April 4, 2016

Remember : War of the Son Episode 20 (Final)


Maafkan kalau episode terakhir ini telaatt banget. Yuk direfresh dulu apa yang terjadi sebelumnya.

Remember : War of the Son Episode 18
Remember : War of the Son Episode 19

Remember : War of the Son Episode 20


Bagaimana Jin Woo bisa tiba bersamaan dengan Nam Gyu Man? Ternyata In Ah mendapat informasi tentang helikopter perusahaan Ilho yang minta ijin terbang sehingga Jin Woo dan polisi berhasil datang ke landasan helikopter grup Ilho tepat pada waktunya.

Mulanya Gyu Man santai melihat kedatangan Jin Woo, tapi betapa kagetnya Gyu Man melihat helikopter yang harusnya menunggi ia masuk dulu malah mendadak terbang, berangkat tanpa membawa dirinya. Lucu sekali melihat Nam Gyu Man yang tampak kesal dan bersungut-sungut, menyumpahi pilot helikopter dan menyuruhnya kembali.




Nam Gyu Man dibawa untuk diinterogasi. Walau semua bukti sudah terpapar, tapi Gyu Man tak mau berkata apapun sebelum pengacara Hong mendampinginya.


Pengacara Hong muncul bersama ayahnya. Ia mendapat jawaban mengapa helikopter meninggalkannya. Ayahnya yang menyuruh pilot untuk pergi karena tahu usaha Gyu Man untuk melarikan diri itu sia-sia. Kepolisian akan minta bantuan Interpol untuk melacak jejak Gyu Man.


Gyu Man melirik Pengacara Hong tapi tak berkata apapun. Ia bertanya apa yang akan terjadi pada dirinya. Ayahnya menjawab kalau ia akan menagih hutang dari orang-orang yang selama ini selalu ia beri uang agar membebaskan Gyu Man di persidangan ketiga.


Tapi Jin Woo dan In Ah sudah memperhitungkan hal ini. Pada Jaksa Tak dan Dong Ho, mereka meminta keduanya untuk menyerang Nam Il Ho sementara mereka akan menambahkan beberapa tuduhan yang memberatkan dengan membuka kejahatan yang Nam Gyu Man pernah lakukan di persidangan berikutnya. Hal ini dilakukan agar Nam Il Ho tak berkutik walau memiliki koneksi kuat.


Yeo Kyung memilih pergi dari rumah. Tapi sebelum pergi, ia mengaku kalau Nam Gyu Man berhasil ditangkap karena informasi darinya. Sebelum ayahnya lebih marah lagi, ia memberitahu ayahnya kalau apa yang terjadi pada Nam Gyu Man itu karena didikan ayah. Dan yang paling fatal adalah ayah membuat kakaknya merasa kalau membunuh itu dibenarkan. Ia tak bisa membohongi hati nuraninya karena ia masih memiliki hati seorang jaksa.


Yeo Kyung meninggalkan ayahnya, tak menoleh sekalipun walau ayahnya terus berteriak memanggilnya.


Jin Woo memberikan beberapa bukti kejahatan bisnis yang melibatkan Nam Gyu Man dan surat kesediaan Soo Beom sebagai saksi. Tapi menurut In Ah semua itu belum cukup memberikan hukuman seberat-beratnya pada Gyu Man. Mereka membutuhkan satu saksi penting lagi.


Jin Woo sudah memilikinya. Ia adalah Chul Soo, sahabat Gyu Man. Jin Woo tahu kalau hukuman Gyu Man tak berat, maka Gyu Man dapat menghabisi Chul Soo  sekeluarnya dari penjara. Maka ia menjanjikan Gyu Man akan mendapat hukuman seberat-beratnya jika Chul Soo mau bersaksi. Chul Soo bersedia dengan senang hati.


Nam Il Ho berhasil memaksa Tuan Jang, salah satu orang penting di Departemen Kehakiman untuk membantu membebaskan anaknya. Sementara Gyu Man tak berhasil memaksa Soo Beum untuk menarik kesaksiannya, walau diming-imingi dengan bayaran 1 milyar won. Soo Beum malah minta Gyu Man untuk mengaku, sama seperti dia yang menyerahkan diri.


