April 17, 2016

Jackpot Episode 6 - 1

Sebelum Dae Gil terendam dalam lumpur...


Hong Mae dan anak-anak buahnya menemukan Dae Gil terdampar di tepi laut. Dia langsung menampari Dae Gil sampai dia terbangun. Dae Gil membuka mata tapi dia tidak ingat pada Hong Mae. Hmm... apa Dae Gil hilang ingatan? Tapi pertanyaan itu tak terjawab karena Dae Gil pingsan lagi.

"Kalau kau benar-benar hilang ingatan, maka itu merubah keadaan," pikir Hong Mae




Hong Mae lalu membawa Dae Gil ke seorang kenalannya. Dia mengklaim kalau Dae Gil adalah seorang budak  yang berhasil ditangkapnya setelah berusaha melarikan diri dan dia membawa Dae Gil kemari untuk dijual. Hong Mae menawar 10 nyang tapi pria itu hanya mau membeli Dae Gil seharga 5 nyang.

Hong Mae akhirnya setuju, tapi dia punya syarat. Dae Gil tidak boleh kembali ke Hanyang sebelum dia kembali untuk menjemputnya. Dan selama itu dia boleh mempekerjakan Dae Gil di ladang garam.


Majikan barunya Dae Gil lalu memeriksakan kondisi Dae Gil ke seorang tabib. Si majikan menyuruh tabib untuk memulihkan kondisi Dae Gil agar dia bisa bekerja. Dae Gil terbangun tak lama kemudian lalu memuntahkan koin nyang yang dijejalkan In Jwa kedalam mulutnya.


Tabib langsung mengambilnya dan mengklaimnya sebagai biaya pengobatan. Tapi seorang budak wanita langsung merampasnya dari tangan tabib.


Dae Gil pingsan lagi setelah itu. Dan saat dia terbangun kembali, dia mendapati si budak perempuan yang tadi, masih menungguinya bahkan membawakan bubur untuknya. Dae Gil mencoba menggerakkan tangan dan kakinya tapi tidak bisa.

Si budak bertanya-tanya siapa dia dan apa benar kalau dia tidak ingat namanya sendiri. Dae Gil tidak bisa menjawab karena sama sekali tidak ingat dengan identitasnya sendiri. Si budak lalu memperkenalkan dirinya sendiri, namanya adalah Gae Seo Rim.


Sepanjang malam, Dae Gil terus berusaha menggerakkan tangan dan kakinya. Dan keesokan harinya, akhirnya dia bisa bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan keluar dari kamarnya dengan bantuan tongkat. Dia melihat tempat itu penuh dengan budak yang melakukan berbagai macam pekerjaan. Seo Rim menghampirinya dan memberinya sekepal nasi dan memuji ketampanan Dae Gil sambil tersipu malu.


Dia lalu memperingatkan Dae Gil untuk berhati-hati dengan majikan mereka itu. Majikan mereka itu sangat kejam dan punya julukan 'Si iblis'. Dia sangat kejam karena hingga bisa membuat orang normal menjadi lumpuh.

Begitu dia melihat Dae Gil, Si iblis langsung menghampirinya dan mengecek tangan Dae Gil yang diperban dengan kasar. Dia senang karena sepertinya Dae Gil akan segera sembuh dan bisa segera bekerja.


Setelah Si iblis pergi, Dae Gil berjalan tertatih-tatih ke ladang garam dimana dia melihat puluhan budak dipaksa kerja rodi. Bahkan lalai sedikit saja, langsung dipukuli.


Seo Rim bercerita bahwa orang-orang ini dijual ke tempat ini dengan harga sangat murah dan disini mereka harus bekerja mati-matian "Tapi tak peduli seberapa keras pun mereka bekerja, mereka tetap tidak bisa membayar hutang-hutang mereka dan akhirnya mereka mati."

Seo Rim bertanya-tanya Dae Gil dijual berapa nyang? Dia mengaku kalau dia dijual 20 nyang. Dia sudah dua tahun bekerja disini tapi belum pernah menerima upah. Jika ada budak yang sudah tidak mampu bekerja mati-matian disini maka mereka akan dijual.

"Tapi, itu masih jauh lebih baik. Kebanyakan orang mati disini. Pilihannya hanyalah bekerja sampai mati disini atau dicambuki sampai mati. Jika bukan kedua pilihan itu, maka kau harus kelaparan sampai mati."


