May 11, 2016

Jackpot Episode 12 - 2


Dae Gil membawa Seol Im menemui kakeknya. Saat Tuan Nam mendengar nama Seol Im, dia langsung menggodanya karena nama Seol Im terdengar seperti debaran hati. Mereka lalu makan malam bersama dimana Tuan Nam bertanya "Apa kau pacaran dengan Dae Gil? Seperti itukah hubungan kalian?"

Seol Im tersenyum malu-malu tapi Dae Gil langsung tersedak sampai batuk-batuk dan menyangkal dugaan Tuan Nam. Kalau mereka tidak pacaran lalu kenapa Dae Gil membawa pulang seorang gadis dewasa? tanya Tuan Nam. Ada lah alasannya, jawab Dae Gil.




Terlepas dari apapun alasan Dae Gil, Tuan Nam terus saja menginterogasi Seol Im seperti layaknya calon mertua menginterogasi calon menantu. Apa orang tuanya masih ada? Berapa umur Seol Im? Dll. Dae Gil terus protes dan bersikeras kalau hubungan mereka tidak seperti yang Tuan Nam pikirkan.


Setelah makan, Seol Im membantu mencuci piring. Tuan Nam terus-menerus memanjakan Seol Im bahkan melarang Seol Im cuci piring agar tangan cantik Seol Im tidak kasar. Seol Im tidak mempermasalahkannya karena dia berniat untuk membalas kebaikan mereka yang telah memberinya makan.

"Kukira wajahmu saja yang cantik, tapi ternyata hatimu juga cantik. Dae Gil-ah, kau pasti membawanya kemari untuk suatu alasan. Bagaimana kalau kalian menikah saja..."

"Aku kan sudah bilang tidak seperti itu" ujar Dae Gil sebal dan Seol Im tampak kecewa dengan reaksi Dae Gil.


In Jwa membawa semua uang hasil kemenangan taruhannya pada Dae Gil ke gibangnya Hwang Gu dan bertemu para menteri disana. Sesuai janjinya saat dia meminta para menteri untuk membagikan isi gudang mereka untuk rakyat, sekarang dia datang membawakan semua uang dan emas itu untuk mengisi kembali gudang para menteri yang sudah mereka kosongkan.

Tapi dia bertanya-tanya apakah mereka sudah bertemu dengan Putra Mahkota. Il Soo berkata sudah, bahkan dia mengklaim kalau hasilnya benar-benar sesuai prediksi In Jwa. In Jwa pun senang.


Pada saat bersamaan, Pangeran Yeoning kembali ke istana dan langsung mendapat kabar buruk. Dia langsung pergi menemui Putra Mahkota Yoon yang mengkonfirmasi kebenaran kabar yang Pangeran Yeoning dengar, bahwa dia akan merombak kantor Inspektur Jenderal.

Alasannya memutuskan melakukan hal ini adalah Pangeran Yeoning telah melakukan hal-hal yang tak pantas, seperti kejadian di kasino di Seosomun yang membuat nyawa seseorang melayang dan juga fakta kalau Yeoning berlutut pada rakyat atas nama Baginda Raja dan dirinya.

Dia benar-benar sangat marah dan tidak terima karena Yeoning telah mempermalukan raja dan dirinya dengan cara seperti itu. Dia tidak mau menerima alasan apapun bahkan sekalipun Yeoning memiliki ribuan mulut. Karena itulah, dia memecat Yeoning dari jabatannya ini.


Para menteri senang karena jika semua sayap Pangeran Yeoning sudah putus maka itu artinya, Pangeran Yeoning tidak akan bisa menghapus larangan pada pedagang kecil. Tapi In Jwa tetap tidak bisa tenang, menurutnya semua ini masih belum cukup.


Pangeran Yeoning keluar dengan langkah lesu dan mendapati Kim Chang Jib tengah menunggunya di luar. Dia berusaha menyemangati Pangeran Yeoning dan menyarankannya untuk pergi menemui raja dan meminta bantuan raja. Karena saat ini, satu-satunya orang yang bisa menolongnya hanya raja seorang.


