May 26, 2016

Jackpot ( Daebak ) Episode 15 - 2


Kondisi ruangan gelap gulita dan terdengar suara pedang yang diadu. Si Penjagal memejamkan mata dan menggunakan indera pendengarannya yang sangat tajam untuk mengetahui apa yang terjadi. Tak lama kemudian suara dentangan pedang menghilang dan penutup lilin kembali dibuka. Si Penjagal juga membuka matanya dan ternyata di hadapannya sudah ada Dae Gil yang tersenyum senang padanya, sedangkan semua anak buah si Penjagal sudah terkapar di lantai. 

“Sekarang, ruang judi ini milikku,” ucap Dae Gil dan menarik satu kartu.

“Belum,” jawab si penjagal dan memotong kartu yang Dae Gil ambil. “Aku rasa ini seri,” ucap si penjagal dan menunjukkan angka 10 yang dia potong. 



Pangeran Yeoning menemui orang yang bernama Kim Jeong Yeol dan bertanya tentang pemberontak yang bernama Jeong. Jeong Yeol seperti enggan membahas tentang orang yang bermarga Jeong, dia takut dilukai lagi oleh itu, karena yang mematahkan leher Jeong Yeol jadi seperti itu adalah orang yang bermarga Jeong itu. 

“Tolong aku. Kau satu-satunya orang yang sudah melihat wajahnya,” pinta Yeoning dan orang yang bernama Jeong Yeol terlihat memikirkan sesuatu.


Beralih pada Dae Gil dimana dia meminta si Penjagal untuk berhenti main-main. Yeon Hwa lalu menyuruh mereka untuk memulai permainan. “Pertaruhkan harga diri kalian sebagai laki-laki  dan saling berjuang satu sama lain,” ucap Yeon Hwa dan kemudian mengocok kartu. “Ikuti peraturan di ruang judi ini. Orang yang pertama kali mendapatkan  angka 10 yang akan menang,” lanjut Yeon Hwa dan mengeluarkan dua kartu. Sebagai penjudi ulung, Yeon Hwa pun menebak kalau Dae Gil dan Si Penjagal bisa dengan mudah menebak mana kartu yang mempunyai angka 10. Setelah memberikan kartunya di meja, Yeon Hwa kembali mundur. 

“Apakah yang disebelah kanan angka 10?” tanya Si Penjagal dalam hati, namun belum sempat si penjagal mengambil, kartu tersebut sudah di tunjuk oleh Dae Gil terlebih dahulu. 


“Aku rasa yang ini yang angka 10. Kenapa?....Bukankah? Tapi...sepertinya ini sedikit tidak adil. Aku tidak tahu apakah kalian berdua sudah mencurangi permainannya demi melawan aku,” ucap Dae Gil dan Si penjagal siap dibunuh jika hal itu yang dipermasalahkan oleh Dae Gil. “Selain itu, harga diriku terluka. Kau hanya memiliki satu tangan,” protes Dae Gil dan kemudian meminta agar tangannya juga diikat. 

“Aku dengar kau muridnya Kim Chae Gun,” ucap si penjagal dan Dae Gil terkejut karena si Penjagal mengenal gurunya. Si Penjagal pun teringat peristiwa dimana Chae Gun membunuh Soon Im. Bukankah ini menyenangkan? Siapa kira-kira yang akan menang?” tanya Si Penjagal dan maju untuk menghadapi Dae Gil. 

“Tapi...kenapa kau menjadi seorang pembunuh?” tanya Dae Gil. 



“Hei, kenapa banyak sekali bertanya selama permainan berlangsung? Pikirkan saja untuk menang,” ucap si Penjagal dan mereka berdua pun mulai bertarung. Tepat disaat Seol Rim muncul dan meminta mereka menghentikan pertarungan. Namun mereka tak mau menuruti permintaan Seol Rim, mereka meneruskan pertempuran mereka.


