June 2, 2016

Dear My Friend Episode 5 - 1

Episode 5: Jangan Merasa Kesepian, Kau Punya Aku.


Jung A dan Hee Ja akhirnya pergi menyerahkan diri ke kantor polisi dan mengakui perbuatan mereka sebagai pelaku tabrak lari yang terjadi di persimpangan Hyeonchon, Jung Ah juga menyerahkan sebuah bukti berupa lap berlumuran darah.

Hee Ja lalu menggenggam tangan Jung A, bersama-sama mereka saling mengakui kesalahan masing-masing. Hee Ja mengaku dialah yang menyuruh Jung A tancap gas, sementara Jung A mengaku bahwa dialah yang paling bersalah karena dia yang menyetir. 

Pak polisi lalu memerintahkan rekannya untuk memasukkan Jung A dan Hee Ja di tahanan, sementara dia akan menyelidi kasus tabrak lari itu. Tepat saat itu, kepala polisi kenalan Young Won yang dulu membantu mereka, datang dan penasaran apa yang terjadi dengan mereka berdua.



Mereka berdua ditahan bersama beberapa anak remaja yang tampak babak belur dan para pemabuk. Yakin kalau mereka pasti akan dipenjara, Hee Ja memohon pada pak polisi untuk memenjarakan dia dan Jung A dalam satu sel yang sama. Hee Ja berusaha mengajak anak-anak remaja itu ngobrol tapi tidak ada yang mempedulikannya.


Tak lama kemudian, pak polisi akhirnya mendapatkan rekaman CCTV kecelakaan itu. Memang ada sebuah mobil yang menabrak orang tua sampai meninggal dunia lalu mobil itu lari begitu saja. Akan tetapi, mobil yang menabrak orang tua itu bukan mobilnya Jung A karena pelat nomornya berbeda. Jung A dan Hee Ja jadi semakin bingung.

"Tapi setelah kami selidiki, kalian memang benar menabrak sesuatu" ujar pak polisi

Tepat saat itu juga, Wan akhirnya muncul menjemput kedua bibinya setelah mendapat telepon dari Young Won. Pak kepala polisi lalu menunjuk kembali ke layar untuk memperlihatkan apa yang Jung A dan Hee Ja tabrak.


Entah apa karena kita langsung dialihkan setelah mereka semua keluar dari kantor polisi. Minum-minum di depan mini market sambil tertawa ngakak, sementara Wan memaksa Jung A untuk makan tahu putih sesuai tradisi. Tapi tiba-tiba Hee Ja sakit perut.


Waduh! Wan langsung panik, takut kejadian buang hajat di alam bebas seperti waktu itu terulang lagi. Dia berusaha memohon agar Hee Ja menahannya sampai mereka tiba di toilet umum. Tapi Hee Ja tak tahan dan langsung mojok di saluran air terdekat. Panik, Wan pun langsung pasang tubuh untuk menamengi Hee Ja dari pandangan umum, untungnya tidak ada orang lewat. Sementara Jung A hanya tertawa melihat kejadian lucu ini.

Dalam narasinya, Wan akhirnya bercerita bahwa korban tabrak lari kedua bibinya ternyata seekor rusa tua "Aku menertawai mereka karena merasa bersalah hanya karena seekor rusa. Tapi mereka tidak merasa seperti itu. Bibi Hee Ja mendoakan rusa itu sepanjang malam. Bibi Jung A tidak bisa memaafkan dirinya sendiri karena melarikan diri setelah melakukan tabrak lari. Dia selalu mengklaim kalau dia menjalani hidup yang baik. Tapi dia merasa kecelakaan itu telah merusak segalanya"


Jung A menatap keluar jendela merenungkan kesalahannya. Suk Kyoon muncul tak lama kemudian dan langsung membentak Jung A dan seketika itu pula Jung A mengangkat kedua tangannya. Ah, ternyata Suk Kyoon sedang menghukum Jung A atas kesalahan Jung A yang telah berani mengatai suaminya sendiri bahkan melalaikan tugasnya memasak untuk suami.


Begitu sendirian di rumahnya, Wan tertawa ngakak menertawai kedua bibinya yang membuat keributan tapi ternyata mereka cuma menabrak rusa. Dia bertanya-tanya pada dirinya sendiri, haruskah dia menulis tentang kedua bibinya itu. Tapi kalau iya maka ujung-ujungnya dia harus menulis bibi-bibinya yang lain juga termasuk neneknya, ibunya dan Suk Kyoon juga.


