May 15, 2016

Jackpot Episode 14 - 1


Dae Gil mendapati Golsa tergeletak pingsan berlumuran darah di lantai sementara Dam Seo tengah memegang pedang dalam posisi hendak menusukkannya pada Golsa. Dam Seo hampir saja menancapkan pedangnya pada Golsa tapi Dae Gil cepat-cepat menghalaunya dengan pedangnya sendiri.

Tiba-tiba mereka mendengar suara Yeon Hwa memanggil ayahnya. Dae Gil cepat-cepat menyuruh Dam Seo pergi sekarang sebelum dia ketahuan Yeon Hwa. Setelah Dam Seo keluar lewat jendela, Dae Gil berusaha membangkitkan Golsa yang saat itu tengah sekarat. Golsa tiba-tiba batuk darah dan cipratannya mengenai bajunya Dae Gil.




Yeon Hwa masuk saat itu tapi Golsa sudah meninggal dunia. Yeon Hwa langsung salah paham mengira Dae Gil lah yang telah membunuh ayahnya. Dae Gil berusaha membela diri dan menjelaskan bahwa bukan dia pembunuhnya, tapi Yeon Hwa tidak percaya bahkan menyuruh anak buahnya untuk menangkap Dae Gil.


Dae Gil langsung melarikan diri. Dae Gil melupakan pedang yang dijatuhkannya saat dia melarikan diri dan saat Yeon Hwa melihat pedang itu, keyakinannya bahwa Dae Gil adalah pembunuh ayahnya menjadi semakin kuat. Polisi tiba tak lama kemudian dan Yeon Hwa memberitahu polisi bahwa pembunuh ayahnya adalah Dae Gil.


Para pedagang yang awalnya ingin mendukung Dae Gil, sekarang mulai meragukan Dae Gil. Mereka curiga ada motif lain yang Dae Gil inginkan selain mengambil alih semua kasino. Mengingat Hantu ke-6 mati begitu Dae Gil mengambil alih kasinonya, mereka jadi curiga jangan-jangan sekarang Golsa juga mati.

Menjawab dugaan mereka, seorang pedagang lain terburu-buru datang untuk mengabarkan kalau Golsa sudah meninggal dunia. In Jwa datang tak lama kemudian dan langsung menyatakan kecurigaannya bahwa pembunuh Golsa adalah Dae Gil dan membuat Dae Gil seolah dia adalah seorang pembunuh keji yang sebentar lagi akan ditangkap atas tuduhan pembunuhan.

Dengan matinya Golsa dan karena putrinya Golsa tidak punya pengalaman apapun, maka sekarang hanya In Jwa seorang yang mampu mengelola Mapo. Karena itulah, In Jwa mengancam mereka semua untuk berbalik mendukungnya atau mereka akan mati.


Di istana, Pangeran Yeoning terlambat menghadiri rapat pagi. Dan saat dia tiba, Putra Mahkota Yoon memberitahunya kalau rapat pagi sudah selesai. Pangeran Yeoning langsung bertanya bagaimana hasil rapat tentang aturan larangan bagi pedagang kecil.

"Aturan larangan itu... aku sudah menyuruhmu untuk memberikanku bukti" ujar Raja

"Bukti itu sudah saya serahkan pada Kim Chang Jib"

Chang Jib membenarkan kalau dia memang menerima buku keuangan yang berisi daftar korupsi pedagang dan para menteri tersebut. Tapi dia mengklaim kalau bukti yang tertulis dalam buku itu tidak memiliki nilai yang kuat dan karenanya memutuskan untuk membakar buku itu. Merasa terkhianati, Pangeran Yeoning langsung menatapnya dengan penuh amarah.


Begitu rapat selesai dan semua menteri keluar, Pangeran Yeoning langsung mengkonfrontasi Chang Jib dan menuntut apa sebenarnya alasan Chang Jib melakukan itu. Chang Jib mengklaim bahwa dia melakukan ini demi kebaikan Pangeran Yeoning sendiri "Pangeran adalah pilar faksi Noron. Anda tidak boleh terjatuh hanya karena masalah aturan larangan pedagang kecil"

"Kau mencegahku... demi kebaikan? Bukankah itu terlalu bertentangan?"

