June 14, 2016

Dear My Friends Episode 6 - 2


Suk Kyun pulang dalam keadaan mabuk, dia menggedor pintu dan memanggil Jung A. Tapi tak ada jawaban sama sekali dari dalam rumah dan itu membuat Suk Kyun berpikir kalau Jung A keluar lagi tanpa izin. Suk Kyun pun terus mengumpat dan berjanji tidak akan memberi Jung A makan lagi, biar Jung A merasa lemah dan tak sanggup keluar rumah. 

Suk Kyun membuka pintu rumah dengan kunci yang dia bawa dan ternyata Jung A ada di dalam rumah. Mengetahui hal itu membuat Suk Kyun kesal. Sambil berkacak pinggan, Suk Kyun berkata, “Beraninya kau mengabaikan suamimu? Untung aku sudah tua.Untung suasana hatiku sedang baik.”

Suk Kyun minta diambilkan air, tapi Jung A masih tak bergerak dari tempat duduknya. Dia meminta Suk Kyun untuk mengizinkan Soon Young bercerai dari suaminya. Mendengar hal itu, Suk Kyun tertawa dan bertanya kenapa. 



“Karena suaminya terlalu baik? Karena suaminya yang cari uang... dan membelikan hadiah pada ayah yang dia benci?” tanya Suk Kyun dan melepas jaket pemberian suami Soon Young. “Anak gila, dia tak tahu mana yang baik. Dia itu manja. Dia hanya bisa... menghabiskan uang untuk belajar. Dia selalu tidur. Kerjanya cuma menghabiskan uang suaminya. Dia mirip denganmu, kau tahu?” oceh Suk Kyun tanpa tahu apa yang terjadi dan Jung A pun langsung menamparnya. Tentu saja hal itu membuat Suk Kyun shock dan hanya terdiam. 


“Iya, bahkan kekerasan yang dia terima mirip denganku. Dia bodoh seperti aku, jadi tak bisa melawan. Semua ini salahku,” jawab Jung A dengan nada tinggi dan menghamburkan foto Soon Young di depan wajah Suk Kyun. Saking kesalnya, Jung A merobek jaket pemberian suami Soon Young untuk Suk Kyun. Tak tahan lagi, Jung A masuk kamar dan menangis. Ketika sendirian, Suk Kyun melihat foto-foto Soon Young dan itu membuatnya tambah shock. Dia tak bisa berkata-kata lagi.


Pagi yang indah di rumah nyonya Oh, dia sibuk memandangi pemandangan rumahnya dan tuan Jang sibuk memandangi Nyonya Oh. Nan Hee masuk kamar dan membangunkan Wan.


“Mau lihat sesuatu yang lucu?” tanya Nan Hee dan Wan bingung dengan apa yang ibunya maksud. Nan Hee membuka jendela dan memperlihatkan apa yang terjadi di luar rumah. 

“Dulu kakekmu yang melihat  ke arah lain. Nenekmu yang selalu memandangi kakek. Sekarang, kakekmu yang selalu memandangi nenek. Dan nenek menghabiskan hari...dengan melihat gunung dan pohon. Lucu, kan?” tanya Nan Hee dan Wan hanya tersenyum. “Lihat itu? Kakekmu mendekat.”


“Satu, dua, tiga,” ucap Wan dan tepat dihitungan ketiga, Nyonya Oh berbalik dan kaget melihat si suami sudah ada di belakangnya. Nyonya Oh berusaha membuat Tuan Jang ingat kalau nama Nyonya Oh adalah Ssang Boon, tapi Tuan Jang hanya tertawa tanpa mengatakan apa-apa dan itu membuat Nyonya Oh kesal. Saking kesalnya dia tak mau diikuti oleh Tuan Jang, tapi Tuan Jang tetap mengikutinya.


Wan kemudian melihat pamannya, Jang In Bong berjalan dengan satu tongkat dan kemudian duduk di kursi roda. Melihat In Bong, Wan sepertinya teringat pada Yeon Ha.


Suk Kyun mencari Jung A dan ternyata Jung A sedang berada di kamar mandi. Diapun ikut masuk untuk sikat gigi. 

“Tak usah masak. Aku tidak sarapan. Masak untukmu sendiri saja. Aku tidak lapar,” ucap Suk Kyun namun Jung A tak mendengarkannya, tanpa berkata sepatah katapun, Jung A keluar dan masuk kamar. 


