April 1, 2016

Jackpot Episode 2 -1


Man Geum shock melihat arak itu tertuang di enam mangkok padahal seharusnya 7 mangkok, dia yakin seharusnya tujuh mangkok. Dia mencoba menuangnya sendiri siapa tahu dia bohongi. Tapi ternyata tidak, arak itu benar-benar sudah habis. Tapi bagaimana bisa?

Raja Sukjong pun memberitahunya bahwa perhitungan Man Geum akan 7 mangkok adalah perhitungan satu botol penuh, sementara botol yang ini sudah pernah dipakai orang.




Dalam flashback, kita melihat arak itu sebenarnya sudah pernah dituang semangkok oleh Yi Soo.


"Seperti yang sudah kau janjikan. Mulai saat ini, istrimu menjadi milikku."

Man Geum shock berat sampai ia terjatuh. Dia berusaha mengejar Raja Sukjong, berlutut dan memohon belas kasihannya untuk tidak mengambil istrinya yang malang, istri yang selalu menderita sejak bersamanya dan akan jauh lebih menderita lagi jika dia dijual seperti ini.

Raja Sukjong dengan dinginnya berkata, "Tapi daripada bersama penjudi sepertimu, bukankah jauh lebih baik jika istrimu bersamaku?"

Man Geum langsung terdiam tidak bisa membantah. Tapi dia terus berusaha mengejarnya dan memohon untuk satu putaran lagi. Tapi Hong Mae cepat menghentikannya dan mengingatkannya kalau dia sendirilah yang tidak bisa mengalahkan orang yang tidak pernah bermain judi, lalu menyuruh anak buahnya untuk mengurus Man Geum.


Sementara Bok Soon dibawa ke istana dengan tandu, Man Geum dipukuli oleh anak buah Hong Mae. Ia pulang ke rumahnya yang sekarang kosong dalam keadaan babak belur. Tapi yang membuatnya langsung terjatuh berlutut hingga kedua cincin giok pernikahannya terjatuh adalah rasa sesalnya yang mendalam karena telah kehilangan istrinya.


In Jwa mendatanginya tak lama kemudian, melemparkan beberapa koin lalu memberitahu Man Geum bahwa orang yang bermain bersamanya tadi telah menipunya dan orang itu adalah raja negeri Joseon, Raja Sukjong.


Man Geum tak percaya mendengarnya. Tapi In Jwa dengan santainya berkata bahwa raja tertarik pada istri Man Geum yang cantik dan semua permainan tadi sudah dirancang sedemikian rupa dengan tujuan mengambil istrinya Man Geum.


Marah, Man Geum langsung ke istana, mendobrak-dobrak gerbang istana dan berteriak-teriak memohon pada Raja untuk mengembalikan istrinya. Beberapa pengawal menyeretnya pergi dan menggebukinya sementara Raja Sukjong masuk ke kamar Bok Soon dan berkata, "Kau sekarang milikku. Kau adalah selir raja."


Man Geum ditawan di penjara istana. Tapi keesokan harinya, kedua kasim kembar raja (Sa Won dan Sa Mo, err... sebenarnya aku bingung bedain mereka) melepaskannya dan membawanya menemui Raja. Sepanjang perjalanan, Man Geum diam-diam memperhatikan keadaan alam sekitarnya dan langit sore yang tampak mendung.


Man Geum berlutut dalam-dalam pada Raja Sukjong tapi dia tidak terima dengan kekalahannya dalam permainan judi yang sudah direncanakan oleh Raja semalam. Karena itulah, dia meminta agar mereka melakukan satu permainan lagi. Permainan kali ini harus adil.

Raja mengingatkan Man Geum bahwa dia bisa membunuh Man Geum dengan sangat mudah. Tapi Man Geum tidak peduli, lagipula dia tidak layak hidup tanpa istrinya. Kali ini dia akan mempertaruhkan segala yang dia miliki termasuk harga dirinya dan nyawanya.

