April 5, 2016

Marriage Contract episode 9 - 2


Ji Hoon membeli tisu basah untuk menghapus coretan di wajah Hye Soo yang terus bersikeras mau membersihkannya sendiri tapi Ji Hoon juga terus bersikeras menyuruhnya diam saja. Tisu basah tidak berhasil juga, Ji Hoon langsung menjilat jempolnya. hahaha! Hye Soo langsung protes "Jorok, tahu!"




Dalam perjalanan kembali, Ji Hoon masih ingin terus berlama-lama bersama Hye Soo dengan memprotes snack yang Hye Soo beli cuma sedikit. Tapi Hye Soo malah mengira kalau Ji Hoon suka snack dan mau kembali ke toko untuk membeli lebih banyak. Tapi Ji Hoon cepat-cepat melarangnya sambil protes kalau dia bukan anak kecil yang suka snack. Tapi dia masih terus ingin memperlama kebersamaan mereka dengan menyuruh Hye Soo untuk tidak berjalan terlalu cepat.

Hye Soo bercerita bagaimana dulu dia juga berasal dari kampung halaman pinggir laut seperti tempat ini. Dan saat masih SMA dulu, dia seorang atlit, lebih tepatnya atlit lari. Saat Ji Hoon tidak mempercayainya, Hye Soo langsung menantangnya lomba lari ke pantai, yang menang boleh menyentil dahi yang kalah.


Ji Hoon pura-pura meremehkannya tapi malah lari duluan. Mereka bukan cuma lomba berdua, seekor anjing juga ikut-ikutan lari mengejar mereka. Ji Hoon menang tapi saat Hye Soo masih kuat berlarian mondar-mandir, Ji Hoon sudah kelelahan dan langsung terduduk di pasir.


Hye Soo menawarkan uluran tangannya. Tapi Ji Hoon malah menarik Hye Soo duduk di sampingnya. Mereka duduk berdampingan di sana selama beberapa saat sambil melihat matahari senja.


Saat mereka mengalihkan pandangan mereka pada satu sama lain, suasana diantara mereka mulai berubah intens. Ji Hoon mencondongkan tubuhnya.


Tapi Hye Soo cepat-cepat memalingkan wajahnya dan mengingatkan Ji Hoon bahwa mereka harus kembali sekarang karena Eun Sung dan Mi Ran mungkin sudah menunggu lama.


Saat mereka kembali ke penginapan, mereka mendapati Mi Ran dan Hye Soo sedang bermain kuda-kudaan. Dan lucunya lagi, wajah Mi Ran sekarang juga bergambar kumis kucing.


Hye Soo panik dan langsung cepat-cepat menurunkan Eun Sung dari punggung Mi Ran. Tapi Mi Ran langsung protes karena dia sendiri yang mengusulkan permainan ini. Hubungan Eun Sung dan Mi Ran tampaknya sudah berkembang pesat selama mereka pergi. Hye Soo terharu melihat kedekatan mereka.


Oppa Mi Ran tak sengaja lewat dan keheranan melihat mereka.


Eun Sung memotreti Mi Ran setelah mereka makan malam. Saat ahjumma datang, Ji Hoon memintanya untuk memotret mereka sekeluarga. Ahjumma melakukannya dengan senang hati tapi Mi Ran dan Hye Soo tidak mau tersenyum, Ji Hoon sampai harus merecoki mereka untuk tersenyum sampai mereka semua tersenyum lebar pada kamera.


Tapi setelah itu, Mi Ran langsung pergi. Ji Hoon menyusulnya sementara Hye Soo menidurkan Eun Sung. Tak lama kemudian, Hye Soo tiba-tiba mendengar suara Ji Hoon memanggilnya. Tapi saat Hye Soo membuka pintu, Ji Hoon agak canggung padanya. Dia menawari Hye Soo bir tapi Hye Soo menolaknya.


Dia lalu memperlihatkan foto keluarga mereka tadi. Tapi tepat saat itu juga, Na Yeon menelepon. Ji Hoon keluar untuk mengangkat teleponnya dan Hye Soo menutup kembali pintu kamarnya.


Na Yeon mengaku bahwa dia sudah mendengar semuanya dari Sung Kook tentang keadaan ibunya dan hubungannya dengan Hye Soo lalu bertanya apakah Ji Hoon pergi sendirian.


