April 19, 2016

Jackpot Episode 6 - 2


Malam harinya, Si iblis masuk ke kamar budak wanita. Diam-diam dia memaksa beberapa budak wanita lain keluar kamar agar dia bisa memperkosa Seo Rim. Tapi Dae Gil tidak bisa tidur malam itu dan mendengar suara jeritan teredam Seo Rim.




Dae Gil langsung menyelamatkan Seo Rim dan menendang Si iblis keluar lalu menyeret Seo Rim kabur dari sana. Dia terus membawa Seo Rim berlari menuju hutan, sementara anak-anak buah Si iblis mengejar mereka.


Tapi Saat Dae Gil dan Seo Rim semakin masuk jauh kedalam hutan, anak-anak buah Si iblis langsung berhenti karena mereka melihat ada bekas cakaran harimau di pohon terdekat.


Seo Rim tersandung dan terjatuh di tengah jalan. Dia semakin ketakutan karena dia pernah mendengar kabar yang mengatakan ada harimau di sekitar gunung ini. Dan ketimbang harus berurusan dengan harimau, Seo Rim jauh lebih memilih kembali ke majikannya. Dae Gil tak percaya mendengarnya, apa Seo Rim ingin terus bekerja di ladang garam sampai mati.

Seo Rim akhirnya memutuskan untuk mengembalikan koin nyang-nya Dae Gil dan menyuruh Dae Gil untuk pergi sendiri saja. Lagipula kalau dia tidak ikut maka Dae Gil akan bisa keluar dari hutan ini dengan mudah. Dia yakin kalau Si iblis tidak akan membunuhnya jika dia kembali sekarang.


Dae Gil memakai kalung nyang itu di lehernya sendiri tapi menolak pergi meninggalkan Seo Rim "Kita hidup bersama dan mati bersama. Ayo pergi bersama. Kau harus kembali ke kampung halamanmu. Pergilah, aku akan bertanggung jawab"

Tapi tepat saat itu juga, tiba-tiba mereka mendengar suara geraman harimau. Dan saat mereka menoleh, mereka melihat harimau itu berjalan ke arah mereka. Dae Gil langsung menyuruh Se Rim lari duluan sementara dia akan tetap disini. Tepat saat itu juga, kakinya mendapati sebuah ranting pohon.


Dia mengambilnya sebagai senjata lalu memerintahkan Seo Rim berlari dalam hitungan ketiga. Begitu Seo Rim lari, si harimau pun langsung berlari menerkam Dae Gil yang cuma bersenjatakan ranting pohon.


Tapi di tengah jalan, Seo Rim bertemu dengan anak-anak buahnya Dae Gil dan dia sama sekali tidak bisa menolak saat mereka menuntut keberadaan Dae Gil.


Dae Gil selamat. Saat dia membuka mata, dia mendapati si harimau mati dibunuh oleh tebasan pedang Chae Gun. Dalam flashback, Chae Gun berhasil membunuh harimau itu hanya dengan satu kali tebasan pedan saat harimau itu hendak menerkam Dae Gil.


Dae Gil shock, sungguh tidak menyangka bagaimana bisa Chae Gun membunuh seekor harimau hanya dengan satu kali tebasan pedang.

"Lalu kau, apa kau berencana membunuh harimau itu hanya dengan sebatang ranting?" balas Chae Gun "Entah apakah kau terlalu pemberani atau cuma beruntung. Jika kau diserang atau melarikan diri dari harimau itu, kau pasti sudah jadi santapan harimau itu"

Chae Gun berkata masih ada satu harimau lagi di hutan ini. Dan karenanya, dia menyarankan agar Dae Gil kembali saja daripada mati disini. Tak lama setelah Chae Gun pergi, anak-anak buah Si iblis datang dengan diantarkan oleh Seo Rim. Tentu saja mereka cukup tercengang melihat harimau itu sudah mati.