Tak ingin Dae Gil  terluka, Seol Rim pun membebaskan diri dari pegangan anak buah si Penjagal dan langsung berdiri di depan Dae Gil. Melihat Seol Rim melakukan itu, Dae Gil pun langsung melindunginya. Untungnya pisau milik si Penjagal tidak mengenai Dae Gil. 


Si Penjagal kemudian mengambil kartu yang dia tebak angka 10, lalu berkata pada Dae Gil kalau dia sudah menang. 

“Bukankah kau harus menunjukkan kartumu terlebih dulu?” ucap Dae Gil. 

“Kau tidak bisa menerima kekalahanmu?”

“Sebelum kau melakukan itu,  memastikan didepan semua orang disini. Jika aku menang, ruang judi ini menjadi milikku dan Seol Rim ikut bersamaku.”

“Silahkan jika kau memenangkannya,” jawab si Penjagal.

“Apa kau percaya wanita itu?” tanya Dae Gil dan si Penjagal langsung melihat ke arah Yeon Hwa. “Tunjukkan kartumu,” pinta Dae Gil dan si Penjagal membuka kartunya, namun bukan angka 10. “Kartu satunya adalah angka 10, Jadi aku yang menang.”


Si Penjagal melirik ke arah Yeon Hwa dengan tatapan marah dan Yeon Hwa langsung bertanya kenapa si Penjagal membunuh Gol Sa. 

“Jadi, kau sudah tahu?” tanya si Penjagal.

“Aku baru saja mengetahuinya. Aku baru tahu saat kau mengakuinya,” jawab Yeon Hwa dan si penjagal baru menyadari kalau dirinya sedang dijebak. 


Dae Gil memasukkan pedangnya dan menunjuk kartu yang belum dibuka, “Menurutmu kartu apa ini?” tanya Dae Gil dan kemudian membuka kartu yang ada disebelahnya. Ternyata kartu itu juga bukan kartu 10. Dae Gil lalu berkata kalau permainan yang dia lakukan sedari tadi tujuannya adalah agar si Penjagal mengakui kesalahannya sendiri. Tentu saja si Penjagal terlihat kesal karena mereka berdua sudah bekerja sama dari awal. 

Yeon Hwa bertanya alasan si penjagal membunuh Gol Sa dan si penjagal menjawab kalau tak ada alasan bagi seorang penjudi untuk mati, menurutnya alasan dia membunuh Gol Sa bukan hal penting lagi sekarang. Dia berkata kalau permainannya belum selesai. 

“Kalau begitu, jadilah pria sejati dan memenangkannya,” jawab Dae Gil dan Seol Rim meminta Dae Gil untuk menghentikan semuanya sekarang. Namun Dae Gil tetap ingin bertarung dengan si Penjagal, dia menyuruh Seol Rim untuk tidak khawatir. 

Sebelum memulai pertarungan, si penjagal membuka ikatan pada tangannya. Euuum.... ternyata tangan itu bisa digerakan. Si penjagal berkata kalau sekaranglah pertemuran mereka yang sebenarnya. 

“Kau akan merasakannya, kesenjangan yang besar antara Kau dan Aku,” ucap Dae Gil dan mereka pun memulai kembali pertempuran mereka. Dae Gil berhasil mengalahkan si Penjagal, dia berhasil membuat si penjagal kehilangan pisaunya. 



Akui saja sekarang. Siapa orangnya? Siapa orang yang menyewamu untuk membunuh Gol Sa? Sarjana Baek Myun... apa dia Lee In Jwa?” tanya Dae Gil sambil menghunuskan pedang. 

“Lee In Jwa. Dia menyewaku untuk melakukannya. Tapi, bukan itu alasannya kenapa aku  membunuhnya. Aku membunuh Gol Sa karena... Aku benar-benar ingin membunuhnya,” ungkap si Penjagal dan kemudian melihat ke arah Seol Rim. 