Sementara itu, Choong Nam sedang menghitung dan membagi-bagikan uang untuk dikirim ke berbagai sanak keluarga. Kedua keponakannya, Joo Yeong dan Jong Sik, benar-benar tidak mengerti kenapa Choong Nam harus membiayai hidup semua orang.


Mereka berusaha menasehatinya untuk menolak permintaan uang dari orang-orang itu apalagi belakangan ini bangunan-bangunan yang Choong Nam miliki sudah semakin berkurang dan hanya tinggal cafe saja yang tersisa.

Tapi Choong Nam tetap bersikeras karena dia tahu betul kalau mereka tidak akan melepaskannya begitu saja hanya karena dia menolak. Mereka pasti akan terus menerus merecokinya dan ujung-ujungnya Joo Yeong dan Jong Sik juga akan merasa terganggu.

"Jika aku mati nanti, kalian putus kontak saja dengan para kerabat dan fokus saja mengurusi diri kalian sendiri"

Kesal dengan kekeras kepalaan Choong Nam, Joo Yeong dan Jong Sik langsung pergi.

 

Setelah itu dia pergi naik taksi untuk menemui para seniman yang mengajaknya minum-minum di tempat yang cukup jauh. Bahkan petunjuk arah yang diberikan para seniman itu lewat telepon, cukup membingungkannya.

Dalam perjalanan mencari cafe yang dimaksud, Choong Nam tak sengaja bertabrakan dengan sepasang kekasih muda. Si wanita langsung kesal, Choong Nam pun langsung ikutan emosi mendengar ketidaksopanan mereka pada orang tua.


Setelah mereka, tak sengaja dia bertubrukan dengan seorang kakek pengangkut kardus-kardus bekas. Choong Nam meminta maaf dengan sopan tapi kemudian mengomeli si kakek (dengan nada halus) karena kakek menghalangi jalan. Dia berbaik hati mengikatkan beberapa kardusnya kakek yang terjatuh tapi dia melakukannya sambil ngomel-ngomel mengkritiki kakek.


Dia akhirnya tiba di cafe tapi tepat saat itu juga, Prof. Park dan kedua rekannya sudah tampak mabuk dan hendak pergi. Prof. Park hendak mengajak Choong Nam karaokean tapi kedua temannya cepat-cepat menyeretnya pergi dengan alasan mau mengerjakan tugas. Sebelum pergi, Prof. Park berpesan pada Choong Nam untuk menunggunya sebentar.

Percaya kalau mereka akan kembali, Choong Nam pun masuk dan duduk di meja bekas para pria itu yang penuh dengan botol dan gelas kosong dan hanya tinggal Prof. Kim yang sudah teler. Tiba-tiba seorang pelayan mendatanginya sambil menyerahkan tagihan para pria yang barusan pergi dan menyuruh Choong Nam membayar karena para pria itu pergi tanpa bayar.


Choong Nam dengan santainya berkata kalau dia akan bayar setelah para pria itu kembali. Tapi tiba-tiba dia mendapat pesan. Karena tak bawa kacamata, dia meminta si pelayan untuk membacakannya.

Pesan itu dari salah satu profesor yang meminta maaf dan meminta Choong Nam untuk mengantarkan Prof. Kim pulang. Choong Nam langsung kecewa menyadari para pria itu tidak akan kembali. Akhirnya dia bertanya berapa tagihan para pria itu dan langsung shock mendengar pelayan berkata 685 dollar. Terpaksalah akhirnya dia harus membayari tagihan itu.


Dalam perjalanan pulang, Choong Nam berdebat lagi dengan keponakannya di telepon karena mereka ingin menginap di luar. Choong Nam tidak setuju karena takut ditinggal sendirian di rumah, tapi kedua keponakannya bersikeras meninggalkan Choong Nam sendirian di rumah.

Choong Nam memang benar-benar takut sendirian di rumah, pintu rumahnya pun dilengkapi dengan banyak sekali kunci. Dan bahkan setelah merapatkan semua kunci rumahnya, dia masih menelepon pihak sekuriti untuk mengawasi rumahnya dengan baik.