Belum sempat menjawab, ahjumma tiba-tiba muncul dan bertanya "Apakah putrimu sudah tidur? Ini rumput laut goreng. Tolong berikan ini pada putrimu"

Na Yeon tentu saja mendengarnya dan Ji Hoon cepat-cepat menyudahi percakapan mereka.


Saat tengah meninabobokan Eun Sung, tangannya Hye Soo tiba-tiba gemetaran lagi. Eun Sung terbangun karenanya, tapi Hye Soo cepat-cepat menidurkannya lagi sambil berkata berulang kali "Tidak apa-apa, segalanya akan baik-baik saja" (Hmm... sepertinya kata-kata itu lebih ditujukan untuk menyemangati dirinya sendiri)


Saat Ji Hoon kembali ke kamarnya, Mi Ran memintanya untuk berhenti sekarang. Dia sangat berterima kasih padanya dan Hye Soo, dia berterima kasih atas foto keluarga yang mereka ambil tadi. Tapi perasaannya tetap tidak akan berubah. Kali ini, dia benar-benar menyadari betapa lucunya hidupnya selama ini. Dia berhasil membangun hidupnya, tapi pada akhirnya semua itu hanyalah istana pasir yang langsung hancur seketika hanya dengan satu sentuhan.

Dia mengaku bagaimana selama ini dia mencintai Sung Kook dan dia benar-benar berpegang teguh pada keyakinan itu agar dia bisa terus bertahan hidup. Kadang dia membenci Sung Kook tapi dia selalu berkta pada dirinya sendiri bahwa perasaan Sung Kook yang sebenarnya tidak seperti itu. Selama ini dia selalu berkeyakinan bahwa dialah satu-satunya wanita yang dicintai Sung Kook.

"Tapi terakhir kali aku melihatnya, aku menyadari betapa bodohnya aku ini. Selama ini aku hidup dengan menyalahkan orang lain dan membuat-buat alasan. Ayahmu bilang kalau aku hidup seperti permen karet. Aku tidak menjalani hidupku sendiri, aku hidup demi ayahmu dan kau. Kenapa aku melakukan itu? Apa kekuranganku?"


Jika dia tetap melakukan operasi itu tapi hubungan ibu dan anak mereka harus terputus, maka hidupnya akan menjadi semakin menyedihkan. Walaupun dia hanya hidup satu hari tapi asalkan dia menjalani hidupnya sendiri, bukankah itu jauh lebih baik daripada hidup selama 10 tahun dengan bergantung pada orang lain? Haruskah dia hidup dengan cara menjual putranya sendiri? Jika dia melakukan itu lalu apa bedanya dengan hidupnya di masa lalu?

Karena itulah dia memohon pada Ji Hoon untuk tidak lagi menyuruhnya kembali, dia ingin tetap tinggal di sini. Tak peduli berapa lama lagi dia hidup, tapi dia ingin menjalani hidupnya sendiri sepenuhnya dengan bahagia sebelum dia meninggal dunia "Ji Hoon-ah, kau sudah menyelamatkanku"


Sung Kook sedang merenung sebal memikirkan ucapan Na Yeon tentang Ji Hoon yang sekarang sedang bersama Hye Soo. Jung Hoon tiba-tiba masuk dan langsung protes keras, mengeluhkan Ji Hoon yang pergi seenaknya sendiri. Sung Kook yang sedang tidak mood meladeninya, berkata kalau dia mengirim Ji Hoon untuk mengurus bisnis.

Tapi masih ada yang ingin Jung Hoon ketahui, apakah benar kabar yang menyebutkan kalau Ji Hoon akan dipromosikan dalam rapat dewan direksi. Sung Kook mengklaim kalau dia tidak tahu karena hal itu adalah sesuatu yang harus diputuskan dalam rapat direksi.

Sung Kook langsung pergi meninggalkannya tapi Jung Hoon terus menggerutu seperti anak kecil sampai ibunya yang harus menghentikannya dan menyuruhnya masuk kamar.


Sun Young sangat marah pada suaminya sampai-sampai dia tidak mau menuangkan air untuknya. Dulu saat mereka masih muda, Sung Kook sudah membuat hidupnya menderita gara-gara Mi Ran. Dan sekarang setelah mereka sudah tua, Sung Kook jauh lebih menyayangi anaknya Mi Ran. Jadi kenapa juga dia harus menuruti perintah Sung Kook.

