May 9, 2016

Jackpot Episode 12 - 1


Dae Gil shock melihat kedatangan Seol Im, dia lebih heran lagi saat mendengar Hantu ke-6 menyebut Seol Im anak buahnya Algojo. Tapi Seol Im sendiri tampak santai-santai saja bertemu dengannya. Bahkan saat Hantu-6 menyentuhnya sambil mengancamnya, Seol Im langsung menepis tangannya dan memberitahunya sebuah pesan dari tuanya si algojo.




"Bahkan sekalipun kau kehilangan segalanya, setidaknya pertahankan nyawamu," itulah pesan Algojo.

Hantu ke-6 menolak diperlakukan seperti itu dan menyuruh Seol Im pergi saja. Seol Im tidak mau dan langsung duduk di belakang Hantu ke-6 sambil bersikeras bahwa dia mendapat perintah dari tuannya untuk memastikan Hantu ke-6 tetap hidup.


Dae Gil menarik lengan Seol Im agar mereka bisa bicara berdua di luar tapi Seol Im langsung menampik tangannya "Seol Im yang pernah kau kenal, sekarang sudah tidak ada lagi. Sekarang aku adalah milik Algojo."


In Jwa datang tak lama kemudian untuk menyaksikan permainan mereka. Sebelum permainan dimulai, Dae Gil mempertaruhkan surat-surat kepemilikan kasino yang diambilnya dari In Jwa, semua dokumen itu menunjukkan bahwa 12 kasino milik In Jwa seharga 10.000 nyang.


"Selain itu, aku akan mempertaruhkan nyawaku."

"Kau terlihat sangat percaya diri. Lalu, apa yang harus kupertaruhkan?"

"Kepemilikan kasinomu ini... dan nyawamu."

Hantu ke-6 setuju. In Jwa menyela mereka dan mengusulkan agar para penonton juga ikut bersenang-senang dengan bertaruh akan siapa yang nantinya akan menang. Para penonton langsung mempertaruhkan uang-uang mereka untuk Hantu ke-6 dan tidak ada satupun yang bertaruh untuk Dae Gil.


Tapi kemudian, anak-anak buahnya In Jwa mengeluarkan dua buah peti besar yang penuh berisi emas batangan dan uang koin yang jika semuanya ditotal jumlahnya 5.000 nyang. Dan dia mempertaruhkan semua itu untuk Dae Gil. Permainan pun akhirnya dimulai.


Pangeran Yeoning masuk ke ruang dokumen tapi disana dia mendapati Jin Ki sudah menunggunya bahkan tahu apa yang Pangeran Yeoning cari di tempat ini lalu dengan santainya melemparkan beberapa surat kontrak perbudakan padanya.


"Hwang Jin Ki."

"Ow, seseorang yang begitu penting seperti anda, tahu siapa saya. Saya merasa terhormat."

"Kau dulu prajurit militer. Sekarang, kau menjadi anjingnya Yi In Jwa."

Jin Ki langsung tersinggung mendengarnya bahkan langsung mengeluarkan pedangnya. Pangeran Yeoning sontak ketakutan dan langsung mundur dan menutup pintu ruangan itu kembali. Dari dalam, Jin Ki memperingatkan Pangeran untuk segera membuka pintunya atau jika tidak maka dia akan mendobraknya.


Pangeran Yeoning bingung harus bagaimana. Tapi tepat saat itu juga, dia melihat dua buah guci minyak tanah. Dia mengambilnya lalu membuka pintunya sedikit dan menawarkan sejumlah uang pada Jin Ki asalkan Jin Ki membantunya mengangkut semua dokumen di ruangan itu. Jin Ki cuma menatapnya dengan kening berkerut.

"Kenapa? Tidak mau?"

"Apa yang sedang kau rencanakan?"

"Kurasa itu artinya tidak. Kalau begitu tidak ada yang bisa kulakukan,"


Pangeran Yeoning lalu melempar dua guci minyak tanah itu pada Jin Ki lalu melempar obor yang sontak membakar semua surat kontrak para budak dan membuat Jin Ki terperangkap dalam api, menutup pintunya kembali dan menguncinya dengan palang kayu.