Setelah itu dia membawa selimutnya keluar, menyalakan TV, makan roti sambil belajar. Wan bercerita bahwa hidup Choong Nam itu bagai lelucon. Dia tidak sekolah SMA, merendahkan orang tua padahal dia sendiri tua dan lebih menyukai anak-anak muda tapi takut mati sendirian di rumah kosong.

"Tapi jika kau tahu bagaimana dia hidup, maka kau akan berubah pikiran tentangnya" narasi Wan

Choong Nam adalah anak bungsu dari 12 bersaudara (wow! banyak sekali) yang tumbuh di desa. Bersekolah malam dan mulai bekerja di pabrik textile sejak dia berumur 13 tahun. Setelah itu dia bekerja sebagai kondektur bis, mulai dari desa hingga kota. Dia berkeliling Korea selama 10 tahun sebagai pedagang bersama saudara-saudaranya.

Setelah bekerja membanting tulang untuk menabung, dia mulai jual-beli tanah sebagai investasi dan mulai mendapatkan kekayaan dari bisnisnya itu. Dengan kekayaannya, dia menyokong hidup semua anggota keluarganya. Tapi tetap saja semua itu tidak cukup untuk menyelamatkan semua orang dari kemiskinan.

Ayahnya meninggal dunia dalam musihbah banjir saat dia berumur 10 tahun, ibunya jadi pikun dan meninggal dunia jauh dari rumah. Sementara saudara-saudaranya meninggal dunia karena berbagai macam penyakit dan perang. Mereka meninggalkan banyak anak untuk Choong Nam besarkan dan masih banyak lagi saudara dan saudara ipar yang menderita berbagai macam penyakit dan mereka semua ditempatkan dalam satu ruang rawat yang sama, yang mana semuanya bergantung pada Choong Nam.


Hari itu, Choong Nam dan kedua keponakannya pergi mengunjungi sanak saudara mereka yang dirawat di rumah sakit. Berkat mereka, Choong Nam tidak pernah menikah malah harus mengadakan 40 pemakaman sepanjang hidupnya. Choong Nam yakin kalau mereka miskin karena mereka bodoh. Karena itulah dia tidak menyukai orang tua dan lebih menyukai para cendekia.


Wan bercerita bahwa bibi yang paling dikaguminya adalah Young Won yang dari luar selalu tampak glamor. Dulu di tahun pertama kuliahnya, Young Won dicasting di jalan. Dia tak pernah kekurangan pekerjaan ataupun pacar dan dikenal sebagai femme fatale. Semua pekerjaan yang dilakukan Yeong Won menjadi hit dan membuatnya kaya raya.

"Itukah kenyataannya? Tidak, itu adalah apa yang orang-orang pikir tentangnya" narasi Wan


Hari itu, Young Won sedang makan siang di restoran dekat lokasi syuting. Hampir semua pelanggan restoran itu, berbondong-bondong minta tanda tangan dan minta foto-foto bersama Young Won dan Young Won melayani mereka semua dengan ramah. Kecuali dua orang wanita yang duduk di meja belakangnya Young Won.

Mereka terang-terangan mencela Young Won, mengatainya suka gonta-ganti pacar dan parahnya lagi Young Won juga pernah memacari suami orang dan pria yang muda darinya dan sudah pernah menikah 4 kali.

Bahkan ada juga gosip yang mengatakan kalau Young Won tinggal satu atap dengan seorang pebisnis tua. Intinya, hidup Young Won itu penuh dengan skandal. Ditambah lagi peran-perannya dalam film kebanyakan tentang tokoh ibu mertua jahat yang suka memukuli menantunya.


Tak tahan mendengar ocehan kedua wanita itu, Young Won langsung angkat bicara dan dengan ramah meluruskan semua gosip tentang dirinya. Dia menikah cuma dua kali dan dia tidak tinggal seatap dengan pebisnis tua. "Aigoo, aku ingin sekali bisa berkeliling untuk mengoreksi semua orang, tapi sayangnya aku tidak bisa. Haruskah aku mempublikasikannya di media cetak?"


Managernya menyusul tak lama kemudian. Young Won pun melanjutkan syuting dimana dalam salah satu adegan, dia harus disiram air dingin tapi sutradara tak puas dan terus minta diulang.


Saat waktunya break, managernya menyarankannya agar dia berhenti syuting sekarang. Tapi Young Won tidak mau dan bersikeras minta dibuatkan minuman kesehatan agar dia bisa terus lanjut syuting... jadi mertua yang menyiksa menantunya.

