April 29, 2016

Jackpot ( Daebak ) Episode 9 - 2


Moo Myung bertanya pada In Jwa, tentang apa yang In Jwa harapkan dengan mengirim Dam Seo sendirian untuk membunuh Raja. In Jwa menjawab kalau semua itu soal keyakinan.



Flashback!
Dam Seo mengaku kalau dia sudah merasa ragu. Dia ragu kalau bukan raja-lah yang membunuh ayahnya, melainkan In Jwa sendiri. 
Flashback End!

“Jika sesuatu keyakinan memudar, bahkan jika rencana besar berhasil. Hanya keraguan akan tertinggal di dalam hati ini. Mari kita tunggu dan lihat saja. Apakah Dam Seo bisa memegang keyakinannya? Apakah dia menusukkan pisau.... ke dada Baginda Raja?” jawab In Jwa untuk pertanyaan Mo Myung.


Prajurit berpatroli dan melihat sesatu sebuah pintu terbuka. Penasaran, diapun masuk untuk mengeceknya sendiri. Baru beberapa langkah dia berjalan masuk, tiba-tiba muncul seseorang dan menyekap dirinya. Siapa orang yang menyekap si prajurit? Orang itu adalah Dae Gil. Dia melakukannya untuk mengambil baju si prajurit dan digunakan untuk menyamar. 


“Semua orang berusaha untuk membunuh Baginda Raja. Kalau begitu, aku harus pergi dan bertemu dengan Baginda Raja,” ucap Dae Gil dengan yakin.


Disisi lain, Pangeran Yeoning bertanya apa Dam Seo benar-benar tak ingin menyerah? Tak menjawab, Dam Seo langsung menghunuskan pedangnya pada Pangeran Yeoning. 


Melihat apa yang Dam Seo lakukan, pangeran langsung teringat pada kata-kata Raja. “Tapi jika kau gagal, aku akan mati dan tidak akan lagi berada disini. Putra Mahkota akan memakai mahkota dan kau harus pergi dari sini.”

Dam Seo berkata kalau Pangeran Yeoning tidak memenggal lehernya, maka pangeran tidak boleh bergerak dan diam saja di tempat itu. Seperti tak bisa berbuat apa-apa, pangeran membiarkan Dam Seo pergi membunuh Baginda Raja. 


Dam Seo berlari menuju ruangan raja. Tiba-tiba Pangeran Yeoning muncul lagi dan menyerangnya. 

“Ini belum terlalu terlambat. Tidak bisakah kau menghentikan semua itu?” pinta Pangeran Yeoning.

“Apakah anda siap untuk mati?” ucap Dam Seo dan menyerang Pangeran Yeoning. Ntah itu karena Pangeran Yeoning mengalah atau memang Dam Seo yang lebih hebat, beberapa kali Dam Seo berhasil merobek pakaian pangeran Yeoning. Tepat disaat itu terdengar suara pengawal dan Dam Seo langsung kabur. Pangeran Yeoning sendiri hanya terdiam dtempat, dia tak mengejar Dam Seo. 


Ketika para pengawal datang dan bertanya kemana arah si pembunuh pergi. Pangeran Yeoning memberikan arah yang salah. 

Seperti bayangan Che Gun melintas dan dengan mudah dia masuk ke istana raja, karena pegawal yang berjaga di depan istana Raja sangat mudah di kalahkan. Disisi lain, Dae Gil terus berlari menuju tempat Raja, karena dia ingin menghentikan Che Gun. 


Che Gun masuk ke kamar Raja, spontan Sa Mo dan Sa Woon langsung mengeluarkan pedang mereka untuk melindungi Raja. Namun, tak ada hitungan menit Che Gun bisa dengan mudah menjatuhkan mereka berdua. 


Che Gun kemudian mengarahkan pedangnya pada sang Raja dan hendak menujah Raja, namun Pangeran Yeoning muncul dan menghalaunya. 

“Sepertinya urat takutmu sudah putus,” ucap Pangeran Yeoning.


“Apa kau berhak memakai pedang itu?” tanya Che Gun saat melihat pedang yang Pangeran Yeoning pakai dan mengajak Pangeran untuk membuktikannya. Dari balik tabir yang transparan, Raja pun menyaksikan Che Gun bertarung dengan Pangeran Yeoning. 