Begitu kembali ke rumah Si iblis. Dae Gil kembali digulingkan didalam tikar dan dipukuli habis-habisan oleh Si iblis sementara Seo Rim hanya bisa menjerit-jerit tak berdaya melihat semua itu. Tidak puas hanya dengan memukuli Dae Gil, Si iblis memutuskan untuk memasukkan Dae Gil kedalam kubangan kotoran.

Saat Dae Gil keluar dari lubang menjijikkan itu, Si iblis menyuruh Dae Gil untuk memohon ampun padanya. Tapi Dae Gil malah meludahinya. Kesal, Si iblis langsung memerintahkan anak buahnya untuk menjejalkan koin nyang yang pernah dimuntahkan Dae Gil, kembali kedalam mulutnya. Tentu saja koin itu juga sudah terendam dalam kotoran.


Tapi begitu koin itu masuk kedalam mulutnya, semua ingatan Dae Gil langsung kembali. Saat ayahnya mati demi menyelamatkannya dan saat In Jwa menyiksanya dan menusuknya hingga dia terjatuh ke jurang. Saat koin itu menggelinding keluar dari mulutnya, Dae Gil teringat kembali ucapan ayahnya bahwa penjudi terbaik Joseon bisa melakukannya hanya dengan satu nyang saja.

Dia teringat bagaimana koin itu pertama kali diberikan oleh ayahnya. Setetes air mata mengalir saat dia teringat koin itu pernah dipegang oleh Pangeran Yeoning dan In Jwa tapi kemudian dilemparkan kembali padanya.


Keesokan harinya, Dae Gil direndam dalam lumpur. Chae Gun menghampirinya dan melihat Dae Gil ingin makan yuyu yang sangat dekat padanya tapi tak bisa diraihnya tanpa tangan. Chae Gun lalu membantu menyuapkan yuyu itu padanya dan Dae Gil langsung mengunyahnya hidup-hidup dengan sangat lahap.

"Siapa kau?" tanya Chae Gun

"Mau bertaruh? Apakah aku akan hidup atau mati?"

"Kau harus hidup" jawab Chae Gun dengan seulas senyum tipis.


Dia lalu pergi meninggalkan Dae Gil. Sosok punggung Chae Gun, mengingatkan Dae Gil akan sosok ayahnya. Dia membayangkan Chae Gun adalah ayahnya yang kemudian menoleh kembali dan tersenyum padanya. Dae Gil teringat pada sumpahnya sendiri untuk tetap bertahan hidup dan kembali.

"Ayah, jangan khawatir. Aku tidak akan mati. Orang yang membunuhmu. Aku tidak akan pernah mati sebelum aku memenggal kepalanya. Aku tidak boleh mati!"


Malam harinya, Dae Gil diseret kembali ke rumah Si iblis yang saat itu sedang main kartu bersama anak-anak buahnya. Tapi bahkan setelah disiksa dengan berbagai cara, Si iblis masih mendapati tatapan mata Dae Gil masih tajam dan penuh amarah. Kesal, Si iblis langsung menyuruh anak-anak buahnya untuk mematahkan kaki dan tangan Dae Gil.

Tapi Dae Gil tiba-tiba bertanya apa yang sebenarnya Si iblis inginkan "Uang? Kalau begitu aku akan membantumu mendapatkan banyak uang lebih daripada bangsawan yang memiliki banyak tanah"


Beberapa saat kemudian, semua orang berkumpul untuk menyaksikan Si iblis bermain kartu bersama Dae Gil. Dan tak butuh waktu lama bagi Dae Gil untuk mengalahkan Si iblis. Semua orang jelas kaget dan heran, bagaimana Dae Gil bisa melakukan itu. Itu adalah trik tipuan menyembunyikan kartu yang dulu pernah diajarkan ayahnya padanya.

"Bagaimana kalau kita pergi ke Hanyang dan memenangkan banyak uang?" usul Dae Gil


Hong Mae pernah memperingatkannya untuk tidak membawa Dae Gil ke Hanyang sebelum dia datang menjemputnya. Tapi sekarang setelah menyadari kehebatan Dae Gil dalam permainan kartu, Si iblis akhirnya memutuskan untuk mengacuhkan peringatan Hong Mae itu. Dia mengembalikan koin nyang-nya Dae Gil lalu menyuruh Dae Gil untuk mandi dulu.