"Selelah dan sesedih apapun dia, setiap kali kamera rolling, dia harus selalu memaksakan dirinya untuk tersenyum dan memerankan karakternya. Aku mencintai bibiku," narasi Wan.


Di sela-sela break syuting, Young Won ngobrol dengan Wan ditelepon. Young Won bertanya-tanya bagaimana hubungan Wan dengan Yeon Ha. Wan mengaku bahwa dia masih merindukan Yeon Ha.

Lalu bagaimana dengan Wan sendiri? Setelah bicara dengan Young Won, Wan berusaha menghubungi Yeon Ha tapi tidak dijawab. Yeon Ha memang sengaja menghindari teleponnya Wan.


Saat itu dia sedang berada di toko CD. Dia hendak mengambil sebuah album tapi letaknya terlalu tinggi dari jangkauannya. Dia melihat sekeliling untuk minta bantuan tapi pada akhirnya dia berusaha kembali untuk meraih album itu sendiri.


Tiba-tiba seorang wanita bule cantik, muncul dan berbaik hati membantu mengambilkan album itu untuknya. Yeon Ha langsung terpesona dan langsung minta kenalan. Dia hendak menanyakan sesuatu pada bule cantik bernama Nikita itu, tapi tepat saat itu juga noona-nya Yeon Ha datang untuk menjemputnya.


Tak ingin Nikita salah paham, Yeon Ha memberitahu Nikita bahwa wanita ini kakaknya, bukan pacarnya. Nikita hanya tersenyum menanggapinya.

"Sayang sekali, padahal dia tipeku," gumam Yeon Ha.


Wan bercerita bahwa dialah yang pertama kali jatuh cinta pada Yeon Ha dan berusaha keras untuk memenangkan hati Yeon Ha. "Setelah akhirnya menjadikannya milikku, kami berjanji akan selalu bersama dalam suka dan duka. Tapi setelah kecelakaan itu, aku putus dengannya tanpa pernah menoleh ke belakang. Aku memang berhati dingin. Tapi jika hidupku diringkas dalam satu kalimat, kurasa aku merasa sangat kesepian."


Wan berusaha mengerjakan tulisannya kembali. Tapi pada akhirnya dia menyerah. Dia menatap foto-foto kenangan indahnya bersama Yeon Ha dengan sedih.


Nan Hee membantu Nyonya Oh menanam sayuran sementara Nyonya Oh sendiri sedang memaksa putranya yang cacat untuk push-up. Dan saat adiknya Nan Hee itu protes, Nyonya Oh langsung memukulnya dan mengomelinya, menyalahkannya karena tak pernah mendengarkan omongan orang tuanya malah terjatuh dari tiang telepon hingga jadi cacat seperti ini.

"Kalau aku mati nanti, apa yang akan kau lakukan?" omel Nyonya Oh

"Aku kan masih punya noona dan ayah."

Nyonya Oh semakin mengomelinya dan menyuruhnya untuk tidak terus bergantung pada noona-nya. Nyonya Oh juga mengklaim kalau dia akan membawa suaminya mati bersamanya.


"Orang-orang pasti tidak akan menyangka kalau ayah selalu memukuli ibu. Mereka pasti akan mengira kalau hubungan kalian sangat baik. Ibu, apa ibu mau dikubur bersama ayah?"

"Dikubur bersama? Kau kubur saja aku di sini. Dan kubur dia di sana" ujar Nyonya Oh sambil menunjuk gunung seberang.


Tiba-tiba Nan Hee ditelepon Gi Ja yang masih saja bersikeras membahas kematian suaminya Hee Ja. Selain itu, dia juga memberitahu Young Won bahwa Seong Jae mengundang semua orang ke pesta.


Sung Jae melakukan persiapan pesta dengan menghias rumahnya dengan bunga lalu mengirim pesan pada Choong Nam dan mengingatkan Choong Nam tentang kencan mereka. Kebetulan, pesan itu dibaca salah satu keponakannya. Dia langsung senang dan bertanya apakah pria itu cinta pertamanya. Tapi Choong Nam menolak menjawab.

