April 9, 2016

Jackpot Episode 4 - 1


Gae Ddong terpukau oleh kecantikan Dam Seo. Kecantikannya begitu menyilaukan sampai-sampai dia kehilangan keseimbangan tubuhnya dan terjatuh. Gae Ddong jatuh cinta pada pandangan pertama. Dam Seo turun dari kudanya dan Gae Ddong melihatnya sambil melongo.




Saat dia hendak masuk ke kasino, seorang penjaga tiba-tiba menghadangnya. Dam Seo kesal dan langsung membentak si penjaga dengan nada cukup kasar dan memerintahkan si penjaga untuk memanggil Hong Mae keluar sekarang juga. Si penjaga marah dan langsung membuka cadar Dam Seo dan memperingatkannya untuk pergi saja sekarang.


Kesal wanita pujaannya diperlakukan dengan cara kurang ajar, Gae Ddong langsung bersikap sok jagoan untuk menyelamatkan Dam Seo dengan memelintir tangan si penjaga yang telah berani menyentuh cadar Dam Seo.


Tapi seorang penjaga kedua tiba-tiba muncul dan langsung mengangkat Gae Ddong seolah dia cuma seberat anak kecil lalu membantingnya ke tanah. Gae Ddong marah dan langsung bangkit untuk balas dendam. Sayangnya, dia bahkan tidak kuat mengangkat si penjaga. Si penjaga dengan mudahnya menarik Gae Ddong lalu menampar mukanya keras-keras sampai dia terjatuh.


Gae Ddong masih terus berusaha sok keren dengan cara bangkit ala jagoan silat tapi gagal. Alhasil, dia malah cuma menendang-nendang kakinya ke udara. Apalagi hidungnya tiba-tiba berdarah. Duh, malunya!


Dam Seo akhirnya masuk ke tempat judi Hong Mae yang cukup kaget melihat kedatangannya. Tapi kemudian dia menunjukkan dimana In Jwa berada saat ini. Gae Ddong diam-diam mengikutinya ke dalam dan langsung terkagum-kagum dengan keramaian dan berbagai permainan judi di tempat itu.

Dam Seo baru saja duduk bersama In Jwa saat Gae Ddong tiba-tiba muncul dan langsung ikut duduk di meja mereka dan memakan makanan mereka dengan tangan, tanpa permisi, tanpa izin dan tanpa tahu malu. In Jwa bertanya apakah Dam Seo mengenalnya. Dam Seo mengelak tapi Gae Ddong ngotot kalau mereka kenal karena mereka baru bertemu tadi.

"Tapi kenapa wanita beradab sepertimu punya tangan yang kasar?" tanya Gae Ddong sambil menunjuk tangan Dam Seo. Malu, Dam Seo langsung menyembunyikan tangannya.


Saat Dam Seo memanggil In Jwa dengan sebutan guru, Gae Ddong menebak kalau In Jwa pasti guru yang telah mengajarinya cara berjudi dan bermain kartu. Tiba-tiba dia tersedak dan langsung meminum minuman In Jwa. Setelah masalah tersedaknya selesai, dia berkomentar bahwa wanita muda sepertinya seharusnya memikirkan masalah pernikahan saja dan bukannya main kartu.

Gae Ddong makin bersikap kelewatan saat dia mulai mengomentari dan menghina In Jwa yang menurutnya sudah tua dan pandangan mata In Jwa. Mendengar itu, In Jwa langsung menatapnya dengan sangat tajam. Tapi bukannya ketakutan, Gae Ddong malah tidak terpengaruh sedikitpun.

Dia lalu mengeluarkan beberapa kartu untuk menunjukkan keahliannya bermain kartu tapi sayangnya dia gagal karena dia salah mengambil kartu. In Jwa berusaha mengusirnya dengan sopan tapi Gae Ddong cepat menyela dan bersikeras kalau dia masih punya urusan di sini.


Sambil menatap Dam Seo, dia berkata "Mulai sekarang, aku memutuskan untuk menjadikannya istriku"

Dam Seo langsung marah. Tapi Gae Ddong menyatakan bahwa dia tahu kalau Dam Seo akan menjadi istrinya sejak pertama kali melihat Dam Seo. Dam Seo jadi semakin marah padanya.


Tapi In Jwa cepat-cepat menenangkannya. Dia cukup senang dengan kejadian barusan lalu pergi bersama Dam Seo.


Dia ingin mengikuti mereka. Tapi Hong Mae mencegahnya dan memaksa Gae Ddong untuk membayar semua makanan yang barusan dimakannya. Dengan santainya Gae Ddong mengeluarkan koin satu nyang-nya karena mengira kalau semua makanan itu cukup hanya dengan satu koin itu. Jelas saja Hong Mae langsung marah.