“Tadinya aku hanya ingin bermain-main sedikit. Tapi, aku sudah bertindak terlalu jauh,” ucap si penjagal yang melihat Seol Rim sedang makan dengan lahap, melihat Seol Rim makan seperti itu, si Penjagal teringat pada Soon Im. “Kau harus bertanggung jawab padanya. Orang yang memegang pedang mungkin lebih baik  dari orang yang memegang pisau rumput. Aku sudah kalah,” aku si Penjagal dan tepat disaat itu Pangeran Yeoning masuk sambil berkata kalau si Penjagal belum kalah. 


Dae Gil terlihat bingung dan bertanya kenapa Pangeran Yeoning datang. Pangeran Yeoning menjawab kalau dia datang karena merasa khawatir pada Dae Gil. “Selain itu... Siapa dia? Siapa si pemberontak bermarga Jeong yang bersembunyi dibelakangmu?” tanya Pangeran Yeoning pada Si Penjagal dan mendengar pertanyaan si penjagal terlihat kaget. Dia bahkan langsung berdiri dan melihat ke arah pangeran Yeoning. 

“Bagaimana Kau tahu?” tanya si Penjagal. 

“Orang yang mengirimkan Baek Dae Gil kesini adalah Raja,” jawab Pangeran Yeoning.

“Dia berencana untuk menangkapku dan mengetahui masa laluku? Apa aku terlihat seperti orang yang mau bicara?” ucap si penjagal dan memberi kode kalau dia tidak akan buka mulut mengenai pemberontakan itu. 


Pangeran Yeoning kemudian memanggil Kim Jeong Yeol dan saat melihat si Penjagal, Jeong Yeol bertanya, “Jadi, kau masih hidup?” namun tak dijawab oleh si penjagal. 

“Lihat ke sekeliling. Dari semua orang terkemuka yang ada disini, apa kau melihat si pemberontak Jeong?” pinta Yeoning dan Jeong yeol mulai melihat kesekelilingnya, namun dia tak menemukan pemberotak bermarga Jeong itu. Karena Pangeran Yeoning sudah meminta apa yang harus Jeong Yeol lakukan, jadi dia pun mempersilahkan Jeong Yeol pulang. Setelah Jeong yeol pergi, Pangeran Yeoning menyuruh Sang Gil untuk menangkap si penjagal, karena dia harus menerima hukuman atas semua kesalahannya. 


Sebelum dibawa pergi, si Penjagal meminta sebuah permintaan, “Ini terakhir kalinya aku berada di ruang judi ini. Biarkan aku minum seteguk.” Si Penjagal kemudian pergi ke meja dan menuangkan arak, tanpa ada yang tahu ternyata si penjagal memasukkan dua butir racun ke dalamnya. Sebelum si penjagal minum, dia terus melihat ke arah Seol Rim dan kita juga diperlihatkan pada Dam Seo yang bersiap-siap mengeluarkan pedangnya. Si Penjagal minum dan tiba-tiba dia muntah darah. 


“Tuan!” panggil Seol Rim dan langsung menghampiri si Penjagal. Karena si Penjagal sudah mati, Dam Seo pun buru-buru keluar dari tempat itu sebelum Yeoning dan Dae Gil melihat dirinya. Dae Gil mencium cangkir yang si penjagal gunakan untuk minum dan sepertinya dia bisa menebak kalau si penjagal sudah minum racun. 

“Bahkan, meski hanya sesaat.. Aku merasa bahagia karena kau  sudah disini, Seol Rim,” ucap si Penjagal. Dia menghapus air mata Seol Rim dan mengucapkan terima kasih. Si Penjagal lalu beralih pada Dae Gil dan berkata kalau dia benar-benar kalah. Setelah mengatakan hal tersebut pada Dae Gil, si Penjagal pun menghembuskan nafas terakhir di pangkuan Seol Rim. Seol Rim berteriak histeris melihat kematian si Penjagal. Yeoning dan Dae Gil hanya bisa menghela nafas kecewa. 


Ketika berjalan pulang Kim Jeong Yeol berpapasan dengan In Jwa. Awalnya Jeong Yeol hendak berjalan begitu saja, namun ketika mendengar In Jwa bertanya apa dia adalah orang yang hendak menghancurkan dinasti Lee dan membangun dinasti Jeong. Diapun berbalik dan meluruskan kembali kepalanya. Adeuy ternyata kepala patah itu hanya bohongan belaka, agar tak di kuasi oleh orang lain. 