"Bibi, menikahlah. Aku akan mengantarkanmu ke altar. Bibi harus menikah" ujar si keponakan senang


Suk Kyoon memberitahu Jung A tentang undangan Seong Jae yang akan mengadakan pesta reuni. Suk Kyoon masih penasaran apakah Seong Jae dan Hee Ja pernah tidur bersama saat mereka masih pacaran dulu. Jung A memilih diam dan mengalihkan topik.

Tapi Suk Kyoon terus memaksa. Karena Jung A tak mau menjawab secara lisan, Suk Kyoon pun mengusulkan agar Jung A makan nasi pakai sendok jika Seong Jae dan Hee Ja pernah tidur bersama. Atau jika tidak maka Jung A hanya perlu menjawabnya dengan cara mengambil sayuran pakai sumpit. Jung A ragu, tapi akhirnya dia menjawabnya dengan memakan nasinya pakai sendok. Suk Kyoon langsung tertawa ngakak dengan jawaban Jung A.


Hee Ja mengkonfrontasi Sung Jae di gereja dan secara tak langsung mengakui kalau dia memang mengenali Sung Jae tapi dia bersikeras bahwa Sung Jae yang dikenalnya dulu sudah mati 50 tahun yang lalu. Sung Jae bertanya kenapa. "Apa karena aku tidak menemuimu di depan gereja sebelum kau pindah sesuai janji kita?"

Dalam flashback, kita melihat Hee Ja muda menunggu kedatangan Sung Jae seorang diri di jembatan. Sekarang, Sung Jae menjelaskan bahwa waktu itu dia ingin datang tapi ibunya terkena stroke karena itulah dia meminta bantuan Jung Cheol (suaminya Hee Ja) untuk pergi memberitahu Hee Ja.

Tapi bukannya membantunya, Jung Cheol malah nembak Hee Ja. Dan sejak saat itu, dia kehilangan kontak dengan Hee Ja. Dan dia baru mengetahui segalanya setelah Jung Cheol menikahi Hee Ja. Tapi Hee Ja tak percaya dan menuduh Seong Jae membual hanya karena suaminya sudah tiada sekarang.

Lalu apakah itu artinya Hee Ja tidak mau datang ke pestanya. Semua orang akan datang, kalau dia tidak mau datang yah sudah, dia tidak mau memohon-mohon. Tapi Hee Ja tiba-tiba mengumumkan kalau dia pasti akan datang. Seong Jae senang.


Sung Jae lalu pergi kencan alias berbelanja bahan-bahan untuk pesta besok bersama Choong Nam. Sung Jae bersikap sangat perhatian dengan membawakan semua belanjaan lalu memuji Choong Nam hingga membuat Choong Nam tersipu. Choong Nam bertanya kenapa Sung Jae memanggilnya, Sung Jae berkata kalau dia merasa nyaman dengan Choong Nam.


Setelah belanja, Sung Jae mengajak Choong Nam ke rumahnya. Di sana, Choong Nam melihat foto-foto mendiang istrinya Sung Jae. Menyadari apa yang Choong Nam lihat, Sung Jae bertanya-tanya kenapa Choong Nam tidak menikah. "Apa kau menungguku?"

Sung Jae bertanya seperti itu karena dulu saat Choong Nam masih muda, dia sering membuntuti Sung Jae kemana-mana, Choong Nam bahkan pernah memohon padanya untuk nonton film bersama. Choong Nam menyangkalnya dan beralasan kalau dia tidak menikah karena banyak anggota keluarga yang harus diurusinya dan dihidupinya.

"Benarkah? Apa ingatanku salah? Tapi kau masih punya wajah yang menawan. Kerutanmu... kau masih imut," rayu Sung Jae.


Sung Jae lalu membawa Choong Nam berkendara dan Choong Nam tampak tersenyum sangat lebar berduaan dengan Sung Jae. Sementara Wan bernarasi "Bibi Choong Nam berkata bahwa dia merasa seperti hatinya berdebar. Dia bilang bahwa apa yang dia rasakan waktu itu adalah bukti bahwa dia masih punya semangat hidup dan cinta."

Bersambung ke episode 5 - 2

1 comment :

  1. Walaupun awalnya wan nggak mau nulis cerita ttg bibi bibinya tapi narasi wan nunjukin kalau dia mau nyeritain itu
    Sama dengannya dan orang lain, bibi bibinya juga punya banyak cerita yg membentuk kepribadian mereka sekarang :)

    ReplyDelete