In Jwa membawa Dam Seo ke sebuah ruang penyimpanan harta. Ada uang, guci-guci mahal, emas dan lain sebagainya. In Jwa memberitahu Dam Seo bahwa yang bisa mengubah dunia ini bukanlah raja atau pejabat tapi uang. Dia lalu menyerahkan beberapa buku pada Dam Seo karena mulai sekarang dia akan memberikan tanggung jawab pada Dam Seo untuk mengurus semua ini.


Gae Ddong menggenggam koin satu nyang-nya erat-erat saat Hong Mae menyiksanya. Tapi pada akhirnya dia tidak kuat lagi hingga koin itu terlepas dari tangannya dan menggelinding ke kaki In Jwa yang baru kembali bersama Dam Seo.

In Jwa mengambil koin itu lalu mengetes kemampuan judi Gae Ddong dengan memutar koin itu ke udara. Dan begitu mendarat di tangannya, dia menyuruh Gae Ddong menebak sisi koin mana, depan atau belakang?

Gae Ddong dengan penuh percaya diri berkata depan. Dia bahkan menyatakan bersedia jadi pelayannya In Jwa kalau dia salah. In Jwa akhirnya membuka tangannya dan langsung tersenyum sambil memuji Gae Ddong.


In Jwa penasaran siapa namanya. Itu adalah pertanyaan yang tak nyaman untuk dikatakan. Gae Ddong ragu dan akhirnya menjawab dengan gumaman lirih bahwa namanya Gae Ddong. Mendengar itu, Hong Mae dan anak-anak buahnya langsung menertawainya habis-habisan. Karena Gae Ddong artinya (maaf) kotoran anjing.

In Jwa menyuruh Hong Mae untuk melepaskannya lalu melemparkan kembali koin itu pada Gae Ddong dan berkata, "Seseorang yang tahu nilai satu nyang adalah ahli kartu sejati."


Gae Ddong akhirnya pergi, tapi terlebih dulu mengingatkan Dam Seo bahwa mulai sekarang Dam Seo adalah istrinya. Setelah dia pergi, In Jwa mengkonfrontasi Hong Mae karena bersikap sok seolah tempat ini masih miliknya (kasino itu sekarang sudah menjadi milik In Jwa).



Pangeran Yeoning mabuk-mabukan di siang bolong dan berteriak-teriak kesal saat botol alkoholnya habis. Beberapa pria yang duduk di dekatnya kesal padanya dan langsung melabraknya. Pria itu hampir saja menyerangnya, tapi untunglah pengawal pribadi Pangeran Yeoning muncul pada saat yang tepat dan mencegah mereka.

Dia lalu pergi dengan langkah terhuyung-huyung dan menyuruh pengawalnya untuk membayarkan tagihannya. Mereka tidak sadar kalau Moo Myung sedang mengawasinya.


Di tengah jalan, tak sengaja Pangeran Yeoning dan Gae Ddong bertabrakan. Pangeran Yeoning meminta maaf dengan cuek dan Gae Ddong hanya menatapnya dengan pandangan tak senang. Tapi tiba-tiba mereka tertarik melihat sebuah permainan judi pinggir jalan, tebak biji dalam mangkok. Gae Ddong mempertaruhkan koin satu nyang-nya di mangkok pertama.


"Kurasa bukan yang itu" kata Pangeran Yeoning sambil cegukan.

Gae Ddong meremehkan ucapannya terutama karena dia mabuk di siang bolong dan menyuruh Pangeran Yeoning untuk mengurus urusannya sendiri saja, dia yakin kalau dia pasti akan beruntung kali ini.

"Karena kau bertemu denganku, kurasa kau punya banyak keberuntungan" dengus Pangeran Yeoning.

Dia lalu mengambil alih koin satu nyang-nya Gae Ddong dan menambahkannya dengan segenggam koin miliknya sendiri untuk dipertaruhkan semuanya di mangkok ketiga.


Lalu tiba-tiba saja, dengan sangat cekatan, dia mengambil pisau si bandar judi, menarik tangan si bandar ke atas mangkok pilihannya dan menusukkan pisau itu di sela-sela tangan si bandar hingga menembus mangkok kayu itu. Semua orang sampai kaget melihat kejadian yang begitu tiba-tiba itu. Wah! Dia mabuk beneran apa tidak yah?


Lalu dengan tatapan mata tajam menakutkan, dia memerintahkan si bandar untuk membuka kedua mangkok yang lain dulu. Ketakutan, si bandar akhirnya menuruti perintah Pangeran Yeoning dan membuka kedua mangkok yang ternyata kosong itu. Tebakannya tepat, dia menang dan langsung mengambil uang kemenangannya.


