May 9, 2016

Jackpot ( Daebak ) Episode 11 - 1


Baek Dae Gil mendatangi In Jwa dan berkata kalau dia akan menghancurkan semua rumah judi yang ada di Hanyang. Karena Dae Gil mengancam dirinya, In Jwa pun bertanya apa sekarang Dae Gil sudah menjadi Harimau. Dengan santai Dae Gil menjawab kalau dia adalah manusia, jadi kenapa dia harus menjadi seekor binatang.

In Jwa bertanya lagi apa sekarang Dae Gil ingin melawannya, dengan senyuman tipis diwajahnya, Dae Gil menjawab kalau dia akan memotong lengan dan kaki In Jwa, setelah itu dia baru akan memenggal kepala In Jwa. 



“Haruskah kita membuat taruhan? Apakah aku bisa melakukannya atau tidak? “ tantang Dae Gil dan kita diperlihatkan sekilas pada Che Gun, yang masih duduk diam di dalam rumahnya, namun dia seperti sedang memikirkan sesuatu.

In Jwa lalu bertanya darimana Dae Gil mendapatkan topeng yang dulu sering In Jwa kenakan. Dae Gil hanya menjawab kalau In Jwa tahu siapa musuhnya, maka dia akan menang. 



“Kau pikir kau tahu musuhku dan apa kau mengenalku dengan baik? Apakah kau tahu siapa musuhmu dan siapa temanmu? Aku kecewa denganmu. Aku pikir matamu sudah melihat dunia. Tapi keinginanmu untuk membalas dendam atas kematian ayahmu membuatmu buta. Kau mau membalas dendam atas kematian ayahmu sekarang,” ucap In Jwa dan Dae Gil mengambil kembali topeng yang dia pakai tadi dari tangan In Jwa, lalu menginjaknya.


“Kau bisa saja mati ditanganku…  Jika aku ingin membalas dendam untuk ayahku. Aku hanya membutuhkanmu. Itu sebabnya aku tidak bisa membunuhmu. Gambar itu…. Aku ingin kau menyelesaikannya. Aku membutuhkanmu,” jawab dae Gil dengan yakin dan In Jwa lalu bertanya apa sekarang Dae Gil sudah menyadari semua kesalahannya. 

‘Tidak, kenapa kau tidak bangun dari mimpimu?”


“Keyakinanku… dan mewujudkan rencana besarku… memang kau tahu soal apa?” ucap In Jwa yang mulai terlihat emosi.

“Yang pasti… aku tahu suatu hal. Kau tidak akan pernah bisa dijadikan seorang teman. Tidak untukku, tidak untuk raja… dan tidak untuk semua orang di negeri ini,” balas Dae Gil.

Si iblis ke 6, mulai gerah mendengar omongan Dae Gil dan dia hendak memukulnya, namun hal itu langsung di cegah oleh si penjagal. Si penjagal mendekati Dae Gil dan berkata kalau tidak akan ada yang menyerang Dae Gil, jadi Dae Gil harus memanfaatkan waktunya dengan hati-hati. Setelah mengatakan semua itu, Penjagal, Iblis ke 6 dan Gol Sa pergi, meninggalkan Dae Gil dan In Jwa. 

“Aku akan sering bertemu denganmu nanti,” ucap Dae Gil dan hendak pergi. Namun dia berbalik lagi dan berkata, “Ingatlah... hari ini, aku membiarkan dirimu hidup.”


“Semua yang kau lihat tidak seperti yang kau bayangkan.... Baek Dae Gil,” ucap In Jwa melihat kepergian Dae Gil dan kemudian mengambil topeng yag tadi di kenakan oleh Dae Gil.

Melihat topeng itu, membuat In Jwa teringat kembali pada masa lalunya.


Flashback!
In Jwa muda sedang belajar bersama Lee Woon Jin ( Kakek Lee In Jwa/ Lee Hyun Jwa). Mereka membahas tentang sebuah karya sastra yang dipuji semua orang, dimana isinya tentang bermoral dan bijaksana. 

Pada saat itu, aku pikir itu benar,” tercengar suara In Jwa bercerita.


Hyun Jwa berada di pasar dan melihat seorang anak dipukuli habis-habisan gara-gara mencuri makanan. Tidak hanya anak itu saja yang Hyun Jwa lihat mengalami ketidak adilan, banyak orang-orang yang habis dipukuli karena mengalami ketidak adilan juga. 


