April 9, 2016

Jackpot Episode 4 - 2


In Jwa hendak pergi tapi Pangeran Yeoning menghentikannya dan mengkonfrontasi perbuatan In Jwa ini. In Jwa dengan tenangnya meyakinkan sang pangeran bahwa dia melakukan ini bukan untuk membahayakan pangeran.

"Kurasa kau terlalu mempercayai kakakku dan jadi terlalu agresif"

In Jwa mengklaim bahwa dia cuma ingin mencari tahu sesuatu dan memastikan kebenaran dari rumor tentang Pangeran Yeoning yang kabarnya suka mabuk-mabukan di siang bolong dan main wanita di malam hari hingga Pangeran Yeoning tidak tertarik dan tidak berambisi dalam masalah negara.

"Jadi, aku apa kau sudah menemukan sesuatu itu?" geram Pangeran Yeoning

In Jwa hanya menanggapinya dengan senyum dan meminta Pangeran untuk pulang saja sekarang mengingat sekarang hujan sudah mulai turun.




Setelah dia pergi, Hwanggoo Yeomeom memberitahu In Jwa bahwa dia melihat Pangeran Yeoning memiliki fitur wajah seperti harimau. Tapi, bukan cuma satu harimau melainkan dua. Pangeran Yeoning memiliki fitur yang sama persis seperti In Jwa.


Gae Ddong dihukum 30 pukulan termasuk hukuman Dam Seo yang dia harus tanggung. Walaupun dia kesakitan tapi dia terus berusaha bertahan sekuat tenaga sampai selesai. Dia tidak bisa pulang karena hujan turun lebat.

 

Tapi yang tidak disangkanya, Dam Seo tiba-tiba muncul dengan membawakan mantel untuknya dan akhirnya memberitahukan namanya pada Gae Ddong. Dia melihat darah di kaki Gae Ddong tapi tidak mengatakan apapun tentang itu, hanya kemudian pergi menembus hujan.


Gae Ddong langsung mengejarnya dan mengembalikan payungnya dan mengklaim dia sehat jadi tidak membutuhkan payung itu. Dia mencoba membuktikkannya tapi ujung-ujungnya malah mengerang kesakitan.

Dam Seo langsung membuang payungnya dan bertanya kesal "Apa kau bodoh? Kenapa kau mengorbankan tubuhmu seperti itu? Apa kau pikir, orang akan mengakuinya hanya karena hal itu? Seberapa banyak pun kau berusaha, tidak akan ada seorang pun yang akan mengakuimu. Kau tidak akan pernah bisa terlepas dari pengangkat tandi. Itulah kehidupan hina yang kau jalani"

Walaupun ucapan Dam Seo begitu menyakitkan, tapi Gae Ddong tidak peduli. Dengan lantang dan pandangan mata memelas, dia berkata "Aku hanya membutuhkan satu orang yang mau mengakuiku. Orang yang akan menjadi istriku"


Gae Ddong sangat murung setibanya kembali di rumah. Dan membuat ayah dan kakeknya makin cemas saat tiba-tiba saja dia membenturkan kepalanya berkali-kali ke tembok sambil menjerit-jerit penuh amarah. Stres, dia langsung keluar dan menceburkan dirinya kedalam sumur. Untungnya sumurnya cetek. Tapi dia terus menangis sesenggukan, menuntut kenapa dia dinamai Gae Ddong.


Setelah mereka berhasil mengeluarkannya dari dalam sumur, dia terus menuntut penjelasan ayahnya. Kenapa dia dinamai Gae Ddong padahal Man Geum pernah bilang kalau dia keturunan bangsawan. Ayah dan kakeknya hanya diam tapi Man Geum tampak merasa bersalah.


Putra Mahkota Yoon sedang berlatih panahan. In Jwa datang menemuinya tak lama kemudian. In Jwa berkata bahwa hari ini dia datang untuk menemui raja lalu menemani putra mahkota berlatih memanah. Raja datang tak lama kemudian setelah selesai berburu. In Jwa langsung berlutut hormat dan Putra Mahkota Yoon memperkenalkannya sebagai guru baduknya.


