April 11, 2016

Page Turner Episode 3 - 1

Episode 3 : Mari Kita Semua Menyanyikan Lagu Sukacita


Kita akhirnya bertemu dengan Hyun Myung Sae yang saat ini tinggal di Eropa. Ia sedang bermusik dengan konsentrasi tinggi hingga tak mendengar asistennya mengetuk pintu bahkan menepuk bahunya.


Si asisten muncul untuk memberikan surat-surat, yang menurut si asisten adalah dari fans-fansnya. Hyung Myung Sae menerima surat-surat itu dan saat menemukan surat beramplop biru, ia terlihat gembira bahkan bersemangat untuk membuka surat itu, membuat si asisten heran. Sebenarnya surat itu dari siapa?

“Dari anakku yang di Korea,” jawab Myung Sae ceria. Ia tak tahu sebelumnya kalau ia punya anak, tapi ternyata ia punya. Myung Sae membuka surat yang isinya juga tak kalah bersemangat dan ceria. Ayah, aku memutuskan untuk mengikuti Kompetisi Piano Duet. Myung Sae memberitahu si asisten, “Mustahil bisa,” dan melanjutkan membaca.



Semua orang memberitahu kalau hal itu mustahil terjadi, tapi aku akan membuatnya terjadi. Apa Ayah ingat akan Yoo Seul yang aku ceritakan di surat sebelumnya? Kami akan mengikuti kompetisi itu bersama.


Dan sama seperti kita yang terpana pada kemahiran Cha Sik, Yoo Seul pun juga terkesima dan menyetujui permintaan Cha Sik ikut kompetisi duet itu. Cha Sik berseru kegirangan karena akhirnya Yoo Seul mengakui kemampuannya dan yakin kalau ia bisa ikut kompetisi itu. “Menurutmu berapa persen kemungkinannya?”

“Mungkin 0,00001%?”


“Hei, kalau begitu kenapa kau setuju untuk berduet denganku?” tanya Cha Sik sedikit kesal, dan Yoo Seul tersenyum mendengar nada merajuk itu.


Tapi segitulah kemungkinan yang juga dimiliki Yoo Seul untuk bisa memenangkan kompetisi itu dengan kondisi matanya sekarang. “Jadi aku memutuskan untuk bertaruh. Jika kita bisa memenangkan kompetisi dengan mengalahkan kemustahilan, aku akan percaya pada angka itu..,” walau matanya menatap kosong, tapi terlihat bersemangat, “.. dan mulai dari awal lagi.

“Kau akan mau main piano lagi?”

“Kalau kita memenangkan kompetisi itu,” jawab Yoo Seul dan mengingatkan agar Cha Sik tak terlalu bersemangat.

Tapi Cha Sik malah lebih bersemangat lagi dan berjanji akan bekerja dengan keras. “Aku akan membuatnya terjadi apapun yang terjadi, hanya demi dirimu. Ayo kita lakukan!!”

Yoo Seul tak mau bekerja terlalu keras, karena ia tak yakin mereka bisa lolos kompetisi ini. Maka ia hanya akan mengajari Cha Sik tekhnik dasarnya saja.


Posisi tangan paling sederhana adalah tangan melengkung seperti menggenggam telur. Maka tangan Cha Sik pun meniru gerakan menggenggam telur. Tapi malah diomelin Yoo Seul karena teknik itu untuk anak kecil. “Tanganmu itu sudah terlalu besar untuk melengkung seukuran telur,” kata Yoo Seul sambil menaruh tangan Cha Sik di atas tangannya yang terkepal, mengisyaratkan untuk menggenggam kepalan tangannya. "Kalau umur segini, tanganmu harus melengkung seukuran ini."


Cha Sik pun melatih jarinya dengan latihan appergio (not-not dalam satu chord yang dimainkan satu per satu). Mulanya Yoo Seul memberinya pujian. “Untuk pemula sudah bagus. Asal jangan angkat pergelangan tanganmu saat menggerakkan jarimu.“ Cha Sik senang dipuji dan berlatih lagi. Yoo Seul mengingatkan, “Pergelangan tangan,” dan Cha Sik mengulang appergio-nya. Kesalahan Cha Sik terulang lagi dan Yoo Seul mulai hilang kesabaran. “Sudah kubilang jangan angkat pergelangan tanganmu!!”

