May 2, 2016

Jackpot Episode 10 - 1


Jin Ki hampir saja menyerang Dae Gil tapi Che Gun muncul saat itu juga dengan kecepatan kilat dan berhasil menghalau pedang Jin Ki.

"Seharusnya kau berada di Euigeumbu, nak. Sedang apa kau disini?"

Jin Ki langsung mendengus sinis mendengarnya "Apa aku masih kelihatan masih seperti anak kecil bagimu?"




Che Gun menyuruh Dae Gil pergi saja sekarang. Dae Gil ragu tapi Che Gun terus memaksanya. Dae Gil akhirnya menurut tapi sebelum pergi dengan memberitahu Jin Ki untuk selamat dari pertarungannya dengan Che Gun ini agar mereka bisa bertarung lagi di lain waktu. Begitu Dae Gil pergi, Che Gun dan Jin Ki langsung menghunus pedang pada satu sama lain.


In Jwa memanggil Hong Mae lalu memberinya sebuah hanbok serba hitam dan menyuruh Hong Mae untuk pergi ke Seosomun dan menemui Hantu ke-6. Walaupun agak bingung dengan perintah In Jwa tapi kemudian dia pergi menemui orang yang dimaksud In Jwa.


Che Gun dan Jin Ki masih bertarung dengan sengit sampai akhirnya Che Gun berhasil melukai Jin Ki. Tepat saat itu juga, mereka mendengar kedatangan para prajurit. Terpaksalah pertarungan mereka harus ditunda dulu sekarang.


Pangeran Yeoning membawa Dam Seo ke hutan. Saat dia membaringkan Dam Seo di tempat yang cukup aman, dia malah mendengar Dam Seo menggumamkan nama Dae Gil. Pangeran Yeoning tampak agak sedih mendengar gumaman Dam Seo.


Dam Seo terbangun tak lama kemudian dan langsung menuntut apa yang sebenarnya terjadi? Dan kenapa dia berada di hutan ini? Dia hendak bangkit tapi Pangeran Yeoning melarangnya bangun dan bersikeras menyuruhnya untuk berbaring saja dan menghangatkan dirinya di api unggun.

Pangeran Yeoning ingin melihat luka Dam Seo agar dia bisa mengobatinya tapi Dam Seo malah mundur menjauhinya. Dam Seo tidak nyaman dengan perhatian pangeran padanya dan karenanya dia meminta pangeran untuk mengacuhkannya saja dan meninggalkannya sendiri.

"Kenapa?"

"Karena kita adalah musuh."


Dam Seo ingin pergi tapi lagi-lagi Pangeran Yeoning melarangnya dan menggunakan kekuasaannya sebagai pangeran untuk membuat Dam Seo tetap tinggal. Saat hal itu juga belum berhasil membuat Dam Seo menurut, Pangeran Yeoning akhirnya mencengkeram tangan Dam Seo dan menariknya untuk duduk kembali.

Dia mengingatkan Dam Seo bahwa pendarahannya cukup parah dan bisa saja membuatnya pingsan, kalau sampai dia berkeliaran di hutan dengan tubuh bau darah maka bisa saja akan ada serigala yang menerkamnya. Dan bahkan sekalipun dia berhasil keluar dengan selamat dari hutan tapi akan ada prajurit yang menunggunya di luar hutan.

Pangeran Yeoning langsung beranjak pergi sebentar dan menyuruh Dam Seo untuk istirahat saja sekarang. Tapi kali ini Dam Seo lah yang mencegahnya pergi "Tolong hentikan. Apapun yang ingin anda lakukan, tolong jangan lakukan"

Pangeran Yeoning memberitahunya bahwa dia hanya akan pergi sebentar mencari tumbuhan obat dan saat itulah Dam Seo akhirnya melepaskan tangannya dan membiarkan pangeran pergi.


Di tengah jalan, Pangeran Yeoning dihadang Dae Gil yang kemudian melemparkan seikat daun eceng gondok. Dae Gil memberitahu pangeran bahwa daun itu sangat baik untuk menyembuhkan luka. Pangeran Yeoning heran kenapa Dae Gil tidak memberikannya sendiri saja pada Dam Seo.

"Kenapa? Apa harga dirimu terluka?" sindir Dae Gil.

