April 28, 2016

Jackpot Episode 8 - 2


Pangeran Yeoning lalu minum-minum di kedai terdekat. Dam Seo yang tadi mendengarkan ungkapan penyesalan Pangeran Yeoning pada si gadis kecil, menghampirinya dan memuji perbuatan baik Pangeran Yeoning barusan.




Saat Pangeran Yeoning menanggapinya dengan sinis, Dam Seo meminta Pangeran Yeoning untuk menatap matanya agar Pangeran Yeoning tahu perasaannya yang sebenarnya. Dan seperti itulah, selama beberapa saat mereka saling bertatap mata.


Dam Seo lalu meminta pada Pangeran Yeoning untuk membawanya berkeliling istana. Lalu pada hari yang sudah ditentukan, Pangeran Yeoning menunggu kedatangan Dam Seo didepan istana, tampak agak tercengang melihat kedatangan Dam Seo yang cantik lalu mengajaknya keliling.


Mereka tiba di depan istana ibunya Pangeran Yeoning. Dia ingin mengajak Dam Seo pergi tapi Dam Seo ingin masuk dan menyapa Choi Sukbin.


Saat Choi Sukbin mendengar Dam Seo keliling istana atas undangan Pangeran Yeoning, Choi Sukbin langsung menyuruh Pangeran Yeoning keluar dengan alasan dia dan Dam Seo bisa bicara antar sesama wanita. Pangeran Yeoning agak ragu tapi akhirnya menurut.


Begitu Pangeran Yeoning keluar, Choi Sukbin langsung menginterogasi Dam Seo. Apa sebenarnya tujuan Dam Seo menempel pada pangeran dan menemuinya. Dam Seo jujur mengakui kalau dia adalah murid In Jwa dan dia tahu masa lalu Choi Sukbin tentang Man Geum dan anak yang disembunyikannya.

"Apa yang kau inginkan dariku?"

"Izinkan saya bertemu raja."

Saat Choi Sukbin bertanya apa alasannya, Dam Seo memberitahu Choi Sukbin bahwa dia adalah putrinya Yi Soo yang dulu dibunuh oleh raja. Choi Sukbin mengakui kalau dia punya hutang budi pada ayahnya Dam Seo tapi dia tidak percaya dengan tuduhan Dam Seo tentang raja membunuh Yi Soo. Apa Dam Seo punya bukti atau menyaksikan pembunuhan itu sendiri. Jika tidak ada bukti lalu kenapa Dam Seo berpikir kalau raja lah pelakunya. Apa In Jwa yang memberitahunya seperti itu.


"Walaupun kau dibesarkan oleh monster, bukan berarti kau harus menjadi monster juga."

Lagipula apakah Dam Seo yakin kalau dia akan bisa melakukan sesuatu pada raja, dia bahkan tidak akan sanggup bernapas di hadapan raja. Choi Sukbin yakin kalau Dam Seo membuat permintaan seperti itu karena dia belum pernah bertemu raja dan memutuskan untuk memenuhi permintaannya.

Dia memanggil Pangeran Yeoning masuk kembali dan memberitahunya bahwa Dam Seo ingin bertemu raja dan meminta Pangeran Yeoning untuk mengantarkannya, dia mengintruksikan Pangeran Yeoning agar Dam Seo melihat raja dari kejauhan saja.


Dam Seo mulai tidak tenang memikirkan ucapan Choi Sukbin tentang ayahnya yang mungkin bukan dibunuh raja. Mereka tiba di tempat raja berada tak lama kemudian dan Dam Seo akhirnya melihat wajah raja.

Choi Sukbin dan In Jwa sebenarnya cuma menyuruhnya untuk melihat raja dari kejauhan saja, tapi Pangeran Yeoning malah memutuskan kalau Dam Seo sebaiknya bertemu raja karena bertemu raja itu biasanya sangat sulit. Dam Seo berusaha menolaknya tapi Pangeran Yeoning bersikeras bahkan langsung mengumumkan kedatangan mereka.


Raja tersenyum manis saat dia bertanya siapa Dam Seo. Dan Dam Seo memperkenalkan dirinya dengan nama palsu, Pangeran Yeoning heran tapi dia tidak mengatakan apapun. Sambil tetap menampilkan senyum manisnya, raja memuji nama cantiknya.

Tapi sesaat kemudian, senyum ramah itu mulai berubah menakutkan saat dia berkata, "Tapi wajahmu kelihatan tidak asing. Dulu ada seseorang yang sangat kupercayai. Dia pengawal kerajaan bernama Yi Soo. Kau mirip dengannya. Kalau tidak salah, putrinya seumuran dengamu. Namanya... Dam Seo... kalau tidak salah"


Seketika pula Dam Seo langsung gemetar ketakutan. Dalam hatinya dia memperhitungkan jarak antara dirinya dan raja yang selama ini sangat ingin dibunuhnya. Tapi selama dia masih sibuk berpikir, raja sudah bergerak duluan dan berdiri sangat dekat dengannya. Raja masih tetap tersenyum padanya tapi begitu Dam Seo menatap matanya, dia benar-benar ketakutan sampai sulit bernapas seperti yang sudah Choi Sukbin perkirakan.


