June 30, 2016

Dear My Friends Episode 9 - 2


Wan terus berteriak menuntut kenapa dia milik Nan Hee sambil menghantamkan kepalan tangannya ke pecahan kaca sampai tangannya berdarah. Nan Hee memeluknya dan berusaha menghentikannya tapi Wan terus berusaha meronta dan berteriak-teriak bahwa dia sangat membenci Nan Hee.

"Aku ingin mati tapi aku tidak tega meninggalkanmu seorang diri" tangis Nan Hee

June 28, 2016

Jackpot ( Daebak ) Episode 23 - 1


Dae Gil akhirnya menemui In Jwa dan meminta dia untuk menyerah. Disisi lain, Tuan Nam bersama Seol Rim mengarahkan beberapa orang yang membawa perbekalan milik In Jwa ke tempat lain. In Jwa sudah kehilangan semua kuda dan perbekalannya, selain itu setengah pasukannya mundur karena sakit perut. 

“Kalau terus memaksakan diri untuk bergerak maju itu tidak mungkin, Lee In Jwa,” ucap Dae Gil dan In Jwa menjawab kalau sekarang belum waktunya menyerah. Tepat disaat itu, Mil Poong Goon bersama beberapa rakyat yang memberontak keluar dan mereka berdiri di belakang In Jwa. Dae Gil lalu berkata kalau pemerintah akan menggerakkan seluruh kekuatan yang dimiliki untuk menghentikan pemberontakan. Namun In Jwa tak sedikitpun gentar oleh informasi itu, karena dia memiliki banyak pasukan. Dengan berani In Jwa menantang Dae Gil untuk menghentikan rencana pemberontakan mereka. 

“Menyerahkah sekarang. Apa kau ingin membunuh semua orang disini?” tanya Dae Gil. 


“Mereka datang untuk berjuang bersamaku. Emangnya kau ini siapa?”

“Mereka akan segera tahu, siapa kau ini sebenarnya. Mereka akan tahu Lee in Jwa itu seperti apa. Kau akan melakukan segala cara demi mendapatkan tahta kerajaan. Kau akan mengorbankan nyawa orang tidak berdosa demi ambisimu. Aku akan menghentikan kalian... Aku ingin kalian semua kembali ke keluarga kalian,” ucap Dae Gil dan pergi. 

“Kita akan maju tanpa adanya yang menjadi korban. Daripada menggunakan kuda. Kita akan menggunakan pembatas dan gerobak. Kirimkan pesannya. Cari tahu pergerakkan yang ada di Gyeongsang-do dan Jeolla-do,” ucap In Jwa dan semua anteknya mulai bergerak. 


Dae Gil pergi ke tempat penampungan warga yang sakit perut, dimana disana sudah ada Seol Rim dan Tuan Nam.  Pada Dae Gil, Tuan Nam mengaku kalau dia mulai sependapat dengan pemberontak. Tentu saja Dae Gil langsung menyuruhnya berhenti untuk berpikiran seperti itu. 

Tuan Nam kemudian mengumumkan pada semua warga yang sakit, kalau mereka sudah menyiapkan makanan untuk mereka semua, jadi mereka bisa mengambilnya dan kemudian pulang ke rumah masing-masing. Selain makanan, mereka juga sudah menyiapkan obat untuk mengobati sakit perut para warga. Ketika Seol Rim sibuk membagikan obat, Dae Gil melihatnya dan dia tersenyum. 


Walaupun mereka yang membuat warga sakit, tapi mereka juga lah yang berusaha mengobati mereka semua. Karena memang tujuan mereka membuat warga sakit agar para warga itu tidak ikut dalam rombongan pemberontak yang di pimpin oleh In Jwa. 


Dae Gil mengirim pesan untuk Yeon Hwa dengan menggunakan jasa merpati. Setelah membaca pesan itu, Yeon Hwa langsung memberikannya pada Sang Gil. 


Semua warga yang tadinya sakit sekarang sudah sembuh, karena sudah di rawat dan di beri makan oleh Dae Gil. Mereka kemudian berkumpul untuk menemui Dae Gil. 

“Apa yang akan terjadi dengan kita? Kita sudah ikut memberontak. Mereka bilang siapapun yang memberontak akan dihukum mati,” tanya salah satu warga. 

“Letakkan saja senjata kalian,” jawab Dae Gil. “Raja sudah berjanji. Siapapun yang meletakkan senjatanya akan diampuni. Perintahnya sudah sangat jelas. Kalian semua bisa kembali ke rumah sekarang,” ucap Dae Gil dan semua warga merasa senang mendengarnya. 

