June 12, 2016

Dear My Friends Episode 6 - 1


Wan  bersama Yeon Ha di pinggir pantai dan Yeon Ha memberinya cincin. Cara Yeon memberikan cincin itu sama sekali tak romantis, dia hanya minta Wan mengeluarkan tangannya dan kemudian Yeon Ha memasangkan cincin tersebut di jari manis Wan. Yeon Ha juga memasangkan cincin di jari manisnya sendiri. 

“Memang tidak seberapa. Aku ingin berterima kasih... untuk semuanya. Ini hadiah kecil. Tak seberapa. Pokoknya... Aku minta maaf untuk banyak hal,” ucap Yeon Ha dan mereka kemudian minum bersama.

Dimasa sekarang, Wan sekarang sendirian, dia duduk menangis di bawah hujan yang terus mengalir deras. Dia kembali teringat pada masa lalunya bersama Yeon Ha.

Yeon berlari sambil menelpon Wan dan berkata kalau dia ingin melamar Wan tepat jam 6 di Katedral, karena kata orang-orang... mereka akan selalu bersama. Tinggal beberapa langkah sampai ke tempat tujuan, Yeon Ha di tabrak truk dan kejadian itu tepat di depan mata Wan. 


Dong Jin datang menghampiri Wan dan Wan meminta Dong Jin untuk melakukan sesuatu agar dia bisa melupakan kenangannya bersama Yeon Ha. Dari kejauhan Choong Nam melihat apa yang mereka. Melihat Wan yang begitu tersiksa, Dong Jin pun langsung mencium bibir Wan. Young Won keluar dan melihat apa yang Wan lakukan juga. 


Tepat disaat itu, Nan Hee muncul dan Young Won langsung membawa Nan Hee pergi, agar dia tak melihat Wan dan Dong Jin. Wan masih tetap menangis dan Dong Jin pun memeluknya. 

Min Ho mendapat telepon dari Hee Ja yang mengadu kalau ada seseorang yang menelponnya dan hanya berkata “Met bobo.”

“Siapa yang bilang begitu?” tanya Min Ho sambil memperbaiki mobil. “Jangan pria, aku tidak suka. Pria di hidup ibu cuma aku. Ibu ingat, kan?”



“Hentikan. Istrimu sedang hamil. Cepat pulang,” jawab Hee Ja malu dan menutup telepon. Hee Ja kemudian menelpon Jung A dan curhat tentang Seung Jae, tapi karena Jung A sudah sangat ngantuk berat, jadi Jung A membiarkan Jee Ha bercerita sendiri dan diapun tidur. 


Di rumah Nan Hee bersama Choong Nam terus bercerita sambil minum dan makan. Disaat mereka berdua sibuk bercerita, Young Won asik sendiri melihat barang-barang di rumah Nan Hee. Nan Hee terlihat senang karena akhirnya dia bisa merasakan minum bersama pria setelah lama tak pernah berkencan. Ia minum bersama pria yang membeli jjamppong di kedainya. 

“Kau main-main dengannya? Awas kena hukum karma,” ucap Choong Nam memperingatkan. 

“Hei, tidak ada yang bisa dilihat. Kenapa lama sekali?” teriak Nan Hee pada Young Won yang tak henti-hentinya berkeliling.

“Benar-benar tidak ada apa-apa disini,” jawab Young Won dan menerima jus yang dituangkan Nan Hee. Mereka bertiga terlihat bahagia bersama. 


“Bagaimana kalau kita bertiga tinggal serumah?” tanya Choong Nam dan membaringkan tubuhnya di lantai. Nan Hee ikut berbaring sambil bernyanyi. Young Won jadi ikutan dan mereka bertiga sekarang sama-sama baring di lantai sambil terus bernyanyi. 


Dong Jin mengantarkan Wan pulang. Sebelum masuk rumah, Wan menyuruh Dong Jin pulang, tapi karena Dong Jin tak mau pulang, Wan pun mengajaknya minum teh dulu di dalam. Tak mau Wan demam, Dong Jin pun menyuruhnya mandi dan dia akan membuatkan kopi hangat untuk Wan. 