Setelah dia selesai mandi, Seo Rim tiba-tiba masuk membawakan pakaiannya. Dae Gil langsung mengomelinya karena masuk begitu saja ke kamar mandi pria. Tapi Seo Rim mengacuhkannya lalu membantunya memakai pakaiannya.

"Terima kasih. Aku sangat berterima kasih padamu. Jika bukan karenamu, entah apa yang akan kulakukan. Tadinya aku benar-benar berpikir untuk menggigit lidahku saja sampai mati" ujar Seo Rim

Dae Gil bertanya-tanya bagaimana bisa Seo Rim bisa berakhir di tempat ini. Menjawab pertanyaannya, Seo Rim langsung membuka bajunya untuk memperlihatkan bekas luka panjang di bagian dadanya. Dia bercerita bahwa dulu ayahnya berjudi tapi bukannya mempertaruhkan uang, ayahnya malah mempertaruhkan dirinya. Dan setelah itu ayahnya malah mati dan meninggalkannya sendirian.


"Tapi apa kau tahu apa yang paling pahit dari semua ini? Aku... tetap merindukannya, ayahku"

Apa yang terjadi padanya sekarang adalah gara-gara si penjudi itu. Satu-satunya alasannya bertahan seperti ini hanya supaya dia bisa balas dendam untuk kedua orang tuanya. Dia bertekad untuk bertahan hidup demi balas dendam pada penjudi yang telah menjualnya dan menghancurkan keluarganya.

Seo Rim bertanya apakah Dae Gil sudah ingat kembali sekarang. Dae Gil berbohong dan berkata kalau dia masih belum mengingat apapun. Seo Rim yakin kalau ingatannya pasti akan segera kembali. Dan karenanya dia berharap agar Dae Gil tidak melupakannya.


Setelah Dae Gil sudah bersih dan rapi, Si iblis lalu membawanya ke Hanyang dan langsung menuju kasinonya Hong Mae. Anak buahnya Hong Mae langsung berteriak heboh sampai membangunkan Hong Mae dari tidurnya begitu dia melihat kedatangan Si iblis dan Dae Gil.


Pangeran Yeoning juga ada disana saat itu tapi kali ini dia menyamar dengan menggunakan pakaian rakyat jelata. Dari lantai atas, dia melihat Hong Mae menghampiri Si iblis dan Dae Gil. Hong Mae langsung melabrak Si iblis karena datang kemari dan mengacuhkan peringatannya.


Si iblis menyela dan memberitahu Hong Mae bahwa jika Hong Mae ingin membeli Dae Gil darinya maka Hong Mae wajib untuk membayar sebesar 500 nyang. Hong Mae langsung kesal dan anak-anak buah Si iblis langsung bersiaga begitu melihat Hong Mae maju.

Tapi Si iblis cepat meredakan ketegangan ini dengan mengusulkan agar Hong Mae main kartu bersama Dae Gil. Jika Dae Gil kalah maka dia akan pergi dari sini, tapi jika Hong Mae yang kalah maka dia harus menebus Dae Gil sebesar 500 nyang.


Mengira kalau Dae Gil masih hilang ingatan, Hong Mae memutuskan untuk menerima tantangan itu. Satu per satu, Dae Gil mengalahkan semua anak-anak buah Hong Mae. Sekarang hanya tinggal Hong Mae seorang. Tapi Dae Gil masih pura-pura tidak ingat Hong Mae.


Tapi belum apa-apa, Dam Seo tiba-tiba muncul. Hong Mae langsung gugup. Apalagi tak lama setelah Dam Seo, In Jwa juga ikut muncul. Hong Mae berusaha menghalangi pandangan In Jwa. Tapi In Jwa tetap melihatnya dan langsung menyingkirkan Hong Mae dari hadapannya.