Seol Rim yang tak yakin dengan hal itu langsung bertanya, “Benarkah? Apakah Raja berjanji seperti itu?” dan Dae Gil tak langsung menjawab, dia sepertinya ragu Raja akan setuju dengan keputusannya. Sebenarnya apa yang Dae Gil katakan tadi, hanyalah pendapat pribadinya saja.

Raja di beritahu kalau 50 ribu orang yang ada di bawah kendali Raja, baru saja melewati Gwacheon. Namun untuk menghentikan 100 ribu anak buah Jeong Hee Ryang dan Park Pil Hyun, 50 ribu orang itu tidaklah cukup. Jadi kalau mereka tidak bisa menghentikan para pemberontak di Anseong, maka mereka hanya bisa menunggu untuk kehilangan ibukota. 

Tepat disaat itu, Sang Gil masuk dan memberikan pesan dari Mokcheon. Isi pesan itu adalah Dae Gil berhasil mengurangi setengah pasukan yang mendukung In Jwa. Namun Raja tak terlalu senang, karena In Jwa tetap menuju Anseong walau dia sudah kehilangan setengah pasukannya. Raja beranggapan kalau mereka akan kehilangan Anseong jika mereka terlambat bergerak. Membutuhkan waktu 2 hari untuk sampai ke Anseong, jadi Raja meminta agar mereka semua untuk tidak membuang-buang waktu. Ingin menghentikan In Jwa sendiri, Raja pun pergi ke Anseong. 


Ketika Raja pergi ke Anseong, para pengawalnya menyebar selebaran untuk di baca para warga. Hong Mae mendapat satu selebaran dan berniat memberitahu Dae Gil, namun di cegah oleh Yeon Hwa. 

“Apapun yang terjadi di ibukota, Dae Gil akan melaksanakan rencananya sendiri,” ucap Yeon Hwa yakin. 

“Rencana?” tanya Hong Mae tak mengerti.


Di tempatnya Dae Gil sedang berdiksusi dengan Seol Rim dan yang lain. Dae Gil memperkirakan desa yang akan menjadi tempat singgah para pemberontak, karena mereka pasti merasa kelelahan sebab tidak punya cukup banyak persediaan makanan. Apa yang Dae Gil perkirakan memang benar terjadi. Para pemberontak itu merasa kelelahan dan Jin Ki menyarankan agar mereka istirahat. 

“Mungkin mereka akan menjarah desa ini. Sebaiknya kalian bawa sisa makannya dan pergi ke desa itu,” ucap Dae Gil pada rekannya. Tepat disaat itu Tuan Nam masuk dan memberikan pesan dari Che Gun. 

“Aku berhasil melacak Jeong Hee Ryang.  Aku akan menepati janjiku padamu. Aku pastikan, mereka yang tidak bersalah tidak akan terluka,” isi pesan Che Gun dan itu membuat Dae Gil lega. Diapun menyerahkan wilayah selatan pada Che Gun, karena merasa Che Gun bisa dipercaya untuk bertindak sesuai keinginannya. 


Yeon Hwa memberitahu 3 rencana Dae Gil pada Hong Mae. Pertama, mengambil kuda dan makanan untuk memperlambat pergerakkan para pemberontakan dan rencana pertama ini sudah berhasil. Rencana kedua adalah mengarahkan para pemberontak untuk menuju ke benteng Cheongju dengan menyebar rumor,  "Pemberontakan Lee In Jwa sudah gagal."


Orang yang diberitugas untuk menyebar rumor itu adalah Man Geum dan teman-temannya. Setelah rumor menyebar, para pemberontak dan pihak pemerintah yang bekerja sama jadi berselisih paham. 


Tanpa mereka sadari, Man Geum dan kawan-kawan mengawasi apa yang sedang mereka lakukan. 

Seol Rim memberi pesan yang mengatakan kalau pasukan sudah meninggalkan istana. Dae Gil kemudian teringat pada pesan Raja yang menginginkan Dae Gil menangani masalah In Jwa dalam waktu 5 hari. Jika dalam waktu 5 hari, Raja tak mendengar kabar dari Dae Gil, maka dia akan mengerahkan pasukannya. 

Tak ingin terjadi sesuatu yang tak diinginkan Dae Gil pun memutuskan pergi ke Anseong untuk menemui Raja dan untuk urusan yang sedang dia lakukan sekarang, dia serahkan pada Tuan Nam dan Seol Rim. 


