May 30, 2016

Jackpot ( Daebak ) Episode 17 - 2


Sukbin baru saja minum obat dan  dayang menyuruhnya untuk istirahat, namun Sukbin tidak mau. Dia berkata kalau dia tidak akan mati sampai In Jwa mati. Pangeran Yeoning menemui Raja dan menceritakan apa yang dia tahu. Di dalam penjara, In Jwa dan kawan-kawan hanya bisa terdiam meratapi nasib mereka yang akan di hukum mati besok.

“Baek Dae Gil... Jadi ini pilihanmu?” ucap In Jwa dalam hati.



Paginya, Dae Gil dan Yeoning menemui Sukbin. Sukbin pun mengucapkan terima kasih karena Dae Gil sudah mau datang. Dia berkata kalau hari ini adalah hari terakhirnya In Jwa dan Yeoning menambahkan kalau eksekusinya akan di gelar beberapa jam lagi. 


“Lee In Jwa...Sebenarnya aku ingin melihatnya mati dengan mataku. Tapi, aku akan melihatnya  dari sini saja. Kalian berdua, dengarkan ucapan ibumu ini. Terus percaya dan membantu  satu sama lain. Kalian saudara, kan? Itu adalah ikatan yang paling  erat di dunia ini,” ucap Sukbin dan dalam hati dia berkata, “Jangan khawatir. Ibu akan terus mengawasi kalian. Meski sudah mati, ibu akan terus mengawasi kalian.”

Yeoning dan Dae Gil kemudian pergi untuk menyaksikan proses eksekusi In Jwa. Setelah keduanya pergi, dayang masuk dan berkata kalau hari ini Sukbin terlihat cantik sekali dan Sukbin tersenyum mendengarnya.


Di luar, Yeoning dan Dae Gil saling tatap dengan tatapan seolah-olah berkata, “inilah saatnya.” In Jwa dan kawan-kawan di bawa ke tanah lapang, mereka akan dieksekusi di hadapan umum, bahkan rakyat biasa juga diperbolehkan untuk melihat. Diantara mereka semua, kita melihat Jeong datang untuk menyaksikan proses eksekusi. 


Nyawaku akan berakhir disini? Aku orang yang akan mengobrak-abrik Joseon. Apa hidupku cuma sampai sini?” tanya In Jwa dalam hati. 


Dae Gil maju dan hendak menghampiri In Jwa, namun dia dicegah prajurit. Dae Gil menoleh ke arah Yeoning dan Yeoning pun menyuruh si prajurit untuk membiarkan Dae Gil maju. Dalam hati Yeoning berkata kalu dia sangat percaya pada Dae Gil. 


Baek Dae Gil, masih belum terlambat,” ucap In Jwa dalam hati ketika dia melihat Dae Gil di depannya. 

Masih belum terlambat,” ucap Dae Gil dan dalam hati In Jwa bertanya-tanya apa sebenarnya yang menahan Dae Gil. “Hanya aku yang bisa menyelamatkanmu,” ucap Dae Gil dan dalam hati In Jwa meminta diselamatkan sekarang juga. “Karena itu, katakan dimana ayah?” tanya Dae Gil dan melihat para algojo yang terus mengayunkan pedang mereka. Dae Gil terlihat bimbang antara menyelamatkan In Jwa atau tidak, dia pun melihat lencana penyelamat yang diberikan Che Gun. 


“Hanya ada satu jalan yang bisa kau pilih. Menyelamatkan ayahmu dan aku,” ucap In Jwa dan tepat disaat itu Dae Gil melihat Man Geum diantara rakyat yang menonton. Namun Man Geum langsung pergi begitu saja dan itu membuat Dae Gil bertambah bingung.

Flashback!
“Baek Man Geum ada di tempat dimana nyawanya tergantung padaku. Apa keputusanmu?” ucap In Jwa saat dia masih berada di penjara.
Flashback End!


Dae Gil yang tadinya bingung, kemudian memperlihatkan senyum senangnya pada In Jwa dan itu membuat In Jwa ketakutan. “Selamatkan aku sekarang, supaya ayahmu selamat,” pinta In Jwa. 


“Berbohong sampai akhir. Begitulah dirimu,” ucap Dae Gil dan In Jwa terlihat bingung dengan apa yang dia dengar. “Tamat riwayatmu,” tambah Dae Gil dan dia kembali ke tempatnya semula. 

Mata Dae Gil kembali mencari keberadaan Man Geum, namun tak ketemu. Pangeran Yeoning kemudian mengumumkan agar eksekusi matinya dilaksanakan. 

“Lihat baik-baik! Ini bukanlah akhir. Aku, Lee In Jwa, tidak akan mati,” teriak In Jwa karena merasa tersudutkan dan dalam hati dia berkata, “Meski jadi hantu sekalipun, Joseon akan kuubah. Kalian semua akan melihatnya.”

Tepat disaat pedang hendak di tebaskan ke leher In Jwa, tiba-tiba seorang prajurit muncul dan meminta eksekusi untuk dihentikan. 

