May 13, 2016

Jackpot ( Daebak ) Episode 13 - 1


Baek Dae Gil menemui Yeon Hwa dan berkata kalau Gol Sa akan mati ditangannya. Mendengar hal itu, Yeon Hwa mulai terlihat takut, karena dia sudah mendengar bagaimana sepak terjang Dae Gil selama ini. Mulai dari Dae Gil yang berkeliling ke tempat perjudian dengan menggunakan topeng Sarjana Baek Myun sampai Bae Dae Gil yang berhasil membunuh Iblis ke-6. Namun Yeon Hwa tetap berpendapat kalau Dae Gil tidak akan bisa mengalahkan In Jwa. 



Dae Gil menjawab kalau dia memang harus menghadapi In Jwa, walau selama ini dia selalu kalah dari In Jwa. “Jika bukan aku, tidak akan ada yang berubah. Aku tahu perasaanmu demi menyelamatkan ayahmu. Tapi kau tidak akan bisa melakukan itu  hanya dengan duduk saja seperti itu. Ketahuilah, Jika kau tidak bertindak,  tidak akan ada yang berubah. Tidak satupun...,” ucap Dae Gil dan pergi. Saat sendirian, Yeon Hwa terlihat mulai ketakutan.


Keluar dari rumah gisaeng, Dae Gil melihat Seol Rim menunggunya. Saat melihat Dae Gil, Seol Rim langsung teringat pada apa yang Hwang Gu katakan padanya. 


“Baek Ho Dae Sal... Dari semua bintang, bintangmulah yang  sangat mengerikanKau hanya punya 2 pilihan. Salah satunya adalah pergi dari sini  dan hidup sendirian. Ini cara yang paling mudah karena nasib burukmu tidak akan berdampak kepada siapapun. Cara lainnya adalah, membunuh orang yang kau cintai.”


Mengingat ucapan Hwang Gu, membuat Seol Rim terdiam sehingga Dae Gil langsung bertanya apa sudah terjadi sesuatu? dan Seol Rim menjawab tidak. Dae Gil kemudian menghela nafas dan berkata kalau anak Gol Sa adalah seorang wanita. 


Hwang Gu menemui Yeon Hwa dan bertanya apa dia merasa tidak yakin kalau sekarang sudah bertemu dengan Baek Dae Gil? Yeon Hwa terdiam di tanya seperti itu. Hwang Gu lalu duduk di depan Yeon Hwa dan bertanya apa dia harus menceritakan cerita lucu untuk Yeon Hwa.

“Bintang Baek Dae Gil menunjukkan kalau dia dilahirkan dari kalangan Kerajaan. Kau memiliki pengetahuan soal perbintangan. Kau pasti tidak mengalami kesulitan dalam mengartikan perkataanku,” ucap Hwang Gu dan Yeon Hwa hanya diam.


Dae Gil, Seol Rim dan pangeran Yeoning melakukan rapat tentang rencana mereka selanjutnya. Dae Gil berkata kalau dia sudah berusaha membujuk Yeon Hwa, tapi tidak berhasil. Pangeran Yeoning mengerti dengan apa yang Yeon Hwa lakukan, dia bersedia disandera untuk melindungi ayahnya. Namun Dae Gil berpendapat kalau semua itu tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya, karena Yeon Hwa tidak pernah masuk ke dalam rencana untuk menghancurkan Gol Sa.

“Kita akan menangkap Gol Sa besok,” ucap Dae Gil dan Pangeran Yeoning berkata kalau hal itu tidak akan mudah, karena Gol Sa adalah orang yang kuat. Seol Rim setuju dengan pendapat Pangeran Yeoning. Dae Gil menjawab kalau semua itu tidak akan susah, jika Pangeran Yeoning ikut membantu. Dia ingin Pangeran meminta pejabat di Inspektoral jendral untuk menahan pasukan yang dimiliki Gol Sa, sehingga Dae Gil bisa bermain dengan Gol Sa. 

“Itu...akan ada masalah. Setelah kita menyingkirkan Iblis ke-6.... Aku sudah dikeluarkan dari sana. Baik posisiku dan jabatanku.. namaku sudah dihapus disana. Tapi aku punya cara lain,” ucap Pangeran Yeoning dan sekarang kita melihat pangeran Yeoning keluar rumah Dae Gil. 


Saat pamit pulang, Pangeran Yeoning bertanya pada Dae Gil apa dia yakin dengan rencana mereka dan dengan yakin Dae Gil menjawab kalau besok pukul 3 – 5 sore, mereka mulai beraksi, jadi dia meminta Pangeran Yeoning untuk tidak terlambat. 