“Aku tak mengangkatnya kok,” jawab Ji Soo polos.

“Jangan bohong! Kau mengangkatnya saat berubah dari 3 ke 1!” bentak Yoo Seul.


Ji Soo ternganga, heran Yoo Seul bisa mengetahuinya. Apa Yoo Seul yakin kalau dia buta? “Akhhhhh!!!” jerit Ji Soo karena Yoo Seul mencubitnya keras-keras.


Jika aku tak melakukannya, dia akan berteriak dan mencubitku. Katanya dia tak mau bekerja keras karena yakin kami tak lolos tapi begitu saja sudah sangat menyeramkan.


Hari sudah malam dan bahkan si pedagang di samping menaruh heater di bawah kursi piano. Cha Sik bertanya bagaimana kemampuannya, apakah sudah lebih baik. Yoo Seul menghela nafas dan berkata kalau kemampuan Cha Sik bertambah sebanyak setetes air dalam baskom.


“Benarkah? Seberapa besar baskomnya?”

“Maksudku kau tak banyak kemajuan!!” jerit Yoo Seul, sampai membuat si pedagang itu menoleh pada mereka.

Dia gampang marah dan sering menjerit.


Hari berganti dan mereka terus berlatih. Dan Yoo Seul masih terus memarahi dan menghinanya. ”Apa pergelangan tanganmu kesleo?” “Whoaa.. aku kagum padamu. Bagaimana mungkin kau malah semakin buruk? Apa rahasiamu?” “Tanganmu itu adalah tangan yang paling tak berguna yang pernah kukenal.”


Dan kesabaran Cha Sik habis saat ia tak bisa thrill (menekan dua tuts bergantian dengan dua jari secara cepat) dan Yoo Seul semakin menghinanya. Ia berdiri dan membentak, “Hei! Kalau aku bisa melakukannya, ngapain aku belajar darimu?! Sudah lupakan saja!”


Cha Sik pergi meninggalkan Yoo Seul, bahkan meninju tiang rambu. Tapi setelah kesakitan, kemarahannya reda dan ia mulai menyesal. Dan sekarang ia bingung bagaimana berbaikan dengan Yoo Seul. Ia melihat orang yang berjualan balon yang salah satunya berbentuk hati.


Sementara Yoo Seul langsung pergi meninggalkan piano itu tapi sambil terus marah-marah. Bahkan ia tanya arah ke orang yang lewat saja juga dengan nada emosi. Untung orang yang ditanyai itu tak ngomel dan menjawab baik-baik. 


Tetap saja Yoo Seul masih emosi dan menyumpahi Cha Sik. “Lihat saja, kalau aku mendengar kata-katanya lagi yang mengajak ikut kompetisi, aku akan steples bibirnya.” Hahaha..


Karena berjalan tergesa-gesa, tongkatnya terperosok ke lobang got . Yoo Seul hampir saja terjerembab jika lengannya tak ditarik oleh seseorang. Ia tersadar dan berkata pada orang itu, “TERIMAKASIHH!!!”


Terdengar suara cempreng, “Ini aku, Cha Sik.”


Hahaha.. ternyata Cha Sik membeli beberapa balon, untuk dihisap heliumnya sehingga suaranya jadi cempreng. Cha Sik berlutut dan minta maaf karena telah membentak Yoo Seul dan berjanji tak akan mengulangi kesalahannya lagi.


Sekuat tenaga Yoo Seul menjaga wajahnya agar tetap marah. Tapi sangat sulit, apalagi Cha Sik menghirup helium lagi dan bernyanyi dengan suara Chipmunk. Tak tahan, akhirnya Yoo Seul tertawa terbahak-bahak mendengar nyanyian Cha Sik.