Pasukan In Jwa sudah benar-benar kelelahan, mereka haus dan lapar. Saking laparnya, mereka sampai berebut makan ular ketika salah satu dari mereka menemukan ular. Melihat kondisi pasukannya yang begitu memprihatinkan, In Jwa pun menyuruh Jin Ki mencari 20 orang yang terbaik.


In Jwa bersama Jin Ki membawa 20 pria terbaik itu ke desa terdekat dan mengambil persediaan makanan desa tersebut. Melihat apa yang In Jwa lakukan, tentu saja para warga setempat hendak melakukan perlawanan, namun mereka kalah oleh In Jwa. Dia mengurung para warga itu di gudang penyimpanan makanan dan membakarnya.  In Jwa akan melakukan apapun untuk bisa sampai ke Anseong. Walaupun tak suka denga apa yang In Jwa lakukan, Jin Ki tetap tak bisa menghentikan apa yang In Jwa lakukan. Sebenarnya Jin Ki tak ingin menyakiti orang-orang yang tak bersalah tapi dia tak bisa membantah semua perintah In Jwa. 


Dae Gil pergi menuju Anseong dengan kudanya, sedangkan rombongan Raja sudah sampai di Benteng Pegunungan Jukju. Raja langsung mengadakan rapat dan bertanya berapa orang yang sudah berkumpul di benteng. Salah satu dari mereka menjawab kalau sudah ada sekitar 35 ribu orang yang datang dan 20 ribu lagi akan datang dari Suwon dan Yongin. Untuk pasukan pemberontak, mereka belum sampai di Anseong, menurut mata-mata Bae Dae Gil sudah merampas kuda Lee In Jwa dan perbekalan mereka dan tersebar rumor di Jeolla-do kalau Lee In Jwa sudah di kalahkan. Mendengar tentang rumor itu, Raja pun teringat kembali pada janji Dae Gil yang berjanji akan mengalahkan In Jwa.

Flashback!
“Pertama, aku akan memanfaatkan kelemahan mereka dan memperlambat pergerakan pasukan. Aku akan mengurangi setengah dari pasukannya. Ke-2... Apa yang lebih menakutkan dari sebuah pedang? Yaitu suatu rumor..,” ucap Dae Gil.

“Rumor?” tanya Raja tak mengerti.

“Ya, Yang Mulia. Aku akan menggunakan rumor untuk memotong tangan dan kaki Lee In Jwa.”

“Apa rencanamu selanjutnya?”

“Rencana ke-3... Sekitar 100 ribu orang akan datang ke Jeolla-do dan Gyeongsang-do. Semuanya akan selesai jika kita gagal,” Jawab Dae Gil. 
Flashback End!


Jin Ki membagikan makanan untuk pasukannya dan meminta mereka semua bertahan. Tepat disaat itu Mil Poong Goon berkomentar kalau In Jwa sudah sangat kejam dan meminta mereka menyerah karena bukan negera seperti itu yang dia inginkan. Ternyata Poong Goon tidak suka In Jwa menjarah desa untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. In Jwa pun memberi alasan kalau dia melakukan semua itu karena terpaksa. 

“Apa kau pikir itu tindakan yang dibenarkan?” tanya Poong Goon dan kemudian menyuruh In Jwa ikut bersamanya. Poong Goon pergi ke gerobak yang berisi bahan makanan hasil jarahan dan dia melarang siapapun untuk menyentuh makanan itu

“Sebelum mereka menjadi pasukanmu. Mereka adalah rakyat negeri ini. Mereka menginginkan bangsa yang lebih baik. Bangsa yang menjadi milik rakyat. Itu sebabnya mereka ingin berjuang. Bagaimana bisa mereka makan makanan hasil jarahan di desa?” ucap Poong Goon. 

“Ini bukan jarahan. Ini suatu pengorbanan,” jawab In Jwa beralasan. 

“Apa artinya jika kau duduk di tahta setelah mengorbankan rakyat?”

“Anseong diluar jangkauan kita, Yang Mulia. Dalam waktu setengah hari. Tahta kerajaan akan kau miliki,” janji In Jwa. 

“Kau sudah memperlakukan mereka seperti ini? Kau sudah menjarah sebuah desa dan membunuh penduduknya,” ucap Poong Goon dan In Jwa kemudia menghampiri salah satu pasukannya, dia bertanya alasan pria itu ikut memberontak. 


