May 9, 2016

Jackpot ( Daebak ) Episode 11 - 2


Keluar dari ruangan, Pangeran Yeoning sudah ditunggu oleh para manteri dari fraksi Noron. Beralih sejenak pada In Jwa yang sedang bersantai menikmati pepohonan di rumahnya. Melihat ketenangan In Jwa, Mo Myung sampai bertanya bagaimana dia bisa begitu tenang setelah keluar perintah untuk dilakukan penghapusan larangan berjualan bagi pedagang kecil. In Jwa menjawab kalau Yeoning hanya mengetahui satu hal dan tak tau pada yang lain. 

“Sebagai pedagang yang menggunakannya untuk memonopoli pasar. Kau benar-benar mengira mereka hanya menyuap kubu Soron?” ucap In Jwa.

Kembali ke istana dimana Chang Jib mewakili menteri lainnya untuk bertanya kenapa Pangeran Yeoning tidak berbicara dengan mereka terlebih dahulu, sebelum melakukan hal seperti tadi. Dengan santai Pangeran menjawab kalau dia tahu, jika dia memberitahu mereka terlebih dahulu, maka mereka semua akan mencegah dia melakukan semua itu. 



“Kenapa? Semua rahasia yang kalian sembunyikan.... apakah kalian malu soal apa yang mungkin akan ditemukan? Apakah kalian takut?” tanya Pangeran Yeoning blak-blakan dan seorang menteri menjawab kalau mereka tidak boleh kehilangan 10 hanya untuk mendapatkan 1. 

“Tuan, menyerahlah... sudah aku katakan kalau itu lebih dari yang bisa kalian atasi. Apakah kalian semua sudah menerima cukup banyak?” tanya Pangeran Yeoning dan pergi. Chang Jib sendiri hanya bisa bergeleng-geleng kepala melihat sikap keras kepala Yeoning. Dari kejauhan Jo Il Soo dan menteri dari kubu Soron melihat bagaimana Pangeran Yeoning tidak pernah menuruti permintaan dari kubu Noron. 


Kembali lagi pada In Jwa yang memberitahu Mo Myung kalau semua itu tidak akan bisa diselesaikan hanya dengan membujuk kubu Noron. 

“Dalam rangka untuk menghapuskan undang-undang itu... mereka harus berurusan dengan hilangnya penerimaan pajak dari pedagang. Mereka semua masuk dalam perangkap Iblis ke-6 dan sudah terjebak,” ucap In Jwa dan kita diperlihatkan pada Iblis ke-6 yang berhasil menjebak sekelompok orang sehingga mereka menjadi budaknya.


Di istana para menteri memohon pada sang Raja untuk memikirkan lagi undang-undang yang akan dibuat atas saran Pangeran Yeoning. 

“Terlebih lagi... Raja akan mengalami kesulitan dalam melepaskan penerimaan pajak dari para ,” pedagang,” ungkap In Jwa yang bisa menebak semua yang terjadi.


Pangeran Yeoning menemui ibunya dan saat itu Selir Sukbin terlihat tidak sehat, dia baru saja minum ramuan obat dari tabib. Selir Sukbin kemudian membahas tentang Pangeran Yeoning yang berusaha melawan partai dan para menteri demi membentuk sebuah undang-undang. Dia bertanya tentang alasan Pangeran Yeoning melakukan semua itu. 

“Aku akan menangkap Lee In Jwa. Aku punya rencana. Jangan terlalu khawatir, ibunda. Selain itu, apakah Kau baik-baik saja?” tanya Pangeran Yeoning dan Selir Sukbin meminta agar Pangeran Yeoning tidak khawatir padanya. 


Kubu Soron mengadakan rapat di luar istana, mereka membahas tentang undang-undang yang akan dibentuk atas saran dari Pangeran Yeoning. Tepat disaat itu, Pangeran Yeoning muncul dan dalam hati dia berkata kalau dia sudah mengurangi pendapatan para menteri yang ada di hadapannya itu sehingga membuat mereka merasa takut. 


Pangeran Yeoning ikut bergabung di meja mereka. Dia berkata pada semuanya kalau dia akan melakukan apapun untuk menghapuskan larangan berdagang. 

“Seperti yang kalian semua tau, aku adalah anak dari pembantu rendahan yang tidak punya rasa takut. Tidak ada yang aku takutkan,” ucap Pangeran Yeoning dan menuang minumannya sendiri. “Oleh karena itu, jika kalian tidak ingin menjadi seperti anjing yang mengejar ayam.... Lee In Jwa.... singkirkan dia. Akhiri hubungan kalian dengan dia, dengan begitu aku bisa sedikit lebih memperhatikan kalian,” ucap Pangeran Yeoning.