Apalagi banyak rumor yang mengatakan kalau Sung Kook akan mewariskan segalanya pada Ji Hoon. Sung Kook langsung menyangkalnya, dia sama sekali tidak ada rencana seperti itu lagipula perusahaan kan bukan miliknya seorang.

Sun Young langsung tertawa sinis mendengarnya, selama ini dia hidup dengan cukup bersabar. Tapi sekarang kesabarannya sudah habis. "Kukatakan padamu sekali lagi. Putra tertua di keluarga ini adalah Jung Hoon. Ji Hoon adalah anaknya Oh Mi Ran. Jika kau memberikan segalanya pada putra yang bahkan tidak pernah dia besarkan, dia pasti akan sangat bahagia sekali. Dia pasti tertawa sangat bahagia sekarang."


"Jangan khawatir. Oh Mi Ran tidak akan bisa meremehkanmu. Wanita itu sekarat jadi berhentilah mengeluh. Dia akan segera mati, puas?" kata Sung Kook. Sun Young shock mendengarnya.


Na Yeon pergi ke Promise dan langsung menuntut Manager Park untuk memberitahu kemana Ji Hoon pergi. Manager Park bingung.


Ji Hoon keluar jalan-jalan ke pantai saat pamannya tiba-tiba muncul dengan membawa jala penangkap ikan. Dia langsung bertanya perkembangan operasinya Mi Ran dan kenapa mereka semua tiba-tiba datang kemari tanpa pemberitahun. Kenapa mereka tidak meminta bantuannya lagi dan apa maksudnya Ji Hoon menyebut wanita itu sebagai istrinya. Dia sama sekali tidak percaya kalau wanita istrinya karena yang dia tahu, Ji Hoon belum pernah menikah apalagi punya putri sebesar itu.

"Apa mungkin kau membeli istrimu itu dengan uang?" tanya paman.


Ji Hoon sama sekali tidak bisa membantahnya. Paman langsung sinis melihat ekspresinya, ibu dan anak ternyata sama saja, mereka benar-benar absurd, membeli segalanya dengan uang dan berpura-pura menjadi keluarga bahagia. Dia hampir saja terpedaya, aktingnya Ji Hoon bagus juga "Aku mungkin akan percaya kalau kau bilang kalau kau benar-benar menyukai wanita itu"

"Paman benar, aku memang absurd."

"Lalu kenapa ibumu berulah? Tidak ada anak yang seberbakti dirimu."

"Aku bukan anak yang berbakti."

"Aku tidak tahu apa tang terjadi, tapi jika kau mencoba menyelesaikan segala masalah yang ada di dunia ini dengan uang maka segalanya akan menjadi kacau balau, mengerti tidak?"


Kepala Hye Soo mulai sakit lagi. Tapi Eun Sung tiba-tiba terbangun karena harus ke kamar mandi. Mengacuhkan kepalanya yang masih sakit, Hye Soo membangunkan Eun Sung dan mengantarkannya ke kamar mandi. Saat mereka hendak kembali ke kamar, Eun Sung berkata ingin tidur bersama nenek. Hye Soo melarangnya, tapi Eun Sung malah langsung melarikan diri ke kamar Mi Ran.

Hye Soo berusaha mengejarnya, tapi sakit kepalanya tiba-tiba kambuh lagi hingga dia langsung terhenti di tengah jalan. Mi Ran ternyata belum tidur dan tidak keberatan sama sekali untuk tidur bersama Eun Sung.


Eun Sung bertanya kenapa Mi Ran masih belum tidur. Saat Mi Ran berkata karena dia tidak bisa tidur, Eun Sung bertanya kenapa dia tidak bisa tidur. Mi Ran memberitahunya bahwa saat dia menua, dia tidak akan bisa tidur. Eun Sung dengan polosnya berkata kalau dia masih kecil tapi dia tidak bisa tidur saking bahagianya. Bahagia karena ibunya tidak bekerja dan bisa bermain bersamanya.

"Apa ibumu selalu bekerja dan tidak pernah bermain denganmu?"

"Iya. Ibu selalu bekerja sepanjang hari. Dia terus bekerja lalu bekerja lagi. Dia bilang kalau dia harus bekerja untuk dapat uang."

"Ibu macam apa itu. Daripada terus menerus mencari uang, seharusnya dia bermain bersama Eun Sung."

"Dia harus mencari uang agar kami bisa membeli snack dan daging juga." Tapi Eun Sung penasaran dimana sakitnya Mi Ran? Mi Ran berkata dimana-mana karena saat seseorang menua, dia akan sakit dimana-mana. "Jangan sakit. Aku akan meniupnya untuk Nenek (untuk menyembuhkannya)" kata Eun Sung dengan imutnya.


