May 27, 2016

Jackpot Episode 16 - 2


Dae Gil dan Pangeran Yeoning mengunjungi In Jwa di penjara. Tapi In Jwa masih bersikap sombong seperti biasanya bahkan menolak simpatinya Dae Gil. Pangeran Yeoning memberitahunya bahwa mereka akan diadili besok begitu matahari terbit dan bertanya apakah In Jwa ingin mengatakan sesuatu sebelum itu. In Jwa hanya bertanya apa sebenarnya kejahatan yang mereka dituduhkan padanya.

"Itu adalah sesuatu yang akan membuatku berjaga semalaman karena banyak sekali kejahatan yang harus kudaftar," jawab Pangeran Yeoning. Lalu sambil tersenyum geli Pangeran Yeoning menambahkan, "Tempat ini cocok untukmu, sampai bertemu besok."




Moo Myung cemas apa yang harus mereka lakukan sekarang. In Jwa tetap santai, dia yakin pasti akan jalan keluar bahkan sekalipun langit runtuh.


Di luar, Che Gun memberitahu mereka untuk selalu waspada karena Jin Ki bisa saja melarikan diri dari penjara sesuka hatinya. Pangeran Yeoning yakin itu tidak akan terjadi karena In Jwa masih belum menyerah. Pangeran Yeoning lalu pamit pergi.

Che Gun bertanya apakah sekarang Dae Gil senang melihat In Jwa sudah dipenjara. Dengan mendesah, Dae Gil mengaku bahwa Che Gun memang benar. Jika tujuan hidupnya adalah balas dendam pada In Jwa, sekarang dia merasa sangat kesepian dan kosong.


Teringat ucapan ambigu Che Gun dulu saat dia berkata bahwa Dae Gil mirip seseorang, Dae Gil sekarang penasaran. Apakah sejak awal Che Gun tahu siapa dia?

"Apa itu penting? Jika ada satu hal yang kusadari saat aku mengajarimu adalah bahkan sekalipun bukan aku, aku tahu pada akhirnya kau akan berakhir di sini. Itu saja yang penting, jadi jangan terlalu memikirkannya. Lagipula tidak akan ada yang berubah"


Setelah Che Gun pergi, Dae Gil melihat langit berbintang, "Ayah, aku melakukan hal yang benar, kan?"


Hong Mae mendapat kabar penangkapan In Jwa dari anak buahnya. Choi Sukbin pun mendapatkan kabar ini dari dayangnya. Dan kabar itu dengan cepat menyebar sampai kepada para menteri juga.


Sementara itu, Pangeran Yeoning tengah mengadili In Jwa dan anak-anak buahnya. Jin Ki dia adili atas tuduhan melarikan diri dari penjara dan percobaan pembunuhan. Moo Myung atas tuduhan intimidasi, pemerasan dan ancaman. Hwang Gu yang bernama asli Jeong Young Sun atas tuduhan penyuapan dan pengkhianatan.

Sedangkan In Jwa daftarnya lebih panjang. In Jwa dituduh atas pembunuhan, penyuapan, pelanggaran moral masyarakat, korupsi, penghinaan pada Putra Mahkota dan merencanakan pemberontakan dengan seorang pemberontan. In Jwa tetap santai menanggapinya, dia bahkan punya penjelasan atas setiap tuduhan yang Pangeran Yeoning sebutkan.


Dia mengklaim bahwa semua tuduhan yang Pangeran Yeoning sebutkan, sama sekali tidak ada buktinya. Dia tidak membunuh semua orang itu (karena dia memang tidak membunuh dengan tangannya sendiri). Pangeran Yeoning juga tidak punya bukti kalau dia menyuap orang dan tidak bisa menunjukkan siapa saja yang dia suap.

Dia mengklaim ada jauh lebih banyak orang yang melakukan pelanggaran sosial di masyarakat seperti berjudi dan lain sebagainya. Dia menyangkal penghinaan pada Putra Mahkota dan mengklaim kalau dia cuma memberi Putra Mahkota nasehat karena Putra Mahkota adalah muridnya dalam permainan baduk.

Sementara untuk tuduhan merencanakan pemberontakan dengan pemberontak Jeong, In Jwa mengklaim kalau dia sebenarnya ingin menangkapnya dan membawanya pada raja. Pangeran Yeoning marah.


Tapi tepat saat itu juga, Raja tiba. Ia langsung merampas daftar kejahatan In Jwa yang Pangeran Yeoning buat, membuangnya jauh-jauh dan bertanya siapa sebenarnya si pemberontak Jeong itu. In Jwa dengan gaya kurang ajarnya mulai menyebutkan berbagai macam orang yang bermarga Jeong dan berkata bahwa akan butuh waktu semalaman untuk mendata semua Jeong yang tersebar di delapan kota.