Suk Kyun sekarang sudah berada di halte, tepat disaat itu rekan kerjanya keluar dari bis dan langsung bertanya padanya kenapa dia tidak masuk kerja. Gara-gara Suk Kyun tak masuk kerja, diapun jadi lembur 2 jam. Selain itu, satpam lain juga ikut kerepotan. 

“Sedang apa kau?” tanya rekan kerja Suk Kyu, namun Suk Kyun tak menjawab, dia langsung naik bis dan rekan kerjanya itu berteriak kalau bis itu bukan bis yang menuju tempat kerja mereka, tapi Suk Kyun seolah-olah tak mendengar. Dia tetap masuk kedalam bis dan pergi. 


Ternyata Suk Kyun pergi ke kampus tempat suami Soon Young bekerja. Pada salah satu mahasiswa yang dia temui, dia bertanya dimana kantor dari profesor Oh. Di depan gedung, Suk Kyun terus melihat ke arah mobil yang di parkir disana. Sepertinya dia mengenali pemilik mobil itu.


Soon Young turun dengan tergesa-gesa dan menemui ibunya di bawah. Karena Soon Young tak mau bicara dirumah ibunya, maka dia pun mempersilahkan Jung A untuk masuk ke kamar kecil yang dia sewa. 


Sebelum masuk ruangan Prof. Oh, Suk Kyun dengan kesal membanting papan nama milik Prof. Oh yang dipasang di pintu. Nama suami Soon Young adalah Oh Se Oh. Tanpa basa-basi, Suk Kyun langsung mengamuk dan memukuli So Oh. Awalnya Se Oh tidak melawan, tapi ketika dia tahu alasan Suk Kyun marah karena Soon Young, Se Oh  pun langsung memberikan perlawanan. 


Sambil menyudutkan Suk Kyun dan menahan tangannya, Se Oh mengambil gambar luka di wajahnya sendiri dan kemudian berkata, “Ajari putrimu dengan benar. Lihat semua ini,” ucap Se Oh dan menunjukkan beberapa foto Soon Young bersama pria lain. “Apa itu? Mereka semua muridnya! Kau membelanya? Kau mengadopsinya, jangan sok jadi ayah! Aku dengar dia sudah pacaran sejak SD. Dia memberitahuku sambil menangis saat pertengkaran pertama kami. Dia pikir dia harus memberitahu semuanya pada suaminya. Kau tahu apa yang terjadi... saat dia SD, kan?” tanya Se Oh.


Flashback!
Soon Young mengadu pada Suk Kyun kalau anak bos Suk Kyun sudah merabanya. Namun saat itu, Suk Kyun tidak mau mendengarkan dan memperhatikan Soon Young, dia malah menyalahkan Soon Young karena memakai  rok. 

“Aku pakai celana! Dia tetap merabaku! Ayah!” teriak Soon Young sambil menangis, tapi karena Suk Kyun malah meneruskan pekerjaannya, Soon Young pun langsung pergi
Flashback End!

“Kau pasti tahu...dia itu genit!” teriak Se Oh dan kemudian membanting Suk Kyun ke lemari. Suk Kyun pun hanya diam dan Se Oh mengakui kalau dia memang sudah memukuli Soon Young. 

“Aku memukulnya sedikit, tidak...aku banyak memukulnya. Memang ada buktinya? Tidak, kan? Dia melukai diri sendiri! Dia bilang sudah seperti itu sejak SMP. Kau tak bisa menyalahkanku! Kita akhiri sampai disini saja. Sampai disini,” ucap Se Oh dan pergi.


Setelah Se Oh pergi, Suk Kyun mengeluarkan ponselnya dan mengambil gambar luka yang ada di kepalanya. Dia kemudian mengumpulkan kembali foto-foto Soon Young. Di luar, Suk Kyun merusak mobil Se Oh dengan linggis. Karena apa yang dia perbuat, Suk Kyun pun dibawa ke kantor polisi. 


Di dalam mobil polisi, Suk Kyun mendengarkan pengakuan Se Oh yang sudah terekam di dalam ponselnya. Ternyata Suk Kyun sudah merencanakan semuanya.


Kita beralih pada Soon Young dan Jung A yang tidak tahu tentang apa yang Suk Kyun lakukan. Soon Young mengaku kalau dia tak marah pada Jung A. Namun Jung A tetap merasa kalau Soon Young merahasiakan semua yang terjadi padanya karena Soon Young menaruh dendam padanya. 