Chang Jib memberitahu Pangeran Yeoning bahwa menghapus aturan larangan berdagang bagi pedagang kecil, tidak akan membuat faksi Soron langsung hancur. Penghapusan larangan itu tidak akan bisa membuat iblis seperti In Jwa masuk penjara. Jika begitu, maka Pangeran Yeoning sendiri lah yang akan terluka pada akhirnya.


Pangeran Yeoning tetap tidak terima dengan semua ini. Tapi tepat saat itu juga, Putra Mahkota Yoon muncul dan memberitahu Pangeran Yeoning bahwa semua ini adalah kehendak Choi Sukbin. Jika aturan larangan ini sampai dihapus maka nyawa Pangeran Yeoning akan berada dalam bahaya.


Dalam flashback, Choi Sukbin meminta bantuan Putra Mahkota Yoon untuk menghentikan Pangeran Yeoning. Tapi menyadari Putra Mahkota Yoon tidak akan bisa menghentikan Pangeran Yeoning seorang diri, Choi Sukbin pun meminta bantuan Kim Chang Jib yang menyarankan Putra Mahkota untuk menemui raja dan meminta raja untuk mengembalikan posisi Pangeran Yeoning di Inspektorat Jenderal terlebih dulu, sementara sisanya akan dia tangani sendiri.


Putra Mahkota Yoon meminta Pangeran Yeoning untuk menghentikan aksinya dalam penghapusan aturan larangan berdagang bagi pedagang kecil itu, lalu memberikan lencana Inpekstorat Jenderal pada Pangeran Yeoning dan memberitahunya bahwa Raja juga sudah menyetujuinya. Pangeran Yeoning akhirnya menerima lencana itu kembali.

Flashback,


Putra Mahkota Yoon menemui Raja yang bertanya-tanya apa sebenarnya tujuan Putra Mahkota Yoon? Apa Putra Mahkota Yoon tidak ingin menjadikan dirinya sendiri sebagai raja? Kenapa dia malah ingin menyelamatkan Pangeran Yeoning padahal Pangeran Yeoning bisa jadi penghalang baginya nanti? Bukankah jauh lebih baik bagi Putra Mahkota Yoon jika Pangeran Yeoning mati?

"Saya adalah kakaknya. Yeoning juga seorang bawahan yang loyal. Saya tidak ingin lagi menekannya. Saya ingin mengembalikan posisinya"

Kembali ke masa kini,


Pangeran Yeoning masih belum bisa mengerti semua ini. Chang Jib memberitahunya bahwa dalam politik, kita harus bisa melepaskan sesuatu demi mendapatkan sesuatu yang lainnya.


Pangeran Yeoning lalu pergi menemui ibundanya untuk protes. Choi Sukbin membela diri karena dia melakukan ini demi kebaikan Pangeran Yeoning sendiri. Dia akan berada dalam bahaya kalau dia melawan para menteri dan bisa saja dia akan kehilangan segalanya. Saat Pangeran Yeoning bersikeras kalau dia rela kehilangan segalanya, Choi Sukbin memohon agar dia berhenti.

"Aku memohon padamu, sebagai seorang ibu. Aku tidak punya banyak waktu tersisa untuk memohon banyak padamu. Mungkin ini akan menjadi permintaan terakhirku"


Shock mendengar kata-kata ibundanya, Pangeran Yeoning langsung pergi menemui tabib yang memberitahunya bahwa kesehatan Choi Sukbin banyak menurun drastis. Pangeran Yeoning bingung, dia rela mengorbankan nyawanya demi ibundanya. Tapi bagaimanapun, saat ini dia tidak bisa menuruti ibundanya. Dia tidak bisa berhenti sekarang.


Raja bertemu dengan Kim Chang Jib dan bertanya seberapa banyak pengetahuan Chang Jib akan In Jwa.


Sementara di tempat lain, In Jwa berkumpul bersama para menteri yang memuji-muji keberhasilan In Jwa dalam membuat Kim Chang Jib berbalik mendukung mereka. In Jwa dengan rendah hati berkata kalau sebenarnya dia tidak banyak berperan dalam hal ini.

Il Soo bertanya-tanya apa yang akan In Jwa lakukan dengan Dae Gil yang telah berhasil mengalahkan Golsa. In Jwa memberitahu mereka bahwa walaupun Golsa kalah dari Dae Gil tapi dia sudah mengambil alih semua pedagang yang dulu dikendalikan oleh Golsa dan Dae Gil sebentar lagi pasti akan dipenjara.