Hye Soo jalan-jalan keluar dan bertemu Ji Hoon yang baru kembali dari pantai. Hye Soo mengaku tidak bisa tidur karena sakit kepala, tapi dia beralasan bahwa mungkin sakit kepalanya itu karena efek mabuk laut. Hye Soo ingin jalan-jalan ke pantai, tapi Ji Hoon melarangnya karena udara laut yang sangat dingin dan menyuruh Hye Soo untuk duduk di depan api unggun perkemahan saja.


Saat Ji Hoon kembali ke kamar, ia senang mendapati ibunya tidur bersama Eun Sung. Dia menyelimuti mereka lalu mengambil obat untuk Hye Soo.


Tapi saat obat itu diberikan pada Hye Soo, dia menolaknya dan bersikeras kalau dia baik-baik saja. Lagipula dia masih yakin kalau mereka akan melakukan operasi setelah kembali ke Seoul nanti, jadi dia tidak boleh minum sembarang obat.


Ji Hoon memberitahunya bahwa mereka akan kembali ke Seoul besok. Hye Soo senang mengira Ji Hoon sudah berhasil membujuk Mi Ran, tapi Ji Hoon berkata bahwa mereka akan pulang tanpa ibunya.

"Tidak boleh, kita harus pulang bersama. Aku sudah tidak punya banyak waktu lagi!" sergah Hye Soo.

Ji Hoon heran apa maksudnya. Hye Soo tidak menjelaskannya dan terus mendesak Ji Hoon untuk membujuk Mi Ran. Dia terus bersikeras agar Mi Ran pulang bersama mereka, bahkan nada suaranya makin lama makin meninggi. Ji Hoon semakin heran dengan reaksi itu. Dia memperhatikan tangan Hye Soo yang gemetaran. Tapi dia hanya berpikir kalau Hye Soo kedinginan dan langsung memakaikan jaketnya pada Hye Soo.

Hye Soo masih terus mendesak Ji Hoon untuk membujuk Mi Ran, tapi Ji Hoon tetap menegaskan bahwa ibunya tidak akan dioperasi. Itu adalah keinginan ibunya dan dia akan menerimanya. Dan karena dia duluan yang melanggar kontrak jadi dia akan segera mengirimkan uangnya.


"Kontrak kita berakhir sekarang. Kau sudah banyak menderita dan bertemu orang brengs*k yang tak tahu malu. Aku sangat berterima kasih padamu karena telah datang sampai sejauh ini. Sejujurnya, aku menikmatinya. Aku merasa aku memiliki sebuah keluarga nyata. Kita cukup meyakinkan, yah?" ujar Ji Hoon dengan mulut tersenyum tapi mata berkaca-kaca. Hye Soo pun berkaca-kaca mendengar semua itu.

Ji Hoon mengusulkan agar mereka berjabat tangan sebagai tanda perpisahan "Aku mungkin tidak punya hak untuk mengatakan ini. Tapi kuharap kau akan hidup bahagia mulai sekarang."


Ji Hoon mengulurkan tangannya. Hye Soo menjabatnya dan mereka saling tersenyum pada satu sama lain. Tapi saat Ji Hoon hendak berbalik dan melepaskan pegangan tangan mereka. Hye Soo tiba-tiba menghentikannya dengan mencengkeram tangannya. Ji Hoon berpaling padanya. Dan saat dia melihat kesedihan di wajah Hye Soo, dia langsung mencengkeram erat tangan Hye Soo.


Hye Soo mendekat dan mengecup pipi Ji Hoon dengan berlinang air mata. Hye Soo menjauh tapi Ji Hoon langsung menarik jaketnya dan mencium bibir Hye Soo.


Air mata Hye Soo terus mengalir saat mereka menjauh. Ji Hoon menghapusnya dan menarik Hye Soo kembali kedalam pelukannya dan menciumnya mesra.


2 comments :

  1. Mb kalo dulu blognya kan ada pilihan mobile version atau web version.kok sekarang hanya web version ya.saya suka baca sinopsis di blog ini.tapi sejak modelweb version jadi sulit.soalnya saya baca lewat hp.makasih

    ReplyDelete
  2. pingin liat btsnyaaaaaa hahaha
    ahjussi dapet brondong >_<

    ReplyDelete