“Saat kau bertengkar dengan Heo Young dan Soo Young, Aku membela mereka,” ucap Jung A. 

“Anak sulungmu bertengkar dengan kedua adiknya. Bukannya wajar memarahi yang tua?” jawab Soon Young.


Flashback!
Soon Young pulang sekolah hujan-hujan dan dari arah berlawanan, Jung A sedang berjalan bersama kedua anaknya menggunakan payung. Soon Young menghampiri mereka dan meminta makanan yang Jung A bawa. Jung A pun menyuapkan makanan itu pada Soon Young. 
Flashback End!

Jung A masih terus beranggapan kalau Soon Young sakit hati karena Jung A selalu mengutamakan Soo Young dan Hae Young. Soon Young pun meyakinkan Jung A kalau dia tak merasa seperti itu sama sekali. Jung A mengaku kalau dia merasa sedih dan sakit, karena Soon Young merahasiakan semua itu darinya. 

“Maafkan aku, bu. Kupikir beban ibu akan bisa lebih ringan. Ternyata malah jadi begini,” ucap Soon Young.


“Apa?”

“Saat aku menikah. ibu bilang pada teman-teman ibu. Selesai sudah. Tugasku sudah selesai. Aigoo, leganya,” ungkap Soon Young dengan mata berkaca-kaca.

“Kau marah karena itu?”


“Tidak. Aku tahu bagaimana ibu hidup. Ibu mengadopsiku... karena tidak punya anak. Karena tidak punya anak laki-laki. Jadi para ipar ibu selalu menyusahkanmu, aku melihat semuanya. Aku membuat janji, bahwa aku tidak akan memberi ibu masalah lagi. Aku sudah banyak menyusahkan ibu sebelum aku menikah. Karena itulah aku menahannya. Maafkan aku, bu,” aku Soon Young dan Jung A menyuruh Soon Young untuk menuntut Se Oh, namun Soon Young tak mau, karena dia ingin hidup tenang. 

“Ibu, apa yang harus kulakukan? Ibu...,” ucap Jung A dan memeluk Soon Young. Jung A terus menangis meratapi nasip putri sulungnya itu.


Mereka berdua sekarang sudah berada di sebuah kedai dan makan bersama. Saat makan Soon Young berkata kalau dia begitu merasa bahagia ketika dia memikirkan akan pergi ke Amerika. Karena disana dia bisa tidur nyenyak dan bangun dengan segar. Jadi, dia meminta agar Jung A juga merasa bahagia. 

“Aku bukan hanya bercerai tapi juga bebas. Kebebasanku, ibu pahamkan?” tanya Soon Young.

“Kau benar, kebebasanmu. Kebebasan, Kau benar,” ucap Jung A yang mengerti dengan keputusan yang Soon Young buat. Walaupun begitu Jung A tetap tak bisa menyembunyikan rasa sedihnya. 


Jung A sudah berada di parkiran, namun dia tak langsung masuk rumah, dia malah menelpon perawat yang merawat ibunya. Si perawat pun memberitahu kalau kondisi Nyonya Cha sudah baik-baik saja. Tentu saja Jung A senang mendengarnya dan dia berkata pada si perawat kalau besok dia akan menjenguk ibunya. 

Tak ingin pulang dan bertemu dengan Suk Kyun, Jung A pun langsung masuk mobil dan hendak pergi ke suatu tempat. Jung A masih tidak tahu kalau Suk Kyun sudah berada di kantor polisi. 


Se Oh menelpon Soon Young dan bertanya apa yang harus dia lakukan pada ayah Soon Young, “Haruskah kumasukkan dia ke penjara? Mau kujebloskan? Hey, Soon Young. Soon Young!” teriak Se Oh dan itu membuat Soon Young bingung. Dia ingin pergi tanpa peduli, namun tak bisa dan itu membuatnya semakin kesal.


Ternyata Jung A pergi ke rumah Hee Ja dan tidur di sofa. Dia mengajak Hee Ja untuk menjenguk ibunya besok. 

“Kalau begitu datanglah besok pagi. Apa Suk Kyun tahu kau kemari? Bagaimana makan malamnya?” tanya Hee Ja. 

“Aku tidak peduli meski dia kelaparan,” jawan Jung A dingin dan Hee Ja bertanya apa dia harus menghubungin Suk Kyun untuk memberi kabar padanya. Jung A dengan cepat menjawab tidak dan kemudian menyuruh Hee Ja diam, karena Hee Ja makan apel dan membuat suara yang berisik.

