May 25, 2016

Jackpot ( Daebak ) Episode 15 - 1


Pangeran Yeoning shock ketika menyadari kalau Baek Dae Gil adalah kakaknya. Diapun bertanya-tanya apa Selir Sukbin mengetahui semuanya. Ingin mengklarifikasi semuanya, Pangeran Yeoning pun langsung menemui ibunya. 



Selir Sukbin terlihat sedang tidak sehat, pada Yeoning dia mengaku kalau sudah sebulan ini dadanya terasa sesak sehingga membuat dia kesulitan bernafas. “Apa yang membuatmu datang kesini?” tanya Selir Sukbin dan Yeoning hanya diam saja. Sukbin pun kemudian menyuruh dayangnya keluar agar Yeoning bisa leluasa mengatakan apa yang ingin dia katakan. 

“Ibunda, Soal hyung-nimku yang terlahir prematur..Aku ingin bertanya padamu,” ucap Yeoning memulai pembicaraan. 


“Kenapa dengan dia?”

“Apakah hyung-nimku yang terlahir prematur..masih hidup?” tanya Yeoning dan Sukbin bertanya kenapa Yeoning bisa berpikir seperti itu. “Apa dia itu, Baek Dae Gil? Ibunda.. Aku bertanya padamu, apakah hyung-nimku yang terlahir prematur adalah Baek Dae Gil,” tanya Yeoning dan Sukbin hanya terdiam.


Mo Myung menemui Hwang Gu dan memberikan gulungan kertas dari In Jwa.  Ternyata di dalam kertas itu, selain gambar coret-coret juga ada gambar 2 ikan. Setelah melihat gambar dua ikan itu, Hwang Gu kemudian bertanya apa Mo Myung mengerti maksud dari gambar itu.


“Ikan ini digambar oleh Hanja mewakili Raja. Ada 2 ekor ikan di kolam bunga teratai. Ini melambangkan pemberontakan,” jawab Mo Myung dan Gwang Gu berkata kalau dia sendiri yang akan mengantarkan gambar itu pada guru. 


In Jwa sendiri sekarang sedang bersama Jin Ki, dia membuka buku yang berjudul, “Jeonggamrok.” Melihat buku itu, Jin Ki pun bertanya buku seperti apa itu? 

“Ini buku yang berisi ramalan tentang masa depan negeri Joseon. Ini buku terlarang yang harus segera dibakar begitu ditemukan,” jawab In Jwa dan itu membuat Jin Ki penasaran pada isinya. 

“Tidak banyak. Seseorang bernama 'Lee' akan meruntuhkan Goryeo dan menjadi pendiri negeri Joseon. Selain itu juga meramalkan seseorang bernama  'Jeong' akan menghancurkan Joeson yang  dibangun 'Lee' dan memulai dinasti baru,” jelas In Jwa.

“Orang yang bermarga 'Jeong' akan  menghancurkan dinasti 'Lee'...., siapa orang yang bermarga Jeong itu?” tanya Jin Ki dan In Jwa menjawab kalau dia yakin orang bermarga ‘Jeong’ itu adalah orang biasa. 

“Dulu, ada 200 pemimpin dan 100 orang ketua pemberontak. Hanya dibutuhkan satu kata darinya untuk mengumpulkan para pemberontak untuk masuk ke Hanyang,” cerita In Jwa dan kita dibawa untuk melihat kumpulan para pemberontak tersebut.


“Pedangnya harus selalu mengarah kepada mereka. Kalian semua tahu ke mana mengarahkan pedangnya. Aku menaruh keyakinan pada kalian,” ucap seseorang dan tepat disaat itu Jang Gil San muncul dan memberitahu kalau pesannya sudah disampaikan. 


Ternyata di kumpulan tersebut juga ada seorang wanita. Dia menghampiri penjagal dan berkata kalau pisau itu sudah cukup di asah, karena kalau terus diasah, pisau itu akan menjadi tipis. 

“Aku harus mengasahnya untuk membunuh Raja,” ucap si penjagal. 