Wajah Yoo Seul yang tertawa itu ternyata lebih cantik dari yang pernah kubayangkan. Senyumnya sangat indah. Tapi kenapa ia selalu menjaga wajahnya hingga tetap kaku? Aku tak sabar untuk bisa bermain dengan Yoo Seul di panggung. Aku ingin tahu bagaimana wajahnya setelah kami selesai perform.


Dan surat itu berhasil membuat Hyung Myung Sae memutuskan kembali ke Korea untuk melihat kompetisi piano duet itu. Ia semakin penasaran tentang putranya itu.


Yoo Seul dan Cha Sik berhasil memainkan lagu dan mereka memainkan dengan gembira. Mereka tak menyadari kalau ibu Yoo Seul melihat permainan itu dari kejauhan.


Jin Mok memutuskan untuk tak ikut kompetisi, beralasan kalau ia sedang melakukan sesuatu untuk mencari pengalaman lain. Yoo Seul heran mendengar hal itu tapi tak mengatakan apapun.


Pulang sekolah, Yoo Seul menunggu di luar, padahal sedang turun salju. Karena tak membawa payung, Yoo Seul memakai buku yang lebar agar tak kena salju. Haha.. bisa ya, berdiri selama itu dengan buku tetap ada di atas kepala.


Melihat posisi Yoo Seul, Jin Mook bertanya apa yang sedang Yoo Seul lakukan. Yoo Seul menjawab, “Kan salju turun. Akhir-akhir ini saljunya berasam. Aku tak mau jadi botak karenanya.” Jin Mok mengomentari kalau posisi Yoo Seul itu mengundang banyak komentar karena banyak orang yang lalu lalang. Yoo Seul menjawab santai, “Tak masalah. Karena aku tak bisa melihat, jadi hal itu tak memalukanku.”


Diam-diam Jin Mok mengulurkan payungnya dan bertanya apa Yoo Seul serius duet dengan si ulat. “Akan mamalukan jika kau mempermalukan dirimu sendiri.”


“Kan sudah kubilang, karena aku tak bisa melihat, tak ada yang bisa membuatku malu. Lagipula aku tak akan mempermalukan diriku karena Cha Sik menjadi lebih baik hanya dalam hitungan menit. Aku bahkan mulai percaya kalau ia adalah anak Hyun Myung Sae.”


Cha Sik yang baru saja datang mendengar hal itu dan sangat girang sekali. Apalagi Yoo Seul berkata kalau ia tahu tentang taruhan Jin Mok dengan dirinya dan yakin kalau Cha Siklah yang akan menang. “Kaulah yang seharusnya takut karena akan dipermalukan.”

Cha Sik menghampiri mereka dengan riang. Karena Jin Mok langsung menarik payungnya, ia ganti memayungi Yoo Seul dan mengambil buku lebar itu. Yoo Seul langsung mengajak dirinya pergi.


Ia terus memayungi Yoo Seul tapi tak tahan untuk berkomentar riang. “Jadi ternyata bukan hanya aku yang merasakan kalau perkembanganku itu seperti mukjizat. Mungkin ini alasan orang menyebutku seorang jenius.”


Yoo Seul tak menanggapi malah bertanya apa ada orang di sekitar mereka. Saat dijawab tak ada, Yoo Seul meraba jaket Cha Sik, membuat Cha Sik tersipu malu dan bertanya apa yang Yoo Seul lakukan.


Tangan Yoo Seul merayap hingga di kerah jaket Cha Sik, dan kemudian menariknya keras. Suaranya tak kalah kerasnya, “Perjalananmu masih panjang!! Dengan kemampuanmu yang sekarang, aku yakin kita akan mempermalukan diri kita sendiri! Aku tak ingin dipermalukan, terutama di depan Jin Mok.”


“Apa kau mengancamku?” tanya Cha Suk gugup. Tidak. Yoo Seul tak mengancam, ia sekarang sedang memohon. Cha Sik meminta Yoo Seul untuk tak khawatir, ia tak akan mempermalukan Yoo Seul karena ia sendiri juga tak ingin malu di depan Jin Mok. Yoo Seul menjadi lebih tenang.