“Mau kusiapkan alas tidur?” tawar Hee Ja.

“Diamlah,” jawab Jung A dan Hee Ja kemudian mematikan TV karena dia pikir itu juga membuat berisik, tapi Jung A malah menyuruhnya untuk menyalakan TV-nya lagi. Jung A kemudian menyuruh Hee Ja berbaring dan tanpa membantah Hee Ja pun melakukannya. 


“Hee Ja.... Soon Young dihajar oleh suaminya,” cerita Jung A dan kemudian menangis. Hee Ja menghampiri dan Jung A langsung memeluknya. Jung A menangis sembil memeluk sahabat terbaiknya itu. 

Wan bernarasi, “Ada yang bilang... Kita ini sedang berada di jalan kehidupan, dimana jalan itu terbagi antara, jalan dimana kita bisa kembali dan jalan yang tidak.”


Tepat disaat itu Hee Ja mendapat SMS dari Sung Jae yang mengucapkan selamat pagi. Hee Ja hendak memberitahu Jung A, namun niat itu dia urungkan karena suasan hati Jung A sedang tidak bagus untuk mendengarkan curhatan mengenai Sung Jae. Hee Ja bahkan langsung menghapus pesan dari Sung Jae. 


“Ada jalan dimana ada jejak yang tertinggal... jika diperhatikan, kita masih bisa kembali. Hal itu bisa membuat kita bahagia. Hal itu juga bisa menjadi...harapan untuk awal yang baru,” ucap Wan kembali bernarasi dan kita melihat Choong Nam juga mendapat pesan yang sama dengan Hee Ja. 



“Tapi, ada juga jalan dimana kita berjalan terlalu jauh...atau mungkin jalan kembali sudah tertutup. Kita takkan bisa kembali meskipun ingin,” tambah Wan dan kita melihat Suk Kyun keluar kantor polisi bersama ketiga putrinya. Walaupun sudah membantu Suk Kyun keluar kantor polisi, Soon Young tetap tidak menyukai ayahnya. Suk Kyun terus berjalan mengikuti Soon Young. Hae Young dan Soo Young terus menangis, karena mereka mengetahui masalah yang menimpa Soon Young. 


“Jalan mana yang dilalui kakek dan nenek?” tanya Wan dalam hati ketika melihat sang nenek sibuk bekerja di ladang dan si kakek hanya terus memandanginya. Tepat disaat itu Wan mendapat telepon dari Yeon Ha, namun tak diangkatnya. 


“Aku dan Yeon Ha... ada di jalan yang mana? Bisakah kami kembali? Atau...kami harus berhenti?” sambung Wan dalam hati. Yeon Ha sekarang sedang berada di sebuah cafe bersama teman barunya. 


Nan Hee pamit pergi pada ibunya dan berkata kalau dia dan Wan akan pergi menjenguk ibunya Jung A. Namun sang ibu tak menghiraukannya, karena memang Nyonya Oh punya masalah dengan pendengarannya. 

“Sampai jumpa, noona,” ucap In Boong

“Kakek aku pergi,” ucap Wan dan Nan Hee berkata kalau si kakek tidak bisa mendengar jadi mereka bisa langsung pergi saja. Wan pun jadinya hanya pamit pada In Boong saja. 


Soon Young dan Suk Kyun makan bersama. Ketika makan Suk Kyun bertanya tentang rencana Soon Young pergi ke Amerika dan Soon Young membenarkan tentang rencana itu. 

“Sering-sering berkunjung.m Lupakan semuanya, hiduplah dengan baik,” ucap Suk Kyun.

“Lupakan apa?” tanya Soon Young dengan nada tak senang. “Apa aku harus menuruti semua kata ayah?”

“Kirimkan nomor rekeningmu,” ucap Suk Kyun dan meninggalkan beberapa uang untuk membayar makanan mereka sebelum dia pergi. 

Wan bernarasi lagu, “Untuk menyelamatkan paman, Soon Young unni harus menggunakan...tabungannya serta surat dari dokter...yang akan dia gunakan untuk menggugat suaminya.”

Suk Kyun terus berjalan dan Soon Young hanya menatap kepergian sang ayah sejenak, lalu memilih jalan yang berlawanan. 

