April 3, 2016

Jackpot episode 2 - 2


Mengira bayi itu mati, kasim kembar langsung pergi meninggalkan Man Geum yang hanya bisa menangis dan meratapi kematian putranya. Dia benar-benar sedih hingga dia tidak peduli dengan nyawanya sendiri dan menyuruh Moo Myung untuk membunuhnya saja. Moo Myung langsung menghunus pedangnya...


Tepat saat bayi itu tiba-tiba menangis. Bayi itu masih hidup. Man Geum langsung teriak-teriak bahagia sementara Moo Myung terpaku disana, tercengang melihat keajaiban ini.




Tapi akhirnya dia tidak tega dan memutuskan untuk melepaskan mereka. Dia mengambil cincin giok bayi itu untuk dia tunjukkan pada In Jwa sebagai bukti bahwa Man Geum dan bayi itu sudah mati. Tapi In Jwa kenal betul pribadi Moo Myung. Dia bukan orang yang pandai berbohong dan In Jwa bisa langsung tahu kalau Moo Myung barusan berbohong.


Hong Mae tiba saat itu. In Jwa melempar sekantong uang dan menyerahkan urusan mencari bayi Man Geum pada Hong Mae. Setelah Hong Mae pergi, In Jwa menanyakan tentang adanya orang lain yang mengganggu mereka di hutan tadi. Moo Myung tidak tahu siapa dia. Yang dia tahu hanyalah, si pengganggu itu punya kemampuan memanah yang sangat baik.


Dia adalah Yi Soo. Begitu dia sampai di rumahnya, dia melihat putri semata wayangnya, Dam Seo, sedang menunggunya di luar dan langsung menyambutnya dengan gembira begitu melihatnya pulang. Yi Soo langsung menggendong Dam Seo dan menghela napas berat sebelum dia membawa Dam Seo masuk.


Kasim kembar ternyata diam-diam bersembunyi di belakang rumah Yi Soo. Mereka curiga kalau Yi Soolah yang mengganggu mereka tadi. Mereka memiliki bukti sobekan kain bajunya Yi Soo yang tertinggal di pohon. Dan dugaan mereka terbukti saat mereka melihat bajunya Yi Soo ada yang robek.


Man Geum mengobati bayi itu ke tabib. Tabib berkata bahwa senjata itu tidak sampai mengenai bagian vitalnya, langit pasti telah memberkati bayi itu.


Yi Soo sudah ditangkap dan ditawan di ruang penyiksaan oleh kasim kembar. Raja datang tak lama kemudian. Dia mengeluarkan sobekan kain bajunya Yi Soo dan dengan dinginnya mengkonfrontasi Yi Soo yang telah membohonginya tentang kematian bayi itu.


Selama ini dia mengira Yi Soo berbeda tapi ternyata tidak. Saat Yi Soo berusaha membela diri, Raja langsung menutup mulutnya dengan menjejalkan kain itu kedalam mulutnya dengan penuh amarah.

"Aku tidak bisa mentolerir orang yang telah mengkhianatiku. Bahkan sekalipun anakku sendiri yang menipuku, aku tidak akan memaafkannya. Siapa yang memerintahkanmu untuk melakukan ini? Bawa kepala orang itu padaku. Jika kau melakukannya, aku akan membiarkan putrimu hidup"


Keesokan harinya, Yi Soo dan In Jwa berjalan berdampingan di hutan bambu dengan membawa panah dan busur. In Jwa mengingatkan Yi Soo bagaimana dulu, di tempat inilah dia memberi kesempatan kedua untuk Yi Soo, memberinya kesempatan untuk hidup dan memberinya sebuah nama baru. Dia sangat mengerti keinginan Yi Soo untuk melindungi putrinya. Karena itulah, jika Yi Soo memang sudah mengambil keputusan maka sebaiknya dia tidak usah ragu ataupun sedih untuk melakukannya.