Dia lalu melempar koin satu nyang-nya Gae Ddong. Dia mengomentari Gae Ddong yang kelihatan tak mampu. Dan karenanya, menasehati Gae Ddong untuk menabung setiap koin nyang yang dimilikinya.


Dia lalu pergi dengan langkah terhuyung-huyung. Sementara Moo Myung menyaksikan segalanya dari kejauhan.


Dia lalu pergi menemui In Jwa dan melapor bahwa Pangeran Yeoning memang hidup awur-awuran. Minum-minum di siang bolong, menipu orang bahkan berkelahi. Tapi walaupun begitu, kecerdasannya tetap terlihat jelas di matanya. In Jwa penasaran dan memutuskan untuk melihatnya sendiri.


Malam harinya, Gae Ddong berbaring di tengah-tengah ayah dan kakeknya. Tapi dia tidak bisa tidur memikirkan Dam Seo. Saat berpaling ke sebelah, tiba-tiba dia melihat kakeknya terbelalak lebar seperti lihat hantu. Gae Ddong langsung cemas terjadi sesuatu dengan kakeknya. Tapi kemudian kakek berguling dan tidur lagi.


Wajah Dam Seo terus terngiang-ngiang, sampai dia mengkhayal melihat wajahnya di langit-langit rumah. Stres dengan khayalannya, Gae Ddong memutuskan keluar dan menjernihkan pikirannya dengan berolahraga. Tapi saat dia mendongak ke langit, dia malah melihat bayangan wajah Dam Seo di bulan dan tersenyum sangat manis padanya sampai membuat Gae Ddong terpesona menatap bulan.


Keesokan harinya, Gae Ddong membuntuti Dam Seo ke tempat latihan panah dimana Dam Seo menjadi pelatih bagi para wanita. Gae Ddong bersembunyi di belakang pohon tak jauh dari tempat itu. Dia membawa sebatang bunga liar lalu mulai berlatih melamar Dam Seo sambil cekikikan saking antusiasnya.


Dia mengintip lagi. Tapi tepat saat itu juga, sebuah anak panah melesat dan menancap di pohon tempatnya bersembunyi dalam posisi yang sangat dekat dengan wajahnya. Gae Ddong langsung terjatuh saking shock-nya.


Tapi kemudian dia melihat Dam Seo mendekat. Seketika itu pula, Gae Ddong langsung cengar-cengir senang. Tapi dia mengelak saat Dam Seo menuduhnya membuntutinya dan mengklaim bahwa dia sudah menduga kalau Dam Seo adalah seorang pemanah.

"Tanganmu. Sebelah kiri yang kasar bagian telapak tangan sementara sebelah kanan yang kasar di bagian jempol dan jari telunjuk. Aku menyimpulkan kalau kau pasti suka panahan. Dan kau juga seorang gadis muda. Jadi apalagi selain jadi guru memanah bagi para wanita lainnya."

Dam Seo memperingatkan Gae Ddong untuk tidak membuntutinya lagi. Tapi Gae Ddong terus saja membuntutinya dan menuntut Dam Seo untuk memberitahukan namanya. Tapi saat Dam Seo berpaling dengan tatapan tajam, dia langsung terdiam seketika.


Tapi dia terus saja mengikutinya lalu mengulurkan bunga liar yang sedari tadi dibawanya untuk Dam Seo. Kesal, Dam Seo langsung berbalik dan menyabet bunga itu dengan pedangnya sampai bunga itu terpotong dari batangnya.

"Lain kali lehermu (yang akan terpotong)" ancam Dam Seo

Tapi di mata Gae Ddong, wajah marah Dam Seo malah terlihat makin cantik. Dan dia terus saja membuntutinya sampai ke sebuah rumah hiburan. Tentu saja dia tidak bisa masuk begitu saja, maka dia pun pura-pura jadi pengangkat tandu seorang bangsawan untuk bisa masuk ke tempat itu.


Tapi saat dia sedang mencari Dam Seo, dua orang gisaeng tiba-tiba mengerubunginya dan bersikeras ingin melayaninya. Gae Ddong berusaha memberitahu mereka kalau dia tidak punya uang tapi mereka tidak percaya karena mereka mengira dia pengangkat tandu yang biasanya bayarannya lumayan.

Mereka bahkan langsung menyeretnya duduk di meja kosong dan mulai meraba-raba tubuhnya sampai membuatnya tidak nyaman. Pangeran Yeoning juga ada disana, bercanda ria bersama para gisaeng yang melayaninya. Dan kebetulan meja mereka berseberangan terpisah oleh panggung pertunjukkan.


Gae Ddong langsung melongo saking terpesonanya. Sama halnya dengan Gae Ddong, Pangeran Yeoning pun kesengsem melihat kecantikan Dam Seo.

