May 29, 2016

Jackpot ( Daebak ) Episode 17 - 1


Dae Gil membongkar kuburan Baek Man Geum dan seperti yang dikatakan In Jwa, di dalam kuburan tersebut tidak ada apa-apa. Kuburan itu ternyata kosong. Mata Dae Gil memerah menahan emosinya dan dia kemudian berteriak keras untuk meluapkannya. Tuan Nam tak percaya dengan apa yang dia lihat. 

“Dimana ayahmu, Baek Man Geum?” tanya Tuan Nam dan Dae Gil tak menjawab, dia hanya menangis histeris. 

Flashback!
In Jwa menyuruh Dae Gil untuk membuka peti mati Man Geum dan di dalam sana Dae Gil akan menemukan kebenarannya.
Flashback End!



Dae Gil membuka peti dan disana Dae Gil menemukan sebuah amplop yang berisi sebuah surat. Dae Gil membacanya dan setelah membaca surat itu, Dae Gil terlihat tambah emosi.


Dae Gil menemui Hong Mae dan bertanya tentang Man Geum. Hong Mae pun mulai mengingat kembali kejadian pada malam itu. Ketika Dae Gil meninggalkan Man Geum, Hong Mae membawanya dan diberikan pada In Jwa. 

Melihat mayat Man Geum, Dam Seo terlihat tak tega dan merasa bersalah, jadi dia pun memilih pergi. In Jwa kemudian menyuruh Mo Myung untuk memakamkan Man Geum di tempat yang terang. Karena urusannya sudah selesai, Hong Mae pun pamit pulang. 

Karena hanya itu yang dia tahu, jadi hanya sampai itu sajalah yang Hong Mae ceritakan pada Dae Gil dan itu belum menjawab pertanyaan Dae Gil.

Tuan Nam bersama Che Gun, Yeon Hwa dan Seol Rim sudah berada di depan rumah tabib. Tuan Nam berkata kalau waktu itu mereka yakin Man Geum sudah meninggal. Dia sangat yakin kalau semua itu pasti perbuatan In Jwa. 


Flashback!
Mo Myung menutup kembali mayat Man Geum dan tiba-tiba In Jwa berkata, tunggu. In Jwa membuka kembali penutup mayat Man Geum dan kemudian mengecek denyut nadinya. Setelah mengecek denyut nadi dipergelangan tangan ManGeum, In Jwa langsung tertawa. Ternyata saat itu Man Geum belum meninggal, dia masih hidup dan In Jwa pun membawanya ke tabib untuk diperiksa dan diobati.  Setelah Man Geum mendapat pengobatan, In Jwa merobek catatan tentang Man Geum di buku si tabib dan sobekan itulah yang ditinggalkan In Jwa di dalam peti mati Man Geum. 

Flashback End!



Tuan Nam dan kawan-kawan membawa sobekan kertas yang diletakkan di peti mati Man Geum dan ketika di cocokan pada buku catatan kesehatan, si tabib pun jadi ingat pada Man Geum. 

“Ah, aku ingat sekarang. Dulu ada pasien terluka  karena anak panah,” ucap si tabib.

“Apa yang terjadi padanya?” tanya Dae Gil yang tiba-tiba muncul.

“Ajaibnya dia selamat,” jawab  si tabib dan akhirnya mereka benar-benar yakin kalau Man Geum masih hidup. Yeon Hwa lalu bertanya apa yang terjadi pada Man Geum setelah itu. 

Si tabib kemudian bercerita kalau beberapa hari kemudian, Man Geum hilang, padahal dia belum sadarkan diri. Si tabib pun yakin kalau ada yang sudah mengambilnya. 

“Pasti Yi In Jwa,” tebak Dae Gil. 


“Kau yakin pasien itu masih hidup?” tanya Che Gun.

“Masih hidup? Tentu saja,” jawab si tabib dengan yakin. Setelah mendengar jawaban si tabib, Dae Gil pun langsung pergi. Tuan Nam hendak mengejarnya namun di cegah oleh Che Gun. 



Di ruangannya, Pangeran Yeoning teringat kembali pada ucapan Menteri yang tak ingin melihat anak pelayan naik takhta, karena dia tak ingin istana dikotori oleh orang semacam itu. Tepat disaat itu Sang Gil muncul dan memberitahu Pangeran Yeoning kalau Raja mencarinya. 