Raja hanya tersenyum sinis lalu berlalu pergi. Tapi belum seberapa jauh, In Jwa tiba-tiba mengusulkan sebuah tantangan main baduk dengannya. In Jwa bahkan berkata bahwa dia akan langsung memberikan 10 poin awalan untuk raja. Menyadari itu cuma alasan yang sengaja In Jwa gunakan untuk membicarakan sesuatu dengannya, Raja menerima tantangan itu.

Saat mereka mulai bermain, Raja mengomentari keberanian In Jwa dalam menghadapi seorang raja "Kau tidak gentar seolah kau akan menjadi seorang raja"


Raja bahkan langsung menyebutkan para anggota keluarga In Jwa. Dalam kilas balik, kita melihat masa lalu In Jwa saat dia masih muda. Salah seorang anggota keluarganya ditangkap sementara yang lainnya terbunuh dan terbakar. In Jwa tampak begitu marah dan diliputi dendam saat dia melihat rumahnya yang terbakar.


Raja menyindir In Jwa yang sengaja memanfaatkan putra mahkota yang lemah dengan tameng sebagai guru baduk untuk mempermainkan semua orang. In Jwa pasti sangat dendam padanya dan ingin membunuhnya karena dialah orang yang menyebabkan keluarga In Jwa hancur.

In Jwa dengan tenangnya mengklaim bahwa dia tidak dendam sama sekali karena dia mengerti bahwa apa yang raja lakukan dulu (pada keluarganya) adalah demi kebaikan negeri ini. Raja tidak percaya dan langsung menyuruh In Jwa menatapnya. Tapi apa yang dia lihat dalam tatapan mata In Jwa, cukup membuatnya terkejut karena ternyata In Jwa berkata jujur. Jadi sebenarnya apa tujuan In Jwa menggunakan alasan baduk untuk bicara dengannya?


In Jwa berkata bahwa tujuannya menemui raja adalah untuk membicarakan pergantian kepimpinan raja. Dia mengusulkan agar raja mundur dari jabatannya dan menempatkan Putra Mahkota Yoon sebagai raja lebih cepat. Memang mungkin akan ada pertentangan dari kubu Noron dan Soron. Tapi menjadi raja adalah hak waris Putra Mahkota Yoon yang pasti akan terjadi, jadi kenapa juga raja harus cemas.

Raja langsung tertawa sinis mendengarnya. Dia tahu betul niat asli In Jwa dan langsung menuduh In Jwa ingin menjadi monster yang punya 100 mata dan 1000 telinga, monster yang membuat hujan lebat dan memakan daging manusia. In Jwa dengan tenangnya menyangkal dan berkata kalau dia hanyalah guru putra mahkota, tidak kurang tidak lebih. Lagipula mana mungkin orang kecil sepertinya berhasrat untuk terjun ke dunia politik.


Tapi saat dia hendak keluar istana, dia berpikir bahwa dia memang tidak tertarik dengan politik karena yang dia inginkan hanyalah tahta "Tunggu saja, suatu hari nanti akan kugenggam tahta itu di tanganku"


Selir Choi menemui Pangeran Yeoning dan mengomelinya habis-habisan tepat di hadapan para dayang dan pengawal istana karena gaya hidupnya yang tak karuan. Judi, mabuk-mabukan, main wanita. Tapi bukannya meminta maaf atau bertobat, Pangeran Yeoning malah melawan dan menyuruh ibundanya untuk tidak usah mengurusinya saja. Marah, Selir Choi langsung menamparnya dan menghukum Pangeran Yeoning tidak boleh keluar istana untuk sementara waktu.


Tapi sebenarnya semua ini, termasuk gaya hidup Pangeran Yeoning, hanya akting untuk membuat semua orang percaya bahwa Pangeran Yeoning bukan rival Putra Mahkota Yoon. Dalam batinnya, Selir Choi memohon pada Pangeran Yeoning untuk terus bersabar dan bertahan sampai mereka berhasil mencapai tujuan utama mereka, mengambil alih tahta raja.