Gyu Man marah dan mengata-katai Soo Beum, tapi Soo Beum datang untuk mengatakan hal itu sebagai teman. “Yang membuatmu merasa kesepian bukanlah musuhmu, melainkan temanmu. Dan aku merasa kesepian karena menjadi temanmu.”


Setelah Soo Beum pergi, Nam Gyu Man bergumam, “Dasar gila. Apa kau pikir yang kesepian hanya kau sendiri?”


Pengacara Hong mendapat kabar dari Tuan Jang kalau hakim baru sudah ditunjuk dan yakin kalau para hakim itu akan menolong mereka.


Persidangan Nam Kyu Man dilakukan hari ini. Di depan para demonstran, Nam Kyu Man hanya tertawa-tawa santai melihat kerumunan yang menghujat dirinya.


Namun ketika ada yang melempar telor ke punggungnya, ia marah dan hendak menyerang para demonstran itu hingga para pengawal harus menahannya sekuat tenaga.


Jin Woo menemui In Ah sebelum persidangan. Ia berterima kasih pada In Ah yang terus mendukungnya sekuat tenaga hingga sekarang ini. In Ah tersenyum dan meyakinkan Jin Woo kalau hari ini ia akan melakukan yang terbaik untuk Jin Woo.


 

Namun betapa terkejutnya mereka saat melihat hakim baru yang muncul. Melihat senyum Pengacara Hong, mereka tahu kalau ini adalah usaha licik Nam Il Ho untuk menggagalkan persidangan berjalan adil. Nam Gyu Man tersenyum mengancam pada Ha Young.


Dan hakim pun blak-blakan jaga gawang untuk Nam Gyu Man. Saat In Ah memanggil Soo Beum untuk menjadi saksi, Pengacara Hong mengajukan keberatan dan keberatan itu disetujui oleh hakim. In Ah mencoba mendebat hakim, tapi hakim malah mengancamnya untuk mengeluarkan In Ah dari persidangan karena mengganggu ketertiban.


Tentu saja hal ini membuat yang melihat persidangan tak puas. Salah satu pendemo minta hakim untuk memimpin sidang dengan benar. Hakim malah memanggil pengawal untuk mengusir orang itu. Nam Gyu Man tersenyum dan melambaikan tangan pada orang itu.


Hakim memutuskan untuk rehat sejenak. In Ah menemui hakim dan meminta agar Soo Beum diijinkan bersaksi. Pengacara Hong menyindir In Ah untuk tak merengek. Tapi hakim memang sudah memutuskan seperti itu dan keputusannya sudah bulat.


Saat hakim akan kembali ke ruangan, ia berpapasan dengan Jin Woo yang menyapanya dan mengajaknya bicara. Jin Woo mengingatkan tentang pertemuan hakim dengan Tuan Jang kemarin malam dan memberi update kalau Tuan Jang sekarang sedang dalam penyelidikan karena menerima suap.


Ia bahkan menunjukkan berita tentang penangkapan Tuan Jang yang terjadi pagi ini. “Jika Anda tak ingin muncul dalam berita besok, Anda harus memimpin dengan adil untuk persidangan berikutnya.”


Hal ini membuat hakim kembali ke ruangan dengan sikap yang berbeda. Ia memberikan kesempatan Detektif Kwak untuk bersaksi, membuat Pengacara Hong dan Gyu Man heran sekaligus marah. Detektif Kwak segera mengakui kalau ia pernah disuruh membunuh Jin Woo saat kasus pembunuhan di Jungsandong.


Hakim juga mengijinkan kesaksian tertulis yang diberikan oleh Chil Soo dan dokter jiwa ayah Jin Woo. Begitu juga saat In Ah mengajukan Jin Woo sebagai saksi terakhir. Pengacara Hong mengajukan keberatan karena Jin Woo mengidap alzheimer sehingga tak layak menjadi saksi. Tapi In Ah mendebat karena alzheimer yang diidap Jin Woo dalam masa transisi sehingga masih bisa bersaksi.


Sia-sia Pengacara Hong mengajukan keberatan karena kali ini Hakim mengijinkan dan tak menatapnya sama sekali.