“Paman melepas kepergian unni tanpa meminta maaf. Semua perasaannya dia pendam,” sambung Wan. 


Flashback!
Ternyata Suk Kyun menghajar anak bos yang sudah melecehkan Soon Young dan Suk Kyun melakukan semua itu tanpa sepengetahuan Soon Young dan Jung A. Akibat pemukulan yang Suk Kyun lakukan, Suk Kyun pun di pecat.

“Suatu hari.... Saat mabuk, paman memberitahuku. Aku bertanya. Dia dipecat setelah kejadian itu. Dia melakukan tugasnya sebagai ayah. Lalu kenapa tak bisa minta maaf pada anakmu? Dan kenapa tidak terus terang?Jawaban paman sederhana. Dia, seperti kebanyakan pria, tak pernah belajar cara minta maaf kepada anak. Dan juga, apa gunanya terus terang? Dia lebih benci kemiskinan dibandingkan anak yang meraba putrinya. Paman memang bodoh. Setelah paman mati, aku akan mengatakannya  pada Soon Young unni. Hidup belum berakhir meski sudah mati. Perdamaian masih mungkin dilakukan. Aku menyadarinya saat itu,” sambung Wan. 


Suk Kyun sudah bekerja sebagai satpam seperti biasa. Dia kemudian menelpon Sung Jae dan bertanya apa dia  masih menjadi pengacara. Saat Sung Jae bertanya kenapa, Suk Kyun menjawab kalau ada pria yang ingin dia bunuh. 

Kita beralih pada Wan dan Nan Hee yang sudah sampai di panti jompo. Mereka menjemput ibu Jung A dan mengajaknya jalan-jalan. Sebelum mereka pergi, si perawat berkata kalau dia baru melihat Nyonya Cha sebahagia itu. Diapun merasa senang dengan kedatangan Jung A. 


Di mobil, Nan Hee kemudian bertanya apa Nyonya Cha masih mengingat dirinya, karena dulu Nyonya Cha selalu memasak untuk Nan Hee. Mereka juga terakhir ketemu 3 tahun yang lalu. 

“Siapa aku?” tanya Nan Hee. 

“Ibu tidak ingat ya?” tanya Jung A pada ibunya. 

“Ibu, siapa aku? Siapa aku?” tanya Hee Ja. 


“Hee...,” jawab Nyonya Cha pelan dan Hee Ja langsung merasa senang karena Nyonya Cha masih mengenali dirinya. Jung A kemudian memberitahu ibunya kalau mereka akan pergi ke Pantai dan tepat disaat itu, Jung A menyadari kalau ibunya begitu erat menggenggam tangannya. Menyadari hal itu, Jung A jadi sedih. 

Wa bernarasi kembali, “Saat bibi Jeong A merasakan... genggaman ibunya yang kuat, dia sadar... bisa saja hari ini... terakhir kali mereka bersama.”

Jung A kemudian meminta Wan agar mencari pantai yang dekat saja karena dia tak ingin ibunya nanti lelah. 


Mereka pun sampai di pantai, Jung A menemani ibunya, Hee Ja mengambil sebuah kerang putih dan Wan sibuk bermain dengan ibunya. Jung A kemudian menunjukkan  urung-burung terbang pada sang ibu. 


“Cantik sekali. Ibu burung, anak burung,  ayah burung dan teman mereka. Semuanya ada,” ucap Jung A. Hee Ja kemudian menghampiri mereka dan meletakkan kerang putih yang dia dapat di tangan Nyonya Cha, dia meminta Nyonya Cha menggenggamnya, tapi kerang putih itu terjatuh. Hee Ja kembali meletakkan kerang putih itu di tangan Nyonya Cha dan memintanya menggenggam, tapi ternyata tangan Nyonya Cha sudah tak bisa lagi menggenggam. 

“Jung-A...” ucap Hee Ja.


Jung A melihat wajah sang ibu dan ternyata mata sang ibu sudah terpejam. Nyonya Cha sudah meninggal dunia. Jung A kembali mendorong kursi roda ibunya. Disisi lain. Nan Hee dan Wan yang tak tahu situasi, terus bermain seperti anak kecil. Jung A menghentikan langkahnya dan kemudian memeluk sang ibu. 


Bersambung ke Dear My Friends Episode 7

2 comments :

  1. semangat buat sinopsisnyaaa... saya suka...

    ReplyDelete
  2. Trima kasih untuk sinopsisnya...

    ReplyDelete