Pangeran Yeoning pun langsung pergi menemui raja dan mengaku kalau dia datang untuk meminta nasehat raja. Raja tak percaya mendengarnya "Aku memberimu sebuah pedang dan kau, anak bodoh, malah menggunakannya untuk menusuk kakimu sendiri. Lalu nasehat apa lagi yang kau minta sekarang? Hah?"

Raja bertanya-tanya apa sebenarnya arti jabatannya di kantor Inspektur Jenderal bagi Yeoning. Apa Yeoning pikir,dia tidak akan bisa melakukan apapun jika dia tidak memiliki jabatan itu. Apa Yeoning pikir dia tidak punya kekuasaan tanpa jabatan yang sebenarnya cuma sekedar pekerjaan itu.


Raja menuang air kedalam mangkok minumnya lalu meminumnya dan berkata "Opini publik itu sama seperti air dalam mangkok ini. Airnya berayun ke arah condongnya mangkok. Lalu, apa kau airnya atau mangkoknya? Kau sendiri yang memutuskan kemana airnya akan dituang. Jadi kenapa kau mau saja diayun-ayun tanpa mangkok? Baik kau hidup ataupun mati, bersikaplah seolah kau memegang sebuah mangkok!" bentak Raja sambil melempar mangkok itu pada Yeoning dengan penuh amarah.

Shock mendengar kemarahan Raja, Pangeran Yeoning berjanji bahwa dia akan selalu mengingat nasehat Raja itu dalam hatinya. Begitu keluar, dia langsung bertanya pada pengawalnya dimana rumahnya Dae Gil.


Seol Im memberitahu Dae Gil bahwa setelah mereka berpisah waktu itu, dia benar-benar tidak punya tempat tinggal. Saat itu dia benar-benar bertekad untuk membalas dendam kematian orang tuanya. Suatu hari, dia melihat Algojo lewat.


Dia mengikuti Algojo yang saat itu menemui Hantu ke-6. Dia berusaha membunuh Hantu ke-6 dengan sebuah pisau, tapi Hantu ke-6 langsung menangkapnya dengan dengan mudahnya. Hantu ke-6 hampir saja mengkampak tangannya, tapi Algojo menghentikannya. Hantu ke-6 marah pada Algojo dan langsung mengkampak tangan Algojo.


Tapi Algojo tidak bereaksi seolah tidak kesakitan sama sekali, bahkan dengan tenangnya dia melepaskan kapak itu dari tangannya dan memperingatkan Hantu ke-6 untuk tidak menyentuh wanita. Sejak saat itu, Seol Im memutuskan untuk tinggal dengan Algojo sampai dia berhasil membunuh Hantu ke-6.


Dan sekarang setelah segalanya sudah berakhir, dia berniat untuk memberitahu Algojo kalau dia akan pergi meninggalkannya.

 

Pangeran Yeoning muncul tak lama kemudian dan langsung ikut duduk bersama mereka sambil protes karena mereka minum berdua saja dan tidak mengajaknya. Awalnya Seol Im bingung melihat Pangeran Yeoning sebelum akhirnya dia ingat "Oh, yang kemarin yah? Tapi kau siapa?"

Pangeran Yeoning langsung protes karena Seol Im bicara dengan nada tak hormat padanya "Ada apa sebenarnya dengan semua orang? Apa mereka tidak punya etiket yang benar?" protes Pangeran Yeoning pada Dae Gil yang selama ini juga tak pernah menghormatinya.


"Aku lebih tua darimu" alasan Dae Gil.

"Memangnya apa pentingnya itu? Kita kan teman."

"Apa? Teman katamu? Kalau begitu panggil aku 'Hyungnim'."

Pangeran Yeoning langsung protes. Seol Im tidak mengerti apa masalahnya, bukankah pangeran Yeoning kemari untuk bicara dengan hyungnimnya, "Ayo panggil saja dia hyungnim"


"Kau, apa kau bahkan tahu siapa aku?"

Seol Im langsung tertawa geli mendengarnya, "Memangnya kau pangeran atau semacamnya?"

"Aku memang pangeran."