“Apa yang kau katakan? Leher Raja bagianku. Jangan mendekatinya,” jawab Soon Im dan mengeluarkan pedang pendeknya. Penjagal kemudian menyentil jidat Soon Im dan menyuruhnya untuk tidak keterlaluan. 

“Apa maksudmu dengan keterlaluan?” protes Soon Im dan tepat disaat itu beberapa prajurit muncul. Ternyata para prajurit itu muncul bukan untuk menangkap mereka semua, tapi untuk mengajak mereka bekerja sama menjatuhkan raja. 


“Kami memberitahukanmu kalau prajurit dan penjaga istana akan bergabung denganmu. Jika kau bisa membunuh Raja, setelah itu kami yang akan mengatasinya. Kita akan keluar dari gerbang yang sudah dibuka dan pergi ke Yungbok setelah pukul 11 malam. Berhati-hatilah... Kalian hanya punya satu kesempatan,” ucap prajurit itu pada pimpinan pemberontak yang tak menampakkan diri. Orang yang menjadi pimpinan itu mendengar ucapan si prajurit dari dalam rumah. 


“Anggota prajurit dan penjaga istana akan bergabung. Mereka melakukan pemberontakan. Jadi, semua itu rahasia besar. Tapi yang terpenting adalah kalau rakyat percaya dengan si 'Jeong' ini. Dengan kata lain... Mereka percaya kalau orang yang bermarga Jeong yang akan membunuh 'Lee' untuk mendirikan Joseon yang baru. Untuk itu, apa yang lebih ditakutkan Raja dari pada seribu pemberontak adalah....ramalan yang ada dibuku ini,” ungkap In Jwa pada Jin Ki dan Jin Ki hanya mengangguk-anggukkan kepala. 


Beralih pada Pangeran Yeoning yang meminta Selir Sukbin menjawab pertanyaannya. Tak bisa menutupinya lagi, Sukbin pun mengiyakan pertanyaan Yeoning. 

“Dia putra yang aku lahirkan dengan usia kandungan 6 bulan setelah aku berada di Istana. Putra yang langsung dipisahkan dari ibunya  begitu dia mengecap kehidupan.. Baek Dae Gil. Anak yang malang itu....adalah hyung-nim mu,” ungkap Sukbin dan menitikkan air mata. 

“Bagaimana..? Bagaimana kau bisa menyembunyikannya selama ini?” tanya Yeoning.

“Jika aku tidak menyembunyikannya.. Apa lagi yang bisa aku lakukan? Semuanya...semua orang menginginkan dia mati! Ratulah yang sangat menginginkannya, begitu juga para menteri. Bahkan Raja,” cerita Sukbin.


Flashback!
Para menteri membahas tentang anak Sukbin yang lahir secara prematur dan dalam kondisi sehat.


Ratu Ok Jung berkata pada Sukbin kalau anak yang lahir prematur usia 7 bulan, akan sulit untuk bertahan sampai 1 tahun, apalagi yang lahir prematur 6 bulan. 

Flashback End!


“Jika anak itu tinggal di Istana.. Jika dia masih hidup.. Aku tidak akan berada disini hari ini.. Yeoning, kau tidak akan ada didunia ini. Anak yang malang itu. Dia sudah kehilangan ibunya begitu dia dilahirkan. Lalu dia kehilangan ayahnya sekarang, dia ditahan karena Lee In Jwa! Apa ada orang yang lebih malang di dunia ini  daripada anak itu?” ucap Sukbin dan menangis. 


“Baek Dae Gil tidak lagi di penjara,” jawab Yeoning.

“Apa maksudmu? Apa dia sudah dibebaskan?” tanya Sukbin. 


Belum dijawab oleh Yeoning, kita langsung dialihkan pada Dae Gil. Saat dia berjalan sendirian, tiba-tiba langkahnya terhenti karena dia mendengar ada yang mengikutinya. Dae Gil memejamkan mata dan merasakan dengan instingnya.