“Tapi, Lee In Jwa...,” ucap Il Soo, namun belum selesai dia mengatakan sesuatu In Jwa muncul. 

Karena In Jwa sudah muncul, Pangeran Yeoning pun memilih pergi. Di dalam, In Jwa meminta Il Soo untuk melakukan apa yang Pangeran Yeoning inginkan. 


“Kau harus menyingkirkanku. Sama seperti yang diperintahkan Yeoning, singkirkan aku. Selain itu, bukalah gudang milik kalian dan berbagilah dengan rakyat. Tuan, kau hanya perlu melakukan apa yang aku katakan. Apakah kau benar-benar berpikir kalau aku tidak bisa mengatasi Yeoning?” ucap In Jwa dan Il Soo sepertinya akan percaya pada In Jwa. 

Sang Gil bersama beberapa prajurit lain bertugas menjaga pria tua yang menulis buku catatan korupsi. Karena pria itu memang menyukai dihibur, maka diapun terus menghabiskan waktu bersama Gisaeng. 


Dari kejauhan terlihat Mo Myung, yang sepertinya di tugaskan oleh In Jwa untuk membunuh pria penulis buku catatan keuangan. Sang Gil merasa ada seseorang yang mencurigakan dan dia pergi sejenak untuk mengecek. Tanpa Sang Gil sadari, kalau orang yang membahayakan ada di dekat pria tua itu sendiri. Ya, salah satu gisaeng yang menghibur pria itu, adalah Hong Mae.

Sebelum Sang Gil pergi terlalu jauh, pria tua itu memanggilnya dan mengajak minum. Merasa tidak ada orang, Sang Gil pun kembali menjaga pria tua itu.


Para Gisaeng sudah pergi dan pria tua itu masih terus minum arak. Saat hanya sendirian, dia teringat kembali saat dia bertemu dengan In Jwa. 


Flashback!
In Jwa memberi uang pada pria itu dan meminta buku yang dia berikan pada Pangeran Yeoning. In Jwa berkata kalau pria itu seharusnya diberi peringatan, karena menjadi terlalu serakah akan menimbulkan masalah. 
Flashback End!


Setelah mengingat kata-kata In Jwa, pria tua itu meminum arak kembali dan mengajak Sang Gil untuk minum bersama. Saat pria itu hendak berdiri, tiba-tiba dia terjatuh dan mati, ternyata arak yang dia minum tadi beracun. 

Sudah bisa ditebak, kalau orang yang meletakkan racun itu adalah Hong Mae, karena dia sempat menoleh kebelakang saat berjalan pergi. Dan Mo Myung sendiri, hanya berada di sana untuk memastikan kalau pria tua itu benar-benar mati. 


Hong Mae menemui In Jwa dan protes, karena In Jwa memberikan tugas yang begitu rendahan untuknya. In Jwa kemudian mengingatkan Hong Mae pada perjanjian mereka, dimana In Jwa akan memberikan 3 tugas dan setelah itu tempat perjudian yang Hong Mae pegang, akan benar-benar menjadi miliknya. Hong Mae pun mengerti dan menunggu 2 tugas lagi yang akan diberikan In Jwa padanya. 

In Jwa kemudian meminta Hwang Gu untuk memainkan musik, karena malam itu In Jwa sedang merasa senang. Dia senang membayangkan perasaan Pangeran Yeoning yang merasa sudah di khianati. 


Pangeran Yeoning shock melihat saksi kunci yang dia punya sudah tak bernyawa lagi, ditambah lagi ada pria yang mengaku anak dari pria tua itu menyalahkan Pangeran Yeoning. Dia menyalahkan Pangeran atas kematian sang ayah. Pangeran sendiri hanya bisa meminta maaf dan kemudian pergi. Setelah Pangeran Yeoning pergi, pria tadi langsung bersikap biasa saja. Ternyata apa yang dia lakukan tadi hanyalah akting belaka. 


Pangeran Yeoning menemui In Jwa yang sedang bersenang-senang bersama anak buahnya. Namun hanya Jin Ki yang menikmatinya, Mo Myung hanya diam dan tak melakukan apa-apa. 

“Kau sudah menyulut api di rumah orang lain.... dan kau minum-minum?” tanya Pangeran Yeoning dan In Jwa mengingatkan kalau Pangeran Yeoning lah yang pertama kali menyentuh milik orang lain. Pangeran Yeoning mengerti bagaimana cara kerja In Jwa, dia akan membunuh orang lain tanpa penyesalan sedikitpun. 