“Ada apa?” tanya Yeoning. 


“Yang mulia... Yang mulia Sukbin...,” ucap prajurit.


“Ibu kenapa?” tanya Yeoning mulai merasa ketakutan dan Dae Gil juga merasakan hal yang sama. Apa yang sebenarnya terjadi pada Sukbin. Ternyata dia meninggal dunia. Ketika dia duduk di tempat biasa, dia memejamkan mata dan meninggal. 


“Yang mulia Sukbin meninggal dunia,” jawab prajurit dan semua shock mendengarnya. Hanya In Jwa yang tertawa senang mendengar kabar tersebut. Melihat In Jwa tertawa, Dae Gil langsung berteriak agar algojo cepat memenggal In Jwa. 


“Hentikan! Yang mulia Sukbin mafat. Sampai pemakaman selesai, dilarang melakukan hukuman. Eksekusi mati tak bisa dilaksanakan,” ucap Il Joo dan ketika kembali kebarisan, dia berkata pada Il Kyung kalau In Jwa adalah orang yang tak mudah mati. 


In Jwa tertawa senang dan lega karena dia tak jadi mati. Dengan penuh emosi, Yeoning berteriak, “Mati kau, Lee In Jwa!” dan hendak menebas In Jwa dengan pedang, namun di cegah oleh Sang Gil. 

“Pangeran. Semua orang melihat,” ucap Sang Gil mengingatkan, namun Yeoning tetap emosi dan langsung menyingkirkan Sang Gil. Yeoning kembali hendak menebas In Jwa dan kali ini Dae Gil yang turun tangan untuk mencegahnya.


“Kalau bukan hari ini, maka besok. Kalau bukan besok, maka lusa. Lee In Jwa akan mati di tanganku,” janji Dae Gil dan Yeoning pun tenang. Dia langsung berlari menuju ibunya dan setelah menatap tajam ke arah In Jwa Dae Gil pun mengikutinya. Jeong juga ikut pergi dari tempat itu.


Semua prajurit dan dayang menangisi kepergian Sukbin. Yeoning dan Dae Gil berlari ke kamar Sukbin dan disana, Sukbin benar-benar sudah berbaring tak bernyawa. Melihat ibunya sudah tak bernyawa, Dae Gil pun teringat pada saat mereka pertama kali bertemu, saat Sukbin datang ketika Dae Gil dihukum, saat Sukbin meminta maaf dan juga yang tadi pagi, saat Sukbin meminta agar Dae Gil dan Yeoning terus saling percaya dan menolong. 


Mengingat semua itu, Dae Gilpun menitikkan air matanya, “Akhirnya aku bisa bertemu dengan ibu. Kita tak pernah tertawa bersama. Kenapa pergi secepat ini? Ibu...,” ucap Dae Gil dalam hati. 


Raja shock berat mengetahui Sukbin sudah meninggal, kondisi Raja pun terlihat sudah tak sekuat dulu. Dia terlihat lemah, untuk berdiri saja dia tak kuat. Di rumah, Dae Gil membuat upacara pemakaman sendiri untuk sang ibu.


Yeoning protes karena sebagai anak dia tak bisa memimpin pemakaman untuk ibunya. Semua itu karena menurut hukum, Yeoning adalah anak dari Ratu Inhyeon. Namun Yeoning tidak mau tahu, dia tetap ingin melakukan pemakaman untuk ibunya. Dia berteriak meminta diambilkan baju berkabung. Yeoning pun terus menangis dan menangis. 


Man Geum berjalan dengan pandangan sedih, dia kemudian mengangkat sedikit topinya dan melihat ke arah istana. “Pergilah dengan tenang. Kau banyak menderita karena  punya suami sepertiku. Aku benar-benar... minta maaf.  Maafkan aku,” ucap Man Geum dalam hati. 


Fraksi Noron melakukan pengajuan pada Putra Mahkota untuk tidak menunda eksekusi In Jwa, karena dia adalah penjahat yang sudah melakukan kejahatan besar. Il Kyung ikut bicara dengan mengatakan kalau Sukbin baru saja wafat jadi mereka tidak diperbolehkan untuk mengeksekusi orang. 

“Yang mulia, tidak baik menundanya. Lee In Jwa tidak boleh hidup meski....”

“Putra mahkota sudah mengambil keputusan,” potong Il Joo. 

“Hal ini menyangkut eksekusi kriminal! Putra mahkota tak berhak memutuskan,” ucap salah satu menteri dari fraksi Noron. Putra Mahkota sendiri hanya diam, dia bingung untuk memutuskan, di ruangan itu juga ada Pangeran Yeonryung yang juga hanya diam.


Tak lama kemudian Pangeran Yeoning masuk dan berkata kalau eksekusinya di tunda saja. Semua menteri dari Fraksi Noron kaget mendengarnya dan langsung menegur Yeoning. 

“Sebagai anak... Takkan kubiarkan... kematian ibu ternodai,” teriak Yeoning dan yang lain tak ada yang bisa membantah.