Maka Yi Soo pun langsung mengangkat busur dan panahnya dan melepaskan tembakan ke arah In Jwa. Tapi panah itu menancap di bambu terdekat In Jwa. Kedua pria itu saling berhadapan untuk duel. In Jwa pun mengarahkan panahnya pada Yi Soo yang kemudian di bambu terdekat Yi Soo. Sepertinya panah pertama ini cuma sebagai penanda dimulainya duel.


Tapi panah kedua benar-benar diarahkan pada masing-masing. Mereka melepaskan anak panah masing-masing pada saat yang bersamaan. Panahnya In Jwa meleset. Yi Soo menembakkan dua anak panah, satunya meleset dan yang satunya berhasil menggores pipi In Jwa.

Panah ketiga dilepaskan pada saat yang bersamaan dan kali ini kedua panah sama-sama menancap di tubuh masing-masing. Yi Soo langsung ambruk dengan panah menancap di dadanya... tapi In Jwa selamat.


Ternyata panah yang ditembakkan Yi Soo padanya adalah panah yang tak ada mata panahnya, dia tidak ingin membunuh In Jwa.


In Jwa berkaca-kaca melihat panah gundul itu dan  pada Yi Soo yang mulai sekarat. Yi Soo berjanji akan menjaga putri Yi Soo. Dengan napas terakhirnya, Yi Soo memberitahukan nama putrinya sebelum akhirnya dia meninggal dunia.


Dengan tangan gemetaran, In Jwa menutup mata Yi Soo dan menjerit penuh duka dan amarah.


In Jwa membawa mayat Yi Soo ke putri kecilnya yang langsung menangis begitu melihat ayahnya sudah tak bernyawa lagi. Dengan geraman penuh amarah dan dendam, In Jwa memberitahu Dam Seo "Jangan lupa. Jangan pernah memaafkan raja negeri ini yang jauh lebih kejam daripada binatang."


In Jwa lalu menerobos masuk ke kediaman Choi Sukwon dan menyindir tajam perbedaan dirinya yang sekarang. Choi Sukwon berusaha melabraknya karena In Jwa bicara tak sopan padanya, tapi In Jwa dengan dinginnya berkata bahwa jika Choi Sukwon ingin dihormati maka seharusnya dia bersikap yang benar. Selama ini dia mengira kalau Choi Sukwon akan diam saja mengingat dia terlahir sebagai rakyat jelata, tapi ternyata tidak.

Choi Sukwon berusaha mengusirnya dan mengingatkannya bahwa menerobos masuk istana adalah kejahatan. Tapi In Jwa langsung membentaknya dengan amarah dan memberitahunya bahwa Yi Soo yang tidak bersalah, harus kehilangan nyawanya gara-gara hasutan Choi Sukwon.


Dia melempar cincin giok dan memberitahu Choi Sukwon bahwa jika dia ingin menyelamatkan bayinya maka dia harus datang ke gerbang barat malam ini. Dia mengancam akan membunuh bayi itu jika Choi Sukwon melawannya lagi.


Man Geum masih saja berjudi. Tapi di tengah-tengah permainan, bayinya tiba-tiba menangis. Dia berusaha menenangkannya tapi bayi itu terus menangis. Para lawannya jadi kesal dan akhirnya memutuskan untuk pergi. Man Geum bingung harus bagaimana apalagi bayinya menangis terus.


Seorang kakek bermata satu, Nam Dokkebi, langsung menghampirinya dan mengambil alih bayi itu darinya lalu dengan ahlinya menggodai bayi itu sampai akhirnya bayi itu tenang. Bahkan dia yang paling sadar kalau bayi itu lapar dan langsung mengomeli Man Geum karena dia makan dan minum sendiri tapi membiarkan bayinya kelaparan.


Dokkebi lalu menyerahkan bayi itu pada ahjumma untuk disusui. Dia menasehati Man Geum bahwa sekarang ini masih belum terlambat untuk berubah dan berjalan di jalan yang benar. Dia menasehati Man Geum untuk berhenti berjudi dan mulai bekerja. Jika tidak, maka Man Geum pasti akan kehilangan segalanya dan menyesal di hari tuanya nanti seperti dirinya.