“Dua orang pria memegang pedang berjarak 10 langkah didepanku. Dua orang lagi ada dibelakangku. Dua orang pemanah,” ucap Dae Gil dalam hati dan melempar koin pada salah satu pria yang hendak menyerangnya. Si pemanah melepaskan anak panahnya dan Dae Gil dengan mudah menangkap anak panah itu dan melemparnya hingga mengenai si pemanah itu sendiri. Beberapa orang keluar dan langsung menghunuskan pedangnya pada Dae Gil. Tak memerlukan banyak waktu, Dae Gil pun bisa mengalahkan mereka semua. Dia kemudian meminta salah satu dari mereka untuk mengantarkan dirinya ke tempat Penjagal. 


Kita kembali lagi pada Sukbin, dimana Sukbin sudah tahu mengenai Raja yang memberikan Dae Gil kesempatan untuk menangkap Penjagal dan membuktikan kalau dirinya tak bersalah. 

“Mana mungkin. Apa kau tidak tahu? Raja tidak akan mengampuninya tanpa ada alasan. Aku tidak tahu alasannya. Dia sudah menempatkan anak itu dalam bahaya demi kepentingan dia sendiri,” ucap Sukbin dan beranggapan kalau semua itu tidak boleh dibiarkan. Sukbin pun hendak menemui Raja, namun kondisi tubuhnya sedang tidak mendukung, jangankan menemui Raja, berdiri saja dia tak sanggup. 

“Aku akan mencari tahu. Ibunda tidak perlu khawatir...dan tenang saja disini,” ucap Yeoning.


Pangeran Yeoning sekarang sudah berada di ruangan Raja dan bertanya alasan Raja membebaskan Dae Gil. 

“Politik adalah soal mengorbankan sesuatu demi mendapatkan sesuatu yang lain. Apa itu bukan salah satu hal yang kau yakini? Namun, membebaskan Baek Dae Gil dan menangkap si penjudi Gaejakdoo..Aku melihat Ayahanda tidak mendapatkan apa-apa disini,” ucap Yeoning.
“Jadi, apa yang membuatmu penasaran?  Apa kau penasaran soal apa yang aku dapatkan atau.... soal kenapa aku membebaskan Baek Dae Gil?” tanya Raja dan Yeoning menjawab kalau dia penasaran tentang semuanya.  “Jika kau ingin tahu dengan apa yang ada dalam pikiranku. Mengapa kau tidak memberi tahukan pemikiranmu terlebih dulu? Seberapa banyak yang kau tahu.. Soal Baek Dae Gil?” tanya Raja lagi. 


“Baek Dae Gil... Dia putra seorang penjudi bernama Baek Man Geum. Dia murid dari pendekar pedang terhebat di Joseon, Kim Chae Gun. Selain itu, dia adalah temanku. Dia adalah...,” belum selesai Yeoning menjawab Raja langsung menjawab kalau Yeoning sudah salah. 

“Dia bukan temanmu. Dia seekor anjing pemburu. Dia seeokor anjing pemburu yang memberikanmu makanan. Begitu perburuan selesai kau buru dia. Gunakan dia jika kau butuh.. Bunuh dan makan dia jika kau.. tidak membutuhkannya lagi. Bagaimana bisa seekor anjing pemburu menjadi temanmu?” ucap Raja dan kemudian minum. “Baiklah, kau bilang kau penasaran dengan pemikiranku. Ini salinan asli dari buku terlarang, Jeonggamrok,” ucap Raja dan menunjukkan bukunya pada Yeoning.


“Seseorang bermarga Lee akan menghancurkan Goryeo dan membangun negeri Joseon. Seseorang bermarga Jeong akan menghancurkan Lee dan membawa dinasti baru kedalam Joseon. Ramalan terkutuk ini yang menyebabkan pemberontakan. Setiap kali Raja yang baru duduk di Tahta Ribuan nyawa telah dikorbankan karena ini. Aku mengalaminya sendiri saat kau masih kecil. Pemberontakan terjadi dengan tujuan untuk membunuhku dan menempatkan 'Jeong' sebagai Raja pemberontakan?” ungkap Raja.

“Aku belum pernah mendengar soal..,” ucap Yeoning.

“Malam itu, 1000 orang dari delapan kota di Joseon memasuki Istana. Aku teringat semuanya. Wajah orang itu...pada malam itu. Wajah-wajah mereka yang meletakkan pedang mereka di bawah daguku,” ucap Raja.

Flashback!