“Lee In Jwa. Ini tidak baik bagi kita untuk bertemu dengan cara seperti ini. Jika kita bertemu,  Raja akan menghunuskan pedangnya,” ucap Jeong Yeon dan In Jwa menjawab kalau dia tidak akan sampai ke tempat itu jika dia takut pada pedang Raja. In Jwa mengajak Jeong Yeon untuk bekerja sama menjatuhkan penguasa Joseon. Jeong Yeon lalu bertanya apa In Jwa bisa menangani semua masalah yang timbul setelah perang pemberontakan itu. 

“Apa kau pikir Aku, Lee In Jwa...tidak bisa mengatasinya?” tanya In Jwa sombong.

“Entahlah..Siapa tahu, ada yang mengkhianatiku lagi?”

“Aku lihat kau tidak percaya dengan siapapun. Kau bahkan tidak menyebutkan namamu.”


“Aku, Jeong Eui Ryang,” jawab Jeong Yeon. Ternyata Kim Jeong Yeon bukan nama asli orang ini, nama aslinya adalah Jeong Eui Ryang dan sebeneranya dialah orang yang sedang Pangeran Yeoning. In Jwa pun bertanya apa Eui Ryang adalah pemimpin terkemuka dari Yongnam dan Eui Ryang merendah dengan berkata kalau dia masih belum bisa dibandingkan In Jwa di Hanyang. 

“Jadi, bagaimana? Jika kita bekerjasama dengan semua anak buahku dan orang-orangmu di Yongnam. Sudah pasti Raja akan mati. Kita bisa mengambil alih pemerintahan,” ucap In Jwa dan Eui Ryang melihat seseorang keluar dan dia pun langsung menurunkan kembali kepalanya. Ternyata orang yang muncul adalah Dae Gil dan dia melihat ke arah Eui Ryang dan In Jwa. 


Eui Ryang mendekati In Jwa dan memberikan sebuah bunga, “Apa kau berencana untuk membuat Raja bersimbah darah? Kualitas arak yang terbuat dari bunga di  pegunungan ini benar-benar terbaik. Kapan-kapan aku akan mengundangmu,” ucap Eui Ryang dan berjalan pergi. 


Setelah Eui Ryung pergi, Dae Gil langsung menghampiri In Jwa dan berkata kalau In Jwa selalu muncul disaat Dae Gil berada di ruang judi. “Hari ini, mengapa Kau ada disini?” tanya Dae Gil.

“Apa yang kau lihat tidak keseluruhannya. Apa yang terjadi dengan Penjagal ?” tanya In Jwa dan Dae Gil menjawab kalau si penjagal bunuh diri. Tepat disaat itu Pangeran Yeoning keluar dari tempat perjudian dan dia melihat Dae Gil sedang mengobrol dengan In Jwa. 

“Itu hal yang akan dilakukan oleh  seorang pembunuh bayaran. Jadi sekarang...”

“Sekarang..hanya kau yang tersisa,” potong Dae Gil. 

“Tidak, sebelum kau membunuhku.. Ada hal yang lebih penting. Ini saatnya kau mengetahuinya. Oh, kau datang tepat pada waktunya,” ucap In Jwa dan tepat disaat itu Pangeran Yeoning datang mendekat. 


“Lee In Jwa. Apakah kau datang juga untuk mencari si pemberontak Jeong?” tanya Pengeran Yeoning.


“Tidak, bukan untuk itu. Aku datang karena ada hal yang menarik yang harus aku sampaikan pada Baek Dae Gil. Senang bisa melihat kalian berdua menjadi teman. Di sisi lain, ini sangat disayangkan,” ucap In Jwa dan Pangeran Yeoning langsung terlihat cemas mendengarnya. “Ah, rupanya Pangeran sudah mengetahui semuanya,” tebak In Jwa melihat reaksi Pangeran Yeoning. “Soal hubungan kalian berdua..,” In Jwa mendekat pada Dae Gil dan membisikkan sesuatu. Setelah membisikan hal tersebut, In Jwa langsung berjalan pergi. 