Wan masuk kamar dan ketika Dong Jin mengambil kopi, dia melihat foto Wan bersama Yeon Ha. Melihat foto itu, Dong Jin hanya bisa menghela nafas.


Selesai mandi, Wan dan Dong Jin minum kopi sambil nonton film. Walaupun Dong Jin berusaha untuk bersikap biasa saja, tapi Wan malah merasa tak nyaman.  

“Sunbae,” panggil Wan dan sepertinya dia ingin menyampaikan sesuatu, namun sebelum dia mengatakannya Dong Jin langsung berkata duluan.

“Sebenarnya, film ini sudah kutonton. Tonton sampai habis, kau bisa terhibur. Jangan berpikir yang tidak-tidak. Jangan berpikir yang aneh-aneh. Tonton langsung tidur.Aku pulang,” ucap Dong Jin dan berjalan keluar. 

“Sunbae, maaf,” ucap Wan dan Dong Jin pun menghentikan langkahnya. “Maaf, sunbae. Aku sungguh minta maaf.” Dong Jin hanya tersenyum dan kemudian keluar dari rumah Wan. 


 “Ini jelas sebuah kesalahan. Aku memanfatkan Dong Jin sunbae untuk melupakan Yeon Ha. Aku akui itu. Seharusnya itu tidak boleh. Masalah dengan Yeon Ha harus kuselesaikan sendiri,” ucap Wan dalam hati. 


Tepat disaat itu Yeon Ha menelpon dan Wan enggan mengangkatnya. Kita beralih pada Yeon Ha yang berpindah ke kursi roda dan menuju ke laptopnya. 

“Sunbae. Kali ini, benar-benar selamat tinggal. Park Wan. Kau harus berhenti,” batin Wan lagi.

[Jalan dimana bisa kembali - Jalan dimana tak bisa kembali]


Hee Ja jalan sambil telponan dengan Gi Ja. Mereka membahas tentang Sung Jae yang menyukai Hee Ja. Namun Hee Ja tak mau memikirkannya karena besok mungkin saja dia sudah mati, jadi tidak ada gunanya dengan yang namanya cinta. Tepat disaat itu Sung Jae muncul dan menyapa Hee Ja. Dia bertanya apa tidur Hee Ja nyanyak semalam. 

“Umurku sudah 70. Siapa yang anak-anak?” jawab Hee Ja yang tak suka diperhatikan oleh Sung Jae seperti itu. 

“Aku dengar kau jadi sukarelawan. Aku juga mau jadi sukarelawan. Tidak apa-apa, kan?” tanya Sung Jae dan mengikuti jalan Hee Ja. 


Young Won menelpon Jung A yang sedang sibuk memasak. Mereka membahas tentang cinta segitiga antara Sung Jae, Hee Ja dan Choong Nam. Tak ingin terjadi pertengkaran antara Hee Ja dan Choong Nam nantinya, Jung A pun menyuruh Young Won untuk menyuruh Chooong Nam berhenti mengharapkan Sung Jae. Namun Young Won tak mau, karena dekat dengan Sung Jae adalah satu-satunya kabar baik yang pernah terjadi selama hidupnya. Jung A pun begitu, dia juga tak bisa menghentikan Hee Ja. 

“Memangnya Hee Ja unni suka padanya?” tanya Young Won. 

“Hee Ja bukan tipe orang yang menunjukkan perasaannya. Dia itu orangnya mudah dimanfaatkan.”

“Benar juga, mendiang suaminya dulu wajahnya seperti bulldog. Kukira unni tak suka padanya, ternyata unni menyerah setelah melihat kesungguhan suaminya,” ucap Young Won dan tepat di saat itu Choong Nam menghampirinya dan bertanya siapa yang Young Won telpon, namun Young Won tak mau memberitahu, dia menyuruh Choong Nam pergi. 


Tepat disaat itu Choong Nam mendapat sms dari Sung Jae dan diapun langsung menunjukkannya pada Young Won. Sung Jae mengirim sms, “Hei, nak.. tidurmu nyenyak?” mendapat sms seperti itu sangat membuat Choong Nam senang. 