Kemampuan bertarung Pangeran masih jauh dari Che Gun, sehingga Che Gun bisa dengan mudah menjatuhkan pedang Pangeran. Che Gun mengembalikan pedang Pangeran dan kemudian menghunuskan pedangnya  ke leher si Pangeran. 

“Minggir.” 

“Aku tidak akan minggir sejengkalpun,” jawab Pangeran Yeoning yang tak takut sedikitpun, walau dia tau kemampuan bertarungnya belum hebat.

Che Gun menurunkan pedangnya dan melangkah menuju ke tempat Raja, namun Pangeran Yeoning kembali menghalanginya. 

“Jika kau maju selangkah lagi… kau akan mati,” ancam Pangeran Yeoning dan tepat disaat itu para pengawal bersiap mengarahkan anak panah mereka pada Che Gun dari luar ruangan. 


“Kau pikir panah itu bisa menghentikanku?” tanya Che Gun dan Pangeran Yeoning menyuruhnya untuk mencoba melangkahkan kaki agar mereka tahu apa panah-panah itu bisa menghentikannya. Tanpa rasa takut, Che Gun melangkahkan kakinya dan Pangeran Yeoning pun langsung mengayunkan pendangnya. Namun sebelum pedang pangeran Yeoning sampai pada Che Gun, pedangnya sudah dengan cepat di halau oleh Dae Gil yang saat itu tiba-tiba muncul. 

Dengan berani Dae Gil menghunuskan pedangnya ke leher pangeran Yeoning karena pangeran Yeoning menghunuskan pedangnya ke arah Che Gun. Dari balik tabir, pandangan Raja terus melihat kea rah Dae Gil.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Pangeran Yeoning pada Dae Gil sambil melirik dan Dae Gil meminta Pangeran Yeoning mundur karena dia tak mau Pangeran Yeoning melukai gurunya. 

“Apa yang kau lakukan?” tanya Che Gun dan Dae Gil menjawab kalau dia ingin menyelamatkan gurunya. Mata Che Gun kemudian mengarah pada Raja dan saat itu Raja tersenyum padanya. Seperti mendapat komando untuk berhenti, Che Gun pun memasukkan kembali pedangnya dalam sarung dan membuka cadarnya.


“Bagaimana keadaan anda, Yang Mulia?” ucap Che Gun dan berlutut.

“Lama kita tidak bertemu, Kim Che Gun,” jawab Raja dan itu membuat Pangeran Yeoning serta Dae Gil kebingugan.


Beralih pada In Jwa yang memberitahu Mo Myung kalau di istana tidak akan ada pembunuhan. Kalaupun ada itu semua pasti rekayasa dari Raja sendiri. Mo Myung tak mengerti dengan apa yang In Jwa katakan.

“Waktu dan tempat sudah dia beritahukan lebih dulu. Mana ada pembunuh seperti itu?” jelas In Jwa dan kemudian memberikan selebaran yang berisi pencarian terhadap Che Gun. 

“Jadi maksud anda, semua ini sudah direncanakan oleh Raja? Apa alasannya?” tanya Mo Myung ingin memperjelas. 

“Banyak… bisa saja untuk menguji keamanan istana ( saat Che Gun ingin masuk ke kamar Raja, ternyata dia tidak melawan panglima yang berjaga disana, karena panglima itu langsung mempersilahkan Che Gun masuk saat mengetahui kalau pria yang menyelundup itu adalah Che Gun). Bisa juga untuk menguji kemampuan Yeoning,” jawab In Jwa. 


“Semua ini atas perintah Raja. Maafkan ketidaksopananku,” ucap Che Gun dan Pangeran Yeoning hanya diam saja. Che Gun kemudian menjelaskan kesimpulan dari apa yang sudah dia lakukan dan ternyata dia sudah masuk ke dalam istana sebanyak 10 kali dan tak ada satupun yang ketahuan. 

“Gerbang keempat lebih sulit ditembus. Penjaga Istana Gyungdeok terlalu santai, begitu juga penjagaan putra mahkota. Cuma butuh beberapa menit untuk masuk istana dan beraksi. Otoritas pihak militer harus diperlebar. Harus dilakukan perombakan organisasi termasuk pada pasukan khusus,” jelas Che Gun.