"Kalau begitu ini akan menjadi pertaruhan terakhirmu. Ingat baik-baik, jika kau tidak bisa menerima hasil akhirnya lagi maka hidupmu yang tidak berguna itu akan hilang tanpa ada seorangpun yang akan mengetahuinya"


Man Geum setuju. Maka Raja pun menyuruh Man Geum untuk memilih sendiri permainannya. Man Geum mengusulkan agar mereka bertaruh tebak cuaca nanti malam, apakah nanti malam akan hujan atau tidak. Raja setuju lalu mempersilahkan Man Geum untuk menebak duluan.

Man Geum dengan penuh percaya diri berkata bahwa nanti malam akan hujan, kepercayaan dirinya itu didapatnya berkat mengamati keadaan alam dan langit mendung yang diperhatikannya selama dalam perjalanan menemui Raja tadi. Maka Raja pun bertaruh sebaliknya, malam ini tidak akan hujan.


Maka malam harinya, Man Geum memandang langit dan menanti-nanti turunnya hujan dengan gugup. Dia sangat yakin dia akan menang melawan raja dan menyelamatkan istrinya.


Sementara itu, Raja diperingatkan oleh Yi Soo untuk menarik kembali taruhannya karena malam ini sepertinya akan benar-benar hujan, langit sangat mendung dan bahkan ahli perbintangan meramalkan bahwa malam ini akan hujan. Tapi Raja tidak mau menarik kembali apa yang sudah dia ucapkan.


Tak lama kemudian, hujan akhirnya benar-benar turun. Man Geum sontak berteriak-teriak dan berputar-putar dibawah siraman air hujan dengan penuh suka cita. Akhirnya dia menang dan berhasil mengalahkan Raja.


Bok Soon muncul tak lama kemudian tapi tampak jelas kalau dia tidak senang sedikitpun dengan kemenangan Man Geum. Man Geum dengan antuasiasnya memberitahu Bok Soon bagaimana dia memenangkan pertaruhan melawan Raja, jadi sekarang Bok Soon bebas.

Tapi Bok Soon menjawabnya dengan datar dan dingin "Bebas? Selama ini aku hidup dengan kedua tangan terbelenggu dan kau bilang aku bebas? Bebas katamu?"

Man Geum bingung dengan sikap Bok Soon. Mungkin sebaiknya mereka tidak bicara disini, jadi dia langsung menarik tangan Bok Soon untuk membawanya pulang. Tapi Bok Soon langsung menampik tangannya dan dengan dinginnya menyuruh Man Geum untuk pulang sendiri saja.


"Aku tidak akan pergi. Aku sudah bilang, aku tidak akan bebas jika aku terus hidup bersamamu. Sejak awal hubungan kita, kau sudah membelengguku. Kehidupan yang kujalani hanyalah mengurus suami pecandu judi yang tidak bertanggung jawab. Sekarang kau ingin aku kembali menjalani kehidupan seperti itu? Kenapa aku melakukannya? Kenapa aku harus kembali padamu?!" teriak Bok Soon penuh amarah "Mungkin jika aku tidak tahu kalau kau sudah membuatku sebagai taruhanmu. Mungkin jika aku tidak tahu tentang itu... tapi sekarang sudah terlambat."


Man Geum langsung berlutut dan meminta maaf padanya. Tapi Bok Soon tetap teguh dengan pendiriannya karena sekarang dia bukan Bok Soon yang dulu lagi, dia bukan lagi istri si penjudi Baek Man Geum. Man Geum tak percaya mendengarnya, bagaimana bisa Bok Soon berkata seperti itu, pasti ada yang salah. Tapi Bok Soon membantahnya, tidak ada yang salah, satu-satunya yang salah adalah keberadaan Man Geum di tempat ini.


Bok Soon pun pergi meninggalkan Man Geum yang hanya bisa membisu menatap kepergiannya.


In Jwa memuji Yi Soo karena semua rencana mereka ini sukses berkat kemampuan hebat Yi Soo dalam membujuk Raja. Tapi dibanding mendengarkan pujian, Yi Soo tertarik untuk menanyakan tujuan In Jwa yang sebenarnya. Apa yang sebenarnya In Jwa inginkan jika bukan nyawa Raja?

