau hanya akan mengalami kematian ibu satu kali saja. Hatimu kau pasti akan hancur. Seperti itulah cara putri yang telah menua, mengucap selamat tinggal pada ibu tuanya"


Keesokan harinya, Nan Hee tidak konsen kerja. Dia lupa meja mana yang belum dilayani, tidak mendengarkan ucapan pegawainya. Dan saat mengiris daun bawang, dia teringat saat mendapati Dong Jin mengetahui passcode rumahnya Wan dan pesannya Choong Nam. Gara-gara itu, jarinya Nan Hee jadi teriris. Tidak tenang, Nan Hee akhirnya menelepon Choong Nam, minta bertemu dan bicara dengannya dan Young Won.

 

Begitu mereka bertiga bertemu malam harinya, Nan Hee langsung melabrak Choong Nam. Nan Hee tidak terima karena dia mengira Choong Nam berbohong dengan cara menuduh Wan berselingkuh dengan pria beristri.

"Tega sekali kau mengatakan hal semacam itu tentang putriku?! Apa kau tahu apa yang kualami gara-gara Sook Hee? Apa kau pikir aku akan membesarkan putriku untuk melakukan itu? Apa mungkin aku mengajari putriku untuk jadi seperti itu?"

Nan Hee tidak terima dengan tuduhan bohong Choong Nam tentang putrinya. Dia dan Dong Jin cuma teman dekat. Tega sekali Choong Nam berkata seperti itu tentang putrinya. Apa dia lagi bosan sampai dia menuduh putrinya seperti itu. Kesal, Nan Hee langsung memukuli Choong Nam tapi Young Won cepat-cepat menghentikannya.

"Kalau aku bosan maka aku akan bicara pada Gi Ja, kenapa juga aku bicara padamu?"

Kesal dan tidak mau terlibat, Young Won berusaha melarikan diri. Tapi Nan Hee mencegahnya dan menuntut apa yang mereka lihat sampai mereka berani menuduh putrinya seperti itu. Apa mereka melihat Wan tidur dengan Dong Jin?


"Aku tidak melihat mereka di tempat tidur. Tapi aku melihat mereka berciuman, puas?"

Young Won berusaha membantah dan mengingatkan Choong Nam bahwa waktu itu Choong Nam tidak memakai kacamata bacanya jadi dia tidak mungkin dia bisa melihat jelas apa yang dia lihat waktu itu. Tapi Choong Nam langsung menyuruhnya tutup mulut dan bersikukuh dengan apa dilihatnya malam itu. Wan dan Dong Jin berciuman di depan kantor penerbitan dibawah rintik hujan. Tak tahan lagi, Young Won langsung pergi. Sementara Nan Hee mulai menangis saat sekali lagi dia bertanya apakah Choong Nam yakin dengan apa yang dilihatnya.

"Aku lebih mencemaskan Wan ketimbang apa yang akan terjadi diantara kita. Aku tidak peduli persahabatan kita akan hancur dan tidak akan saling bertemu lagi. Wan hendak menghancurkan hidupnya. Dia sudah seperti putriku sendiri. Kau harus mengeceknya. Setelah kau mengeceknya dan ternyata tidak ada apa-apa, yah sudah. Kalian berdua akan baik-baik saja. Tapi jika ada yang salah maka kau harus segera menghentikannya"


Choong Nam lalu pergi. Nan Hee langsung menelepon Young Won untuk bertanya kenapa Wan putus dengan Yeon Ha, apa karena Dong Jin? Dia yakin kalau Young Won tahu jawabannya karena Wan dan Young Won sangat dekat. Tapi Young Won mengklaim kalau dia tidak tahu apa-apa dan hanya berkata bahwa Wan bisa mengurusi hidupnya sendiri dengan baik.

Choong Nam yang baru keluar dari gedung apartemennya Nan Hee, langsung menyambar hapenya Young Won dan menyuruh Nan Hee untuk mencoba mengecek hapenya Wan. Dia juga memberitahu Nan Hee cara membuka passcode hapenya Wan.

Nan Hee lalu menelepon Wan dan menuntut apakah Wan sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Tanpa menyadari apa yang terjadi, Wan tertawa mendengar tuduhan mendadak ibunya. Mengira tidak ada yang penting, Wan cepat-cepat menutup telepon dengan ibunya karena dia sedang video call dengan Yeon Ha.


Yeon Ha menunjukkan gambarnya yang paling terbaru. Sepasang kekasih tampak sedang berdansa dengan gembira. Wan suka dan dengan pedenya bertanya apakah wanita dalam gambar itu adalah dirinya.

Tapi Yeon Ha menyangkal "Ini Nikita. Lihat, rambutnya kan oranye"


Cemburu, Wan bertanya kesal siapa itu Nikita. Sambil menunjukkan foto mesranya bersama Nikita, Yeon Ha memberitahu bahwa Nikita adalah pekerja paruh waktu di music cafe, mahasiswa pasca sarjana dan dia sangat cantik dan seksi.

"Apa kau pacaran dengannya?"

Yeon Ha langsung menjawabnya dengan cekikikan malu-malu. Wan jadi tambah kesal, sepertinya Yeon Ha sangat menyukai si Nikita itu. Yeon Ha memberitahu Wan bahwa Nikita itu orang yang ceplas ceplos. Bahkan dalam kencan kedua mereka, Nikita langsung bertanya apakah dia masih bisa melakukan err... 'itu'.