“Kalau begitu kau mengira kalau orang-orang ini juga bisa mati di tanganmu. Kau tidak peduli dengan orang lain. Bukankah seperti itu?” ucap Pangeran Yeoning dan membuat semua pengikut In Jwa tersentak. 


In Jwa tersenyum tipis dan kemudian berdiri. “Jadi, apa yang ingin kau dapatkan untuk datang kesini?” tanya In Jwa.

“Aku datang kesini bukan untuk mendapatkan apapun. Aku datang untuk mengembalikan sesuatu.”

“Apakah kau akan menghunuskan pedangmu disini?”


“Tidak, aku punya sesuatu yang lebih baik dari itu,” ucap Pangeran Yeoning dan langsung meninju wajah In Jwa. Melihat itu, reflek Mo Myung langsung menghunuskan pedangnya pada Pangeran dan Sang Gil menghunuskan pedangnya pada Mo Myung. 

Setelah mendapatkan kode dari In Jwa, Mo Myung kembali memasukkan pedangnya dan Sang Gil juga menurunkan pedangnya.

“Bagaimana? Sakit kan?” tanya Pangeran Yeoning dan masih dengan tersenyum, In Jwa mengaku kalau dia merasa kecewa pada Pangeran Yeoning, karena dia mengharapkan lebih dari Pangeran Yeoning. Mendengar komentar seperti itu, Pangeran Yeoning sedikit terpancing berkata kalau dia akan menunjukkan reaksi yang sebenarnya secara perlahan. 


Dalam perjalanan pulang, Sang Gil berkata kalau dia ingin tahu apakah Pangeran Yeoning sudah membuat masalah yang tak seharusnya dia lakukan. 

“Apakah kau pikir aku bodoh, yang tidak tahu apa yang aku lakukan?” tanya Pangeran Yeoning dan meminta Sang Gil mengikutinya. Dia kembali lagi ke tempat dimana mayat pria tua itu di letakkan, namun disana sudah sepi, tak ada siapa-siapa. Pangeran Yeoning mengingat kembali apa yang terjadi tadi, saat pria yang mengaku anak pria tua itu memarahinya. Pangeran pun meminta Sang Gil untuk mencari tahu keberadaan pria tadi, karena dia yakin pria tadilah yang memegang bagian lain buku catatan keuangan itu. 


Pria itu bernama Baek Joong Ki dan sekarang dia sedang melakukan pertemuan dengan persatuan Pedagang Kecil. Tak perlu menunggu waktu lama, Sang Gil menemukan tempat persembunyian mereka. 


Paginya, mereka semua sudah berada di sidang oleh Pangeran Yeoning. Pangeran bertanya kenapa Joong Ki berpura-pura jadi anak pria tua itu dan pangeran juga bisa menebak kalau Joong Ki lah yang mempunyai setengah bagian catatan keuangan. 

“Apa yang kau inginkan?” tanya Joong Ki.

“Aku melakukan semua ini untuk membantu kalian menjadi pemilik usaha kecil. Berikan buku itu padaku,” pinta Pangeran Yeoning, namun Joong Ki tidak bisa percaya padanya, karena pejabat pemerintah tidak ada yang pernah berpihak pada mereka. 

“Terlebih lagi, kau adalah raja....,” tambah Joong Ki.

“Putra seorang raja. Orang yang disebut para menteri Joseon sebagai Pangeran... sudah melawan mereka semua. Aku sudah mengatur segalanya sesuai rencana. Apa yang bisa aku lakukan?” tanya Pangeran Yeoning, agar Joong Ki dan kawan-kawan percaya padanya. 

Joong Ki kemudian menunjukkan tanda yang ada di dadanya, ternyata bukan hanya dia saja yang mempunyai tanda itu. Teman-temannya juga punya tanda seperti itu. Melihat tanda itu, Pangeran Yeoning pun teringat pada mayat wanita yang mirip dengan Dam Seo. 


“Hidup kita bukan lagi milik kita sendiri. Kami meminjam uang kepada iblis ke 6 untuk bertahan hidup. Kami tidak bisa mengembalikkannya dan sekarang kami menjadi budaknya. Hidup atau mati.... kehidupan kami milik iblis ke 6. Selamatkan kami dari iblis itu, dengan begitu.... aku akan percaya denganmu. Maka aku akan berikan buku catatan keuangannya,” ucap Joong Ki dan Pangeran yeoning langsung bertanya dimana dia bisa bertemu dengan si Iblis ke 6. 