Setelah pangeran Yeoning pergi, Seol Rim juga pamit pulang karena si penjagal pasti sedang menunggunya. 

“Kau akan kembali kan?” tanya Dae Gil, namun tak dijawab oleh Seol Rim. Dia hanya berkata kalau Dae Gil jangan sampai terluka dan Dae Gil mengangguk. Tanpa Dae Gil sadari, Mo Myung memata-matai dirinya. 

Mo Myung kemudian melaporkan informasi yang dia ketahui pada In Jwa. Dia memberitahu In Jwa kalau Dae Gil akan mulai bergerak ke tempat Gol Sa sekitar pukul 3 – 5 sore. 


Seol Rim menemui penjagal dan mengucapkan terima karena sudah menyelamatkan dan membantunya selama ini. 

“Apa kau akan pergi?” tanya sipenjagal dan Seol Rim menjawab dengan anggukan. “Sudah terlalu malam sekarang. Pergilah besok,” ucap si penjagal dan Seol Rim menurut. Di lihat dari ekspresi si penjagal, sepertinya dia tak rela Seol Rim pergi. 


Flashback!
Seol Rim menemui si penjagal dan bersujud. Dia meminta si penjagal untuk membantunya. “Jika kau membantuku, hidupku akan....”

“Hidupmu!” potong si penjanggal dan berbalik. “Jangan cepat menyerah. Ini tidak layak sedikitpun,” tambah si Penjagal. 


In Jwa sedang bersama anak buahnya dan kembali membahas tentang Baek Dae Gil. Karena Dae Gil baru saja menemui Yeon Hwa. Hong Mae kemudian memberitahu kalau hari ini hantu selatan ( tuan Nam ) datang ke tempat perjudian. Dia pikir kalau tuan Nam datang pasti karena ingin mencari putri Gol Sa.  Hwang Gu lalu berkata kalau dia harus memastikan kalau semua itu tidak berdampak negatif untuk In Jwa. 


“Dia gadis yang cerdas, jadi dia tidak akan gegabah,” jawab In Jwa dan meminta Mo Myung untuk terus mengawasinya. 

Hong Mae lalu bertanya apa yang sebenarnya In Jwa tulis sedari tadi. Tanpa menjawab, In Jwa memberikan kertas yang dia tulis tadi pada Hwang Gu untuk dibacakan.

“Aku akan mengunjungi Gol Sa hari ini antara pukul 3 – 5 sore, jadi tunggu aku... Baek Dae Gil,” baca Hwang Gu.


“Begitu aku selesai menuliskan ini, tempelkan ini diseluruh Hanyang,” ucap In Jwa dan perintah itupun langsung dilaksanakan. Pengumuman itu langsung diperbanyak dan ditempel dimana-mana, seperti di Bukcheon, pasar-pasar, jalanan, Jongno dan juga Mapo. 


Pengumuman itu kemudian dibaca oleh Choi Yi Seok dan kabar tersebut sampailah ke telinga Il Soo. Il Soo tahu kalau Gol Sa bukanlah penjudi biasa, dia bisa mengendalikan perdagangan laut di Mapo. Selain itu, Gol Sa juga bekerja untuk In Jwa dan pedangan lainnya. Jadi, jika Gol Sa di hancurkan, maka itu akan mejadi pukulan bagi kubu Sorong. Tak bisa menentukan bagaimana solusinya, Il Soo pun ingin In Jwa menemui dirinya. 


Selebaran pengumuman itu, sampai ke tangan menteri yang lain. Seorang menteri kemudian memberikannya pada Chang Jib. Chang Jib pun langsung menemui Pangeran Yeoning dan bertanya apa tujuan Dae Gil melakukan semua itu. 


“Terlepas dari apa yang dilakukan Baek Dae Gil.... aku sendiri juga akan menangkap Lee In Jwa,” ucap Pangeran Yeoning.

“Lee In Jwa! Bagaimana dengan penghapusan larangan berniaga bagi pedagang kecil? Apa itu juga untuk menangkap Lee In Jwa?” tanya Chang Jib dan diiyakan oleh Pangeran Yeoning.


“Untuk menghentikan Lee In Jwa, kita harus menghentikan korupsi dengan para pedagang besar dan untuk itu, aku butuh buku catatan keuangannya. Buku itu ada di tangan Gol Sa saat ini,” ucap Pangeran Yeoning. 