In Jwa dan Dam Seo sama-sama kaget melihat Dae Gil masih hidup dan sehat. In Jwa benar-benar tidak menyangka kalau Dae Gil bertahan hidup dan sekarang malah bermain kartu. Masih pura-pura hilang ingatan, Dae Gil bertanya apakah In Jwa mengenalnya.

"Tentu saja... Baek Dae Gil" jawab In Jwa


Dae Gil langsung menggebrak meja dengan penuh amarah lalu menarik baju In Jwa dan menuntut In Jwa untuk memberitahukan segala tentang dirinya. In Jwa melepaskan cengkeraman tangan Dae Gil darinya dan menyatakan kalau dia tidak bisa mengatakan apapun.


Dia mengingatkan Dae Gil bahwa segala hal tentang dirinya adalah takdirnya sendiri. Dan mengembalikan ingatannya, juga merupakan takdirnya Dae Gil sendiri.

Bertekad untuk membuat In Jwa menceritakan segalanya padanya, Dae Gil langsung menantang In Jwa main kartu. In Jwa tertawa sinis dan menerima tantangannya.


Tapi dia hanya mau main satu ronde. In Jwa mengocok kartunya dan mempersilahkan Dae Gil mengambil kartu duluan. Dae Gil pun mengambil dua kartu lalu disusul In Jwa.

"Sekarang takdirmu tergantung pada kartu-kartu ini" ujar In Jwa

"Takdir?" ejek Dae Gil sinis "Itu adalah kata yang tidak seharusnya keluar dari mulut monster"

Dae Gil membuka salah satu kartunya dan mengaku kalau dia sebenarnya ingat pada In Jwa dan langsung berteriak menuntut jawaban "Kenapa kau membunuh ayahku!"


Dae Gil menggeberak meja hingga kartu keduanya terbalik dan memperlihatkan dua kartu sembilan. Sepertinya dia akan menang, bahkan Si iblis langsung tertawa senang. Tapi In Jwa kemudian membuka kedua kartunya yang ternyata kartu 10. In Jwa menang.

Semua orang shock. Tapi saat In Jwa mulai menuduhnya main curang dengan menyembunyikan kartu, Dae Gil langsung membalik tuduhan itu dan mengumumkan pada semua orang bahwa In Jwa berbuat curang.

Dia lalu bertanya apa hukuman bagi penjudi yang ketahuan memakai cara curang. Si iblis dan Hong Mae berkata bahwa hukuman berbuat curang satu kali adalah potong tangan dan jika kedua kali maka hukumannya mati.


Tidak terima, In Jwa langsung menuntut Dae Gil untuk membuktikan tuduhannya itu. Dae Gil sangat yakin kalau In Jwa berbuat curang dan menuntut In Jwa untuk membuka lenga bajunya. In Jwa setuju untuk menurutinya. Tapi dia memperingatkan bahwa jika tuduhan Dae Gil terbukti salah maka dia tidak akan pernah tahu alasan kenapa ayahnya terbunuh.

Tidak mau buang-buang waktu, Dae Gil memerintahkan Si iblis untuk memeriksa lengan bajunya In Jwa. Si iblis langsung merogoh kedalam lengan bajunya In Jwa dan ternyata dia benar-benar mendapati ada satu kartu tersembunyi di sana.


In Jwa sendiri kaget dengan kartu dalam lengan bajunya itu dan bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apakah Dae Gil yang memasukkan kartu itu kedalam lengannya saat Dae Gil menarik bajunya tadi. Dia langsung tersenyum geli saat menyadari hal itu.
 

Dae Gil langsung menuntut Hong Mae untuk menghukum In Jwa, potong tangan. Hong Mae jadi bingung harus bagaimana, dia bahkan tidak berbuat apa-apa walaupun dia memegang kapak. Tapi Si iblis langsung merampas kapak dari tangannya lalu mulai mengayunkannya ke tangan In Jwa. Sementara In Jwa sendiri tampak tenang-tenang saja sambil menggumam "Baek Dae Gil"

No comments :

Post a Comment