"Dalam 2 hari waktu siang, penggal kepalanya!" perintah Raja. Ia menyatakan bahwa penjahat yang merencanakan pemberontakan, tidak perlu melalui proses peradilan terlebih dulu.


Beberapa menteri pendukung In Jwa, berusaha membela In Jwa dan mengklaim kalau In Jwa tidak melakukan pemberontakan. Kim Chang Jib membela Raja dan menuduh para menteri pendukung In Jwa, bersekongkol dengan In Jwa.

Seorang menteri lain bernama Kim Il Kyung, dengan penuh keberanian menyatakan kalau In Jwa tidak melakukan pemberontakan. Dia mengklaim bukan pemberontakan namanya jika tidak ada pedang yang terhunus dan In Jwa tidak pernah menghunus pedang.

Dia bahkan mengklaim kalau lukisan ikan berstempel Moo Shin itu cuma sebuah gambar yang tak ada maknanya. Dan bahkan sekalipun ada makna dalam lukisan itu, mereka kan tidak tahu siapa yang menggambarnya.


Raja langsung mengamuk sampai menjungkirbalikkan meja. "Apa pentingnya ini pemberontakan atau tidak? Aku telah memberi perintah! Aku! Kalian seharusnya mencari pemberontak Jeong. Tapi lihatlah apa yang kalian bicarakan di sini. Dalam dua hari waktu siang, si penjahat akan dihukum mati. Sebaiknya bergerak sekarang jika kalian ingin menghindari konsekuensinya!"


Raja lalu pergi dengan mengajak putra kesayangannya, Pangeran Yeonryung. Tiba-tiba Raja tampak oleng sesaat. Tapi dia cepat sadar dan bisa berjalan tegak kembali.


Di luar, Raja menyuruh Pangeran Yeonryung untuk memijatnya. Pangeran Yeonryung mengaku bahwa dia sudah mendengar tentang Baek Dae Gil karena banyak orang yang membicarakannya. Pangeran Yeonryung penasaran ingin tahu tentang Dae Gil karena dia mendengar kalau Dae Gil itu penjudi, muridnya Che Gun dan dia pula yang semalam menangkap In Jwa. Tapi Raja berkata kalau Dae Gil itu tidak penting dan Pangeran Yeonryung tidak perlu memikirkannya.


Yeon Hwa datang menemui Dae Gil dengan membawa beberapa peti uang bagiannya Dae Gil dari beberapa kasino yang berhasil Dae Gil kuasai. Yeon Hwa meminta maaf karena telah salah menuduh Dae Gil sebagai pembunuh ayahnya dan berjanji akan membalas budi Dae Gil.


Pangeran Yeoning menginterogasi Kim Il Kyung dan bertanya apa alasan Il Kyung membantu In Jwa. Il Kyung beralasan kalau dia cuma bicara kebenaran. Saat Pangeran Yeoning mengomentari ketamakannya, Il Kyung langsung membalikkan kalimat itu kembali pada Pangeran Yeoning, menuduh Pangeran Yeoning tamak karena ingin menguasai tahta.

Il Kyung mengaku bahwa dia tetap mendukung Putra Mahkota walaupun Putra Mahkota tidak punya penerus dan tidak sehat. Karena dia tidak mau melihat Pangeran Yeoning yang merupakan putra seorang dayang rendahan, duduk di atas singgasana. Dia tidak mau istana ini dikotori oleh orang rendahan seperti Pangeran Yeoning.


Choi Sukbin pergi menemui In Jwa di penjara. Begitu melihat wajah pucat Choi Sukbin, In Jwa langsung mengomentarinya. Apalagi saat Choi Sukbin tiba-tiba batuk-batuk, In Jwa dengan entengnya berkata kalau hidup Choi Sukbin sepertinya tidak akan lebih lama daripada hidupnya yang akan berakhir 2 hari lagi.

"Apa anda masih punya waktu untuk disia-siakan dengan jangka hidup anda yang pendek?"

"Apa maksudmu sia-sia. Hanya dengan melihatmu dipenjara saja, aku merasa sembuh kembali."

In Jwa langsung bangkit dan menyatakan kalau dia pasti akan keluar dari sini hidup-hidup "Kau lihat saja dari dunia lain sana. Kedua putramu akan menghubus pedang pada jantung satu sama lain. Akan kupastikan itu akan terjadi."

"Yi In Jwa, kau tidak ada bedanya dengan binatang. Kedua putraku bukan binatang."

Choi Sukbin bersumpah bahwa dia pasti akan menyaksikan sendiri saat-saat In Jwa dipenggal dan dia akan tersenyum saat itu terjadi. In Jwa hanya menanggapinya menantang Choi Sukbin sambil tertawa geli. Setelah Choi Sukbin pergi, In Jwa menyuap seorang penjaga penjara dengan iming-iming uang banyak supaya si penjaga mau membantunya mendapatkan kertas dan tinta.