Di ruangannya, Raja terlihat frustasi dan dia bertanya apa Yeoning tahu kenapa dia tidak langsung membunuh In Jwa, malah mengulurnya sampai 2 hari. 


“Untuk memancing Jeong?” jawab Yeoning.

“Tapi, pikiranku berubah. Dia takkan terpancing,” jawab Raja dan kita kemudian beralih pada In Jwa. 


“Jeong takkan terpancing  tipuan Raja,” ucap In Jwa yang sudah menebak rencana Raja dan Hwang Gu juga berkata kalau Jeong bukanlah orang yang mudah di pancing. In Jwa lalu berkata kalau kemungkinan besar Raja sedang menguji dirinya. 

Kita kemudian diperlihatkan pada Hong Mae yang tak ingin mendengar nama Baek Myun lagi, karena dia sudah benar-benar merasa menderita karena In Jwa. 

“Dia mencari tahu tentang diriku. Aku kartu yang pantas dibuang atau dipertahankan?” ucap In Jwa tentang Jeong. Ya, apa yang di katakan In Jwa memang benar, karena si Jeong memang sedang mencari tahu tentang hal tersebut. 

“Berhubung dia belum bergerak...” ucap Jin Ki dan tak meneruskannya.  

“Berarti aku kartu yang  pantas dibuang... Atau dia masih gamang,” sambung In jwa.


Kita beralih pada Raja yang menyambung apa yang In Jwa katakan, “Dia punya ribuan pasukan. Karena itulah dia bisa kabur sampai sekarang. Dan bertahan hidup. Apa yang akan kau lakukan?”

“Dari pada mengejar dua kelinci dan kehilangan keduanya. Lebih baik menangkap yang ada di depanku,” jawab  Yeoning dan kemudian Raja memberinya Lencana Mobilisasi Pasukan. 

“Kelima devisi pasukan kerajaan. Semua ada di tanganmu. Pemberontak sudah mengangkat  pedangnya. Mereka pantas dihukum,” perintah Raja dan Yeoning menyanggupinya. 


Keluar dari ruangan Raja, Yeoning langsung dihampiri oleh Lee Gun Myung, Yi Yi Myung dan Kim Chang Jib. Dia memberitahu mereka semua kalau dia diberi Lencana Mobilisasi Pasukan dari Raja. 


Dae Gil sedang jalan sendirian dan terngiang pada ucapan si tabib kalau Man Geum masih hidup. Tiba-tiba terdengar suara yang mengatakan, “Jawabanmu sangat penting.”

“Siapa itu?” tanya Dae Gil karena orang itu berkata tanpa memperlihatkan dirinya. 

“Semua pedagang, pemilik Rumah Judi bahkan Dam Seo semua meninggalkan Yi In Jwa,” ucap pria itu dan masih bersembunyi. 

“Aku tanya siapa kau.”


“Tapi, umur panjang lebih berharga dari ratusan pasukan. Akan kudengar keputusanmu. Kau akan bergabung dengan Lee In Jwa?” tanya orang misterius dan Dae Gil diam-diam mendekati sumber suara, namun Dae Gil kalah cepat. Ketika dia sampai ke sumber suara, orangnya sudah tak ada. Disana hanya ada bunga yang pernah Jeong berikan pada In Jwa. 

Di penjara, In Jwa berkata kalau Jeong pasti akan bertanya pada Dae Gil dan Jeong akan bergerak sesuai jawaban Dae Gil, apa dia mau menyelamatkan In Jwa atau tidak. Jin Ki kemudian mengeluh karena menteri dari fraksi Soron tidak muncul sama sekali, padahal selama ini mereka banyak menerima suap dari In Jwa. Dengan santai In Jwa berkata kalau para menteri juga pasti merasa putus asa, karena setelah In Jwa yang mati maka giliran mereka yang mati. 


Putra Mahkota ingin menemui In Jwa, namun menteri dari Fraksi Soron melarang, karena itu akan membahayakan Putra Mahkota sendiri. Dari pada menemui In Jwa, Il Joo menyarankan agar Putra Mahkota  meyakinkan Raja untuk melepaskan In Jwa. Mendengar Il Joo dan temannya mendukung In Jwa di hadapan Putra Mahkota, Il Kyung pun terlihat bingung. 