Tapi dunia yang sebenarnya sangatlah berbeda dari buku yang aku baca. Bahkan setelah menderita karena jajahan Jepang dan perang Manchu tahun 1636... Raja dan para menteri di negeri ini menjadi tersinggung dengan kata-kata yang dituliskan oleh seorang anak. Meskipun aliran Konfusius dan Mencius di hormati, rakyat tidak benar-benar bisa memiliki negeri.


Hyun Jwa dipukuli karena menulis sesuatu berdasarkan fakta yang dia lihat di sekitarnya. 


Seperti itulah dunia yang aku tinggali, dan dengan darah yang bercucuran karena Raja, semuanya sudah berubah. Kerabatku, keluargaku dan juga hidupku sebagai Lee Hyun Jwa.”


Hyun Jwa pulang ke rumah dan disana, semua keluarganya di pukuli oleh para prajurit. Saat itu Hyun Jwa tidak bisa melakukan perlawanan dan dia harus menyaksikan ayahnya di bunuh oleh prajurit.


In Jwa muncul dan menemui Hyun Jwa. Dengan mata berkaca-kaca, In Jwa memberikan topeng pada Hyun Jwa. 


Aku menyembunyikan wajahku dibalik topeng putih itu. Aku menunggu hari dimana aku bisa membuat dunia berada di genggamanku,”  janji Hyun Jwa pada dirinya sendiri.

Flashback End!


In Jwa masih melihat topeng putihnya, “Seperti anak muda Lee Hyun Jwa yang terlahir dengan nama Lee In Jwa... Baek Dae Gil, kau akan berada di jalan yang sama. Sama sulitnya seperti yang pernah aku rasakan,” batin In Jwa.


Saat hendak pergi, Dae Gil dipanggil Hwang Jin Ki. Bisa merasa kalau Jin Ki hendak mengeluarkan pedangnya, Dae Gil pun dengan cepat berjalan kearahnya dan menahan pedang Jin Ki. 

“Oh,” ucap Jin Ki terkejut karena kemampuan Dae Gil sudah bertambah berkali-kali lipat dibanding dengan pertama kali mereka bertemu.

“Apa sekarang ini kau ingin melawanku?” tanya Dae Gil dan pergi dengan senyum sinisnya. Dae Gil terus berjalan keluar, walau Hong Mae mengatainya anjing kampung brutal. 


Jin Ki menemui In Jwa dan bertanya alasan In Jwa ingin menjadikan Dae Gil seorang Raja dan bagaimana dengan Putra Mahkota. 

“Putra Mahkota adalah kartu yang sudah aku mainkan. Aku sedang mencari yang lebih besar dari itu. Untuk digunakan setelah Putra Mahkota mati,” jawab In Jwa dan Jin Ki memberitahu kalau Dae Gil adalah orang yang tidak sabaran. 


“Putra Mahkota dilahirkan dan dibesaran di Istana, jadi dia bisa melakukannya. Dia tidak bisa takluk pada Raja dan rencana ini tidak boleh terjadi. Meruntuhkan sistem yang ada dan sebuah negeri yang menjadi milik rakyat. Kau hanya bisa melakukannya jika Raja mati dan harus dilakukan oleh seseorang yang sudah merasakan kesengsaraan yang mendalam. Baek Dae Gil.... hanya dia yang bisa melakukannya. Kau tunggu dan lihat saja nanti. Suatu saat, seluruh dunia akan mengenal nama Baek Dae Gil,” jelas In Jwa. 

Pangeran Yeoning sudah bersama dengan pria yang mempunyai buku catatan keuangan atas semua tidak kejahatan yang di lakukan para pedagang. Ternyata pria itu adalah orang yang membantu lebih dari 1.000 bisnis tanpa ijin di Hanyang. Pangeran kemudian bertanya apa alasan pria itu hendak menjual buku catatan itu pada In Jwa. 


“Itu terserah aku, tapi Lee In Jwa sudah menawar sebesar 500 nyang,” jawab pria itu dan kemudian bertanya berapa yang bisa Pangeran Yeoning berikan sebagai gantinya. Saat ditanya berapa yang pria itu inginkan dan dia menjawab 1.000 nyang, 500 nyang untuk buku dan 500 nyang lagi untuk nyawa pria tersebut. 