Sambil memandang langit, In Jwa berkata "Aku ingin membuka langit baru bagi negeri Joseon. Langit biru yang cerah dan terang benderang. Langit yang bisa mengayomi rakyat jelata. Langit yang terbuka bagi semua orang."

6 bulan kemudian, Oktober 1693


Bok Soon melahirkan bayi laki-laki. Kasim kembar mengabarkan kelahiran sang pangeran pada raja yang tampak tidak terlalu bahagia dengan kabar itu. Berkat kelahiran sang pangeran, Bok Soon sekarang mendapat gelar Choi Sukwon.


Man Geum masih berjudi seperti dulu, bahkan sekarang hidupnya jauh lebih menyedihkan sejak mengetahui kabar bahwa Bok Soon yang telah melahirkan seorang pangeran. Dia seperti orang gila dan sama sekali tidak peduli seberapa banyak pukulan yang harus diterimanya.


Kelahiran pangeran itu sendiri terus menerus jadi buah bibir di kalangan para dayang istana. Terutama karena Choi Sukwon melahirkan prematur di usia kandungan 6 bulan, tapi bayi yang dilahirkannya sangat sehat. Karena itulah, banyak yang meyakini kalau bayi itu bukan anak raja.


Gosip ini didengar oleh pelayan pribadi Choi Sukwon. Walaupun dia memutuskan untuk merahasiakan gosip ini dari Choi Sukwon, tapi Choi Sukwon sendiri sudah mengetahuinya dan begitu pun dengan Raja.


Para menteri langsung protes dan menuduh bayi Choi Sukwon bukan anak raja, dugaan mereka ini diperkuat dengan fakta bahwa Choi Sukwon sudah pernah menikah saat dia masih menjadi dayang istana dulu. Tapi Raja langsung menghentikan protes mereka semua dengan memperingatkan mereka untuk tidak menggosipkan masalah ini lagi, jika tidak maka mereka akan dihukum berat apapun status mereka.


Raja berdiri didepan kediaman Choi Sukwon tapi tidak mau masuk. Jang Ok Jung tiba tak lama kemudian bersama putranya Yi Yoon (nantinya akan menjadi Raja Gyeongjong).


Jang Ok Jung datang untuk mengunjungi pangeran yang baru lahir itu. Awalnya dia tampak berbaik hati ingin memberikan obat herbal untuk Choi Sukwon. Tapi saat dia hendak pergi, niat aslinya mulai kelihatan. Ia memperingatkan Choi Sukwon akan kematian putranya itu. Jika bayi yang terlahir prematur dalam usia kandungan 7 bulan saja sulit bertahan hidup lebih dari setahun. Maka anak yang terlahir dalam usia kandungan 6 bulan itu, mungkin akan lebih cepat lagi.


Cemas akan nasib buruk yang mungkin akan menimpa putranya, Choi Sukwon diam-diam memanggil Yi Soo dan meminta bantuan Yi Soo untuk menukar bayinya dengan bayi lain. Ada sebuah daerah yang tengah terjangkit wabah penyakit dan Choi Sukwon meminta Yi Soo untuk menukar bayinya dengan bayi yang sudah mati terkena wabah penyakit.

Yi Soo agak keberatan dan takut jika In Jwa sampai mengetahui perkara ini. Tapi saat Choi Sukwon terus memohon dan mengingatkannya bahwa dia sendiri memiliki seorang putri, Yi Soo akhirnya setuju. Dia pergi mencari bayi mati di daerah yang terjangkit wabah itu hingga akhirnya dia menemukan satu bayi.


Malam harinya, mereka bertemu di belakang istana untuk menukar kedua bayi. Sebelum Yi Soo membawanya pergi, Choi Sukwon memberi bayinya cincin giok pernikahannya yang dia jadikan kalung. Dalam isak tangisnya, ia memohon pada bayinya untuk tumbuh sehat lalu mengizinkan Yi Soo untuk membawanya pergi.