Dengan ekspresi terkejut, Dae Gil bertanya pada Pangeran Yeoning. Dia bertanya apa yang In Jwa katakan itu benar. 

“Apa yang kau katakan?” tanya Pangeran Yeoning masih berusaha menutupi semuanya. 

“Apa kau benar-benar tidak tahu? Kalau pangeran dan aku adalah...,” ucap Dae Gil dengan ekspresi marah dan dalam hati dia melanjutkan ucapannya, “Saudara... dia bilang kami bersaudara.”


Masih tak percaya pada apa yang In Jwa katakan, Dae Gil pun memilih pergi. Tepat disaat itu, Pangeran Yeoning melihat seorang wanita yang terlihat mencurigakan, diapun langsung memanggilnya. Ternyata wanita itu adalah Dam Seo. Tak ingin bertemu dengan Pangeran Yeoning, Dam Seo langsung menghindar. Namun Pangeran Yeoning mengejarnya dan dia tiba-tiba sudah berada di depan Dam Seo. 

“Akhirnya kita bertemu. Dam Seo,” ucap Pangeran Yeoning dan Dam Seo pun membuka penutup kepalanya. 


Dae Gil menemui In Jwa dan In Jwa pun langsung menceritakan semuanya, tentang kejadian bagaimana Dae Gil lahir. 

“Apa kau tahu? Kehidupanmu dimulai karena kau sudah dimanipulasi oleh Raja. Banyak orang yang tahu soal itu. Namun, ini sejarah yang tidak seorangpun berani membicarakannya. Ini kisah pertemuan Raja dan Sukbin  sebelum kalian lahir. Apa kau bisa mengatasi beban dari kenyataannya?” 

“Itu terserah aku apa aku bisa mengatasinya  atau tidak, jadi lanjukan,” jawab Dae Gil yang sudah sangat merasa penasaran. 


“Ketika Sukbin hanya seorang dayang. Suaminya, adalah ayahmu..Baek Man Geum. Dia berhasil menarik perhatian Raja saat dia menjadi dayang.  Ayahmu termakan jebakan Raja dan mempertaruhkan Sukbin dalam perjudian. Akhirnya dia kehilangan istrinya  untuk Raja.”

“Lalu Baek Man Geum mengetahui semuanya dan  mendatangi Raja. Sukbin-lah yang sudah mencampakkan Ayahmu. Dengan sikap yang kasar.”


“Namun, kau terlahir dgn usia kandungan 6 bulan. Kau sudah dibuang oleh ibumu. Kalian terlahir dari rahim yang sama. Kau dan Yeoning adalah saudara,” cerita In Jwa. 

“Yang Mulia, Sukbin...Dia itu..ibuku? Kau pikir sekarang ini aku percaya denganmu?” ucap Dae Gil masih tak bisa mempercayai semuanya. 

“Ya, ini bukan hal yang mudah untuk dipercaya. Tapi, pikirkan baik-baik. Aku yakin ada hal yang membuatmu curiga,” ucap In Jwa dan Dae Gil langsung teringat saat Sukbin menemuinya ketika di siksa. 


“Lalu, mengapa kau mengatakan padaku soal ini? Apa yang berubah jika dia ibuku?” tanya Dae Gil. 

“Apa kau masih tidak paham? Baek Dae Gil... Kau bukan putra Baek Man Geum.”

“Apa maksudmu?” tanya Dae Gil tak mengerti. 


“Raja. Ayahmu bukan Baek Man Geum. Ayahmu Raja. Raja di negeri ini,” ungkap In Jwa dan tentu saja Dae Gil shock mengetahui kalau ayahnya adalah Raja. 

Bersambung ke sinopsis Jackpot episode 16 

No comments :

Post a Comment