Jung A terus bertanya tentang Choong Nam, namun Young Won sudah tak mau lagi membahasnya. Dia mengubah topik pembicaraan dengan menanyakan tentang Soon Young. Dia bertanya apa Jung A sudah bertemu dengan Soon Young. 

“Tentu saja dia sehat. Dia selalu mengomeliku,” ucap Jung A yang tak tahu fakta sebenarnya. Dia kemudian kembali membahas tentang Choong Nam. 

“Aku akan mendukungnya. Unni terserah mau apa,” jawab Young Won. 

“Apa maksudmu mendukungnya? Bicaramu tidak masuk akal. Sebentar lagi kita akan mati. Persahabatan selama 60 tahun hancur hanya karena pria? Jangan memihak, tutup saja mulutmu. Jangan buat masalah,” ucap Jung A dan karena kesal, Young Won langsung menutup ponselnya. 

“Hei, Choong Nam unni, Hee Ja unni... dan Seung Jae oppa terlibat cinta segitiga, kan?” tanya Nan Hee dan Young Won menjawab kalau Jung A menyuruhnya diam, jadi dia tak bisa memberitahukan apa-apa pada Nan Hee. Nan Hee pun mengerti, dia mengingatkan dirinya untuk lebih berhati-hati dengan masalah tersebut. Dia pun kemudian mengajak Young Won dan Choong Nam makan.


Namun sebelum Young Won melangkah menuju meja makan, Choong Nam menghampirinya dan bertanya tentang masalah Wan kemarin. 

“The Beatles tahu?” ucap Young Won dan Choong Nam tak mengerti maksudnya. “Banyak hal yang terjadi dalam hidup, cara terbaik menghadapinya adalah dengan membiarkannya. Wan akan mengurusnya. Biarkan saja.”

“Lalu... Soon Young?” tanya Choong Nam lagi dan tepat disaat itu, Young Won mendapat sms dari Soon Young yang mengatakan kalau Soon Young ingin bertemu. Choong Nam langsung meminta Young Won untuk menolong Soon Young. 

“Nan Hee bagaimana?” tanya Young Won yang tak enak kalau dia langsung pergi dari rumah Nan Hee.

“Bilang saja ada kerjaan,” saran Choong Nam.

Kita beralih ke tempat Hee Ja dan Sung Jae melakukan pekerjaan sukarela. Ahjumma yang menyuruh Hee Ja menjauhi Sung Jae, terus melakukan pendekatan pada Sung Jae. Dia minta diambilkan air oleh Sung Jae dan Sung Jae pun dengan sukarela mengambilkan bahkan, Sung Jae juga bersedia memeraskan kain pelnya. Saat akan kembali ke perkerjaannya, Sung Jae mendengar suara orang seperti ingin muntah dan saat di cek ternyata orang itu adalah Hee Ja. 


Hee Ja sedang membersihkan toilet dan itu membuatnya mual. Dasar memang lagi mencari perhatian dari Hee Ja, Sung Jae pun dengan sukarela menggantikan tugas Hee Ja untuk membersihkan toilet. 

Hee Ja kembali mencari pekerjaan lain dan kali ini dia mengangkat air, Sung Jae melihatnya dan langsung ingin menggantikan Hee Ja. Namun Hee Ja  tak mau memberikan ember tersebut, sehingga terjadilah tarik menarik ember sampai akhirnya ember jatuh dan semua airnya tumpah. 


“Kau juga sudah tua,” ucap Hee Ja melihat baju Sung Jae basah. Namun Sung Jae malah berkata kalau itu menyegarkan. Sung Jae pun menyuruh Hee Ja masuk karena dia yang akan mengambil airnya lagi.

Kita kembali pada Nan Hee dan Choong Nam. Nan Hee membahas tentang Young Won yang masih mendapat pekerjaan walau dia sudah menjadi artis tua, apa dia tak capek? Choong Nam menjawab kalau wanita seumuran mereka jangan merasakan capek, kecuali dari malaikat maut, semua panggilan kerja harus diterima.