Lee Young Chang dan Jang Gil San mewakili para pemberontak untuk masuk kedalam istana. Mereka bisa dengan mudah masuk istana karena sudah bekerja sama dengan prajurit istana. 



Penyerangan dimulai, si penjagal masuk kekamar Sukbin. Saat itu dia melihat Sukbin sedang memeluk erat Yeoning kecil.


Si penjagal hanya membuka penutup wajahnya saja di depan Sukbin, kemudian dia keluar. Dia tak melukai Sukbin sedikitpun. 


Di tempat lain, Raja sedang berjuang sendiri melawan para pemberontak. Che Gun juga berada di istana untuk membantu Raja. Dia berhasil membunuh ayah penjagal dan mengalahkan si penjagal. Namun ketika dia hendak membunuh si penjagal, Soon Im muncul dan mengorbankan dirinya untuk penjagal. 

“Kau harus hidup, Oppa. Pergilah! Apa yang kau lakukan?..Aku bilang pergi!” ucap Soon Im dengan kondisi yang sudah sekarat. Atas pemintaan Soon Im, Si penjagal pun memilih pergi dan setelah si penjagal pergi, Soon Im menghembuskan nafas terakhirnya. Che Gun sendiri hanya diam, dia tak mengejar si penjagal. 

(hmmmm.... akhirnya terjawab sudah kenapa sebelumnya Raja berkata, “Apa maunya Kim Che Gun,” ketika dia mendengar si penjagal berbuat ulah. Ternyata semua itu karena Che Gun sudah membiarkan si penjagal hidup.)


Raja mengalahkan seseorang dan sebelum orang itu terbunuh. Dia berkata, “Raja, jangan berpikir kalau kau sudah menang. Dinasti Lee akan segera punah. Keluarga Jeong akan menjadi penguasa baru!”

Tanpa rasa kasihan, Raja pun menusuk orang itu sampai mati. Semua orang sudah mati dan tinggal Raja sendiri yang masih bertahan di tempat itu. Dia berdiri di lorong sambil membawa buku Jeonggamrok. 
Flashback End!


“Malam itu.. Jika bukan karena Pendekar Kim Chae Gun. Ayahmu sudah mati dan tidak bisa duduk  di Tahta kerajaan,” cerita Raja. 

“Tapi, ayahanda.. Apa hubungannya antara pemberontakan malam itu dan Penjagal?” tanya Yeoning. 

“Bagaimana kau bisa menangkap Lee In Jwa dengan pemikiranmu yang seperti itu? Menurutmu si tikus itu begitu mudah bagimu? Apa kau bahkan tahu siapa yang ada  dibelakang Lee In Jwa?” Raja kemudian melempar buku itu ke depan Yeoning. “Buku itu.... Buku itu sudah jatuh ke tangan Penjagal dalam perjudian. Penjagal salah satu pemberontak yang  berhasil hidup dan menyelamatkan diri malam itu.”

“Si penjudi Penjagal...seorang pemberontak?” tanya Yeoning.

“Kau bilang kau ingin tahu soal pemikiran  yang ada di kepalaku. Aku sudah lama sekali menahannya,  dan akhirnya aku menemukan dia. Akar dari kelompok pemberontak bersembunyi dibelakang Lee In Jwa dan Penjagal.  Tujuanku adalah untuk mencabut akar itu,” jawab Raja dengan tegas. 


Sool Rim menemui Penjagal dan bertanya kenapa dia melakukan semua itu? Kenapa Penjagal menculiknya seperti itu? Padahal dia sudah berjanji akan membebaskan Sool Rim ketika Iblis ke 6 mati. Penjagal menjawab kalau dia sudah berubah pikiran.


“Bagaimana dengan perasaanku? Apakah perasaanku tidak ada artinya?” tanya Sool Rim dan Penjagal memberitahunya kalau Dae Gil malam ini akan datang. Sool Rim pun jadi bertanya apa Penjagal melakukan semua itu karena dirinya?

“Aku akan tunjukkan padamu. Baek Dae Gil orang yang sudah kau selamatkan. Aku akan tunjukkan padamu bagaimana cara menghancurkannya,” ucap Penjagal.