Dia makin gemetaran ketakutan saat raja memintanya untuk menggenggam tangannya dan dia tidak mampu menolaknya. Awalnya raja menggenggamnya dengan lembut tapi kemudian dia mempererat cengkeramannya dan tertawa lalu berkata kalau dia dan pangeran sangat serasi.


Dam Seo baru bisa menghela napas lega setelah raja pergi. Pangeran Yeoning langsung bertanya apakah benar Dam Seo anaknya Kim Yi Soo. Dam Seo berusaha menyangkal tapi Pangeran Yeoning tak percaya, tidak mungkin raja akan menyinggung nama Yi Soo hanya karena kebetulan dan tidak mungkin juga raja tidak mengetahui tentang jati dirinya.

"Kalau kau pikir ayahanda raja yang membunuh ayahmu, maka kau salah."

Saat Dam Seo tidak mempercayainya dan menuntut bukti, Pangeran Yeoning mengingatkannya tentang ekspresi raja yang tampak terluka dan sedih saat dia menyinggung Yi Soo. Pangeran Yeoning mengklaim kalau Dam Seo sudah dibohongi In Jwa. Tapi Dam Seo tetap menolak mempercayainya dan mengklaim kalau In Jwa tidak mungkin berbohong dan tidak akan pernah membohonginya.


Dam Seo kembali menemui In Jwa setelah itu dan mengaku kalau dia mulai ragu. Ragu akan kebenaran yang selama ini mereka yakini. Dia sudah lelah menunggu dan meminta In Jwa untuk mengizinkannya balas dendam sekarang sebelum semua keyakinannya benar-benar runtuh.

In Jwa bertanya apakah Dam Seo sanggup melakukannya sendirian. Dan begitu Dam Seo mengiyakannya, In Jwa akhirnya memberinya izin.


Dae Gil berlatih judi dan tampaknya dia sudah cukup menguasai berbagai trik judi baik dalam permainan kartu maupun dadu. Setelah itu dia berlatih bela diri bersama Che Gun dan tampaknya dia sudah cukup ahli bermain pedang, dia sudah bisa menghindari seranga Che Gun dan menyerangnya balik walaupun dia masih belum bisa mengalahkan Che Gun.

"Saat kau memegang kartu, pertaruhkan semuanya pada kartu itu. Saat kau memegang pedang, pertaruhkan takdirmu pada pedang itu. Yang bisa kau percaya, hanyalah kartu atau pedang yang ada di tanganmu. Hanya itu yang kau punya"


Setelah itu dia berlatih memanah dan sukses menembak buah labu tepat sasaran. Dalam tembakan kedua, sasarannya berubah makin kecil, yaitu buah apel. Dan lagi-lagi, Dae Gil sukses menembaknya tepat sasaran.

"Baik judi maupun bertarung, kau akan sadar kalau kedua hal itu tidak ada bedanya. Mulai saat ini, ingatlah tiga hal ini dalam kepalamu. Pertama bernapas. Saat pisau menembus kulitmu dan kau mencium bau darah, maka napasmu akan jadi liar karena keinginan untuk hidup. Begitu napasmu berantakan, pedang musuh akan menembus tubuhmu dan kau akan mati. Gunakan keinginan bertahan hidup agar kau bebas. Saat itulah kau akan mendengarnya. Suara pedang musuhmu. Suara detak jantung musuhmu"


Sasaran selanjutnya adalah koin nyang. Tapi sayangnya, dia kurang tepat sasaran kali ini tapi tidak sepenuhnya meleset karena anak panahnya menancap pada tali yang digunakan untuk menggantung koin nyangnya. Sembari mengarahkan anak panahnya pada Dae Gil, Che Gun memberitahu Dae Gil tentang hal kedua.


"Kedua adalah mata. Hidupmu bergantung pada mata. Lihatlah pandangan mataku."

Che Gun melepaskan anak panahnya dan Dae Gil menghindar tepat waktu dan anak panah itupun menancap di pohon belakangnya. Che Gun puas melihat keberhasilan Dae Gil. Tapi Dae Gil penasaran apa cara ketiganya. Che Gun berkata keberanian. Dan untuk yang ketiga ini, Dae Gil sudah membuktikan keberaniannya mengingat dia pernah mau melawan harimau hanya dengan berbekal tongkat kayu.

Kalau begitu apakah latihannya sudah selesai? tanya Dae Gil. Tentu saja belum, latihan Dae Gil hanya akan selesai jika dia sudah berhasil menebas kelopak bunga, memanah koin dan mengalahkannya. Latihan hari ini selesai sampai disini.