Choong Nam kemudian melihat foto-foto Wan ketika kecil dan Nan Hee dengan bangga mengatakan kalau Wan kecil sangat lucu. Dari foto-foto itu juga, Choong Nam melihat kalau banyak bidang yang Wan pelajari. 

“Aku yang memaksanya. Dia selalu menuruti apa kataku. Aku ingin dia jadi penulis. Jadi aku menyuruhnya belajar menulis,” ucap Nan Hee bangga.

“Dia selalu menuruti apa katamu?” tanya Choong Nam.


“Tentu saja, karena itu aku bisa bertahan. Suamiku selingkuh, ayahku yang pemabuk suka memukuli ibu. Wan-lah yang membuatku bertahan.”

Choong Nam menemukan fotonya bersama Wan dan Nan Hee memperbolehkan Choong Nam jika ingin mengambilnya. Tepat disaat itu, orang yang mereka bicarakan muncul dan mereka berdua pun menemani Wan sarapan. 


Wan ternyata datang untuk mengantarkan sang ibu ke rumah nenek dan selain itu dia juga mengaku kalau dia sangat merindukan ibunya. Mendengar itu Nan Hee pun langsung mencium pipi Wan dan mengaku kalau dia sangat menyukai Wan. 

“Sesuka itu ibu padaku?” tanya Wan. 

“Kau tak punya putri, kau tak tahu rasanya. Kalau cintaku pada pria sebesar cintaku padamu, Ibu pasti sudah kasmaran ribuan kali,” aku Nan Hee dan Choong Nam hanya diam saja. Dia teringat kejadian tadi malam, dimana Wan dan Dong Jin berciuman di bawah rintik hujan. 

“Won, sebesar apa cintamu pada ibumu?”tanya Choong Nam. 

“Cintaku? Terlalu banyak tekanan,” jawab Wan dan Nan Hee menjawab kalau memang itu yang dia mau. Wan kemudian mengatakan kalau ibunya cantik sekali dan mencium pipinya. 

Young Won menemani Soon Young berobat dan dokter yang menanganinya berkata kalau luka Soon Young sangat parah karena dia sudah terlalu sering dipukul. Sendinya sering terkilir dan patah. 


Young Won dan Soon Young kemudian minum teh bersama dan Soon Young pun mengaku kalau dia akan pergi ke Amerika bersama temannya. 

“Aku hanya bisa dapat pekerjaan sebagai pelayan, untuk semetara akan kulakukan itu. Bibi tinggal di Florida, kan? Seperti apa disana?” tanya Soon Young dan Young Won mengubah topik pembicaraan dengan bertanya kenapa Soon Young tidak memberitahu keluarganya tentang apa yang terjadi. 

“Ini masalah besar. Ayahmu memang menakutkan, tapi ibumu... Dia mengecewakanmu?” tanya Young Won. 

“Kalau ayah memang iya. Tapi ibu... Aku tidak marah padanya. Dia sudah mau membesarkan anak orang. Aku tak marah pada ibu,” jawab Soon Young dan tepat disaat itu Jung A menelpon namun tak diangkat oleh Soon Young.


Karena teleponnya masih tak diangkat, Jung A pun mengira kalau Soon Young masih marah padanya. Jung A sekarang sedang bersih-bersih di rumah anaknya yang lain, si anak baru bangun tidur dan langsung meminta makan siang pada sang ibu. Jung A kemudian bertanya apa si anak sudah menghubungi Soon Young dan si anak menjawab tidak. 

“Kau ini kenapa? Setelah ibu mati, tinggal kalian sendiri. Cobalah untuk akrab. Ibu sudah bilang kakakmu kelihatan sedih, kan? Kenapa kau dingin sekali?” oceh Jung A pada si anak, sehingga membaut si anak kesal. 

“Yang mendaftar ke TK-ku makin sedikit, kenapa ibu menambah pikiranku? Aku sudah sibuk dengan pekerjaanku,” ucap si anak kesal.

“Berkurangnya banyak?” tanya Jung A berusaha perhatian, namun si anak malas untuk membahasnya. 