Di Seosomun. Kita melihat Dae Gil sudah berada disana. Seosomun adalah tempat gelandangan dan pengemis dari Hanyang berkumpul. Selain itu, disana juga adalah tempat perdagangan manusia dan menjual mayat. Ternyata bukan hanya Dae Gil yang ada di tempat itu, Pangeran Yeoning juga datang kesana. 

“Alasan mereka menamai Seosomun adalah karena si Iblis ke 6. Kau akan masuk dalam keadaan hidup, tapi keluar sebagai mayat.”


Bukan hanya diambil alih kemerdekaannya, para gelandangan di Seosomun juga di siksa oleh anak buah Si Iblis ke-6. Rambut mereka dipotong pendek dan dipaksa menyetujui kontrak. Dae Gil menghampiri anak kecil yang sedang menangis dan memberinya roti. Tepat disaat itu Si Iblis ke-6 muncul dan memotong rambut salah satu budaknya. 

“Hidup atau mati, kalian sudah menjadi milikku sekarang. Apakah kalian mengerti?” ucap Si Iblis ke -6 sambil mengangkat potongan rambut si budak. Mendengar itu, Dae Gil pun jadi teringat pada si Iblis yang juga menjebak orang dengan surat kontrak. Mengingat hal tersebut membuat Dae Gil emosi dan langsung berdiri.

“Ho ho... sekarang ini kau masih bertindak sebelum kau berpikir,” ucap Pangeran Yeoning dan Dae Gil menjawab kalau hal itu lebih baik daripada hanya bicara. Dae Gil hendak melangkah maju namun di hentikan oleh Pangeran Yeoning yang langsung bertanya apa Dae Gil punya rencana. 

“Sudah aku katakan. Ada yang harus aku lakukan,” ucap Dae Gil dan pergi. Melihat sikap percaya dirinya Dae Gil, pangeran Yeoning pun bertanya-tanya apa alasan Dae Gil sehingga membuat dia menjadi seperti itu. 

Tiba-tiba seseorang melempar pisau ke meja, tempat mereka menempatkan kontrak. Tak mau terkena masalah, Pangeran Yeoning pun memilih pergi dan Dae Gil harus menghadapi anak buah si iblis ke 6 sendirian. 


Pangeran Yeoning hendak masuk ke rumah perjudian Seosomun, namun di hentikan oleh penjaga karena dia tak membawa uang. Agar pangeran Yeoning bisa masuk, maka dia harus mengecap tangannya dengan cap nominal harga untuk tubuhnya. 


Saat Pangeran Yeoning  mengantri untuk di cap, Dae Gil muncul dan ikut mengantri. Pangeran Yeoning kemudian mengajak Dae Gil untuk kerja sama, namun Dae Gil tak mengiyakan, dia langsung maju untuk mendapatkan cap. 


Ketika akan diberi cap, Dae Gil langsung menangkap tangan si tukang cap. “Perhatikan kau baik-baik. Aku masih muda dan benar-benar kuat. Bukankah seharusnya aku memiliki nilai setara 100 nyang?” ucap Dae Gil dan si tukang cap pun menuruti permintaan Dae Gil, dia mengecap tangan Dae Gil dengan nominal 100 nyang. 

Sekarang giliran tangan Pangeran Yeoning yang di cap dan diapun langsung protes karena nominal yang diberi si tukang cap adalah 20 nyang. 


“Aku bisa menilai kau dengan 30 nyang,” ucap si tukang cap.


“Aku juga 100 nyang,” pinta Pangeran Yeoning, namun si tukang cap tidak mau melakukannya. Jadi mau tak mau Pangeran Yeoning harus menerima dirinya di nilai seharga 30 nyang. 



“Benar-benar.... seorang pangeran hanya seharga 30 nyang tanpa jabatannya,” ledek Gae Dil dan tentu saja itu membuat  Pangeran Yeoning kesal. Mereka berdua pun kemudian bertengkar di depan pintu masuk dan itu membuat penjaga tempat perjudian kesal. Dikepung oleh para penjaga tempat perjudian, Dae Gil dan Pangeran Yeoning pun berhenti bertengkar. Mereka bekerja sama untuk menghajar para penjaga. 



Mereka berdua masuk tempat perjudian dengan cara mendobrak pintu dan itu membuat para penjaga di dalam langsung menyambut kedatangan mereka. Salah satu penjaga menyuruh temannya untuk memanggi Iblis ke-6 karena mereka mendapat tamu yang sudah membuat kekacauan. Pangeran Yeoning mengiyakan, mereka memang harus memanggil Iblis ke-6. Namun setelah berkata seperti itu, dia langsung mundur satu langkah. 