 

Pangeran Yeoning baru saja hendak keluar saat Jin Ki tiba-tiba mendobrak pintunya sampai hancur dan berjalan keluar dengan tenang. Pangeran Yeoning langsung ketakutan dan melarikan diri, berusaha menyelamatkan nyawanya dari tebasan pedang Jin Ki.


Sekarang giliran Dae Gil lagi untuk mengocok dadunya dan menjalankan bidaknya. Sayangnya dia cuma dapat angka tujuh tapi dia tetap menjalankan gamenya dengan tenang. Setelah itu dia mengambil dan mengembalikan dadu-dadunya kedalam cangkir bambu pelan-pelan sebelum memberikannya pada Hantu ke-6.


Bidak hantu ke-6 sekarang tinggal 2 dan jika dia berhasil mendapatkan angka doble enam maka dialah yang akan keluar sebagai pemenangnya. Sebelum mengocok dadunya, Hantu ke-6 mengambil guci araknya lagi tapi mendapati guci itu sudah kosong. Seol Im datang dengan membawakan seguci arak baru untuknya.


Hantu ke-6 pun mulai mengocok cangkir bambunya dan Dae Gil langsung menutup mata untuk berkonsentrasi mendengarkan suara kocokan dadu itu, lalu tiba-tiba saja dia dan Hantu ke-6 mendengar suara aneh dari dalam cangkir bambu itu.


Hantu ke-6 berhenti sejenak karena bingung tapi kemudian cepat-cepat mengocoknya lagi lalu membantingnya ke meja dan saat dia membukanya, ternyata salah satu dadu kayu itu pecah dan alhasil Hantu ke-6 pun tidak bisa jadi pemenangnya. Dia curiga itu pasti ulah Dae Gil.


Dan dalam flashback memang benar, diam-diam Dae Gil memang sengaja menekan keras salah satu dadu kayu sampai retak secara diam-diam sebelum dia mengembalikannya kedalam cangkir.

Tapi tentu saja Dae Gil menyangkal tuduhan Hantu ke-6 dan pura-pura tak tahu apa-apa. Tapi Dae Gil tidak bisa menang begitu saja hanya karena dadunya hancur, karena aturan main menyatakan bahwa jika dadu rusak maka itu artinya ronde itu tidak sah dan mereka harus memulai ronde baru dengan set dadu baru.


Hantu ke-6 lalu minta satu set dadu baru. Anak buahnya membawakan ssatu set dadu baru tapi Dae Gil curiga kalau dadu itu sudah dimanipulasi agar bisa selalu berakhir di angka 6. Dia mencoba melemparnya dan ternyata kecurigaannya benar. Anak buahnya hantu ke-6 terus membawakan set-set dadu baru lainnya dan Dae Gil terus menerus mencobanya dan semuanya menunjukkan kalau dadu itu sudah dimanipulasi.

Dae Gil tidak terima kalau mereka menggunakan dadu dari kasino ini dan menuntut agar mereka menggunakan dadu milik orang lain. Kesal, Hantu ke-6 langsung berteriak pada para penonton mereka "Apa ada yang punya dadu disini?!"


Seorang anak kecil maju membawakan satu set dadu. Kali ini Dae Gil setuju untuk main dengan menggunakan dadu itu. Hantu ke-6 kembali mengingatkan Dae Gil bahwa jika dia berhasil mendapatkan angka dobel enam maka dialah yang akan menang dan nyawa Dae Gil akan melayang di tangannya. Hantu ke-6 lalu mulai mengocok dadunya lalu membantingnya ke meja.


Tapi belum sempat mengangkat cangkirnya, Dae Gil tiba-tiba mengusulkan untuk mengubah aturan mainnya dengan alasan agar permainan lebih menarik. Aturan baru yang diusulkannya adalah "Jika kau mendapatkan angka dobel 3 maka akulah yang menang. Tapi jika kau tidak mendapatkan angka dobel 3 maka kau memenangkan semuanya. Jika aku menang maka nyawa semua budak itu adalah milikku"

"Dasar kunyuk! Kau punya nyali paling besar di Joseon. Apa kau yakin?"

"Kenapa apa kau takut?"