“Aku mungkin kelaparan... Tapi aku tidak mencuri dari orang yang tidak bersalah,” jawab pria itu yang kemudian mengaku kalau dia ikut bergabung karena Mil Poong Goon bukan karena In Jwa. Mendengar itu In Jwa kesal dan langsung menebas pria itu sampai mati. 

“Jika kalian menghargai nyawa kalian. Jaga mulut kalian!” ucap In Jwa. 


“Kau... Berani sekali kau membunuh seseorang dihadapanku tanpa berpikir 2x!” teriak Poong Goon murka dengan apa yang In Jwa lakukan dan In Jwa masih tetap meminta agar Poong Goon percaya padanya. In Jwa berjanji akan menempatkan Poong Goon di singgasana. 


“Kau tidak perlu membunuhnya!” teriak Jin Ki yang mulai kesal dengan sikap In Jwa. Namun tanpa rasa bersalah sedikitpun, In Jwa menyuruh Jin Ki memakamkan orang itu di tempat yang terbaik.

Jin Ki memakamkan orang itu, Poong Goon muncul dan meminta Jin Ki pergi karena dia ingin sendirian. Ketika hanya sendirian, Poong Goon meminta maaf pada orang yang di bunuh In Jwa. Dari ekspresinya, Poong Goon terlihat tak senang dengan semua sikap In Jwa. 

Di tempat lain, Raja sedang membahas strategi mereka untuk menghadpi para pemberontak. Dengan kekuatan penuh, Dae Gil menuju Anseong dan ketika dia sampai di depan benteng, dia malah di hunuskan anak panah oleh para penjaga. Tapi hal tersebut tak menjadi masalah, karena sekarang Dae Gil sudah bersama Raja dengan kondisi tubuh baik-baik saja. 


Dae Gil bertanya kenapa Raja tak menepati janjinya. Kenapa Raja sudah di Anseong bersama pasukan, padahal Raja memberikan waktu 5 hari pada Dae Gil untuk mengatasi semuanya. 

“Hari ini menjadi 5 hari. Jadi, apa kau sudah menangkap Lee in Jwa? Aku tahu, banyak hal yang sudah kau capai Kau sudah mengurangi pasukannya menjadi setengah. Kau sudah memperlambat pergerakkan mereka dengan mengambil kuda dan perbekalan mereka. Namun...hanya itu yang bisa kau lakukan. Sekarang, aku yang akan mengakhiri pemberontakan ini,” ucap Raja. 

“Apa kau ingin berperang melawan rakyatmu sendiri? Mereka adalah rakyatmu.”

“Mereka sudah mengabaikanku. Jadi, mereka akan mendapatkan hukumannya.”

“Yang Mulia, sekalipun aku tidak pernah menggunakan pedangku. Apa kau tahu bagaimana caraku mengurangi setengah dari pasukan Lee In Jwa ? Itu karena kepercayaan,” ucap Dae Gil dan kita kemudian diperlihatkan pada Tuan Nam yang sedang membagikan makanan pada warga.

“Kepercayaan terhadap rakyat.  Jumlahnya sekitar 15 ribu orang. Mereka semua sudah meletakkan senjatanya. Menurutmu apa artinya itu? Kita bisa melakukannya... Tanpa mengangkat senjata dan tanpa menumpahkan darah... Kita bisa mengakhiri pemberontakan ini,” ucap Dae Gil.

“Dia akan segera tiba. Jika kita lenggah melindungi tempat ini, itu akan memudahkan bagi mereka menuju ke ibukota. Tidak peduli seberapa banyak prajurit yang ada di istana, akan sulit untuk menghentikan mereka. Jadi, aku mengevakuasinya sebelum itu terjadi. Itu harus dilakukan. Kita harus mengalahkan mereka di tempat ini,” ungkap Raja. 


Tepat disaat itu Sang Gil masuk dan memberitahu Raja kalau rombongan pemberontak sudah datang. 


Di depan benteng, In Jwa bertanya pada Jin Ki apakah sudah ada kabar dari Yeongnam dan Honam. Jin Ki menjawab kalau rekan mereka dari Yeongnam baru saja meninggalkan Jincheon, sedangkan yang dari Honam sudah melewati Pyeongtaek, butuh setengah hari untuk mereka sampai di Anseong. Jadi kalau para prajurit menyerang mereka sebelum rombongan mereka datang, mereka semua akan hancur. 

“Tenanglah. Aku memiliki kartu tersembunyi,” ucap In Jwa tenang.