Saat ahjumma membawanya kembali, bayi itu sekarang sudah lelap. Dokkebi mengomentari raut wajah bayi itu yang tampak seperti wajah bangsawan. Dia lalu bertanya siapa namanya. Man Geum mengaku kalau dia belum memberinya nama, tapi mungkin dia akan memanggilnya Gae Ddong.


Tapi dia penasaran dengan komentar Nam Dokkebi yang tadi, tentang wajah bayinya yang seperti bangsawan. Dokkebi lalu membuktikan komentarnya itu dengan melempar dadu. Dadu itu berhenti di sisi yang menunjukkan kata 'Dae Gil'. Dae artinya besar dan Gil artinya keberuntungan. Bayi itu memang tidak akan jadi raja di istana, tapi mungkin dia akan jadi raja gelandangan.


Man Geum langsung tertawa mendengarnya, sama sekali tak percaya, mana mungkin anaknya ini akan menjadi raja.



Sepertinya Man Geum masih ingin bukti. Dokkebi pun langsung mengeluarkan dadu kedua dan melempar kedua dadu itu berbarengan. Tapi yang membuat kedua pria tercengang dan melongo, kedua dadu sama-sama berhenti di kata 'Dae Gil'. Seketika itu pula Man Geum tersadar, anak ini adalah anak raja.


Dengan tangis dan teriakan penuh amarah, Man Geum langsung membawa bayi itu ke tepi air terjun lalu melemparnya ke bawah. Wah! Benar-benar dilempar ke air terjun! Dia lalu teriak-teriak seperti orang gila. "Kau lihat itu, Bok Soon. Aku sudah membunuh anakmu. Kau lihat itu, raja? Aku Baek Man Geum sudah membunuh putramu!"


Tapi kegembiraan itu berlangsung singkat saat sedetik kemudian Man Geum mulai sadar lalu menangis penuh sesal karena telah membunuh orang.

 

Tapi tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi. Dia langsung mengedarkan pandangannya mencari asal suara itu. Dan disanalah dia melihatnya, bayi itu terdampar di tepi sungai, masih terbungkus rapat di selimutnya dan menangis. (Wah, bayinya ajaib. hehe)


Dokkebi lah yang mengambil bayi itu dan mengomeli Man Geum, mengingatkan Man Geum bahwa bayi ini memiliki wajah bangsawan jadi apapun yang Man Geum lakukan padanya, nasibnya tidak akan berubah. Dia menyuruh Man Geum untuk mengambil bayi itu. Tapi Man Geum masih bersikeras tidak mau bahkan menyatakan kalau dia tidak kenal bayi itu lalu pergi.


Dokkebi akhirnya membawa bayi itu pergi. Tapi di tengah jalan, dia dihadang Hong Mae dan para anak buahnya. Mereka mengambil bayi itu darinya dan Hong Mae memberitahu Dokkebi untuk menyampaikan pesan pada Man Geum, dia harus melunasi semua hutangnya jika dia menginginkan bayi ini.


Dokkebi langsung pergi menemui Man Geum dan melabraknya karena mengacuhkan bayinya dan berhutang besar pada Hong Mae hingga Hong Mae menyandera bayinya. Dia berusaha membujuk Man Geum untuk mengeluarkan semua uang yang dia miliki untuk menyelamatkan bayinya.

Tapi Man Geum tetap bersikeras kalau bayi itu bukan bayinya dan menyatakan kalau dia tidak punya uang sedikitpun. Dan bahkan sekalipun dia punya uang, dia tetap tidak akan mengambil bayi itu. Kesal, Dokkebi langsung menampar Man Geum dan bertekad untuk mencari bayi itu sendiri.


Bayi itu sekarang sudah ada di tangan In Jwa. Sama seperti Dokkebi, dia juga bisa meramal wajah rupawan bayi itu. Dia melihat bekas luka tusukan di dada bayinya itu. Melihatnya selamat dari tusukan itu, jelas menunjukkan bayi ini memiliki keberuntungan yang sangat bagus. Jelas dia akan menjadi seorang raja nantinya. Tapi dia masih ingin menguji keberuntungan bayi itu malam ini.