Pangeran Yeoning menyanggupi permintaan pria itu dengan syarat pria itu mau bersaksi di depan para menteri dan menjadi saksi. Setelah berpikir sejenak, pria itu memberikan buku yang dia punya dan dia berkata kalau dia tak membutuhkan uangnya, dia hanya meminta Pangeran untuk melindunginya.


Keluar dari ruangan, Pangeran Yeoning meminta pengawalnya untuk menjaga pria tadi sampai dia membuat pernyataan untuk mereka. Saat Pangeran Yeoning hendak pergi pengawalnya memberitahu kalau Dae Gil sudah tiba di Hanyang. 

Dae Gil sedang berjalan di pasar dan tiba-tiba dihadang oleh seseorang yang meminta dia untuk mengikutinya. Siapa yang ingin bertemu dengan Dae Gil dan ternyata orang itu adalah Pangeran Yeoning. 


Pangeran bertanya apa Dae Gil tidak penasaran dengan kabar Dam Seo. Mendengar pertanyaan itu, Dam Seo teringat disaat Pangeran dan Dam Seo berpelukan.

“Aku sudah tidak tertarik lagi. Ada yang lebih penting yang harus aku urus,” jawab Dae Gil yang tak mau mendengar sesuatu yang bisa membuat hatinya bertambah sakit lagi.


Pangeran Yeoning tahu kalau Dae Gil ingin membalas dendam pada In Jwa. Pangeran menawari Dae Gil minum dan Dae Gil langsung memberikan gelasnya, dia ingin Pangeran yang menuangkan untuk dirinya. Merasa Dae Gil sudah lancang meminta dituangkan, Pangeran Yeoning lagi-lagi berkata kalau Dae Gil tidak sopan. Namun Dae Gil tak mau tahu, dia tetap ingin Pangeran yang menuangkan minum untuknya. Jadi, Pangeran Yeoning pun mau tak mau harus menuangkan minum untuk Dae Gil. 

“Lalu, kenapa kau ingin bertemu denganku?” tanya Dae Gil.

“Meskipun kita tidak bisa berteman... aku pikir kita bisa menjadi kawan yang punya tujuan sama,” jawab Pangeran Yeoning yang ingin mengajak Dae Gil kerjasama untuk menghadapi In Jwa. Namun Dae Gil menolak, karena dia punya rencana sendiri pada In Jwa, lagipula Pangeran Yeoning juga tak mau mengatakan alasan dia ingin menangkap In Jwa. 

“Jangan mengikutiku dan jangan ikut campur,” ucap Dae Gil.


“Apa kau menolak perlindugan dariku?”

“Perlindunganmu tidak seperti sebuah perlindungan, Pangeran,” ucap Dae Gil dan pamit pergi.

“Pedang itu.... apa kau tahu artinya mengapa raja memberikan pedang itu padamu?” tanya Pangeran Yeoning. Mendengar pertanyaan itu, Dae Gil teringat kembali pada saat dia masih bersama Che Gun.


Saat itu Dae Gil mengeluarkan pedang dari sarungya dan Che Gun berkata kalau di dunia ini ada dua macam jenis pedang. 

“Pedang untuk membunuh dan pedang untuk menyelamatkan nyawa. Pedang seperti apa yang ada di tenganmu?” ucap Che Gun saat itu.


Dae Gil berkata pada Pangeran Yeoning, kalau dia lebih memilih untuk bergerak dengan cepat daripada berpikir ratusan kali. Begitulah arti sebuah pedang bagi Dae Gil.

“Bergerak yang cepat daripada berpikir ratusan kali..,” gumam Pangeran Yeoning sendiri. 


Putra Mahkota Yoon memimpin rapat dan Raja ada dibelakangnya untuk memantau semuanya. Tepat disaat itu, Pangeran Yeoning muncul dan meminta maaf karena dia sedikit terlambat. Pangeran Yeoning muncul dengan membawa daftar orang-orang yang menerima hukuman berat dan juga mati. 

“Apakah itu sebuah kejahatan bagi seorang anak untuk meninggalkan tuannya? Apakah karena mencuri sepotong kue beras seseorang harus dihukum mati? Lalu, bagaimana dengan para menteri yang membuat rakyat mati karena kelaparan? Apakah mereka bisa terbebas dari tindak kejahatan itu?” ucap Pangeran Yeoning.

“Pengeran, seorang penjahat harus menerima hukuman atas kejahatannya,” ucap salah satu menteri.