Raja sudah berada di atas benteng dan bertanya pada Dae Gil, apakah pasukan yang datang bersama In Jwa itu terlihat seperti orang biasa. Mereka semua pemberontak, jadi harus dibunuh. Raja kemudian masuk ruang rapat dan berkata, “Lee In Jwa, Mil Poong Goon, dan semua pemberontak... Jangan sampai ada yang hidup.”


Dae Gil masuk dan berusaha menghentikan perintah Raja. Tentu saja Raja marah karena Dae Gil menentangnya. Dae Gil berusaha meyakinkan Raja kalau orang yang akan Raja bunuh itu adalah rakyatnya sendiri, namun Raja tak beranggapan seperti itu. Dia beranggapan kalau mereka itu adalah pengkhianat. 

“Tolong, ampuni mereka,” pinta Dae Gil.

“Mereka tidak tahu arti belas kasihan. Itu sebabnya aku berperang melawan mereka.”

“Bagaimana denganku? Apa kau juga akan menangkapku?”

“Jika kau memilih untuk bergabung dengan para pemberontak, aku akan memenggal kepalamu,” jawab Raja pasti. 


“Yang Mulia! Aku sudah berjanji dengan almarhum raja kalau aku akan selalu melindungimu. Tapi, mulai saat ini dan seterusnya. Aku tidak bisa menepati janjiku,” ucap Dae Gil kesal dan menacapkan pedangnya di meja. Tanpa ragu, Dae Gil langsung berlari ke arah Raja dan hendak membunuhnya. Untung saja ada Sang Gil di sana dan berhasil menghalau pedang Dae Gil. Namun dengan mudah Dae Gil bisa mengalahkan Sang Gil.


Tepat disaat itu, dua pimpinan militer yang ada di samping Raja langsung menghunuskan pedang mereka pada Raja. Wuah... ternyata mereka ada di pihak In Jwa dan ingin ikut memberontak. Apa yang akan terjadi pada Raja? Apa Dae Gil akan membiarkan Raja di bunuh oleh kedua pimpinan militer itu? Tunggu kisah selanjutnya di sinopsis part 2 ya...

Bersambung Jackpot ( Daebak ) Episode 23 - 2

June 25, 2016

Dear My Friend Episode 9 - 1

Episode 9: Bukankah Hidup Ini Sangat Indah?


Wan bertanya pada Nan Hee kenapa dulu Nan Hee berniat untuk membunuhnya saat dia berumur 6 tahun. Dalam flashback, Wan kecil tampak meminum yogurt dengan menatap takut-takut pada Nan Hee dan tampak ada sebuah botol racun di dekat mereka. Wan kecil pingsan dan muntah darah lalu ayahnya berlari menggendongnya dengan panik.


Nan Hee shock dan gemetaran mendengar pertanyaan Wan. Tapi kemudian, dia agak tergagap dia berpura-pura mengklaim tak pernah ada kejadian seperti yang Wan maksud dan menuduh Wan sudah gila lalu cepat-cepat mengalihkan topik kembali membahas hubungan Wan dengan Dong Jin.

June 23, 2016

Dear My Friends Episode 8 - 2


Nan Hee pergi ke rumah Wan dan lagi-lagi dia tak bisa langsung masuk rumah karena Wan mengganti password rumahnya. Wan kemudian membukakan pintu untuk Nan Hee dan setelah itu dian langsung masuk ke kamar mandi, untuk membasahi rambutnya. Melihat apa yang Wan lakukan, Nan Hee pun bisa menebak kalau Wan habis minum-minum. Dia lalu menyuruh Wan mandi agar kepalanya kembali fresh. Namun Wan tak mau, karena dia sudah melakukan hal tersebut tapi tubuhnya masih lemas dan pikirannya kacau. 


Wan terus teringang pada ucapan Nan Hee yang melarangnya menikah dengan dua jenis pria, yang pertama pria beristri dan yang kedua pria cacat. Dia juga teringat kembali pada saat Yeon Ha kecelakaan dan ucapannya yang berkata,” Wan, aku mencintaimu selamanya. Tak perlu kesepian, ada aku.”

Ternyata yang membuat Wan frustasi seperti itu adalah harus memilih antara Ibu atau Yeon Ha dan Wan tidak bisa memilih salah satunya.  


“Kau butuh apa supaya bangun?” tanya Nan Hee.

“Rokok. Aku kehabisan, ibu mau belikan?” jawab Wan dan Nan Hee shock mengetahui kalau selama ini Wan sering merokok. Namun, walaupun tak setuju dan tak suka Wan merokok, Nan Hee tetap pergi ke supermarket dan membelikan rokok untuk Wan.