Yi Soo membawa bayi itu ke Man Geum yang sedang teler. Yi Soo berkata bahkan bayi ini terlahir hanya 6 bulan sejak Choi Sukwon menjadi selir, jadi tidak mungkin anak itu anak raja. Man Geum langsung menatap bayi berkalung cincin giok itu. Dia langsung mendekap bayi itu dengan penuh haru. Semangat hidupnya bangkit kembali begitu memikirkan bayi itu adalah putra kandungnya.


Raja diberitahu bahwa anak Choi Sukwon mati. Raja kemudian pergi ke kediaman Choi Sukwon dan melihatnya tengah mendekap bayinya dengan tangis sedih. Raja hanya melihatnya sebentar lalu pergi lagi. Choi Sukwon benar-benar menangis sedih, namun yang ia tangisi adalah putranya di luar sana.


In Jwa tengah melukis saat anak buahnya, Moo Myung, datang membawakan kabar kematian putra Choi Sukwon. Seketika itu pula In Jwa langsung menghentikan kuasnya hingga tinta merah menodai lukisannya. Tapi In Jwa tidak sedikitpun mempercayai kabar itu.


Dia tahu betul kalau anak itu masih hidup, dia yakin bayi itu pasti bersama Man Geum. Dan karenanya dia memerintahkan Moo Myung untuk membuntuti Man Geum dan ambil bayi itu darinya. Tapi dia juga memerintahkan agar masalah ini tidak diketahui oleh siapapun kecuali mereka berdua. Jadi Man Geum harus dibunuh.


Sama seperti In Jwa, Raja juga sebenarnya tidak mempercayai kabar kematian bayi itu. Selama ini dia selalu berpura-pura tak tahu dan memaklumi Choi Sukwon. Tapi pada akhirnya, dia tetap meragukan segalanya. Bayangan kedua kasim kembar tiba-tiba muncul dari balik pintu, mereka lalu meminta Raja untuk memberikan perintah. Begitu perintah di dapat, mereka pun langsung beranjak bangkit.


Kasim kembar mencari Man Geum di rumahnya tapi mendapati rumah itu sudah kosong. Mereka langsung pergi mengejarnya. Tepat setelah mereka baru keluar dari rumah Man Geum, Moo Myung baru tiba disana. Dia pun langsung pergi menyusul kasim kembar.

Kasim kembar mengejar Man Geum sampai kedalam hutan. Man Geum berusaha melarikan diri secepat mungkin. Tapi kasim kembar tiba-tiba melempar senjata yang menancap di pohon terdekat hingga Man Geum jadi kaget dan akhirnya terjatuh terguling-guling lalu menghantam sebuah pohon.

"Kenapa kalian melakukan ini?"

"Dia anak yang tidak boleh hidup."


Salah satu kasim kembar langsung menghunus pedang pada bayi itu tanpa mempedulikan rengekan Man Geum yang berusaha memohon belas kasihan mereka. Tepat saat dia hendak menebas bayi itu, Moo Myung muncul dan langsung melawan mereka.

Moo Myung tidak menyangka, ternyata raja bisa setega itu ingin membunuh anaknya sendiri. Dia memberitahu mereka bahwa dia tidak peduli Man Geum mati atau tidak, tapi dia harus menyelamatkan bayinya.

Moo Myung dan kasim kembar langsung bertarung. Man Geum langsung memanfaatkan kesempatan itu untuk melarikan diri. Tapi salah satu kasim kembar mengejarnya. Tepat saat dia hendak menebas bayi itu, seorang pemanah misterius menembakkan anak panahnya pada si kasim lalu cepat-cepat melarikan diri, sayangnya dia tak sengaja meninggalkan sobekan kain bajunya yang tak sengaja terobek ranting daun.


Man Geum hendak melarikan diri. Tapi kasim yang satunya langsung melempar senjata mematikan pada bayi itu. Bayi itu langsung terdiam seketika. Man Geum langsung menangis histeris mengutuki kasim kembar karena telah membunuh bayi yang tak berdosa.

Bersambung ke episode 2 - 2

No comments :

Post a Comment