Pangeran Yeoning langsung memprotes nada bicara Dae Gil yang tidak sopan padanya. Dae Gil dengan santainya berkata bahwa dia bersikap seperti ini pada pangeran karena pangeran jelas kelihatan lebih muda darinya.

"Apa?" protes Pangeran Yeoning

"Kau tidak punya teman yah? Karena itulah kau tidak punya teman."

Tidak terima dengan ejekan Dae Gil, Pangeran Yeoning mengklaim kalau dia tidak punya teman karena dia seorang pangeran. Mendengar itu, Dae Gil langsung menawarkan dirinya untuk menjadi teman pangeran. Tapi Pangeran Yeoning dengan kesalnya berkata kalau dia tidak butuh teman seperti Dae Gil. Terserah saja, Dae Gil tidak peduli dengan penolakan pangeran.


"Tolong jaga Dam Seo," pinta Dae Gil sebelum pergi "Bukankah kau jauh lebih cocok untuk melakukan tugas itu daripada aku? Aku agak sibuk."


Setelah Dae Gil pergi, Pangeran Yeoning kembali ke Dam Seo. Dia menumbuk daun itu tapi saat dia hendak mengoleskannya ke luka Dam Seo, Dam Seo malah menghindar. Pangeran menyuruh Dam Seo untuk tutup mata saja dan biarkan dia mengobati luka Dam Seo jika Dam Seo tidak ingin terus pendarahan dan bermalam bersamanya disini.

Dam Seo akhirnya menyerah dan membiarkan Pangeran Yeoning mengobati lukanya sementara dia menutup mata dan menunggu sambil berhitung. Dia baru membuka mata saat Pangeran Yeoning bicara lagi dan ternyata pangeran sudah selesai memperban lukanya.

"Aku sudah selesai mengobatimu sedari tadi tapi kau masih saja melakukannya. Apa sangat menyukai sentuhanku?" goda Pangeran Yeoning.


Tidak nyaman dengan rayuannya, Dam Seo meminta Pangeran Yeoning untuk berhenti. Tapi Pangeran Yeoning mengaku tak bisa. Dia sebenarnya ingin berhenti, ingin mengatakan kata-kata jahat pada Dam Seo bahkan ingin menghunus pedang pada Dam Seo. Dia sudah berusaha memberitahu dirinya sendiri ratusan bahkan ribuan kali "Tapi... tidak berhasil. Aku juga ingin berhenti sekarang"

"Kalau begitu berhentilah"

Tapi Pangeran Yeoning tidak bisa, dia hanya akan berhenti jika Dam Seo membunuhnya. Dam Seo langsung sinis mendengarnya, apa pangeran pikir dia tidak akan sanggup membunuh pangeran. Coba saja jika Dam Seo bisa, tantang Pangeran Yeoning.


Dengan mata berkaca-kaca, Dam Seo langsung mengeluarkan pisaunya dan mengayunkannya ke dada pangeran. Tapi tepat sebelum pisau itu menancap di tubuh pangeran, Dam Seo tiba-tiba berhenti dengan berlinang air mata. Dia tidak sanggup melakukannya.


Menyadari Dam Seo tidak bisa menghentikan perasaannya juga, Pangeran Yeoning langsung menyingkirkan pisau itu dan menarik Dam Seo dalam pelukannya dan membiarkan Dam Seo menangis sementara ia sendiri juga menitikkan air mata.


Tenggelam dalam emosi masing-masing, mereka berdua tidak menyadari kehadiran Dae Gil yang melihat mereka dari kejauhan dengan patah hati.


Dae Gil pergi dan Dam Seo tertidur dalam pelukan Pangeran Yeoning tak lama kemudian. Pangeran Yeoning sendiri belum bisa tidur teringat saat dia diberitahu bahwa orang yang membunuh ayah Dam Seo sebenarnya adalah In Jwa. Melihat Dam Seo tidur nyenyak, Pangeran Yeoning mempererat selimut yang menutupi Dam Seo lalu tidur sambil memeluk Dam Seo.