Setelah mendapat rokok dari Nan Hee, Wan pun langsung menyalakannya dan merokok. Selesai merokok, Wan mengambil air putih tapi ketika dia sedang minum air putih, Nan Hee tiba-tiba mengambil gelas yang Wan pakai dan melemparnya ke lantai. Dengan penuh emosi, Nan Hee juga memukuli Wan dan memakinya. Nan Hee emosi karena Wan merokok dan berselingkuh dengan suami orang. 


Tepat disaat itu ponsel Wan berdering dan terjatuh sehingga tanpa sengaja menerima panggilan tersebut. Orang yang ada di seberang sana pun mendengar Wan sedang diamuk ibunya. Puas mengamuk, Nan Hee pun langsung pergi.


Ternyata yang menelpon Wan adalah Yeon Ha. Dia terlihat sedih mendengar apa yang terjadi pada Wan. Tak lama kemudian teman baru Yeon Ha keluar dan membawakan minum untuknya. Dia bertanya kenapa Yeon Ha tak jadi menelpon Wan, padahal sebelumnya Yeon Ha berkata ingin membuat Wan cemburu. 

“Dia sedang ada masalah,” jawab Yeon Ha.

“Kalau begitu hibur dia,” sarannya dan Yeon Ha menjawab tak bisa karena jarak mereka yang jauh. Yeon Ha kemudian meneruskan olahraga, tapi baru beberapa kali angkat barbel, Yeon Ha menyudahinya.

Kita kembali pada Wan yang langsung berdiri dan minum air putih. 

Young Won sedang dalam perjalanan menuju suatu tempat, dia mengendarai mobilnya sendiri. 


Nan Hee pergi ke supermarket dan membeli beberapa soju. Si penjaga supermarket adalah pria yang sebelumnya pernah Nan Hee sapa, tapi karena malam itu, Nan Hee sedang tidak mood, jadi dia tak melihat ke arah si pria penjaga supermarket. Tapi ketika si penjaga memberikan tambahan obat pereda mabuk secara gratis, Nan Hee langsung menoleh ke arahnya. 

“Minum ini dulu,” pesan si penjaga, namun Nan Hee tak menjawab, dia langsung pergi.


Young Won pergi ke rumah Nan Hee dan dia menemukan Nan Hee sedang minum soju di kamarnya. “Kau, mengerti bahwa bagiku wanita yang, menggoda suami orang adalah rubah betina, kan? Aku, Bahkan menyumpahimu gara-gara, Wanita yang selingkuh dengan suamiku... Juga karena kau memacari suami orang. Semua selingkuhan suami orang adalah rubah betina. Semuanya! Tapi aku tidak bisa menyebut anakku sendiri begitu. Karena itu aku memanggilmu. Aku, harus bagaimana dengan Wan? Apa yang harus kulakukan padanya? Harus bagaimana?” ucap Nan Hee frustasi dan menangis. 


Hee Jaa menelpon Jung A dan protes karena Jung A tak mau hidup bersama dengannya. Jung A tetap pada pendiriannya untuk tidak tinggal bersama Hee Ja, karena menurutnya mereka berdua tidak akan pernah bisa akur jika tinggal bersama. 


Setelah menutup telepon dari Jung A yang membuatnya kecewa, Hee Ja kemudian menelpon Sung Jae dan mengajak Sung Jae jalan-jalan. Tentu saja hal itu membuat Sung Jae senang sampai-sampai dia langsung menari kegirangan setelah menutup telepon dari Hee Ja. 

Sung Jae kemudian mengirim sms pada Choong Nam, dia mengucapkan terima kasih karena Choong Nam sudah membujuk Hee Ja untuk mau jalan-jalan dengannya. Sung Jae tidak tahu kalau Hee Ja menerima ajakannya bukan karena bujukan dari Choong Nam, melainkan karena Hee Ja sedang merasa stres gara-gara di tolak Jung A. 


Menerima sms seperti itu, Choong Nam pun langsung menelpon Hee Ja dan bertanya Hee Ja lebih memilih Sung Jae atau Choong Nam. Tentu saja Hee Ja memilih Choong Nam. 

“Kalau begitu jangan pergi. Kita bisa terlibat cinta segitiga. Karena aku menyukai Seong Jae Oppa,” ucap Choong Nam dan Hee Ja pun mengerti. Hee Ja kemudian hendak curhat tentang Jung A, tapi Choong Nam sedang sibuk belajar, jadi dia pun langsung menutup teleponnya. 