Dalam kesaksiannya, Jin Woo yang telah menyelidiki Nam Gyu Man selama 5 tahun, mengatakan kalau Gyu Man adalah pembunuh asli dalam kasus pembunuhan Oh Jung Ah dan menjebak Seo Jae Hyuk. Dan bukannya bertobat, Nam Gyu Man malah melakukan kejahatan yang lebih banyak lagi untuk menutupi kejahatannya.

Jin Woo menyebutkan semua tindak kejahatan yang dilakukan Nam Gyu Man. “Dan alasan mengapa ia melakukan pembunuhan karena ia menganggap dirinya adalah hukum. Ia bahkan percaya bisa menekan orang yang lemah.”


Gyu Man berdiri marah, namun ditenangkan oleh Pengacara Hong. In Ah menyodorkan semua bukti yang tadi dituduhkan pada Nam Gyu Man. Semua bukti itu diterima oleh hakim.


Hakim sudah memiliki hasil keputusan dan Nam Gyu Man diminta berdiri. “Terdakwa terbukti bersalah telah membunuh Oh Jung Ah dan terdakwa tak menunjukkan penyesalan dan malah terus melakukan kesalahan. Walau hukuman mati adalah hukuman yang tidak manusiawi, tapi hal ini tak terhindarkan lagi. Terdakwa mendapat hukuman mati.”


Semua orang bertepuk tangan. Nam Gyu Man tertawa, namun kemudian berteriak mengumpat hakim. Pengacara Hong menenangkannya tapi malah kena bogem mentah.



Semua terkesiap, tapi ulahnya belum berakhir. Ia melompati meja dan hendak menyerang Jin Woo, mengatai kalau semua ini adalah ulah Jin Woo. Untung para petugas sudah siaga dan langsung meringkus Gyu Man untuk segera diamankan.


Seok Kyu memberitahu hasil persidangan ini pada Soo Beum di penjara. Soo Beum merasa harusnya ia merasa lega, tapi entah kenapa ia malah merasa sedih. Seok Kyu menjawab, “Karena kita teman. Melihat kalian berdua ada di penjara, membuatku sedih.” Soo Beum berkata kalau masa-masa bahagia yang ia alami adalah saat dimana mereka tak perlu memikirkan apapun, dengan atau tanpa uang.


Ha Young memberikan dua monkichi yang berpelukan kepada Jin Woo dan In Ah, sebagai ucapan terima kasih. Ia sekarang bergabung dalam sebuah teater dan merasa bahagia. Walau ia hanya mendapat peran kecil, tapi ia ingin mengundang keduanya untuk datang melihat pertunjukkannya.


Nam Gyu Man ke klinik dan mengeluh sakit kepala hebat. Tetap dengan gaya arogan, ia meminta dokter untuk memberinya pil. Tentu saja dokter tak mau dan menyuruh pengawal untuk mengusir Gyu Man dari kliniknya.


Nam Gyu Man bertemu dengan detektif Kwak yang mengkotbahinya padanya untuk bertobat. Gyu Man mengeluarkan sumpah serapahnya, tapi Detektif Kwak malah mendoakan jiwa Gyu Man membuat Gyu Man meledak dan terus mengumpat-umpat sambil dibawa pergi oleh petugas.


Detektif Kwak hanya memandangi kepergian Gyu Man dengan damai dan menjawab, “Amin.”


Jin Woo mengunjungi Gyu Man untuk yang terakhir kalinya dan mempedulikan ejekan Gyu Man yang mengatainya bernasib seperti ayahnya yang pikun. Ia tak menyangkal ejekan itu tapi juga mengingatkan Gyu Man akan nasib Gyu Man, “Kau akan membusuk di sini selamanya.”


“Hei, aku ini adalah Nam Gyu Man,” kata Gyu Man sombong. Tapi Jin Woo hanya tersenyum, mengatakan kalau semuanya sudah terlambat. Nam Gyu Man tak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia beranjak pergi tapi Nam Gyu Man berteriak, “Mau kemana kau?! Aku akan keluar dari sini, apapun yang terjadi jadi jangan lupakan aku.”


Jin Woo menatap Gyu Man yang berdiri dan mengancam, “Kau dapat kehilangan semua ingatanku, tapi jangan pernah lupakan aku. Aku akan kembali untuk membalasmu.”

Jin Woo menatap Gyu Man tenang, “Nam Gyu Man, kau ini benar-benar menyedihkan.” Dan ia pun pergi meninggalkan Nam Gyu Man.