Setelah menemui Putra Mahkota, Il Kyung bertanya pada Il Joo dan temannya, kenapa ucapan mereka jadi berubah. Karena sebelumnya mereka sepakat untuk melawan In Jwa. 

“Masalah ini menyangkut seluruh  fraksi Soron! Kami tak bisa hanya mengikuti  saranmu!” ucap Il Joo marah dan langsung keluar di ikuti para menteri yang lain. 


Pangeran Yeoning bertanya pada Chang Jib dan kawan-kawan tentang pendapat mereka mengenai Lencana itu. Chang Jib menjawab kalau itu adalah sebuah kekuatan militer untuk menangkap pemberontak. 

“Bukan. Sebelum itu, kabar burung  akan menyebar,” ralat Pangeran Yeoning dan Chang Jib tak mengerti perkataannya. “Iya... Tidak ada yang lebih cepat  dari kabar burung.”

Chang Jib melihat fraksi Soron yang baru selesai rapat. Dia kemudian teringat kata-kata Pangeran Yeoning, “Sampai hukuman dilakukan, kita  harus tenang di Istana.”

“Sampai para tikus di Istana menunjukkan ekornya... kami harus menunggu,” gumam Chang Jin.


Dae Gil pergi ke penjara untuk menemui In Jwa, tapi karena itu sudah larut malam, para penjaga pun tak memperbolehkan Dae Gil masuk. Tepat disaat itu Pangeran Yeoning muncul dan setelah mendengar alasan Dae Gil ingin bertemu In Jwa yaitu untuk bertanya tentang Man Geum yang katanya masih hidup, pangeran Yeoning pun membantunya masuk ke penjara.  Pangeran Yeoning kemudian membiarkan Dae Gil bicara dengan In Jwa dan dia sendiri memilih pergi, dia tak mendengarkan pembicaraan mereka. 


Dae Gil meminta In Jwa menjelaskan tentang apa yang sebenarnya terjadi. In Jwa pun akhirnya memberitahu kalau disaat Dae Gil mendatanginya, saat itu Man Geum sudah ada bersama In Jwa. 


“Saat kau datang untuk bertanya kenapa aku membunuhnya. Baek Man Geum berbaring di tempat itu,” ucap In Jwa dan Dae Gil bertanya dimana Man Geum sekarang. 

“Kalau belum mati, kenapa dia tidak muncul?” tanya Dae Gil.

“Baek Man Geum juga ingin  kau menjadi raja. Awalnya dia tidak setuju,” ungkap In Jwa.



Flashback!
Setelah Dae Gil pergi, Man Geum sadar dan In Jwa menyuruhnya untuk pura-pura mati dan membuat perjanjian dengannya. In Jwa berjanji akan menjadikan Dae Gil seorang Raja. 
Flashback End!


Begitu dia tahu rencana hebatku,  dia menjadi setuju. Dia tahu rencanaku,” ucap In Jwa dan Dae Gil tak mempercayainya, karena dia sangat yakin Man Geum tidak akan membuang Dae Gil dan memihak pada In Jwa. 

“Baek Man Geum tahu semua kebenarannya. Dia tahu bahwa kau adalah  anak Sukbin dan raja. Dia tahu kau keturunan darah biru. Karena itu, demi membuatmu menjadi raja dia rela melepas status  sebagai ayahmu. Waktunya sudah tiba. Waktu untukmu mengangkat pedang.  Bukan demi aku, tapi demi Joseon. Demi rakyat,” bujuk In Jwa dan Dae Gil bertanya dimana Man Geum sekarang. In Jwa menjawab kalau sekarang Man Geum berada di tempat dimana hidupnya tergantung pada perintahnya. In Jwa kemudian bertanya apa yang akan Dae Gil lakukan sekarang. 


“Jika ayahku terluka,  kau akan membayarnya. Aku akan membunuhmu sebelum kau sempat dihukum,” ucap Dae Gil geram.

“Kalau begitu, bergeraklah. Hanya kau yang bisa menyelamatkanku,” ucap In Jwa.


Dae Gil keluar dari penjara dengan tatapan sedih, dia teringat perkataan In Jwa kalau hanya dia yang tahu dimana Man Geum. Tepat disaat itu Yeoning muncul dan bertanya apa yang akan Dae Gil lakukan. 