"Terus?" tanya Wan kesal

"Aku bilang, tentu saja aku bisa. Lalu aku tanya sama dia, apa dia mau lihat untuk membuktikan sendiri kalau dia bisa melakukan itu"

"Lalu apa dia bilang 'kapan saja boleh', begitu?"

"Iya" jawab Yeon Ha


Cemburu berat, Wan langsung menyiram segelas air ke Yeon Ha... dan sedetik kemudian dia baru sadar kalau yang dia siram adalah laptopnya dan bukannya Yeon Ha. Wan langsung panik lalu cepat-cepat menyeka laptopnya dan berusaha menyelamatkannya dari air. Sementara Yeon Ha tertawa sambil pura-pura kaget dan menutup wajahnya seolah dia benar-benar kena siram air.


Dalam flashback, kita melihat betapa bahagianya Wan dan Yeon Ha sebelum Yeon Ha mengalami kecelakaan. Saat mereka tinggal bersama di Slovenia, berdansa bersama di kamar mereka dan kejar-kejaran di alun-alun.


Nan Hee melampiaskan stresnya dengan minum soju sementara Young Won mengantarkan Choong Nam pulang. Choong Nam tahu kalau Young Won tidak setuju dengan tindakannya tapi dia tetap harus melakukan ini. Satu-satunya orang yang akan Wan dengar hanya ibunya dan dia yakin kalau kali ini Wan pasti akan mendengarkannya.


Walaupun tadi Young Won memang memprotes Choong Nam, tapi sebenarnya dia memang setuju dengan Choong Nam. Dia juga merasa sudah saatnya Wan berpisah dengan Dong Jin. Baguslah jika mereka putus tapi jika tidak, berarti semua itu sudah takdir. Cepat atau lambat semua ini pasti akan terjadi.


Choong Nam lagi-lagi dapat sms dari Sung Jae yang mengucap 'Selamat malam, anak kecil'. Dia langsung menelepon Sung Jae saat itu juga dan dengan nada cemburu menuntut kenapa Sung Jae memanggilnya dan Hee Ja dengan sebutan 'anak kecil'.

Sung Jae heran, memang apa salahnya dengan panggilan itu. Dia memanggil Hee Ja anak kecil karena Hee Ja memang kecil, dan dia memanggil Choong Nam anak kecil karena dia muda dan imut. Choong Nam langsung menutup telepon begitu saja.


Walaupun dia menutup teleponnya dengan kesal. Tapi kata-kata Sung Jae yang mengatakan bahwa dia muda dan manis, begitu membekas dalam pikirannya. Kata-kata itu terus tergiang dalam pikirannya sampai-sampai dia langsung minta Young Won untuk menyalakan AC padahal udara sedang tidak panas.


Young Won langsung menggodanya bahkan menyanyikan lagu romantis. Awalnya Choong Nam merasa terganggu tapi tiba-tiba saja dia membayangkan Young Won jadi Sung Jae, sedang menyanyikan lagu romantis itu untuknya.


Nan Hee tidak bisa tidur, pikirannya terus terngiang akan ucapan Choong Nam. Dia jadi makin stres dan akhirnya dia minum soju lagi.


Keesokan harinya, Jung A memasak sambil memikirkan ucapan Soon Young yang begitu senang karena akan pergi ke Amerika dan bisa hidup bebas di sana. Dia akhirnya memutuskan untuk merelakan kepergian ibunya, sekarang ibunya bebas, sekarang ibunya terbang bebas seperti burung di angkasa.

Berkat pemikiran itu, sikap Jung A pada Suk Kyun langsung berubah drastis. Bahkan saat Suk Kyun menyuruh Jung A mengambilkannya segelas air, Jung A menolak dan menyuruh Suk Kyun untuk mengambilnya sendiri. Suk Kyun cukup terkejut dengan sikap Jung A padanya.


Mengira Jung A masih sangat berduka, Suk Kyun berusaha menghiburnya dengan memberitahu Jung A bahwa ibunya sekarang telah pergi ke tempat yang lebih baik. Dia juga memberitahu Jung A bahwa dia berencana memberikan sebuah hadiah yang sangat bagus untuk Soon Young nanti. Dia mengklaim bahwa hadiahnya sangat bagus sampai-sampai Jung A akan bersikap sangat baik dan patuh lagi padanya nanti. Tapi Jung A terus diam tak menanggapinya.

Suk Kyun lalu bertanya kapan penerbangan Soon Young. Apa Jung A akan mengantarkannya pergi. Suk Kyun berkata kalau dia tidak mengantarkannya pergi. Suk Kyun menyatakan bahwa mereka bisa mengunjungi Soon Young ke Amerika kapan-kapan.


Saat Suk Kyun masuk kamar mandi, Jung A bergumam pada dirinya sendiri bahwa dia ingin jadi anak yang baik pada ibunya lalu masuk kamar dan mengambil sertifikat propertiya. Dia lalu menelepon Hee Ja untuk membantunya menjual properti miliknya. Tapi Hee Ja tidak tahu caranya dan menyuruh Jung A untuk bicara pada Choong Nam saja karena Choong Nam adalah ahlinya.


Jung A memberitahu Choong Nam bahwa dia sangat putus asa dan karena itulah dia harus menjual propertinya. Choong Nam akhirnya setuju dan Jung A ingin agar semua ini dilakukan tanpa sepengetahuan Suk Kyun.


Jung A meyakinkan dirinya sendiri bahwa ibunya sekarang sudah tiada jadi dia tidak perlu takut untuk melakukan apapun yang dia inginkan.

Bersambung ke episode 8 - 2

No comments :

Post a Comment