Tapi saat Pangeran Yeoning terbangun keesokan paginya, dia mendapati Dam Seo sudah tidak ada dan hanya meninggalkan perban yang sekarang dia jadikan pesan. Dalam pesannya, Dam Seo berkata "Semalam sangat hangat. Tapi aku tidak pantas menerimanya. Tolong lupakan aku. Ini adalah permintaan terakhirku."


Dam Seo berjalan terpincang-pincang. Tapi di tengah hutan, tiba-tiba dia dihadang kasim kembar yang menyuruhnya untuk ikut mereka dengan baik-baik. Beberapa saat kemudian, mata Dam Seo ditutup sementara kasim kembar menuntunnya ke sebuah tempat suram dimana raja sudah menunggunya di sana. Dam Seo langsung gemetar ketakutan tapi raja meyakinkannya untuk tidak cemas karena dia tidak berniat untuk membunuh Dam Seo.


"Apa pernah sekali saja, kau membuka matamu. Lihatlah baik-baik. Tempat ini adalah tempat terakhir kali aku melihat ayahmu, Yi Soo. Aku yakin kalau kau masih berpikir bahwa akulah yang membunuh ayahmu. Raja tidak akan berbohong jadi dengarkan baik-baik. Orang yang membunuh ayahmu bukan aku tapi orang yang selama ini sudah membesarkanmu. Gurumu, Yi In Jwa. Dia mati di tangan orang yang gila akan hasratnya sendiri dan tidak tahu nasibnya sendiri. Kau juga harus berhenti jadi boneka pria semacam itu. Aku menyuruhmu untuk membuka matamu sekarang."

Dam Seo langsung mengepalkan kedua tangannya dengan penuh amarah dan air mata berlinang mendengarkan semua ucapan raja itu.


Pangeran Yeoning kembali ke istana tak lama kemudian tanpa menyadari Dam Seo yang sebenarnya berada tak jauh darinya tapi memang sengaja memakai penutup kepala untuk menyembunyikan dirinya dari Pangeran Yeoning.


Pangeran Yeoning langsung pergi menemui raja dan berlutut sambil menyatakan penyesalannya atas kegagalannya menangkap si pembunuh. Raja hanya menanggapinya dengan bertanya apa saja yang dilakukan Pangeran Yeoning semalam.


Saat kita mendengarkan raja memberitahu Pangeran Yeoning untuk tidak cemas karena si pembunuh sudah berhasil dibunuh, Pangeran Yeoning tampak berlari dengan panik ke sebuah tempat dimana kemudian dia melihat mayat terbujur di sebuah meja.


Perlahan-lahan, Pangeran Yeoning membuka penutup mayat itu dan tercengang mendapati mayat Dam Seo (Hah? Terus yang keluar istana tadi siapa?). Tidak cuma itu, Pangeran Yeoning melihat di tangan mayat, ada sebuah tulisan 'Gwi' (hantu) yang merupakan cap yang digunakan Hantu ke-6. (Hmm... sepertinya adegan ini adegan flashback)

Raja memberitahu Pangeran Yeoning bahwa dia sudah mengirim sebuah hadiah kecil pada In Jwa. Jadi lebih baik sekarang Pangeran Yeoning melupakan Dam Seo saja.


Entah siapa mayat yang dilihat Pangeran Yeoning karena Dam Seo jelas masih hidup dan sudah kembali ke kediaman In Jwa.


Didalam rumah, In Jwa bicara dengan Hong Mae yang memberitahunya bahwa dia membayar mahal Hantu ke-6 demi mencari mayat wanita yang mirip Dam Seo untuk membodohi semua orang.


Dam Seo masuk tak lama kemudian tapi kali ini tatapan matanya pada In Jwa sangat dingin. In Jwa lalu memperlihatkan anak panah tanpa mata panah yang dulu ditembakkan Yi Soo padanya dan selama ini selalu disimpannya. In Jwa mengakui duel mautnya dengan ayahnya Dam Seo dulu tapi ayahnya Dam Seo memilih mati.


"Itu adalah keyakinan ayahmu. Jadi, itu juga harus menjadi keyakinanmu."

"Tidak. Itu bukan keyakinan saya. Dan mulai sekarang, saya tidak akan lagi melayani Anda, Guru. Saya akan berjalan mengikuti keyakinanku sendiri. Saya akan mengikuti jalan saya sendiri."