Yeon Hwa datang ke tempat Penjagal dan mengatakan kalau Dae Gil sudah di bebaskan dan ada kemungkinan dia akan datang ke tempat Penjagal. 

“Aku tahu,” jawab si Penjagal dan Yeon Hwa memintanya agar tidak membunuh Dae Gil. 

“Kau tidak boleh membunuhnya. Baek Dae Gil harus mati ditanganku,” ucap Yeon Hwa dengan penuh kemarahan. Namun si Penjagal menolak keinginan Yeon Hwa, dia berkata kalau dia yang akan menghancurkan Dae Gil, jadi Yeon Hwa tidak boleh ikut campur. 


Pangeran Yeoning sekarang sudah berada di perpustakaan, dia diperintahkan oleh Raja untuk melihar “Jurna Harian Hari Ini” karena pada Jurnal tersebut, Yeoning akan menemukan jawabannya. Pada penjaga perpustakaan, Yeoning berkata kalau dia ingin melihat catatan yang menulis peristiwa pemberontakan yang terjadi di bulan Maret tahun 1697. 



Moo Myung menghadap In Jwa dan memberitahunya kalau dia sudah menyampaikan pesan yang In Jwa berikan pada Gwang Gu. In Jwa lalu berkata kalau baru-baru ini Raja sudah mengetahui soal si Penjagal dan In Jwa sangat yakin kalau Raja tidak akan membiarkan si Penjagal melarikan diri lagi. 


“Dia akan berpura-pura menjadi ramah dan baik. Lalu memanfaakan Baek Dae Gil  untuk menangkap si Penjagal,” ucap In Jwa dan Jin Ki bertanya apa tujuan In Jwa sekarang. “Kau bertanya, tujuanku?” ucap In Jwa dan seperti memikirkan sesuatu.


Kita beralih pada Bae Gil dan Yeoning yang sedang menghadap Raja. Sang Raja berkata kalau sampai Dae Gil tidak bisa menangkap pembunuh yang sebenarnya, maka Dae Gil akan dihukum mati bertepatan dengan matahari terbit. 


“Pertama, aku harus mengarahkan kembali panahku ke Penjagal. Selama ini, si Penjagal sudah membunuh para pejabat Istana demi uang. Mendapatkan nama-nama orang yang menyewanya adalah tujuannya yang kedua. Dan yang ketiga, adalah orang yang sudah meramalkan..Orang yang akan menjatuhkan Dinasti Lee dan membangun dinasti Jeong. Menemukan dia adalah tujuan utamaku. Satu-satunya orang yang tahu identitas orang ini adalah si penjagal,” ucap In Jwa dan Jin Ki kemudian bertanya apa orang yang bermarga Jeong itulah yang nantinya akan menjadi Raja berikutnya. In Jwa lalu mengaku kalau dia tidak percaya dengan isi buku itu. 

“Kalau begitu, kenapa...”

“Orang yang akan duduk di Tahta Kerajaan bukannya Aku ataupun Jeong. Baek Dae Gil... dialah orangnya,” jawab In Jwa. 


Dengan mengarahkan pedang pada seorang pria yang menyerangnya, Dae Gil meminta dia mengantarkan dirinya ke tempat si Penjagal. Tepat di depan rumah judi, Dae Gil langsung disambut dengan hunusan pedang dari semua anak buah si Penjagal yang berjaga di depan rumah judi. Kita kemudian diperlihatkan pada seorang wanita yang menutupi kepalanyanya, dia adalah Dam Seo. Dia melihat Dae Gil sejenak lalu berjalan pergi. 

Dae Gil mengalahkan satu anak buah si Penjagal dan kemudian berkata kalau dia lebih memilih melakukan semuanya dengan tenang. Di perpustakaan, Yeoning sedang sibuk membaca dan dikepalanya terus terngiang tentang kelimat, “Dinasti Lee akan dihancurkan dan dinasti Jeong akan muncul.”


Yeoning kemudian menemui Chang Jib dan bertanya semua informasi yang Chang Jib ketahui tentang pemberontakan di bulan maret 1697. 