Cha Sik mengajak Yoo Seul untuk berlatih lebih giat lagi dan langsung ditanggapi Yoo Seul dengan semangat. Ia mengajak Cha Sik untuk latihan jam 10 malam nanti karena saat itu ruang latihan sudah sepi.


Cha Sik menyetujui dan mengepalkan tangan untuk tos dengan kepalan tangan Yoo Seul. Yoo Seul membalas tos itu dengan semangat. Diam-diam Cha Sik mengaduh karena kepalan tangan itu memukul perutnya. Hahaha..


Malamnya, Cha Sik menunggu agak jauh dari rumah Yoo Seul. Melihat ibu Yoo Seul keluar rumah, ia langsung bersembunyi ke atas gerobak barang..


.. yang karena dinaiki Cha Sik, menggelinding turun dan berhenti tepat di depan ibu Yoo Seul. Hahaha.. priceless liat wajah kedua orang ini.


Cha Sik buru-buru turun dan berkata kalau ia datang untuk menjemput Yoo Seul dan mereka akan melakukan hal yang menyehatkan. Masih sibuk menempel, Ibu Yoo Seul menjawab kalau ia tak bertanya apapun (jadi Cha Sik tak usah sibuk cari alasan). Cha Sik pun diam dan bertanya sama seperti sebelumnya. “Bagaimana penampilan saya hari ini? Apa saya masih kelihatan seperti preman keliling?”


Ibu menoleh dan melihat Cha Sik yang bergaya bak model, ia menjawab, “Tidak. Sekrang kau kelihatan seperti pencuri yang mau lompat pagar.” Cha Sik bengong. Apa maksudnya? “Kau kelihatan murahan dan tak pantas.”


Cha Sik cemberut mendengar jawaban itu tapi kembali bingung mendengar pertanyaan selanjutnya. Apa rahasia Cha Sik? Ibu Yoo Seul menjelaskan pertanyaan itu, “Yoo Seul tak pernah bermain piano dengan tersenyum. Tapi ketika bermain denganmu, aku bisa melihat senyumnya.”

Cha Sik kaget, kok bisa Ibu Yoo Seul tahu? Ibu menjawab karena ia adalah ibunya Yoo Seul.


Pintu terbuka dan Yoo Seul keluar dengan mengendap-endap sambil berbisik, “Cha Sik-ah, kau sudah datang?” Ha. Cha Sik melirik ibu Yoo Seul dan mengiyakan. Tapi Yoo Seul menyuruhnya pelan sedikit. “Suaramu nanti bisa membangunkan ibuku.”


Cha Sik melirik si ibu lagi dan bertanya dengan suara lebih pelan apa tak sebaiknya Yoo Seul memberitahu ibunya kalau ia main piano lagi? Cha Sik merasa kalau ibu Yoo seul akan merasa senang. Tapi Yoo Seul menolak usul itu. Ia tak ingin ibunya jadi berharap dan ia akan merasa tertekan lagi.


Cha Sik mencoba menyanggah pendapat itu, tapi Ibu menggeleng dan mengisyaratkan agar mereka segera berangkat.  Cha Sik mengerti dan menuntun Yoo Seul pergi walau sesekali masih menoleh khawatir pada Ibu Yoo Seul.

Wajah ibu terlihat sedih dan masuk rumah. Kemudian kita melihat kertas apa yang tadi ditempel olehnya. Iklan tentang penualan piano yang ia miliki.


Jin Mok masih latihan piano di sekolah. Tapi lagunya tak selesai karena ia pun juga merasa bosan mendengar lagu yang ia mainkan. Dari kejauhan ia mendengar suara keras Cha Sik, maka ia pun buru-buru sembunyi.