Saat itu, seorang kakek renta tiba-tiba terjatuh karena tidak kuat bekerja. Seorang penjaga langsung memukulinya dengan sangat kejam tapi anak si kakek langsung maju dan menjadikan tubuhnya sebagai tameng untuk melindungi ayahnya. Dae Gil ingin menyelamatkan mereka tapi Seo Rim mencegahnya karena membantu mereka sama sekali tidak akan gunanya.

"Seo Rim benar," kata Si iblis. Dia melihat keadaan Dae Gil lalu menendang tongkatnya hingga Dae Gil oleng tapi dia tidak terjatuh. Melihat keadaan Dae Gil sudah semakin membaik, dia langsung menyuruh Dae Gil mengikutinya.


Dae Gil dipaksa untuk cap jempol tapi Dae Gil memberontak dan menuntut siapa orang yang sudah membawanya kemari dan siapa namanya. Si iblis tidak memberitahukan siapa yang menjualnya kemari, tapi dia memberitahu Dae Gil bahwa sekarang Dae Gil adalah miliknya.

Dia bahkan memperlihatkan surat kontrak pembelian Dae Gil. Dan dari surat kontrak itulah, Dae Gil akhirnya mengetahui bahwa namanya adalah Baek Dae Gil. Si iblis memberitahu Dae Gil bahwa dia tidak akan bisa keluar dari tempat ini sebelum dia membayar sebesar 45 nyang.

"Bagaimana kalau aku tidak mau?" tantang Dae Gil


Sebagai jawabannya, Si iblis langsung memerintahkan anak-anak buahnya untuk memberi pelajaran pada Dae Gil. Dia digulingkan didalam sebuah tikar lalu dipukuli habis-habisan. Si iblis lalu mengeluarkan tangan Dae Gil yang masih belum sembuh dan menyuruh anak buahnya untuk menginjaknya. Dan begitu Dae Gil sudah tidak bisa melawan lagi, dia langsung menyetempel surat kontrak itu dengan cap jempolnya Dae Gil.


Dan bahkan sekalipun Dae Gil masih belum sembuh, tapi dia langsung dipaksa untuk bekerja. Tapi terlepas dari susahnya hidup mereka dan sedikitnya makanan yang mereka miliki, Dae Gil memperhatikan para budak itu tetap saling berbagi dan memperhatikan satu sama lain.


Seo Rim memberikan jatah nasi Dae Gil dan memberitahunya bahwa mereka sama sekali tidak punya pilihan, hanya nasi garam inilah satu-satunya makanan yang mereka punya untuk bertahan hidup.

Dae Gil mendengarkan semuanya dalam diam. Tapi tiba-tiba perhatiannya tertuju pada kalung koin nyang yang dipakai Seo Rim. Dia mengingatkan Dae Gil bahwa koin itu adalah pemberian dari Dae Gil untuknya. Dae Gil langsung kaget dan tak percaya "Kenapa (dia memberinya hadiah)?"

"Hei, memangnya kita ini orang asing?" kata Seo Rim sambil tersenyum malu-malu.


Malam itu, kediaman Si iblis heboh karena ada seorang budak yang kepergok ingin melarikan diri. Si iblis langsung memerintahkan anak buahnya untuk membunuh si budak. Dae Gil ingin menyelamatkannya. Tapi saat dia hendak maju, Seo Rim mencegahnya dan mengisyaratkannya untuk tidak ikut campur.


Dae Gil langsung maju setelah budak itu terbunuh tapi dia dihalangi pedang salah seorang pengawal. Si iblis tidak suka melihat cara Dae Gil menatapnya dan langsung memerintahkan anak buahnya untuk menghukum Dae Gil dengan cara membuatnya kelaparan.


Pangeran Yeoning pergi menemui ibundanya untuk menanyakan kenapa ibundanya menemui dukun. Tak sengaja dia melihat amplop berisi data informasi tanggal lahir 13 Oktober tahun ayam. Pangeran Yeoning penasaran, horoskopnya siapa itu. Choi Sukbin menolak menjawab dan menegaskan bahwa Pangeran Yeoning tidak perlu mengurusi masalah ini.