“Aku tanya apa kau akan menyelamatkan Lee In Jwa. Lee In Jwa menipumu. Kalau ayahmu masih hidup, kenapa dia tidak muncul? Lee In Jwa cuma omong kosong. Tidak ada bukti dan saksi,” ucap Pangeran Yeoning dan Dae Gil seperti teringat sesuatu. Tanpa mengatakan apapun, Dae Gil langsung berlari pergi. Pangeran Yeoning langsung memanggil Sang Gil dan menyuruhnya untuk mengikuti Dae Gil. 



Ternyata Dae Gil pergi ke kuil untuk menemui Dam Seo. Dia bertanya tentang Man Geum yang ternyata masih hidup. Mendengar itu Dam Seo terlihat kaget karena dia melihat sendiri mayatnya. Dae Gil mengatakan kalau Man Geum memang masih hidup karena peti yang ada di kuburan itu ternyata kosong, selain itu mata In Jwa tak menunjukkan kebohongan saat mengungkap semua itu. 

“Guru, kau merahasiakan ini dariku? Aku sangat menderita  karena kematiannya,” ucap Dam Seo dalam hati. 

“Katakan padaku,  kira-kira dimana dia?” tanya Dae Gil. 

“Jangan bilang, guru  memanfaatkannya untuk...,”tebak Dam Seo dan Dae Gil berjanji tidak mau lagi kehilangan ayahnya apalagi karena rencan busuk In Jwa. 

“Hanyang ada di tangan guru. Takkan ketemu dengan  cara seperti ini,” ucap Dam Seo.

“Tidak, akan kutemukan. Meski harus mengobrak-abrik Hanyang,” jawab Dae Gil dengan yakin dan Dam Seo memberi sebuah nasehat untuk Dae Gil, dia meminta Dae Gil untuk tidak pernah memihak pada In Jwa. 

“Kau tak perlu menanggungnya lagi. Perasaan bersalah pada ayahku. Aku juga akan melupakan semuanya,” ucap Dae Gil dan pergi. Saat sendirian, Dam Seo bersyukur karena ayah Dae Gil masih hidup. 


Di rumah Dae Gil menceritakan apa yang terjadi pada Tuan Nam dan yang lain. Seol Rim berkata kalau mereka semua ada di pihak Dae Gil, jadi apapun keputusan Dae Gil maka mereka akan mendukungnya. Che Gun lalu mengeluarkan plakat penyelamat yang diberikan Raja padanya. Itu adalah plakat yang diberikan Raja ketika  Che Gun berpura-pura menjadi penyelundup dan hendak membunuh Raja. 


“Plakat Penyelamat ini diberikan oleh raja. Pasti bisa untuk mengeluarkan Lee In Jwa,” ucap Che Gun.



Kita beralih pada Pangeran Yeoning yang sedang menemui Sukbin. Dia memberitahu sang ibu kalau dia menerima Lencana Mobilisasi Pasukan. 

“Ibu khawatir padaku?” tanya Pangeran Yeoning. 

“Kita tak tahu apa yang akan  para binatang itu di Istana,” ucap Sukbin dan Yeoning memintanya untuk tidak khawatir. 

“Ibu khawatir pada kakak?” tanya Yeoning karena melihat ekspresi khawatir Sukbin. “Besok kami akan kemari bersama,” janji Yeoning. 

“Terima kasih, Yeoning.’


Keluar dari kamar Sukbin, Sang Gil sudah menunggunya dan Yeoning bertanya ada berita apa. Sang Gil pun menjawab kalau Dae Gil menemui Dam Seo di sebuah kuil, fraksi Soron mendiskusikan rencana seperti biasa dan pemilik rumah judi akan ditahan sampai hukum mati dilaksanakan. 

“Kalau begitu, semua sudah siap. Apa sudah saatnya memakai ini?” tanya Yeoning pada dirinya. 



Yeoning kemudian menemui Putra Mahkota di kamarnya dan mengatakan permintaannya pada Putra Mahkota. Kita kemudian beralih pada Sang Gil yang mendatangi frakasi Soron bersama para prajurit. Dia membubarkan pertemuan mereka. Yeoning lalu berkata kalau Raja sudah memberi titah dan kemudian dia menunjukkan Lencana Mobilisasi Pasukan yang diberikan Raja. 