Dae Gil mendatangi Hong Mae di kasinonya untuk menanyakan keberadaan Dam Seo tapi Hong Mae tidak tahu apapun, dia bahkan tidak tahu kalau Dam Seo sudah kembali. Tidak bisa menemukannya disana, Dae Gil langsung pergi ke kediamannya In Jwa.

Dia yakin Dam Seo disana karena dia mengira kalau In Jwa lah yang memerintahkan Dam Seo membunuh. Tapi sama seperti Hong Mae, In Jwa juga tidak tahu apa-apa, dia bahkan tidak tahu kalau Dam Seo sudah kembali. Dae Gil tak percaya dan hendak menuduh In Jwa membunuh Golsa.


Tapi belum sempat mengatakan apapun, In Jwa menyela dan menuduh Dae Gil sebagai pembunuh Golsa lalu mengusir Dae Gil. Dae Gil kesal mendengarnya tapi menyadari dia tidak mungkin melawan kedua pengawal tangguh In Jwa dengan tangan kosong, Dae Gil akhirnya pergi.


Di tengah jalan, Dae Gil dihadang oleh Moo Myung yang bertanya apakah Dae Gil melihat Dam Seo. Dae Gil memberitahunya kalau Dam Seo lah yang membunuh Hantu ke-6 dan Golsa. Moo Myung langsung menuntut apa yang akan Dae Gil lakukan kalau dia bertemu Dam Seo. Dae Gil langsung curiga, Moo Myung pasti mengetahui keberadaan Dam Seo.


Moo Myung pun akhirnya memberitahu Dae Gil tentang sebuah kuil yang sering didatangi Dam Seo. Dae Gil langsung pergi ke kuil yang dimaksud. Dan disanalah, akhirnya dia menemukan Dam Seo.


Begitu kembali ke kantornya, Pangeran Yeoning mendapat kabar kematian Golsa dan langsung pergi untuk melihat langsung mayat Golsa. Penyebab kematiannya adalah sayatan pedang di leher dan menurut prajurit polisi sayatan itu dilakukan oleh seseorang yang memiliki ilmu bela diri.

Yeon Hwa datang dan langsung memberitahu Pangeran Yeoning bahwa pembunuhnya adalah Dae Gil. Dia bahkan bersumpah kalau melihatnya dengan mata kepalanya sendiri dan menyuruh Pangeran Yeoning untuk menangkap Dae Gil sekarang juga.

Pangeran Yeoning langsung memutuskan untuk mengambil alih kasus ini. Si pejabat membiarkannya, karena teryata dia sudah mendapatkan perintah dari In Jwa untuk membiarkan Pangeran Yeoning mengambil alih kasus ini.


Di kuil, Dae Gil langsung bertanya apakah Dam Seo yang membunuh Hantu ke-6 dan Golsa. Dam Seo bertanya balik apakah Dae Gil akan mempercayai ucapannya. Dia mengakui memang benar dialah yang membunuh Hantu ke-6 karena Hantu ke-6 selama ini sudah banyak melakukan kejahatan jadi dia pantas mati. Golsa juga banyak melakukan kejahatan, dia memang ingin membunuh Golsa waktu itu, tapi sungguh bukan dia yang telah membunuh Golsa

"Kalau bukan kau yang membunuhnya lalu siapa?"

"Walaupun aku sudah memberitahukan kebenarannya padanya, kulihat kau masih tidak mempercayaiku. Sebaiknya kau pergi saja kecuali kau berencana untuk melaporkanku"

"Kenapa sebenarnya kau jadi seperti ini? Apa yang terjadi padamu?"

"Sebentar lagi kau juga akan mengetahuinya, alasan kenapa ayahmu meninggal dan alasan kenapa Guru belum membunuhmu. Saat kau tiba di persimpangan, maka kau harus memilih. Seperti aku yang memilih untuk meninggalkan kepercayaan Guru. Akankah kau berdiri mendampinginya dan berjalan bersamanya ataukah melawannya"

Saat Dae Gil berjalan pergi, Dam Seo diam-diam menambahkannya "Sebentar lagi kau juga akan tahu. Bahwa kau adalah putra raja"

Begitu pulang, Dae Gil diberitahu Tuan Nam bahwa Seol Im menghilang dengan hanya meninggalkan satu sepatu dan sebuah surat.