“Mengapa kau membuat semuanya semakin buruk?” tanya Dae Gil.

“Itu rencanaku,” jawab Pangeran Yeoning dan salah satu anak buah Iblis ke-6 maju untuk menyerang mereka, namun Dae Gil dengan bisa mengatasinya. “Mari kita lakukan saja urusan kita masing-masing mulai saat ini,” ucap Pangeran Yeoning dan kemudian masuk ke sebuah ruangan. Dia meninggalkan Dae Gil sendirian untuk mengatasi anak buah Iblis ke-6. 

Tanpa menggunakan pedang, Dae Gil berhasil mengalahkan anak buah Iblis ke-6. Tepat disaat itu, orang yang Dae Gil cari, akhirnya muncul. Dia adalah Iblis ke-6. 


“Kau sudah datang?” ucap Iblis Ke-6, karena dia sudah tahu kalau Dae Gil memang akan datang ke tempatnya. “Kau berkata kalau kau akan datang untuk menghancurkan tempat perjudianku. Kenapa kau datang dengan tangan kosong?” tanya Iblis ke-6 dan Dae Gil langsung menunjukkan cap di tangannya. 

“Aku senilai dengan 100 nyang,” jawab Dae Gil dan sekarang mereka berdua sudah dihadapkan pada permainan baduk. Sebelum mereka memulai permainan, beberapa gelandangan di bawa masuk dan disiksa. Wajah mereka dilempar dengan bubuk berwarna hitam dan putih. 


“Mereka semua bernilai 10 nyang. Tidak ada yang mencari mereka. Tapi mereka masih mempertaruhkan nyawa mereka untuk mendapatkan uang. Bagaimana aku bisa mengusir mereka? Mereka bisa menjadi manusia batu baduk,” ucap Iblis ke-6 dan saat melihat ekspresi marah Dae Gil, diapun bertanya apa Dae Gil tidak menyukai semuanya. Kalau Dae Gil tidak suka, maka dia bisa menontonnya saja. 


“Jika tempat ini menjadi milikmu, kau bisa melakukan apapun yang kau mau. Namun... jika aku yang menang... kau akan mati,” ucap Iblis ke-6 dan meletakkan kapaknya di tengah-tengah papan baduk. 


Kita beralih pada Pangeran Yeoning yang menyusup masuk ke bagian belakang ruang perjudian, karena disanalah Iblis ke-6 menyimpan semua kontrak para budaknya. Pangeran Yeoning melakukan semua itu karena dia ingin menyelamatkan Joong Ki dan kawan-kawan, agar mereka bisa percaya pada Pangeran Yeoning dan mau memberikan sebagian buku catatan. 

Pangeran Yeoning dengan mudah mengalahkan dua orang yang menjaga lorong ruangan penyimpanan. Setelah menuruni tangga, akhirnya Pangeran Yeoning menemukan ruangan penyimpanan. 


Kembali ke tempat perjudian dimana si Iblis ke-6 bersiap-siap memulai permainan. Namun sepertinya, Dae Gil tidak ingin bermain, tangannya mulai mengarah untuk mengambil pedang.  Disisi lain, Pangeran Yeoning membuka pintu ruang penyimpanan dan ternyata didalamnya sudah ada Jin Ki yang sedang memahat patung budha. 

“Aku pikir aku akan mati karena menunggu... pangeran?” ucap Jin Ki.


Dae Gil menarik pedangnya dan membelah papan baduk, reflek Iblis ke-6 langsung berdiri. “Hei Iblis ke-6, berhenti bermain-main dan kita berkelahi saja sekarang.”

“Apa katamu?”

“Melihat yang kalian lakukan, aku bahkan tidak ingin menjadi manusia lagi. Aku ingin mencabik-cabik anggota tubuhmu dan membunuhmu sekarang. Tapi aku berusaha untuk menahan diri. Jadi, berhenti bermain-main dan kita berkelahi saja sekarang,” ucap Dae Gil dan dia berhasil membuat Iblis ke-6 emosi. Bukannya takut, Dae Gil malah senang melihat Iblis ke-6 marah, karena dengan begitu dia akan mudah membunuh Iblis ke-6. 



“Cukup!” ucap seseorang dan ternyata dia adalah Seol Rim. Karena sudah lama tak berjumpa, Seol Rim dan Dae Gil pun saling pandang karena kaget. 

Bersambung ke sinopsis Jackpot ep 12

No comments :

Post a Comment