“Kau yang menyedihkan!!” teriak Nam Gyu Man marah, tapi matanya berkaca-kaca.


Jin Woo berterima kasih pada Dong Ho dan mempunyai permintaan. "Jika pada saat itu aku tak bisa ingat padamu, kumohon berpura-puralah tak mengenalku, karena aku memiliki lebih banyak kenangan buruk bersamamu daripada kenangan indah."

Dong Ho termangu mendengarnya, walau ia sangat memahami maksud Jin Woo. Jin Woo juga ingin Dong Ho menepati janji 50 ribu won-nya. 


Gyu Man  memohon pada ayahnya untuk mengeluarkannya dari penjara. Ia percaya ia bisa menyelesaikan semua masalah perusahaan yang hampir kolaps jika ia keluar dari penjara. Tapi ayah tak percaya. Gyu Man berhasil membuat perusahaan, yang dibangun hampir 100 tahun, jatuh dalam semalam dan ia menyesal memilih pewaris seperti Gyu Man. 



Gyu Man mengingatkan ayahnya kalau ia adalah putranya. Tapi Nam Il Ho mengatakan kalau ia memiliki tanggung jawab ribuan orang dan Gyu Man bukan anaknya lagi. Ia meninggalkan Nam Gyu Man yang menangis dan berteriak memanggilnya.


Konsumen melakukan boikot produk Ilho sehingga harga saham jatuh. Pengacara Hong menemui Jaksa Tak dan Dong Ho untuk mencari jalan keluar. Bukan untuk Nam Il Ho melainkan untuknya. Ia bersedia memberikan informasi yang bisa menghancurkan Nam Il Ho dan Grup Ilho untuk selamanya. "Anggap saja aku memberikan kontribusi sosial untuk masyarakat," ujar Pengacara Hong.



Dong Ho membujuk Jaksa Tak untuk menggunakan informasi Pengacara Hong untuk menjebloskan Nam Il Ho ke penjara. Jaksa Tak enggan melakukannya karena Pengacara Hong akan bebas. Tapi Dong Ho meyakinkan Jaksa Tak kalau ia masih memiliki cara lain untuk menjatuhkan Pengacara Hong. Mereka akan tetap menangkap harimau dengan menggunakan serigala. "Dan aku pasti akan menghancurkannya setelah perburuan kita usai."



Maka Jaksa Tak memutuskan menggeledah Nam Il Ho atas dakwaan suap dan kejahatan ekonomi lainnya. Nam Il Ho berteriak marah, tapi di kotak besi, ditemukan tape recorder dan pena kamera serta dokumen lainnya. 



Dong Ho muncul dengan senyum lebar. "Sudah kubilang, kan kalau aku akan menjebloskanmu dan putramu di penjara. Sebentar lagi kau akan menemaninya."



Di dalam selnya, Nam Gyu Man teringat betapa bangganya ia saat ditunjuk menjadi pewaris Grup Ilho. Tapi ia juga teringat ucapan Dong Ho yang mengatakan kalau ayahnya adalah jenis orang membuang jika sudah tak perlu, bahkan jika Gyu Man adalah putranya sendiri. Ucapan itu ternyata menjadi kenyataan. 



Gyu Man menarik kursi dan mengikatkan jaketnya ke jeruji jendela. Matanya berkaca-kaca saat mendekati jaket itu. Dan beberapa saat kemudian, kursi yang diinjak Gyu Man terjatuh, tanpa ada Gyu Man di atasnya.



Nam Il Ho mendapat telepon dari seseorang dan tak dapat menyembunyikan rasa sedihnya saat mendengar kabar tentang kematian putranya. Ia menangis tanpa suara. 



Kabar kematian itu menyebar cepat. Jin Woo merasa tak bahagia mendengarnya. Bersama In Ah, ia memandangi foto Gyu Man yang sekarang sudah ada tanda silangnya.



Nam Il Ho mencoba menghubungi Pengacara Hong. Tapi teleponnya terus dimatikan, karena Pengacara Hong sedang bertemu dengan pengusaha lain untuk mendapat posisi baru. Jaksa Tak datang dan memberikan surat penangkapan. Nam Il Ho resmi ditahan. 