Tepat disaat itu, Choong Nam mendapat kiriman guci dari Prof. Park. Melihat itu kedua ponakannya langsung meminta Choong Nam untuk tidak menerimanya, tapi Choong Nam tetap ingin menerimanya, karena dia sangat menyukai guci itu lebih dari dia menyukai teman-temannya. 


Karena Choong Nam tak mau mendengarkan curhatannya, Hee Ja pun menelpon Gi Ja dan menceritakan tentang penolakan Jung A. Tapi bukannya memberi saran atas curhatan Hee Ja, Gi Ja malah lebih penasaran dengan berapa uang yang sudah Hee Ja berikan pada Jung A, karena kemarin Hee Ja sudah memberikan uang pada dirinya sebesar 1 juta. 


Hee Ja kemudian menelpon Min Ho dan yang mengangkat istrinya. Istri Min Ho membohonginya dengan mengatakan kalau Min Ho sudah tidur, padahal Min Ho sedang makan di sampingnya. Tak bisa berbicara dengan Min Ho, Hee Ja pun mencoba berbicara dengan teman yang lain, tapi tak ada yang bisa mendengarkan curhatannya. Hanya nama Jung A yang muncul ketika dia sedang merasa seperti itu, tapi dia tak mau menghubungi Jung A.

Hee Ja lalu mengirim sms pada Sung Jae yang berisi, “Aku tidak jadi jalan-jalan. Choong Nam lebih berharga dari pada dirimu.”

Membaca sms Hee Ja tentu saja membuat Sung Jae bingung, dia bingung kenapa Hee Ja bisa dengan cepat berubah pikiran seperti itu. Sung Jae berusaha menghubungi Hee Ja untuk bertanya tapi tak diangkat, dia juga mencoba menghubungi Choong Nam dan tak diangkat juga.


Kita beralih lagi pada Young Won dan Nan Hee yang sekarang sudah bersiap tidur. Nan Hee kembali mengeluh kalau hidupnya sangat menyedihkan, mendengar itu, Young Won berkata kalau Nan Hee tak pantas mengatakan hal tersebut di depan orang yang menderita kanker. 

“Kapanku kau berpikir hidupmu menyedihkan. Pikirkan saja aku. Aku punya kanker. Betapapun beratnya hidupmu, masih lebih baik daripada penderita kanker sepertiku. Aku punya kanker. Ada hikmahnya, aku sakit kanker. Semua orang di dunia ini, memiliki keberanian setelah melihatku. Aigoo, setidaknya aku lebih baik daripada artis itu. Dia bercerai, nikah lagi, dan cerai lagi. Lalu sekarang dia kena kanker. Lihatlah di internet, katanya aku beruntung. Saat aku berjuang melawan kanker, orang-orang menulis postingan. Dan mereka menge-like dan postingan itu,” aku Young Won. 

“Aigoo. Kau senang dikatakan beruntung? Menurutku kau tidak beruntung sama sekali,” jawab Nan Hee dan Young Won tertawa senang. Dia pun menyuruh Nan Hee ikut tersenyum karena Nan Hee tak punya kanker. Nan Hee pun mulai menyunggingkan senyumannya. 


“Kau minum hari ini?” tanya Nan Hee. 

“Sedikit.”

“Aku memberi alkohol pada penderita kanker.”

“Dasar jahat.”

Kupikir, Wan tidak akan melakukan hal seperti itu. Kupikir aku sudah mendidiknya dengan benar,” ucap Nan Hee kemudian. 

“Itu bukan hal yang bisa diajari. Kau pikir ibuku menyuruhku, menggoda suami orang karena aku melakukannya? Tak henti-hentinya dia bilang, untuk menikahi pria single. Kau jadi janda seperti ini... karena diajari oleh ibumu? Seperti apapun kau mendidik anakmu, hidup ini tidak akan bis kita kendalikan. Wan hanya harus, berhenti merokok dan berhenti menemuinya.”

“Operasi kanker itu, membuatmu jadi fisolofis,” koment Nan Hee dan Young Won pun mengajaknya tidur. Mereka tidur sambil menyanyikan lagu pengantar tidur. 


Di rumah, Wan mulai merapikan rumahnya dan setelah rumahnya rapi, dia mulai bersiap menulis novel tentang cerita ibu dan teman-temannya. Kisah pertama yang akan Wan tulis adalah tentang Nan Hee. 