Tapi Seol Im tidak percaya dan yakin sekali kalau dia cuma bercanda. Dae Gil lah yang akhirnya harus mengkonfirmasi, "Dia memang pangeran"


Beberapa saat kemudian, Seol Im dihukum dengan disuruh angkat tangan sementara kedua pria itu ngobrol membicarakan target Dae Gil selanjutnya yaitu Golsa. Seol Im berusaha ikut bicara tapi Pangeran Yeoning langsung mengingatkannya untuk angkat tangan dan diam.


Pangeran Yeoning juga menargetkan Golsa dan memberitahu Dae Gil tujuan utamanya adalah untuk menghapus larangan izin pedagang kecil dan memutus semua sumber keuangan In Jwa. Untuk melakukan itu dia membutuhkan buku keuangan yang mencatat berbagai korupsi sementara saat ini buku itu ada di tangan Golsa.


Seol Im meminta izin untuk bicara. Pangeran Yeoning pun akhirnya melunak dan mengizinkan Seol Im untuk menurunkan tangannya. Seol Im mengaku kalau dia pernah mendengar sesuatu tentang Golsa. Tapi belum sempat mengatakannya, Tuan Nam tiba-tiba muncul dan meneriakkan nama Golsa dengan penuh dendam dan menuntut dimana Golsa sekarang karena dia ingin membunuh Golsa.


Tuan Nam lalu memberitahu mereka bahwa selain In Jwa, ada satu orang lagi yang pernah menjahatinya dan orang itu adalah Golsa karena Golsa adalah orang yang dulu mengambil satu matanya saat dia ketahuan melakukan kecuragan saat dia berjudi dengan Golsa dulu.


Seol Im berusaha bicara lagi tentang informasi yang dia ketahui tentang Golsa. Tapi Dae Gil langsung menyela dan bertanya pada Tuan Nam tentang apa sebenarnya keahlian Golsa. Tuan Nam tidak begitu tahu pasti karena Golsa itu seorang produsen yang mampu membuat segala macam barang sesuai pesanan kliennya.

Dan sekarang, Golsa telah menjadi pria paling berkuasa yang menguasai segala perdagangan di Mapo. Bahkan para pejabat pun harus minta izin dulu pada Golsa sebelum mereka bisa mengangkut barang-barang mereka ke kapal. Intinya, Golsa itu sudah seperti raja di Mapo.

Pedagang adalah sumber keuangan In Jwa yang paling besar dan utama, yang kedua adalah kasinonya Hong Mae, dan yang ketiga adalah Golsa. Karena itulah, jika mereka berhasil mengalahkan Golsa maka kekuatan In Jwa pun akan melemah.


Seol Im terus berusaha untuk bicara tapi dia tidak pernah punya kesempatan karena para pria itu terus saja bicara. Kesal, dia akhirnya mengetuk meja dan meminta mereka untuk memberinya kesempatan bicara dan menginformasikan pada mereka tentang informasi yang pernah dia dengar, bahwa Golsa memiliki seorang anak yang ditawan oleh In Jwa.


Dae Gil sekarang mengerti kenapa Golsa harus selalu membayar sangat mahal pada In Jwa, semua itu karena In Jwa menawan anaknya Golsa. Jadi sekarang yang harus mereka lakukan adalah mencari anaknya Golsa dan membebaskannya dari In Jwa.


Mereka pun mulai menjalankan rencana mereka. Tuan Nam pura-pura mengerang kesakitan di depan kasinonya Hong Mae. Begitu dua penjaga kasino menghampiri Tuan Nam, Pangeran Yeoningpun langsung menyelinap masuk kedalam kasino.


Tapi begitu masuk, sosoknya langsung tertangkap oleh mata tajam Hong Mae dari kejauhan. Hong Mae langsung mengejarnya, tapi saat dia berhasil mengejarnya ternyata pria itu bukan Pangeran Yeoning.


Tak lama kemudian, Pangeran Yeoning akhirnya menemukan sebuah ruangan. Tapi tak ada apapun disana.


Sementara itu, Seol Im mendatangi Hwang Gu di gibang Wolhyanggak dengan maksud melamar jadi gisaeng. Dalam sesi wawancaranya, dia berbohong mengatakan kalau sebelumnya dia adalah gisaeng di Busan lalu menunjukkan keahliannya menari. Sementara Hwang Gu sibuk menilai Seol Im, Dae Gil diam-diam masuk membuka setiap kamar untuk mencari anaknya Golsa.