Jaksa Tak memberikan ucapan belasungkawa atas kematian Gyu Man. "Tapi semua ini terjadi karena ambisi Anda yang berlebihan. Saya harap Anda membayar kejahatan Anda, setidaknya demi putra Anda."



Dong Ho dan Jaksa Tak menyaksikan berita tentang Nam Il Ho yang sekarang ditahan dengan menggunakan kursi roda, cara eksklusif para pengusaha jika ditahan. Jaksa Tak merasa lega sekali karena perburuannya selama 10 tahun sudah berakhir. Dong Ho nyengir dan mengingatkan kalau perburuan serigala belum mereka lakukan. 



Jin Woo dan In Ah kembali jalan-jalan di taman. Jin Woo memberitahu kalau ia akan berhenti menjadi pengacara karena tujuannya menjadi pengacara adalah demi ayahnya. Dan lagipula ia ingin beristirahat. Karena semuanya sudah selesai, ia meminta In Ah untuk berhenti mengurusi urusan orang lain.


"Kalau aku tak ikut campur urusan orang, apa mungkin kita akan ketemu?" tanya In Ah lucu. 


Jin Woo ingat saat In Ah memberikan kalung yang tak sengaja ia jatuhkan saat menyaksikan ayahnya. Ia juga ingat saat In Ah tiba-tiba muncul di rumah judi yang akhirnya menyelamatkannya. Jin Woo tersenyum dan berkata kalau mereka benar-benar memiliki kenangan yang indah.


In Ah menggandeng lengan Jin Woo, "Karena itu mulai sekarang kita lakukan apa yang belum sempat kita lakukan. Jalan-jalan, belanja dan nonton film. Kita belum pernah kencan beneran." Jin Woo tersenyum mengiyakan.


Sesampainya di rumah, ibu sedang menunggu dengan makanan kesukaannya. In Ah tersenyum saat ibu bertanya apa In Ah sanggup menghadapi kondisi Jin Woo. In Ah mengiyakan, membuat ibu heran darimana In Ah mendapat sifat keras kepala itu. In Ah menjawab ceria, "Darimana lagi, tentu saja dari Ibu."

Ayah keluar dan senang melihat keduanya ngobrol lagi. Tapi ibu ngomel-ngomel mendengar jawaban In Ah dan masuk kamar. Ayah meyakinkan In Ah kalau ibu mungkin di luar seperti itu tapi sebenarnya tak sungguh-sungguh. 


Pengacara Hong mulai hendak bekerja di perusahaan yang juga memiliki kasus-kasus kotor. Betapa kagetnya ia saat melihat In Ah dan para penyidik membawa surat penangkapan untuknya yang didakwa menerima suap sebesar 1 milyar won saat penyelidikan Grup Ilho, kasus pembunuhan Oh Jung Ah dan kasus Seok Joo Il. 


Pengacara Hong menggertak In Ah, tapi In Ah tak takut. Jaksa Tak telah memberikan semua bukti yang telah dikumpulkan selama ini. Ia bahkan menyebut Pengacara Hong lebih hina daripada Nam Gyu Man dan Nam Il Ho, "Tindakanmu telah mempermalukan profesi jaksa."


Dong Ho bertemu dengan Jin Woo di rumah abu dan tersenyum saat memanggil Jin Woo. Tapi senyumnya hilang saat Jin Woo bertanya polos, "Apa saya mengenal Anda?"


Jin Woo akhirnya ingat. Tapi ingatannya hanya sampai Dong Ho yang baru saja lulus dan menunjukkan piagam pengacaranya di depan abu. 


Dong Ho berusaha keras menahan air matanya agar tidak turun. Ia berkata kalau mereka sering bertemu karena orang tua mereka meninggal di hari yang sama. Dong Ho tak bisa menahan air matanya saat Jin Woo memberitahu kalau ia juga adalah seorang pengacara. 


Sebelum pergi, Jin Woo bertanya apakah Dong Ho tahu apa pujian terbaik bagi seorang pengacara. Dengan suara tercekat, Dong Ho menjawab, "Kumohon belalah aku."


Jin Woo tersenyum dan berkata, "Ucapan itulah yang muncul dari pikiran saya saat melihat Anda." Dan ia berbalik pergi meninggalkan Dong Ho yang menangis tergugu.