Cha Sik dan Yoo Seul sedang membicarakan bagian lagu yang menurut Cha Sik paling favorit tapi paling sulit dilakukan karena ia belum mendapat feel-nya. Yoo Seul memaksa Cha Sik untuk segera mendapatnya feel itu karena jika Cha Sik kacau di bagian itu, maka seluruh lagunya akan menjadi kacau.


Tak menyadari kalau di ruangan itu masih ada orang, Yoo Seul mulai menjelaskan perasaan apa yang harus didapat. Ia pun mendapat ide. “Hey, Cha Sik, kita sekarang ada di arena.” Cha Sik menoleh sekitar dan menjawab kalau mereka ada di ruang latihan. Yoo Seul langsung membentak, “Bukan! Bayangkan!!”


Haha.. Cha Sik kaget dengan amukan Yoo Seul yang mendadak. Tapi ia mengerti dan memejamkan mata, mulai membayangkan seperti yang diminta. Yoo Seul menggambarkan perasaan yang harus Cha Sik miliki adalah perasaan saat akan melompat palang yang tinggi sekali. Ragu tapi tiba-tiba perasaannya menjadi tenang saat ia sudah memegang tongkat.


Yoo Seul mendeskrikpsikan perasaan itu sambil memainkan lagu. Dari perasaan tenang namun yakin di pianissimo (pelan dan lembut), dan akhirnya saat berlari Cha Sik melakukannya secara crescendo (semakin lama semakin keras) dan kemudian melompat dalam fortissimo (paling kuat dan nyaring).


“Dan pada saat itu kau berhasil melompatinya!” kata Yoo Seul sambil terus memainkan lagu itu hingga klimaks yang mencengangkan. Cha Sik terpana melihat permainan piano Yoo Seul. “Bagaimana.. apa kau pikir kau bisa melakukannya?” tanya Yoo Seul.

Cha Sik yakin bisa tapi tidak sekarang. Ia bertanya seberapa cepat ia harus memainkan temponya. Yoo Seul menjawab 135 bpm (beat per minute).


Maka Cha Sik pun berlatih dengan metronome yang diset 135 bpm. Ia mencoba melatih dengan perasaan yang dicontohkan Yoo Seul. Tapi tangannya masih kurang lincah dan terlalu pelan hingga tak sinkron dengan ketukan metronome. Ia frustasi, bagaimana caranya meningkatkan tangannya hingga bisa sampai 135 bpm?


“Lupakan saja, kau tak mungkin bisa melakukannya,” terdengar suara di belakang, membuat Cha Sik berteriak kaget. Ternyata suara itu milik Jin Moo yang berkata kalau permainan Cha Sik sangat buruk sehingga Cha Sik tak mungkin lolos babak kualifikasi walau latihan setengah mampus.


Cha Sik minta Jin Moo untuk menghinanya terus. Jin Moo heran mendengar permintaan si ulat ini. Tapi Cha Sik berkata ia bukanlah ulat karena teman-temannya menyebutnya Banteng Ngamuk. “Karena aku akan menggila saat orang merendahkan aku. Darahku akan menggelegak dan aku punay tenaga dari rasa marahku itu. Karena itulah aku berhasil memecahkan rekor nasional. Jadi hinalah aku hingga aku marah dan bisa membuat 135 bpm.”


Jin Moo bertanya apa Cha Sik yakin memiliki bakat bermusik? Cha Sik merasa yakin. Tapi Jin Moo punya pendapat lain. “Begitulah awalnya bagi semua orang dan mereka kemudian menyadari kalau bakat mereka ternyata biasa-biasa saja. Setelah itu mereka mulai bertanya-tanya apa mereka harus melanjutkannya,” Jin Moo menatap nanar piano di depannya. “Dan mereka mulai cemas karena akan menjadi bukan siapa-siapa.”


Cha Sik malah mengomeli hinaan Jin Mok yang terlalu lemah. “Hinaanmu itu seperti bonnet (kap mobil).” Jin Mok bengong dan menjawab, “Bukan bonnet tapi hornet(sengatan)!! Bonnet itu adalah kap mobil sedang hornet itu sengatan serangga. Apa kau tak tahu bedanya?”