Pekerjaan sukarela untuk membersihkan gereja sudah selesai. Para biarawati dan pastur dari gereja itupun menutup acara dengan meminta semuanya mengungkapkan isi hati mereka sambil berpegangan tangan satu sama lain. Sung Jae sengaja berdiri di samping Hee Ja dan kesempatan itu di manfaatkan Sung Jae untuk memegang tangan Hee Ja. 

“Aku tahu nikmatnya melayani, dan aku suka,” ucap Sung Jae dan sekarang giliran Hee Ja untuk berbicara, tapi dia hanya diam, dia melamun sampai para pekerja sukarela yang lain terus memanggilnya. 

“Apa yang kalian bicarakan?” tanya Hee Ja bingung. 

“Kami berbagi yang kami rasakan,” jelas si pastur. 

“Apa yang kurasakan? Aku harus bicara apa?” tanya Hee Ja ragu. 

“Silahkan jujur saja...,” ucap si pastur.

“Katakan yang kau rasakan,” tambah Sung Jae. 


“Sejujurnya, pekerjaannya sangat berat,” aku Hee Ja dan membuat semuanya tertawa. “Kalau aku boleh jujur, pekerjaannya amat sangat berat. Sangat amat...Itu saja,” tambah Hee Ja dan ekspresi capeknya langsung berubah tak senang karena Sung Jae terus menertawainya. 

Waktu pulang pun tiba dan Sung Jae kembali menghampiri Hee Ja. Sung Jae memberikan makanan pada Hee ja, tapi Hee Ja menolak karena ada yang bilang padanya, kalau dia akan menerima makanan itu, maka orang-orang akan menyebutnya setan. 

“Siapa? Siapa yang menyebutku setan?” tanya Sung Jae dan Hee Ja menunjuk si ahjumma yang selalu mengejar-ngejar Sung Jae. Mengetahui hal itu, Sung Jae pun berkata kalau makanan itu diberikan oleh si ahjumma tersebut. “Dia itu terus saja bicara dan memberiku sesuatu,” tambah Sung Jae dan mengajak Hee Ja minum teh, namun di tolak oleh Hee Ja. Karena Hee Ja tak mau minum teh, Sung Jae pun menawarinya tumpangan, Sung Jae bawa mobil dan dia ingin mengantarkan Hee Ja pulang. 

“Ambil mobilmu,” jawab Hee Ja dan Sung Jae merasa senang karena Hee Ja mau diantar. Sung Jae pun menyuruh Hee Ja memegang makanannya dan dia sendiri akan mengambil mobilnya. 

“Lambat sekali,” komen Hee Ja ketika melihat Sung Jae berlari. Hee Ja pun berpikir kalau Sung Jae perlu diberi pelajaran. 

Sung Jae membawa mobilnya ke tempat Hee Ja menunggu, tapi ternyata Hee Ja sudah tak ada lagi di tempat itu. Menyadari kalau dirinya sudah di kerjai oleh Hee Ja, Sung Jae pun bergumam kalau Hee Ja sangat menawan. 

Kita beralih pada Choong Nam yang menelpon Young Won dan bercerita tentang Sung Jae yang mengirim sms, "Nak, hubungi aku saat senggang” dan "Ayo kita minum teh.” Namun Young Won tak terlalu membahasnya, dia malah membahas tentang Soon Young. Dia memberitahu Choong Nam kalau kata dokter luka Soon Young akan sembuh sekitar 12 mingguan. Selain itu, Young Won juga mengatakan kalau dia akan memberitahu semuanya pada Jung A.

“Apa aku harus menjawabmu sekarang?” tanya Young Won tentang curhat Choong Nam. 

“Tidak,” jawab Choong Nam dan menutup telepon. “Sebaiknya aku jawab iya atau tidak? Aku harus jawab apa? Apa ya?” gumam Choong Nam dan kemudian melihat fotonya bersama Wan. 