Jin Woo memegang dua buah buku. Satu bertuliskan 'Kenangan yang ingin kuingat' dan 'Kenangan yang ingin kulupakan'. Dan ia membakar buku yang terakhir.


Saat In Ah ke kantor Jin Woo, ia mendapati kalau meja Jin Woo sudah kosong. Dan kamar rahasianya juga sudah bersih kecuali boneka monkichi yang memegang cincin milik Jin Woo dan sebuah layar dengan post it bertuliskan 'Untuk In Ah'.


In Ah berkaca-kaca saat melihat Jin Woo muncul di layar, menyapanya. Jin Woo memintanya untuk tak merasa sedih dan terluka. Ia tahu kalau In Ah memang ingin bersama dengannya. "Tapi aku tak bisa membuatmu menderita lebih lama lagi. Aku ingin kau hidup dengan kenangan yang indah. Walau semua kenanganku hilang, aku akan mengingatmu." In Ah menangis tersedu-sedu melihat senyum Jin Woo yang terakhir kali.

1 tahun kemudian



Seok Kyu masih menjadi hakim dan Dong Ho juga menjadi pengacara. Kali ini ia membela seorang nenek yang tak punya apa-apa. Seok Kyu memujinya yang berhasil menyelesaikan kasus itu dan Dong Ho senang sekali. Nenek itu sangat memujanya bahkan ingin mengenalkannya dengan cucu perempuannya.


In Ah muncul dan Seok Kyu bertanya apakah In Ah sudah mendengar kabar dari Jin Woo. In Ah menggeleng. Dong Ho berkata kalau Jin Woo menghilang seperti angin yang berarti ia tak ingin menjadi beban orang lain. In Ah yakin kalau Jin Woo pasti sekarang sedang berbahagia di suatu tempat yang mereka tak ketahui.


Dong Ho ternyata menepati janji 50 ribu won-nya dengan mengambil alih kantor pengacara Jin Woo dan menangani kasus orang-orang lemah dengan tambahan Soo Beom  yang sudah keluar penjara. Mereka sekarang sedang menikmati ubi panggang, bayaran dari nenek yang mereka bela. 


Sang Ho mengeluh kalau Dong Ho selalu mengambil kasus-kasus orang lemah. Rasanya tenggorokannya kering jika mengingat bayaran seuprit yang masuk ke pundi-pundi kantor. Pengacara Song mengatakan kantor mereka sudah cukup menghasilkan dengan ia dan Manajer Yeon (yang juga akhirnya jadi pengacara) bekerja. 


Dong Ho menyadari masalah yang dikemukakan Sang Ho dan menemukan solusinya. "Jika masalah itu terjadi, kita tinggal buka kaleng soda saja." Hahaha.. semua tertawa mendengarnya.


In Ah terkejut ketika pergi ke pohon kenangan. Ia melihat Jin Woo sedang menggantungkan sebuah pesan di pohon itu Betapa senangnya ia ketika melihat Jin Woo berbalik dan menatapnya.


Tapi senyumnya hilang saat Jin Woo berjalan melewatinya. Ia segera memanggil Jin Woo tapi tak bisa berkata apapun. Hanya matanya yang berkaca-kaca.


Jin Woo berkata kalau mungkin mereka dulu pernah bertemu, tapi In Ah akhirnya berkata kalau ia salah orang. Jin Woo pun mengangguk dan berbalik pergi.


In Ah menngambil pesan yang berisi tulisan Jin Woo dan membacanya. Aku yakin sebagian kenangan yang kulupakan adalah saat bersamamu. Kumohon simpanlah kenangan itu selamanya. Aku akan selalu mendoakanmu untuk terus berbahagia dimanampun kau berada.



In Ah buru-buru mengejar Jin Woo dan memanggilnya. Ia mengeluarkan kalung bercincin milik Jin Woo dan bertanya apa Jin Woo mengingat kalung itu. Jin Woo menggeleng. Ia tak mengingatnya. 


Jin Woo berbalik pergi. In Ah mengikutinya dengan senyum tapi ingin menangis. Dan kita mendengar suara Jin Woo yang berkata, Aku adalah pengacara yang bisa mengingat semuanya. Itu adalah kelebihanku, juga kekuranganku. Karena ingatan itu, aku bahagia sekaligus juga sedih. 