“Bonnet dan Hornet itu sama. Kenapa kau suka pilah pilih?!” tanya Cha Sik kesal. "Kau kan bukan ahli serangga seperti Pastre!”


“Namanya Fabre, bukan Pastre!”

“Sama saja,” sergah Cha Sik. “Dan aku tidak bodoh!!” LOL.


Ibu Cha Sik berjalan melewati rumah yang ada tulisan Les Piano Yoo Seul. Ia sadar kalau rumah ini pasti rumah Yoo Seul yang sering diceritakan Cha Sik dan ia membaca iklan jual piano. Setelah beberapa kali mengetuk tak ada jawanan, ia masuk ke dalam rumah. Di sana ia mendapat ibu Yoo Seul sedang minum-minum.

Ia menyapa dan mengatakan keinginannya untuk membeli sebuah piano. Ibu Yoo Seul menunjuk sebuah piano yang menurutnya paling bagus walau harganya lebih mahal. Ibu Cha Sik tak mempermasalahkan hal itu karena ia akan mengambil uang tabungan pensiunnya untuk membeli piano itu. “Daripada uang itu kuinvestasikan, lebih baik aku menginvestasikan pada anakku. Ia berjanji jika sukses nanti akan membelikanku sebuah gedung. Jadi aku akan mempertaruhkan semuanya yang kumiliki pada anakku.”


Ibu Yoo Seul memuji anak nyonya itu yang sangat baik. Tapi ia memiliki saran, “Jangan mempertaruhkan hidupmu pada anakmu yang sangat baik itu.” Ia meneguk soju lagi dan berkata, “Aku sudah pernah melakukannya. Dan itu seperti memercikan air pada anakmu yang sedang memakai selimut.”


Seiring dengan Cha Sik yang terus berlatih dan gagal dan berlatih lagi dan gagal lagi, kita mendengar suara Ibu Yoo Seul. “Karena khawatir anakku akan mengalami kesulitan, jadi aku menyimpan air yang harusnya kuminum untuk dipercikkan ke anakku (agar terasa segar). Tapi lama-lama, air yang terpercik diserap selimut sehingga selimut itu menjadi berat.


Pasti akan terasa berat untuknya untuk membawa semua beban di pundaknya yang kecil. Tapi aku tak mengetahui hal ini dan terus memercikkan air padanya. Selimut yang tadinya nyaman dan lembut mungkin sekarang menjadi mengesalkan.”

Cha Sik nampak frustasi tapi ia mengambil handphone dan memandang foto ayah ibunya.


“Saat si Ibu kehausan, sang anak kelelahan memanggul beratnya selimut,” ujar Ibu Yoo Seul sedih. Dan ia menatap Ibu Cha Sik, “Aku akan memberikan piano ini secara gratis, tapi jangan tarik uang tabunganmu dan jangan mempertaruhkan hidupmu padanya. Ia bisa mati karena tertekan. Anak kita memang penuh harapan, tapi kita, para ibu, tak seharusnya menjadikannya menjadi sebuah mimpi buruk.”


Ucapan itu membuat Ibu bertanya pada Cha Sik, seberapa cepat tangan Cha Sik sekarang. Cha Sik menjawab kalau ia sudah mampu hingga 95 bpm walau usahanya masih jauh dari 135 bpm. Ibu mengangguk dan tiba-tiba berkata kalau ia sekarang tak ingin punya gedung karena ia merasa seperti merampok uang dari para penyewanya. Ia ingin mengikuti lomba menulis dan menjadi penulis.

Cha Sik menjawab bersemangat, “Boleh. Nanti aku akan bantu Ibu untuk bisa menerbitkan buku dan mengadakan pesta untuk launching buku di hotel.” Ibu tersenyum, tapi kali ini tak selepas biasanya.


Para murid mulai mengagumi kemampuan Cha Sik yang, walau hanya memainkan satu lagu saja, tapi sangat pesat kemajuannya, hingga mungkin saja Jin Mok bisa kalah taruhan.