“Pangeran, bagaimana kau bisa meragukan keputusan raja..,” ucap menteri yang lain namun kata-kata itu langsung dipotong oleh Raja.


“Jadi... apa yang ingin kau sampaikan?” tanya Raja.


“Hal pertama yang ingin dia katakan adalah....Kematian, bentuk sebuah hukuman, pemukulan dan memberikan gambar pada wajah. Aku ingin hukuman yang kejam ini dihapuskan. Dan yang kedua... aku ingin menghidupkan kembali drum yang bisa dibunyikan rakyat untuk meng-Kaukan bahwa adanya ketidakadilan. Selain itu, harus ada perubahan dalam pembebasan dinas militer. Perubahan ini berlaku kepada semua orang yang menjabat di pemerintahan. Apakah mereka itu sajana konfusius dari kalangan bangsawan,” ucap Pangeran Yeoning dan membuat para menteri jadi gusar. 

“Jika itu masalahnya... apakah pemerintahan yang damai akan terbentuk?” tanya Raja dan Pangeran Yeoning langsung menunjukkan buku catatan keuangan para pedagang yang sudah memanipulasi monopoli perdagangan dan melakukan kecurangan pajak. Dalam buku itu tercantum semua catatan kejahatan penggelapan barang-barang, ada nama-nama dan jumlah dari orang-orang yang menerima suap. Pangeran Yeoning kemudian memberikan buku itu pada Putra Mahkota Yoon.

“Lalu.... apa yang sebenarnya ingin kau katakan?” tanya Putra Mahkota.

“Hal terakhir yang ingin aku katakan... aku ingin menghapuskan hak khusus para pedagang dalam berniaga,” jawab Pangeran Yeoning dan para manteri jadi kelabakan, karena dari berdagang seperti itulah mereka mendapat penghasilan tambahan. 

“Yang Mulia, apa yang mengisi perut rakyat jelata... adalah hak-hak khusus dalam perdagangan. Mereka menghindari pajak dan mengabaikan rakyat. Hapuskan hak monopoli para pedagang dalam berniaga. Memberikan dukungan bagi para pedagang di pasar yang tidak sah secara hukum,” ucap Pangeran Yeoning dan Raja hanya diam saja, namun dia sepertinya akan mempertimbangkan permintaan Pangeran Yeoning.


Dae Gil melihat Nam Dokkebi berdagang kain di pasar. Diapun menghampirinya, namun tak memperlihatkan wajah. Dae Gil menutupi wajahnya dengan kipas. Karena pembelinya menutup wajah, Nam Dokkebi jadi penasaran dan ingin melihat wajah si pembeli. Saking penasarannya, Nam Dokkebi menyingkirkan kipasnya dan terlihat lah wajah tampan Dae Gil. 


Nam Dokkebi sangat senang, akhirnya bisa bertemu dengan Dae Gil lagi. Dia bahkan sampai memeluk Dae Gil saking senangnya. Tepat disaat itu, utusan kerajaan datang dan menyita semua kain sutra milik Nam Dokkebi. Penyitaan itu karena sudah keluar larangan bagi pedagang kecil, mereka tidak boleh menjual barang tanpa ada izin. Karena memang sudah ada peraturan baru, Dae Gil pun tak bisa mencegah para prajurit mengambil kain sutra milik Nam Dokkebi. 


“Kau tidak tahu kalau ada larangan untuk menjualnya? Dari semua barang yang bisa kau jual, kenapa memilih untuk membuka toko bahan?” tanya Dae Gil dan Nam Dokkebi malah menyalahkan Dae Gil atas semua yang terjadi. Karena alasan Nam Dokkebi melakukan semua itu agar dia bisa bertahan hidup dan melihat Dae Gil lagi. 


Dae Gil dan Nam Dokkebi makan bersama. Nam Dokkebi bertanya bagaimana rasanya berpura-pura menjadi sarjana Baek Myun? Namun Dae Gil tidak menjawab, dia hanya meneruskan makannya. Nam Dokkebi kemudian meminta uang dari hasil berjudi Dae Gil selama ini. Awalnya, Dae Gil tak mau memberikan, tapi karena Nam Dokkebi terus membahas kalau dia dan Man Geum dulu sudah mengeluarkan banyak uang untuk membesarkan Dae Gil, jadi Dae Gil pun memberinya sekantung uang. Tentu saja Nam Dokkebi senang menerimanya. 