Kita akhirnya melihat lanjutan video Jin Woo yang sekarang ditonton oleh Dong Ho cs. Aku tak akan pernah lupa apa yang pernah kita lewati bersama. Terima kasih banyak atas semua kenangan ini.


Jin Woo tersenyum dan memandang langit, bersyukur. Walau kenangan itu hilang, kenyataan kalau aku ada itu tak pernah hilang. Dan ia berjalan dengan In Ah berjalan mengikutinya sambil tersenyum.

Komentar :

Ahh.. akhir yang open ending. Open ending yang sulit diraba apa yang akan terjadi berikutnya.


Kira-kira apa ya yang dilakukan In Ah? Apa ia membiarkan Jin Woo pergi? Entahlah, sepertinya itu bukan tipikal In Ah. In Ah itu keras kepala, seperti yang diucapkan Ibu kepadanya. Saya rasa In Ah akan mengikuti Jin Woo hingga ia mengetahui kemana Jin Woo tinggal.

Apakah Jin Woo tinggal di sebuah panti, yang bisa mengurus semua yang ia butuhkan? Jin Woo pintar dan tentunya mengumpulkan cukup uang. Ia pasti sudah punya cara agar ia bisa hidup sendiri tanpa orang-orang di masa lalunya. 

Yang dihadapi In Ah bukanlah cerita-cerita kebanyakan drama korea yang mengalami amnesia, dimana ia bisa berharap ingatan yang hilang itu akan kembali. Jika amnesia adalah hilang sementara, alzheimer adalah hilang semuanya.

Saya jadi teringat pada ucapan Choco di Nice Guy yang berkata jika kenangan itu hilang, maka buat saja yang baru. Tapi itulah sedihnya jika Alzheimer. Yang kemarin terjadi saja juga bisa lupa. In Ah harus berusaha keras sepanjang hidupnya untuk mengingatkan Jin Woo, hingga di satu titik perjuangan itu akan habis. Bukan di saat maut memisahkan, tapi saat otak Jin Woo menghapus semua ingatan di otaknya.

Jin Woo memahami hal itu. Ia menyadarinya. Ia tak akan merasakan patah hati karena ingat saja tidak. Maka ia memilih untuk menghilang dari semua orang yang ia kenal, semua orang yang ia cintai.

Tapi sanggupkah In Ah melepaskan Jin Woo? Saya berharap setelah ini muncul sosok lain yang bisa menggantikan Jin Woo, yang membuat In Ah menerima Jin Woo sebagai teman, sahabat dan bukan orang tercinta.


Siapa yang merasa kasihan pada Nam Gyu Man? Walau cara bunuh diri dengan mengikat jaket itu kelihatan mustahil, tapi ya sudahlah.. Mungkin kepala Nam Gyu Man cukup kecil hingga bisa bunuh diri dengan cara seperti itu.

Nam Gyu Man memiliki gangguan mental yang harusnya bisa diterapi sejak dini, bukan hanya dengan obat-obatan, tapi kesadaran dalam diri Nam Gyu Man. Tapi memang susah sih jika lingkungan juga tidak mendukungnya. Apalagi punya ayah yang super penuntut dan menganggap dirinya adalah hukum. Yang dilihat Nam Gyu Man itu ya yang akan ia contoh. Digabung dengan gangguan mentalnya, cocok deh..

Entah kenapa, dua episode terakhir ini malah tak membuat saya benci pada Nam Gyu Man. Saya malah cekikikan nonton episode 19. Gak sabar rasanya nungguin Nam Gong Min jadi pemeran utama di drama romcom, karena dua peran jahat di dua drama terakhirnya itu ngena banget. Kalau dia senyum, mungkin gak ya saya malah kepikiran dia punya pikiran evil? Hahaha.. kayaknya patut dicoba, deh..

Terima kasih ya Lilik dan Putri yang mau ngerecap bareng saya.. Terima kasih juga ya untuk readers yang masih sabar nungguin recap ini. Love you.. muah..

1 comment :

  1. Finally...
    thank you mbak deee
    In ah nanti ketemu healer lagi kok kalo healernya udah dari china :p

    ReplyDelete