Pangeran Yeoning tidak mempertanyakan apapun lagi. Tapi dia terus menerus memikirkan masalah ini bahkan saat dia sedang berada di rumah gisaeng. Dia tahu kalau tahun ayam adalah tahun kelahiran kakaknya yang lahir prematur dan meninggal dunia jauh sebelum dia lahir. Tapi kenapa ibunya meramal kakaknya yang sudah meninggal.

Para gisaeng itu berusaha menarik perhatiannya. Tapi Pangeran Yeoning menolak diganggu karena dia sedang sibuk berpikir. Tapi para gisaeng itu malah langsung tertawa geli mendengarnya, sama sekali tidak percaya kalau Pangeran Yeoning sedang sibuk berpikir karena dia kan pangeran playboy.


Tapi tiba-tiba dia melihat beberapa menteri datang. Seketika itu pula, Pangeran Yeoning langsung bersikap sok playboy seperti anggapan orang-orang tentangnya selama ini. Aktingnya sukses membuat para menteri itu meremehkannya.


Begitu kembali ke istana, Pangeran Yeoning langsung pergi menemui ibundanya lagi dan bertanya kenapa Choi Sukbin meramal nasib kakaknya yang sudah meninggal dunia. Choi Sukbin cukup tercengang mendengar pertanyaannya. Tapi kemudian, dia beralasan kalau dia hanya ingin tahu saja bagaimana nasib putranya itu jika seandainya dia masih hidup. Entah apakah Pangeran Yeoning mempercayainya atau tidak, tapi dia tidak mempersoalkan masalah itu lebih jauh.

Saat dia hendak pergi, salah satu kasim kembar tiba-tiba mencegatnya. Dia lalu menuntun Pangeran Yeoning ke sebuah ruang rahasia dimana beberapa dayang tengah menggiling obat-obatan untuk raja yang sepertinya sedang sakit.


Setelah semua orang keluar, Raja langsung bertanya apakah Pangeran Yeoning ingin menjadi raja. Pangeran Yeoning terkejut dengan pertanyaan blak-blakan itu dan langsung menyangkalnya. Tapi Raja tak percaya dan bertanya-tanya kenapa anak pintar dan hebat sepertinya, malah hidup urakan seperti ini.

Raja menduga pasti ibunya Pangeranlah yang menyuruhnya hidup seperti itu demi menghindari pengawasan para menteri dan menyusun rencana untuk merebut tahta. Pangeran Yeoning terus menyangkalnya dan mengklaim kalau dia hanya ingin melayani Raja selama dia masih bertahta.

Tapi Raja tidak mempercayai ucapannya sedikitpun. Dia memerintahkan Pangeran Yeoning untuk berhenti bicara omong kosong dan jawab saja pertanyaannya "Jika aku melepas tahta, apakah kau ingin menjadi Raja?"


Pangeran Yeoning terus bersikeras menyangkalnya dan mengklaim kalau dia tidak akan berani mengambil tahta dari kakaknya Putra Mahkota Yoon.

"Bagaimana bisa kau begitu bodoh?" sela Raja "Apa ada hukum yang mengatakan kalau Putra Mahkota harus menjadi Raja? Aku memanggilmu dan mengesampingkan semua harga diriku dan memintamu untuk mengambil alih tahta. Entah apakah kau akan menjadi raja yang hebat dan bijak seperti Sejong ataukah menjadi monster seperti Yeonsan, semua itu terserah padamu. Jadi, apa kau mau menerimanya atau tidak?"


Entah apa jawaban Pangeran Yeoning. Tapi saat dia keluar, dia tampak murung.


Keesokan harinya, Raja mengumpulkan semua menterinya termasuk Putra Mahkota Yoon dan Pangeran Yeoning. Para menteri itu memulai pertemuan ini dengan membahas dan mengeluhkan masalah pajak. Raja jelas mendengar keluhan mereka tapi pura-pura menyatakan kalau kesehatannya sudah semakin menurun dan tidak bisa mendengar keluhan mereka dengan jelas.

Dan karena itulah, Raja langsung mendeklarasikan rencananya untuk turun tahta. Shock, sontak mereka semua langsung bersujud dan serempak meminta raja untuk membatalkan rencana itu. 

Tapi Raja tetap bersikeras ingin turun tahta dengan alasan kesehatan yang sudah semakin menurun. Dan memutuskan untuk mengangkat Putra Mahkota Yoon menjadi penguasa sementara. Semua orang terus berusaha meneriakkan protes, tapi keputusan Raja sudah bulat dan langsung berlalu pergi.