Jam menunjukkan pukul 2 pagi, tapi Hee Ja belum bisa tidur. Dia kemudian menelpon anak sulungnya, namun nomornya sudah tak aktif. Hee Ja lalu menelpon Jung A dan bertanya Jung A sedang apa, tentu saja Jung A menjawab kalau dia sedang tidur. 

“Mau kututup?” ucap Hee Ja dan Jung A menyuruhnya bicara. “Kenapa tidak mematikan telpon? Takut kalau Soon Young menelpon?” tanya Hee Ja lagi. 

“Mereka hanya menelpon saat butuh sesuatu. Siang saja tidak menelpon, apalagi malam?” jawab Jung A. 

“Matikan telponmu. Aku mengganggumu, kan?”

“Kubiarkan hidup supaya bisa menjawab telponmu.”

“Telponku?” tanya Hee Ja tak mengerti. 

“Kau sendirian. Bagaimana kalau terjadi sesuatu? Kau marah karena aku tidak mau tinggal bersamamu? Hee Ja. Aku hanya ingin sendirian, sepi dan tenang. Kita masih bisa bertemu meski tidak bersama. Dan masih bisa membantu saat ada masalah. Kita tidak perlu tinggal bersama.”

“Iya. Meski tidak bersama, kau selalu bersamaku. Iya, kan? Seperti sekarang,” ucap Hee Ja dan Jung A membenarkan. Hee Ja merasa lega dan senang, dia bahkan mendukung keputusan Jung A untuk pergi dari Suk Kyun. Jung A pun menyuruh Hee Ja cepat tidur agar terhindar dari dimensia. 


Telepon di matikan dan tak ada hitungan menit, Hee Ja kembali menelpon Jung A dan menceritakan tentang Choong Nam yang mengaku suka pada Sung Jae. Sebagai teman yang baik, Hee Ja pun lebih memilih Choong Nam dan membatalkan janji jalan-jalan dengan Sung Jae. 

Wan sudah berada di mobilnya dan perjalanan menuju suatu tempat. Nan Hee membaca catatan kecil dari Young Won yang pamit pergi syuting, Young Won juga mengungkapkan rasa senangnya bisa tidur bersama Nan Hee seperti dulu. Ternyata Wan pergi ke rumah Nan Hee dan saat melihat Wan, Nan Hee langsung masuk ke kamar tanpa berkata sepatah katapun. 


Wan membuka laptopnya dan beberapa bukunya di meja. Tak lama kemudian Nan Hee keluar kamar dengan mengenakan jaket dan bersiap pergi keluar.

“Kau sudah putus dengan Dong Jin?” tanya Nan Hee.

“Tidak perlu melakukan itu.”

“Bukannya memilih Yeon Ha, Kenapa memilih Dong Jin?” tanya Nan Hee lagi, tapi Wan enggan menjawabnya, dia memberitahu sang ibu kalau tujuan dia datang adalah untuk mewawancarai ibunya. 


“Keinginan ibu, kan? Menulis buku. Tentang ibu dan teman-teman ibu. jadi aku mau wawancara,” ucap Wan dan Nan Hee masih penasaran kenapa Wan putus dengan Yeon Ha, padahal sejauh yang Nan Hee tahu, Wan sangat menyukai Yeon Ha. 

Lagi-lagi Wan enggan membahas hal tersebut, dia ingin memulai wawancaranya jadi dia bertanya darimana cerita tentang Nan Hee dimulai. “Mulai ibu lahir atau aku lahir? Tidak... mungkin dari yang ibu ingat? Bagaimana?”

“Kalian pacaran, kan? Dari yang kulihat, kalian seperti kekasih. Kenapa kau putus dengannya? Dia tidak selingkuh, kan? Apa dia selingkuh seperti Dong Jin?” tanya Nan Hee yang masih penasaran dengan Yeon Ha. 


“Dia lumpuh,” jawab Wan akhirnya dan membuat Nan Hee kaget. “Ibu melarangku menikahi orang cacat. Karena itulah kami putus. Tidak, aku membuangnya. Karena aku mendengarkan ibu,” aku Wan dan ingin memulai wawancaranya. 


“Lalu bagaimana? Mulai dari ibu... kerumah nenek saat aku umur 6 tahun. Ingat, kan? Aku ingat dengan jelas. Ibu, kenapa ibu ingin membunuhku? Di sawah,” tanya Wan dan Nan Hee terdiam mendengar pertanyaan itu.

Apa yang akan Nan Hee jawab? Apa yang sebenarnya membuat Nan Hee melakukan semua itu? Tunggu jawabannya di episode 9 ya...

Bersambung ke sinopsis Dear My Friends Episode 9