Jeong menemui Dam Seo di kuil dan ternyata itu bukan kali pertama dia datang menemui Dam Seo. Dia memberitahu Dam Seo kalau In Jwa berhasil selamat. 

“Aku ingin tahu apa  pikiranmu berubah,” tanya Jeong dan Dam Seo menjawab kalau rencananya takkan berubah. 

“Dengan tanganku sendiri...guru akan kubunuh,” ucap Dam Seo.

“Jangan membodohi dirimu sendiri. Pastikan saja sendiri. Hatimu dan hati gurumu  yang sesungguhnya,” ucap Jeong.


Malamnya Dam Seo langsung pergi ke penjara untuk menemui In Jwa. Sebelum menemui In Jwa, Dam Seo membeli kunci dari penjaga. 

“Bagaimana kabarmu?” tanya In Jwa ketika bertemu dengan Dam Seo. 


“Anda kelihatan berantakan,” ucap Dam Seo.

“Aku merasa malu. Jadi, kau kemari untuk membunuhku atau menyelamatkanku?” tanya In Jwa dan Dam Seo menjawab kalau dia datang untuk menyelamatkan In Jwa namun setelah itu In Jwa akan dia bunuh. Dam Seo kemudian mengulurkan kunci pada In Jwa dan berkata kalau itu adalah hal terakhir yang bisa dia berikan pada In Jwa.


In Jwa menggenggam tangan Dam Seo dan kemudian menyuruh Dam Seo pergi bersama kunci itu. In Jwa tak mau menerima kunci itu. 

“Kau ingin dianggap penjahat? Aku tak butuh bantuanmu, pergilah,” ucap In Jwa dan mendengar pernyataan itu, Dam Seo jadi teringat pada ucapan Jeong yang menyuruhnya untuk memastikan sendiri bagaimana hati Dam Seo sendiri dan hati In Jwa.


“Aku bilang pergi. Jika aku harus berkorban  untuk Joseon. Maka akan kulakukan. Tapi, jika aku harus membuat negara baru, demi mereformasi Joseon busuk ini maka akan kulalui jalan itu. Dam Seo, lalui jalanmu sendiri. Pergi dari sini!’ perintah In Jwa dan Dam Seo pun pergi. Setelah Dam Seo pergi, In Jwa terlihat berkaca-kaca, dia seperti ingin menangis. 


Dari kejauhan Jeong melihat Dam Seo keluar dari penjara sendirian. “Raja bertanggung jawab atas penderitaan anak itu,” ucap Jeong dalam hati.


“Baek Dae Gil dan...Yeoning..... Dia juga bertanggung jawab atas mereka,” sambung Jeong.


Raja memanggil Putra Mahkota dan bertanya apa yang Putra Mahkota pikirkan. Mengapa dia menunda eksekusi Lee In Jwa? Dan Putra Mahkota menjawab semua itu karena kematian Sukbin. Namun Raja terlihat tak terima dengan alasan itu. 

“Katakan dengan jujur...kenapa kau melindunginya. Itulah pertanyaanku,” tanya Raja. 

“Tolong bebaskan dia,” pinta Putra Mahkota.

“Apa?”

“Tolong selamatkan Lee In Jwa.”

“Kau tahu tujuan dia sebenarnya?” tanya Raja lagi dan Putra Mahkota menjawab kalau semua itu hanyalah kesalahpahaman. 


“Hari dimana ibu diasingkan...Hari dimana ayah mengusir ibu...Lee In Jwa menggenggam tanganku. Aku mengambil pion baduk. Kalau dapat putih, dia akan menyelamatkanku,” cerita Putra Mahkota dan Raja pun berteriak kalau dalam kantung itu tidak ada pion berwarna hitam.

“Kau sungguh tidak tahu dia menipumu dari awal?” tanya Raja lagi.

“Aku tahu! Aku tahu. Tapi, aku ingin bergantung padanya. Karena hanya dia yang  datang padaku. Aku ingin bergantung padanya.”

“Tutup mulutmu! Kau terperangkap niat busuknya. Sekarang kau tak bisa keluar,” ucap Raja emosi dan dia berdiri sambil sempoyongan. 

“Dia telah melindungiku. Dia memberiku kekuatan. Dia telah menjanjikan takhta padaku!” teriak Putra Mahkota dan Rajapun langsung mengeluarkan pedangnya. 


“Kau cari mati rupanya. Binatang itu sudah menguasaimu! Kau masih berani menyebut  dirimu putra mahkota... Kau sebut dirimu penerus? Akan kugorok leher Lee In Jwa..,” ucap Raja dengan penuh emosi sambil mengarahkan pedangnya pada Putra Mahkota. 


Tapi... setelah berkata dengan begitu emosinya, Raja tiba-tiba merasa pusing dan kemudian jatuh menimpa Putra Mahkota. Putra Mahkota pun terus memanggilnya, namun Raja tak bangun. 

Bersambung ke sinopsis Jackpot episode 18

No comments :

Post a Comment