Kembali lagi pada In Jwa yang mengatakan kalau tujuan utama Raja melakukan semua itu adalah untuk menangkap dirinya. In Jwa bisa menyadari kalau Raja sedang menantang dirinya, karena itulah In Jwa membiarkan Dam Seo melakukan keinginannya, untuk menerima tantangan dari Raja. 


Pensaran pada sosok Dae Gil, Raja pun bertanya siapa dia dan Che Gun menjawab kalau Dae Gil adalah muridnya. 

“Siapa namamu?” tanya Raja.

“Nama hamba Baek Dae Gil,” jawab Dae Gil dan mendengar nama itu Raja jadi semakin tertarik untuk mengetahui tentang Dae Gil lebih banyak. Dengan menggunakan pedangnya, Raja membuka tabir yang menghalangi pandangannya, dia ingin melihat wajah Dae Gil secara jelas. 

“Mendekatlah,”perintah Raja dan Dae Gil langsung maju, namun dia masih berlutut di depan tabir,sehingga Raja menyuruhnya untuk mendekat lagi. 


Sekarang Dae Gil benar-benar berada di depan Raja dan Raja langsung bertanya siapa orang tua Dae Gil. Dae Gil menjawab kalau kedua orang tuanya sudah meninggal. Raja mendekatkan wajah dan melihat Dae Gil lebih dekat lagi. Setelah melihat mata Dae Gil, Raja terlihat menyunggingkan ujung bibirnya. 


Raja mengangkat pedangnya dan berkata “Aku ingin memberikan pedang ini padamu. Ini pedang kesayanganku.”

Dae Gil yang tak menyangka akan diberi hadiah pedang oleh sang Raja, hanya bisa terdiam dan tak menyambut pedang dari Raja. Sampai Che Gun menyuruhnya untuk tidak diam dan jangan bertidak tidak sopan. Setelah mendapat teguran dari sang Guru, Dae Gil langsung menerima pedang dari Raja dan kembali berlutut di samping Che Gun.


Raja kemudian memberi julukan “Tangan Pedang” pada Che Gun dan meminta Che Gun menggunakan kemampuan itu untuk menjaga Joseon. Raja juga memberi tanda pengenal pada Che Gun, dimana tanda pengenal itu nantinya bisa menyelamatkan dirinya. 


“Tapi jangan bersantai dulu. Semua ini belum selesai,” ucap Raja. Setelah mendengar ucapan sang Raja, Che Gun dan Dae Gil reflek melirik ke belakang, dimana mereka mendengar suara busur di tarik. Siapa yang melakukannya? Dia adalah Dam Seo, dia memanah Raja dengan menggunakan 2 anak panah sekaligus.

“Mati kau, Raja,” ucap Dam Seo dalam hati.


Dua anak panah masuk ke ruangan Raja dan sebelum anak panah itu mengenai Raja, Dae Gil dengan cepat menghalaunya dengan pedang. Dari balik celah, Dae Gil bisa melihat Dam Seo mengintip untuk meliahat apa yang terjadi. Diapun langsung keluar untuk mengejar Dam Seo. Menyadari kalau Dam Seo lah yang melepaskan anak panah ke arah Raja, Pangeran Yeoning pun ikut keluar untuk mengejarnya.


Sang Gil memberitahu Selir Sukbin kalau kabar pembunuhan itu adalah ujian dari Raja. Mendengar itu, Selir Sukbin pun jadi lega, namun dari luar terdengar keributan pengawal yang sedang mengejar seseorang.

“Kau bilang cuma ujian, kan? Pergi periksalah,” perintah Selir Sukbin ingin tahu pada apa yang terjadi. 


Kita beralih kembali pada Moo Myung yang menuntut In Jwa untuk menjelaskan kenapa dia mendorong Dam Seo untuk masuk perangkap Raja.

“Aku sudah bilang kan? Untuk mencapai sesuatu, harus mengorbankan sesuatu,” jawab In Jwa.

“Tuan!” ucap Mo Myung emosi.

“Jangan khawatir, Dam Seo takkan mati.”

“Kenapa Anda yakin sekali?”


“Moo Myung, kaulah yang terlalu khawatir padanya. Hwang Jin Ki juga… dan juga Yeoning,” ucap In Jwa dan kita kemudian melihat Dam Seo dikejar-kejar pengawal. Pengawal yang mengejar Dam Seo  melepaskan anak panahnya  dan berhasil mengenai kaki juga perut Dam Seo.