“Wan, apa yang akan kaulakukan?” tanya Choong Nam dan kemudian teringat pada pernyataan Nan Hee yang berkata kalau Wan selalu menuruti perintahnya. “Iya, Wan. Kau selalu menuruti perintah ibumu. Dengarkan dia untuk yang terakhir kali. Aku tidak tahu harus bagaimana, tapi aku tahu kau harus bagaimana. Jangan pacaran dengan pria beristri,” ucap Choong Nam dan kemudian mulai mengetik sms untuk Nan Hee yang berisi:

“Nan Hee, Wan ada hubungan dengan pria beristri...”


Young Won sudah berada di rumah Jung A. Karena tak tahu masalah apa yang akan Young Won katakan, Jung A pun terus membahas tentang club dansa yang mereka datangi kemarin sambil tertawa senang. Saat Young Won hendak mulai berkata, Jung A mendapat  SMS dari Soon Young yang berkata kalau dia sekarang sedang berada di tempat neneknya. Soon Young juga mengatakan kalau dia menyayangi Jung A dan meminta maaf karena sudah berteriak pada Jung A. 

“Dia ini pemilih, tapi paling kusayang,” ucap Jung A tentang Soon Young dan kemudian mengajak Young Won untuk mengunjungi ibunya lain kali, karena sepertinya ini adalah kesempatan terakhir bagi mereka untuk melihatnya. 

“Oppa dimana?” tanya Young Won. 

“Dia bersama suaminya  Soon Young. Mereka sangat akrab. Menantunya menyukai kunyuk, si kunyuk menyukai menantunya,” jawab Jung A dan akhirnya Young Won mengatakan kalau tujuan dia datang kemari karena ingin mengatakan tentang Soon Young. 


Kita beralih sebentar pada Suk Kyun dan suami Soon Young. Ketika Suk Kyun sibuk memilih baju, suami Soon Young bertanya apa Jung A datang ke rumahnya hari ini dan Suk Kyun menjawab tidak Jung A sedang bertengkar dengan Soon Young. Jung A bahkan berkata tidak akan mau datang sebelun Soon Young bersujud dan meminta maaf. 

Setelah mendapat dua jaket dari suami Soon Young, Suk Kyun menemui temannya, dia memberikan satu jaket pada temannya itu. 

“Jaga makanmu jangan sampai kena diabet. Kau harus hidup ratusan tahun. Kita ini istimewa,” pesan Suk Kyun pada temannya itu dan kemudian dia meneguk soju. Sebelum pulang, Suk Kyun juga mengenakan jaket barunya dan berkata kalau jaket yang diberikan pada temannya itu lebih mahal dari yang Suk Kyun pakai. 


Jung A menangis melihat foto-foto yang memperlihatkan semua luka yang ada di tubuh Soon Young. Dia kemudian mengajak Young Won untuk menemui Soon Young. Tapi Jung A tak sanggup menemui anak sulungnya itu, dia hanya melihat Soon Young dari jauh. Soon Young sedang berada di sebuah cafe bersama temannya, mereka membahas tentang kemana mereka harus pergi. 


“Saat dia baru menikah dulu... Sekali atau dua kali ya? Dia bilang dia takut pada amarah suaminya. Dia bilang saat aku mabuk. Jadi aku membentaknya. Aku bilang semua lelaki sama...itu bukan masalah besar. Setelah itu, dia tak pernah membahasnya lagi. Aku pikir semuanya membaik. Aku tidak tahu,” cerita Jung A dan Young Won meminta agar Jung A membiarkan Soon Young bercerai. 

“Dokter bilang lukanya parah. Kalau unni dulu selalu menahannya. Tapi sekarang berbeda,” ucap Young Won. 

“Cukup,” pinta Jung A karena sudah tak kuat mendengarnya. 

“Sook Gyun oppa... sangat tidak cocok dengan Soon Young. Jadi berikan dia waktu untuk menyelesaikannya,” tambah Young Won dan tepat disaat itu, Soon Young dan temannya keluar dari cafe. Jung A terus melihat Soon Young dan ketika Soon Young sudah tak terlihat lagi, Jung A mengajak Young Won pulang. 

Bersambung ke Sinopsis Dear My Friends Episode 6 - 2

No comments :

Post a Comment