"Dasar anak kecil! Baiklah, aku akan memberikan mereka semua jika kau menang,"


In Jwa berusaha memperingatkan Hantu ke-6 bahwa dia mungkin saja bisa kalah dan kehilangan segalanya. Tapi Hantu ke-6 tidak percaya dan sangat yakin kalau dia pasti akan menang.


Cangkir pun akhirnya dibuka... tapi ternyata kedua dadu menunjukkan angka 3. Dae Gil lah pemenangnya. Hantu ke-6 shock. Hmm... apa yang sebenarnya terjadi?


Ternyata dalam flashback, kita melihat dadu yang diberikan anak kecil tadi bukanlah dadu biasa, tapi dadu pemberian Dae Gil.


Anak-anak buahnya In Jwa langsung mengambil semua uang yang mereka menangkan lalu pergi sementara  Dae Gil menuntut Hantu ke-6 untuk mengembalikan semua uang dan semua hasil keringat dan darah para budak yang selama ini Hantu ke-6 eksploitasi.

Hantu ke-6 jadi sangat marah mendengarnya "Siapa kau sebenarnya?"

"Aku kan sudah bilang. Aku cuma seorang pria yang sangat beruntung,"


Hantu ke-6 dan anak-anak buahnya langsung menyerang Dae Gil. Tapi Dae Gil berhasil menangkis dan menyerang balik dengan mudah. Hantu ke-6 maju untuk menyerang Dae Gil dengan kapaknya tapi Dae Gil berhasil menorehkan pedangnya ke dada Hantu ke-6 tapi tidak sampai melukainya.

"Apa kau pernah membunuh orang? Jangan cuma pura-pura jadi pria tangguh. Coba bunuh aku,"

Bukannya membunuhnya, Dae Gil malah memasukkan pedangnya kembali kembali ke sarungnya. Dia mengklaim kalau dia bukannya tidak bisa membunuh Hantu ke-6, dia hanya memberi kesempatan pada para budak agar mereka saja yang membunuh Hantu ke-6. Para budak itu langsung menuntut Hantu ke-6 untuk mengembalikan semua uang mereka. Tapi saat Hantu ke-6 marah dan mengancam mereka, mereka langsung mengkerut ketakutan.


Seol Im lah yang langsung maju menusuk Hantu ke-6 dengan belatinya "Mati kau! Ini adalah balasan atas ayah dan ibuku,"


Tapi Hantu ke-6 dengan mudahnya mengambil alih belati itu dari tangan Seol Im lalu menempelkannya di leher Seol Im dan memberitahunya bagaimana dulu dia membunuh ayahnya Seol Im. Yaitu dengan meracuni arak yang diminum ayahnya.

Dan Seol Im dengan tenangnya bertanya "Dan apa yang kau rasakan?"


Dia menggigit tangan Hantu ke-6 agar dia bebas dari cengkeramannya dan tiba-tiba saja Hantu ke-6 mulai oleng. Ah, ternyata guci arak yang tadi Seol Im berikan pada Hantu ke-6, sudah dia campuri dengan racun terlebih dulu.


Pandangan mata Hantu ke-6 mulai buram dan terjatuh lemas. Seol Im mengambil belatinya lalu menusuk perut Hantu ke-6. Dengan berlinang air mata dia memberitahu Hantu ke-6 bahwa dia tinggal disisi Algojo hanya supaya dia bisa balas dendam pada Hantu ke-6.


Dan seketika itu pula, para budak langsung mengeroyok Hantu ke-6 dengan penuh dendam.


Pangeran Yeoning terlempar keluar. Tapi kemudian dia berteriak menyuruh semua anak buahnya keluar dan seketika itu pula, Jin Ki dikepung oleh sekumpulan pengawal Pangeran Yeoning. In Jwa datang tepat saat itu juga. Saat Pangeran Yeoning bertanya apa yang dilakukannya disini, In Jwa dengan santainya berkata kalau dia baru saja menyaksikan saat-saat terakhir Hantu ke-6.

Tentu saja Pangeran Yeoning heran mendengar nada bicara In Jwa yang seolah tak peduli sama sekali dengan kematian Hantu ke-6, bukankah dia anak buahnya In Jwa?