Hong Mae kedatangan tamu, si penjaga penjara yang barusan disuap In Jwa untuk mengantarkan pesan pada Hong Mae.


Sementara itu, Il Kyung menemui para menteri soron karena dia tahu kalau mereka berniat untuk memutuskan hubungan dengan In Jwa.


Dalam flashback, ternyata Il Kyung disuap oleh In Jwa yang berjanji akan memberikan segalanya jika Il Kyung membantunya keluar dari penjara hidup-hidup. Dia bahkan berjanji akan memberikan pemberontak Jeong, pemimpin pemberontakan tahun 1697.


Il Kyung mengusulkan pada para menteri soron untuk mengubah rencana. Sesaat kemudian, anak-anak buahnya Hong Mae masuk membawa masing-masing satu peti kecil berisi emas untuk para menteri. Semua emas itu adalah uang suap dari In Jwa. Tapi para menteri itu tampaknya tidak puas.


Hong Mae lalu mengirim surat untuk In Jwa mengabarkan bahwa emas-emas itu tidak berhasil. Bahkan sekalipun dia memberikan emas paling murni sedunia, tetap saja tidak akan berhasil. "Aku memberi mereka cukup banyak untuk mereka nikmati seumur hidup mereka, tapi mereka berbalik dariku dan mengacuhkanku. Dan... aku sebenarnya tidak mau mengatakan ini. Aku juga butuh hidup, aku harus mengambil alih kasinoku."

Dalam flashback, Hong Mae ternyata membagi-bagikan emasnya pada para penjudi tapi mereka tampak tak puas. Saat dia berpapasan dengan beberapa bangsawan, dia menyapa mereka. Tapi mereka acuh padanya, dan lebih memilih menyapa Yeon Hwa yang menyapa. Kasinonya jadi sepi, karena itulah dia memutuskan untuk berpaling dari In Jwa.


In Jwa marah. "Menarik sekali. Saat kau dipenjara. Mana kartu yang harus kau simpan dan mana yang harus kau buang, jadi kelihatan jelas."


Malam itu, Yeon Hwa ikut makan malam di rumah Dae Gil. Melihat mereka enak makan, Dae Gil langsung protes karena di rumah ini hanya dia seorang yang bekerja. Tuan Nam tidak terima. Che Gun memberitahunya bahwa mulai besok dia akan masuk istana untuk bekerja.

Dae Gil lalu pergi menemui In Jwa karena dia ingin mengajukan pertanyaan penting sebelum In Jwa dihukum mati tentang kenapa In Jwa membunuh ayahnya.


Saat dia datang, In Jwa berusaha memprovokasi Dae Gil dengan mengingatkannya bahwa dia dibuang ibunya sementara adiknya terlahir sebagai pangeran dan menjalani kehidupan priyayi "Apa kau tidak merasa semua itu tidak adil?"

Sayang, rencananya gagal karena Dae Gil bersikeras menyatakan tidak akan pernah memihak In Jwa. Awalnya dia ingin sekali mengutuki In Jwa, tapi sekarang dia sudah dewasa. Tidak menyerah begitu saja, In Jwa mengklaim bahwa dia masih punya satu kartu tersembunyi.


"Dia masih hidup. Ayahmu. Baek Man Geum masih hidup" (Hah?)

Saat Dae Gil tak mempercayainya dan menuduhnya sudah gila, In Jwa menyuruh Dae Gil untuk mengeceknya langsung ke kuburan ayahnya dan melihat dengan mata kepalanya sendiri apakah ada mayat ayahnya di sana atau tidak "Cepatlah, aku akan mati setelah satu hari lagi. Dan setelah itu, kau tidak akan pernah bisa menemukan ayahmu, Baek Man Geum"


Dae Gil langsug buru-buru pulang untuk mengambil cangkul lalu pergi lagi mengacuhkan semua orang yang menatapnya dengan bingung. Cemas, semua orang menyusulnya dan tercengang melihat Dae Gil tengah menggali kuburan ayahnya.

Flashback,


Dae Gil marah dan tak percaya omongan In Jwa. Tapi In Jwa mengingatkan Dae Gil bahwa hanya dia satu-satunya orang yang selalu jujur pada Dae Gil "Yang benar-benar ingin mau menjadi harimau hebat dan menjalani hidup sesuai takdirmu, adalah aku, Yi In Jwa. Selamatkan aku. Maka aku akan mempertemukanmu dengan ayahmu, Baek Man Geum."

Kembali ke masa kini,


Mengacuhkan protes Tuan Nam, Dae Gil pun mulai membuka tutup peti mati ayahnya dan terbelalak.. Sementara di penjara, In Jwa bergumam "Baek Dae Gil, hanya kau satu-satunya yang bisa menyelamatkanku. Selamatkan aku. Aku menyuruhmu untuk menyelamatkanku, Yi In Jwa."


No comments :

Post a Comment