Saat Che Gun kembali ke rumah, dia tampak menatap sebuah kertas yang kemudian cepat-cepat dia sembunyikan dalam kotak. Dia menatap Dae Gil dengan tatapan aneh lalu mengajak Dae Gil keluar dan membeli banyak bahan-bahan makanan sampai membuat Dae Gil keheranan lalu menyuruh Dae Gil untuk mengangkat semuanya.


Di tengah jalan, tiba-tiba dia berhenti karena melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Diantara beberapa poster kriminal, ada salah satu poster dengan lukisan wajah Che Gun. Dae Gil kaget lalu ceoat-cepat mengambil poster itu dan tidak bisa tenang sedikitpun sesampainya mereka di rumah.

Che Gun memperhatikan kegelisahannya dan langsung menuntut Dae Gil untuk bicara. Dae Gil akhirnya mengeluarkan posternya dan menuntut penjelasan Che Gun tentang masalah itu. Sekarang dia mulai memikirkan keanehan Che Gun. Kenapa orang sehebat dia, malah tinggal di tempat terpencil seperti ini.


"Siapa kau sebenarnya, guru?"

Che Gun menjawabnya dengan memperlihatkan lencananya "Pelatih militer, Kim Che Gun?"

"Dulu, aku seorang pengawal kerajaan. Dulu aku mengabdikan hidupku untuk melindungi negeri ini. Tapi kemudian..."

Flashback,


Dulu dia pernah memberitahu Jin Gi bahwa mungkin akan ada kabar bagus untuknya mengingat Jin Gi punya kemampuan diatas rata-rata. Tapi sayangnya, Jin Gi ternyata tidak terpilih dalam departemen manapun. Che Gun sendiri kaget. Dia berusaha menanyakannya dan tapi si pejabat berkata kalau Jin Gi tidak terpilih karena dia tidak punya bekingan. Jin Gi sakit hati dan marah sejak saat itu.

Kembali ke masa kini,


Che Gun merasa tidak tahan dengan korupsi yang terus menerus terjadi dalam istana dan karenanya dia lebih memilih meninggalkan istana daripada melayani raja korup.

"Jadi, guru menjadi pengkhianat?"

"Aku berniat membunuh raja. Sama sepertimu, aku juga punya tujuan. Jangan mencoba untuk menghentikanku."


Putra mahkota Yoon yang sekarang menjadi penguasa sementara, mengadakan rapat dengan para menterinya dan Pangeran Yeoning, karena hari itu mereka mendapat sebuah surat ancaman yang mengatakan kalau raja akan dibunuh tengah malam hari ini.


Putra Mahkota Yoon mengumumkan bahwa surat ancaman itu dikirim sekitar sebulan lalu. Dan pembunuhnya berhasil menyusup kedalam istana, karena surat itu ditemukan tertempel di beberapa tempat. Putra Mahkota hendak memberikan instruksi.


Tapi tepat saat itu juga, raja datang dan santai-santai saja menanggapi surat ancaman itu. Dia merasa tidak perlu sampai seribut dan secemas itu mengingat si pembunuh mencantumkan waktu dan tanggal pembunuhannya. Putra Mahkota berniat mengumpulkan para prajurit untuk melindungi raja. Tapi raja menolak, dia merasa semua itu tidak perlu lalu mengalihkan pandangannya pada Pangeran Yeoning.


Beberapa saat kemudian, Pangeran Yeoning bersujud di hadapan raja dan berusaha menolak perintah raja. Tapi raja dengan santainya mengingatkan Pangeran Yeoning akan kata-katanya sendiri, "Kau bilang ingin menjadi pedangku, kan?"

Pangeran Yeoning masih berusaha untuk protes tapi raja langsung memerintahkan kasim kembar untuk memberi Pangeran Yeoning sebuah pedang. "Itulah pedangmu."


"Ayahanda, pedang ini terlalu berat untuk saya."

"Kalau kau tidak mampu mengangkat pedang ini untuk melindungiku. Kau tidak akan mampu untuk melindungi apapun, termasuk dirimu sendiri."


Beberapa saat kemudian, Pangeran Yeoning keluar dari istana raja dengan membawa pedang itu. Pada saat yang bersamaan, Dam Seo juga sudah bersiap dengan membawa panah dan pedangnya untuk membalaskan dendam ayahnya lalu pamit pada In Jwa.


Che Gun pun mengambil pedangnya saat Dae Gil tiba-tiba bertanya "Bagaimana kalau aku menghentikanmu? Bagaimana jika aku menghentikanmu, Guru?"

"Kalau begitu salah satu diantara kita harus mati."

Bersambung ke Jackpot Episode 9

1 comment :

  1. OMG. .akankah nantinya dae gil dan che gun duel dan salah satu dari mereka akan mati?

    ReplyDelete