Dalam kondisi terluka, Dam Seo tak bisa melawan mereka dan akhirnya terjatuh. Tepat disaat itu Baek Dae Gil muncul dan menghajar dua pengawal yang mengejar Dam Seo. 

“Baek Dae Gil juga akan ada disana,” ucap In Jwa.


Dae Gil menarik tangan Dam Seo dan mengajaknya pergi. Tepat disaat itu pengawal yang lain muncul dan hendak mengejar mereka. Namun saat berbelok, mereka kehilangan jejak Dae Gil dan Dam Seo. Dan sekarang giliran Pangeran Yeoning yang menyelamatkan Dam Seo.


Pengeran muncul, dia melihat kaki Dam Seo dan Dae Gil di samping salah satu gedung, namun pada pengawal dia berkata kalau si pembunuh pasti sudah menuju gerbang istana. Setelah para pengawal pergi, Pangeran Yeoning menemukan daun yang terkena darah. Melihat itu, Yeoning pun bisa menebak kalau Dam Seo sekarang sedang terluka. 


Dae Gil memapah Dam Seo untuk mencari tempat yang aman. Dam Seo kemudian teringat pada pesan In Jwa, yang menyuruhnya pergi ke tempat Selir Sukbin ketika dia tak bisa keluar istana, karena In Jwa sangat yakin Selir Sukbin akan membantunya.


Di depan Selir Sukbin, Dam Seo langsung berlutut dan meminta Selir Sukbin menolongnya. 

“Sudah kuperingatkan untuk hidup dengan tenang. Pada akhirnya kau tetap mencabut pedang,” ucap Selir Sukbin dan Dam Seo hanya terdiam. “Siapa kau?” tanya Selir Sukbin pada Dae Gil.

“Saya Baek Dae Gil,” jawab Dae Gil dan Selir Sukbin langsung teringat pada saat Sang Gil memberitahunya kalau anak Man Geum bernama Baek Dae Gil. 


Selir Sukbin sekarang sedang duduk sendirian di kamarnya. Dari ekspresi wajahnya, dia terlihat senang karena sudah bertemu dengan anak pertamanya. Sambil membaca buku, dia menyambut kedatangan Pangeran Yeoning. 

“Aku dengar cuma ujian. Ada apa kemari?” tanya Selir Sukbin dan Pangeran Yeoning bertanya apa orang yang mencoba membunuh Raja datang ke kamar Selir Sukbin. Tentu saja Selir Sukbin menjawab tidak. 

“Iya. Untuk berjaga-jaga, akan kuperiksa,” ucap Pangeran Yeoning dan Selir Sukbin pun mempersilahkannya. Pangeran Yeoning memeriksa kamar ibunya dan disana kosong. Tidak ada siapa-siapa.


“Tak mungkin dia ada di kamar ibu,” ucap Selir Sukbin dan Pangeran Yeoning kemudian melihat bercak darah di lantai. Namun dia tak membahasnya, dia hanya pura-pura tak tahu dan kemudian keluar ruangan .


Setelah Pangeran Yeoning pergi, Dam Seo langsung di pindahkan ke kamar Selir Sukbin. Karena tak bisa memanggil tabib, jadi Dae Gil sendirilah yang merawat dan mengobati Dam Seo. Selir Sukbin sendiri hanya terus memperhatikan Dae Gil, saat Dae Gil sibuk mengobati Dam Seo. 

“Apa hubunganmu dengan wanita ini?” tanya Selir Sukbin setelah Dae Gil selesai mengobati luka Dam Seo. 

“Kami cuma saling mengenal.”

“Apa ayahmu bernama Baek Man Geum?” 


Dae Gil kaget dan bertanya bagaimana bisa Selir Sukbin tahu nama ayahnya. Tak bisa memberitahu hal yang sebenarnnya, Selir Sukbin hanya menjawab kalau dia dengar dari Yeoning. 

“Bagaimana kau dibesarkan? Apa selama ini kau selalu bersama ayahmu?” tanya Selir Sukbin penasaran dan Dae Gil malah balik bertanya kenapa Selir Sukbin menanyakan hal seperti itu. Namun tak dijawab oleh Selir Sukbin, dia hanya bertanya lagi tentang apa yang Dae Gil rencanakan sekarang.