Hwang Gu menilai keahlian Seol Im cukup bagus tapi fisiognominya kurang bagus. Seol Im baik pada orang lain tapi dia tidak punya teman. Seol Im memiliki jiwa beracun dan kejam, siapapun yang bersentuhan dengannya pasti akan sulit menghindari kematian. Seol Im langsung terdiam. Karena dugaannya benar, Hwang Gu pun langsung mengusir Seol Im.


Seol Im akhirnya keluar dengan langkah lesu. Tepat saat itu juga, dia melihat Dae Gil keluar. Dae Gil langsung berhenti saat dia melihat wajah sedih Seol Im. Tapi tepat saat itu juga, Hwang Gu memanggil Seol Im. Dae Gil pun cepat-cepat pergi sebelum ketahuan.


Hwang Gu menawari Seol Im untuk mengajarinya cara untuk mengeluarkan takdir buruk yang tersemat dalam tubuhnya itu.


Dae Gil berkeliling ke area lain. Saat dia hendak membuka salah satu kamar, terdengar suara seorang wanita dari dalam. Dia hendak pergi, tapi tiba-tiba wanita itu berkata "Kau pasti seseorang yang punya ilmu bela diri. Tidak ada apapun yang bisa dicuri di kamar ini. Jika kau cuma seorang pencuri, tinggalkan tempat ini"


Tuan Nam berteriak senang karena dia menang banyak. Hong Mae heran kenapa Tuan Nam ribut sekali padahal ini bukan pertama kalinya dia main. Tuan Nam langsung melirik ke belakang Hong Mae. Sontak Hong Mae pun langsung menoleh mengikuti arah pandang Tuan Nam tapi Pangeran Yeoning sudah menghilang diantara kerumuman begitu dia menoleh.


Penasaran mendengar wanita itu, Dae Gil pun langsung membuka kamar itu dan mendapati ada seorang wnaita muda bangsawan sedang sibuk membaca buku dan di sekelilingnya pun penuh buku. Wanita bertanya siapa Dae Gil tapi Dae Gil langsung bertanya balik apakah dia mengenal Golsa. Wanita itu menuntut Dae Gil untuk menjawab pertanyaannya dulu.


Tapi tepat saat itu juga, Hwang Gu tiba-tiba mengumumkan kedatangannya dari luar pintu. Dae Gil bersembunyi saat Hwang Gu masuk. Dia datang membawakan buku-buku yang diminta wanita itu. Sebelum pergi, Hwang Gu mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar seperti mencurigai sesuatu.


Dae Gil akhirnya keluar dari persembunyiannya begitu Hwang Gu pergi. Dae Gil memberitahunya kalau dia datang untuk menyelamatkannya.

"Apa kau bahkan tahu siapa aku?" tanya wanita itu

"Putrinya Golsa. Kau cukup hebat juga, bisa menebak seseorang hanya dari suara langkah kaki mereka."

"Aku tidak tahu siapa kau. Tapi aku yakin kau salah. Aku berada di Wolhyanggak bukan sebagai tawanan."

Dalam flashback, kita melihat In Jwa mengancam wanita itu untuk tetap diam atau ayahnya akan mati. Tapi pada Dae Gil wanita itu berkata kalau dia bukan tawanan. Karena Dae Gil bisa melihat sendiri kalau dia tidak dijaga oleh siapapun dan dia bisa pergi kapanpun dia inginkan.


"Kalau begitu kurasa kau tidak akan peduli kalau Golsa akan mati di tanganku. Kau pasti sudah mendengar rumor tentang akhir riwayat Hantu ke-6. Akulah orang yang telah membunuh Hantu ke-6, Baek Dae Gil."


Beberapa saat kemudian, Dae Gil pergi mendatangi Golsa. Golsa menyambut dan memanggil Dae Gil sebagai anaknya Baek Man Geum. Sementara Putrinya Golsa, mondar-mandir gelisah di dalam kamarnya.

Bersambung ke Jackpot Episode 13

1 comment :

  1. mba...sinopsis my bodyguard lee dong wook dong...

    ReplyDelete