“Kau ingin mendapatkan buku itu, menghapuskan larangan berniaga dan menghilangkan sumber penghasilan Lee In Jwa?” tanya Chang Jib dan tertawa. “Apa kebetulan... meskipun kau menangkap satu orang penjudi, kau pikir tikus seperti Lee In Jwa akan bergeming?”

“Tidak... Gol Sa bukan orang yang kau perlakukan seperti itu. Apakah Mapo bukan daerah yang termakmur di seluruh Joseon?” tanya Pangeran Yeoning. 


Kita diperlihatkan pada Gol San yang sedang di tnadu dan mengelilingi pasar. Semua orang terlihat takut padanya dan mereka langsung bersujud ketika Gol Sa lewat. “Gol Sa lah orang yang mengontrol hak berniaga di Mapo. Barang dagangan di Mapo tidak bisa dikirimkan dengan kapal tanpa ada ijin dari Gol Sa. Namun... para pejabat yang seharusnya mengontrol dia, terlalu akrab dengannya. Jadi, kita tidak bisa melakukan apa-apa selain berpangku tangan. Karena itu... aku membutuhkan bantuanmu,” pinta Pangeran Yeoning dan Chang Jin langsung berpikir sejenak saat mendengar permintaan itu. 

“Aku akan minta bantuan dari balai wilayah di Hansung,” ucap Chang Jib. Namun sebelum itu, dia mempunyai syarat yang harus Pangeran Yeoning patuhi. Syaratnya adalah Pangeran yeoning harus memberikan buku catatan keuangan itu padanya, karena dia ingin Pangeran tidak terlibat dalam rencana yang dia miliki dan menyerahkan semua urusan pada Chang Jib.


In Jwa menemui Il Soo dan Il Soo langsung bertanya siapa Dae Gil sebenarnya, karena dia terlihat dekat dengan Pangeran Yeoning. In Jwa menjawab kalau Dae Gil adalah murid dari Che Gun. 

“Apa kalian semua ingat dengan rencana pembunuhan Raja dua tahun yang lalu? Malam itu, raja memberikan dia sebilah pedang,” ucap In Jwa mengingatkan. Il Soo pun bertanya kenapa Dae Gil berkeliaran dan menyerang seluruh tempat perjudian, selain itu kenapa Dae Gil selalu bersama Pangeran Yeoning. In Jwa tak bisa menceritakan detailnya dengan alasan ceritanya panjang, namun dia meminta agar Il Soo tidak khawatir karena semuanya ada di bawah telapak tangan In Jwa. 


Selir Sukbin diminta menghadap Raja dan Raja langsung memperlihatkan selebaran pengumuman yang dibuat atas nama Dae Gil. 

“Dia, Baek Dae Gil. Sepertinya mereka berdua sedang  berencana untuk menangkap Lee in Jwa. Kelihatannya sangat berbahaya bagiku. Aku bertanya padamu apakah menurutmu itu tidak apa-apa?” tanya Raja dan Selir Sukbin masih berpura-pura tidak tahu maksud perkataan Raja. 

“Mereka berdua bahkan tidak tahu kalau mereka bersaudara. Apa yang akan kau lakukan jika terjadi kesalahpahaman dan mereka saling menghunuskan pedang mereka ke satu sama lain? Lepaskan talinya jika kau tidak bisa melepaskannya,  potong saja. Kisah ini bisa terjadi karena kau adalah ibu dari kedua anak itu,” jelas Raja dan Selir Sukbin terlihat cemas mendengarnya. 


Keluar dari ruangan Raja, Selir Sukbin pingsan. 


In Jwa bersama Mo Myung dan Jin Ki berjalan dipasar dan mereka melihat Pangeran Yeoning bersama Sang Gil melintasi mereka, namun Pangeran Yeoning tidak menyadari keberadaan In Jwa. Pangeran Yeoning pergi ke Balai Wilayah Hansung, dia pergi kesana untuk meminta bantuan seperti yang Chang Jib katakan. Setelah membaca surat yang Pangeran Yeoning bawa, pasukan yang berada di balai wilayah Hansung pun mau membantu Pangeran Yeoning. 


Dae Gil sudah berada di Mapo dan saat dia melewati pasar, semua orang melihat kearahnya dengan pandangan sedikit aneh. Mereka seperti ingin menyerang Dae Gil. Ternyata benar, saat Dae Gil melintasi jalan yang sedikit sepi, semua pedagang yang ada di sana langsung mengeluarkan senjata mereka dan mengepung Dae Gil. Sebelum mereka sempat melukai Dae Gil, bala bantuan datang. Pejabat keamanan dari Balai Wilayah Hansung datang dan menangkap semua pria yang mengepung Dae Gil, namun ada satu dari mereka yang berhasil kabur. 