Flashback kemarin malam,


Pangeran Yeoning bangkit dan menatap mata Raja saat dia menjawab, "Lebih baik hamba memegang pedang daripada memakai mahkota. Hamba ingin memotong tangan dan kaki para pejabat korup yang menindas rakyat. Hamba akan memenggal kepala orang-orang yang berkhianat pada keluarga kerajaan. Hamba akan berdiri di jalan yang Paduka lalui dan menjadi orang pertama yang membukakannya bagi Paduka."

Raja memberitahu Pengeran bahwa untuk melakukan hal-hal yang Pangeran Yeoning sebutkan tadi sangatlah sulit, jauh lebih sulit daripada menjadi raja "Baiklah, kita lihat saja, pedang apa yang nantinya akan kau pegang. Aku ingin melihatnya."

Kembali ke masa kini,


Putra Mahkota Yoon bersujud didepan kediaman Raja untuk memimpin protes dan meminta Raja menarik kembali keputusannya. Tapi tiba-tiba dia batuk darah. Tidak ingin ketahuan, dia langsung cepat-cepat menyeka mulutnya dengan saputangan. Salah satu kasim kembar melihatnya dan langsung menghampirinya lalu mempersilahkannya masuk menemui Raja.


Raja langsung mengkonfrontasinya dan bertanya sejak kapan Putra Mahkota mulai batuk darah. Raja kesal karena ternyata Putra Mahkota Yoon sakit-sakitan. Tapi bagaimanapun dia tetap memerintahkan Putra Mahkota untuk mengambil alih tugasnya menjadi penguasa sementara.


Pangeran Yeoning juga melihat kakaknya batuk darah dan jadi murung sejak itu. Ibundanya mengira kalau Pangeran Yeoning murung karena keputusan Raja. Tapi Pangeran Yeoning menyangkalnya dan mengaku bahwa dia hanya mencemaskan kesehatan kakaknya. Dia memiliki penyakit kronis dan sekarang dia harus mengemban tugas berat menjadi penguasa sementara.

Choi Sukbin tak senang mendengarnya. Dia memberitahu Pangeran Yeoning bahwa kemarahan raja, kekesalan para menteri dan penyakit kronisnya adalah beban yang harus ditanggung dan diatasi sendiri oleh Putra Mahkota. Jadi Pangeran Yeoning tidak perlu mengurusi semua masalah itu.


Tapi Pangeran Yeoning merasa tidak tenang dengan perintah ibundanya itu. Dia langsung meminta bertemu Putra Mahkota secara diam-diam di perpustakaan lalu berlutut di hadapan Putra Mahkota dan meminta Putra Mahkota untuk menerima tugasnya sebagai penguasa sementara. "Hamba akan menjadi mata dan telinga bagi hyungnim. Hamba akan menjadi tangan dan kaki hyungnim"


Dae Gil kerja rodi memotong kayu di hutan tapi semenit kemudian dia sudah tidak kuat lagi. Diam-diam dia memperhatikan posisi para penjaga dan melihat kesempatan saat dia menyadari tidak ada penjaga di bagian belakang.

Dia langsung memanfaatkan keadaan untuk naik gunung. Di salah satu pohon, dia mendapati ada 3 bekas cakaran dan berpikir kalau itu adalah cakar harimau. Disana, dia melihat seorang pria tengah mengapak pohon seorang diri. Pria itu adalah Kim Chae Gun, orang yang melindungi Dae Gil dari sabetan pedang anak-anak buahnya In Jwa di bagian opening episode 1.

Mereka saling bertatap mata. Tapi Chae Gun melihat apa yang tidak Dae Gil perhatikan, seekor ular berada di ranting pohon dekat Dae Gil. Diam-diam dia mengisyaratkan Dae Gil akan keberadaan ular itu.

 

Bukannya ketakutan, Dae Gil malah langsung menangkap ular itu lalu mengigitnya dan mengulitinya hidup-hidup dengan giginya lalu memakannya mentah-mentah. (Hueeeek!!! iiiih!!! aku beneran mual lihat adegan ini. Itu ular beneran yah? sumpah jijay banget)

Bersambung ke episode 6 - 2

No comments :

Post a Comment