“Raja telah memerikan kuasa atas  kelima devisi pasukan kerajaan. Raja ingin aku memastikan Lee In Jwa dihukum mati. Itulah titahnya. Meski harus melibatkan militer. Siapapun yang terlibat dengan Lee In Jwa. Siapapun yang mengenal Jeong. Takkan bisa menghentikan hukuman mati Lee In Jwa. Kabar burung sudah menyebar. Tangan dan kaki para pemberontak sudah terikat,” ucap Yeoning dan Putra Mahkota langsung protes karena menurutnya, In Jwa tidak disidang secara adil. Semua itu hanya keputusan sepihak Raja. 

“Lee In Jwa seorang pemberontak. Yang mulia. Sampai hukuman dilaksanakan,  anda tak boleh terlibat. Apalagi menawarkan bantuan,” ucap Yeoning dengan tegas. 


“Kau berani mengancamku?”

“Akan kupertaruhkan nyawaku, demi untuk menasehati pangeran setulus hati. Yang mulia. Besok... kejahatan Lee In Jwa akan dihentikan,” ucap Yeoning dan keluar.


Di luar, semua pimpinan pasukan langsung berlutut pada Yeoning. “Mulai saat ini sampai waktu penghukuman Lee In Jwa tiba. Aku, Yeoning, akan mengambil alih pasukan. Dengar baik-baik. Lindungi putra mahkota dengan nyawa kalian.Kalian mengerti?” perintah Yeoning dan semuanya langsung menyanggupi. 

“Tutup keempat gerbang. Jangan ada yang boleh masuk. Keamanan Euigeumbu akan diambil alih  oleh kantor wilayah Hansung. Tak seorangpun boleh masuk atau keluar,” perintah Yeoning. 

Dam Seo sudah siap pergi dengan menggunakan pakaian beraksinya. Baru dia keluar ruangan, dia sudah dihadang oleh Sang Gil dan prajurit lainnya. 


“Pangeran telah memerintahkan kami. Silahkan masuk,” ucap Sang Gil dan memberikan sebuah surat pada Dam Seo. 

“Aku mohon, jangan terlibat. Jangan membuatku menangkapmu,” isi surat Yeoning.


Yeoning kemudian menemui Dae Gil dan bertanya apa rencana Dae Gul dengan pedang itu, karena saat Yeoning datang, Dae Gil sedang memandangi pedangnya. “Kau ingin menyelamatkan Lee In Jwa?” tanya Yeoning. 

“Kalau itu? Kau akan melawanku?” tanya Dae Gil dan Yeoning menjawab iya jika hal itu memang harus dilakukan. “Adik mana yang mengacungkan pedang pada kakaknya?”

“Seorang adik yang jalannya dihalangi kakaknya,” jawab Yeoning dan Dae Gil memasukkan kembali pedangnya. Dia menyuruh Yeoning untuk tidak berpikir macam-macam. Yeoning pun bertanya apa rencana Dae Gil sebenarnya. 

Flashback!
Dae Gil ditanya oleh Jeong apa yang Dae Gil ingin kan. Apa dia mau menyelamatkan In Jwa atau tidak. Jeong membutuhkan jawaban Dae Gil segera. Bukannya menjawab, dia meminta Jeong menunjukkan wajahnya. 
Flashback End!


Dae Gil menceritakan hal tersebut pada Yeoning dan melihat ekspresi Yeoning, dia pun bertanya apa Yeoning tak percaya padanya. 

“Ayah yang kau kira sudah mati  ternyata masih hidup. Siapa yang tidak bimbang?” ucap Yeoning.

“Ayahku bukan orang lemah. Aku akan menyelamatkannya,” jawab Dae Gil. 

“Ibu ingin melihatmu. Besok datanglah ke Istana  pagi-pagi sekali. Ibu cuma ingin menyapa,” ucap Yeoning dan pergi. Setelah Yeoning pergi, Dae Gil melihat lencana milik Che Gun dan dia berjanji akan menyalamatkan ayahnya. 

Apa yang akan terjadi pada In Jwa? Apakah dia benar-benar akan di hukum mati? Tunggu kelanjutan ceritanya pada part selanjutnya. 

Bersambung ke sinopsis Jackpot episode 17 - 2

2 comments :

  1. wahhh....keluar juga akhirnya ne episode 17...
    gk sabar nggu part 2 nya...

    ReplyDelete
  2. Greget greget ceritanya. Semga tayang di tv Indonesia

    ReplyDelete