Tak lama kemudian pejabat keamanan di wilayah Mapo datang dan bertanya kenapa pejabat  wilayah Hansung datang ke tempatnya. Tepat disaat itu Pangeran Yeoning muncul dan menepuk pundak Pejabat keamanan di wilayah Mapo. Melihat Pangeran Yeoning, Pejabat itupun langsung ciut.


“Apa kau tidak merasa malu sebagai pejabat yang sudah digaji oleh pemerintah?” tanya Pangeran Yeoning pada pejabat daerah Mapo dan kemudian dia menyuruh pejabat dari wilayah Hansung menangkap mereka. Selain itu Pangeran Yeoning juga memerintahkan agar pejabat dari wilayah Hansung pergi ke bagian pengiriman dan mengambil semua dokumennya. 

Aku sudah menyiapkan sebuah permainan untukmu. Sisanya terserah dirimu,” ucap Pangeran Yeoning dalam hati dan menatap ke arah Dae Gil. Seolah mendengar apa yang pangeran Yeoning katakan, Dae Gil pun langsung pergi menuju tempat perjudian Gol Sa. 


Gol Sa sendiri  sedang melihat selebaran pengumuman atas nama Dae Gil. Pria yang berhasil kabur tadi membisikkan sesuatu pada Gol Sa dan tak lama kemudian Dae Gil muncul. 


“Kau sangat tepat waktu!” ucap Gol Sa menyambut kedatangan Dae Gil yang sesuai dengan jam yang di tulis pada kertas pengumuman. 

“Aku merasa seperti seorang Raja yang  sudah disambut seperti ini,” jawab Dae Gil karena saat dia datang, anak buah Gol Sa langsung menghampirinya. Gol Sa pun menyuruh anak buahnya menyingkir dan mempersilakan Dae Gil duduk. 


Mereka sudah duduk berhadapan dan siap bermain. Gol Sa mengeluarkan kartu domino dan mengajak Dae Gil bermain permaian itu, namun Dae Gil menolak. Dia bahkan menghancurkan kartu domino tersebut  dengan pedangnya. 


Aku tidak mengajakmu karena ini permainan pertama. Sisi yang ini dibuat dari besi dan yang ini dibuat dari gading. Harganya 2x lipat dan juga terlihat beda,” jelas Dae Gil saat mengetahui kalau kartu domino itu sudah di curangi.


“Tempat perjudian ini sangat menarik. Ada tiga tiang kayu 'putri' dan tiga tiang pohon oak,” ucap Dae Gil saat memeriksa permainan yang lainnya. “Dan.. Salah satu yang terkelupas itu adalah yut,” ucap Dae Gil dan melempar kayu-kayu tersebut ke lantai. 



Dae Gil kemudian pergi ke meja yang melakukan permainan kartu dan Dae Gil melempar semua kartu ke udara. Setelah itu Dae Gil mengambil satu kartu yang ternyata di dalamnya sudah dipasang kawat.  Dae Gil berjalan lagi ke meja satunya dan tanpa basa basi langsung membelah meja tersebut. Ternyata di bawah meja itu sudah terdapat banyak kartu yang bisa digunakan untuk bermain curang.


“Apa ini? seluruh tempat ini sudah curang. Ahh, apa aku harus mengatakannya lebih banyak?” tanya Dae Gil pada Gol Sa dan Gol Sa menyuruhnya untuk berhenti karena dia merasa sudah cukup melihat kemampuan Dae Gil. 


Dae Gil pun kembali duduk dan mengajak Gol Sa bermain. Gol Sa kemudian mengeluarkan kartu berwarna hitam dan meminta agar Dae Gil mengeceknya terlebih dahulu untuk memastikan apakah kartu itu sudah dicurangi atau tidak. Setelah mengecek bentuk, berat dan baunya, Dae Gil pun yakin kalau kartu itu bisa digunakan. 

Saat Dae Gil mengocok kartunya, Gol Sa bertanya kenapa Dae Gil memasang poster pengumuman seperti itu. Berkat Dae Gil, Gol Sa pun jadi terkenal.

“Bukankah kau melakukan itu untuk menangkapku?” tanya Dae Gil.