 

Hwanggoo Yeomeom memulai acara dengan menyapa para tamu lalu mengumumkan bahwa mereka telah menyiapkan sebuah pertunjukkan spesial. Tarian yang dibawakan oleh Dam Seo. Begitu dia muncul,


Saat Dam Seo turun panggung dan melewati meja Gae Ddong, dia langsung menatapnya tajam dan kesal. Tapi Gae Ddong terlalu terpesona padanya hingga dia terus-menerus melongo. Dam Seo kembali ke panggung dan menari hingga akhirnya dia menatap Pangeran Yeoning.


Pertujukkannya malam ini memang khusus supaya Yeoning melihatnya dan memperhatikannya "Yeoning, anak raja. Musuhku," geram Dam Seo dalam hati.

Dam Seo lalu turun panggung dan dengan sengaja berjalan ke mendekati Pangeran Yeoning, menggodanya dengan tarian-tariannya. Pangeran Yeoning terpesona. Tapi saat Dam Seo kembali ke panggung, dia malah mendengar keributan di belakangnya.


Gae Ddong yang cemburu, sedang melabrak Pangeran Yeoning karena berani menatap wanita pujaannya. Tapi Pangeran Yeoning tetap kalem dalam menghadapi kemarahan Gae Ddong, bahkan dengan dinginnya bertanya apakah Gae Ddong menginginkan wanita itu?

Gae Ddong menatap Dam Seo sebentar lalu mengiyakan "Ia memang sasaranku. Dia akan menjadi istriku jadi jangan lihat dia dan jangan muncul di hadapannya"

Pangeran Yeoning jadi kesal dan langsung balik menarik bajunya Gae Ddong dan menantang balik, "Memangnya apa yang akan kau lakukan kalau aku muncul lagi?"


Hwanggoo Yeomeom dengan cepat mencegah pertengkaran mereka sebelum memanas. Karena kedua pria itu sepertinya sangat menyukai Dam Seo, dia mengusulkan agar mereka melakukan sebuah permainan judi. Lempar dadu kayu dalam mangkok. Pemenangnya adalah yang berhasil mendapatkan angka paling rendah dan siapapun yang menang berhak ditemani Dam Seo malam ini.


Tapi Pangeran Yeoning punya syarat, permainan akan adil jika yang kalah juga harus melakukan sesuatu. Gae Ddong setuju dan mengusulkan bahwa siapapun yang kalah harus copot baju dan menelanjangi dirinya disini, di hadapan orang-orang. Pangeran Yeoning setuju.

Gae Ddong melempar daduya lebih dulu dan langsung sukses mendapatkan angka 1, angka paling rendah yang pastinya tidak bisa dikalahkan. Tapi Pangeran Yeoning punya cara tersendiri untuk mengatasi hal itu, menghancurkan dadunya yang artinya dia menang dengan angka kosong.


Gae Ddong jelas langsung protes dengan kecurangannya itu. Tapi Hwanggoo Yeomeom menyetujui kemenangan Pangeran Yeoning. Jadi sekarang Gae Ddong harus melepas semua pakaiannya. Terpaksalah Gae Ddong harus menelanjangi dirinya dan jadi bahan tertawaan semua orang.


Tapi keceriaan semua orang tak berlangsung lama. In Jwa muncul tak lama kemudian dan dengan sengaja menyapa Pangeran Yeoning di hadapan semua orang. Sontak semua orang disana langsung menunduk hormat padanya. Pangeran Yeoning langsung kesal dan menyindir In Jwa bagai tikus yang suka mengorek-ngorek latar belakangnya.

In Jwa datang dengan membawa kepala polisi. Mereka datang bukan untuk menangkap Pangeran Yeoning tapi untuk menangkap Gae Ddong dan Dam Seo yang melanggar peraturan dengan berjudi. Pangeran Yeoning berusaha menyelamatkan mereka tapi kepala polisi tetap bersikeras menegakkan peraturan.


Saat polisi hendak menyeret mereka pergi, Gae Ddong langsung membela Dam Seo. Menyatakan Dam Seo tidak salah apa-apa karena dia sendirilah yang membuat taruhan dan menelanjangi dirinya sendiri dihadapan umum. Dan karenanya, dia bersedia menanggung hukuman Dam Seo.


Setelah Gae Ddong dibawa pergi, Dam Seo bertanya kenapa In Jwa tidak memberinya peringatan terlebih dulu. In Jwa berkata bahwa memberitahunya tidak akan membuat segalanya berbeda. Tapi tetap saja Dam Seo merasa bersalah karena seseorang jadi dihukum karenanya. In Jwa dengan cueknya berkata bahwa mungkin itu sudah takdir pria itu.

Bersambung ke episode 4 - 2

3 comments :