“Jangan disia-siakan. Sekarang karena kau punya uang, kau harus bekerja,” ucap Dae Gil dan Nam Dokkebi mengiyakan. 


Nam Dokkebi kemudian menunjukkan peta Hanyang yang berhasil dia buat pada Dae Gil. Dae Gil kemudian memberi baduk diatas gambar lokasi mereka berada sekarang, tempat perjudian Hong Mae, Seosomun, Jongno dan Mapo. Dia berkata kalau dia akan menghancurkan ketiga tempat perjudian itu. 

“Ada banyak sekali tempat perjudian. Kenapa kau pilih ketiga ini?” tanya Nam Dokkebi.

“Kakek, apa yang kau lakukan saat aku menderita hingga akan mati? Tempat ini adalah tempat dimana Lee In Jwa memanipulasi para menteri,” jelas Dae Gil.

“Yang pertama, tangan kanan Lee In Jwa, Hong Mae pemilik tempat perjudian. Yang kedua, tangan kiri Lee In Jwa, dukun di Wolhyanggak. Dan Iblis ke 6 dari Seosomun, Si penjagal dari Jongno, Gol Sa dari Mapo. Mereka bertiga adalah “kaki” Lee In Jwa. Yang pertama, aku akan memotong kaki-nya,” ucap Dae Gil. 


Nam Dokkebi bertanya mana tempat yang akan Dae Gil hancurkan terlebih dahulu dan Dae Gil menjawab Iblis ke-6 dari Seosomun. Nam Dokkebi shock mendengarnya. Apa alasan Dae Gil memilih Iblis ke-6? Ternyata karena dia ingat pada Seol Rim yang pernah berkata kalau Iblis ke-6 sudah membunuh ke dua orang tuanya. 

“Iblis ke-6... aku akan menyingkirkan dia terlebih dulu,” ucap Dae Gil dengan wajah serius.


Di ruang rapat tinggal Putra Mahkota Yoon dan Pangeran Yeoning saja. Putra Mahkota bertanya apa yang Pangeran Yeoning lakukan. 

“Yang Mulia, Rakyat yang sudah berjuang demi kehidupan sehari-harinya sudah di larang untuk bekerja. Larangan ini digunakan untuk memenuhi kehidupan pada bangsawan. Apakah kau benar-benar mengakui kalau undang-undang ini berlaku pada rakyat?” ucap Pangeran Yeoning.


“Ini undang-undang yang sudah dibuat sendiri oleh ayahku,” jawab Putra Mahkota dan Pangeran Yeoning berkata kalau peraturan itu sudah disalahgunakan. Putra Mahkota berpendapat kalau pajak yang di dapat dari pedagang bisa digunakan untuk stabilitas negeri. 

“Namun rakyat... kelaparan,” jawab Pangeran Yeoning.


Putra Mahkota kemudian menghampiri Yeoning dan berkata kalau buku yang dibawa Yeoning hanya berisi separuhnya saja lalu mengembalikan pada Yeoning.

“Ini hanya berisi daftar nama para pedagang yang sudah menerima suap. Bukan nama orang yang menerima suap atau jumlah suapnya,” ucap Putra Mahkota Yoon.


Pangeran Yeoning menjawab kalau dia memiliki orang yang membuat buku tersebut dan orang itu bisa bersaksi. Jadi, tidak akan lama lagi dia bisa mendapatkan sisa dari isi buku catatan itu. Putra Mahkota kemudian mengingatkan Pangeran Yeoning atas janjinya yang akan menjadi mata dan telinga untuk Putra Mahkota. 

“Aku akan seperti itu, tapi sebelum aku melakukannya, Lee In Jwa.... dia harus pergi. Dalam konspirasi antara pedagang dan para menteri, jejak dari trik Lee In Jwa sudah di temukan,” jawab pangeran Yeoning.

“Bukankah aku sudah memberitahukan padamu? Lee In Jwa adalah.....”


“Kau katakan kalau dia adalah temanmu,” potong Pangeran Yeoning. “Tapi, memiliki teman yang menjatuhkan dirimu adalah jalan kehidupan di istana. Putra Mahkota... jika kau tidak ingin melakukannya, aku sendiri yang akan melakukannya. Soal Lee In Jwa... aku akan menangkapnya,” ucap Pangeran Yeoning.

Bersambung ke sinopsis Jackpot ep 11 - 2

No comments :

Post a Comment