Dam Seo lalu bersujud hormat pada In Jwa untuk yang terakhir kalinya dan pergi meninggalkan In Jwa yang sangat murka sampai-sampai dia langsung mematahkan anak panah itu dan mendesis penuh amarah, menyalahkan raja sebagai biang keladinya.


Di luar, Dam Seo pamit pada Moo Myung yang hanya bisa mengucap maaf pada Dam Seo. Tanpa mengucap sepatah kata, Jin Ki memberinya sebuah ukiran patung Buddha kecil.


In Jwa keluar setelah Dam Seo pergi dan Moo Myung langsung bertanya apakah Dam Seo adalah orang yang rela In Jwa korbankan demi membunuh raja. Tapi sekarang In Jwa tidak berhasil membunuh raja dan pada akhirnya tetap kehilangan Dam Seo dan mungkin Dam Seo tidak akan pernah kembali lagi.

"Tidak, suatu hari Dam Seo akan menyadari bahwa di dunia ini tidak ada yang namanya musuh atau sahabat abadi."


Dalam perjalanan kembali ke kediamannya, Pangeran Yeoning melihat beberapa menteri faksi Noron tengah berkumpul dan ibundanya juga ada di sana. Kim Chang Jib berkata bahwa dia dan para menteri Noron sudah melihat kehebatan Pangeran Yeoning dalam melakukan tugasnya melindungi raja. Mereka juga bisa melihat bagaimana perasaan raja terhadap pangeran.


Karena itulah, Chang Jib menyatakan bahwa dia dan seluruh menteri faksi Noron menawarkan dukungan mereka untuk Pangeran Yeoning. "Yang mulai, apakah anda bersedia menerima dukungan kami?"

Pangeran Yeoning heran dan bertanya-tanya dalam hatinya, "Apakah semua ini adalah kehendak raja?"


Sekarang setelah Kim Chang Jib kembali dan mendukung Pangeran Yeoning, Kepala pedagang Heo Baek Ki yang sebenarnya komplotannya In Jwa, langsung pergi mengunjunginya sambil membawakan banyak hadiah. Tapi semuanya ditolak oleh Chang Jib.


Pangeran Yeoning pun mendapat kabar tentang cepatnya pergerakan kepala pedagang untuk mendekati Kim Chang Jib. Yakin kalau In Jwa tidak akan tinggal diam begitu saja menghadapi pengkhianatan Baek Ki, Pangeran Yeoning langsung memerintahkan pengawalnya untuk mengawasi In Jwa dan si kepala pedagang itu.


Moo Myung kembali tak lama kemudian dan mengabarkan bahwa para pedagang sudah mulai berpaling dari mereka. Kesal, In Jwa langsung mengumpulkan para pedagang beserta Heo Baek Ki untuk memberi mereka pelajaran.


Sekarang Baek Ki tampak sangat meremehkan In Jwa. Bahkan saat In Jwa mengkonfrontasi pengkhianatan mereka dan mengingatkan mereka bahwa dialah yang telah banyak berjasa bagi mereka, Baek Ki dengan tenangnya menjawab bahwa dia tidak mau memihak Putra Mahkota yang sakit-sakitan dan bisa saja mati setiap saat. Karena itulah, Baek Ki tidak mau lagi mengikuti In Jwa.


"Kalau begitu kau harus mengembalikan semua yang telah kuberikan padamu"

Tapi Baek Ki menolak dan mengklaim bahwa walaupun mereka memang mendapat bantuan In Jwa tapi keberuntungan yang mereka dapat di pasar adalah sepenuhnya milik mereka sendiri jadi In Jwa tidak punya hak untuk menyentuh harta milik mereka.


Baek Ki lalu mengajak semua pedagang pergi. Kesal, In Jwa berusaha memperingatkannya bahwa dia akan memberikan satu kesempatan terakhir. Tapi Baek Ki tetap teguh dengan pendiriannya. Baek Ki lalu membuka pintu tapi disana, sudah ada Moo Myung yang langsung menusuknya. Dan setelah itu, In Jwa pun juga ikut menusuknya.

Bersambung ke episode 10 - 2

1 comment :

  1. lebih seneng liatt pangeran yeoning sma dam seo, smoga endingnya mereka bersatu :)

    ReplyDelete