Malam harinya, Choi Sukwon berlari sekuat tenaga ke gerbang barat untuk menyelamatkan bayinya dari In Jwa. Man Geum sendiri tidak bisa istirahat dengan tenang karena memikirkan bayinya saat-saat kebersamaan mereka yang singkat.


In Jwa menunggu kedatangan Choi Sukwon di sebuah pendopo sambil melatih busur panahnya yang diarahkan ke seberang... dimana dia menaruh bayinya Choi Sukwon.


Dokkebi pun berhasil menemukan keberadaan bayi itu. Dia bersembunyi tak jauh dari pendopo, bingung bagaimana harus menyelamatkan bayi itu. Dia mengalihkan pandangannya melihat In Jwa dan mengenali In Jwa sebagai 'Sarjana Baek Myun'.


Choi Sukwon tiba tak lama kemudian. Dia melihat putranya yang terbungkus selimut di seberang lalu bertanya apa yang harus dia lakukan untuk mendapatkan bayinya kembali. In Jwa mengusulkan agar mereka berjudi dengan nyawa bayi itu sebagai taruhannya.

Dia sudah menyiapkan 5 buah kartu terbalik, salah satunya ada kartu angka 10. Yang harus Choi Sukwon lakukan adalah menemukan kartu angka 10 itu. Dia akan memberikan ksempatan 3 kali. Jika Choi Sukwon berhasil menemukan kartu itu dalam 3 kali kesempatan, maka dia akan mengembalikan bayinya. Tapi Jika Choi Sukwon memilih kartu yang salah maka dia akan menembakkan satu anak panah untuk setiap kartu yang salah.


Choi Sukwon akhirnya terpaksa melakukan perintahnya. Dengan berlinang air mata, dia memilih salah satu kartu. Tapi kartu pertama yang dipilihnya salah. In Jwa pun langsung melepas anak panahnya. Choi Sukwon langsung menjerit panik...


..tapi untunglah panah itu menancap di bongkahan kayu tempat bayi itu diletakkan.


Choi Sukwon berusaha meminta maaf dan memohon belas kasihan In Jwa. Tapi In Jwa tidak peduli dan membentak Choi Sukwon untuk terus memilih kartunya. Tidak punya pilihan lain, Choi Sukwon pun memilih sebuah kartu lain.


Sayang, kali ini pun kartu yang dipilihnya salah. Dan In Jwa langsung melepaskan anak panah kedua... yang menancap sangat dekat ke bayi itu. Bayi yang awalnya tenang itu, sekarang mulai menangis.


Choi Sukwon langsung berlutut dan memohon agar In Jwa membiarkan anaknya hidup dan membunuhnya saja. Tapi In Jwa langsung tertawa geli mendengarnya, tidak ada gunanya dia membunuh Choi Sukwon. Lagipula bukankah dia sudah pernah menyelamatkan Choi Sukwon dari suaminya yang penjudi. Jadi sebaiknya sekarang Choi Sukwon melanjutkan permainannya dan memilih kartu terakhirnya.


Choi Sukwon akhirnya menurutinya. Tangannya gemetaran saat dia hendak memilih salah satu kartu. Tapi tepat saat itu juga, Man Geum tiba-tiba muncul sambil membawa sabit lalu menyatakan kalau dialah yang akan memilih kartu terakhirnya.


"Tapi, jika aku berhasil memilih kartu yang benar maka kau jangan pernah menyentuh anakku lagi, mengerti?" tantang Man Geum.

Komentar :

Bayi ajaib, ya.. Dicoba dibunuh, ga mati. Dilempar ke air terjun, ga mati. Dipanah dua kali, ga mati juga. Benar-benar keberuntungannya selangit.  Tapi mungkin memang dibutuhkan untuk bisa menantang calon raja berikutnya, ya..

Kayaknya sih nanti Man Geum menang, karena ini bayi keberuntungan. Bukan nebak sih cuman dari teaser dan previewnya, ada adegan Man Geum yang membesarkan Dae Gil. Berarti mungkin sekarang Man Geum jadi beruntung terus kalau judi, ya.

1 comment :