Jin Mok mendengarkan omongan mereka dan memperhatikan permainan Yoo Seul dan Cha Sik. Lagu yang dimainkan sekarang sudah masuk ke bagian yang sulit. Dari pianissimo, nantinya akan crescendo hingga fortissimo. Dari perasaan ragu, tenang kemudian yakin hingga mencapai klimaks keberhasilan.


Tapi Cha Sik berhenti saat pianissimo. Keraguan yang harusnya hanya muncul di awal saja masih tetap ia rasakan. Ia berhenti dan membiarkan Yoo Seul terus bermain.


Yoo Seul akhirnya sadar dan bertanya mengapa Cha Sik berhenti. Cha sik pura-pura baru saja menerima SMS dari ibunya, menyuruhnya untuk segera pulang. Ia pun pulang duluan dan berjanji akan menjemput Yoo Seul esok pagi.


Jin Mok terkejut melihat Cha Sik berjalan keluar ruangan. Ia buru-buru memperbaiki posisi lukisan yang baik-baik saja. Tapi Cha Sik malah memanggilnya dan minta bantuannya. “Buat aku marah atau ajarilah aku. Apapun boleh kau lakukan. Aku harus memenangkan kompetisi ini.”


Jin Mok berhenti berpura-pura menjadi OB. “Kenapa juga aku menolongmu. Apa kau tak ingat taruhan kita?”

“Yoo Seul berkata kalau kami memenangkan kompetisi ini, ia akan melanjutkan bermain piano.”

“Kalau kalian tak menang?”

“Ia akan menyerah dan tak akan main lagi.” Jin Mok tersentak mendengar hal itu. Cha Sik melihat perubahan ekspresi wajah Jin Mok dan bertanya, “Kau juga tak menginginkan hal itu, kan?”


Jin Mok langsung memasang wajah cuek. “Kenapa juga aku tak pingin? Kami ini musuh dan ia selalu mencari cara untuk mengalahkanku. Aku lebih suka melihatnya berhenti.”


Tapi Cha Sik tak percaya. Ia menarik tangan Jin Mok yang masih diplester, “Kudengar kau memukuli anak yang mencoba memotret Yoo Seul ganti baju. Pianis gila mana yang memutuskan untuk memukuli seseorang demi musuhnya hingga menyebabkan tangannya terluka?”



Jin Mok tak punya jawabannya dan memilih pergi. Cha Sik menghela nafas frustasi.

Komentar:

Kalau drama ini diperpanjang hingga 16 episode, mungkin akan ada Team Cha Sik dan Team Jin Mok. Dan saya sendiri tak tahu harus pilih siapa untuk Yoo Seul.

Dengan adanya Cha Sik, Yoo Seul bisa tersenyum dan menemukan dirinya yang hilang. Tapi Jin Mok pun punya cara sendiri untuk melindungi Yoo Seul. Rasanya meleleh melihat Jin Mok diam-diam memayungi Yoo Seul sambil terus bercakap-cakap seperti biasa.

Memang sih kalau menilik semua interaksinya, bersama Cha Sik, Yoo Seul akan bisa menjadi Yoo Seul yang lebih ceria. Tapi tetap saja, kok kayaknya dengan Jin Mok pun tidak masalah.

Hmm.. apa ini karena efek Kim So Hyun-nya, ya? Sepertinya Kim So Hyun punya chemistry jika berakting dengan siapa saja. 

3 comments :

  1. Nona Kim satu ini di couple-in ma aktor
    Emang selalu dapet chemistri yang oke punya

    *eww keren juga tuh^^
    * Cha Sik ditulis Ji Soo^^
    * nunggu part final juga nih^^
    * Mau DL masih gagal mulu seh^(^

    ReplyDelete
  2. mba lanjut bagian duanya. semangat!

    ReplyDelete
  3. mb tau apa judul lagu yg di nyanyi in cha sik waktu nge bujuk yoo seul biar gak marah lagi??? itu yg suaranya cempreng?? ada yg tau???

    ReplyDelete