Setelah Pangeran Yeoning pergi, Selir Choi melihat In Jwa tak jauh darinya. Mereka saling menatap dan berpikir tentang satu sama lain seolah mereka bisa bertelepati. In Jwa tidak menyangka pelayan rendahan dulu, sekarang bisa menjadi selir tertinggi. Selir Choi dalam hatinya berkata bahwa semua ini berkat In Jwa.


Man Geum membanting sekantong uang dihadapan Gae Ddong, semua uang itu adalah hasil kerja kerasnya selama ini. Tapi sekarang, dia akan menggunakannya untuk mengubah Gae Ddong jadi bangsawan. Gae Ddong tentu saja shock tapi senang. Man Geum lalu memulai misi me-makeover Gae Ddong dengan terlebih dulu mempersiapkan bak air panas untuk memandikan Gae Ddong.

Tapi Gae Ddong malu kalau harus buka semua bajunya di hadapan ayahnya. Jadilah Man Geum yang harus turun tangan langsung memelorotkan celananya Gae Ddong. Malu, Gae Ddong memakai celananya lagi dan ujung-ujungnya mereka malah main perang air.


Setelah selesai memandikan Gae Ddong, Man Geum membawanya ke toko baju dan membelikannya sebuah hanbok mewah lengkap dengan berbagai aksesorisnya. Dan berhubung sekarang penampilannya sudah kelihatan seperti bangsawan sungguhan, Gae Ddong pun mulai merubah gaya jalannya. Dari yang biasanya melompat-lompat bebas seperti anak kecil, kali ini dia harus bersikap elegan dengan berjalan pelan dan gagah.


Tapi dia penasaran. Berhubung sekarang dia sudah jadi bangsawan, bukankah seharusnya dia juga memiliki sebuah nama yang lebih pantas. Man Geum berkata kalau dia punya nama yang pantas, di buku silsilah keluarga. Silsilah keluarga yang dulu dia jadikan taruhan dan diambil paksa Hong Mae.


Man Geum lalu pergi menemui Hong Mae yang tidak menyangka akan bertemu Man Geum lagi. Tapi kenapa Man Geum kembali kemari. Man Geum mengaku bahwa dia datang untuk mengambil buku silsilah keluarganya untuk dia wariskan pada putranya. Hong Mae mengklaim kalau buku itu sudah tidak ada padanya. Tapi sedetik kemudian, dia berubah pikiran dan menyuruh Man Geum untuk membayar sejumlah uang, baru dia akan mengembalikan buku itu padanya.


Tak lama kemudian, Man Geum dengan bangga menyerahkan buku silsilah keluarga itu pada Gae Ddong yang terkagum-kagum melihat buku itu. Man Geum lalu memberitahunya bahwa mulai hari ini, nama Gae Ddong berubah menjadi Baek Dae Gil, Bangsawan Baek generasi ke-13. Saking senangnya, Dae Gil langsung menari-nari kegirangan, merayakan dirinya yang sekarang jadi bangsawan.


Sementara itu, Hong Mae memberitahukan masalah ini pada In Jwa. Bahwa anak bernama Gae Ddong yang pernah ke kasino waktu itu adalah anaknya Selir Choi. In Jwa lalu memanggil Dam Seo dan memerintahkan Dam Seo untuk memulai rencana besar mereka malam ini. Dan rencana pertama itu adalah menyuruh Dam Seo untuk membunuh seorang pria.

Malam harinya, Dae Gil dan keluarganya minum-minum untuk merayakan hari pertama Dae Gil sebagai bangsawan. Mereka bercanda tawa dengan penuh kegembiraan. Tapi kebahagiaan itu hanya berlangsung singkat gara-gara kedatangan Hong Mae dan para anak buahnya yang diperintahkan kesana oleh In Jwa.

Mereka tidak repot-repot berbasa-basi dan memberitahu Man Geum bahwa tujuan mereka datang kemari adalah membunuh Man Geum dan keluarganya. Saat para anak buahnya Hong Mae hendak menyerang Man Geum, Dae Gil langsung menyelamatkan ayahnya dengan cara melempar dirinya untuk mendorong para pria itu.