“Kenapa begitu? Apa kau bermain dengan jujur sekarang?” ucap Gol Sa dan akhirnya Dae Gil menyadari kalau bukan mereka berdua yang menempel pengumuman tersebut, tapi ada orang lain yang ingin mengambil keuntungan dari pertempuran dirinya dan Gol Sa. Walaupun begitu Dae Gil ingin mengacuhkan hal tersebut dan mengajak Gol Sa untuk fokus pada permainan mereka saja. Dae Gil mengajak Gol Sa untuk bermain sportif, tidak ada kecurangan. 

“Sepasang angka 10 yang akan menang. Dan tidak ada tipuan atau kartu  yang disembunyikan tentu saja. Ada satu peraturan unik yang  kami miliki di tempat perjudian di Mapo. Mencuri kartu,” ucap Gol Sa.

“Mencuri kartu?”

“Sebelum si pemain memberitahukan kartunya, Mereka bisa menukar satu kartu dengan lawannya,” jelas Gol Sa.

“Kita bisa saling menukar satu kartu?” tanya Dae Gil.


“Yang terbaik dalam tiga putaran...yang akan menang!...Bagikan kartunya,” ucap Gol Sa dan Dae Gil pun membagikan kartunya. Setelah melihat kartu yang dia miliki, Dae Gil meminta untuk menukar kartu. Awalnya, Gol Sa ingin mengambil salah satu kartu milik Dae Gil, namun tak jadi karena dia merasa kartu milik Dae Gil jelek. 

“Kalau begitu, kita tunjukkan kartu kita,” ajak Dae Gil dan langsung membuka kartu miliknya. Gol Sa pun membuka kartunya dan dia mengaku kalah. 


Kau akan mengalah dalam putaran ini. Apa seperti itu?” ucap Dae Gil dalam hati. Dia bisa menebak dengan mudah kalau Gol Sa saat ini sedang sengaja mengalah. 

“Jika hanya tiga kali putaran, tinggal satu putaran lagi yang aku butuhkan,” ucap Dae Gil.

“Jangan sok kuat. Kau tidak tahu akhir kehidupanmu sampai  bel nya berbunyi. Kau tidak tahu apa akhir dari permainan ini sampai kau meninggalkan mejanya,” jelas Gol Sa.

“Seperti itulah sikap Iblis ke-6 sebelum nyawanya berakhir di neraka,” gumam Dae Gil dan giliran Gol Sa sekarang yang mengocok kartunya. 

Apa kau ingin menunjukkan ketrampilanmu kepadaku sekarang?” ucap Dae Gil dalam hati saat melihat Gol Sa mengocok kartu. Setelah melihat kartu yang dia dapat, Dae Gil kembali mengajak tukaran dan kali ini Gol Sa mau melakukannya. Dia mengambil kartu yang dia pikir berangka 10.


Gol Sa kemudian menyuruh Dae Gil mengambi l salah satu kartu miliknya, namun Dae Gil menolak dan berkata kalau dia baik-baik saja dengan kartu yang sekarang. Dae Gil mengajak membukan kartu dan Gol Sa yang menunjukkan kartu terlebih dahulu. Kartu milik Gol Sa adalah 2 kembar, sedangkan kartu dae Gil berjumlah nol. Untuk putaran kali ini, Gol Sa menang setelah mengambil kartu milik Dae Gil. 

Saat Dae Gil memperlihatkan kartunya, Gol Sa tak terlihat penasaran sama sekali, seolah-olah dia sudah tahu kartu yang Dae Gil miliki. Menyadari kalau Gol Sa bisa menebak angka pada kartu dengan tepat, Dae Gil pun jadi penasaran dengan cara yang Gol Sa gunakan. 

Permainan dilanjutkan dan sekarang adalah putaran terakhir bagi mereka. Kali ini, Dae Gil yang mengocok kartu. Saat mengocok kartu, Dae Gil bertanya apa Gol Sa pernah kalah dalam permainan kartu selama ini dan Gol Sa menjawab pernah. Dia pernah kalah dari si penjagal.  


Setelah mengetahui kalau Gol Sa pernah kalah dari si penjagal, Dae Gil pun langsung memaksimalkan penggunaan indera pendengarannya, karena yang dia tahu.... si penjagal  mempunyai pendengaran yang  tajam. 


“Kalau begitu hari ini yang kedua, bagimu,” ucap Dae Gil dengan sangat yakin.  Apakah Dae Gil berhasil mengalahkan Gol Sa? Jangan kemana-mana tunggu kelanjutan ceritanya di episode berikutnya.

Bersambung ke sinopsis Jackpot ep 13 - 1

1 comment :