Seol Im sedang berada di rumah Algojo saat itu. Setelah menyajikan makanan untuk Algojo, dia hendak pergi. Tapi para pengawalnya Algojo langsung menghalanginya. Algojo melarang Seol Im pergi lalu menyuruh pengawalnya memberikan sepasang sepatu cantik untuk Seol Im. Dia memberitahu Seol Im bahwa dia sudah meninggalkan sebuah surat untuk Dae Gil jadi tidak akan ada orang yang akan datang mencarinya.


Tuan Nam yakin sekali pasti ada yang tidak beres walaupun Seol Im meninggalkan sebuah surat pamit pada mereka. Tidak tenang, Dae Gil pun berencana pergi untuk mencari Seol Im. Tapi belum sempat kemana-mana, Pangeran Yeoning datang bersama serombongan pengawal untuk menangkap Dae Gil atas pembunuhan Golsa. Dae Gil ditangkap tanpa perlawanan dan Pangeran Yeoning terus menemaninya bahkan sampai dia dimasukkan kedalam penjara.


Moo Myung melapor pada In Jwa tentang penangkapan Dae Gil yang dilakukan langsung oleh Pangeran Yeoning. In Jwa tahu betul kalau Dae Gil sampai dinyatakan bersalah maka dia pasti akan dihukum mati, dia jadi penasaran bagaimana reaksi Choi Sukbin menghadapi berita ini.


Choi Sukbin shock saat diberitahu dayangnya tentang penangkapan Dae Gil.


Moo Myung bertanya apakah In Jwa berencana membunuh Dae Gil. In Jwa yakin kalau Dae Gil tidak akan mati semudah itu, dia hanya penasaran dengan reaksi raja. Ingin tahu bagaimana reaksi raja saat mengetahui anaknya tengah menghadapi maut.


Raja mendapat kabar ini dari kasim kembar. Tapi dia yakin kalau pertemuan kedua saudara itu tidak mungkin cuma karena takdir. Dia yakin kalau semua ini pasti ulahnya In Jwa "Dia sedang berusaha memprovokasiku dan menyerangku? Atau punya rencana lain?"


Pangeran Yeoning mendatangi Dae Gil di penjara dan menuntutnya untuk mengatakan kebenarannya. Saat Dae Gil berkata kalau dia tidak membunuh Golsa, Pangeran Yeoning memintanya untuk bersumpah diatas pedang pemberian raja.

"Aku berani bersumpah bahkan tanpa pedang itu" ujar Dae Gil

Lega mendengar sumpah Dae Gil, Pangeran Yeoning menduga jika bukan Dae Gil pembunuhnya maka pasti ada orang yang membunuh Golsa dan menjebak Dae Gil. Apa waktu itu, Dae Gil melihat sesuatu atau seseorang yang melarikan diri? tanya Pangeran Yeoning.

Demi melindungi Dam Seo, Dae Gil mengaku tidak melihat siapapun. Mendengar itu, Pangeran Yeoning meminta Dae Gil untuk diam saja disini dan menunggunya, dia berjanji kalau dia pasti akan menangkap pembunuh Golsa yang sebenarnya.

"Bahkan sekalipun tanpa pedang ini, aku mempercayaimu" ujar Pangeran Yeoning.


Pangeran Yeoning langsung pergi menyelidiki TKP dan sekali lagi bertanya apakah Yeon Hwa sungguh-sungguh menyaksikan pembunuhan itu. Yeon Hwa mengaku kalau dia tidak menyaksikan pembunuhannya, tapi dia sangat amat yakin kalau Dae Gil lah yang membunuhnya.


Pangeran Yeoning lalu bertanya apakah ada seseorang yang menerobos masuk dari luar. Dan pertanyaan itu terjawab dengan sendirinya saat dia melihat sebuah pintu yang tak terkunci. Yeon Hwa pun mengkonfirmasi bahwa pada hari pembunuhan ayahnya, jendela itu memang terbuka. Kalau begitu, Pangeran Yeoning menyimpulkan pasti ada seseorang yang masuk melalui jendela dan membunuh Golsa dan mungkin saja Dae Gil cuma dijebak.

Bersambung ke episode 14 - 2

2 comments :

  1. Makin seruu ya Jacpot,,
    walaupun jarang komen, tp aku tetep setia kok baca tulisan sinopsis nya chingu. .
    fighting ^_^

    ReplyDelete
  2. Eonni,,,,selanjutnya please.....T_T....
    Penasaran.....

    ReplyDelete