Dia berhasil melumpuhkan salah seorang. Tapi Hong Mae tiba-tiba menusuk perutnya dengan pisau lalu dengan santainya menasehati Dae Gil untuk tidak bersikap sok jagoan. Dia hendak menarik pisaunya lagi. Tapi Dae Gil mencegahnya sambil berkata "Kau duluan yang bawa pisau, jadi kau tidak boleh dendam padaku"

Dan BUK! Dae Gil meninjuk wajah Hong Mae dengan keras. Mereka lalu cepat-cepat melarikan diri. Hong Mae marah besar. In Jwa pernah memperingatkannya bahwa dia tidak akan bisa membunuh Dae Gil. Tapi Hong Mae tidak terima dan langsung menyuruh anak buahnya untuk mengejar Dae Gil, Hong Mae bertekad untuk menghabisi Dae Gil.


Man Geum memapah Dae Gil hingga mereka sampai ke sungai untuk melarikan diri dari Hanyang. Mereka membantu Dae Gil naik ke perahu. Tuan Nam naik duluan sementara Man Geum mendorong perahunya ke air. Tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa mereka sedang diawasi oleh In Jwa dan Dam Seo.

"Tembak dia" perintah In Jwa.


Tapi Dam Seo merasa tidak sanggup melakukannya. Kenapa? Apa sekarang Dam Seo sudah mulai menyukai Dae Gil? tanya In Jwa. Dam Seo menyangkalnya tapi dia teringat ucapan Dae Gil yang bertekad untuk menjadikannya istri. Dam Seo berusaha menarik busurnya tapi dia benar-benar tak sanggup melakukannya hingga tangannya gemetaran hebat.


In Jwa langsung mengambil alih panah itu dari tangan Dam Seo dan menembakkannya tepat menancap di punggung Man Geum. Man Geum shock, dia berpaling dan melihat mereka di kejauhan. Dia teringat akan kata-kata In Jwa bahwa suatu hari nanti, anaknya akan datang padanya.


Man Geum memanggil Dae Gil sebagai Gae Ddong lagi untuk menarik perhatiannya. Dan saat itulah, dia dan Tuan Nam akhirnya melihat panah yang menancap di punggung Man Geum dan darah yang tersembur dari mulutnya.

Dae Gil cemas dan ketakutan dan meminta Man Geum untuk cepat-cepat naik ke perahu. Tapi saat itu Man Geum melihat Hong Mae dan anak buahnya sudah dekat. Menyadari dirinya sudah diambang maut, dia meminta Dae Gil untuk mendengarkan kata-kata terakhirnya.

"Apa maksud ayah mati? Ayah tidak akan mati! Ayah tidak akan mati!"

"Kalau kau tidak mau menjadi seperti ayahmu, berhentilah berjudi. Dan pergilah sejauh mungkin ke kota kecil. Jangan berpikir untuk balas dendam dan hidup saja disana, mengerti? Pergilah sekarang"

Dae Gil tidak mau dan terus bersikeras tidak mau melepaskan pegangannya dan menyatakan kalau dia akan hidup bersama ayahnya sampai dia mati.


Hong Mae dan anak buahnya sudah semakin dekat. Tidak ada waktu lagi, akhirnya Man Geum berteriak meminta Tuan Nam untuk bertindak. Tuan Nam terpaksa memukul Dae Gil dengan dayung hingga akhirnya pegangan tangannya terlepas dari Man Geum dan Man Geum langsung mengerahkan seluruh kekuatan terakhirnya untuk mendorong perahu mereka.


Setetes air mata mengalir saat Dae Gil tak berdaya melihat ayahnya tenggelam ke sungai sebelum akhirnya dia pingsan.

"Gae Ddong-ah... maksudku, Dae Gil-ah. Kau adalah putraku. Tak peduli apapun yang orang katakan, kau adalah putraku. Putra Baek Man Geum, Dae Gil"

4 comments :

  1. Lanjut mba, aku suka sama drama ini

    ReplyDelete
  2. Yeee udah update lagi makasih unni🙋🙆

    ReplyDelete
  3. Fighting chingu rekap dramanya. . ^_^

    ReplyDelete
  4. Dramanya bagus mbk, lanjut terus ya sinopsisnya , semangat :-)

    ReplyDelete