"Mana mungkin orang tak berguna seperti dia anak buah saya" kata In Jwa "Pangeran, saya tahu anda sibuk menjalankan tugas anda. Tapi bagaimanapun, anda harus selalu berpikir. Apa anda melupakan sesuatu atau kehilangan arah akan sesuatu? Ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa anda harus mengetuk sebuah jembatan batu sebelum menyeberang"

"Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?"

In Jwa menolak mengatakan maksudnya sebelum akhirnya memberitahu Pangeran Yeoning bahwa dia pasti akan membalas tonjokan pangeran 2 bahkan 3 kali lipat "Anda mungkin harus kehilangan semua yang anda miliki"


Setelah In Jwa pergi, Pangeran Yeoning masuk kedalam kasino dan mendapati para budak sedang mengeroyok Hantu ke-6. Pangeran Yeoning berteriak untuk menghentikan mereka dan mengingatkan mereka akan hukum. Tapi para budak itu tidak peduli dan terus mengeroyok Hantu ke-6.

Melihat kemarahan semua budak, Pangeran Yeoning langsung berlutut dan menyatakan maaf pada semua budak. Para pengawal langsung ikut berlutut bersamanya dan para budak itupun akhirnya terdiam "Saya meminta maaf, atas dosa karena telah membuat semua orang di negeri ini mengalami penistaan. Atas dosa karena tidak mampu melihat air mata kalian. Dan atas dosa karena telah membuat kaliam terjatuh sampai ke dasar. Atas nama Baginda Raja, Putra Mahkota dan semua pejabat pemerintah, saya meminta maaf. Jadi, tolong hentikan sekarang"

Pengawalnya meminta Pangeran Yeoning untuk berdiri. Pangeran Yeoning lalu memberitahu mereka bahwa semua surat kontrak perbudakan mereka sudah hilang, dia lalu memerintahkan para pengawalnya untuk membawa semua budak ini pergi sekarang juga.

Tapi belum sempat memberitahu kalau tempat ini sebentar lagi akan dilalap api, salah seorang tiba-tiba  berteriak, "API! ADA API! CEPAT KELUAR!"


Semua orang langsung melarikan diri dari sana. Pangeran Yeoning memerintahkan para pengawalnya untuk menahan Hantu ke-6 sekarang juga. Tapi bahkan dalam keadaan sekarat, Hantu ke-6 terus berusaha melawan dan menyatakan kalau dia tidak akan pergi dari kasino ini, dia mau mati saja di tempat ini. Dan tepat setelah dia menyatakan itu, dua anak tiba-tiba menancap di punggungnya. Pangeran Yeoning melihat sekilas sosok pembunuhnya yang mirip Dam Seo.


Pangeran Yeoning langsung keluar mengejarnya tapi dia tidak melihat ada seorang pun. Dam Seo sebenarnya tengah bersembunyi tak jauh dari sana dan melihat Pangeran Yeoning dari tempat persembunyiannya. Melihat Pangeran Yeoning mengingatkan Dam Seo akan saat kebersamaan mereka berdua di hutan malam itu.


Merasakan kehadiran seseorang, Pangeran Yeoning berpaling ke arah tempat persembunyian Dam Seo tapi Dam Seo cepat-cepat menyembunyikan dirinya sebelum pangeran sempat melihatnya.


Semua orang melihat kasino itu terbakar. Para budak menangis haru dan berteriak-teriak penuh suka cita karena akhirnya tempat itu dan pemiliknya hangus terbakar api. Seol Im akhirnya lega karena dendamnya akhirnya terbalaskan.


Dae Gil lalu mengajak Seol Im pergi. Mereka berjalan pergi dengan diiringi sorakan gembira dan bungkukan hormat pada budak.


Pangeran Yeoning lalu pergi menemui Kepala Pedagang Baek dan anak buahnya. Tapi Kepala Pedagang Baek memberitahunya kalau buku keuangan itu sudah tidak ada padanya lagi. Tentu saja Pangeran Yeoning kecewa, setelah semua perjuangannya untuk membebaskan mereka dari cengkeraman Hantu ke-6, buku itu malah mereka jual pada orang lain.


Dalam flashback, ternyata Golsa lah pelakunya. Dia menawarkan dua batang emas pada Kepala Pedagang Baek untuk buku itu.

Bersambung ke episode 12 - 2

No comments :

Post a Comment