“Aku berhutang pada anak ini, jadi aku membantunya sembunyi. Tapi dia tidak bisa lama disini…”

Dae Gil keluar dari kamar Selir Sukbin sambil memikirkan apa yang Selir Sukbin katakan. “Semakin waktu berlalu akan semakin sulit keluar dari istana.”


“Sedang apa kau disini?” tanya Pangeran Yeoning dan menghampiri Dae Gil. “Kau berguru pada Kim Che Gun, ahli pedang terbaik Joseon? Kemampuan bertarungmu lumayan. Tapi kau takkan bisa mengeluarkan Dam Seo dari sini. Tidak bisa sendiri,” ucap Pangeran dan Dae Gil terlihat kaget, karena sebelumnya Pangeran tak menemukan mereka yang sedang bersembunyi di kamar Selir Sukbin. “Aku tak ingin membuat ibu merasa bersalah jadi aku pura-pura tidak tahu,” aku Pangeran dan kemudian mengungkapkan rencana untuk mengeluarkan Dam Seo dari istana. 


Dae Gil berjalan menuju gerbang istana. Dia ditugaskan untuk membuka pintu gerbang istana, sedangkan Pangeran Yeoning akan membawa Dam Seo dengan kuda, agar mereka bisa dengan cepat melarikan diri. Melihat Dae Gil berlari menuju gerbang istana, para pengawal langsung berusaha menghentikan. Untungnya, Dae Gil sekarang sudah punya kemampuan bertarung yang cukup baik, jadi dia bisa dengan mudah mengalahkan pengawal yang berusaha menghentikan dirinya. Gerbang istana berhasil dibuka dan Pangeran Yeoning langsung kabur dengan kudanya. 


Di kamarnya, Selir Sukbin terlihat cemas. Dayangnya kemudian memberitahu kalau Dae Gil dan Yeoning berhasil keluar istana bersama Dam Seo. Selir Sukbin merasa lega dan dalam hati dia berkata, “Dae Gil.. jaga dirimu.”


Dae Gil berlari dan bersembunyi. Disaat kondisi dirasa sudah aman, diapun keluar dari persembunyian. Baru beberapa langkah dia berjalan, muncul Jin Ki menghadangnya. 

“Kau pasukan khusus?” tanya Jin Ki saat melihat pakaian yang Dae Gil gunakan. “Dimana kau dapat pedang itu?” tanya Jin Ki lagi tapi tak dijawab oleh Dae Gil, sehingga membuat Jin Ki mengulangi pertanyaannya. 

“Apa maumu?”

“Jadi kau? Murid si macan tua itu? Sepertinya benar, kau muridnya Kim Cha Gun kan?”

“Guru… kau kenal guruku?”


“Bukan cuma kenal. Aku sangat tertarik sekali pada gurumu itu,” ucap Jin Ki dan memberikan patung Budha pada Dae Gil. “Patung budha untuk satu nyawa,” ucap Jin Ki dan langsung menyerang Dae Gil. Hanya sekali pukulan dengan pedang, Dae Gil langsung terpental.


“Kenapa? Gurumu tak pernah cerita tentangku?” tanya Jin Ki dan Dae Gil langsung teringat saat Che Gun bercerita kalau ada seseorang yang bisa dibilang lebih hebat dari dirinya. Dia adalah anggota pasukan khusus dan sangat kuat. Orang itu bahkan melawan macan dengan tangan kosong. 


Mengingat cerita itu, Dae Gil tersentak. “Hwang Jin Ki,” ucap Dae Gi dan Jin Ki tersenyum, karena akhirnya Dae Gil tahu siapa dia. Jin Ki kemudian mengeluarkan pedangnya dari sarung. Dari sisi lain, kita melihat seseorang  berlari dengan cepat.


Jin Ki mengayunkan pedangnya dan hendak membunuh Dae Gil. Untungnya  Che Gun cepat datang dan menangkis pedang Jin Ki. Che Gun dan Jin Ki pun akhirnya berhadapan. Apa yang akan terjadi setelah ini? Apakah mereka berdua akan bertarung dan siapa yang akan menang? Nantikan jawabannya pada episode berikutnya. 


Jackpot ( Daebak ) Episode 10

1 comment :

  1. Suka ma che gun semenjak dy main di Queen Seon Deok...sll bs menpresentasikan protagonis dan antagonis dg baik bahkan abu2

    ReplyDelete