“Raja minta pada Kami untuk tidak mendiskusikannya,” ucap Chang Jib dan Yeoning menjawab kalau itulah alasan dia menemui Chang Jib. Chang Jib lalu bertanya apa Yeoning sudah membaca Jeonggamrok ( Buku Ramalan) dan Yeoning menggeleng. 

“Takdir kalau seseorang terlahir sebagai seekor ular tapi ingin menjadi seekor naga. Ada orang bermarga Jeong yang lahir di tahun Ular. Di bulan Moo Jin dan hari Gi Sa pada pukul Moo Jin. Kaisar Ming lahir dengan bintang  kelahiran yang sama. Jadi, marga Jeong ini.. Rakyat percaya dia akan menghancurkan  dinasti Lee dan menjadi Raja,” ungkap Chang Jib.

“Lalu...siapa orang yang bermarga Jeong itu?”

“Kita tidak tahu identitasnya. Namun, ada seseorang yang menjadi bagian dari pemberontakan dan masih hidup. Dia seorang pelayan dari pemimpin pemberontak. Namanya adalah.. kalau tidak salah Kim Jeong Yeol?” jawab Chang Jib.

Yeoning sekarang sudah berada di ruangannya, dia melihat pedang yang Raja berikan padanya. Dia kemudian mengambil pedang itu. Hmm dari ekspresinya Yeoning sepertinya sudah mempersiapkan diri untuk bertempur. 



Dae Gil akhirnya bertemu dengan si Penjagal dan si Penjagal membawanya masuk. Di ruangan itu sudah banyak orang-orang yang bersiap menghajar Dae Gil dan juga orang-orang yang ingin menyaksikan pertempuran Dae Gil. Dam Seo juga berada di tempat itu, namun dia tak menampakkan diri, dia lebih memilih  duduk di ruangan sebelahnya. 


“Ini sebuah penyambutan yang berlebihan,” koment Dae Gil.

“Kau pasti bahagia. Banyak sekali pelayat yang datang dipemakamanmu,” jawab si Penjagal. 

“Kita akan melihat pemakaman siapa nanti. Kenapa kau membunuh Gol Sa?” tanya Dae Gil dan si Penjagal melirik ke arah Yeon Hwa. 


“Kenapa kau bertanya padaku? Baek Dae Gil, Aku dengar kau yang membunuhnya,” jawab si Penjagal dan Dae Gil kemudian bertanya dimana Seol Rim.  “ Cukup.... Jika kau terus bertanya dan memaksaku, haruskah aku memberitahukan semuanya padamu? Jika kau penasaran, kalahkan aku,” ucap si Penjagal dan meletakkan semua kartu di mejanya. “Jika kau mendapat angka 10 pada kartu, kau akan menang. Ruang judi ini menjadi milikmu.”


“Kedengarannya lebih mudah dari yang aku pikirkan,” jawab Dae Gil. 

“Mudah jika kau tidak mengetahui peraturannya. Peraturan itu adalah.. Tidak ada peraturan dan lakukan apa saja,” ucap si Penjagal dan anak buahnya langsung maju menghadapi Dae Gil satu persatu. Baru 3 orang yang berhasil Dae Gil kalahkan dengan mudah, si Penjagal mengubah peraturannya. Dia mematikan semua lampu dan sebelum dia mematikan lilin yang tersisa, si Penjagal berkata, “Mari kita lihat. Bisakah kau melakukannya dalam keadaan gelap?”

“Kau yang akan menyesal,” jawab Dae Gil. 


“Kita akan tahu begitu kita melihatnya,” ucap si Penjagal dan meniup lilin terakhir yang masih menyala. Apa yang akan terjadi setelah ini? Apa Dae Gil berhasil mengalahkan si Penjagal? Tunggu jawabannya di sinopsis Part selanjutnya.

Bersambung ke sinopsis Jackpot Episode 15 - 2

4 comments :

  1. Seru,, walau kadang lupa sama nama2 pemainya

    ReplyDelete
  2. Seru,, walau kadang lupa sama nama2 pemainya

    ReplyDelete
  3. Thanks ya yang udah nulis sinopsisnya, selain mudah dibaca juga gambarnya banyak..suka banget gomawo

    ReplyDelete